The Atrocious Duke'S Wife

The Atrocious Duke'S Wife
{Season 2} Ahli Pedang



Previously....


"Kalau begitu, kapan temanmu itu bisa mengajariku?"


"Kebetulan dia juga ingin bertemu denganmu, dan tak lama lagi dia akan sampai ke sini," ungkapnya.


"Benarkah?" tanyaku sedikit terkejut.


Kira-kira siapa dia? Kenapa dia ingin bertemu denganku?


...~•The Atrocious Duke's Wife•~...


...Chapter...


...(5) ...


"Itu dia sudah datang!" tunjuk Frost ke arah belakangku.


Sontak aku langsung mengikuti arah telunjuknya dan berbalik. Namun siapa sangka, ternyata rencanaku untuk menjauhinya tetap sangat menyusahkan.


Aku menelan kasar salivaku ketika melihat sosok yang kian mendekat ke arah kami.


Seperti terkena butiran salju di tengah-tengah musim panas, aku benar-benar tak menyangka hal ini.


"Frost," panggilku seraya menyentil lengannya dengan siku ku.


"Apa?"


"Jadi maksudmu orang yang bisa mengajariku adalah Tuan Floniouse?!" teriakku tak percaya.


"Ya, itu benar. Lalu?" tanya Frost terlihat bingung.


"L-lalu..."


Bagaimana ini?! Aku berniat untuk menghabiskan waktuku dengan berlatih agar bisa kuat. Jika Arlen adalah pelatihku, itu berarti kami akan menghabiskan banyak waktu bersama, bukan?!


Ini adalah penghambat besar dalam rencanaku. Apa aku harus mencari pelatih yang lain?


Tapi siapa? Aku tidak terlalu mengenal banyak orang di hidupku!


"Oh, Arlen. Tidak kusangka ternyata kau sampai lebih cepat. Apa kau tidak sibuk?"


Frost berkata padanya, oleh karena itu aku hanya bisa diam mengamati percakapan di antara mereka. Dengan perasaan tak tenang dan resah tentunya.


"Begitulah. Kebetulan aku tengah luang," jawab Arlen dengan wajah datarnya seperti biasa.


Selagi mereka sibuk dengan obrolan mereka, aku akan diam-diam kabur. Perlahan-lahan tapi pasti, aku mencoba melangkah kabur.


"Jadi, kau ingin berkenalan dengan Cassie, bukan? Kebetulan sekali, dia sekarang tengah membutuhkan seseorang yang bisa mengajarinya berpedang."


"Lady ingin latihan berpedang?"


Bagus, sepertinya mereka masih tidak menyadari diriku yang diam-diam telah berada jauh dari mereka.


Waktunya untuk berlari!


"Itu benar! Dia ingin berlatih pedang, tapi aku tak bisa mengajarinya karena itu bukan keahlianku."


"Tapi, apa Lady tidak keberatan? Selama Lady bersedia, aku bisa mengajarinya kapan saja."


"Tentu saja dia tidak keberatan. Ya, kan? Cassie."


Ckitt!


Seketika aku mengerem mendadak dengan sepatu hak tinggi yang aku pakai. Dengan kaku dan paksa, aku memutar kepalaku dan melontarkan ringisan senyum.


"Y-ya... tentu saya tidak keberatan. Justru saya sangat berterimakasih karena anda telah repot-repot ingin mengajarinya saya," ujarku.


Dia hanya mengangguk-anggukan kepalanya dengan tenang, tidak lupa dengan wajahnya yang senantiasa datar. Seolah-olah, dia hidup tanpa emosi.


"Kalau begitu, aku tidak ingin menganggu. Sebaiknya kalian saling berkenalan terlebih dahulu. Aku permisi hohoho~!"


Dengan wajah menjengkelkannya, Frost berjalan menjauhi kami. Tapi sebelum itu, dia sempat mendekat ke arahku dan menepuk pundakku.


Dia berbisik, "Sepertinya Arlen tertarik padamu. Kau harus berkenalan baik dengannya, siapa tahu dia akan jatuh cinta padamu. Lagipula, kau juga perlu seorang pria untuk melindungimu agar ayahmu tak lagi menikahkanmu dengan bangsawan tua, bukan? Cobalah bertindak agresif, karena sepertinya Arlen suka perempuan seperti itu," celoteh Frost panjang lebar membuatku membelalakkan mataku.


"Kau gila?!" sergahku cepat. "Tidak mungkin dia akan menyukaiku!" bisikku kesal padanya.


"Siapa tahu? Setidaknya cobalah saja. Seperti tidak berpura-pura tidak sengaja menciumnya."


"Dasar gorila gila! Pergi sana!" usirku mendorong punggungnya kesal. Frost tergelak kemudian melambaikan tangannya padaku sembari melangkah meninggalkan kami.


"Semoga beruntung, my sister!"


Dasar menyebalkan. Bagaimana pula aku bisa mempunyai sahabat sepertinya?!


Pura-pura mencium... dia pikir aku semurahan dan segenit itu?! Benar-benar!


Seketika suasana sangat hening dan hening ketika hanya kamu berdua di sini. Angin yang berhembus, seakan ingin menjadi pemecah kesunyian.


Dia bahkan terus memandangiku. Apa yang dia amati sebenarnya? Apa ada sesuatu yang aneh di badanku?


Secara tak sadar, aku pun memeriksa seluruh tubuhku untuk memastikan tidak ada benda aneh yang menyangkut atau menempel.


Dan benar, tidak ada sesuatu yang aneh pada tubuhku. Lalu mengapa dia memandangiku se serius itu?


Aku benar-benar tidak tahan! Siapa saja tolong rusak kecanggungan ini!


"Uhm.. apa anda ingin masuk ke dalam terlebih dahulu? Saya bisa menyiapkan teh untuk anda, jika tidak keberatan," ucapku ragu.


Dia tetap diam. Apa ini? Apa dia mengidap penyakit bisu secara mendadak?


Tapi mana mungkin ada hal semacam itu?! Berhentilah cemas untuk hal-hal yang tidak masuk akal, Cassandra!


"S-sepertinya kita masih canggung... bagaimana kalau--"


"Pfft!"


Kalimatku terpotong ketika dia tergelak dengan alisnya yang berkerut. Aku tidak terlalu mengerti apa yang membuatnya tergelak seperti itu, namun aku merindukannya.


Tawa hangatnya yang jarang sekali muncul.


"Lady, ternyata anda sangat kikuk," tawanya tersendat-sendat.


Hatiku seakan tertusuk sesuatu. Kata-kata itu, sangat tidak asing.


"Walaupun kau kehilangan hilang ingatanmu, kau tetap saja kikuk."


Tiba-tiba saja hal itu terlintas di benakku, dan perasaan janggal ini kembali menyerang.


"Lagipula, Lady. Kau tidak perlu se formal itu padaku, lagipula kita juga akan sering berlatih, bukan?"


"Cassandra. Cukup panggil aku Cassandra." Seketika aku baru sadar dan menutup mulutku.


Kenapa aku berkata seperti itu?! Bukankah aku harus menjauhinya?! Jika aku memintanya memanggil namaku, bukankah itu berarti bahwa hubungan kami sudah cukup dekat?!


Karena di zaman ini, bangsawan yang memanggil satu sama lain dengan nama depan, itu berarti hubungan mereka bisa dibilang sudah cukup dekat.


Aish, bodoh!


"Baiklah, Cassandra. Kalau begitu kau cukup panggil aku Arlen," ungkapnya dengan senyuman tipis dan tenang.


Dia mengulurkan tangannya sebagai tanda untuk berkenalan denganku.


Gawat. Sepertinya aku telah membuat kesalahan besar. Aku telah masuk ke dalam jebakan yang tak sengaja aku perbuat.


Jika sudah begini, bagaimana aku bisa menolaknya? Sepertinya perjalananku tidak akan berjalan dengan mulus dan mudah.


...~•~...


Sembari memainkan rambut panjangku, kaki ini tak henti-hentinya berjalan ke sana kemari.


Sejak kemarin, aku sudah bicara dengan banyak pelayan di rumah ini. Tapi sayangnya tidak membuahkan hasil apapun. Tidak ada satupun dari mereka atau kenalan mereka yang ahli dalam pedang.


Mulai sekarang apa yang harus kulakukan? Kenapa menjauh darinya sesulit ini?


Lagi-lagi helaan nafas terhembus, untuk sejenak lebih baik aku duduk terlebih dahulu.


Pikirkan secara tenang, apa hal ini sudah benar. Apa hal ini akan mengacaukan rencanaku atau tidak.


Aku kembali mengambil catatanku dan mengamatinya. Oh iya, apa sekarang aku benar-benar bisa mengubah takdir atau tidak?


Jika pilihanku yang sekarang berbeda dengan pilihanku yang dulu, apakah semuanya akan ikut berubah?


Kuingat kembali hari-hari yang telah aku lewatkan sejak aku terlempar kembali ke masa remajaku. Ke masa sebelum masalah terbesar dalam hidupku terjadi.


Kalau tidak salah kemarin...


Ya! Aku baru ingat! Bukankah saat aku hampir dilecehkan oleh lelaki bajingan itu seharusnya Frost lah yang muncul menyelamatkanku?!


Namun anehnya, justru yang muncul waktu itu adalah Arlen. Itu berarti, ada kemungkinan bahwa takdir akan berubah secara tidak terduga, bukan?


Itu berarti... ada juga kemungkinan bahwa dia tidak akan menyukaiku kali ini, bukan?


Jika memang begitu, aku harus membuatnya membenciku saja. Tapi, apa aku bisa?


Kalau dia memang membenciku, bagaimana jika kebencian itu berlangsung untuk selamanya?


Apa aku rela dia membenciku?


Apa aku bisa menerima bahwa dia akan membenciku selamanya?


Tuk!


Mendadak, ada sebuah batu yang mengenai kaca jendelaku. Apa itu Frost? Sebaiknya aku lihat saja.


Kutarik gorden tiraiku hingga terbuka, sinar matahari langsung menyerang sontak membuatku menutup mata sejenak.


Tak lama itu, aku hampir bernafas melalui telingaku ketika aku melihat ke arah bawah.


Aku sangat terkejut, sangat terkejut.


Apa yang dia lakukan di halaman rumahku?! Sebaiknya aku menghampirinya sekarang juga, sebelum ayah melihatnya dan salah paham!


.


.


.


.


"Apa yang kau lakukan di sini?!" tanyaku tak bisa santai dengan nafas terengah-engah.


"Yang kulakukan? Aku kemari untuk memenuhi tugasku."


"Tugas?" ulangku bingung. Maaf, aku tidak mengerti.


"Kalau tidak salah, kemarin ada perempuan yang ingin berlatih pedang bersamaku."


Oh, tentu saja. Apalagi selain itu?


"Jadi kau kemari untuk mengajariku?"


"Ya," jawabnya seperlunya.


Kutarik nafasku dalam-dalam kemudian menghembuskannya. Sepertinya tidak ada pilihan, lagipula belum tentu juga dia akan menyukaiku.


"Baiklah, kalau begitu aku akan mengganti pakaianku. Apa kau bisa menunggu?" tanyaku dan dia mengangguk.


Tak butuh waktu lama diriku untuk bertukar pakaian, hingga beberapa menit kemudian aku telah memakai pakaian yang mudah untuk bergerak.


Kukuncir rambutku yang panjang menjadi ponytail, dan membiarkan tergerai sedikit di bagian depan.


Baju berlengan panjang berwarna putih keabu-abuan, celana panjang berwarna coklat tua, dan sepatu boots yang berwarna senada.


Dia terdiam dengan pandangan misterius dan menelisik nya seperti biasa.


"Ada apa?"


Lelaki ini memindahkan irisnya dengan tangan yang dimasukkan ke dalam saku celananya. "Tidak ada," katanya.


Aku menaikkan alisku bingung dengan tingkah anehnya yang tak biasa. Namun aku juga tak ingin terlalu mempedulikannya.


"Kalau begitu, ikut aku," perintahnya.


"Ke mana?"


"Ke tempat latihan yang seharusnya," balasnya membingungkan. Tapi setidaknya itu lebih baik daripada berlatih di sini.


Bisa-bisa ayah melihatku kemudian kembali menceramahiku dan memarahiku.


Aku sudah cukup pusing meladeni ayah, untuk sementara setidaknya biarkan aku menjauh dari dia sejenak untuk menjernihkan pikiranku.


...~•~...


Banyak sekali boneka kayu dan pedang kayu di sini. Bahkan lapangannya pun sangat luas sehingga dengan leluasa bisa bergerak sesuka hati di sini.


"Jadi tempat latihan ini yang kau maksud?" ucapku.


"Ya," jawabnya.


Aku pun berlarian kecil untuk mendekati tumpukan pedang kayu yang cukup banyak. Kuambil satu kemudian kugenggam, ternyata berat juga.


Saat aku ingin mencoba mengayunkan nya, tiba-tiba saja pedang ini terjatuh dan terlepas dari genggamanku.


Kutatap pelaku yang menyebabkan itu semua. "Ada yang salah?" tanyaku.


"Sebelum kau menggenggam pedang, kau harus memperkuat fisikmu dulu," jelasnya.


Ternyata begitu, benar juga apa yang dikatakannya.


"Kau memang ahlinya," pujiku seraya tersenyum.


Secara tiba-tiba, dia menyampirkan helai rambut di dahiku dan menyelipkannya di belakang daun telingaku.


"Sering-seringlah mengikat rambutmu seperti ini."


Deg! Deg!


Apa ini? Kenapa tiba-tiba saja pipiku terasa panas? Dan juga kenapa tiba-tiba jantungku berdetak sangat kencang?


Tenanglah, wahai diriku!


"O-oh, ya. Baiklah," ucapku gagu.


"Kalau begitu, coba kau pemanasan terlebih dahulu kemudian berlari mengitari lapangan ini. Aku juga akan mengikutimu," terangnya membuatku mengangguk mengerti.


Tanpa basa-basi, kami pun melakukan beberapa gerakan peregangan. Sesuai instruksi, kami juga berlari mengitari lapangan.


Beratus-ratus jejak kaki telah kami ciptakan, hingga akhirnya peluh telah membanjiri pelipisku. Kami beristirahat sejenak dan duduk di tanah.


"Minumlah," ucapnya memberikan botol minuman padaku.


"Terimakasih." Kuambil secara lapang dada kemudian meminumnya.


Hah... sudah berapa lama aku tidak berolahraga? Otot-ototku terasa tidak kaku lagi.


"Kau lumayan juga," ujarnya tiba-tiba membuatku sedikit penasaran.


"Apanya?"


"Kau hampir menyamaiku saat lari tadi. Sampai saat ini tidak ada yang bisa menyamaiku sedekat itu," jelasnya.


Sudah jelas! Di rumahku, sudah banyak piagam penghargaan kemenangan lari estafetku yang terpatri rapi.


"Benarkah?" tanyaku pura-pura tak tahu.


"Ya. Jika terus berlatih, kau bisa saja mengalahkanku."


Mendengarnya memujiku seperti itu, entah kenapa membuatku sangat senang. Seperti baru saja mendapat makanan mahal secara gratis.


"Ayo, berdirilah. Aku akan mengajari beberapa gerakan yang dapat kau gunakan saat melawan musuh nanti."


"Eh? Kalau begitu, kapan aku akan belajar pedangnya?"


"Kau tidak akan bisa memegang pedang jika kau tidak bergerak dengan tidak benar. Lagipula, fisikmu masih tergolong lemah. Terutama kau harus menguatkannya, barulah kau diijinkan untuk berpedang," jelasnya panjang lebar.


Entah kenapa, dia terlihat seperti guru sungguhan sekarang. Dia tampak berantusias, walaupun tertutup oleh raut wajahnya yang setia datar. Tapi aku tetap bisa melihatnya.


"Kau siap untuk memasuki seni bela diri yang sesungguhnya? Asal kau tahu, aku tidak akan segan-segan ketika mengajari seseorang. Mau pria atau wanita, semuanya sama di mataku," paparnya malah terdengar seperti ancaman bagiku.


Glek


Entah kenapa rasanya aku seperti menelan batu. Kenapa raut wajahnya menyeramkan seperti itu?


Apa dia sungguhan?


Jika benar, apa aku bisa melewati semua ini?


...~•~...


Secangkir teh yang tertera di atas permukaan meja, sebuah kertas berisi data-data penting, dan juga pena bulu yang tak lupa menyertai.


Terdapat seorang pria tengah sibuk dalam pekerjaannya, alisnya berkerut seraya dengan bibirnya yang bergumam akan sesuatu.


Tak lama dari itu, masuklah seorang pelayan kemudian dengan hormat, pelayan itu menunduk.


"Tuan, makan malam sudah siap. Apa anda ingin turun ke ruang makan sekarang?" tanya pelayan itu penuh sopan.


"Ya, aku akan segera ke sana. Pergilah," titahnya dan pelayan itu mengangguk patuh.


Namun tak lama, pria itu kembali membuka suara dan memanggil pelayan itu hingga sang empu berhenti.


"Tunggu. Apa kau melihat Cassandra? Aku tak melihatnya sepanjang hari ini," kata pria itu.


"Saya tidak terlalu tahu, Tuan. Tapi saya sempat lihat, Nona sempat berganti pakaian kemudian pergi dengan seorang lelaki muda," terang pelayan itu.


"Lelaki? Apa itu putra dari Count Beronald?"


"Sepertinya bukan, Tuan. Karena lelaki itu memiliki rambut berwarna pirang."


"Begitu." Pria itu bergumam, sejak kapan putrinya dekat dengan lelaki selain anak dari Count Beronald sahabatnya?


"Kau boleh pergi," titahnya.


Pria itu kemudian menatap ke luar jendela, entah apa yang dipikirkannya. Yang dia lakukan hanyalah berdiam diri dan sibuk berkutat dengan pikirannya sendiri.


...11.01.2021...