The Atrocious Duke'S Wife

The Atrocious Duke'S Wife
Chapter 54 : Aku pulang, Cintaku



KARYA INI HANYA FIKSI. NAMA, TOKOH, PERISTIWA, TEMPAT, HANYALAH KHAYALAN SEMATA. HARAP PEMBACA BIJAK DALAM MENANGGAPI.


Beberapa bulan yang lalu....


"Peter, bisakah kau diam?!" kesal Patrick seraya berbisik pada adiknya tersebut.


"Justru kau yang bisa tidak diam?! Kau berisik sekali!" balas Peter memukul lengan kakaknya tersebut.


"Diamlah atau Pangeran itu akan sadar jika kita menguping percakapannya dengan wanita itu!"


"Aku tahu itu! Justru kau lah yang sedari tadi sibuk sekali berceloteh!"


"Berisik! Diamlah! Akan bahaya jika kita ketahuan! Jika kita ketahuan, maka bos akan berada dalam masalah!"


"Aku tahu itu karena Bos adalah Duchess bukan?! Bisa bahaya jika Bos ketahuan menyuruh kita menjadi mata-mata Pangeran itu!"


Dua adik-beradik itu sibuk bertengkar terus menerus. Entah apa yang sebenarnya mereka ributkan.


Hingga mereka tak sadar bahwa sedari tadi sosok yang tengah mereka awasi telah berpindah dari posisi awalnya.


"Tunggu. Dimana Pangeran itu?" tanya Patrick ketika mendapati ruangan yang mereka intip kosong.


Tidak ada seorang pun di dalamnya.


"Kau mencariku?"


Sebuah suara muncul dari belakang mereka. Sehingga membuat sepasang kakak-beradik itu sangat terkejut.


Sosok yang mereka awasi kini telah berada di hadapan mereka, dengan tangannya yang sosok itu lipat di depan dadanya.


"Katakan padaku, siapa kalian? Dan apa tujuan kalian?" tanya sosok itu tenang namun menusuk.


Mereka terdiam, tak bisa bergerak se-inchi pun. Mereka telah tertangkap basah, tidak ada jalan keluar lain.


"Katakan siapa Bos kalian?" Sosok itu kembali bertanya namun mereka hanya diam.


Namun tak lama dari itu sang kakak menjawab. "Kamu tidak akan memberitahunya, meskipun nyawa kami menjadi taruhannya," jawabnya dengan tegas dan lantang.


Sosok itu menyeringai. "Sungguh setia. Aku suka dengan kesetiaan kalian. Kalau begitu pergilah, sebelum aku berubah pikiran."


Mereka berdua tampak was-was sejenak. Namun tak butuh waktu lama untuk mereka melarikan diri dari hadapan Pangeran itu.


Setelah sepasang kakak-beradik itu berpikir, Pangeran itu bergumam dengan jari telunjuknya yang ia lingkar dan ia posisikan di dagu.


Dia bergumam dengan seringaian mengerikan di wajahnya. "Duchess, ya?"


...🥀...


"Cassie!"


Aku menoleh ke belakang, terdapat Frost yang sedikit berlari dengan senyum merekahnya menghampiriku.


"Frost. Ada apa?" tanyaku seraya sibuk menggaruk dan menimbun tanah.


"Kau istirahatlah terlebih dahulu, kau sudah bekerja sejak daritadi," ujarnya.


Aku tersenyum. "Ah, tidak apa. Lagipula tinggal sedikit lagi," jawabku.


"Nanti bisa dilanjut lagi, lihatlah kau sudah sangat banyak berkeringat. Setidaknya usaplah dulu keringatmu dan duduk di sebelah sana," tutur Frost.


Helaan nafas terhembus dari mulutku. "Baiklah," pasrahku lalu pergi beristirahat sebentar.


Memang benar keringatku sangat banyak, hingga rambutku jadi sedikit basah.


Banyak wanita yang mulai melakukan pekerjaan. Ada yang menanam, ada yang memasak, ada yang menyiram benih yang telah ditimbun oleh tanah.


Setidaknya dengan begini, mereka yang suaminya tengah berjuang di medan perang dapat menghidupi anak-anak mereka.


Sungguh senang rasanya bisa membantu orang.


"Permisi, apa anda mau main bersamaku?"


Tiba-tiba saja ada anak kecil yang menarik-narik rok gaunku sehingga aku pun sontak menunduk menghadapnya.


"Nathan, jangan mengganggu Her Grace!"


Tampak seorang wanita tergopoh-gopoh menghampiri anak kecil ini lalu menariknya.


"Maafkan anak saya, Your Grace. Dia memang sering mengajak orang asing bermain."


Wanita itu menunduk sembari meminta maaf padaku.


"Tidak perlu, lagipula aku suka anak-anak sepertinya," ucapku lembut. "Jadi namamu Nathan? Berapa umurmu?" tanyaku seraya berjongkok agar tinggi badanku sepantaran dengannya.


"Li-lima tahun. Umurku lima tahun," jawab Nathan dengan wajah tertunduk.


"Apa wajahku ada di bawah? Kenapa kau selalu menatap ke bawah? Wajahku ada di sini." Senyum manis kembali kutampilkan.


Nathan lalu mendongak menatapku dengan wajah imutnya. Sungguh aku dibuat gemas olehnya.


"Benar begitu, lain kali jika ada yang mengajakmu berbicara, jangan menunduk. Tatap wajah lawan bicaramu, ya? Apa kau mau kubelikan roti?" tawarku.


Nathan mengangguk cepat dengan matanya yang membulat besar, membuatku semakin gemas terhadapnya.


"Your Grace... anda tidak per--"


"Tidak apa, lagipula dia adalah anak yang sangat imut. Dia juga sangat sopan, dia sama sekali tidak menggangguku, " potongku.


Wanita ini membungkuk. "Terima kasih banyak, Your Grace. Anda tidak hanya membantu kami, tapi anda juga menyelamatkan kami. Saya tidak tahu bagaimana jadinya jika tidak ada Your Grace. Sekali lagi terima kasih banyak, Your Grace."


Kulukis senyum di wajahku. "Sama-sama."


.


.


.


.


Aku tengah berada di taman belakang, duduk sebentar untuk mencari udara segar.


Setidaknya angin yang berhembus dapat menghilangkan sedikit rasa lelahku. Di saat aku mengarahkan kepalaku ke langit, aku pun mendengar suara dari semak-semak.


Aku pun penasaran dan mulai mendekati semak-semak itu. Semakin lama, suaranya semakin keras sehingga membuatku was-was.


Saat aku membukanya, aku hampir saja kehilangan jantungku karena kaget.


"Astaga apa yang kalian lakukan di sini?!" teriakku lepas seraya mengusap dada kiriku.


"M-maaf, Nyonya. Karena kami terlalu takut untuk keluar, jadi kami daritadi bersembunyi di sini," jelas Patrick membuatku menghela nafas.


"Oh iya, bukankah seluruh pria diwajibkan untuk ikut serta perang? Lalu kenapa kalian berada di sini?"


"Ah, itu karena kami sempat melarikan diri, Nyonya. Kami tidak mau merelakan nyawa kami begitu saja pada Kerajaan ini. Karena sebuah kerajaan menganggap nyawa rakyat biasa adalah hal sepele, tidak terlalu berarti bagi mereka," papar Peter.


Sejak kapan lelaki ini menjadi bijak seperti ini?


"Jadi apa pekerjaan kalian sekarang? Bukankah Pangeran Darren tengah ikut dalam perang, lalu seharusnya kalian sudah tidak memata-matai dia lagi, kan?"


Mereka tampak terdiam. Raut wajah mereka gelisah. Ada apa ini?


Hoam... aku sangat mengantuk.


"Uhm... Bos, sebenarnya waktu itu...," Patrick menggantung perkataannya seraya menunduk.


Aku ingin mendengarkan perkataan mereka, namun rasa mengantuk benar-benar tidak memberi celah ketika menyerangku.


"S-sebenarnya saat kamu menguping percakapan Pangeran dan wanita itu, kami sempat--"


"Maaf, aku mengantuk, apa kalian bisa  mengatakannya besok saja?" potongku. Bahkan suara mereka tadi terdengar samar-samar di telingaku.


Mereka mengangguk sekilas. "Kalau begitu aku akan masuk, selamat malam," pamitku kemudian berjalan masuk ke dalam mansion.


Aku benar-benar harus mendapatkan tidur sekarang, karena jika tidak mungkin aku akan tertidur sambil berdiri.


...🥀...


Hah... sungguh melelahkan....


Ternyata bercocok tanam dan membantu orang lain itu cukup menguras tenaga. Namun tak apalah, daripada rakyat mati kelaparan di luar sana.


Oh iya, kira-kira bagaimana keadaannya ya? Bukankah ini sudah empat bulan sejak dia pergi?


Apa dia baik-baik saja? Berperang hingga sudah empat bulan lamanya, bagaimana keadaannya saat pulang nanti?


"Nyonya!"


Suara Elise sudah menjadi makanan sehari-hariku, dengan cepat aku pun bangkit dari rebahanku lalu membuka pintu.


Padahal baru saja aku ingin menutup mataku sejenak.


"Ada apa, Elise?" tanyaku.


"Nyonya, masih ada berkas yang belum anda selesaikan hari ini. Saya tahu anda lelah, namun berkas tersebut harus diselesaikan hari ini juga. Ini menyangkut Duchy," jelas Elise.


"Baiklah, aku mengerjakannya sekarang." Aku pun melesat akan pergi ke ruang kerja pria itu, namun Elise menahan pergelanganku.


Aku pun melayangkan senyum. "Baiklah, kalau begitu tolong bawakan secangkir teh ke ruang kerja untukku," pintaku.


Elise mengangguk patuh, kemudian aku pun berjalan menuju ruang kerja pria itu yang selama ini menjadi ruang kerja milikku sementara.


Karena aku yang menggantikan tugasnya.


Kusandarkan punggungku pada punggung kursi, kemudian merilekskan badanku sejenak.


Tanganku terulur mengambil satu dari puluhan lembar kertas yang tertumpu di hadapanku ini.


Oh ini adalah data-data tentang penghasilan yang didapat oleh pakaian yang telah dikirim ke wilayah tetangga?


Lumayan banyak, setidaknya cukup untuk mengimbangi ekonomi yang sempat merosot secara drastis.


Dan juga selama beberapa bulan ini, angka rakyat yang mati karena kelaparan semakin menurun dan menurun.


Berarti rencanaku kali ini berhasil! Bagus Cassandra! Aih, bangga sekali aku pada diriku sendiri.


Perjuanganku membantu dan mengajari para wanita untuk bercocok tanam tidak sia-sia. Dan mereka juga mendapatkan sangat baik dalam hal itu.


Banyak lagi kertas-kertas yang aku baca dan aku periksa. Dan keesokan harinya aku juga kembali menghadiri rapat, menghadiri pergaulan atas, membantu para rakyat, memantau dan memeriksa Duchy.


Sehingga hal tersebut lama kelamaan sudah menjadi ruintinitasku sehari-hari. Bahkan aku seakan terhanyut ke dalam pekerjaan tersebut.


Aku tidak merasa kesepian lagi, karena kegiatan itu selalu menemaniku menghabiskan waktu tiap harinya.


Dan tanpa sadar, kini musim gugur telah tiba dan menyambut dunia.


...🥀...


"Nyonya!"


Aku menoleh ke arah belakang, terlihat Elise memanggilku. "Ada apa?" tanyaku.


"Itu... uhm, Nyonya. Apa hari ini anda sibuk?" Elise bertanya.


Aku mengingat-ingat. Jadwalku hari ini tidak terlalu sibuk, karena hanya memantau duchy saja. Namun hal itu bisa dilakukan besok.


Para bangsawan tak ada yang ingin bertemu atau membahas suatu permasalahan denganku.


"Ya tidak terlalu sibuk... memangnya kenapa?"


"Bagus, kalau begitu ikut saya, Nyonya! Saya akan membantu anda bersiap-siap!" serunya sembari menarik lenganku.


"Bersiap-siap untuk apa?" tanyaku semakin bingung dengan sifat abstraknya.


"Sudahlah Nyonya, ikut saja dengan saya! Ini penting!"


Aku hanya bisa menghela nafas, entah kemana Elise akan membawaku pergi aku hanya bisa mengikutinya.


Padahal aku majikannya.


.


.


.


.


Gaun baru berwarna merah muda yang sedikit gelap, dengan rangkaian mawar berwarna seirama di atas kepala?


Sebenarnya apa yang Elise ingin aku lakukan?


"Elise, apa kau tak keberatan jika aku bertanya apa maksud dan tujuanmu mendandaniku seperti ini?"


Elise tersenyum. "Sudahlah, Nyonya. Anda turuti saja saya. Saya jamin anda pasti akan senang. Ayo-ayo, anda lekaslah pergi ke taman belakang!"


Elise berseru sembari mendorong-dorongkan tubuhku.


"Aih, sebenarnya apa sih yang tujuanmu dari tadi?" ucapku gemas.


Dan tak lama dari itu aku keluar dari kamarku dan Elise mengunci pintu sehingga aku tak bisa masuk.


Lama-lama sikapnya semakin tidak jelas saja. Tapi dia bilang tadi aku pasti akan senang?


Mari kita lihat apa aku akan benar-benar senang.


"Oh, Cassandra!" panggil Anastasia dari arah depan.


Wah, perutnya sangat besar. Apa sebentar lagi dia akan melahirkan? Tapi kenapa aku malah gugup seperti ini?


"Cassandra, kau berdandan cantik sekali.  Mau pergi kemana?" tanyanya basa-basi.


"Ah, aku hanya ingin berdandan saja. Mumpung aku tengah tidak sibuk," jawabku dengan senyuman tentunya.


"Oh iya, Anastasia. Kulihat perutmu sudah sangat membesar, sudah masuk keberapa bulan usia kandunganmu?"


"Usia kandunganku sudah memasuki sembilan bulan. Oleh karena itu perutku sangat membesar, bahkan untuk duduk pun rasanya susah," jelasnya dengan alis mengernyit.


Tapi sembilan bulan, ya? Astaga sudah berapa lama waktu berlalu? Aku bahkan  sampai tidak sadar bahwa waktu berjalan secepat itu.


Dan tiba-tiba saja bayangan itu kembali terlintas di pikiranku. Apa dia baik-baik saja?


Aku bahkan tak tahu sudah berapa lama aku tidak mengiriminya surat lagi. Seluruh pekerjaan ini membuatku sibuk sehingga aku lupa.


Apa dia masih sempat memikirkanku di luar sana?


"Cassandra?"


"Oh, maaf. Aku terlarut dalam pikiranku," ucapku. "Anastasia, semoga bayimu lahir dengan sehat," lanjutku dengan senyuman.


Aku tulus mengatakan itu. Karena aku berharap keselamatan anaknya. Mau sejahat apapun ibunya, namun tak ada alasan bagiku untuk membenci bayi itu.


"Terimakasih, Cassandra."


"Kalau begitu, aku pergi terlebih dahulu. Aku ada sesuatu yang harus kulakukan," pamitku dan dia mengangguk.


Segera, aku melesat ke taman belakang seperti perintah Elise.


.


.


.


.


Aku duduk di tepi kolam air mancur seperti biasa. Langit sudah semakin merah keungungan, pertanda senja semakin mendominasi.


Kepalaku kuputar kesana-kemari, dan saat kepalaku mengarah ke depan, mataku terbelalak begitu saja.


Setelah sekian lama aku berdiam diri di sini, alasan Elise menyuruhku ke sini telah tiba.


Netraku menangkap sosok seseorang dan menguncinya hingga mataku tak bisa berpaling.


Sosok berbadan tinggi berdiri dan sedikit terhalang karena cahaya senja menyinarinya.


Namun, aku tahu betul siapa itu. Apa ini semua hanya halusinasiku?


Kumohon beritahu aku semua ini nyata, kumohon jangan bilang bahwa ini semua hanyalah halusinasi.


Sosok bersurai pirang dan berbadan tinggi dan tegap, berjalan mendekat ke arahku.


Aku tak bisa menahan telapak tanganku yang terulur begitu saja menutup mulutku karena ketidakpercayaan.


Dia semakin mendekat, dan lambat laun aku bisa melihat wajahnya dengan sempurna.


Lekukan di bibirnya dan sorot pandangannya yang teduh namun mengintimidasi, membuat air mataku mengalir begitu saja.


Airmata ini bukanlah lambang kesedihan, airmata ini bukanlah lambang kesakitan, airmata ini bukanlah lambang kekecewaan.


Airmata ini adalah lambang dari rasa rindu yang telah terhalang dan tertahankan selama beratus-ratus hari.


Kakiku dengan tak sabaran tak bisa menunggu, sehingga aku dengan cepat menghampirinya dan menghamburkan diriku pada pelukannya.


Ah, pelukan hangat ini. Usapan di kelapa ini, membuat airmataku tak berhentinya turun dengan deras dan tak terkendali.


"Ini benar-benar kau? Kumohon bilang iya, kumohon katakanlah bahwa ini benar-benar kau," lirihku membenamkan wajahku pada dadanya.


Usapan di kepala dan tangan yang mendekap erat di punggungku, membuatku seakan lepas kendali.


Aku sangat tidak rela untuk melepaskan pelukan ini.


"Ya, ini aku."


Tiga kata, membuat rasa rinduku yang menggunung terbayarkan.


Kumohon, seseorang hentikan waktu sekarang juga.


"Aku pulang, Cintaku."


^^^I Become Wife of the Atrocious Duke^^^


^^^28 Desember 2020^^^