The Atrocious Duke'S Wife

The Atrocious Duke'S Wife
{Season 2} Frustrasi



Previously....


Bibirnya bergetar, dengan matanya yang mulai berair. Kemudian dia berkata dengan nada tenggelam namun masih bisa didengar jelas oleh Anastasia.


Bahkan gadis berhelai emas itu bisa mendengar jelas nada suara getar Cassandra dan air mata yang mulai menggenang di bola matanya.


"Saya mohon, mulai sekarang tolong menjauhlah dari saya, My Lord."


...~•The Atrocious Duke's Wife•~...


...Chapter...


...(27)...


Beratus-ratus kuda dan Ksatria maupun bangsawan yang akan berangkat ke tempat tujuan mereka telah berada di tempat itu.


Para rakyat kini berdiri di samping memberikan jalan bagi para Ksatria yang akan berangkat sembari mengantar kepergian mereka.


Banyak sorai semangat yang terlayang, membuat suasana terasa meriah namun juga berat. Karena mau bagaimanapun, sudah pasti akan ada nyawa yang terlempar.


Begitupun dengan Anastasia, gadis itu saat ini tengah berdiri sembari menunggu sosok yang ia tunggu sedari tadi.


Karena cuaca sangat terik, lantas gadis itu memakai topi yang terdapat banyak corak floral menjadi pemanisnya. Tak lupa dengan payung kecilnya yang imut.


Ketika matanya menangkap sosok yang ia cari, lantas ia langsung memanggilnya sehingga membuat kuda yang menanggung seorang lelaki di atasnya terhenti.


Untung saja mereka berdekatan, sehingga Anastasia bisa menyampaikan sesuatu yang ingin ia bicarakan.


"Arlen!" teriaknya sedikit keras agar pemilik nama tersebut mendengarnya.


Lelaki itu pun berhenti dan mendekat ke arah gadis yang telah menjadi sahabat masa kecilnya sejak lama itu.


Anastasia pun sedikit ragu ingin berbicara, karena raut wajah Arlen tampak tak baik. Tatapannya tampak menyalang walaupun samar.


Wajahnya pun lebih dingin dari biasanya. Bahkan ketika dia memanggil Arlen tadi, lelaki itu sama sekali tidak menyahuti perkataannya.


Tapi Anastasia tidak gentar, karena dia sudah memanggil lelaki itu. Dia harus mengungkapkan seluruh isi hatinya.


"Uhm, aku hanya ingin berkata...," gantung gadis itu masih dibaluti keraguan. "Berhati-hatilah, dan jangan lupa jaga kesehatanmu di sana. A-aku akan selalu mendoakan keselamatanmu."


"Ya. Kalau begitu, jika tidak ada hal lain. Aku akan pergi," jawab lelaki itu kemudian pergi dengan kudanya.


Anastasia tertegun dan tersentak, tentu saja dia akan bereaksi seperti itu. Selama hidupnya, Arlen tak pernah bersikap seperti itu padanya. Walaupun memang lelaki itu tipe yang dingin, namun tidak dengannya.


Gadis itu langsung mencengkram kuat gagang payung yang tengah ia lingkari, kemudian tertunduk dengan matanya yang mulai memanas.


Apa ini? Kenapa tiba-tiba lelaki itu bersikap seperti ini padanya? Apa karena... kejadian di malam itu?


Ketika Cassandra mengatakan pada Arlen untuk menjauh dari gadis itu?


"Aku menyukai-- tidak, aku mencintai Cassandra." 


Tiba-tiba saja perkataan itu terekam di benaknya, kenapa ingatan tentang hari itu terulang di pikirannya?


"Aku mencintainya."


"AAAAAAA!!!" 


Sontak banyak pasang mata langsung tertuju ke arah gadis berambut emas yang terjatuh dan terduduk di atas permukaan lantai itu.


Untung saja payung yang dibawa oleh gadis itu menutupi seluruh wajahnya, sehingga yang terlihat hanyalah rok gaun mengembangnya dan helai emasnya yang terjatuh.


Gadis itu seperti orang gila, dia terus berteriak tanpa peduli akan semua perhatian yang telah tertuju padanya.


"AAAAAAA!!!!"


Teriakanlah yang hanya bisa gadis itu lakukan sekarang, ia tak tahu harus bersikap bagaimana untuk menghilangkan rasa bimbang, kesal, dan rasa bersalah yang menggumpal dalam dirinya ini.


Entah sudah beberapa kalinya ia mengeluarkan seluruh emosinya, akhirnya dia pun terdiam.


Dengan pandangan kosong, dia pun berdiri kemudian menundukkan kepalanya beserta payungnya untuk menutupi wajahnya.


Langkah gontainya kini menjadi penutup kejadian aneh itu, hingga akhirnya suara tapak kaki yang dialasi sepatu hak tinggi itu menjadi akhir dari segalanya.


Para orang-orang yang berada di situ pun merasa aneh berserta janggal dan mulai berbisik, siapa gadis yang tiba-tiba berteriak penuh pilu seperti itu.


Di kejauhan, terdapat seorang gadis berbalut gaun mengembang berenda berwarna biru beserta topi lebarnya yang berwarna seirama.


Gadis yang mempunyai surai coklat tua bergelombang yang panjang itu menarik ujung topi lebarnya untuk menutupi sepasang matanya. Tak lama, tiba-tiba saja gadis bermanik garnet itu tertunduk.


Lalu, sebuah senyum menyeringai terukir jelas di wajah lembutnya.


...~•~...


Di dalam sebuah kamar yang sederhana namun bisa dibilang cukup mewah, terdapat sesosok yang tengah sibuk berkutat dengan kertas di atas permukaan meja belajarnya.


Gadis itu sibuk mencatat semua rencana-rencana yang ada di benaknya, beserta informasi-informasi yang mungkin akan berguna untuk masa depannya.


Sekeranjang buah jeruk telah terpatri rapi di dekatnya sehingga dia dengan mudah mengambilnya jika dia lagi ingin memakannya.


Matanya pun kini terarah keluar jendela, sepertinya cuaca masih sangat cerah seperti tadi pagi. Ia jadi terpikir akan sesuatu, meskipun tidak tahu apa yang tengah mengendap dalam benaknya.


Tak lama, terdengar ketukan dari pintunya sehingga ia langsung mempersilakan pengetuk tersebut masuk.


"Masuk saja," katanya.


Tak butuh waktu lama, muncullah seorang pelayan kemudian membungkuk hormat. "Selamat siang, Nona. Maaf jika saya menggangu waktu anda," sapanya hormat.


"Tidak apa, Reina. Jadi, ada apa kau datang kemari?" tanya gadis itu dengan pandangan tak lepas dari kertas yang ia genggam.


"Saya mendapat surat, Nona. Dan surat ini terkirim untuk anda."


Cassandra terusik, kemudian pandangannya pun berpindah ke secarcik surat itu dan mengambilnya dari tangan Reina.


Matanya pun sedikit terbelalak, ketika melihat pengirimnya.


"Putri Veronica?" batinnya.


Tanpa menunggu lama-lama, dia langsung membaca pesan yang tertulis di atas permukaan kertas itu.


...---π---...


Selamat siang, Lady la Devoline.


Aku Putri Ketiga Kerajaaan Erosphire, Putri Veronica Erosphire.


Senang bertemu denganmu. Maaf jika aku mendadak mengatakan hal ini, tapi maukah kau mengikuti pesta minum teh bersama di taman belakang istana?


Aku menunggu kehadiranmu.


^^^Salam, Veronica Erosphire.^^^


...---π---...


Seusai membaca surat itu, gadis itu pun langsung berdiri dan membereskan peralatan-peralatan yang berantakan di atas permukaan mejanya.


"Reina, bisakah kau bantu aku berganti pakaian? Aku akan pergi ke pesta teh yang diadakan Putri Veronica," ujar Cassandra.


"Tentu, Nona."


...~•~...


Banyak nona bangsawan yang telah duduk rapi mengitari meja kecil yang berisikan kudapan manis pencuci mulut dan beberapa cangkir teh beserta tekonya.


Cassandra segera membungkuk hormat menyapa para-para bangsawan itu beserta putri Veronica yang tengah berbincang-bincang.


"Salam, Yang Mulia Putri. Semoga Dewi selalu memberkati anda. Maafkan atas keterlambatan saya," sapanya mengembangkan roknya.


Tak ingin berlama-lama, gadis berhelai coklat itu duduk di kursi yang kosong di sebelah putri Veronica.


Seketika, dia menyadari ada keberadaan sosok yang ia kenali. Lantas, dia langsung menyapanya.


"Ah, Lady Emerald. Salam, tidak kusangka kau ada di sini," ujarnya dengan senyuman manis.


Anastasia pun tersadar dari lamunannya, bahkan pandangan matanya sedari tadi tampak tak fokus.


"Y-ya... salam. Aku juga tidak menyangka," jawabnya tak bersemangat.


Cassandra tampak bingung, namun dia tidak ingin bertanya lebih dalam. Mungkin Anastasia mempunyai masalah yang tak bisa diberitahukan pada orang lain.


"Anda adalah Lady la Devoline? Pemenang gelar nona bangsawan tahun ini?" tanya Lady Roseanne.


"Panggil saja saya Cassandra. Ya... itu benar," jawab Cassandra dengan intonasi merendah.


"Wah, irinya. Anda pasti sangat hebat dalam berburu, saya dengar anda mendapatkan hewan langka. Beruntung sekali," celetuk Lady Benedetta.


"Atau mungkin anda ada trik lain. Seperti memiliki dukungan misalnya, bisakah anda memberitahu kami?" sahut Lady Jane nyinyir.


Cassandra tidak terpancing dengan perkataan seperti itu, dengan senyuman manis dia pun menjawab. "Tentu saja tidak. Trik yang saya gunakan hanyalah usaha keras. Jika saya tidak mampu, lebih baik saya menyerah di awal daripada harus berbuat hal-hal yang tak baik seperti itu," cecarnya.


Tampak Lady Jane sedikit sebal kemudian membuka kipas tangan bermotifnya dan mengibaskannya pelan hingga rambutnya terangkat ke udara.


"Lady Cassandra. Apa anda mempunyai hubungan dengan Lord Arlen?" tanya Lady Benedetta sedikit menggoda.


Cassandra tampak sedikit terusik. "Hubungan apa lebih tepatnya, Lady Benedetta?"


"Saya lihat di pertandingan berburu waktu itu, Lord Arlen melihat anda dengan pandangan yang sedikit berbeda. Seperti pandangan pada seseorang yang disukai, bukankah begitu Roseanne?" imbuh Lady Benedetta.


"Ya itu benar! Bahkan Lord Arlen pun terlihat sangat senang ketika anda yang memenangkan pertandingan itu! Ayolah, Lady Cassandra. Beritahu kami sedikit saja!" seru Lady Roseanne dengan mata berbinar-binar.


Cassandra melirik Anastasia yang berada sedikit jauh darinya, kemudian menghembuskan nafas lelah.


"Maaf sebelumnya, Lady Benedetta, Lady Roseanne. Sepertinya terjadi salah paham di sini. Saya dan Lord Arlen tidak mempunyai hubungan seperti yang kalian pikirkan. Kami hanyalah sebatas teman. Saya mohon untuk tidak ada lagi salah paham di sini," paparnya dengan nada tak suka.


Lady Benedetta dan Roseanne langsung terperangah dan saling menatap satu sama lain. Raut wajah tidak enak langsung tercetak.


Sedangkan Anastasia lagi-lagi tersentak kaget, dan bimbang kembali menguasainya.


"Ah, begitu. Maafkan kami telah bersikap lancang," ucap Lady Benedetta.


Gadis berhelai coklat bergelombang itu lagi-lagi hanya tersenyum manis. Namun Anastasia dapat melihat raut sedih yang sangat samar di wajah Cassandra.


Mengapa Cassandra memperlihatkan ekspresi seperti itu ketika membicarakan sahabat kecilnya yang tengah dalam persiapan untuk mengambil posisi penting di medan perang?


Apa Cassandra memiliki perasaan tersembunyi pada lelaki itu?


Anastasia tak henti-hentinya bergulat dengan pikiran positif dan negatif yang berbenturan di benaknya.


Lagi-lagi, gadis itu tenggelam dalam genangan lamunan yang dia buat sendiri.


"Lady Emerald? Kau baik-baik saja?" tanya putri Veronica menyadarkan gadis itu.


Bahkan pada Lady lain pun telah menatap ke arah Anastasia.


Dengan cepat, gadis itu pun menjawab dengan sedikit gagu. "Y-ya, saya baik-baik saja, Yang Mulia," jawabnya.


"Ada apa? Apa kau tidak enak badan? Aku bisa memanggilkan tabib untukmu," tawar Veronica dibalas penolakan oleh Anastasia.


"T-tidak perlu, Yang Mulia. Saya benar-benar baik-baik saja," balas Anastasia melambaikan telapak tangannya secara cepat.


"Baiklah jika kau berkata seperti itu," kata putri Veronica menjadi penutup.


Tak lama, suara Lady Roseanne kembali terdengar. "Yang Mulia, apa anda tidak ada seseorang yang anda sukai?" celetuknya.


"Itu benar, Yang Mulia! Apa anda mempunyai seseorang yang spesial, mungkin?" goda Lady Benedetta.


"Apa yang kalian katakan? Tentu saja tidak ada," jawab putri Veronica dengan pipi memerah samar.


Namun tak terlalu terlihat sehingga tak ada yang bisa melihatnya jika tidak diamati secara seksama.


Lady Roseanne dan Benedetta tampak merengut, mereka tampak bosan karena tak ada kisah cinta yang bisa dibicarakan.


Percakapan antara para bangsawan itu pun terus berlanjut, banyak topik yang mereka bicarakan hingga tak sadar waktu telah memasuki waktu petang.


...~•~...


"Lady Cassandra, tunggu sebentar!" panggil putri Veronica sedikit keras agar pemilik nama tersebut mendengarnya.


"Yang Mulia, salam. Apa anda perlu sesuatu?" tanya gadis bersurai gelombang itu.


"Aku hanya ingin berbincang denganmu sebentar, apa boleh?"


"Suatu kehormatan bagi saya, Yang Mulia," jawab Cassandra. "Jadi, apa yang ingin anda bicarakan?"


"Aku dengar waktu itu kau tidak melaporkan perbuatan merugikan nona Charlina, apa alasanmu di balik itu?" tanya putri Veronica secara tiba-tiba.


Cassandra tertegun, namun dia bersikap tenang seperti biasa untuk menutupinya. "Uhm, sebelumnya maaf. Apa yang anda bicarakan?"


"Tak perlu waspada, aku mengetahuinya karena nona Charlina sendiri yang mengaku padaku. Dia bilang dia merasa bersalah, namun dia bilang kau tidak membiarkannya untuk melaporkan perbuatannya ke publik," papar putri bersurai hitam malam itu.


Cassandra sempat terdiam dan berpikir sejenak. Namun tak lama dari itu dia kembali berkata. "Ah, baiklah jika begitu. Ya itu benar, saya memang tidak berniat melaporkannya."


"Kalau aku boleh tahu, kenapa kau berbuat seperti itu?" tanya putri Veronica tampak tak puas.


"Itu karena nona Charlina melakukannya karena tanpa sengaja. Rasa cemburu dan amarah membuat nona Charlina melakukan hal itu tanpa sadar. Dia kehilangan kesadaran akibat dibutakan oleh rasa amarah. Oleh karena itu saya memberinya kesempatan, agar dia sadar dan tidak lagi melakukan hal seperti itu," terang Cassandra panjang lebar.


Putri Veronica tampak berpikir, kemudian dia pun tersenyum dan langsung menggenggam kedua tangan Cassandra.


"Sudah kuduga kau memang perempuan yang baik. Apa kau mau menjadi temanku?" ujar Veronica tersenyum lebar.


Cassandra pun membalas senyum manis itu. "Tentu saja, Yang Mulia."


"Eits! Mulai sekarang tidak ada lagi embel-embel 'Yang Mulia'. Kau boleh memanggilku Veronica saja," tutur putri Veronica.


"Baiklah, Veronica."


...~•~...


Beberapa hari kemudian, di sebuah kamar mewah yang menjadi salah satu bagian dari markas Kerajaan, terdapat sesosok lelaki yang tengah mengamati peta wilayah sembari duduk santai di atas permukaan kasurnya.


Surainya yang lengas dikarenakan dia habis mandi, membuat lelaki itu tampak lebih tampan dan terkesan lebih dewasa.


Iris birunya berlari kesana-kemari dengan secangkir teh hangat yang terpatri menghangatkan tubuh.


Selang beberapa saat, terdengar ketukan di pintu kamarnya. Lantas lekaki itu langsung memerintahkan sang pengetuk untuk masuk.


"Salam, My Lord. Ada surat yang dikirim untuk anda," ujar Ksatria tersebut.


"Letakkan saja di sana," titah lelaki beriris biru langit itu.


Ketika selesai, Ksatria itu kembali berpamitan dan keluar dari ruangan itu.


Cukup lama, akhirnya lelaki itu menghampiri dan mengambil surat yang terletak di atas meja yang jauh darinya.


Saat melihat isinya, lelaki itu sontak langsung membulatkan mata. Jika tahu dia yang mengirim, sudah pasti lelaki itu telah membaca surat itu sedari tadi.


Lelaki itu pun kembali membaringkan tubuhnya di atas ranjang dan menyandarkan punggungnya pada kepala dipan.


Ketika dirinya sibuk membaca surat itu, terlayanglah sebuah kekehan kecil yang langka dari bibir persiknya. Bibirnya pun telah merekah oleh senyuman manis yang amat jarang ia tunjukkan.


Hanya karena sepotong surat itu, lelaki itu tampak seperti orang gila yang dilanda oleh rasa euphoria.


...19.02.2021...