The Atrocious Duke'S Wife

The Atrocious Duke'S Wife
{Season 2} Strategi Lama



Previously....


Lelaki beriris biru itu sempat menatap dalam manik mata coklat milik sang gadis. Hingga tak lama dari itu, sebuah pertanyaan yang terlayang dari bibirnya cukup untuk membuat Cassandra tertegun.


"Ketika kita pergi ke festival, apa maksudmu dengan mengatakan bahwa aku mungkin akan tersedak dan mati konyol sepertimu?"


...~•The Atrocious Duke's Wife•~...


...Chapter...


...(39)...


Gadis berhelai coklat itu sempat membisu sejenak. Tak ia sangka ternyata Arlen masih mengingat tentang hal itu. Padahal dia juga telah lupa jika lelaki itu tidak mengingatkannya barusan saja.


Tetapi, tak lama dari itu, Cassandra terkekeh kecil. Kemudian gadis itu pun berkata. "Itu cerita lama. Dan aku tidak ingin membahasnya sekarang, aku mengantuk."


"Kau harus menceritakannya padaku. Karena aku ingin mengetahui segala tentang dirimu," balas Arlen memaksa.


"Baiklah, kalau begitu aku ingin tidur. Apa kau akan menetap?" tanya gadis itu membaringkan tubuhnya secara perlahan dibantu dengan kekasihnya.


Arlen pun menarik sehelai selimut untuk membungkus tubuh ramping itu agar tidak kedinginan. "Aku tidak akan menetap. Karena masih banyak pekerjaan yang harus aku lakukan."


Mendengar jawaban kekasihnya, entah kenapa Cassandra merasa sedikit kecewa. Ya mau bagaiamana lagi, dia juga tidak boleh menghambat seorang Duke untuk melaksanakan kewajibannya.


"Baiklah, kalau begitu hati-hati. Dan juga, kau harus bersiap untuk rencana yang sudah aku beritahukan kepadamu. Waktunya sudah dekat," peringat gadis bernetra garnet itu sembari memegang tangan kekasihnya dengan lembut.


"Ya, aku tahu," ucap Arlen kemudian membungkuk dan mendekatkan wajahnya kepada sang kekasih. Lelaki itu menjatuhkan kecupan pada kening milik gadisnya. "Selamat malam, Cintaku."


Tak lama, suara pintu berderit menjadi pembuka keheningan yang melanda. Cassandra mengeratkan selimut miliknya dan sempat tenggelam dalam lamunannya.


Entah kenapa, ketika bersama Arlen, dirinya merasa bahwa waktu berlalu dengan sangat cepat. Seakan dirinya tak pernah puas dengan seluruh detik yang ia lalui bersama kekasihnya tersebut.


Namun, dia juga tak ingin terlalu memanjakan rasa rindunya terlebih dahulu. Karena masih banyak hal yang harus ia lakukan untuk mencapai kebahagiaan dalam hidupnya.


Setelah semuanya telah selesai, barulah dirinya akan menikmati seluruh detik waktu yang akan diisi oleh kebahagiaan dan ketenangan yang berjibun.


Ya, sampai saat itu, dia tidak boleh berleha-leha. Karena... masalah hidupnya tak sampai di sini saja.


Cukup lama benaknya memikirkan segala kemungkinan yang terjadi, gadis itu pun akhirnya terlelap untuk menikmati kembang tidurnya.


Tempat di mana sebuah perasaan itu nyata... namun segala kejadian hanyalah sebuah kepalsuan.


...~•~...


Rapat yang ditunggu-tunggu akhirnya tiba. Setelah seharian beristirahat kemarin, Cassandra sudah merasa lebih baik. Saat ini, dia tengah dibantu oleh pelayannya memakai pakaian untuk menghadiri rapat tersebut.


Setelah selesai, dia pun mengambil salah satu topi lebarnya yang berwarna hijau, seirama dengan warna gaunnya.


Tak lupa dengan sarung tangan yang selalu membungkus tangannya, gadis itu akhirnya telah siap.


Ketika dia menghadap jendela besar yang ada berada di sepanjang lorong kediamannya, maniknya tak sengaja menangkap kehadiran sosok yang tak ia duga.


Dengan cepat, Cassandra berlari dengan tangannya yang menarik sedikit rok gaunnya agar dirinya tak tersandung.


Seusai menuruni beberapa anak tangga, gadis itu pun kembali berlari menuju pintu masuk utama kediamannya dan tanpa aba-aba membukanya.


Sosok menjulang tinggi, dengan setelan pakaiannya yang rapi berdominasikan warna hitam, dan beribu-ribu helai pirangnya yang telah tertata rapi.


Lelaki itu memancarkan aura Duke nya, yang mana membuatnya semakin berkarisma. 


"Apa yang membawamu kemari?" tanya Cassandra berusaha mengabaikan fakta bahwa kekasihnya tersebut sangatlah memiliki paras yang bisa merenggut seluruh nafasnya.


"Aku lebih mengharapkan ucapan selamat pagi dari kekasihku," jawab Arlen bersedekap.


Lantas, Cassandra terkekeh dibuatnya. Tak lama, gadis itu pun menautkan kedua tangannya di belakang punggungnya sembari mencondongkan badannya ke depan.


Tidak lupa dengan wajah jahilnya yang manis, dan lekukan senyum riang yang beberapa tahun ini jarang ia tunjukkan pada siapapun. "Selamat pagi, Cintaku. Bagaimana kabarmu hari ini?"


Seolah ada sebuah panah cinta yang menusuk tepat di jantung Arlen, lelaki itu pun langsung memalingkan wajahnya untuk menghindari serangan secara mendadak tersebut.


"Sebaiknya kita lekas pergi, karena aku tak ingin kita terlambat," ujar Arlen mengalihkan pembicaraan sembari menarik pergelangan tangan milik kekasihnya untuk mengikutinya masuk ke dalam kereta miliknya.


Cassandra kembali tergelak dalam diam, ternyata sangat menyenangkan menjahili seseorang yang kau sayangi seperti ini.


...~•~...


"Aku setuju dengan rencana Countess la Devoline. Kita akan mempercepat seleksi untuk pangeran yang berhak mendapatkan takhta, dan memulai  peperangan dengan Kerajaan Nephorine."


Keputusan sang raja mutlak, namun tentu saja masih ada para bangsawan yang tidak menyetujuinya.


"Tapi, Yang Mulia...! Tidakkah itu gegabah?! Hanya karena masalah penyihir yang tidak ada kepastian ini, kita harus mengeluarkan biaya yang besar dan mengerahkan pasukan yang banyak?! Mohon anda mempertimbangkannya!"


"Saya rasa, keputusan Yang Mulia telah tepat. Karena mau bagaimana pun, seperti yang Countess katakan sebelumnya, ini semua demi ketenangan negeri ini, kita tak ingin para penyihir dengan seenaknya menghancurkan tempat tinggal kita."


"Tapi tetap saja mengadakan perang secara tiba-tiba merupakan hal yang patut dipikir ulang! Bagaimana jika kita kalah dalam peperangan? Kita akan rugi, dan penyihir juga tidak akan musnah!"


Gumaman dan pertimbangan melayang dan berbaur di udara, sebiji pendapat terakhirnya membuat semuanya kembali bingung.


Lagi-lagi, pendapat baru membuat orang kembali dilanda rasa ragu yang membentur. Jika seperti ini terus, lantas bagaimana mereka akan mengambil keputusan yang dirasa memang benar-benar tepat?


Di satu sisi, ingin terus berpegang teguh terhadap pendapat mereka. Di sisi lain, ada yang terus gundah karena rasa takut akan kematian mengacak-acak seluruh akal sehatnya.


"Ekhem!" Suara deheman mendadak membuat suasana menjadi hening dari perdebatan tiada ujung, seluruh perhatian kini tertuju kepada gadis yang helai coklatnya ditutupi oleh topi lebarnya yang terpatri di pucuk kepalanya.


Tak lupa, gadis itu mengepalkan telapak tangannya di depan bibirnya bersikap se-anggun mungkin dengan kelopak matanya yang tertutup sejenak.


Tak butuh waktu lama, Cassandra meletakkan kedua tangannya di atas meja panjang yang terletak di tengah-tengah ruangan perdebatan itu. Kemudian gadis itu pun berkata. "Sepertinya masih banyak keraguan dan kekuarangan di pendapat saya dalam rapat sebelumnya, saya benar-benar minta maaf akan hal itu."


Pangeran Yari yang berada di ruangan itu hanya menatap tajam Cassandra, karena gadis itu benar-benar ancaman untuk rencana yang telah ia buat matang-matang selama ini untuk merebut takhta.


"Oleh karena itu, saya ingin memberi strategi untuk melengkapkan dan menguatkan pendapat saya."


Setelah mengatakan hal tersebut, Cassandra mengambil gulungan kertas dari tas kecil yang sempat ia bawa, kemudian menarik kedua gulungan kertas itu hingga isinya terpampang jelas.


Para bangsawan beserta raja Hamilton pun sedikit terkejut melihat gambar yang ada pada kertas kekuningan itu, tak terkecuali pangeran Yari yang tercengang.


Itu adalah peta wilayah kerajaan Nephorine, lengkap dengan coretan rencana yang telah dibuat oleh Countess muda itu.


"Saya sudah merencanakan ini sejak lama. Untuk pertama-tama, kita harus memiliki pasukan yang banyak untuk mengalahkan pasukan Nephorine," cecar Cassandra membuat seluruh ruangan itu hening.


Karena merasa dipersilakan, gadis itu kembali melanjutkan penjelasannya yang sempat terpotong.


"Saya juga sudah menyelidiki, bahwa pasukan Nephorine hanya menguasai teknik menyerang saja. Perlengkapan mereka bahkan hanyalah senjata untuk menyerang saja, tidak ada perisai untuk berlindung," jelas gadis itu dengan lancar.


"Maaf jika aku menyela, Countess. Tapi, bagaimana kau tahu bahwa pasukan Nephorine tidak memiliki perlindungan dan hanya bisa menyerang?" tanya pangeran Yari berusaha menyudutkan.


Namun, Cassandra tak gentar. Justru gadis itu hanya tersenyum manis, sembari dengan kelopak matanya yang tertutup dan kepalanya yang ia miring kan. "Saya hanya mengetahui dari beberapa sumber tertentu saja."


Pangeran Yari hanya menatap dingin gadis yang tengah tersenyum itu. Sepertinya kehadiran Countess itu benar-benar harus ia waspadai. Dia tidak akan membiarkan gadis bau kencur merusak seluruh rencananya.


"Yang Mulia. Berapakah pasukan yang bisa anda sediakan untuk perang ini?" tanya Cassandra memastikan.


"Untuk saat ini, aku hanya memiliki 300.000 ribu pasukan," jawab raja Hamilton.


Cassandra mengangguk mengerti. Itu berarti, semuanya masih sama seperti dulu. Jika kerajaan Erosphire masih memiliki 300.000 pasukan, itu artinya kerajaan Nephorine juga masih memiliki 800.000 pasukan.


"Duke Floniouse. Jika saya boleh bertanya, berapakah pasukan yang anda miliki sekarang?" tanya gadis berhelai coklat itu.


Sang Duke yang tengah ditujukan sebuah pertanyaan pun masih saja menunjukan raut wajah datarnya, namun tak lama dari itu dia pun menjawab. " Aku hanya memiliki 100.000 pasukan."


Lagi-lagi, gadis bergelar Countess itu hanya mengangguk. Sebenarnya, dia telah mengetahui berapa tepatnya pasukan milik Arlen.


Bahkan dialah menyuruh Arlen selama ini untuk mengumpulkan pasukan sebanyak-banyaknya agar saat rencana utama mereka telah diluncurkan, sehingga lelaki itu tak perlu mempertaruhkan nyawa seperti perang yang terjadi di kehidupan mereka sebelumnya.


"Kalau begitu, My Lord. Bisakah anda memimpin pasukan anda di baris depan? Dengan begitu, kita bisa membagi 300.000 pasukan sebgai untuk melindungi wilayah Erosphire," papar Cassandra.


Para bangsawan lain tampak terkejut, ada pula yang terkagum, dan iri dengan seluruh rencana yang berusaha gadis itu sampaikan.


"Dan satu hal lagi, saya mempunyai permintaan, Yang Mulia," pinta gadis bergerak garnet itu. 


"Apa itu, Countess?" tanya sang raja.


"Apakah saya... boleh meminta 20.000 dari 300.000 pasukan anda?" tanya Cassandra berhati-hati.


"Bolehkah aku tahu untuk apa 20.000 pasukan yang akan kau minta itu?"


Cassandra pun kembali duduk di bangkunya sembari merapikan tata letak topi lebarnya yang sempat memiring.


"Saya ingin... 20.000 pasukan itu untuk menjadi pemanah," ucap gadis itu membuat semua orang kembali tercengang.


Untuk apa menjadikan prajurit sebagai pemanah dalam jumlah banyak seperti itu? Bahkan, jika memang Countess itu meminta 20.000 pasukan untuk menjadi pemanah, maka pasukan akan berkurang menjadi 280.000.


Bagaimana cara membagi pasukannya dalam jumlah sedikit itu untuk melindungi wilayah kerajaan mereka yang tergolong luas?


"Bukankah jumlah tersebut terlalu banyak untuk pemanah? Lagipula, pemanah adalah orang yang menyerang secara jauh. Bagaimana caranya melawan musuh yang kuat dalam pertarungan jarak dekat?" sela Baron Preste.


Cassandra sudah menduga, namun dia tak gentar dan tak ingin menyerah dengan rencana yang sudah ia susun secara matang-matang.


"Karena di wilayah kerajaan Nephorine memiliki banyak dataran tinggi, kita bisa mengelabui musuh," jelas gadis itu tak henti-henti berbicara untuk meyakinkan seluruh orang yang hadir di rapat itu. 


"Mengelabui musuh?" bingung pangeran Yari.


"Ya, Yang Mulia. Karena musuh sama sekali tidak memiliki perlindungan, kita dapat menghasilkan hujan panah kepada musuh. Oleh karena itu, saya ingin Duke Floniouse memimpin pasukan barusan depan untuk menerobos pertahanan utama kerajaan Nephorine," terang gadis itu.


"Tentu saja, kita akan memberi aba-aba kepada pasukan Duke Floniouse agar mereka bisa berlindung pada saat yang tepat," imbuhnya sembari tersenyum.


Suasana sempat hening sejenak, namun tak lama dari itu sebuah lengkungan senyum terpatri di wajah raja Hamilton yang mulai berkerut. "Sudah diputuskan. Kita akan mengadakan seleksi untuk kedua calon pewaris tahta, dan menggunakan strategi milik Countess untuk menyerang Nephorine. Masih ada yang ingin menyampaikan bantahan?"


Bibir seluruh bangsawan yang ada di ruangan itu terkatup. Namun tak lama dari itu, pernyataan setuju banyak terlayang.


"Rencana Countess sungguh mengagumkan!"


"Saya setuju dengan pendapat Countess!"


"Saya tidak ada bantahan, Yang Mulia."


"Demikian pula saya, Yang Mulia."


Meskipun Pangeran Yari menganggap bahwa Cassandra musuhnya, namun lelaki itu malah tersenyum miring.


Jika sudah seperti ini, maka akan sangat mudah menjalankan rencana jahat miliknya. Lagipula, dia memang akan membiarkan kerajaan Erosphire kalah.


Lelaki itu telah bersekongkol dengan pangeran dari kerajaan Nephorine. Dia akan bertindak sebagai pahlawan ketika kerajaan Erosphire telah berada di ujung tanduk.


Dengan begitu, dia bisa menjadi raja selanjutnya. Dan menguasai seluruh dunia.


Pangeran Yari akan memberitahukan seluruh rencana yang Cassandra berikan pada pangeran Naelson dari kerajaan Nephorine.


Setelah itu pasukan Nephorine akan mengalahkan Erosphire, dan dia akan meminta pangeran Naelson berpura-pura kalah dan dirinya menjadi pahlawan yang membawa kemenangan.


Balasan yang ia berikan kepada pangeran Naelson adalah sebagian kekayaan yang dimiliki oleh kerajaan Erosphire, karena pangeran dari kerajaan Nephorine itu tengah dilanda kebangkrutan akibat jumlah penduduknya yang sangat banyak.


Setelah keputusan raja yang mutlak, mereka pun kembali merencanakan rencana lain untuk melindungi kerajaan Erosphire.


Pangeran Yari hanya bisa tersenyum kemenangan mengira bahwa dirinya benar-benar dalam situasi yang menyenangkan.


Namun lelaki itu tak tahu, bahwa Cassandra memiliki rencana yang tidak ia beritahukan pada rapat itu.


Gadis itu hanya bisa tersenyum manis dalam diam, melihat pangeran Yari yang sepertinya benar-benar dilanda kebanggaan dan rasa kemenangan.


Cassandra telah melewati tahap kedua dalam rencananya, dan tahap ketiga, dia hanya perlu menunggu tanggal mainnya saja.


Tanpa pangeran Yari sadari, bahwa kekalahan telah menunggunya di depan mata.


Cassandra hanya bisa berkata dalam hati sembari tersenyum dalam diam.


"Dasar pangeran bodoh."


...~•~...


"Cassandra!" teriak Anastasia ketika melihat Cassandra dan Arlen yang sedari tadi ia tunggu kehadirannya.


"Ana! Apa yang kau lakukan di sini?" tanya Cassandra sedikit bingung kenapa gadis itu tiba-tiba mengunjunginya.


Memang Anastasia sempat mengunjunginya saat ia masih tidak enak badan kemarin, namun Cassandra benar-benar tak menyangka kehadiran sahabatnya itu hari ini.


"Aku ingin mengajak kalian berdua ke rumahku. Sekarang," titah Anastasia tak terbantahkan sembari menarik tangan kedua sahabatnya tersebut.


"Eh, tapi Ana! Ada hal apa hingga kami harus mengunjungi rumahmu sekarang?" tanya Cassandra masih bingung dengan semuanya.


Anastasia tak menggubris dan masih setia menarik tangan Arlen dan Cassandra untuk mengikutinya masuk ke dalam kereta yang gadis bersurai emas itu bawa untuk mengantar mereka menuju kediamannya.


Cassandra pun lantas bertanya pada Arlen di sampingnya. "Hei, apa kau tahu mengapa Ana tiba-tiba saja mengajak kita untuk datang ke rumahnya?"


Arlen hanya mengedikkan bahunya berpura-pura tidak tahu. Namun lelaki itu sudah pasti tahu apa yang direncanakan Anastasia.


.


.


.


.


Setelah sampai, ternyata di ruang makan telah hadir beberapa orang yang menunggu kehadiran mereka.


Cassandra menatap canggung semua yang ada di meja makan itu. Namun, dalam sekejap dia membelalak menangkap sosok yang sangat ia kenali.


"Ayah?!"


Setelah menyadari bahwa ada kehadiran Duke dan Duchess Floniouse, beserta Count dan Countess Emerald, gadis itu langsung tersadar dan duduk di kursi yang telah disiapkan untuknya.


"Cassandra, kudengar kemarin kau cedera karena Anastasia. Tolong maafkan dia yang bertindak gegabah," ujar Countess Emerald pada Cassandra.


Countess Emerald telah mendengar segala pengakuan putrinya. Awalnya dia ingin menghukum putrinya, namun melihat putrinya yang begitu menyesal, dia menjadi tidak tega dan hanya memberikan peringatan dan nasihat saja.


Ketika mendengar Countess Emerald meminta maaf dengan tulus seperti itu, membuat Cassandra tidak enak.


"Tidak perlu, Countess. Lagipula semua itu hanyalah kecelakaan yang telah berlalu, anda tak perlu khawatir," jawab Cassandra tak enak hati.


"Terima kasih. Kau memang sangat baik seperti yang Anastasia bilang padaku."


Cassandra hanya bisa tersenyum mendengar pujian seperti itu. Namun tak lama dari itu, Countess Emerald mengeluarkan suara.


"Anastasia. Kau bilang ingin mengatakan sesuatu yang penting, bahkan sampai membawa Duke dan Duchess Floniouse beserta Viscount la Devoline kemari. Apa yang ingin kau katakan?" tanya Count itu.


Anastasia pun tampak menarik napas dalam duduknya. Namun dalam sekejap, gadis itu langsung berdiri membuat semua yang ada di ruangan itu sedikit terkejut.


Tatapan gadis bernetra hijau permata itu tampak serius, hingga akhirnya dia mengatakan sesuatu yang mampu membuat semua orang terperangah kecuali Arlen.


"Aku ingin membatalkan pertunanganku dengan Arlen."


...18.03.2021...