
KARYA INI HANYA FIKSI. NAMA, TOKOH, PERISTIWA, TEMPAT, HANYALAH KHAYALAN SEMATA. HARAP PEMBACA BIJAK DALAM MENANGGAPI.
Suasana di kamar itu amatlah mencekam. Setelah sebuah kalimat terucap dari mulut sang tabib, semua manusia yang ada di tempat itu terdiam.
Seperti baru saja tertimpa oleh kenyataan yang tak terduga dan belum sempat diperkirakan.
Kini seorang wanita bersurai coklat mengatupkan kedua telapak tangannya di depan dada seraya tersenyum manis disertai kepala yang dimiringkan.
"B-bukankah ini adalah kabar baik?" ujarnya. "Dengan begitu, bukankah Arlen akan segera menjadi ayah?"
"Lalu, dengan begitu rumah ini tidak terlalu sepi karena akan ada seorang anak kecil yang meramaikannya," cecarnya.
"Dan juga, aku juga bisa merasakan bagaimana rasanya menggendong seorang bayi, bukan begitu?"
"Cassandra...," lirih Anastasia seraya tertunduk. Air muka bersalah menghiasi wajah cantiknya.
"Oh iya, Tabib. Berapa usia kandungannya?" tanya Cassandra.
"Usia kandungan Nyonya Anastasia masih sangat muda. Jadi, usahakan untuk tidak melakukan pekerjaan yang berat dan tidak terlalu terbawa emosi. Karena hal itu dapat mempengaruhi janin yang ada di perutnya," jelas tabib itu panjang lebar.
"Uhm, apa kau benar-benar yakin tentang hal ini? M-maksudku, apa kau benar-benar yakin aku tengah mengandung?" tanya Anastasia masih tak percaya.
"Tentu saja, Nyonya. Untuk apa saya berbohong?"
Wanita bersurai pirang itu melipat bibirnya dengan alis berkerut. "Baiklah, kalau begitu... terima kasih."
"Itu sudah menjadi tugas saya, Nyonya. Kalau begitu, Tuan, Nyonya, saya pamit terlebih dahulu," pamit tabib itu lalu berlalu.
Suasana hening, tidak ada lagi percakapan. Semua manusia di ruangan itu tampak sibuk dengan pikiran masing-masing.
Hingga akhirnya, suara feminim kini kembali memecah dan menyingkirkan keheningan yang membanjiri.
"Maaf... maafkan aku, Cassandra...a-aku, aku benar-benar tidak tahu kalau semuanya akan menjadi runyam seperti ini. Aku... maafkan aku karena tak bisa berbuat apa-apa waktu itu...."
Anastasia menurunkan airmatanya dengan deras, wanita itu menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya.
Semua orang pasti akan iba jika melihat wanita cantik itu menangis tersedu-sedu seperti itu.
"Apa yang kau katakan? Untuk apa kau meminta maaf? Bukankah ini adalah kabar baik?" tanya Cassandra mendekat ke arah wanita itu dan mengusap punggungnya pelan.
Anastasia menghamburkan pelukan pada wanita bersurai coklat itu, dengan tangisan yang tak kunjung reda maupun berhenti.
"Maaf... padahal aku bilang bahwa aku tidak ingin lagi menghancurkan hubungan kalian berdua... namun, ternyata aku memang lah wanita munafik," isak Anastasia.
"Kau tidak perlu minta maaf. Lagipula, kau juga istri dari Arlen, bukan? Sudah semestinya kau mengandung anaknya, lalu kenapa kau malah meminta maaf padaku?" bujuk Cassandra menenangkan Anastasia yang kalang kabut.
"Bukankah tabib mengatakan untuk tidak terlalu terbawa emosi. Jadi berhentilah menangis, atau anakmu akan merasa sedih juga, apa kau tega membiarkan anak itu menangis?" imbuh wanita itu.
Dapat ia lihat Anastasia tersenyum di tengah-tengah tangisannya. "Terima kasih telah memaafkanku, Cassandra."
Cassandra pun membalas senyumannya. "Kalau begitu, aku pergi ke kamarku dahulu. Karena masih ada sesuatu yang harus kukerjakan."
Anastasia mengangguk pelan. Cassandra pun mulai melangkah untuk keluar ke kamar itu.
Sebelum ia sepenuhnya keluar, wanita itu sempat menatap pria yang sedari tadi ada di ruangan itu dan tak bersuara.
Tatapan misterius ia layangkan, namun setelah itu dengan cepat dia pun melangkah keluar.
Pria bersurai pirang itu tersentak, dadanya terasa nyeri.
Tatapan wanita itu bahkan lebih tajam dari sebuah belati yang baru saja diasah.
Padahal itu hanyalah tatapan semata, namun lebih dari cukup untuk membuat sang Duke yang terkenal kejam merasakan sakit tak terkira di dalam dirinya.
...🥀...
Blam!
Suara pintu yang tertutup dengan kerasa karena terburu-buru memekakkan telinga dan mampu membuat siapa saja terkejut.
Seorang wanita lah pelaku yang membanting pintu itu, dengan cepat ia pun mengunci pintu kamarnya.
Dia lalu menyenderkan tubuhnya, untuk menenangkan emosi yang sempat tertahan kini bergejolak di dalam dirinya.
Wanita itu menghembuskan nafas pelan dengan mengadahkan kepalanya keatas.
Namun naas, wanita itu tak sanggup lagi menahan emosinya. Topeng kepalsuan yang menunjukkan bahwa dia baik-baik saja langsung retak dan hancur.
Tubuhnya merosot karena tenaga seakan tak lagi mengalir di seluruh bagian tubuhnya.
Airmata kini mengalir dalam diam. Bibirnya bergetar, namun isakan tangis tak kunjung keluar.
Ia meringkukkan kakinya, karena tak kuasa menahan rasa sakit.
Hawa dingin seakan berkabung dan berusaha menenangkannya, namun hawa dingin itu justru menusuk kulit hingga tulangnya.
Padahal baru saja dia menikmati momen dan kebahagiaan menghampirinya ketika mereka menghabiskan waktu hingga matahari turun dan bulanlah yang menggantikan tugasnya untuk menerangi bumi.
Namun kini kesedihan kembali menyerangnya, seolah-olah tidak boleh ada satu kebahagiaan pun yang menghampiri dan menyertainya.
Tok! Tok!
Terdengar suara ketukan pintu, namun wanita itu menghiraukannya, seolah tuli terhadap semua suara.
Perasaannya yang berkabut menghalangi pendengarannya dan menghentikannya untuk melakukan sesuatu.
Meneteskan airmata dan merasakan pedihnya kenyataan inilah yang hanya dapat ia lakukan.
Namun dia tak tahu bahwa manusia yang mengetuk pintu itu adalah seorang pria.
Pria yang ia jadikan tempat hatinya berlabuh, pria yang ia serahkan seluruh yang ia punyai. Pria yang ia cintai, walaupun takdir melarangnya untuk melakukan hal itu.
Ketukan yang dihasilkan pria itu tidak digubris, sehingga pria itu memilih diam seraya menyenderkan punggungnya pada pintu kamar wanita yang sudah pasti dirinya sakiti perasaannya.
Pikiran pria itu melayang, mengingat-ingat dan merekam kembali kejadian yang telah membuat situasi seperti ini.
Lalu mencari jalan keluar dari tempat yang dipenuhi kabut yang menyesatkan jalannya.
...🥀...
Cassandra saat ini tengah memanyunkan bibirnya dengan muka masam. Saat ini wanita itu tengah membuat rencana untuk menjatuhkan musuhnya.
Sebuah kertas kuno, menjadi tempat dirinya menumpahkan tulisan yang berasal dari pikirannya.
Dia coret dan ia tulis sebuah rencana yang sempat terlintas di otaknya, kemudian mengamati hasil tulisannya.
Kernyitan terlukis di keningnya, lalu dengan kesal ia merobek dan meremukkan kertas itu hingga berbentuk bola.
"Argh!!" geramnya kesal sambil menggaruk-garuk kepalanya frustasi.
"Bagaimana caranya membuat rencana jika aku saja tidak mengetahui alur dari cerita ini!" gerutunya pada diri sendiri.
"Ah, kenapa aku se sial ini? Andaikan saja aku mengetahui seluruh jalan ceritanya, dengan begitu pasti akan mudah menyelesaikan masalah ini!" rutuknya tak henti-henti.
Entah kepada siapa ia merutuk, menggerutu, namun wanita itu terlihat seperti penulis yang stress karena tak bisa menamatkan cerita yang ia buat.
Suasana hatinya buruk karena kejadian beberapa hari lalu, dan bahkan perasaannya terkadang masih saja merasa tak tahu arah.
Terkadang, dadanya kembali terasa nyeri dan matanya memanas. Namun dengan cepat ia menyangkal seluruh reaksi itu.
Ia bertopang dagu, lalu memainkan pena bulu di jari-jemarinya dan mengeluskannya di rambut sekitar telinganya.
Otaknya seakan bertemu dengan jalan yang panjang namun buntu, membuat sang empu sangat kesal sekaligus bingung.
"Ah, tidak bisa begini. Bisa hancur otak ku nantinya. Lebih baik aku turun terlebih dahulu," ucapnya pada diri sendiri lalu beranjak dan menutup pintu kamarnya menuju ke lantai bawah.
...🥀...
Sesampainya di dapur, Cassandra menuangkan air putih kedalam jelas yang berada di genggamannya dan meminumnya secara perlahan.
"Nyonya!"
Brufft!
Tangannya terulur untuk mengelap bibirnya, dan perlahan-lahan wanita itu memutar kepalanya untuk melayangkan tatapan tajam pada sang pelaku yang membuatnya terkejut.
Elise seketika langsung merinding dan dengan cepat dia berpura-pura bodoh dengan tertawa hambar.
"A-astaga, Nyonya. Bagaiamana bisa anda begitu ceroboh? Ehe." Wanita berumur itu meringiskan senyum dengan mata yang tertutup.
"Ceroboh? Aku tidak akan ceroboh jika pelayanku tidak memanggilku secara tiba-tiba dan membuatku terkejut," ucap Cassandra dan Elise pun pasrah.
"M-maafkan saya, Nyonya. Telah mengagetkan anda." Elise menundukan kepala.
"Ya," jawab Cassandra singkat lalu mengambil kembali air minum untuk menghilangkan dahaganya.
"Nyonya, sepertinya anda sedikit pucat. Apa anda baik-baik saja? Mata Anda juga terlihat cekung," papar Elise menatap khawatir Cassandra.
"Aku baik-baik saja. Hanya kurang tidur," balas Cassandra.
Elise tampak menghembuskan nafas gusar. "Anda selalu saja begitu, selalu menyembunyikan masalah. Cobalah untuk terbuka dengan orang lain, Nyonya. Hal itu bisa sedikit mengangkat beban yang anda pikul," nasihat Elise dengan nada melemah.
"Sudah kubilang aku baik-baik saja, apa yang membuatmu berpikir seperti itu?"
"Saya telah lama menemani dan berada di samping anda, Nyonya. Saya tahu kapan anda tengah menyembunyikan rahasia dan saya tahu kapan anda tengah dalam suasana hati yang baik."
"Elise--"
"Saya mohon, Nyonya. Anda tidak perlu memikul semuanya, setidaknya bicarakanlah pada seseorang tentang sesuatu yang mengganggu anda."
Cassandra terdiam. Tak berniat menjawab ataupun menyergah.
"Elise," panggilnya.
Elise pun mengarahkan pandangannya pada Cassandra. Wanita berumur itu kemudian tersentak dengan tatapan yang ditujukan padanya.
"Ada batasannya jika kau ingin dekat denganku. Jaga sikapmu, dan ketahuilah posisimu," hardiknya dengan nada dingin.
Elise menunduk, kemudian berkata. "Maafkan saya, Nyonya. Telah menganggu anda."
"Kembalilah bekerja."
"Baik, Nyonya. Kalau begitu saya pamit undur diri," pamit Elise lalu menjauh dari pandangan wanita itu.
Selang beberapa saat Elise pergi, Cassandra menghela nafas pelan dengan kernyitan di alis coklat tuanya.
"Huh... setidaknya dengan ini dia tidak akan bertanya lebih jauh," gumamnya.
Dia sengaja bersikap seperti itu, karena tak ingin Elise bertanya lebih dalam.
Wanita itu pun tampak berpikir-pikir. "Aku sangat bosan di kamar, lebih baik aku jalan-jalan untuk menjernihkan pikiranku."
...🥀...
Salju yang turun dari langit tidak selebat sebelumnya, namun hawa dingin masih sama.
Di taman belakang, Cassandra berjalan-jalan untuk menghirup udara segar dan menenangkan pikiran.
Sebuah air mancur yang terukir patung di atasnya, penuh dengan salju yang membekukan kulit.
Cassandra pun menyingkirkan beberapa salju yang menutupi pinggiran air mancur itu agar dia bisa duduk.
Dia pun duduk seraya menikmati cuaca, suara angin seperti irama yang menenangkan dirinya.
Ia kembali kepikiran tentang hubungannya sekarang. Dan ia masih merasa bingung dan kesal akan hal itu.
Setelah perang, mereka berdua menyatakan cinta lalu hubungan mereka pun membaik.
Namun tak lama dari itu jarak mereka menjauh karena kejadian menyakitkan yang di mana pria itu bermalam dengan Anastasia.
Lalu dia pun ingin saling jujur pada pria itu. Dan pria itu pun menyatakan maaf padanya, dan mereka pun menghabiskan waktu bersama di tempat pertama kali mereka bertemu.
Tapi lagi-lagi jarak mereka kembali menjauh karena kabar menyakitkan kemarin.
Huh, sungguh hal ini membuatnya frustasi. Apa hubungan mereka akan seperti ini terus?
Sedikit-sedikit membaik, lalu tak lama lagi kembali memburuk dan terulang-ulang seperti itu terus.
Dia lelah, dan dia bingung apa yang harus dilakukan. Dia ingin menjatuhkan musuh, tapi dirinya tak tahu bagaimana caranya.
Saat pikirannya melayang dan berkelana kemana-mana, netranya tak sengaja menangkap sosok wanita dengan tingkah mencurigakan.
"Anastasia?" tanyanya dalam hati.
Anastasia tampak celingukan dan gerak-gerak yang dihasilkan oleh wanita itu pun tampak mencurigakan.
Cassandra semakin bingung dibuatnya. "Kenapa dia mencurigakan seperti itu?"
Wanita itu pun berjalan seperti kucing, tidak menghasilkan suara sedikitpun.
Ia bersembunyi di belakang dinding agar tidak terlihat dan memiringkan kepalanya untuk melihat kelakukan Anastasia.
Anastasia tampak melambaikan tangannya kemudian kereta kuda yang asing pun mendekat ke arah wanita itu.
Tak lama, Anastasia pun menaikkan kereta kuda itu.
"Aneh, dia mencurigakan sekali. Bahkan kereta kuda itu pun bukan milik Arlen," gumam Cassandra.
"Aku harus mengikutinya."
Cassandra pun menaiki kereta kuda yang terpatri di halaman mansion Floniouse, kemudian berkata pada kusir yang menjalankan kereta kuda itu.
"Ikuti dia," titahnya dan kusir itu mengangguk patuh. Dia pun menaiki kereta kuda untuk mengikuti Anastasia secara diam-diam.
.
.
.
.
Cassandra semakin curiga dan curiga. Pasalnya, kereta Anastasia menuju ke sebuah hutan yang asing dan terletak jauh dari kediaman mereka.
Kereta Anastasia pun berhenti, dan dia dari belakang pun menyuruh kusir itu berhenti dan turun dari kereta kuda.
Anastasia pun berjalan ke sebuah rumah yang terpencil dan tengah-tengah hutan itu.
Lantas Cassandra pun mengikutinya secara diam-diam. Dengan hati-hati, ia terus mengikuti langkah Anastasia hingga wanita bersurai pirang itu pun masuk kedalam runah tersebut.
Anastasia tidak menutup ataupun mengunci pintu masuk utama sehingga Cassandra dengan mudah masuk mengikutinya.
Anastasia pun memasuki sebuah ruangan dan masih sama, wanita bersurai pirang itu tidak menutup ataupun mengunci pintu.
Cassandra pun dengan hati-hati mendekat ke pintu itu dan sedikit menempelkan badannya untuk mendengar sesuatu dari dalam.
"Ada apa kau tiba-tiba memanggilku tanpa alasan seperti ini?"
"Apa salah jika aku ingin melihat wajah cantik kekasihku?"
Raut wajah terkejut tak bisa lepas dari wajah Cassandra, wanita itu benar-benar terkejut.
Jadi selama ini Anastasia mempunyai seorang kekasih?! Sungguh dirinya tak pernah terpikir sampai kesana.
Dan bukan tentang Anastasia yang memiliki kekasih saja yang membuat Cassandra terkejut, namun juga suara pria yang menjadi kekasih wanita itu.
Dia tidak mungkin lupa dengan suara itu. Dia sangat mengingatnya jelas, karena dia cukup dekat dengan sosok itu.
Dirinya... benar-benar tak menyangka semua ini.
^^^I Become Wife of the Atrocious Duke ^^^
^^^22 Desember 2020^^^