
KARYA INI HANYA FIKSI. NAMA, TOKOH, PERISTIWA, TEMPAT, HANYALAH KHAYALAN SEMATA. HARAP PEMBACA BIJAK DALAM MENANGGAPI.
"Teruslah tersenyum. Karena itu adalah hal terindah yang pernah ada."
Dia berkata seperti itu seraya menatapku dalam, rona merah kini tak dapat kutahan menjalar di tulang pipiku, sehingga aku dengan cepat memalingkan wajahku.
"Ada apa?" tanyanya. Bisa-bisanya kau bertanya dengan nada tenang sehabis menggodaku!
"Tidak ada," jawabku berusaha menetralkan detak jantungku.
Ah, apa yang harus kukatakan untuk menghancurkan kecanggungan ini?
"Oh iya, aku sudah lama ingin memberitahumu hal ini. Tapi aku selalu lupa," ucapku.
"Hal apa?"
"Saat aku menyelinap ke markas musuh waktu itu, aku sempat--"
"Bisakah kita tidak membahas hal itu sekarang?" selanya membuatku mencebik.
"Ini penting. Lagipula aku tidak akan membahasnya secara panjang," bujukku berhasil membuatnya menghela nafas.
"Terserahlah," jawabnya membuatku menyengir.
"Jadi, kemarin saat aku menyelinap ke markas musuh. Saat itu aku sempat mendengar percakapan antara musuh dan seorang pengkhianat."
"Pengkhianat?" Dia bertanya seraya menaikkan sebelah alisnya.
"Ya. Aku sempat mendengar bahwa pengkhianat itu memberitahu dua wilayah tidak terlindung kita," paparku.
Dia tampak masih diam seraya menyerapi setiap makna dari penjelasanku.
"Lalu, pengkhianat itu juga bilang bahwa dia berniat membunuhmu." Suara entah kenapa semakin tenggelam.
Aku sangat takut waktu itu, ketika mendengar bahwa dia kemungkinan saja terbunuh dalam perang itu.
Oleh karena itu, sekarang aku merasa sangat lega saat perang ini telah berakhir.
Walaupun masih ada sedikit kegelisahan tanpa sebab di dalam diriku.
"Apa kau sempat mendengar tujuan pengkhianat itu?"
Aku menggeleng-gelengkan kepala. "Tidak, mereka tidak membicarakan hal itu," jawabku. "Hei, apa kau mempunyai musuh yang sangat benci terhadapmu?"
Dia tersenyum kecut. "Hampir semua bangsawan adalah musuhku."
Aku menghela nafas. Aku takut jika pengkhianat itu kembali melancarkan aksi berbahayanya tanpa sepengetahuan kami.
"Namun, ada satu orang yang cocok dengan semua penjelasanmu."
Sontak, kutolehkan wajahku untuk menatapnya. "Siapa?"
"Coba saja kau pikirkan sendiri. Dari seluruh penjelasan yang kau bilang, siapa menurutmu yang terasa janggal di peperangan ini?"
Dia berkata membuatku berpikir-pikir.
Kalau tidak salah, bukankah kemarin ada yang terasa janggal di peperangan kali ini?
Bagaimana pasukan Erosphire dapat tepat waktu melindungi dua wilayah tak terlindung?
Lalu, bukankah aneh jika Arlen sebagai pemimpin pasukan barusan depan hanya membawa prajurit berjumlah kan dua puluh ribu prajurit?
"Kau mengirim pahlawan mu itu untuk menembus pertahanan utama kami? Apa kau berniat membunuh kartu As kerajaan kalian?"
"Karena dia bisa saja mengacaukan rencanaku, dan aku tak ingin mengambil risiko."
Kalau begitu, berarti yang membuat semua strategi merekalah yang ternyata pengkhianatnya?!
"Namun, tetaplah pada rencana awal kita. Seusai kau menghabisinya, maka suruhlah pasukanmu untuk menyerang dua wilayah tak terlindung kami."
Ini semua makin masuk akal. Pengkhianat itu adalah pembuat strategi untuk peperangan mereka kali ini.
Oleh karena itu pasukan Erosphire dapat tepat waktu berpindah posisi untuk mengalahkan musuh yang menyerang dua wilayah tak terlindung!
Tapi apa maksud pengkhianat tersebut dengan menyuruh musuh untuk menyerang dua wilayah tak terlindung?
Apa motifnya dan tujuannya?
"Apa kau telah menemukan--"
"Pengkhianatnya adalah pembuat strategi kali ini? Benar kan?" tanyaku.
Dia tampak tersenyum miring, seakan senang karena aku sepemikiran dengannya.
"Benar, dan pembuat strategi kali ini adalah Pangeran Yari. Pangeran Yari lah yang menyuruhku untuk menembus pertahanan utama Nephorine hanya dengan dua puluh ribu pasukan," jelasnya membuatku tak percaya.
Pangeran Yari adalah pengkhianat? Ini sungguh di luar dugaan!
"T-tapi b-bagaimana bisa?! Mana mungkin seorang Pangeran menyuruh musuh untuk menyerang negerinya sendiri?! Lagipula, apa tujuannya melakukan hal itu?"
"Ada dua kemungkinan dia melakukan hal itu. Pertama, dia mungkin ingin balas dendam," ujarnya membuatku mengernyitkan alis.
"Balas dendam? Atas dasar apa? Apa kerajaan Erosphire pernah berbuat salah padanya?"
"Sepertinya kau benar. Setahuku tidak ada skandal ataupun rumor mengenai Pangeran Yari selama aku hidup di sini." Dia juga terlihat bingung dengan jarinya yang sibuk mengelus dagunya.
"Lalu apa kemungkinan yang kedua?" tanyaku.
Arlen menoleh kearahku, lalu berkata. "Dia ingin menjadi Raja," ucapnya membuatku semakin bingung.
Bukannya Pangeran Yari adalah putra mahkota? Sudah pasti dia lah yang kelak akan menjadi Raja bukan?
Lalu, kenapa dia harus berkhianat untuk menjadi Raja di negerinya sendiri?
"Bukankah Pangeran Yari adalah putra mahkota? Dengan begitu, bukankah dia lah yang sepatutnya menjadi Raja berikutnya?"
"Pangeran Yari memang adalah putra mahkota. Namun, dia bukanlah anak dari Raja dan Ratu."
"Bukan anak dari Raja dan Ratu? Apa maksudmu?"
Pria ini berdecak. "Pangeran Yari hanyalah anak dari selir Raja yang telah mati. Sedangkan Pangeran Darren dan Putri Veronica adalah anak dari Ratu," jelasnya.
"Waktu itu, Ratu dikabarkan tak bisa memiliki keturunan. Oleh karena itu Raja mencari wanita yang dapat memberikannya pewaris. Namun Raja tetap menyayangi Ratu, oleh karena itu dia hanya menjadikan wanita itu sebagai selirnya."
"Selir tersebut ialah ibu dari Pangeran Yari. Namun tak lama dari itu, tiba-tiba saja Ratu akhirnya dapat mengandung, dan lahirlah Pangeran Darren."
"Raja bingung siapa yang akan ia berikan gelarnya nanti. Walaupun Pangeran Darren adalah putra keduanya, namun tetap saja dia adalah anak pertama dari Raja dan Ratu. Oleh karena itu sampai sekarang, Pangeran Yari dan Pangeran Darren selalu bersaing untuk menjadi Raja selanjutnya."
Dia berbicara sangat panjang sehingga aku tak bisa berkata apa-apa. Baru kali ini aku mendengar dia berbicara seperti itu.
"Sepertinya kau punya bakat dalam mendongeng," candaku terkekeh kecil.
"Ya, setiap malam nanti aku akan mendongeng untuk anak kita," ucapnya setia dengan senyum miringnya membuatku merinding.
"Dasar!" kesalku memukul lengannya cukup kuat. Namun tak cukup untuk membuatnya kesakitan, karena badannya sangat keras.
Justru malah telapak tanganku sendiri yang menjadi sedikit sakit.
Dia tertawa kecil seraya menarik tubuhku mendekat padanya dan menaruh kepalaku bersandar di bahunya.
"Aku ingin waktu berhenti sekarang," gumamnya.
Walupun sangat samar namun aku bisa mendengar secara jelas kalimatnya yang membuatku tersenyum.
Aku pun berharap demikian. Aku rasanya ingin waktu berhenti sekarang, agar bisa bersamanya untuk lebih lama.
Namun seketika kenyataan langsung menamparku dan membuatku sadar, bahwa semua itu tidak mungkin.
"Lalu apa keuntungan Pangeran Yari kalau dia menyerang dia wilayah?" tanyaku karena rasa penasaranku belum terjawab.
"Hah... sepertinya kau belum mengerti juga." Dia kembali menghela nafas. "Kau tahu bukan bahwa seluruh kerajaan saat ini tengah memuji-muji kehebatan Pangeran Yari saat dia berhasil mengalahkan musuh yang jumlahnya waktu itu?"
Kuanggukan kepalaku pertanda benar. Karena saat aku pergi ke pasar bersama Elise kemarin, aku sempat mendengar para gadis-gadis maupun orang tua tengah memuji-muji dan membicarakan Pangeran Yari.
"Jika rakyat menyukainya, maka kemungkinan besar rakyat akan menunjuknya sebagai Raja berikutnya."
Ternyata seperti itu. Bagaimana bisa hal itu tidak terpikirkan padaku sebelumnya.
"Namun yang anehnya, bagaimana bisa Pangeran Darren sampai ke markas musuh?" tanya Arlen.
"Ah, Pangeran Darren berkata bahwa dia menyelinap ke markas musuh untuk menjadi mata-mata. Sama sepertiku," jawabku sembari menatapnya.
"Yang menjadi perbedaan adalah, dia adalah mata-mata handal. Dan kau amatiran," ejeknya membuatku sebal.
"Hei, untuk pemula, aku ini sudah termasuk yang baik!" bantahku dengan bibir yang mengerucut.
Cup~
Kurasakan benda hangat dan lembut menyapu dan mengecup keningku. Membuatku langsung memandang dengan tatapan membola pada sang pelaku.
"Ya, kau memang baik. Dan kau yang terbaik bagiku," ucapnya membuatku malu.
Kukepalkan tanganku dan kembali memukul dadanya untuk mencoba menghilangkan rasa maluku.
Melihatnya tertawa, membuatku juga terhipnotis untuk tertawa.
Karena cuaca sudah tidak mendukung untuk berlama-lama di luar ruangan.
...🥀...
"Cuacanya sangat dingin, apa kau tidak ingin memakan sesuatu yang hangat?" tanyaku karena angin yang berhembus menambah turunnya suhu di Desa Privillage.
Langit telah gelap sepenuhnya, kini hanya lampu lentera yang tengah aku pegang yang menjadi penerang kami.
Ya, Arlen sempat membawanya. Karena kedua tangannya bertugas untuk memegang tali yang mengendalikan kuda yang tengah kami tunggangi, jadi aku lah yang memegang lampunya.
Dapat kulihat punggung telapak tangan dan jari-jemarinya yang sedikit memerah. Pertanda bahwa dia cukup kedinginan.
"Lihat, di sana ada toko makanan. Bagaimana jika kita menghangatkan diri dulu di dalam?" saranku sembari menunjuk toko itu.
"Baiklah," jawabnya lalu mengarahkan kuda ini untuk menuju toko itu. Setelah sampai di depannya, dia pun melompat turun lalu mengulurkan tangannya, bermaksud membantuku turun.
Kami pun masuk dan suhu hangat menyambut kami. Terletak perapian di sudut ruangan, dan terdapat banyak sepasang meja dan kursi.
Cahaya api lilin yang redup dan remang menjadi penerang di tempat ini.
Kami duduk, dan kami memesan minuman hangat. Tak lama dari itu, kami pun disuguhi oleh dua teh hangat di cangkir yang sederhana.
Kulingkupi jari-jemariku di cangkir yang hangat, kemudian rasa dingin pun lambat laun menghilang.
"Apa sudah merasa hangat?"
Aku mengangguk menjawab pertanyaannya. "Bagaimana denganmu?"
"Ya, sedikit."
Kami diam, tidak ada percakapan, hingga aku berusaha membuka suara. Entah kenapa, ada sesuatu yang menjanggal.
"Aku--"
"Aku tak sempat mengatakannya. Namun aku akan mengatakannya."
Dia memotong perkataanku sehingga aku mendongak untuk memandangnya.
"Saat aku bermalam dengan Anastasia, aku tidak sepenuhnya sadar."
Bingung melandaku. "Apa maksudmu?"
"Aku tidak sepenuhnya sadar. Aku tak ingat apa yang terjadi. Tiba-tiba saja aku terbangun dengan Anastasia di sampingku," ungkapnya.
Kutelisik matanya, namun tak ada satupun kebohongan yang kutemukan. Apa benar yang dikatakannya?
"Sudahlah, tak perlu membahas hal itu. Bukankah sudah kubilang bahwa aku memaafkanmu?" elakku agar percakapan ini berakhir.
Lagipula itu semua tidak ada hubungannya denganku, aku juga cepat atau lambat pasti akan kembali ke dunia asalku.
.
.
.
.
Hari benar-benar sudah gelap, dan langit seakan tak henti-hentinya menyemburkan butiran halus yang dapat membuat kedinginan menusuk tulang.
Arlen pun menaruh kudanya pada kandangnya, lalu kami pun berjalan untuk masuk ke rumah dan segera beristirahat.
Dia mengepalkan tangannya kaki mengetuk pintu masuk utama. Sekang beberapa saat pintu terbuka dan menampilkan kepala pelayan Charles yang menyambut kami.
"Selamat datang kembali, Tuan Duke," sapa Charles membungkukkan badannya.
Arlen hanya mengangguk kemudian berjalan disertai dengan aku yang mengekorinya dari belakang.
Kami pun berjalan masuk dan aku pun hendak ke kamarku. Tapi pergelangan tanganku dicekal membuatku terhenti.
"Apa?"
"Apa kita harus tidur berpisah kamar lagi?" Aku tersentak namun aku langsung mencari alasan.
"Ah, Anastasia!" ujarku sedikit keras menatap belakangnya.
Lantas dia menoleh kebelakangnya, dan saat itulah kesempatanku. Dia lengah, sehingga dia sedikit melonggarkan genggamannya pada pergelangan tanganku.
Kutarik tanganku lalu langsung berlari menuju kamarku dan langsung mengunci pintunya.
Blam!
Baiklah, sudah beres. Sebaiknya aku langsung beristirahat sekarang.
Agar aku langsung bisa bertualang ke alam mimpi.
...🥀...
"Nyonya! Nyonya!"
Ergh... apa sih?! Aku masih mengantuk!
"Aish! Nyonya! Cepatlah bangun, ini penting, Nyonya!"
Aish, terpaksa aku membuka kelopak mataku secara perlahan karena sebuah tangan yang daritadi tak henti-hentinya menarik-narik badanku.
"Kenapa kau membangunkanku pagi-pagi seperti ini, Elise?" tanyaku sebal karena diganggu saat aku tengah berkelana secara bebas di mimpiku.
"Nanti saja bicaranya, terutama anda bergegaslah mandi terlebih dahulu, lalu saya akan membantu anda berpakaian," tutur Elise.
Sebenarnya dia adalah pelayanku atau ibuku? Dengan malas, aku pun beranjak dari tempat tidur lalu menuju kamar mandi.
Ternyata semua sudah disiapkan oleh Elise, tak butuh waktu lama sehingga aku telah bersiap-siap sepenuhnya.
"Jadi, apa alasanmu membangunkanku pagi-pagi seperti ini?" tanyaku.
"Nyonya Anastasia. Nyonya Anastasia sempat pingsan, dan sekarang Tuan Duke tengah memanggil tabib untuk memeriksa keadaannya," jelas Elise.
Anastasia pingsan? Apa ini salah satu bagian dari rencananya lagi? Ah, aku bahkan belum selesai dengan rencanaku untuk menjatuhkan wanita itu.
"Benarkah? Kalau begitu, di mana dia sekarang?"
"Nyonya Anastasia ada di kamarnya. Sebaiknya anda juga pergi memeriksa keadaannya."
"Baiklah antarkan aku kesana."
.
.
.
.
Setelah aku sampai, ternyata tabib yang memeriksa wanita itu pun telah sampai.
Bahkan Anastasia pun telah sadar, walaupun kernyitan masih tercipta di wajahnya.
Bahkan sudah ada Arlen yang berdiri dengan bersandar di dinding dengan kaki yang ditekuk dan diposisikan di atas lututnya.
Tangannya terlipat di depan dadanya, dan pandangannya justru terfokus padaku.
"Apa yang terjadi dengan saya? Saya akhir-akhir ini selalu merasa pusing dan mual. Apa ini gejala masuk angin karena musim dingin ini? Atau ada hal yang lain?" tanya Anastasia berjibun.
Satu satu kenapa.
Tabib itu tersenyum. "Tak perlu khawatir, Nyonya. Justru itu adalah kabar baik," ujar tabib itu.
"Kabar baik? Apa maksudnya?"
"Anda hamil, Nyonya."
Deg!
Aku terperanjat dan mataku terbelalak besar. Begitupun Arlen, dia tak lagi dengan posisi santainya.
Matanya sedikit membola, berbeda denganku yang seakan akan keluar dari tempatnya.
Sial, kenapa dadaku langsung terasa sesak? Kenapa bibirku langsung bergetar? Kenapa hatiku seperti tersayat tajamnya kunai?
Mataku memanas, aku tak bisa lagi bagaimana untuk mendeskripsikan rasa sakit ini.
Yang bisa kukatakan hanyalah sakit, hatiku terasa sangat sakit.
Pikiranku berkalut, aku tak bisa berpikir jernih. Rasa sakit sudah mengendalikan, hingga rasanya untuk berdiri pun sangat lah sudah untuk dilakukan.
Cobaan apa lagi ini?
^^^I Become Wife of the Atrocious Duke^^^
^^^*21 Desember 2020*^^^