The Atrocious Duke'S Wife

The Atrocious Duke'S Wife
{Season 2} Pohon Harapan



Irama jantung kami beradu dengan kehangatan yang melingkupi dan menyebar ke seluruh saraf.


Aku ingin waktu berhenti saat ini juga, aku ingin waktu memahami diriku saat ini juga.


Tanpa celah, dia terus mendekapku makin erat. Namun tak lama dari itu, sebuah kalimat yang ia lontarkan seakan merenggut seluruh nafasku.


"Bagaimana jika sekarang aku mengatakan, bahwa aku mencintaimu?"


...~•The Atrocious Duke's Wife•~...


...Chapter...


...(24)...


"Ini aneh. Bagaimana bisa cuma bernegosiasi harus menginap selama beberapa hari di kediaman Marquess?" gumam gadis dengan bola matanya yang bulat dan bermanik hijau.


Sudah sejak lama dia berbicara dengan sosok yang saat ini masih ia belum ketahui identitasnya tersebut. Namun sosok itu selalu memberikan nasihat dan selalu setia mendengarkan kisah yang ia beritahu.


Sosok itu selalu datang pada malam hari, di tempat yang sama dan waktu yang sama. Di taman belakang dan sekitar tengah malam.


Saat ini gadis itu dan sosok tersebut tengah dalam sebuah perbincangan. Gadis berhelai emas itu menceritakan tentang kebingungannya dan kegelisahannya.


"Hei, bagaimana menurutmu? Apa Arlen tengah menyembunyikan sesuatu dariku saat ini?" tanya gadis itu.


Sosok tadi hanya diam membisu, tampak tengah memikirkan sesuatu sembari menatap lurus ke depan walaupun tudung hitam masih menutupi setengah wajahnya.


Lantas gadis itu menghembuskan nafas kasar. "Bahkan Cassandra pun akhir-akhir ini tidak terlihat. Daisy pun menjauhiku. Aku benar-benar bosan," gerutunya.


Dalam diam, sebuah lekukan miring tercipta di salah satu bibir antara mereka. Dengan cepat, sebuah balasan terlayang.


"Aku dengar di wilayah Marquess Thrones, ada sepasang lelaki dan perempuan yang dirumorkan tengah membantu proses penjernihan air," cecar sosok berjubah itu.


"Wilayah Marquess Thrones? Bukankah itu adalah wilayah milik Marquess yang akan bernegosiasi dengan Arlen?" kata gadis itu bingung membuat sosok tadi kembali tersenyum.


Ternyata gadis itu sangat mudah terpancing.


"Aku dengar dari rumor bahwa mereka adalah sepasang kekasih. Lelaki itu memiliki rambut pirang dan mata biru, sedangkan perempuannya memiliki rambut coklat. Apa kau mengenal mereka?" Lagi-lagi sosok itu berbicara berusaha memancing sangat gadis yang tengah kebingungan.


"Le-lelaki berambut pirang dan perempuan berambut coklat?" ulang gadis itu sedikit terkaget.


"Kenapa? Apa kau mengenalnya?" tanya sosok berjubah itu.


Gadis itu sedikit ragu mengatakannya. "Y-ya, aku mengenal salah satu perempuan berambut coklat."


"Apa maksudmu sahabatmu yang bernama Cassandra itu?"


Hanya sebuah anggukan yang terlontar dari gadis itu. Tak lama dari itu dia kembali membuka suara. "Apa kau mengetahui siapa sepasang kekasih yang dirumorkan itu? Setidaknya nama belakang mereka, apa kau mengetahuinya?"


"Aku tidak tahu pasti, tapi yang aku dengar perempuan itu putri dari seorang Viscount."


Semakin jauh, ciri-ciri yang disebutkan oleh sosok tersebut mirip dengan seseorang yang tengah dipikirkan oleh sang gadis berwajah boneka itu.


"Apa mungkin sepasang kekasih yang dirumorkan itu adalah kedua sahabatmu itu?" terka sosok bertudung itu berhasil menghilangkan ketenangan dan akal sehat gadis tadi.


Gadis itu tersentak, dia berusaha membantah. Namun perkataan lawan bicaranya itu selalu bisa membuatnya bungkam akan kebenaran dan ke masuk akalan.


"Tidak mungkin. Arlen dan Cassandra hanyalah teman, sudah pasti itu bukan mereka," bantah putri dari sepasang Count dan Countess itu.


"Baiklah jika kau berkata seperti itu," balas sang lawan bicara. "Tapi, sebaiknya kau harus selalu berhati-hati. Karena tidak ada yang namanya persahabatan antara lelaki dan perempuan. Karena kemungkinan besar jika kau hanya diam dan menganggap semuanya sepele, lelaki yang kau sukai akan berlabuh di hati perempuan lain."


Gadis itu terdiam, tak bisa berkata-kata. Dia hanya duduk dan tertunduk di atas permukaan kursi taman.


Sosok tadi pun kemudian berdiri sehingga jubahnya berkibar ditarik angin. Tak lama dari itu, dia pun mengucapkan kalimat terakhirnya pada hari itu.


"Oh, dan aku baru saja ingat. Nama belakang gadis itu adalah la Devoline. Semoga itu memang bukan sahabat yang kau maksud. Kalau begitu, sampai berjumpa lagi."


Dalam sekejap, sosok itu menghilang bak ditelan oleh cahaya bulan dan angin malam yang dingin lalu membaur dengan kegelapan malam yang bertabur bintang.


Meninggalkan sang gadis yang kini menggertakkan gigi dan mengepalkan telapak tangannya dengan kuat.


Gadis itu tidak bisa berdiam diri lagi.


...~•~...


Cassandra mematung, seakan nadinya ikut berhenti saat itu juga. Beberapa potong kata yang diucapkan membuatnya bereaksi demikian.


Suara api yang menulikan telinga tak dapat ia dengar, tertutup oleh segala kehangatan yang melingkupi.


Gadis itu tidak bergerak, hanya diam di dalam dekapan erat lelaki di hadapannya.


Lantas lelaki bersurai cerah itu melepaskan dekapannya dan menatap dalam gadis di hadapannya itu.


Manik coklat garnetnya membola dengan bibirnya yang seperti bunga mawar merah tengah terkatup.


Arlen pun mendekati bibirnya ke telinga gadis itu, menghembuskan deru nafasnya dan tersenyum jahil.


"Ber... can.... da," katanya kemudian berbalik meninggalkan Cassandra yang masih setia membeku.


Tunggu dulu... bercanda? Apa lelaki itu mempermainkannya? Seketika gadis itu tersadar, dan pipinya memerah karena malu.


"Dasar!"


Karena kesal, gadis itu pun langsung mengejar Arlen yang sudah berada jauh di depannya.


Bahkan lelaki itu pun kini ikut berlari karena Cassandra yang mengejarnya dari belakang.


Pada akhirnya, bukannya malah diam mengamati dan mengagumi keindahan bunga api, kedua manusia itu malah berujung dengan kejar-kejaran di bawah suara berisik serbuk-serbuk kelopak api yang menghujani langit.


Karena mereka berdua kelelahan-- ralat, karena Cassandra yang kelelahan, aksi kejar-kejaran mereka pun harus terhenti sebab gadis itu tak kuat lagi menggerakkan kakinya.


Meskipun gadis itu cepat, namun lelaki di depannya itu tak kalah laju.


"Kenapa berhenti?" tanya lelaki itu malah terdengar mengejek.


"Berisik, berikan aku air itu," kesal gadis bersurai panjang itu menunjuk ke arah botol air yang berada di genggaman Arlen.


Lelaki itu tampak diam memikirkan sesuatu, membuat Cassandra yang tengah bertumpu pada kakinya langsung merebut botol air itu.


Secara cepat, gadis itu meneguk menyalurkan air itu melalui dan melegakan dahaganya.


Tapi naas, ketika dia tengah asyik meminumnya, sebuah pernyataan membuatnya menyemburkan air itu keluar dan tersedak.


Prufftt!!


"Kau baik-baik saja?" tanya Arlen tenang.


Cassandra pun mengusap bibirnya menggunakan punggung tangannya dan berusaha menghilangkan rasa gatal di tenggorokannya yang membuatnya terbatuk-batuk.


Kenapa lelaki itu tidak bilang dari awal?! Tentu saja dirinya terkejut ketika lelaki itu tiba-tiba dengan seenak jidat baru berkata seperti itu sekarang!


Namun karena tidak ingin malu dan ingin bersikap layaknya orang dewasa, gadis itu pun berlagak tenang.


"Oh, begitu. Maaf, karenaku airmu jadi habis," ujarnya tenang. Dia berusaha mati-matian menutup rasa malunya.


"Tidak apa," jawab lelaki itu tak kalah tenang.


Dalam sekejap, suasana kembali hening. Mulai dari sekarang apa yang harus mereka lakukan?


Sayangnya, pertunjukkan kembang api telah berakhir beberapa saat yang lalu, sehingga tak ada lagi alasan untuk menetap.


Apa mereka pulang saja?


"Hei, apa sebaiknya kita pulang sa--"


"Mau ke sana? Aku dengar kita dapat membuat permohonan di sana," potong Arlen menunjuk ke arah sebuah kuil.


Pandangan Cassandra pun tertarik ke arah jari telunjuk lelaki itu mengarah. Tak lama, sebuah senyuman pun terbentuk di bibirnya. "Baiklah."


Mereka pun berjalan menghampiri sebuah kuil kecil yang terdapat patung seorang dewi yang anggun dan memesona.


Cassandra melipat tangannya sembari menutup matanya, gadis itu seakan benar-benar ingin permohonan yang ia lantunkan di dalam hatinya terkabul.


Sedangkan Arlen hanya menatap datar patung dewi di hadapannya, sebenarnya lelaki itu tidak terlalu percaya akan takhayul yang mengatakan bahwa jika kau meminta sesuatu kepada dewi maka permohonanmu secara cepat atau lambat terkabul.


Walaupun dia tidak percaya, namun dia tetap mengajak gadis di sampingnya itu ke sini karena alasan tertentu yang tak bisa terucapkan.


Setelah selesai melantunkan permohonan, gadis itu pun membuka mata dan melepas kedua tangannya yang terjatuh di depan dada kemudian menatap lelaki di sampingnya yang sedari tadi hanya melamun.


"Kau tidak membuat permohonan?" tanya Cassandra.


"Tidak," jawab Arlen singkat membuat Cassandra bingung. Manik biru aquamarine nya terus menatap lurus ke depan.


"Lalu kenapa kau mengajakku kemari? Kau benar-benar aneh," kekeh gadis itu merasa lucu.


Mendadak, ada seseorang yang mengusik interaksi mereka sehingga membuat keduanya menoleh ke arah sosok yang memancarkan suara tersebut.


"Apa anda ingin menuliskan permohonan anda di kertas ini? Saya akan menggantungkannya di pohon harapan yang ada di sana," tunjuk orang asing yang menghampiri mereka tersebut ke arah pohon besar dan tinggi yang berdiri kokoh cukup jauh dari mereka.


Meskipun gelap dan jauh, mereka tetap bisa melihatnya karena pohon itu sangat besar dan tinggi.


Cassandra dan Arlen tampak diam dan saling memandang, tentu saja mereka tidak langsung memberikan kepercayaan mereka begitu saja pada orang asing.


Mungkin saja orang itu ingin menipu mereka dan memeras uang mereka untuk hal tak berguna.


Orang itu langsung tergelak melihat reaksi mereka berdua. "Tenang saja, ini gratis. Aku tidak akan menipu kalian."


Karena terlihat seperti tidak tengah berbohong, Arlen pun hanya bisa menghela nafas dan mengalihkan pandangan ketika Cassandra menatapnya seakan bertanya apa mereka harus mempercayai orang itu.


"Terserah," kata lelaki itu.


Cassandra pun tersenyum, kemudian menerima penawaran gratis orang asing tersebut. Toh, mereka hanya disuruh menulis keinginan, apa yang bisa dilakukan dengan sebuah tulisan berisikan keinginan?


Gadis itu meraih sehelai kertas dan pena bulu yang disodorkan orang asing tersebut dan mulai menuliskan sesuatu di permukaannya. Setelah selesai, dia pun memberikannya pada orang itu.


Ia melirik ke arah lelaki di sampingnya yang masih setia diam, tak lama dari itu dia kembali meraih sehelai kertas kecil dan menyodorkannya pada lelaki itu.


"Tulislah permohonanmu. Tidak masalah, bukan?" tanya Cassandra.


Arlen mau tak mau harus menerimanya, karena sudah pasti gadis di sampingnya itu akan memaksanya.


Jarinya pun bergerak menuliskan beberapa kata di atasnya, kemudian kembali menyerahkan kertas itu.


"Uhm, apa itu pohon harapan?" tanya Cassandra penasaran.


"Pohon harapan adalah pohon yang bisa mengabulkan permintaan seseorang yang benar-benar menginginkan permintaannya terkabul. Konon katanya, pohon itu bahkan bisa mengabulkan permintaan untuk bereinkarnasi dan mengulang hidup sekalipun," jelas orang itu.


Cassandra mengangguk mengerti dan tersenyum. "Baiklah, terima kasih atas informasinya."


"Terima kasih kembali sudah meluangkan waktu. Semoga hari kalian menyenangkan," pamit orang itu kemudian berlalu.


Gadis itu terdiam. Hatinya sedikit terusik mendengar penjelasan orang asing tadi.


Terlahir kembali, kah? batinnya.


Irisnya pun menatap sosok di sebelahnya, sebenarnya ada sesuatu yang sedari tadi menyangkut di hatinya terhadap lelaki itu. Namun dia ragu. Apa dia harus menanyakannya sekarang?


"Hei. Apa... kau percaya akan reinkarnasi dan terlahir kembali?" tanyanya seraya melipat bibir.


Dia sangat berharap bahwa hal yang tengah dipikirkannya itu benar. Lelaki yang bertukar posisi menjadi di hadapannya itu diam hingga ia kembali berbicara.


"Tidak," jawabnya mampu membuat rasa kecewa yang mendalam meretakkan sebuah hati.


"Kenapa?" Lagi-lagi gadis itu tidak puas bertanya.


"Manusia hanya diberikan kesempatan sekali untuk hidup. Terlahir kembali dan reinkarnasi itu hanyalah mitos," lanjut lelaki itu dengan tatapan datar.


"Begitu," balas Cassandra. "Lalu kenapa kau tadi memanggilku 'jeruk'?" lanjutnya.


"Karena saat kita berlatih beberapa bulan yang lalu, kau selalu memakan buah jeruk. Sepertinya itu adalah favoritmu. Karena cocok, aku pun memanggilmu itu," papar Arlen.


"Seperti itu." Lagi-lagi hanya balasan tak bersemangat yang hanya bisa Cassandra lontarkan. Tak lama dari itu, dia pun kembali mengukir senyum.


"Baiklah, karena hari telah malam, sebaiknya kita pulang," ajak gadis itu kemudian berjalan mendahului Arlen.


Lelaki bernetra biru langit itu hanya bisa menatap dengan pandangan misterius dan tenang seperti biasa melihat tingkah aneh Cassandra.


Namun ia tak tahu, bahwa saat ini gadis itu tengah mati-matian menahan air mata yang entah kenapa tiba-tiba ingin meluncur.


Entah karena rasa sedih maupun rindu... atau kecewaan, gadis itu sama sekali tidak tahu.


...13.02.2021...