The Atrocious Duke'S Wife

The Atrocious Duke'S Wife
Chapter 10 : Passed Out



KARYA INI HANYA FIKSI. NAMA, TOKOH, PERISTIWA, TEMPAT, HANYALAH KHAYALAN SEMATA. HARAP PEMBACA BIJAK DALAM MENANGGAPI.


Tampak seorang pria terbaring di ranjang king size nya dengan surai pirangnya yang acak-acakan, luka di tubuhnya yang banyak di balut perban, perlahan-lahan membuka dan mengerjapkan kelopak matanya sehingga bulu matanya yang lentik ikut menari.


Hal yang pertama di lihatnya adalah sosok wanita bersurai pirang lurus yang tengah membawa nampan berisi makanan dan obat.


Dengan perlahan ia mendudukkan dan menyenderkan tubuhnya di kepala dipan.


"Apa kau sudah merasa baikan?" tanya Anastasia sambil ikut mendudukkan tubuhnya di pinggiran kasur.


"Ya," jawab Arlen singkat. Ia kemudian mengedarkan pandangannya ke sekitar penjuru kamarnya. Netranya bergerak mencari sosok yang tengah ia cari.


"Bagaimana keadaannya?" lanjut pria itu bertanya, dan Anastasia pun langsung tahu siapa yang di maksud Arlen.


Wanita itu langsung mengerutkan alisnya tak suka. Tapi dengan cepat, ia kembali menunjukkan raut wajahnya yang lembut. "Entahlah, dari pagi tadi aku tidak melihatnya. Mungkin Cassandra masih mengantuk, atau dia tidak peduli sama sekali padamu, Arlen."


Dengan telaten, Anastasia pun mengambil sesuap bubur yang telah di buatkan oleh pelayannya dengan sendok di jari lentiknya lalu menyodorkan bubur itu berniat menyuapi Arlen.


Tapi pria itu tak kunjung membuka mulutnya. Semangkok bubur yang awalnya ada di tangan Anastasia, kini ia ambil alih. "Aku bisa memakannya sendiri," ujarnya.


Anastasia hanya mengangguk tak senang. Karena secara tidak langsung, pria itu telah menolak perhatian yang ia berikan. "Kau mendapat undangan dari Duchess Hornwall untuk ikut Pergaulan Atas di kediamannya, apa kau akan pergi?"


"Tentu saja," jawab Arlen.


"Apa kau sanggup? Luka mu saja masih belum mengering," ucap Anastasia dan Arlen hanya diam saja, sepertinya pria itu tidak akan merubah keputusannya.


"Aku akan ikut denganmu," lanjut Anastasia.


"Tidak perlu. Kau beristirahatlah, kali ini aku akan membawa Cassandra saja," tolak Arlen membuat Anastasia tidak terima.


"Kenapa? Bukankah aku yang selama ini selalu menemanimu dalam urusan seperti itu? Lalu kenapa tiba-tiba--"


"Apa kau meremehkan Cassandra, Anastasia?" tanya Arlen dingin dan menusuk sukses membuat bungkam wanita bersurai pirang itu.


"B-bukan begitu maksudku, t-tentu saja aku tidak meremehkan Cassandra."


Seusai percakapan mereka yang terbilang cukup singkat tersebut, Arlen bangkit dari kasurnya yang luas dan empuk itu lalu bangkit menuju lemari untuk mengganti pakaiannya.


"Keluarlah, aku ingin mengganti pakaianku," titah pria itu. Anastasia pun menurutinya dengan kekesalan yang memenuhi dirinya, dan berjalan keluar lalu menutup pintu kamar itu.


Alisnya berkerut, telapak tangannya mengepal, kebencian terpancar di iris hijaunya yang berkilau di sertai dengan giginya yang bergemeretak.


"Kenapa hanya Cassandra yang ada di pikiranmu?! Apa kau tidak bisa sedikit saja memikirkanku?!"


...🥀...


Cassandra Pov


"Nyonya, apa anda telah bangun?"


Aku mengerjapkan kedua kelopak mataku di kala aku mendengar suara Elise dari balik pintu. Dengan segera aku pun membuka pintu dan terpampanglah Elise yang tengah membawa sarapan untuk ku.


"Nyonya, Tuan meminta anda segera bersiap-siap untuk menemaninya pergi ke kediaman Duchess Hornwall."


Ujarnya membuatku menghela nafas. Padahal aku berniat beristirahat hari ini untuk menghilangkan rasa nyeri yang aku rasakan pada tubuhku.


"Baiklah, aku akan bersiap sekarang," jawabku.


"Saya akan membantu anda bersiap-siap, Nyonya." Tawar Elise dan aku langsung menolak mentah-mentah tawarannya.


"Tidak perlu, aku bisa melakukan nya sendiri. Kau siapkan pakaianku saja," perintahku dan Elise dengan patuh menurutinya.


Seusai aku membasuh tubuhku dan berpakaian, aku pun memberi riasan pada wajahku sedikit tebal, agar wajah pucatku dapat tersamarkan.


"Nyonya, perasaan saya wajah anda sangat pucat dari kemarin malam. Apa anda baik-baik saja?"


"Tentu aku baik-baik saja. Kau tak perlu khawatir seperti itu," ujarku sambil berusaha menunjukkan senyumanku.


...🥀...


Banyak golongan-golongan bangsawan yang telah berkumpul di kediaman Duchess Hornwall. Termasuk pasangan Duke dan Duchess Floniouse yang satu ini.


Mereka berdua hanya diam, tak ada percakapan yang menghampiri di antara mereka.


Tak lama dari itu, pasangan yang menjadi tuan rumah dari kediaman ini pun menghampiri mereka berdua yang hanya diam sejak daritadi.


"Selamat malam, Duchess Floniouse. Saya dengar anda baru saja mengalami kecelakaan yang cukup serius kemarin, apa anda baik-baik saja?" sapa Duchess Hornwall di sertai pertanyaan.


"Ya, saya baik-baik saja sekarang, Duchess. Hanya saja, saya sempat kehilangan ingatan saya kemarin," jawab Cassandra dengan senyum yang tak pernah hilang dari wajah cantiknya.


Duchess Hornwall sedikit menampilkan raut wajah terkejut. "Ah maaf, saya turut berduka cita atas hal tersebut."


"Terimakasih, Duchess."


"Aku juga mendengar bahwa kalian di serang kemarin malam, apa kalian terluka?" sahut Duke Hornwall yang mulai masuk dalam percakapan mereka.


"Kami hanya terluka sedikit saja, terimakasih atas kekhawatiran anda," jawab Arlen yang akhirnya membuka suara.


"Syukurlah. Kalau begitu, kalian nikmati saja jamuannya. Jangan sungkan."


Setelah berujar seperti itu, Duke dan Duchess pun meninggalkan mereka untuk menyambut tamu-tamu yang lain.


Arlen pun melirik Cassandra yang berada tepat di sampingnya. Gadis itu tampak menundukkan kepalanya, dan badannya pun tampak membungkuk, membuat Arlen sedikit bingung.


"Tegapkanlah badanmu, jangan membungkuk seperti itu."


Sontak, Cassandra pun langsung mendongakkan kepalanya. "M-maaf."


Arlen menaikkan alis sebelahnya saat ia melihat wajah gadis itu yang pucat. "Wajahmu pucat, kau baik-baik saja kan?"


"Ya, a-aku baik-baik saja." Wanita itu menyelipkan beberapa helai rambutnya ke belakang daun telinganya, lalu wanita itu kembali mengukir senyum manis di wajahnya.


Tapi dari banyaknya orang yang berada di dalam itu termasuk orang yang berada di sampingnya, tak ada tidak menyadari bahwa senyum itu adalah senyum yang di paksakan.


"Aneh," pikir Arlen.


Lalu mereka pun kembali seperti awal, saling menyapa kepada sesama bangsawan lain, berdiri dengan berwibawa, dan saling melempar senyum yang di perlukan.


Tapi lagi-lagi, Cassandra kembali menundukkan kepalanya dan membungkukkan badannya, membuat Arlen yang berada di sebelahnya kesal.


"Apa kau tak bisa menjaga image mu di hadapan orang lain? Sudah kubilang berdiri lah dengan tegap!" bisiknya kesal pada Cassandra.


Kali ini wanita itu seperti tak menghiraukannya, wanita itu hanya diam saja dengan kepala yang masih setia di tundukkan.


Sekarang, Arlen jadi sedikit khawatir terhadap keadaan wanita itu. "Hei," panggilnya.


Dan, tetap tak ada jawaban yang keluar dari bibir gadis itu.


Arlen pun mengulurkan tangannya ke belakang punggung wanita itu lalu menepuknya pelan untuk menyadarkan wanita itu.


"Berhentilah membungkuk--"


Tak di sangka, hanya karena pukulan pelan seperti itu, Cassandra hampir menjatuhkan tubuhnya ke lantai jika tangan Arlen tidak menangkap perutnya dan menahan tubuh gadis itu dengan sigap.


Mata Arlen pun terbelalak di kala pria itu mendapati Cassandra yang tak bertenaga. Ia menatap wanita itu, riasan yang tebal tetap tak mampu menutupi wajahnya yang pucat pasi, keringat pun terus bercucuran di dahinya.


"Cassandra!"


^^^I Become Wife of the Atrocious Duke^^^


^^^5 November 2020^^^