The Atrocious Duke'S Wife

The Atrocious Duke'S Wife
{Season 2} Aku mencintainya



Previously....


Seketika saat aku sendirian, airmataku tumpah begitu saja. Aku sudah menahannya sejak tadi, karena aku tak ingin ada orang lain lagi yang melihat  sisi lemahku.


Untung saja... untung saja aku bisa menyelamatkannya. Jika tidak... aku tahu lagi harus berbuat apa-apa.


Memikirkan dia yang terus menderita dan berkemungkinan kehilangan nyawanya, membuat hatiku seperti diremas dengan kuat.


Syukurlah... aku bisa menyelamatkan dirinya.


...~•The Atrocious Duke's Wife•~...


...Chapter...


...(16)...


Daisy saat ini tengah berpikir sembari berjalan maju mundur dengan kuku jari panjangnya yang ia gigit.


Gadis itu terus kepikiran apakah Cassandra sukses mendapatkan penawar untuk racun yang menyebar dan menggerogoti tubuh kakaknya.


Hatinya tak tenang dan gelisah sejak sedari tadi, dan rasa itu tak kunjung menghilang dari dirinya.


Ketika dia masih asyik dengan aksinya, tiba-tiba saja dia mendengar ada suara feminin yang sangat ia kenal. Dengan cepat, gadis bersurai pirang gelombang itu berlari menuju pintu yang menjadi pembatas kamarnya.


Saat dia telah keluar, Daisy dapat melihat keberadaan Anastasia yang berada di lantai bawah dengan wajah panik dan tergesa-gesa.


Kakinya melangkah menuruni tangga yang cukup panjang hingga akhirnya dia menghampiri sesosok berwajah panik tersebut.


"Kak Ana! Bagaimana? Apa kalian berhasil mendapat penawarnya?" tanyanya tak sabaran dengan wajah sedikit takut.


Takut bahwa perempuan di hadapannya ini berkata bahwa mereka tak bisa mendapatkannya.


Sontak, terlukis lekukan senyum di bibir Anastasia. "Tenang saja, kami berhasil mendapatkannya."


Daisy akhirnya dapat menghembuskan nafas lega, akhirnya seluruh ketakutan dan kegelisahan tersingkirkan sangat jauh begitu kata-kata itu terlayang.


"Syukurlah! Kalau begitu, ayo kita berikan ini pada kakak sekarang!" serunya dihadiahi anggukan dari Anastasia.


Namun dalam sekejap, anak bungsu dari keluarga Floniouse itu teringat dan tersadar akan sesuatu yang membuatnya berhenti melangkah.


"Ada apa?" Anastasia bingung dengan kelakuan calon adik iparnya ini.


"Di mana kak Cassie? Apa dia tidak datang ke sini?" tanya Daisy merasa janggal akan kehadiran nona bangsawan terhormat tersebut.


Anastasia sempat membisu, gadis itu tampak memikirkan sesuatu. Hingga akhirnya sebuah alasan melintasi pikirannya. "Cassandra langsung pulang karena merasa tidak enak badan."


"Tidak enak badan? Apa Kak Cassie sakit?"


"E-entahlah, sepertinya begitu. Oleh karena itu dia langsung buru-buru pulang," lanjut Anastasia kembali berkilah.


Daisy sempat curiga akan gelagat Anastasia, namun dia tidak memikirkannya secara panjang. Karena kakaknya tengah dalam posisi yang menyakitkan saat ini.


"Begitu. Baiklah, kalau begitu kita harus segera memberikan ini pada kakak," usulnya.


Anastasia mengangguk setuju, kemudian mereka pun segera memanggil tabib lalu menuju kamar sesosok yang menjadi tujuan mereka saat ini.


...~•~...


Cassandra Pov


Akhirnya aku kembali ke kamarku. Tempat aku merasa sangat aman dan nyaman. Dan tentunya terhindar dari segala masalah yang akan menjumpai.


Seluruh kejadian ini membuatku sangat lelah. Apa seterusnya aku harus berhadapan dengan hal seperti ini?


Sungguh ini membuatku sangat lelah, tapi aku tak boleh menyerah begitu saja. Aku harus berjuang untuk hidupku.


Kulangkahkan kakiku menuju meja belajarku kemudian menjatuhkan pangkal pahaku di kursinya. 


Kuraih buku diary ku yang berwarna coklat tua ini, kemudian membuka lembar demi lembar yang tercantum di dalamnya.


Sejak aku kembali ke masa ini, aku selalu bingung dan heran dengan satu hal. Yaitu isi yang ada di dalam buku diary ku ini. Pasalnya, setiap catatanku beserta surat-surat yang Arlen tulis untukku telah tertulis rapi di atas permukaan kertasnya.


Padahal seharusnya catatan itu tidak ada, karena sekarang aku telah berada di masa sebelum aku menikah dengan lelaki itu.


Apa ini hanya kebetulan tak berujung semata? Atau ini hanya kesalahan dari takdir yang kewalahan?


Entahlah, sampai kapanpun aku tak pernah mengetahui tentang itu. Sekarang, aku hanya bisa mencatat seluruh pengalamanku hari demi hari agar bisa menjadi informasi bagiku di hari yang akan mendatang.


...~•~...


"Bagaimana keadaannya?" tanya Duchess Floniouse pada tabib yang telah memberikan penawar tersebut pada lelaki yang tengah berbaring di atas permukaan kasurnya.


Tabib itu kembali mengecek kondisi pasiennya, kemudian tak lama dari itu dia pun berbicara.


"Racunnya sudah perlahan-lahan menghilang. Ini semua berkat penawar tadi. Untung saja semuanya belum terlambat," terang tabib itu membuat nyonya keluarga Floniouse tersebut dapat melepaskan rasa takutnya.


"Untuk sekarang, Lord Arlen masih belum sadarkan diri. Mungkin butuh waktu sekitar sehari agar beliau bangun dan kembali sehat seperti biasa."


Semua yang ada di ruangan itu dapat menghela nafas lega, kemudian suara dari bibir tabib kembali terdengar.


"Kalu begitu, My Lord, My Lady. Saya permisi, semoga hari anda menyenangkan," pamitnya kemudian melangkah keluar.


Suasana sempat hening, hanya udara yang mengisi dan menumpang lewat.


"Terima kasih, Anastasia."


Sontak gadis yang menjadi tuan atas nama tersebut menoleh. "Terima kasih atas apa, Nyonya Duchess?" tanyanya bingung.


"Terima kasih karena telah mencarikan dan memberikan penawar itu untuk Arlen, jika tidak ada kau, aku tidak tahu lagi harus bagaimana," jelas Duchess Floniouse berlinang airmata.


Anastasia menjadi bingung dan khawatir, padahal bukan dirinya yang mendapatkan penawar itu. Namun melihat Duchess Floniouse yang terlihat begitu sedih, membuatnya susah untuk menyela.


"Ibu, penawar itu sebenarnya--"


Belum sempat Daisy menyelesaikan kalimat yang ingin dia sampaikan, suara milik ayahnya kini kembali memotong.


"Itu benar. Kami tak tahu harus bagaimana lagi jika tidak ada kau. Terima kasih, karena kau telah menyelamatkan Arlen. Kau memang gadis yang baik," puji Duke Floniouse.


Anastasia semakin bingung dibuatnya, jika sudah seperti ini bagaimana lagi dirinya harus menolak?


"Daisy, ayo. Kau juga seharusnya berterima kasih pada Anastasia," perintah Duchess Floniouse pada putri bungsunya.


Daisy mengepalkan telapak tangannya, kemudian dia pun menunduk dan membungkuk hormat. "Terima kasih, karena telah menyelamatkan nyawa kakakku. Aku benar-benar menghargainya," ucap gadis itu penuh penekanan.


Tak lama dari itu, Daisy pun kembali mengangkat kepalanya. Matanya menyalang tajam disertai tatapan sinis yang ia tujukan pada Anastasia.


Gadis itu pun langsung berjalan cepat menuju pintu dan pada akhirnya membanting pintu kamar dengan sangat keras.


"Ada apa dengan anak itu?" lontar Duchess Floniouse menghela nafas berat.


Anastasia menggigit bibir bawahnya sembari tertunduk. Entah kenapa dia menjadi merasa bersalah sekarang.


...~•~...


Saat gadis bersurai pirang lurus itu sampai ke rumahnya, dia pun langsung berniat membersihkan tubuhnya yang terasa lengket.


Setelah selesai, dia pun memakai pakaian gaun yang panjang kemudian hendak berjalan-jalan sebentar di bawah terpaan sinar bulan yang menyapa.


Ia berjalan di sekitar taman belakangnya, menikmati angin malam yang menyerbu dan suasana dingin yang menemani.


Sebuah bangku taman yang panjang menjadi tempat dirinya berlabuh, dengan pelan dia pun menghirup udara yang terasa menyejukkan hatinya.


Tak lama dari itu, tiba-tiba saja terdengar suara dan gadis bernetra hijau tersebut merasakan ada hawa keberadaan seseorang di sampingnya.


Lagi-lagi, sosok berjubah itu kembali mengunjunginya. "Untuk apa lagi kau datang kemari?"


Karena sosok itu telah beberapa kali mengunjunginya tanpa sebab, Anastasia tidak takut lagi keberadaannya. Justru gadis itu jadi terasa merasa risih dan menganggap sosok itu sangat menyebalkan.


"Sosok yang kau anggap baik itu tidak sepenuhnya seperti yang kau kira," ujar sosok itu.


"Aku sudah muak mendengar omong kosongmu itu, lebih baik kau pergi," titah gadis itu mengusir.


Anastasia berusaha mengabaikan segala celotehan orang misterius dan aneh di sebelahnya ini.


"Dan, apa kau juga tidak merasa penasaran kenapa lelaki yang kau sukai itu tiba-tiba rela menghabiskan waktunya demi untuk mengajari seorang gadis lemah untuk berpedang?"


Hati gadis itu sedikit terusik dan gelisah, karena sosok aneh tersebut menanyakan pertanyaan yang selama ini selalu hinggap di pikirannya.


Kemudian, suasana menjadi senyap. Angin yang berhembus kencang berusaha merusak dan menimbulkan kebisingan.


Sosok berjubah itu diam-diam tersenyum menyeringai di balik tudung yang menutupi hampir seluruh wajahnya.


Selepas beberapa menit, sebuah suara kembali terdengar menghamburkan keheningan yang melanda.


"Hei, ingin membuat kesepakatan denganku?"


...~•~...


Di sebuah lorong istana yang penuh dengan ukiran dan lukisan-lukisan yang terpahat serta terlukis indah, terdapat seorang lelaki yang tengah berjalan tengah memikirkan sesuatu di balik kepalanya yang ditumbuhi surai hitam malam yang lebat.


Lelaki itu memakai pakaian mewah dan rapi membalut seluruh bagian anggota tubuhnya. Sudah dipastikan bahwa dia anggota keluarga kerajaan dari pakaian yang dipakainya.


Tak lama, kini dia pun berpapasan dengan seorang gadis yang memiliki surai seirama dengannya. Karena penasaran, lelaki itu pun memanggil nama gadis itu dan berhasil menghentikan langkah gadis tersebut.


"Veronica," panggilnya berhasil membuat pemilik nama itu menoleh ke arahnya.


"Ada apa, Kakak?" tanya Veronica sembari melangkah mendekat ke arah sosok yang memanggilnya.


"Apa kau tahu seorang gadis bernama Anastasia?" tanya lelaki dihadiahi kernyitan di dahi sang adik.


"Jarang sekali Kakak menanyai seorang gadis," celetuk Veronica. Namun seketika, gadis itu menaikkan kedua alisnya dengan kelima jari yang menyentuh bibir bawah. "Hoho~ Apa gadis ini istimewa? Sampai bisa memikat minat seorang Pangeran Darren?" godanya.


Sontak lelaki itu langsung menyentil pelan dahi adiknya membuat sang empu meringis dengan omelan yang terlontar. "Aw sakit! Dasar, walaupun aku adik Kakak, aku tetap seorang putri! Tidak ada seorangpun yang boleh menyentil dahi seorang putri!" gerutunya mengelus-elus dahinya.


"Sudahlah, kau berlebihan sekali. Aku hanya ingin bertanya, apa kau mengenal gadis yang kusebutkan tadi?" tanya lelaki itu langsung pada intinya.


Veronica sempat mencibir sejenak, kemudian dia pun melipat kedua tangannya di depan dada. "Ada banyak gadis di Kerajaan ini, Kakak tidak bisa mencari seorang gadis hanya dengan mengandalkan nama. Apa tidak ada ciri-ciri atau mungkin nama belakangnya?" papar gadis itu.


Lelaki itu sempat terdiam sejenak. "Dia mempunyai rambut pirang dan mata yang berwarna hijau. Dan tingginya kira-kira segini," jelas lelaki itu mendeskripsikan gadis yang ia maksud.


Veronica tampak berpikir-pikir dan mengingat. "Apa yang Kakak maksud adalah Lady Anastasia Emerald?" terkanya.


"Anastasia Emerald?" beo lelaki itu.


"Ya, hanya dia yang kukenal dan mirip dengan ciri-ciri yang kakak deskripsikan. Aku tidak tahu jelas, karena banyak sekali gadis yang memiliki ciri-ciri seperti itu di Kerajaan ini," terang Veronica.


"Dari kalangan bangsawan apa dia?"


"Kalau tidak salah dia putri dari Count dan Countess Emerald. Kenapa, apa Kakak ingin melamarnya?" goda Veronica.


Lantas, kakaknya tersebut langsung melangkah menjauh. Lelaki itu sempat berbalik dengan senyum jahil. "Mungkin saja."


Veronica hanya bisa membelalak tak percaya dibuatnya. Apa kakaknya yang satu ini benar-benar serius?


"Heh?! Kakak benar-benar ingin melamarnya?! Hei Kakak, jawab aku!" teriak Veronica gemas.


Lelaki itu hanya mengedikkan bahu kemudian berjalan santai tak menghiraukan teriakan sangat adik.


"Hei Kakak benar-benar ingin menikahinya?! Kakak!!"


...~•~...


Keesokan harinya, hari sangat cerah. Matahari seakan bersemangat untuk menjalankan tugasnya, ditemani dengan langit biru yang memperlihatkan pesonanya.


Anastasia pun mengetuk pintu kamar lelaki yang akan dikunjunginya. Meskipun dia mengetuk, tetap tidak balasan dari dalam.


Oleh karena itu dia langsung masuk karena telah dipersilakan oleh tuan rumah ini dengan mendorong pintu itu secara pelan.


Awalnya dia mengira bahwa lelaki yang akan dia kunjungi itu masih terlelap dalam tidurnya, namun siapa sangka ternyata dia telah duduk di atas permukaan ranjangnya dengan selimut yang membalut dari kaki hingga pinggangnya.


Lelaki itu tampak menatap ke arah jendela yang tengah membiarkan cahaya matahari yang menerangi masuk, membuat surai pirangnya berkilau ketika cahaya tersebut membelai.


"Kau sudah bangun?! Bagaimana keadaanmu?! Apa kau masih merasa sakit?!"


Tiba-tiba saja gadis tadi berlari ke arah sang lelaki kemudian menyerangnya dengan pertanyaan yang bertubi-tubi.


"Aku baik-baik saja," jawab lelaki itu singkat.


Anastasia pun menghembuskan nafas pelan, kemudian berkata. "Apa kau ingin sesuatu? Aku bisa mengambilkannya untukmu," tawarnya.


"Tidak perlu, aku hanya ingin berbicara denganmu. Sekarang."


Alis gadis itu terangkat sebelah, apa yang ingin dibicarakan oleh lelaki itu?


"Apa yang ingin kau bicarakan?" tanya Anastasia.


"Kudengar, kau yang telah membawakan ku penawar racunnya," ucap lelaki itu menggantungkan perkataannya.


Anastasia sontak menggigit bibir bawahnya.


"Terima kasih, kau telah menyelamatkanku," imbuh Arlen tersenyum tipis.


Wajahnya yang tampan membuat lekukan di bibirnya, yang mana mampu bisa membuat kaum hawa tergila-gila.


"Itu...!  Sebenarnya bukan aku--"


Tiba-tiba saja lelaki itu terbatuk sembari menutup mulutnya, membuat gadis berhenti pirang itu langsung khawatir.


"Kau tidak apa-apa?!"


"Ya," jawab Arlen kemudian kembali terbatuk. Tak lama dari itu, akhirnya batuk lelaki itu menghilang. "Kau tadi bilang apa?"


Gadis itu membisu, dengan wajahnya yang tertunduk. Arlen jadi bingung dibuatnya, karena tingkah gadis itu yang tiba-tiba aneh.


"Kau tak apa?" Lelaki itu memastikan sahabatnya yang satu ini.


Setelah cukup lama terdiam, Anastasia pun kini mengangkat kepalanya. Wajahnya yang awalnya murung, kini kembali ceria ketika lengkungan senyum menghiasi wajah bonekanya.


"Tidak apa-apa, hehe," cengirnya.


"Kukira kau kerasukan," celetuk Arlen.


"Tidak mungkin lah!" sergah Anastasia kemudian terkekeh.


"Jadi, aku ingin mengatakan sesuatu padamu."


"Apa itu?" tanya Anastasia.


"Aku tidak ingin mengulang kesalahan yang sama. Jadi aku akan mengatakannya sekarang," ujar lelaki itu lagi-lagi menggantung.


"Apa? Katakan saja," kata Anastasia terdengar tak sabaran.


"Aku menyukai Cassandra."


Senyum manis yang merekah kini langsung layu dan luntur ketika tiga kata itu menusuk-nusuk pendengarannya. Tapi gadis itu ingin memastikannya kembali.


"Kau bilang apa tadi?"


"Aku menyukai-- tidak, aku mencintai Cassandra," ulang lelaki itu.


Anastasia menatap kosong lelaki di hadapannya itu dengan bibir yang terkatup. Dia tidak tahu bagaimana mendeskripsikan perasaan yang saat ini menghampirinya.


Dia hanya bisa merasakan bahwa hatinya seperti digedor sangat kuat, dan dadanya terasa seperti ditekan sangat kuat seakan dia tak bisa bernafas.


Dan perkataan Arlen selanjutnya, seakan membuat nafasnya berhenti.


"Aku mencintainya."


...30.01.2021...