The Atrocious Duke'S Wife

The Atrocious Duke'S Wife
Chapter 23: Peperangan



KARYA INI HANYA FIKSI. NAMA, TOKOH, PERISTIWA, TEMPAT, HANYALAH KHAYALAN SEMATA. HARAP PEMBACA BIJAK DALAM MENANGGAPI.


Tampak seorang gadis kecil tengah berlari-lari dengan langkah kecilnya seraya dengan tawa yang menghiasi wajah imut bonekanya.


Rambut pirang lurus berkilaunya bergoyang-goyang mengikuti irama langkah nya dengan angin yang menyertai setiap langkah kecilnya.


Tawa kesenangan menghiasi sudut bibirnya yang terangkat sembari melihat kebelakang untuk memastikan agar sahabat kecilnya sekaligus calon tunangannya tidak dapat menggapainya dan menangkapnya.


"Arlen, ayo tangkap aku! Hahaha!" serunya asik berlari.


Sosok laki-laki kecil yang memiliki rambut seirama dengannya tampak sedikit kesal karena tak mampu menggapai calon tunangannya tersebut karena lari gadis itu sungguh kencang.


"Ana, berhenti lah berlari seperti itu!" pintanya sambil memegangi lututnya karena kelelahan.


Laki-laki kecil itu menyeka keringat yang mengalir di dahinya, sambil mengeluarkan protesan yang di lontarkan dari bibirnya.


"Oh ayolah, jika kau tak bisa menangkapku, aku tak akan pulang!" teriak gadis kecil itu dengan tawa yang masih setia menemani wajahnya.


Bisa di lihat bahwa mereka adalah sahabat masa kecil yang sangat bahagia, terlebih lagi gadis kecil itu.


Senyum tak bisa lepas dari wajah imutnya, dan kebahagiaan seakan enggan untuk pergi dari hati nya.


Matahari yang menyinari pun seakan terhipnotis dengan kebahagiaannya, awan seakan merasa tenang di kala gadis kecil mengeluarkan kekehan kecil yang berasal dari lubuk hatinya yang dalam.


.


.


.


.


"Ah... sialan," gumam seorang wanita yang baru saja bangun dari mimpinya.


Mungkin lebih tepatnya, sebuah potongan dari kenangan yang telah lama tersimpan di memori nya.


Wanita itu mengusap matanya yang ternyata telah di banjiri oleh air mata, kemudian mulai menyingkirkan selimut yang membalut tubuhnya.


Ia membangkitkan dirinya untuk duduk di sebuah sofa single yang berada di sudut ruangannya.


Tak lama dari itu, kini tampaklah seorang pelayan yang tergopoh-gopoh menaruh sarapannya.


"Nyonya, apa anda ingin mandi setelah ini?" tanya pelayan itu sopan seraya membungkukkan badannya.


Wanita bernetra hijau emerald itu melirik sejenak dengan secangkir teh yang sudah bertengger di ujung jari lentiknya yang melingkar.


"Ya, siapkan lah untukku," perintahnya.


"Baik, Nyonya." Pelayan itu perlahan-lahan menghilang dari pandangannya untuk mempersiapkan air mandi untuknya.


Seusai ia mengisi perutnya di pagi hari, wanita ini pun ingin berjalan-jalan sejenak di sekitar tempat tinggalnya yang luas.


Di saat kakinya telah selesai melangkahi anak tangga demi anak tangga, telinga nya menangkap suara berisik yang berasal dari dapur.


"Kenapa kau mau saja memakan makanan gagal seperti ini?"


"Aku hanya ingin menghargai masakan istriku."


Wanita bersurai pirang ini mengepalkan kedua telapak tangannya melihat adegan menjijikan dan memuakkan di hadapannya ini.


Netra hijaunya yang seperti permata emerald, menyalang tajam.


Kenapa pria yang menjadi pelaku dari adegan menjijikan itu tidak pernah melakukan hal yang sama terhadapnya?


"Kenapa, wanita jal*ng itu selalu merebutnya?! Kenapa?!" batinnya menjerit.


🥀


"Kita telah di desak, kita tak bisa menghindar lagi. Pasukan Nephorine sekarang telah menyerang bagian utara kita," ujar Raja Hamilton membuat suasana menjadi hening.


"Sepertinya, mereka benar-benar menyatakan perang," lanjutnya.


Semua yang hadir di rapat itu sibuk dengan pikirannya masing-masing.


"Kalau begitu, kita terpaksa menghadapi mereka. Tidak ada pilihan lain selain itu." Pangeran Yari bersuara membuat semua pandangan beralih padanya.


"Tapi, bagaimana pasukan kita? Kita harus mengumpulkan lebih banyak prajurit untuk melawan mereka!" sahut Pangeran Darren.


"Tenanglah dulu, Darren. Justru tujuan kita di sini adalah memecahkan masalah itu," jawab Raja Hamilton.


Pangeran Darren tampak menghela nafas. "Maafkan saya, ayahanda, saya terlalu panik," ujarnya sambil menundukkan kepalanya.


"Lalu, apa ada yang mempunyai rencana untuk peperangan kali ini?" tanya Raja Hamilton tegas.


Semua orang yang tengah duduk di meja rapat ini tampak sibuk pada pikirannya masing-masing.


Setelah beberapa menit suasana sempat hening, kini suara yang terlontar dari bibir Duke Hornwall berhasil memecah keheningan tersebut.


"Bagaimana kalau kita membagi pasukan kita menjadi 100.000 per wilayah?" usul nya membuat Raja Hamilton ber pikir-pikir.


"100.000 per wilayah? Kalau begitu akan ada 2 wilayah yang tidak terlindungi," jawabnya.


"Ya itu benar, Yang Mulia. Namun, bukankah itu lebih baik daripada membagi rata prajurit di setiap wilayah?"


"Karena, prajurit kita yang jumlahnya sedikit belum tentu kuat untuk menghadapi musuh dengan jumlah yang banyak. Jadi, bukankah lebih baik kita membagi prajurit di wilayah yang memang perlu di lindungi?"


"Aku sepertinya tak bisa menyetujui usulanmu tersebut, Duke Hornwall," potong Arlen.


Semua pandangan kini beralih ke Arlen.


"Melindungi wilayah yang memang patut di lindungi? Perang tidak bisa hanya mengandalkan keberuntungan," ujarnya.


"Segala kemungkinan bisa terjadi di dalam perang. Misal kan saja, jika 2 wilayah yang tidak perlu di lindungi itu di terobos oleh musuh, bagaimana kita akan mengatasi hal itu?" sela nya membuat suasana kembali hening.


"Menurutku, pendapat Duke Hornwall dapat di terima," ujar Pangeran Yari.


"Memang benar jika wilayah yang tidak di lindungi tersebut berkemungkinan dapat di serang. Namun, jika memang musuh tidak mengetahuinya, bukankah ada peluang untuk kita?"


"Seperti dengan apa yang kau bilang, Duke Floniouse. Jika kita mengetahui kelemahan musuh, mau sebanyak apa pun pasukan mereka, mereka tak bisa berkutik," papar nya membuat semua orang mulai mempertimbangkan hal tersebut.


"Apa yang bisa membuatmu sangat yakin bahwa musuh tidak akan menyerang dua wilayah itu, Yang Mulia?" ucap Arlen penuh penekanan membuat suasana menjadi mencekam.


"Lalu, apa kau ada rencana lain selain hal ini, Duke Floniouse?" ketus Pangeran Yari.


Arlen hanya bisa menutup mulut sambil berusaha menyembunyikan giginya yang bergemeretak karena ketidak suka annya.


"Aku rasa yang di katakan Pangeran Yari cukup menyakinkan. Karena, selama kita berhati-hati, dan juga jika prajurit kita dapat mengalahkan musuh di saat mereka kalah jumlah, maka kemenangan akan menjadi milik kita," sahut Pangeran Darren.


"Lagipula, kita juga harus berpikir positif terlebih dahulu. Dengan cara itu lah, kita bisa memenangkan peperangan kali ini," lanjutnya.


"Saya setuju dengan usulan Pangeran Yari dan Pangeran Darren," sahut bangsawan lain.


"Saya juga setuju, Yang Mulia," sahut bangsawan lainnya.


"Baiklah. Untuk sekarang, kita hanya harus mempersiapkan diri kita untuk menghadapai perang kali ini. Karena perang ini merupakan perang yang cukup sulit di banding yang sebelum-sebelumnya," ucap Raja Hamilton lantang.


"Lusa, kalian harus berangkat ke markas kita yang berada di utara, usahakan lah untuk berhati-hati dan teliti dengan ada yang di sekitar kalian. Karena mungkin saja ada mata-mata musuh yang menyelip di antara kalian," paparnya panjang lebar.


"Berusahalah untuk membawa kemenangan untuk negeri kita, aku mengandalkan kalian semua untuk melindungi negeri ini."


"Duke Floniouse," panggil Raja Hamilton.


"Ya, Yang Mulia?" ujar Arlen dengan lantang dan tegas.


"Aku selalu mengandalkanmu menjadi pemimpin pasukan barisan depan," titahnya.


"Baik, Yang Mulia."


Setelah itu, keputusan Raja Hamilton selalu menjadi keputusan akhir yang menutup rapat tersebut.


Sebagian dari bangsawan yang berada di ruangan itu, harus mempersiapkan diri untuk menghadapi perang yang bisa di bilang cukup sulit.


Demi menyelamatkan negeri mereka.


🥀


Argh! Dimana buku diary ku?!


Aku menggeram kesal karena tidak kunjung menemukan benda itu.


Sudah hampir seluruh sudut ruangan aku obrak-abrik, tapi tetap buku diary ku itu tak dapat di temukan.


"Nyonya! Nyonya! Apa anda ada di dalam?!"


Kenapa Elise berteriak seperti itu? Aku pun bergegas membuka pintu kamarku.


"Ya! Aku datang!"


Teriakku kemudian meraih gagang pintu kamarku lalu memutarnya. Tampak Elise yang seperti tengah dikejar oleh sesuatu.


"Ada apa?" tanyaku.


"Nyonya, sebenarnya saya sangat tidak sopan meminta anda melakukan hal ini, tapi saya benar-benar butuh pertolongan anda!" cecarnya membuatku jadi tidak enak untuk menolak.


"Baiklah, baiklah. Jadi kau minta tolong tentang apa?"


"Bisakah anda mengantarkan teh ini ke ruang kerja Tuan Duke?" pintanya sambil menyodorkan nampan yang diatasnya ada segelas teh beserta piring kecil yang menghiasinya.


"Kenapa harus aku? Apa kau tidak bisa minta tolong ke pelayan lain?"


"Pelayan lain sedang sibuk dengan urusannya masing-masing, Nyonya. Saya juga saat ini tengah menggoreng sesuatu,  dan jika terlalu lama saya takut masakan saya akan menjadi gosong!" jelasnya hampir tanpa jeda, membuatku jadi semakin tidak enak untuk menolak.


"Ya sudah, berikan padaku," ujarku mengambil alih nampan tersebut.


"Terimakasih banyak, Nyonya! Anda sungguh baik hati! Kalau begitu saya akan turun ke dapur terlebih dahulu!" ujar nya lalu langsung lari terbirit-birit.


"Sekali lagi terimakasih banyak, Nyonya!" teriaknya seraya berlari membuat ku terkekeh.


Baiklah, karena orang yang meminta tolong kepadaku telah berterimakasih, maka aku harus melakukan dan memenuhi permintaannya.


Untung saja aku tahu di mana letak ruang kerja pria itu.


Tak ingin berlama-lama, aku pun melangkahkan kaki ku dan berhati-hati agar teh yang berada di atas nampak yang tengah ku genggam ini tidak tumpah dan berceceran.


Setelah beberapa meter aku berjalan, aku pun sampai di depan pintu ruang kerja pria itu yang tertutup.


Ku kepalkan sebelah telapak tangan ku kemudian mengetuk pintu itu secara perlahan-lahan.


"Masuk."


Terdengar suara dari dalam, aku pun dengan segera mulai mendorong pintu yang lumayan berat ini kemudian melangkahkan kaki ke dalam ruangannya.


Terlihat dia tengah duduk di kursi nya sambil sibuk dengan sesuatu yang ada di permukaan mejanya.


Pena bulu yang biasanya memang di pakai pada orang-orang pada zaman dahulu bertengger di jari-jemarinya.


Aku berjalan mendekat kemudian menaruh segelas teh yang telah di buatkan oleh Elise di bagian permukaan meja nya yang kosong.


"Tidak biasanya kau mengantarkan teh pada ku."


Dia menyindir ku atau memuji ku?


Sebenarnya hal itu ingin aku tanyakan, tapi aku terlalu malas sehingga aku hanya menampilkan senyum manis padanya.


Di saat mata ku melihat kertas yang tengah ia amati, aku pun jadi sedikit tertarik.


"Apa itu peta wilayah kita?" tanyaku dan dia melirik ku sejenak.


"Ya," jawabnya singkat. "Aku akan pergi berperang besok lusa, jadi usahakan lah untuk merindukanku."


Wait, what? Berperang?


"Berperang? Kenapa mendadak sekali?" tanyaku.


"Musuh bisa menyerang kapan saja, jadi jangan heran jika terjadi secara mendadak."


"Lalu, apa kau sudah menyusun strateginya?"


Apa kalian ingat jika aku sangat menyukai hal-hal berbau strategi? Oleh karena itu aku sangat tertarik.


"Sejak kapan kalian para wanita tertarik pada perang? Bukankah kalian para wanita hanya tertarik pada kecantikan dan semacamnya?" ejeknya membuatku sangat tidak terima atas apa yang dia katakan.


"Jaga bicaramu, yah. Tidak semua wanita tergila-gila dengan kecantikan, setiap wanita memiliki hobi masing-masing," protesku.


"Begitu," ujarnya enteng setelah itu kembali sibuk dengan peta wilayah itu.


"Lalu, apa kau telah menyusun strategi nya?" tanya ku kembali karena dia belum sempat menjawab pertanyaanku.


"Bukan aku yang menyusun strategi nya. Lagipula, kami juga telah mempunyai rencana untuk mengalahkan musuh."


"Jadi kenapa kau masih berkutat dengan kertas wilayah itu jika kalian telah memiliki rencana untuk mengalahkan musuh?" Aku semakin bingung dengan perkataannya yang tidak jelas.


"Ck, kau banyak tanya sekali." Dia berdecak membuatku memutar kedua bola mataku.


"Namun, jika kau masih ingin mengetahuinya, aku tidak keberatan memberitahumu tentang kondisi sekarang."


Mata ku berbinar mendengarnya, dengan cepat aku pun berkata. "Cepat beritahu aku!"


Dia tampak menarik nafas kemudian menjelaskan nya sambil menatap fokus kertas wilayah kerajaan Erosphire yang berada di tangannya seraya menopang dagunya.


"Duduklah dulu, karena ini akan menjadi sangat panjang," ujarnya membuatku mengernyit bingung.


Di dalam ini hanya terdapat satu kursi, yaitu kursi kerja nya yang tengah ia duduki, jadi dia menyuruhku duduk dimana?


Apa dia menyuruhku duduk di lantai?


"Tapi di sini tidak ada kursi lagi, di mana aku harus duduk?"


Dia tersenyum, lebih tepatnya tersenyum miring. "Duduklah di pangkuan ku."


"Hah?!" Mataku terpelotot seraya dengan mulutku yang ternganga.


Dia meyuruhku duduk di pangkuannya?! Apa dia sinting?! Bagaimana mungkin aku bisa melakukan hal memalukan seperti itu?!


Aku menunjukkan senyum terpaksa ku. "U-uhm, lebih baik aku berdiri saja, tidak masalah," tolak ku secara halus sambil melambai-lambai kan tanganku.


"Oh? Kalau begitu aku tidak akan memberitahukan nya padamu," ucapnya masih setia dengan senyum miring nya dan dagunya yang ia topang.


Kukepalkan tanganku, ingin sekali aku melayangkan tinju ku pada wajah menyebalkan nya saat ini, tapi aku harus menahan itu semua.


"Baiklah, aku akan duduk di pangkuan mu," ujar ku sambil tersenyum manis kemudian mendaratkan pangkal paha ku di pangkuannya.


Malu? Tentu saja aku malu! Siapa yang tidak malu jika harus duduk di atas pangkuan pria yang belum lama di kenal!


"Jadi, bisakah kau ceritakan padaku sekarang?" tanyaku.


"Hm, minumkan teh yang kau bawa itu padaku dulu."


Senyum jengkel tak dapat ku tahan untuk muncul di wajahku. Dengan kesal, aku pun mengambil secangkir teh itu kemudian menaruhnya di depan bibir pria menyebalkan ini.


Dia tampak kembali mengukir senyum miringnya, kemudian menyesap teh itu.


"Baiklah, aku akan memberitahumu."


Setelah berjibun permintaan menyebalkan nya, dia akhirnya menceritakan tentang semua strategi yang telah di rencanakan untuk mengalahkan musuh.


Seusai aku mendengar semua penjelasannya, aku jadi semakin tertarik. Sehingga aku melontarkan permintaanku padanya.


"Hei, apa kau bisa mengajak aku untuk ikut perang ini?"


^^^I Become Wife of the Atrocious Duke^^^


^^^24 November 2020^^^