The Atrocious Duke'S Wife

The Atrocious Duke'S Wife
Chapter 9 : Merasa Tak Berguna



KARYA INI HANYA FIKSI. NAMA, TOKOH, PERISTIWA, TEMPAT, HANYALAH KHAYALAN SEMATA. HARAP PEMBACA BIJAK DALAM MENANGGAPI.


"Kita tengah di kepung oleh bandit-bandit, Tuan! Dan jumlah mereka melebihi empat puluh orang!"


Terkejut? Tentu saja aku terkejut! Kami tiba-tiba saja di kepung oleh sekumpulan bandit, bahkan jumlahnya melebihi empat puluh orang!


"Kalian berlindunglah di dalam, aku akan menghabisi mereka," ujar Arlen tenang sambil menarik pedangnya.


Tunggu dulu, dia ingin menghabiskan bandit-bandit itu sendirian?! Gila saja! Tindakanmu itu sama saja seperti memberi nyawa secara percuma-cuma!


Aku pun dengan cepat menahan lengannya saat dia berniat berdiri dan keluar. "Apa kau gila?! Kau tidak mungkin bisa mengalahkan mereka semua tidak peduli seberapa kuat dirimu!" teriak ku berusaha menghentikannya.


Tapi dia hanya menatapku datar dengan ekspresi dingin nya seperti biasa lalu melepaskan kalungan tanganku di lengannya.


"Kumohon dengarkan aku! Aku tidak bisa membiarkanmu begitu saja seorang diri, itu terlalu berbahaya!"


"Lalu apa yang mau kau lakukan?! Apa kau bisa mengalahkan mereka semua?! Tidak kan?!"


Aku tertegun dan langsung bungkam di kala dia membentakku, aku belum pernah melihat ekpresi yang dia tunjukkan padaku sekarang.


Seram. Satu kata yang dapat mewakilkan dan mendeskripsikan raut wajahnya sekarang.


Iris biru langitnya menggelap, matanya melotot ke arahku, dan raut wajahnya yang membuatku tak berani menatapnya.


 


Dan lagi-lagi rasa nyeri datang menusuk hati ku, aku pun hanya bisa menunduk saat dia kembali membentakku.


"Jangan mengangguku, Cassandra. Satu kesalahan dan kita bisa kehilangan nyawa kita di sini!"


Ujarnya kembali membuat nyeri di dadaku semakin menjadi-jadi. Telapak tanganku pun ku kepal erat hingga jari-jari kuku ku memutih.


Aku tahu kita bisa saja kehilangan nyawa kita di sini. Tapi aku juga tak bisa membiarkanmu pergi menghadapi mereka sendirian di saat aku hanya bisa berdiam diri di dalam sini.


"Kau, jagalah dia. Jika dia terluka sedikit saja, maka aku akan memutuskan kepalamu dari tubuhmu," ujar Arlen dengan tatapan mematikan pada kusir itu sehingga pria berumur itu bergetar ketakutan.


Dia kemudian melompat keluar dari kereta kuda ini kemudian berniat menghabisi bandit-bandit itu sendirian.


Suara teriakan, suara tebasan pedang, suara mata pedang yang saling bertemu, semua itu dapat kudengar.


Tanpa sadar aku menjatuhkan airmataku. Sial*n! Kenapa airmata ini harus jatuh?! Kenapa diri ku menjadi sangat tidak berguna?! Kenapa... kenapa aku sangat mengkhawatirkan dirinya?


Aku ingin melakukan sesuatu, tapi apa yang bisa ku lakukan dengan tubuh lemah ini? Aku pasti hanya akan menganggunya.


Setelah beberapa menit berlalu, kini keadaan mulai tenang. Suara-suara itu tidak lagi memaksa masuk ke dalam telingaku.


Apa yang terjadi padanya? Apa dia baik-baik saja? Apa dia terluka?


Pertanyaan demi pertanyaan terus bermunculan di pikiranku, tanpa menunggu aba-aba aku langsung membuka pintu kereta dan melompat keluar untuk melihat keadaannya.


"Nyonya, anda tidak boleh keluar! Itu terlalu berbahaya!"


Aku tak peduli apa yang akan terjadi, aku hanya ingin melihat kondisinya. Mataku terkunci pada punggungnya yang tengah membelakangiku.


Baju kemeja putihnya kini di hiasi dengan noda merah yang sangat banyak, pedang tajam berkilau nya di lumuri darah segar yang terus mengalir dan menetes ke tanah, darah yang berceceran di tanah, dan mayat-mayat yang bertebaran di mana-mana.


Mengerikan.


Kejam.


Dia seperti... monster.


Monster yang tak kenal ampun kepada seluruh mangsanya. Monster yang dapat melakukan apa saja untuk sesuatu yang di lindunginya.


Dapat kulihat dia mendongakkan kepalanya, menatap langit malam yang di taburi berjuta bintang.


Secara refleks aku langsung mendekatinya dan membaringkan kepalanya di atas pangkuan ku.


Kondisi nya sangat mengenaskan. Luka sayatan terlukis hampir di seluruh permukaan tubuhnya, nafasnya terburu-buru, keringat bercucuran hingga membasahi rambut pirangnya.


Aku ingin membantunya, tapi aku tak bisa berbuat apa-apa. Aku bukanlah wanita yang jago bela diri untuk bisa membantu nya.


Aku juga bukanlah seorang dokter ataupun perawat yang bisa mengobati luka-lukanya.


Selama aku hidup, aku tidak pernah merasa se tidak berguna ini!


...🥀...


Sesuai kejadian mengenaskan itu, akhirnya kami pun sampai di mansion. Paman kusir dan aku memapah Arlen yang belum sadarkan diri sejak daritadi.


Aku pun mengetuk pintu masuk mansion ini, dan tak lama dari itu salah satu pelayan di rumah ini membuka kan pintu.


Pelayan itu terkejut, ia langsung berteriak memanggil para pelayan-pelayan pria untuk memapah Arlen ke kamarnya.


Bersamaan dengan itu, sosok Anastasia pun muncul dan dia pun terlihat sangat terkejut dengan keadaan Arlen yang mengenaskan.


Bola matanya pun mengeluarkan genangan air yang tak pernah aku lihat sebelumnya.


Kali ini, raut wajahnya tidak terlihat seperti palsu. Semuanya terlihat sangat tulus. Sepertinya dia memang benar-benar mengkhawatirkan pria itu.


Awalnya aku mengira, dia lah dalang di balik semua ini. Tapi begitu melihat raut wajahnya, sepertinya dia memanglah bukan dalang di balik semua ini.


Anastasia berjalan dengan cepat menghampiri ku lalu melayangkan tangannya menampar pipi ku.


Panas dan perih aku rasakan begitu telapak tangannya dengan keras menampar kulit wajahku.


"Sial*n! Jika bukan karena kau, Arlen pasti baik-baik saja! Bagaimana bisa kau bisa membiarkan Arlen sampai seperti itu?! Dasar tidak berguna!"


Di hari yang sama, dua orang telah membentak ku. Tapi aku tidak merasa kesal atau pun marah di saat Anastasia membentak ku dan menamparku.


Karena semua yang di katakan nya itu benar, aku memanglah tidak berguna. Jika Arlen tak menungguku, sudah pasti keadaannya tidak akan menjadi seperti ini.


Dan karena aku yang tidak berguna inilah, dia mati-matian berusaha untuk tidak membiarkan diri ku terluka sedikitpun.


Deg!


Akh, sial. Nyeri kini menyerang kepalaku hingga aku hampir saja kehilangan keseimbanganku.


Aku memegangi kepalaku, nyeri itu kembali menjadi-jadi, dan dapat kurasakan keringat dingin mulai mengalir di dahi ku.


"Nyonya, apa anda baik-baik saja?! Wajah anda sangat pucat!" Elise yang tiba-tiba datang pun mencoba menempelkan telapak tangannya di dahiku, tapi dengan cepat aku pun langsung menepisnya.


"Aku tidak apa-apa, aku hanya sedikit pusing saja. Aku akan pergi ke kamarku," jawabku.


"Kalau begitu saya akan menyiapkan bak air hangat untuk anda," ucap Elise.


Aku hanya menganggukan kepala ku kemudian bergegas menuju kamarku. Dapat aku rasakan Anastasia menatapku dengan sinis.


Namun aku tidak menghiraukannya karena aku butuh istirahat ku sekarang. Tak lama kemudian kini aku telah sampai di kamarku dan tubuhku pun sudah aku bersihkan dengan air hangat yang telah Elise siap kan padaku.


Sambil berbaring dan menatap langit-langit kamarku, pikiranku tak bisa berhenti memikirkan keadaannya.


Kepalaku masih terasa pusing, tapi kelopak mata ku tak kunjung menutup karena aku terus kepikiran tentangnya.


Dan pada akhirnya, di malam yang dingin ini, aku tetap tak bisa terlelap.


^^^I Become Wife of the Atrocious Duke^^^


^^^4 November 2020^^^