
KARYA INI HANYA FIKSI. NAMA, TOKOH, PERISTIWA, TEMPAT, HANYALAH KHAYALAN SEMATA. HARAP PEMBACA BIJAK DALAM MENANGGAPI.
Cassandra Pov
"Kita benar-benar kotor," ucapku sambil menatap pakaian dan tubuh kami yang bersimbah cairan merah yang asam akibat pertempuran yang menyenangkan tadi.
"Setidaknya, itu tadi menyenangkan," sahut nya seraya mengacak-acak surai pirang nya yang lengas.
"Apa kau suka festival semacam ini?" tanyaku basa-basi. Karena jika aku tak berbicara, sudah pasti suasana akan canggung.
"Aku tak terlalu menyukainya," jawabnya membuat alisku bertaut.
"Lalu kenapa kau mengatakan bahwa ini menyenangkan?"
Telapak tangannya secara cepat kini menangkup rahangku dan otomatis kepalaku menghadap ke arahnya.
"Ini menyenangkan karena ada kau."
Seketika darahku berdesir mendengar perkataannya, dengan cepat aku pun menepis tangannya yang menangkup wajahku kemudian menundukkan kepala ku.
Ada apa denganku?
Perasaan menggelitik macam apa ini yang merayap ke hatiku?
Aku menggeleng-geleng kan kepala ku ke kanan dan ke kiri, kemudian menetralkan jantungku yang mulai berdetak kencang.
Tak lama dari itu, kurasakan ada sesuatu yang hangat dengan lembut mengusap pucuk surai ku.
"Apa kau mengingat ini? Kau selalu mengusap kepalaku di saat aku terlihat bingung," ucapnya membuatku netra ku tergoda untuk melirik wajahnya.
"M-maaf, aku tak ingat," jawabku kikuk. Jangankan mengingat, tahu saja tidak.
Namun, sepertinya dia benar. Raga ku langsung tenang di kala telapak tangannya yang hangat mengusap kepala ku.
Tes... Tes... Tes....
Aku mendongakkan kepalaku tatkala air yang turun dari langit yang telah menggelap mengguyur tubuhku dan pakaian ku.
"Lebih baik kita berteduh terlebih dahulu di sana," saranku sembari menunjuk ke arah penginapan yang berada tak jauh dari kami berdiri.
Kutatap telapak tangannya kemudian membuang seluruh keraguanku.
Telapak tangannya yang besar dan hangat kuraih dan kugenggam lalu aku pun mulai menariknya agar dia ikut denganku.
Namun dia bergeming, dia tak menggerakkan sedikit pun tubuhnya.
"Ada apa? Apa kau ingin mandi hujan?" tanyaku tapi lagi-lagi dia hanya diam.
Dapat ku rasakan dia meremas kuat telapak tanganku yang menggandeng nya.
Apa dia sakit? Apa dia kedinginan sehingga dia tidak bisa menggerakkan badannya?
Tidak mungkin sampai seperti itu, fokuslah Cassandra!
"Kau kenapa? Apa ada sesuatu yang menganggu pikiranmu?"
Hening. Tak ada satu kata pun yang keluar dari bibir merah mudanya yang bagaikan buah persik.
Angin yang berhembus kencang mendukung keheningan ini, badanku pun sedikit kedinginan di buatnya.
Mendadak, aku merasakan tanganku di tarik lumayan kuat sehingga tubuhku pun otomatis tertarik dan berakhir menubruk sesuatu yang lebar dan hangat.
Kurasakan sebuah tangan kekar merengkuh pinggangku dan menarik punggungku untuk mendekat hingga tak ada jarak sedikitpun di antara kami.
Dia membenamkan wajahnya di bahu ku sembari mendekapku dengan erat sehingga aku hanya bisa terkejut dengan aksi nya.
Kehangatan yang menyalut tubuhku ini terasa familiar. Kenyamanan yang kurasakan ini terasa familiar.
Dimana dan kapan aku pernah merasakan perasaan ini?
Tubuhku seolah-olah mampu mengingatnya, namun memoriku tak mampu mengingatnya.
Suara serak dan lirih kini menusuk pendengaranku. "Entah kenapa, akhir-akhir ini aku tak bisa mengendalikan perasaanku."
Bibirku terkatup sehingga aku hanya bisa diam mendengarkan segala curahan nya.
"Di saat aku melihatmu kesakitan, entah kenapa dadaku terasa seperti akan remuk."
Mataku memanas, sesuatu menjanggal di hatiku dan tenggorokanku tercekat.
Kenapa mendadak aku menjadi seperti ini?
Sebenarnya, apa arti dari perasaan janggal ini?
"Lepaskan aku," lirih ku sambil berusaha mendorong nya untuk menjauh dari ku, namun dia malah semakin mendekap ku erat.
"Setiap kali kau melupakan semua kenangan yang telah kita ciptakan, entah kenapa aku ingin memaksa dirimu untuk kembali mengingatnya," bisiknya parau.
Setiap dia melontarkan sebuah kalimat, hal itu membuat tubuhku memanas karena bibirnya yang bergerak mengenai kulitku sehingga tubuhku menjadi panas.
Angin yang berusaha membuatku kedinginan, tidak berkutik di saat diriku telah berada di dalam dekapannya.
"Kumohon lepaskan aku." Aku mencoba mengguncang tubuhku agar bisa terlepas darinya, namun kekuatanku kalah jauh di bandingkan dari kekuatan yang di milikinya.
"Kumohon, berusahalah untuk kembali mencintaiku, Cassandra."
...🥀...
"Hm, jadi apa maksudmu dengan menyuruhku menyerang negeri mu sendiri, Pangeran?"
Tampak dua pria tengah duduk di sebuah ruangan yang mewah sambil berbincang-bincang tentang kesepakatan mereka.
"Kau tak perlu tahu, ini adalah salah satu bagian dari rencanaku untuk mencapai tujuanku. Selama kau mendapat sebagian kekayaan dari Kerajaan Erosphire, itu sudah lebih dari cukup bukan? Mengingat kerajaan mu yang serba kekurangan," sindir pria bersurai hitam legam sambil menunjukkan senyum miringnya.
Pria bersurai coklat muda yang menjadi lawan bicaranya pun mengepalkan tangannya upaya untuk menahan emosinya.
"Walaupun kerajaan ku serba kekurangan, tapi pasukan kami melebihi kata kurang," balas pria bersurai coklat itu membuat pria bersurai hitam berdecih.
"Cih. Intinya kau lakukan seperti rencana ku, setelah itu kesepakatan kita akan terpenuhi."
"Baiklah, Pangeran yang terhormat. Tapi, kau jangan menyesal atas keputusan mu ini. Karena pasukan kami tidak mengenal ampun saat memasuki medan perang."
"Terserah mu, asalkan aku bisa menjadi penerus selanjutnya, aku bisa melakukan apapun."
Pria bersurai coklat itu menyeringai. "Oh ya, aku dengar kalian memiliki pahlawan perang yang tak terkalahkan, apa aku boleh memusnahkannya?"
"Coba saja, jika kau dapat membunuhnya, maka kau pantas mendapat pujian dariku."
Seusai perbincangan tersebut, pria bersurai hitam itu pun mengepalkan telapak tangannya.
Dirinya telah mengambil keputusan, ia tak boleh ragu dan goyah.
Ia harus mendapatkan takhta. Dan bagaimana pun caranya, dia harus membuat kerajaan Erosphire berada di bawah kendali dan kekuasaannya sekaligus berada di dalam genggamannya.
Dirinya harus berwaspada terhadap apa pun yang dapat menghalanginya.
Meskipun harus membahayakan negerinya sendiri, tapi dia harus ambil resiko terhadap apa yang telah menjadi langkah selanjutnya dari rencananya.
Karena ia juga tidak terlalu memperdulikan rakyat-rakyat yang menurutnya adalah beban.
Yang ia pedulikan hanyalah kerajaan Erosphire menjadi kerajaan yang paling berkuasa di dunia.
Karena jika dia dapat mengabulkan impiannya, itu berarti dia adalah penguasa di dunia ini yang tak dapat di kalahkan oleh siapapun.
...🥀...
Semenjak hari itu, jarak antara Cassandra dan Arlen tampak jauh.
Sebenarnya yang membuat jarak itu adalah Cassandra sendiri. Sedangkan Arlen justru ingin mendekati wanita itu.
Namun, jika pria itu berpapasan dengan Cassandra, wanita itu akan langsung melarikan diri.
Dan juga, jika Arlen ingin berbicara tentang sesuatu, wanita itu akan langsung mengalihkan topik kemudian kembali melarikan diri untuk menjauh dari pria itu.
"Nyonya!"
"Tikus makan ular!" Cassandra terjingkrak kaget dengan spatula yang berada di tangan kanannya. "Astaga! Kau mengangetkanku saja, Elise!"
"Coba anda lihat depan anda!" marah Elise sambil menunjuk ke arah depan wanita bersurai coklat itu.
Cassandra pun meletakkan irisnya menuju ke arah depannya. Sontak, wanita itu pun langsung kalang kabut.
"Astaga masakanku!" teriaknya tatkala mi yang tengah ia masak menjadi hitam seperti arang.
Dan sudah di pastikan, mi itu pasti akan pahit rasanya.
"Kenapa kau tak bilang dari awal, Elise!" rajuknya menyalahkan Elise yang berada tepat di sebelahnya.
"Kenapa jadi saya yang di salahkan, Nyonya? Saya telah mencoba memanggil anda dari tadi, tapi anda seakan tuli," balas Elise tak terima sambil melipat kedua tangannya.
Cassandra menggaruk tulang rahangnya yang tak gatal dengan telunjuknya, sambil menunjukkan cengiran di wajahnya.
"Hehe, iya-iya aku yang salah. Maafkan aku, ya ya?" ucapnya dengan raut wajah menggemaskan sehingga Elise menjadi luluh.
"Astaga bagaimana bisa anda mempunyai wajah imut seperti ini." Elise mencubit pipi Cassandra gemas sehingga membuat empu nya mengaduh kesakitan.
"Aw, aw, sakit Elise!" gaduh nya dan Elise pun langsung melepaskan cubitannya kemudian terkekeh.
"Anda lucu sekali, Nyonya. Saya jadi ingin melihat bagaimana imut nya putri anda kelak," ujar Elise membuat rona merah menjalar di pipi Cassandra.
"J-jangan sembarangan bicara, Elise!" sergah nya secara cepat.
"Kenapa, Nyonya? Apakah anda belum pernah melakukannya dengan Tuan Duke?" tanya Elise polos membuat Cassandra seperti cacing kepanasan dan langsung membungkam bibir wanita berumur itu dengan telapak tangannya.
"Sudah cukup, Elise! Mau aku sudah melakukannya atau tidak itu bukan urusanmu!"
"Melakukan apa?"
"Hua!" Kaget Cassandra ketika mendengar suara bernada rendah meng interupsi nya.
"Apa yang kalian berdua ributkan?" tanya Arlen menaikkan alisnya, karena saat ia memasuki dapur, ia mendengar keributan.
"A-uhm-itu... bukan apa-apa!" gagapnya seraya memalingkan wajah kemudian kembali berkutat dengan mi gosongnya.
Arlen tampak tak puas dengan jawaban wanita itu. Dan netranya pun kini melirik masakan yang tengah di tangani oleh Cassandra.
"Apa kau menggoreng sebuah arang?"
"Pfft!" Elise yang berada di antara mereka langsung membungkam mulutnya sendiri berupaya agar tawa yang hendak ke luar dari mulutnya dapat tertahan.
Cassandra menjadi kesal, dan ia pun langsung menatap tajam Elise.
Elise yang sadar hal akan hal itu langsung berpura-pura batuk. "Ek-ekhem! Ekhem! Maaf Nyonya, Tuan, saya merasa kurang enak badan, saya akan pergi terlebih dahulu, hohoho~"
Wanita berumur itu pun pergi dan kini tinggal lah mereka berdua.
Arlen melirik ke arah masakan yang di buat oleh wanita bersurai coklat itu, kemudian bertanya. "Sudah lama aku tidak melihatmu memasak."
"Y-yah, itu karena aku ingin memakan masakan ku sendiri, tapi karena suatu kesalahan teknis, masakan ku jadi gosong. Dan asal kau tahu, ini bukanlah arang," papar wanita itu seraya berniat membuang masakan gagalnya.
Namun tak di sangka, ternyata Arlen malah menahan tangan wanita itu yang hendak membuang masakannya.
"Apa yang kau lakukan?" tanya Cassandra bingung.
"Daripada kau membuangnya, lebih baik kau berikan padaku," ucap pria itu.
"Hah? Apa kau kekurangan makanan hingga kau mau memakan masakan gagal ini?" Cassandra kembali bingung, perkataan yang terlontar dari bibir pria itu sungguh tak dapat di percaya.
"Sudahlah, berikan saja kepada ku." Pria itu memaksa sehingga membuat Cassandra tak punya pilihan lain.
Arlen mulai mengambil sebuah garpu kemudian memasukkan sebagian mi legendaris buatan Cassandra ke dalam rongga mulutnya.
Anehnya, pria itu tidak membuat ekpresi yang menunjukkan bahwa makanan itu sangat tidak enak.
Raut wajahnya masih santai dan datar, membuat Cassandra menjadi penasaran dengan rasa dari mi yang ia buat sendiri.
"Apa rasanya tidak pahit?" tanya nya penasaran dengan kernyitan di alisnya.
"Cobalah sendiri," ujar Arlen sambil menyodorkan mi yang terkalung di garpu miliknya.
Cassandra mejadi ragu, bukan karena rasa dari mi itu melainkan garpu yang menjadi bekas pria itu.
"Oh ayolah, Cassandra! Jangan seperti remaja labil yang heboh hanya karena sebuah ciuman tidak langsung!" batin iblisnya protes.
"Tidak boleh, karena secara tidak langsung itu adalah ciuman tidak langsung. Ciuman hanya boleh di lakukan oleh pasangan yang saling mencintai!" batin malaikat nya membela.
"Astaga dasar kekanak-kanakan sekali, itu hanya ciuman tidak langsung, terima saja! Lagipula, Duke itu tampan! Kau tidak akan rugi!"
"Tidak boleh, sadarkanlah dirimu Cassandra!"
"Terima!"
"Jangan!"
"Terima!"
"Jangan!"
"Terima!"
"Jangan!"
Pertengkaran batin membuat wanita itu menjadi melamun.
"Hoi! Kau mau tidak?" panggil Arlen berhasil membuat wanita itu lepas dari pertengkaran batin malaikat dan iblisnya.
"A-ah ya, aku mau," jawab wanita itu kemudian menyelipkan helai rambut panjangnya sambil memasukkan mi itu ke dalam rongga mulutnya.
Selang beberapa saat, mata wanita membelalak dengan mulutnya yang mengeluarkan paksa mi yang baru saja masuk kedalam rongga mulutnya.
Telapak tangannya pun bertugas sebagai wadah yang menampung mi yang ia muntah kan, ia langsung membuangnya kemudian mengusap bibirnya.
"Kenapa kau mau saja memakan makanan gagal seperti ini?" tanyanya heran.
Arlen mengulas senyum miring di sudut bibirnya. "Aku hanya ingin menghargai masakan istriku."
^^^I Become Wife of the Atrocious Duke^^^
^^^20 November 2020^^^