The Atrocious Duke'S Wife

The Atrocious Duke'S Wife
Chapter 52 : Waktu



KARYA INI HANYA FIKSI. NAMA, TOKOH, PERISTIWA, TEMPAT, HANYALAH KHAYALAN SEMATA. HARAP PEMBACA BIJAK DALAM MENANGGAPI.


Selepas membaca kata demi kata yang dia tuliskan di surat itu, aku langsung terduduk begitu saja di pinggiran kasur.


Aku tak tahu harus bereaksi bagaimana. Apa aku harus membalas suratnya? Apa aku harus menyusulnya? Apa aku hanya harus menunggunya saja?


Tidak tahu, semuanya kabur begitu saja. Seolah tak ada beban apapun di dalam pikirannya. Semuanya seakan menguap begitu saja berbaur dengan udara.


Netraku menangkap sebuah jeruk berbentuk bulat yang berada di sampingku.


Perlahan, aku mengulurkan tanganku dan meraih jeruk itu. Kurontokkan kulitnya yang terasa pahit, dan mulai mencabut satu buahnya yang terasa manis dan menyegarkan.


Begitu jeruk ini masuk, tiba-tiba saja mataku menitikkan genangan air. Mulutku masih asyik mengunyah, dengan aliran air yang setia menghiasi pipiku.


Aku tak tahu apa yang terjadi padaku. Aku tak tahu kenapa aku menangis.


Hanya saja, tiba-tiba sekilas, aku bisa melihat bayangan tentangnya terekam ulang di pikiranku yang sempat kosong.


Aku telah memenuhi permintaannya. Setiap kali aku memakan jeruk, aku akan langsung mengingat dirinya.


...🥀...


Matahari kembali muncul, menyapa hari baru, diiringi dengan ucapan selamat tinggal dari sang bulan.


Cahayanya yang hangat, menerpa kulit manusia dan rerumputan hijau yang berada dalam jangkauannya.


Seorang wanita menggeliat dalam tidurnya yang cukup tidak nyenyak, dengan mata yang seperempat terbuka.


Surai coklatnya yang panjang tampak kusut dan tak beraturan, dan suara nafasnya yang tenang.


Namun naas, ketenangan itu tidak bertahan lama.


"Nyonya!"


Sontak wanita tersebut langsung terlonjak bangun dari tidurnya, dan mengusap kelopak matanya agar pandangannya tidak buram.


"Nyonya, cepat bangun, Nyonya!"


Cassandra tampak mendengus. "Ada apa, Elise?"


"Nyonya, karena sekarang Tuan Duke tengah tidak ada. Andalah yang harus menggantikan tugasnya di sini," jelas Elise.


"Tugas?"


"Ya. Dan masih banyak pekerjaan Tuan Duke yang belum selesai, oleh karena itu anda cepatlah bersiap. Saya akan membantu anda."


Cassandra menggaruk kepalanya. "Nanti saja, ya? Sekarang aku masih benar-benar mengantuk. Aku ingin tidur sebentar lagi," ucapnya lalu kembali berbaring dan menarik selimutnya setinggi lehernya.


"Nyonya, anda tidak bisa menunda-nunda. Masih banyak yang harus dilakukan. Siang ini anda harus menghadiri pergaulan atas di kediaman Viscount Roustile. Lalu anda harus membahas tentang keamanan kerajaan bersama Marquess. Dan anda juga harus pergi ke Duchy untuk memeriksa, memantau, dan mengontrol keuangan, pemasukan bahan makanan, dan masih banyak lagi. Ayolah Nyonya cepat bangun!" celoteh Elise.


Wanita berumur itu kini menarik-narik selimut majikannya agar majikannya tersebut tidak bermalas-malasan dan segera melakukan tugasnya.


Rasanya kepala Cassandra ingi meledak karena penjelasan Elise yang amat rumit dan panjang.


"Baiklah, baiklah! Aku akan bangun, cepat siapkan air mandi untukku," pasrahnya seraya memerintah.


"Saya sudah menyiapkan segalanya, Nyonya. Anda cepatlah membersihkan diri, saya akan menyiapkan baju anda sekarang."


Elise pun melesat menyiapkan pakaian yang akan dipakai oleh majikannya.


Cassandra mengelak nafas berat lalu menurunkan kakinya dari kasurnya yang lembut dengan empuk. Dengan langkah gontai dan tak bersemangat, wanita itu pun dengan segera pergi membasuh tubuhnya.


Sebelum pelayannya tersebut kembali teriak dan berceloteh histeris persis layaknya ibunya sendiri.


.


.


.


.


"Pelan-pelan, Elise! Nafasku sesak, aku tak bisa bernafas!" seru Cassandra karena Elise yang menarik tali korsetnya dengan tidak sabaran dan sangat kencang.


"Tahanlah sebentar, Nyonya. Apa anda akhir-akhir ini tidak berolahraga? Perut anda mulai membuncit," ujar Elise.


"Aku tidak buncit! Perutku hanya sedikit besar dari biasanya, dan tidak buncit!" sergah Cassandra.


"Baiklah, Nyonya. Anda selalu benar, dan saya akan selalu menuruti perkataan anda."


Cengiran senyum terlukis di wajah cantik wanita itu, dan tak butuh waktu lama dirinya kini telah rapi dan bersih.


Segera, wanita cantik itu melangkah memenuhi hari-harinya yang akan sedikit berbeda dari biasanya.


...🥀...


Cassandra Pov


Brugh!


Sebuah tumpukan kertas yang menggunung terbanting dan tertera rapi di hadapanku.


Mengerikan. Apa aku ditugaskan dan dipaksakan untuk mengerjakan semua ini?


"Ini adalah berkas-berkas penting yang harus anda periksa, Nyonya. Isinya terdapat data-data pemasukan di Duchy, pengeluaran, dan jumlah orang yang tidak memiliki pekerjaan ataupun jumlah masyarakat yang terkena wabah dan penyakit serius."


Bagaikan guru yang tiba-tiba saja memberikan lembaran soal ujian, seperti inilah keadaanku sekarang.


Dan diriku seperti murid yang memasang tampang tak percaya karena diharuskan mengerjakan ini semua tanpa persiapan terlebih dahulu.


"Baiklah...," ucapku pelan meraih selembar kertas dari ratusan lembar tersebut. "Wah... detail sekali."


Terdapat banyak huruf dan angka yang tertulis di sana, detail sekali. Apa ini pekerjaan seorang Duke hari-harinya?


Wajar saja terkadang sampai malam, Arlen masih saja belum tertidur dan beristirahat.


"Ingat ya, Nyonya. Siang nanti anda harus menghadiri pergaulan atas di kediaman Viscount Roustile. Lalu--"


"Ya, Elise. Aku mengingatnya, kau tenang saja," sela Cassandra mengangkat tangannya menyuruh Elise diam.


"Kalau begitu, saya tidak ingin menganggu. Jika anda perlu sesuatu, anda bisa panggil saya. Saya pamit undur diri, Nyonya," pamit Elise kemudian berjalan dan menutup pintu ruangan kerja.


Helaan nafas berat kembali terdorong, dengan mata sayu yang menatap lembar demi kembar kertas yang ditumpahkan oleh tulisan.


"Baiklah. Setidaknya ini bisa menghabiskan waktuku."


.


.


.


.


Mengamati data demi data, menulis kata demi kata, mengunjungi wilayah demi wilayah, telah kulakukan sepanjang hari ini.


Pinggangku serasa ingin patah rasanya, badanku ingin remuk rasanya. Badanku bahkan terasa lengket semua, dan bau.


Setelah ini aku baru sadar, ternyata jadi bangsawan itu tidak hanya menghabiskan dan menghamburkan harta kekayaan saja.


Mereka harus bekerja dari waktu ke waktu, mereka tak bisa membantah dan menolak perintah sang Raja kepada mereka, dan mereka juga harus terlihat berwibawa di depan rakyat.


Jika sikap mereka buruk sedikit saja, maka seluruh keluarga akan menanggung malu, dan nama mereka akan tercemar dan tercoreng begitu saja.


Ketika ada suatu kesalahan dan suatu kesalahpahaman, nyawa mereka menjadi taruhannya.


Hah, sungguh rumit. Dunia memang kejam. Mau di masa lalu ataupun masa depan, sama saja.


Aku pun bangkit dari kasur ku, kemudian beranjak untuk berendam dan membersihkan tubuhku.


Namun sebelum itu, terdengar suara patukan dari arah jendela yang tertutup oleh kain gorden.


Karena penasaran, aku segera membuka gorden itu, dan ternyata ada seekor burung merpati yang mematuk kaca jendela.


Terdapat sebuah surat di kakinya, sehingga dengan cepat aku pun membuka jendela dan mengambil surat itu.


"Terimakasih," ucapku tanpa sadar. Tak tahu burung ini akan mengerti atau tidak.


Kubuka surat itu kemudian membaca isinya.


...Bagaimana? Apa kau bisa mengatasi seluruh pekerjaanku? ...


...Aku kurang yakin, tapi aku hanya bisa berharap supaya kau bisa bertahan. ...


...Mungkin masih lama untukku dapat kembali, dan aku tak tahu kapan pastinya. ...


...Oleh karena itu, sering-seringlah mengirim surat untukku. Agar setidaknya kau bisa sedikit menahan rindumu padaku yang tampan ini. ...


Aku tertawa membacanya. Buah jerukmu. Jadi dia menganggap dirinya sendiri adalah sebuah jeruk?


Dengan pipiku yang ternyata sudah menghangat, aku pun menempelkan secarcik kertas itu pada dadaku.


Kapan dia kembali, ya?


Aku jadi tak sabar bertemu dengannya, padahal dia baru saja pergi satu hari. Namun aku tak bisa menahan diri untuk melihatnya lagi.


Astaga, Cassandra! Berhentilah memikirkan dia terus!


Aku harus fokus pada tugasku saat ini, dan tak lupa dengan rencanaku yang masih berjalan setengah.


Sebenarnya aku tak tahu apa yang akan dilakukan Anastasia selanjutnya. Sepertinya wanita itu akan berpura-pura bahwa itu adalah anak Arlen.


Setelah pria itu pulang, aku akan memberitahukannya tentang anak yang dikandung oleh Anastasia.


Aku tak peduli mau pria itu percaya atau tidak, yang penting aku tidak akan merasakan penyesalan di akhir.


Dan, aku juga sangat berharap bahwa dia akan kembali dengan selamat.


Karena aku selalu setia menunggu kepulangannya dan pelukan hangatnya.


...🥀...


"Ini aneh. Mengapa semakin banyak rakyat yang pengangguran? Apa tidak ada suatu pekerjaan yang bisa membuat mereka kembali bekerja?" tanyaku menatap heran selembar kertas yang berada di jari-jemariku.


"Itu karena hasil dari tambang kita semakin menurun, Duchess. Saya tidak tahu kenapa, tapi tiba-tiba saja sumber pertambangan sangat banyak menghilang. Sehingga tak ada lagi upah yang diberikan pada penambang," jelas Count Beronald bertopang dagu.


Pria tua itu sangat bingung karena hasil dari tambang tiba-tiba saja menurun dan banyak menghilang.


"Apa mungkin ada pencuri yang mengambil hasil tambang tersebut?"


"Itu tidak mungkin, Duchess. Selama ini tidak ada satupun pencuri yang dapat mencuri hasil tambang."


Cassandra terdiam sambil berpikir-pikir.


"Oleh karena itu, banyak rakyat yang pengangguran dan angka kemiskinan semakin meningkat. Banyak rakyat tak mampu untuk memberi makan anak-anak mereka," imbuh Count Beronald.


"Seperti ini saja. Untuk sementara, kita awasi terlebih dahulu tempat ini. Khususnya area pertambangan. Jika ada gerak-gerik aneh, barulah kita akan bertindak," saran Cassandra.


Karena mau bagaimanapun, sebuah masalah haruskah dipertimbangkan dan dicari tahu terlebih dahulu penyebabnya.


"Dan bagi para pengangguran, sebaiknya anda pikirkan bagaimana caranya mengatasi masalah tersebut. Apa anda bisa melakukannya?" tanya Cassandra.


"Baiklah. Saya akan memikirkannya."


Cassandra pun mengangguk.


...🥀...


Melelahkan sekali....


Rasanya aku ingin membanting tubuhku saat ini di atas kasurku. Sungguh lelah rasanya, mondar-mandir dari satu wilayah ke wilayah lain.


Duduk di kereta yang mana membuat pangkal pahaku keram.


Oh ya, sudah lama rasanya aku tidak lagi menerima surat darinya. Apa dia lupa? Atau dia tidak sempat?


Tapi sesibuk apa dia hingga tidak sempat mengirim surat padaku?


Hah... sudahlah Cassandra. Berhentilah memikirkan itu terlalu berlebihan, kau benar-benar seperti wanita yang kesepian sekarang.


Saat aku melewati kamar Anastasia sejenak, tiba-tiba saja wanita itu muncul keluar dari kamarku.


Dengan perutnya yang membuncit, pertanda bahwa ada anak di dalamnya.


"Ah, Cassandra. Sudah lama sekali, kau terlihat sangat sibuk beberapa bulan ini, apa kau baik-baik saja? Kau terlihat kurus. Apa kau makan secara teratur?" tanyanya bertubi-tubi.


"Begitulah. Aku mungkin hanya sedikit lelah, tapi aku akan baik-baik saja setelah beristirahat," jawabku tersenyum manis.


"Maaf aku tak bisa membantu Cassandra.  Karena kondisiku seperti ini, aku jadi mudah lelah."


"Tidak apa-apa, Anastasia. Aku mengerti, kau juga jangan terlalu memaksakan diri."


"Oh iya, ngomong-ngomong sudah masuk bulan keberapa kehamilanmu? Maaf aku tak mengingatnya, karena aku sibuk sehingga lupa."


"Ah, usianya telah masuk enam bulan. Oleh karena itu tubuhku menjadi sangat gemuk," kekehnya membuatku mau tak mau ikut terkekeh karena terpaksa.


"Begitu."


Tak terasa ternyata waktu sudah berjalan selama itu. Apa karena aku terlalu sibuk tenggelam dalam tugasku sehingga tak menyadari bahwa waktu terus berjalan?


Dia mengangguk. Lalu kami pun sempat masuk ke dalam keheningan sejenak.


Hingga akhirnya aku membuka suara.


"Kalau begitu, selamat malam, Anastasia. Aku akan ke kamarku," ucapku.


"Selamat malam, Cassandra."


Langkah demi langkah hingga akhirnya aku sampai di kamarku. Kurebahkan badanku sambil menatap langit-langit kamar.


Pandanganku berlari ke arah jendela, entah akhir-akhir ini sudah berapa kali aku menatap jendela sebelum aku tertidur.


Pikiranku terus menyangkal, namun hatiku terus berharap.


Berharap akan burung merpati yang mematuk jendela dan memberikan sebuah surat. Sama seperti waktu itu.


Namun sebanyak apapun aku berharap, tetaplah tidak ada seekor merpati ataupun sepucuk surat sejak hari itu.


Aku selalu mengirim surat untuknya, namun tak ada satupun balasan yang aku dapatkan.


Entah kenapa, memikirkannya berusaha bertarung dan mempertaruhkan nyawa di luar sana, membuatku tak mengeluh menggantikan tugasnya di sini.


Harapanku dan bayanganku akan hari di mana dia pulang dan menghamburkan pelukan, selalu membuatku semangat menjalani hari demi hari tanpanya.


...🥀...


"Salam, Tuan Duke. Ada surat untuk anda," salam seorang Ksatria secara hormat dan sopan seraya memberikan sepucuk kertas.


Lantas, sang penerima mengambil surat tersebut. "Kau bisa pergi," perintahnya dan Ksatria itu berlalu pergi.


Pria bersurai pirang itu duduk sejenak, sembari membuka surat itu dan membaca isi yang berada di dalamnya.


Raut wajahnya meneduh, dengan senyum tipis yang mulai terbentuk.


Setiap kata yang dituliskan oleh sang wanita yang dicintainya, mampu menghilangkan seluruh penatnya.


Sudah sekian lama dia tidak kembali, dikarenakan kewajiban dia di sini belum terpenuhi sepenuhnya.


...Bagaimana kabarmu? ...


...Apa kau baik-baik saja? ...


...Apa kau makan secara teratur? ...


...Kenapa kau tak pernah membalas satu pun surat dariku? Asal kau tahu, aku selalu menunggu balasanmu. Tapi sepertinya kau sudah lupa denganku yang cantik ini. ...


...Aku camkan padamu, tidak peduli kau menerima dan membaca surat ini atau tidak, aku akan tetap mengirimkannya padamu. ...


...Walaupun aku tak pernah mendapat balasan, aku tetap akan mengirimkannya, hingga akhirnya kau membalasnya. ...


...Dasar jeruk busuk. ...


Hampir saja pria itu tertawa karena kekesalan istrinya tersebut. Namun, pria itu bukannya tak ingin membalas.


Sungguh, dirinya sangat ingin membalas satu persatu surat yang dikirimkan oleh istrinya. Namun waktu tak pernah mengijinkannya.


Ketika dia ingin membalas, selalu saja ada halangan. Sehingga lambat laun, dirinya sampai lupa.


Pria itu ingin sekali cepat-cepat kembali dan memeluk sang istri, namun sebelum itu dia harus menjalankan tugasnya terlebih dahulu.


Ketahuilah, dia sangat-sangat ingin menemuinya wanita itu lebih dari apapun.


Tapi yang bisa ia lakukan hanyalah menunggu dan berusaha.


Berusaha agar bisa cepat kembali. Menunggu agar waktu yang telah tepat tiba.


Waktu di mana mereka akan bertemu lagi.


^^^I Become Wife of the Atrocious Duke^^^


^^^27 Desember 2020^^^