The Atrocious Duke'S Wife

The Atrocious Duke'S Wife
{Season 2} Kurungan



Previously...


Suasana sangat dingin, seperti tengah musim dingin saja. Padahal ini baru saja memasuki musim panas.


Seluruh pelayan hanya bisa diam dan berusaha untuk tidak peduli, padahal sudah tercetak jelas bahwa raut mereka seperti tengah menatap kematian yang telah berada tepat di hadapan.


Wajar saja semua pelayan terlihat ketakutan, sebenarnya aku pun juga sangat ketakutan.


Tapi rasa iba saat ini lebih mendominasi diriku. Sehingga aku dengan cepat menghampiri ayah.


...~•The Atrocious Duke's Wife•~...


...Chapter ...


...(8) ...


Angin malam yang menyeruak masuk menjadi bumbu terbaik untuk kejadian yang tengah dimainkan sekarang.


Cahaya bulan yang dengan lancangnya menyelinap masuk menebar pesonanya dan menerangi dua sosok yang telah bermandikan darah.


Bagaikan sesosok predator dan mangsa yang malang, mereka sangat mengerikan untuk dipandang.


"Apa yang Ayah lakukan...?" Secarcik suara berusaha menguak semua misteri yang mengerikan.


Sosok pria kemudian berdiri dengan bantuan tongkatnya yang telah berlumuran darah.


Wajahnya, tangannya, kakinya, noda kental telah menodai pria itu. Dengan raut wajah dingin dan tidak berperasaan, sosok itu membalas perkataan yang sempat dilayangkan.


Air mukanya tidak menunjukkan sedikitpun rasa bersalah sekaligus dosa ketika dia dengan kejamnya menyakiti sebuah tubuh dan jiwa yang menyatu.


"Hanya memberikan pelajaran kepada pelayan yang tidak bisa menuruti perintah majikannya sendiri," ucapnya mengundang air muka keterkejutan yang dilapisi rasa berani yang dipaksakan.


"Apa maksud Ayah ...?" Lagi-lagi, seorang gadis bertanya dengan usaha untuk tenang. Walaupun rasa gugup bersikeras untuk menguasai.


"Dia melalaikan tugasnya. Ayah sudah menyuruhnya untuk menjagamu agar tidak keluar dari rumah. Tapi kau tetap saja menghilang. Lagi."


Gadis itu mengeratkan kedua giginya, upaya menahan emosi yang menimpa. Dia benar-benar tak bisa berkata apa-apa tentang ayahnya yang sangat tenang saat ini.


"Darimana saja kau? Apa kau masih berlatih pedang lagi dengan seorang putra dari keluarga Duke Floniouse?"


Bagaikan ada sebuah peluru yang menembus jantungnya secara cepat, gadis bersurai coklat itu melolotkan matanya.


Bibirnya bergetar samar, dengan suara yang semakin tertahan untuk keluar. "Ya, jika benar lalu kenapa, Ayah?"


"KURANG AJAR!!"


Brukh!


Sepuntung batang tongkat kayu kembali tersayang menyakiti kulit kaki mulus yang samar-samar terdapat bekas luka.


Suara tubuh yang jatuh ke tanah dengan sangat keras, membuat semua manusia yang menatap pun tak bisa berbuat apa-apa.


Hanya bisa melayangkan ratapan iba. Serta hanya bisa merapalkan doa dalam hari berharap suasana tidak bertambah lebih buruk lagi.


"Bukankah sudah Ayah bilang untuk tidak berlatih pedang lagi?! Kenapa kau selalu saja membantah seperti binatang yang tidak punya pikiran?!"


Gadis itu meringis ketika tongkat itu menepuk tulang keringnya, tapi dia berhasil bertahan dengan cara hanya diam dan menunduk.


Percuma saja dia membuka suara, toh ayahnya juga tidak akan mendengarkan dan terus menerus menyalahkannya dan kembali menyakitinya.


"Mulai sekarang, jika kau terus berkeliaran secara bebas tanpa sepengetahuanku, maka jangan harap aku akan diam saja. Kau mengerti?"


"Sejak saat ini, Ayah melarangmu untuk ke luar rumah jika tidak ada hal yang penting!"


Kejadian memilukan itu terus berjalan, sehingga akhirnya pria itu berhenti dan mendengus kasar.


"Bersihkan semua kekacauan ini. Jika ada yang macam-macam, maka bersiaplah untuk menerima hal yang sama seperti mereka!"


Ketika pria itu pergi, sang gadis langsung berlari tanpa memedulikan rasa sakitnya menghampiri pelayan yang malang itu.


"Reina...! Apa kau baik-baik saja?!" tanyanya dengan mimik wajah yang amat khawatir dan cemas.


Cukup lama pelayan tersebut membuka kelopak matanya. Kernyitan yang tercipta di dahinya seraya dengan darahnya yang terus mengalir keluar, tidak diragukan lagi bahwa rasa sakit yang dialaminya amat tak tertahankan.


"Nona... apa yang terjadi...?" Pelayan itu bertanya lemah. Seperti tak ada kekuatan yang tersisa di tubuhnya yang hancur akan luka. 


"Kau harus dirawat terlebih dahulu," imbuh gadis itu. Kemudian dia pun berteriak kepada pelayan lain dengan keras. "Bantu aku mengangkatnya ke kamarnya!" titahnya.


Pelayan pria yang ada di ruangan itu langsung menuruti perintah nona mereka tanpa bantahan. Dengan hati-hati, dua pria itu mengangkat pelayan malang tersebut ke tempat ia seharusnya berada untuk mendapatkan perawatan.


"Seperti yang ayahku bilang, bersihkan semua kekacauan ini." Gadis itu berkata, mengundang raut wajah kasihan dari para pelayannya.


"Tapi Nona... bukankah anda terluka? Apa seharusnya kami memanggil tabib?"


Gadis bermata coklat pekat itu tampak diam. Namun tak lama dari itu, sebuah perintah kembali terjatuh dari bibirnya yang mulai memucat.


"Ya. Panggil tabib untuk mengobati Reina. Kalian tidak perlu khawatir, aku baik-baik saja," tegasnya kemudian berjalan menjauh dari kerumunan yang tercipta.


Saat ia ingin menaiki tangga menuju kamarnya yang terletak di lantai atas, gadis itu sempat terjatuh dikarenakan kakinya yang lemah.


Sebuah ringisan tak ia pedulikan, gadis itu kembali berdiri dengan tertatih dan pincang.


Bersikeras menuju ke kamarnya untuk menikmati waktu sendirian. Agar tak seorang pun mengetahui hal yang ia sembunyikan secara rapat-rapat.


Karena dia sangat tidak suka ketika orang-orang menatapnya dengan pandangan iba dan kasihan.


Seperti budak malang yang terus tersiksa ketika takdir sangat senang mempermainkannya dan menyiksanya.


...~•~...


"Nona, apa anda sudah bangun?"


Terdengar suara samar-samar menelusup ke dalam telingaku, hingga dengan segera aku perlahan-lahan membuka kelopak mataku.


"Ya, aku sudah bangun!" ucapku sedikit keras agar terdengar dari pelayan yang memanggilku dari luar kamar.


Dengan lemas, aku pun menurunkan kakiku dari tempat tidur yang lumayan tinggi ini, kemudian secara perlahan berjalan membukakan pintu.


"Nona..., saya membawakan sarapan untuk anda," kata pelayan tersebut. Kali ini bukan Reina yang mengantarkanku sarapan seperti biasanya, karena dia cukup terluka parah karena perlakuan ayah.


Entah apa yang telah ayah perbuat pada Reina, aku jadi kesal sendiri ketika memikirkannya.


"Baiklah, terimakasih," balasku mengambil alih nampan yang ia bawa.


"Apa anda ingin saya menyiapkan air mandi untuk anda?" tawarnya dan aku mengangguk.


"Ya, tolong."


"Kalau begitu, nikmati sarapan anda, Nona. "


Pelayan itu berlalu menuju kamar mandiku. Aku pun menaruh sarapanku di atas meja belajarku dan mulai memakannya secara bertahap.


Sesudah itu, aku langsung membersihkan tubuhku dan seperti biasa memakai gaun yang telah disiapkan untukku.


Mendadak, aku terduduk begitu saja di atas ranjangku. Ayah telah melarangku untuk keluar rumah, jika begitu apa yang harus kulakukan di rumah yang kosong dan memuakkan ini?


Oh iya, bagaimana dengannya? Dia pasti tengah kebingungan karena aku tiba-tiba saja tidak datang.


Atau mungkin dia tidak peduli sama sekali? Sudahlah. Sebaiknya aku membaca buku saja daripada tidak ada kerjaan.


Kudekati sebuah rak buku yang terletak dekat di jendela kamarku kemudian mengambil satu buku yang cukup menarik perhatianku.


Whoa, apa ini? Macam-macam tanaman racun yang mematikan?


Sepertinya menarik, coba saja aku baca.


Irisku berlari ke sana kemari mengikuti huruf demi huruf yang tertera sekaligus gambar-gambar tanaman yang terpampang.


Tidak kusangka ternyata banyak tanaman beracun adalah tanaman yang sangat cantik bentuknya.


Aku berdiri kemudian melihat ke arah luar apa yang menimbulkan suara tersebut.


Mendadak aku kaget ketika mendapati seorang lelaki yang memanjat dan berniat masuk lewat jendelaku.


Secara tidak sabaran, dia mengetuk kaca jendelaku berkali-kali membuatku mendengus kasar dan membukakan jendela membiarkannya masuk.


"Kau seperti pencuri, apa kau tahu?" ejekku melipat kedua tanganku.


"Kau jahat sekali. Aku yang sangat tampan ini kau bilang seperti pencuri? Jika saat ini kita di tempat umum, mungkin kau akan dibunuh oleh para nona-nona bangsawan," kelakarnya dengan gelak tawa yang menggelegar.


"Ya, ya. Terserah kau saja, Tuan Narsis," sebalku merotasikan bola mataku. "Jadi? Untuk apa kau kesini, Frost?"


Lelaki ini hanya tersenyum manis, entah kenapa sepertinya dia sangat senang menjahiliku. "Mungkin saja kau merindukanku, jadi aku datang kesini."


Helaan nafas tertarik dari paru-paru melalui tenggorokanku. Aku benar-benar jengah dengan kenarsisannya yang tingkatnya setinggi ruang angkasa.


"Apa yang tengah kau baca?" ujarnya mengambil buku yang tengah aku baca tadi. "Sebuah buku tentang tanaman racun?"


"Ya. Aku hanya tidak tahu ingin melakukan apa, jadi aku membacanya untuk menghabiskan waktuku," jelasku.


"Karena ayahmu tidak memperbolehkanmu keluar rumah? Jadi, bagaimana latihanmu dengan Arlen?"


Dia bertanya dengan alis yang terangkat sebelah kemudian menaruh bukuku di atas meja belajarku kembali.


"Entahlah. Aku bahkan tidak tahu kapan ayah akan terus mengurungku seperti ini."


Ya. Mau sampai kapan ayah akan terus mengurungku seperti ini? Aku merasa seperti tahanan sekarang.


"Begitu. Pasti mengesalkan," celetuk Frost membuatku tertawa hambar.


"Tentu saja."


Selang beberapa saat, kami terdiam. Entah kenapa mendadak tidak ada lagi topik yang bisa kami perbincangkan.


Hingga akhirnya aku memutuskan untuk mengakhiri acara keheningan ini.


"Oh iya, aku akan mengambilkanmu teh. Tunggulah," paparku kemudian berniat keluar dari sini menuju dapur.


Tapi sebelum itu, kakiku tak sengaja menumbur dipan hingga aku langsung terjatuh begitu saja karena rasa sakit yang menjalar di tulang daging kakiku.


Sebuah ringisan tak dapat kutahan, walaupun aku sudah berusaha sebaik mungkin untuk tidak mengeluarkannya.


"Cassie?! Kau tidak apa?" seru Frost lalu membantuku bangkit.


Walaupun aku benci berbohong, namun aku akan melakukannya demi kebaikan. "Ya, aku baik-baik saja. Hanya sedikit linglung saja," bohongku.


Frost mengerutkan alisnya tampak kesal. "Sedikit linglung? Lalu bagaimana dengan kakimu yang penuh memar ini?"


Dia menaikkan rok gaun ku hingga kakiku terlihat jelas, banyak bekas lecet dan memar di sana. Sudah pasti, karena ayah tidak main-main ketika memukulku.


Bahkan aku masih bisa merasakan betapa sakitnya dadaku ketika melihat wajah ayah yang tidak ada rasa kasihan pun ketika menyakitiku.


Dengan cepat aku menarik kakiku yang berada di genggamannya kemudian menurunkan rokku.


"I-ini bukan apa-apa. Ini hanya luka karena latihan pedang saja," sela ku secara cepat mengalihkan pandangan.


Lelaki ini kembali menampilkan ekspresi tidak sukanya.


"Tidak mungkin hanya karena latihan bisa sampai separah ini. Apa Arlen yang menyakitimu?"


"Tentu saja tidak!" sergahku dengan nada tinggi dan Frost terdiam. Seusai itu, aku pun menghela nafas pelan. "Sudahlah, ini bukan apa-apa, kau tak perlu mengkhawatirkanku."


Frost hanya diam menatapku dengan pandangan yang tidak kuketahui. Tapi entah kenapa... dia sedikit seram dengan pandangan itu.


"Pasti ayahmu memukulmu lagi, bukan? Pasti ayahmu memukulmu karena kau pergi berlatih pedang, bukan?" tanyanya bertubi-tubi dan penuh penekanan.


Aku semakin bingung dibuatnya. Namun ada hal lain yang lebih membuatku bingung sekaligus heran.


"Frost," panggilku.


"Apa?"


Kutatap matanya intens, kemudian mengeluarkan pertanyaan yang telah sedari tadi hinggap dan bersembunyi di pikiranku.


"Bagaimana kau tahu bahwa ayahku sekarang tengah mengurungku?"


...~•~...


"Di mana dia?"


Tarikan nafas disertai gumaman kecil terkeluar dari bibir yang seperti buah persik manis dan menggoda.


Di bawah pohon yang teduh dan terlindungi dari sinar matahari yang menusuk kulit, duduklah seorang lelaki dengan pikirannya yang tak tertebak.


Iris matanya tertuju lurus ke depan, menatap hamparan rumput hijau yang rindang dan luas. Udara yang hangat disertai dengan angin sejuk membuat suasana sangat tenang.


Seakan seluruh beban bisa diambil alih dan dibawa oleh angin yang terus membelai kulit.


Lama lelaki itu menunggu dan tak tahu apa yang ia pikirkan, langit yang awalnya biru kini menjadi jingga kemerahan.


Entah sudah berapa ribu detik berlalu saat dia duduk tenang di bawah pohon yang tinggi dan besar itu.


Karena merasa suntuk, lantas lelaki itu berdiri kemudian berjalan menuju ke arah rumahnya.


Cukup banyak dia menciptakan jejak kaki di tanah karena letak tempat mereka latihan sedikit jauh dari rumahnya yang amat besar dan luas.


Tak lama dari itu, kini sebuah suara feminin masuk ke dalam telinganya.


"Kakak!"


Lelaki itu merotasikan kepalanya dan memandang sang adik yang baru saja memanggilnya.


Sembari berlari kecil, Daisy pun mendekati kakaknya tersebut kemudian sebuah pertanyaan terlempar dari sang kakak.


"Apa?"


Gadis yang mempunyai helai pirang itu mengerutkan alisnya. "Justru seharusnya aku yang bertanya. Bukankah kakak selalu latihan pedang bersama Kak Cassie? Lalu kenapa hari ini kakak sendirian saja?" tanya Daisy panjang lebar.


Arlen tampak memandang sejenak manik adiknya tersebut. Selepas itu, satu kalimat terlontar dari bibirnya.


"Entahlah," ucapnya singkat kemudian melangkahkan kaki meninggalkan adiknya.


"Ayolah kakak! Beritahu aku! Aku juga ingin bertemu dengan Kak Cassie!" rengek Daisy.


Arlen tampak menarik nafas kasar. "Sudah kubilang, aku tidak tahu."


"Bukankah pertandingan berburu akan dimulai seminggu lagi? Lalu kenapa kalian justru tidak bertemu dan kembali latihan?"


Gadis itu kembali bertanya penasaran, namun Arlen tak ingin menanggapinya hingga lelaki itu berjalan meninggalkan adiknya yang masih sibuk berceloteh.


Daisy semakin kebingungan dibuatnya sekaligus kesal. Karena kakaknya tersebut sungguh misterius dan tidak ingin berbagi cerita sedikitpun dengan dirinya.


Sedangkan Arlen, lelaki itu berjalan menuju kamarnya kemudian duduk di sofa panjang yang berada di dalamnya.


Beserta dengan tangan kanan yang ia lipat kemudian ia jadikan bantal untuk kepalanya, lelaki itu menatap langit-langit kamarnya yang terdapat banyak corak indah terukir dengan rapi dan memanjakan mata.


Cukup lama dia termenung dan terdiam, bahkan seorang pelayan yang sibuk memanggilnya dari luar kamarnya tak ia gubris.


Ketika dia menutupi matanya dengan tangan kirinya, sibuk dengan pikirannya sendiri, tanpa sadar lelaki itu memejamkan matanya dan mulai beraksi di bunga tidurnya.


Keesokan harinya, lelaki itu kembali duduk di tempat yang sama seperti kemarin.


Berharap sosok yang ia tunggu akan muncul di hadapannya dan menampilkan senyum manis sekaligus membahagiakan tertuju kepadanya.


...16.01.2021...