
KARYA INI HANYA FIKSI. NAMA, TOKOH, PERISTIWA, TEMPAT, HANYALAH KHAYALAN SEMATA. HARAP PEMBACA BIJAK DALAM MENANGGAPI.
Aku pun berjalan menuruni tangga dengan langkah kecilku, dan saat langkahku telah sampai di lantai bawah, aku pun melihat sosok itu. Senyum yang merekah secara perlahan-lahan memudar.
Aku lupa bahwa bukan aku saja yang berstatus sebagai Duchess Floniouse di sini.
Sehingga kejengkelan ini mau tidak mau harus kutelan. Ketidaksukaan ini harus aku terima.
Awalnya aku ingin berduaan, namun nyatanya, masih saja ada pihak ketiga yang menganggu kesenanganku.
"Ah, Cassandra. Kau sudah siap? Kami sudah menunggumu daritadi. Kau sangat cantik mengenakan gaun itu!" puji wanita itu dengan berbalut gaun merah yang terdapat banyak sekali permata-permata besar yang terkesan berlebihan.
"Maaf telah membuat kalian menunggu, sepertinya aku terlalu lama berdandan," kataku merendah. Menunjukkan senyum.
"Tidak apa, aku tahu perasaanmu. Setiap wanita pasti ingin tampil dengan sangat cantik di saat pesta seperti ini," kekehnya seraya bergelayut manja dengan pria di sampingnya.
Aku mencoba untuk tidak melayangkan tatapan tajam, karena aku tidak melupakan prioritas pertamaku.
Hatiku sangat tak suka melihat tangan itu bergelayut manja di lengannya.
Yaitu berpura-pura menjadi wanita lemah dan lembut.
Dengan mata yang dibulatkan dengan paksa, aku pun menaruh telunjukku di daguku dan seolah-olah tengah mengingat sesuatu.
"Oh iya! Karena kalian baru saja kembali menjadi sahabat, lebih baik kalian bersamaan saja pergi ke pesta. Agar semasa perjalanan, kalian dapat berbicara lebih dalam lagi," cecarku dengan senyum mengembang.
Dapat kulihat ada sedikit pergerakan di wajah datar pria itu, namun aku tak peduli.
Lebih baik aku naik kereta kuda sendirian daripada aku harus satu kereta bersama mereka berdua.
Lagipula, setidaknya biarkan wanita itu sedikit senang, agar dia berpikir bahwa aku telah dibodohi dan tidak mengetahui niat tersembunyinya.
"Cassa--"
"Yang dikatakan Cassandra benar, Arlen. Karena hubungan kita sempat berantakan, bukankah kita lebih baik membicarakannya lebih dalam?" potong Anastasia dengan kedua bola mata berbinar.
Kusempatkan untuk memutar kedua bola mataku jengah sejenak, kemudiannya kembali dengan senyum hina ini.
"Kalau begitu, aku akan menaiki kereta kuda yang satu lagi. Kalian berdua nikmatilah waktu kalian," ucapku mengatupkan kedua telapak tanganku yang terbungkus sarung tangan berwarna putih.
Dengan cepat aku pun melesat untuk melalui mereka berdua. Dapat kurasakan sebuah genggaman mencekal tanganku di saat aku melewati pria itu.
Namun dengan cepat aku melepasnya secara paksa karena kekesalan yang membuncah dan terpendam.
Akhir-akhir ini suasana hatiku sangat buruk, apa karena kebosanan yang menjeratku?
Entahlah, untuk sekarang aku hanya ingin cepat-cepat pergi dari hadapan mereka.
Kutapakkan kakiku menaiki kereta kuda yang berada di hadapanku. Namun sebelum itu, aku sempat melirik sosok yang menjadi pengendara kereta kuda ini.
Bukankah itu adalah pak tua yang waktu itu hampir sempat di penggal oleh Arlen?
Bukankah dia telah mengusir pak tua ini? Tapi kenapa pak tua itu tiba-tiba ada di sini?
"Sebelumnya maafkan saya karena lancang, tapi anda adalah kusir yang waktu itu sempat di usir oleh Tuan Duke, bukan?" tanyaku dan pak itu sontak menoleh ke arahku.
Dia pun turun lalu menunduk hormat padaku. "Itu benar, Nyonya. Nama saya Edward. Senang bertemu dengan anda," sapanya formal padaku. "Saya memang sempat diusir waktu itu, namun tiba-tiba Tuan Duke datang kerumah saya dan meminta saya agar bekerja untuknya lagi," ungkapnya membuatku mengernyit bingung.
Aneh. Pria yang terkenal sibuk itu rela datang ke rumah rakyat biasa hanya untuk merekrutnya untuk menjadi pegawainya?
Angin apa yang membuat pria itu rela melakukan tindakan membuang-buang waktu seperti ini?
Yasudahlah, untuk apa panjang-panjang memikirkannya. Lebih baik aku segera naik ke kereta ini lalu duduk manis seraya menunggu sampai ke istana.
Setidaknya aku juga bisa bertemu dengan Veronica. Mungkin saja sahabatku itu dapat membangun suasana hatiku yang tadinya buruk menjadi sedikit lebih baik.
...🥀...
Lampu berlapis berlian dan emas, disertai dengan puluhan lilin yang memancarkan cahayanya, tergantung dengan indahnya seperti menjadi salam pembuka di aula istana yang sangat-sangat luas dan mewah.
Bangsawan-bangsawan yang berkerumun menjadi pemandangan yang familiar.
Setengah wajah mereka dilapisi oleh topeng, sehingga tak ada yang tahu bagaimana saja bentuk yang berada di balik itu.
Sedangkan aku, sendirian seolah-olah seperti bukan bagian dari mereka. Karena Arlen dan Anastasia sepertinya belum sampai di istana ini.
Aku berniat mencari Veronica, namun seseorang kini menghalangi dan memberhentikan niatku.
"Selamat malam, Duchess. Senang bertemu denganmu," sapanya formal seraya menundukkan kepala hormat.
Aku pun mengangguk seraya menarik kedua ujung rok gaunku dan membungkuk.
Siapa dia? Aku tak tahu sama sekali karena topeng yang menyembunyikan wajahnya.
Aku mencoba mengingat-ingat sebentar dan menerka-nerka sebelum aku mengucapkan sebuah kata yang salah.
Namun suaranya terdengar tak asing di pendengaranku.
Dia terkekeh. "Ini saya, Duchess. Pangeran Darren," katanya membuatku langsung tersadar.
"Ah! Maafkan atas ketidaksopanan saya, Yang Mulia."
"Tidak apa, Duchess. Tidak perlu terlalu formal seperti itu pada saya."
Aku pun hanya bisa meringiskan senyum. "Baiklah, Yang Mulia."
Untung saja pangeran Darren bukan pangeran yang gila hormat.
"Dimana Duke, Duchess? Apa anda sendirian?" tanya Pangeran Darren membuatku bingung bagaimana harus menjawabnya.
Tidak mungkin aku menjawab, 'Duke Floniouse tengah bersama istri keduanya', bukan?
"Uhm, Duke sedang menempuh perjalanan kesini bersama orang lain," ujarku kikuk.
Semoga saja kau mengerti siapa yang aku maksud, karena aku juga tidak ingin merusak nama baik pria itu.
Walaupun dia yang merusak nama baiknya sendiri.
"Begitu," jawab pangeran setidaknya membuatku lega.
"Pasti sangat tidak enak ketika orang yang dicintai menduakan kita, bukan?"
Perkataannya sangat halus namun menusuk. Hatiku pun nyeri dibuatnya.
Dia berniat mengasihani atau menyindir?
Namun kenapa tatapan pangeran seolah-olah juga merasakan hal yang sama?
Apa dia juga pernah mengalami hal itu?
"Duchess?"
Sontak panggilan itu membuat lamunanku berantakan. "Ah maaf, Yang Mulia. Anda bilang apa barusan?"
"Saya bilang, maukah anda berdansa dengan saya?"
"Eh?!" kagetku ketika pangeran tiba-tiba saja menggenggam dan mencium punggung tanganku yang terlapisi dengan sarung tangan.
Pangeran sedikit menunduk ketika bibirnya berakhir di atas punggung tanganku.
Bagaimana ini?! Jujur aku memang menyukai pangeran, namun hanya karena sifatnya yang lemah lembut saja.
Aku ingin menolak, namun sangat tidak sopan jika menolak tawaran dari seorang pangeran.
Bahkan lebih buruknya, mungkin aku akan dihukum karena secara tak langsung telah menyinggungnya.
Kebimbangan terus mendesakku berpikir, hingga telapak tanganku yang awalnya berada di genggaman pangeran, kini sudah beralih ke genggaman sosok lainnya.
Tanganku ditarik dengan cukup kuat hingga aku sempat terhuyung sejenak dan berakhir berdiri di belakang sosok tegap yang sangat aku kenali.
Rambut pirang yang berkilau itu... hanya satu pria yang memilikinya di ruangan ini.
"Mohon maaf, Yang Mulia. Saya sedari tadi telah mencari keberadaan istri saya. Tidak saya sangka ternyata dia tersesat hingga mengganggu anda, mohon maafkan saya," sindirnya membuatku tak terima.
Namun aku hanya diam, tak berani berkata-kata.
"Tidak, Duke. Justru Duchess dan aku tengah berbincang santai sampai seseorang datang menginterupsi dan menganggu," balas Pangeran menuangkan menuangkan cairan lava ke dalam kobaran api.
Astaga ada apa dengan kalian? Kalian sudah dewasa, bukan remaja labil lagi yang harus bertengkar karena hal kecil.
"Benarkah? Lalu apakah Pangeran tahu tentang untuk tidak menganggu milik orang lain?"
"Menganggu? Aku hanya berbicara kepada Duchess, apa hal itu bisa dikatakan mengganggu?"
Aish aku tak tahan dengan pertengkaran kalian!
"Maafkan saya, Yang Mulia. Sepertinya saya terpaksa menolak tawaran anda, karena sekarang kaki saya tengah sakit," bohongku dengan senyum terpaksa.
"Kakimu sakit? Kenapa kau tak bilang padaku?"
Aku mencoba untuk tidak menjawab pertanyaan itu, dan membungkukkan dan menundukan kepalaku.
"Kalau begitu, saya pamit undur, Yang Mulia," pamitku lalu berbalik seraya menarik paksa lengan pria yang berada tepat di samping ini lalu menyeretnya ke tempat yang tidak banyak sorot mata yang memandang.
...🥀...
"Bagaimana bisa kau sangat dekat dengan Pangeran Darren? Apa itu penyebabmu menyuruhku satu kereta dengan Anastasia?"
Aku berdecak kesal ketika dia menuduh ku yang tidak-tidak seperti itu. Apa ini? Bukankah beberapa hari yang lalu hubungan kami membaik?
Kenapa dia malah menjadi seperti ini, sungguh membuatku kesal.
Topeng kami pun yang awalnya menutupi wajah kami, kini telah terlayang entah kemana.
"Asal kau tahu, aku saat ini tengah berusaha menerima persahabatan kalian. Dan aku berusaha untuk membuat kalian lebih dekat, tapi kau malah menuduhku seperti ini? Apa ini imbalan yang pantas aku dapatkan?" ketusku mendongak untuk menatapnya.
"Apa yang terjadi padamu? Apa karena aku telah menyerahkan diriku untukmu kau malah bertindak seenaknya? Apa kau merasa kau telah menguasaiku sepenuhnya?" cecarku panjang lebar.
Sudah cukup aku menahan gejolak tak suka ketika melihatnya dekat dengan Anastasia, dan sekarang dia malah menuduhku tidak-tidak?
Bibirku bergetar menahan perasaan janggal yang menyakitkan di hatiku. "Aku sebenarnya tidak ingin berdebat denganmu, aku ingin menghabiskan waktu bersamamu. Aku ingin membuat kenangan denganmu, namun kenapa kau malah mengacaukan semuanya?"
"Jika kau tidak percaya denganku, lalu bagaimana caranya kita mempertahankan suatu hubungan?"
Kukeluarkan seluruh isi hatiku. Apa aku terlalu berlebihan merasakan perasaan ini?
Sebuah kalungan tangan melingkupiku, mendekapku erat dalam masuk ke dalam pelukan hangat.
"Maaf."
Satu kata yang mampu membuat perasaan terbakar di hatiku padam. Satu kata yang mampu membuat hatiku sejuk.
"Aku bukan bermaksud untuk menuduhmu, aku hanya mengkhawatirkanmu," gumamnya membuatku semakin membenamkan wajahku di dada bidangnya yang nyaman.
"Apa yang kau khawatirkan? Aku bisa menjaga diriku sendiri. Pangeran Darren juga orang yang baik. Dan perasaanku hanya akan aku tujukan padamu," balasku seraya menikmati momen ini.
"Ya, aku percaya padamu."
Hatiku terasa seperti hamparan ladang bunga yang tengah bermekaran. Senyum merekah tak dapat ketika aku mendengar kalimat yang terjatuh dari bibirnya.
Cukup lama kamu berada dalam posisi ini, hingga aku berujar untuk membuatnya melepas dekapan erat ini.
"Lepaskan aku, bagaimana jika ada yang melihat?"
"Sebentar lagi. Biarkan aku memelukmu lebih lama," ucapnya membuatku hanya diam.
Karena pada kenyataannya, aku juga enggan untuk melepasnya.
Beberapa menit kemudian, dia pun seperti tak rela melepasku. Dia pun bertanya padaku.
"Apa kakimu masih sakit?" tanyanya mengernyitkan dahi. Kenapa dia tiba-tiba membahas kakiku?
Oh iya, astaga! Aku baru ingat! Aku berbohong tentang hal itu tadi kepada pangeran untuk menolak tawarannya.
"Kaki ku tidak sakit. Aku hanya berbohong untuk menolak tawaran dansa dari Pangeran," jawabku disertai dengan cengiran.
"Padahal jika kakimu benar-benar sakit, aku tadi hendak menggendongmu," ujarnya membuatku kaget.
Menggendong? Bukankah hal itu sangat memalukan? Untung saja kaki ku benar-benar tidak sakit.
"Sayang sekali kesempatan itu telah pupus, Cintaku," candaku sembari terkekeh.
"Tidak apa, masih banyak kesempatan lain. Seperti aku menggendongmu lalu menjatuhkanmu di atas ranjangku," paparnya santai dengan seringaian menjengkelkan di wajah tampannya.
"Dasar mesum!" sebalku memukul dadanya cukup kuat, namun sepertinya hal itu tidak cukup membuatnya kesakitan.
Justru malah tanganku yang sakit karena dadanya sangat keras. Apa dadanya terbuat dari besi?
Apa tidak cukup dia membuat tubuhku seakan remuk kemarin? Bahkan mau berjalan pun sudah seperti orang yang keseleo, pincang.
Dia menangkap pergelangan tanganku lalu dengan cepat melepas sarung tangan yang kupakai dan membuangnya asal.
Hei! Seenaknya saja kau membuang sarung tangan cantikku!
Baru saja aku ingin mengeluarkan protesan, dia seketika langsung mengecup punggung telapak tanganku, membuatku bungkam.
"Aku tidak ingin bekas bibir menjijikan Pangeran itu menodai tanganmu," tegasnya.
Bibir lembutnya yang hangat menyentuh kulit telanjangku membuatku meremang. Dia memang berlebihan, namun aku menyukainya.
"Maukah kau berdansa denganku, Cintaku?"
Seraya berlutut, kata-kata itu terlontar dari bibirnya yang telah membuat bekas di telapak tanganku.
Salju tak mampu meraih hatiku yang tengah diselimuti kehangatan, angin dingin yang menerpa tak mampu menusuk kulit yang sudah dikuasai oleh hangatnya perasaan yang menggila.
Ia mendongak menatap lekat diriku, dengan netra biru langitnya yang dihiasi oleh pantulan bintang yang sangat langka muncul di dinginnya malam musim dingin.
Ulas senyum tipis terukir, menambah ketampanan di wajah tenangnya yang memabukkan.
Sebuah anggukan, bisa mewakili sekaligus menyembunyikan rasa yang tengah hinggap.
Dia berdiri, mendekat kearahku, merengkuh pinggangku untuk semkin mendekat dengannya.
Diraihnya tanganku untuk terjatuh di pundaknya yang tinggi nan kuat, ia tautkan jari-jemari kami sehingga terkatup.
Walaupun tidak ada irama yang terlayang dari sebuah alat musik, namun ini sudah lebih dari cukup.
Suara angin bertiup, suara pepohonan yang seakan ikut bersenandung, dan suara detak jantungku yang berpacu seolah-olah tengah bersatu menciptakan irama yang sangat indah membelai hatiku.
Sebuah perasaan yang seakan menggapai satu sama lain dan berkaitan, diwakilkan dengan sebuah gerakan pelan seraya dengan tatapan yang terkunci.
Perasaan itu tidaklah sempurna, sehingga mereka berupaya dan terus memanjat agar mereka menjadi sesuatu yang sempurna.
Untuk sekarang, biarkanlah aku merasakan belaian dari cinta ini sedikit lebih lama.
^^^I Become Wife of the Atrocious Duke^^^
^^^14 Desember 2020^^^