
Previously....
"Jadi kau selamanya ingin menjadi seorang Countess yang melajang?"
"Bukan itu maksudku, bodoh. Aku hanya tidak menemukan lelaki yang cocok."
Frost terdiam sejenak sembari menatap Cassandra. Tak lama dari itu dia kembali berkata. "Kalau begitu, bagaimana jika aku yang menjadi kekasihmu?"
...~•The Atrocious Duke's Wife•~...
...Chapter...
...(31)...
Mereka berdua terdiam ketika hening tiba-tiba menampar. Suasana yang ramai, seketika terasa sunyi bagi mereka berdua.
"Astaga! Berhentilah membuat ekspresi seperti itu! Akting sangat tidak cocok denganmu!" seru Cassandra terkekeh kemudian kembali memukul lengan sahabatnya itu.
"Haha! Kau benar juga!" gelak Frost. Hancur sudah raut wajah yang sebelumnya dingin dan menelisik tersebut.
Sahabat semasa kecil itu lantas tertawa lepas tak peduli akan sekitar mereka. Tak lama dari itu, tiba-tiba saja suasana menjadi bising.
Lantas kedua manusia yang awalnya tergelak itu kini lama-lama terdiam ketika mendapati bintang dari pesta ini.
Padangan mereka berdua pun tertuju pada seorang gadis bersurai emas yang berbalutkan gaun berwarna hijau daun yang berpadu.
"Anastasia itu, benar-benar putri semata wayang Count dan Countess Emerald. Mereka terlalu memanjakannya."
Cassandra pun menyetujui perkataan Frost. Anastasia memang tipe anak perempuan yang manja, meskipun gadis itu tetap memiliki sifat baik tersendiri.
"Jadi, apa kau sudah memiliki perempuan yang menarik minatmu?" tanya Cassandra menghadap ke arah Frost.
Lelaki itu tampak berpikir-pikir, kemudian tersenyum tipis. "Ya... ada," gumamnya berbisik.
Cassandra pun berantusias. Walaupun sahabatnya tersebut berbicara dengan sangat pelan, dia tetap bisa mendengarnya. "Benarkah? Bagaimana orangnya? Apa dia baik? Apa dia cantik?" tanyanya betubi-tubi.
"Kau berisik sekali. Itu adalah ra, ha, si, a," jawab Frost berlagak misterius membuat gadis di sampingnya ini mencibir.
"Cih, tidak seru sekali. Padahal aku adalah sahabatmu," sebal Cassandra bersedekap.
Frost pun hanya tergelak kecil melihat tingkah sahabatnya tersebut. Tak lama dari itu, seseorang pun menghampiri mereka berdua.
"Cassandra!" pekik gadis yang hendak menghampiri mereka berdua.
Lantas, Cassandra pun menoleh ke arah suara yang memanggil namanya. Seketika, seorang gadis berwajah boneka telah berada tepat di hadapannya.
Anastasia pun menyadari bahwa sahabatnya yang mengenakan gaun berwarna biru tua itu tidak sendirian, oleh karena itu dia pun langsung menunduk hormat sejenak sebagai tanda hormat.
"Salam, Countess la Devoline," sapanya pada Cassandra. Lalu pandangan gadis bersurai emas itu tertuju pada lelaki yang ada di sebelah sahabatnya. "Lalu anda...."
"Frostend Beronald, My Lady. Putra dari Count Beronald. Suatu kehormatan bisa berjumpa dengan Lady. Lalu, selamat ulang tahun kepadamu, Lady Emerald," sapa Frost menundukkan kepalanya.
"Ah... ya, terima kasih. Suatu kehormatan juga bagi saya bisa berjumpa dengan anda," balas Anastasia.
"Baiklah, saya tidak ingin mengganggu. Nikmati waktu kalian berdua, saya pamit undur diri, My Lady."
Tak lama setelah mengatakan itu, Frost pun berbalik dan berlalu. Anastasia pun mengerutkan alis, ia merasa tidak asing dengan lelaki itu. Terlebih lagi suaranya, seakan dia telah sering mendengarnya.
"Siapa dia, Cassandra?" tanya Anastasia.
Cassandra yang sempat tenggelam dalam lamunannya akan hal lain pun langsung tersadar ketika Anastasia bertanya kepadanya.
"Oh, dia adalah Frost. Dia adalah teman masa kecilku. Bukankah aku sudah pernah mengenalkanmu padanya?" Gadis berhelai coklat itu bertanya balik.
Anastasia berpikir cukup lama. Tak lama dari itu, ingatan ketika Cassandra mengenalkannya pada Frost tiga tahun lalu pun mengambang di pikirannya.
"Ah iya! Aku mengingatnya! Wajar saja aku merasa tidak asing!" tawa gadis itu ketika telah menyadari segalanya.
Lantas, mereka pun kembali berbincang sembari menikmati pesta yang cukup mewah ini. Hingga seketika, perhatian semua orang tercuri akan suatu objek yang tiba-tiba datang dan muncul.
Ekspresi tak percaya dan terkejut menyertai seseorang yang tengah melangkah masuk ke dalam pesta itu.
Atmosfer di ruangan itu seakan terampas oleh lelaki yang sedang berjalan menuju seseorang yang menjadi tujuannya.
Gadis berhelai coklat yang masih asyik mengobrol sembari terkekeh dengan sahabatnya itu tak sadar akan kehadiran lelaki itu. Tak terkecuali sahabatnya yang memiliki surai emas yang tengah tergelak itu.
Seketika, muncullah seorang lelaki yang memakai pakaian rapi khas kerajaan dengan banyak corak dan ukiran emas yang terlukis indah.
Saat itu juga, mereka akhirnya menyadari kehadiran lelaki yang sempat merenggut seluruh perhatian semua orang tersebut.
Karisma menawan yang selalu setia menempelinya setiap saat, lantas membuat sepasang sahabat itu menyadari kehadirannya.
Tentu saja, mereka langsung melebarkan kelopak mata mereka sebesar mungkin dengan gelak tawa yang memudar dan luntur.
Lantas, sosok tersebut tersenyum dan menyapa salah satu gadis yang tengah terpelongo menatapnya.
"Salam, Lady Countess la Devoline. Salam, Lady... Emerald," sapanya dengan hormat.
"Salam, Yang Mulia Pangeran. Suatu kehormatan bagi saya bisa menyapa Yang Mulia," balas Cassandra lancar dan sopan dengan membungkukkan badannya.
Berbeda dengan Anastasia, gadis itu seakan masih terjatuh ke dalam kolam renungan.
Cassandra pun melirik sejenak sahabat di sebelahnya ini, kemudian meyentil lengan Anastasia dengan sikunya.
Sontak, gadis berambut emas itu tersadar dan langsung gelagapan dan membungkuk dengan sangat rendah karena gugup.
"S-salam...! Yang Mulia, s-suatu kehormatan bagi saya mendapati kehadiran anda di pesta ini," ujar Anastasia dengan debaran aneh dalam dirinya.
Tidak tahu karena apa atau bagaimana caranya, jantung gadis itu selalu berdebar kencang ketika mendapati kehadiran sosok pangeran berambut hitam itu di dekatnya.
"Selamat ulang tahun, Lady Emerald. Semoga berkat Dewi selalu menyertai setiap langkahmu," kata Pangeran Darren.
Anastasia masih tertunduk, dia pun sibuk memainkan kuku jari-jemarinya yang cantik karena bingung ingin berkata apa.
Tanpa gadis itu sadar, lelaki di hadapannya itu dengan sahabatnya saling bertukar pandangan.
Cassandra pun menatap Pangeran Darren yang melihatnya dengan pergerakan aneh dari manik hitam lelaki itu.
Tak lama, gadis berhelai coklat itu kembali membungkuk. "Maaf jika saya menginterupsi kalian, tapi saya mempunyai hal mendadak yang harus dilakukan. Saya pamit undur diri, semoga kalian berdua bersenang-senang," paparnya kemudian berjalan meninggalkan kedua manusia itu.
Sosok gadis berhelai garnet panjang itu kian lama menghilang, ditelan oleh keramaian yang berkabung.
Pangeran Darren yang masih tak kunjung mendapat balasan dari gadis di hadapannya itu pun lantas mengulurkan tangannya.
"Jika Lady berkenan, bisakah saya mengambil kehormatan ini dengan berdansa dengan Lady?" pintanya dengan tangan kiri yang berada di belakang pinggang sembari sedikit membungkuk.
Anastasia melipat bibir, namun tak lama dari itu secara perlahan dia pun mulai menaruh tangannya di atas telapak tangan Pangeran Darren.
Lelaki bersurai hitam itu menarik tangan Anastasia mengikutinya ke lantai dansa. Pangeran Darren mengalungkan tangan kirinya menangkup pinggang ramping milik gadis di hadapannya dan menariknya mendekat ke tubuhnya.
Gadis berambut emas tersebut sontak menahan napas ketika dirinya semakin berdekatan dengan lelaki yang ada tepat di hadapannya ini.
Irama jantungnya seakan membuat nada tersendiri untuknya, Anastasia hanya bisa berharap semoga Pangeran Darren tak mendengar jantungnya yang tengah bernyanyi.
Lantunan musik yang lembut menyertai setiap langkah mereka yang tengah mengitari dan menjelajahi seluruh lantai dansa yang licin.
Para bangsawan lain yang tengah berada di ruangan itu lantas menjauh secara perlahan sembari terperangah dan terkagum dengan pergerakan pasangan yang sedang menguasai lantai dansa itu.
Gerakan lentik dan menawan dari seorang gadis berhelai emas dan gaun berwarna hijau yang seirama dengan manik indahnya, berpadu dengan gerakan anggun namun gagah dari seorang lelaki berhelai hitam berbalut kan pakaian hitam bercorak emas.
Rok gaun yang panjang itu mengembang, membentuk kipas yang menghasilkan angin sejuk yang berhembus dan menyentuh hati orang-orang dengan keanggunan yang terkandung.
Hingga akhirnya musik pun telalu usai, menghentikan sosok kedua manusia itu. Pangeran Darren pun melepaskan kalungan tangannya dan menjauh dari Anastasia.
Lelaki itu meraih tangan gadis itu lagi dan mencium punggungnya dengan pelan sembari menutup kelopak mata.
Anastasia hanya bisa menahan untuk tidak kehilangan keseimbangan ketika benda lembut dan hangat itu menyapu punggung tangannya.
"Terima kasih atas dansa yang menyenangkan ini. Semoga, aku bisa mendapatkan kesempatan seperti ini lain waktu," ujar Pangeran Darren kemudian melepaskan tangan gadis di hadapannya.
Lelaki itu kemudian berjalan dengan seluruh pandangan kagum dan segan padanya, hingga akhirnya menghilang dari pandangan.
Tak lama, gadis bermanik hijau itu menjauh dari keramaian. Ia menatap dan menyentuh punggung tangannya yang mempunyai bekas bibir seorang pangeran tersebut.
Tak lupa dengan rona merah yang tak kunjung hilang menyertai kedua pipinya.
...~•~...
Suatu malam di sebuah ruangan yang luas dan hampa, terdapat sesosok lelaki yang tengah terbaring di permukaan kasurnya yang empuk.
Sudah lama dia tidak berada di ruangan itu, dan semuanya tak berubah sama sekali. Dekorasi yang kebanyakan berwarna merah, menjadi ciri khas lelaki itu.
Lantas, dia pun menatap langit-langit sembari terbang ke sebuah lamunan yang selama ini selalu ia pikirkan.
Tak lama dari itu, lelaki itu pun bangkit menuju lemari besar yang berisikan baju-baju miliknya.
Ia mengambil sepasang kemeja berlengan panjang berwarna putih tulang, kemudian mengambil celana panjang berwarna hitam disusul dengan rompi berwarna merah tua dan mantel yang berwarna seirama.
Tidak butuh waktu lama baginya untuk bersiap-siap. Setelah itu, dia pun pergi menuju ke suatu tempat dengan kereta kuda yang mengantar kehadirannya.
Karena ia masih memiliki tugas yang harus dipenuhi.
Dan ini... adalah awal dari segala rencana yang telah mereka susun.
...~•~...
Anastasia saat ini tengah berkeliling mencari keberadaan sahabatnya. Gadis itu bahkan berbolak-balik ke toilet berharap bahwa ada kehadiran sahabatnya di sana.
Dirinya juga telah menelusuri balkon dan tempat-tempat sepi lainnya, namun ia tak kunjung menangkap sosok Cassandra.
Lantas, Anastasia pun memegangi kepalanya karena lelah dan bingung. Di mana lagi dia harus mencari keberadaan Cassandra itu?
Saat dia kembali ingin menciptakan jejak di seluruh ruangan, tiba-tiba saja gadis berambut emas itu mendengar sebuah keributan dari arah sudut barat aula pesta itu.
Jiwa penasarannya tersentil, sehingga dia pun melangkah dan berusaha melihat apa yang terjadi.
Banyak para bangsawan yang berkerumun dan berbisik, membuat Anastasia sedikit kesusahan utnuk melihat peristiwa keributan yang berlangsung.
Saat itu juga, dia menangkap sosok Cassandra yang pergelangan tangannya tengah dicekal oleh pria asing.
Sahabatnya itu terus memberontak dan berbicara dengan saat keras. "Lepaskan saya, Tuan! Sudah saya bilang saya tidak ingin melakukannya!" teriak Cassandra.
"Bukankah kau duluan yang menghampiriku?! Dan sekarang kau buang mengusirku?! Dasar wanita tidak tahu malu!" sergah pria tersebut murka dan hendak memukul Cassandra.
Anastasia sontak langsung menelusup di antara kerumunan dan hendak menghentikan pria asing yang ingin memukul sahabatnya tersebut.
Tapi, belum sempat dia sampai, tiba-tiba saja kehadiran sesosok lelaki tinggi datang dan menghentikan layangan pukulan yang hendak pria brengsek tadi jatuhkan pada sahabatnya.
Lelaki tersebut mempunyai helai pirang lurus yang mengkilap, dengan iris biru langitnya yang bening dan jernih.
Anastasia terpelotot melihatnya, dia membeku dan tak bisa berkata apa-apa. Sebuah kata tak bisa keluar dari mulutnya karena tenggorokannya yang tercekat.
Lelaki itu kemudian menarik Cassandra mendekat ke arahnya dan mendorong keras pria yang hendak memukul gadis itu tadi.
Pria itu pun tersungkur dengan sangat keras, sehingga beberapa orang yang melihatnya meringis. Sudah pasti tenaga yang digunakan untuk mendorong pria itu tidak sedikit.
Lelaki berhelai pirang cerah itu lantas mendekati pria yang tersungkur tersebut, kemudian menarik kerahnya dan menonjok pipi mulusnya.
Rintihan kesakitan terlayang dari bibir pria yang mendapat lebam di pipinya. Tak lama, lelaki beriris biru itu pun berdiri sembari berkata.
"Kau akan mendapatkan balasan yang lebih buruk lagi jika kau menyentuhnya sedikit saja," ketus Arlen kemudian meraih pergelangan tangan gadis berhelai coklat di belakangnya.
Cassandra tampak tak bisa berkata apa-apa, sama halnya dengan Anastasia yang masih menonton adegan itu dari kejauhan.
"Ayo," ajak lelaki bersurai pirang itu kemudian menarik Cassandra keluar dari ruangan itu tanpa mempedulikan sekitarnya.
Lagi-lagi, Cassandra hanya tak bisa berkata apa-apa dan hanya bisa mengikuti kemana lelaki itu membawanya pergi.
Para bangsawan lain kembali berbisik, namun tidak dengan Anastasia. Gadis bernetra hijau itu tanpa aba-aba langsung mengikuti sahabatnya beserta lelaki bermantel merah tua tadi.
.
.
.
.
Anastasia masih mengikuti jejak kedua manusia itu yang membawanya ke halaman belakang rumahnya yang jauh dari kehadiran banyak orang.
Dia bersembunyi, berusaha untuk tidak tertangkap. Hingga akhirnya kedua sahabatnya tersebut berhenti.
Mereka berdua terdiam sejenak, membiarkan angin malam meniup helai mereka yang berterbangan di udara.
"Apa yang kau lakukan? Tiba-tiba saja muncul dan membuat keributan," ucap Cassandra dengan wajah tertunduk.
Dapat Anastasia lihat bahwa sahabatnya itu terlihat sangat tertekan. Bahkan bisa dia lihat, Cassandra tampak menahan tangisnya.
Lantas gadis bersurai emas itu bingung akan semuanya.
"Kenapa kau tidak melawan? Kau akan membiarkan pria itu menyakitimu?" tanya Arlen.
"Apa hubungannya denganmu? Kau bukan siapa-siapa, jangan ikut campur dengan urusanku," balas Cassandra sinis.
"Tentu saja hal itu ada hubungannya denganku ketika kau adalah orang yang mempunyai tempat di hatiku!" sergah lelaki itu membuat gadis berhelai coklat di hadapannya tersentak.
Anastasia terkejut, sangat terkejut. Jadi selama ini... Cassandra mempunyai tempat di hati calon tunangannya?
Tanpa sadar, Anastasia mengepalkan tangannya kuat.
"Lalu kenapa?! Bukankah kau adalah tunangan Anastasia?! Kenapa kau masih menyukaiku?!" Cassandra berteriak, tangis gadis itu telah pecah berkeping-keping menjatuhkan bulir airmata.
"Kalau begitu aku akan membatalkannya. Lagipula aku hanya mencintaimu." Arlen menjawab secara cepat, membuat Cassandra membulatkan mata.
"Kau gila...?! Jika dengan cara seperti itu tentu saja Anastasia akan membenciku! Dia pasti akan berpikir bahwa aku adalah sahabat yang buruk karena telah merebut calon tunangannya! Aku... tidak mau itu...," lirih gadis bernetra coklat itu terjatuh ke tanah.
Tangisnya semakin menjadi-jadi, membuat hati Anastasia tersayat-sayat. Apa ini semua adalah kesalahannya?
Arlen pun mengerutkan kedua alisnya, lelaki itu tampak bimbang, kesal, marah, dan sedih. Semuanya bercampur dan terwakilkan dengan kernyitan yang tercipta di dahinya.
"Hei... kumohon berhentilah. Aku lelah diam-diam memiliki hubungan denganmu selama ini.... Aku... tidak ingin menyakiti Anastasia lebih dari ini, kumohon...."
Cassandra kembali meracau dengan kedua tangannya yang menutupi wajah menyedihkannya.
Anastasia mencengkram kuat dadanya yang sesak, dia seperti tak bisa bernapas. Tenggorokannya tercekat, dengan rasa sakit yang mulai menjalar bebas ke seluruh sarafnya.
Arlen pun terjongkok di hadapan Cassandra, kemudian dia pun mengalungkan kedua lengannya melingkupi tubuh Cassandra yang lebih kecil darinya.
Dia menyandarkan kepala gadis itu di pundaknya, dan lelaki itu pun mulai meneteskan air matanya dan mendekap Cassandra erat.
Lagi-lagi, Anastasia tak henti-hentinya terkejut. Arlen menangis. Lelaki itu menumpahkan air matanya, demi Cassandra.
Selama hidupnya, dirinya tak pernah melihat lelaki itu menumpahkan tangisnya. Apa... lelaki itu sangat mencintai Cassandra...?
"Baiklah... kita akhiri saja ini, jika itu memang keinginanmu," ujar lelaki itu sembari mengelus pucuk kepala gadisnya.
Anastasia kehilangan keseimbangan, dadanya sesak, hatinya seakan teriris oleh kunai tajam.
Tidak... dia bukan merasakan pengkhianatan. Namun... dia merasakan rasa bersalah saat ini.
Dia merasa sangat bersalah, dia tidak tahu mengapa itu terjadi. Namun, dirinya benar-benar hancur saat ini.
Cassandra pun mendongakkan wajahnya menatap lelaki di hadapannya, kemudian mereka berdua pun saling berpandangan dengan airmata yang mengalir.
Tatapan yang mendalam, seakan menghipnotis mereka. Hingga akhirnya, bibir mereka saling bertemu.
Ciuman berbalut tangisan... menjadi akhir.
Merasa tidak sanggup lagi, Anastasia langsung berlari dari sana. Gadis itu tidak sanggup lagi, dia tidak bisa menahannya sendirian.
Hanya satu orang yang ada di pikirannya saat ini. Dia ingin berbagi segala perasaannya dengan orang itu.
Sesosok lelaki... dengan surai hitam malamnya.
...27.02.2021...