
Previously....
"Charlina Krystilian..."
Dia pun kembali menghadapku ketika aku memanggilnya dan menggantungkan kalimatku
Aku mendekatkan bibirku yang tengah membuat lengkungan licik ke telinganya, dan membisikkan satu kata yang menjadi akhir dari segalanya baginya.
"...checkmate."
...~•The Atrocious Duke's Wife•~...
...Chapter...
...(15) ...
Flashback on
Gadis yang berhelai pirang itu berhenti melangkahkan kakinya ketika telah sampai di depan gerbang kediamannya.
Ia celingukan mencari penulis surat yang sempat diterimanya beberapa saat yang lalu. Saat dia menoleh ke kiri, ternyata ada sesosok yang tengah berdiri sedari tadi sembari bersandar di dinding pagar halamannya.
"Yo."
Gadis benetra hijau yang kerap dipanggil Anastasia itu langsung menunjukkan ekpresi terkejut di wajahnya.
"Cassandra?! Sedang apa kau di si-- umph!"
"Suaramu kebesaran," potong gadis bersurai coklat itu membungkam bibir milik Anastasia.
"Jadi ternyata kau yang mengirimi surat ini?" Anastasia menyodorkan sekeping surat yang ia terima tadi.
"Ya, itu benar."
"Sebenarnya kau meminta bantuan apa? Sampai harus mengirimi surat ini," katanya dengan kernyitan di alisnya.
Ana.
Aku butuh bantuanmu.
Bisakah kau pergi ke depan gerbang rumahmu sekarang?
Ini sangat penting.
^^^~C^^^
"Aku butuh bantuanmu. Karena aku akan mendapatkan obat penawar untuk racun yang ada di dalam tubuh Ar-- m-maksudku Lord Arlen," jelas Cassandra.
Sontak Anastasia terkejut, ketika mendengar gadis di hadapannya ini mengatakan hal itu. "Benarkah? Kau tahu di mana mendapatkannya?" Anastasia berantusias dengan tatapan penuh harap.
"Ya, oleh karena itu ikutlah denganku. Kita akan pergi ke kediaman Baron Krystillian sekarang juga."
"Baron Krystillian? Untuk apa kita ke sana?"
Cassandra tersenyum penuh arti. "Aku akan menjelaskannya nanti, ya?"
Anastasia seakan mengerti akan keadaan Cassandra dan tak ingin merepotkan gadis itu lebih jauh. Lagipula, dia di sini diminta untuk membantu sahabatnya bukan malah mempersulitnya.
Oleh karena itu, dia pun mengangguk mengerti. Kemudian mereka pun menaiki kereta kuda yang telah terpatri di hadapan mereka.
.
.
.
.
"Apa?! Nona Charlina adalah pelaku yang menembak Arlen? Kau serius?!" teriak Anastasia tak terkendali di dalam kereta kuda yang sempit itu.
"Tenanglah dulu, Ana," gaduh Cassandra menutup kedua lubang gendang telinganya.
"Bagaimana bisa aku tenang?! Arlen tertembak oleh panah yang dilapisi racun, dan ternyata pelakunya adalah Nona Charlina!" cerocosnya.
Mereka tengah dalam perjalanan menuju tujuan mereka, dan sudah cukup lama mereka duduk di atas kursi kereta yang amat keras itu.
"Tapi bagaimana kau bisa tahu bahwa pelakunya adalah Nona Charlina?" tanya Anastasia mulai tenang.
"Sebenarnya sejak pertandingan itu, aku selalu merasa aneh ketika Nona Charlina terus menatapku sinis. Dan aku juga merasa janggal ketika Nona Charlina tiba-tiba saja berada di tengah hutan saat kita berburu rusa waktu itu," terang Cassandra.
Anastasia mengerutkan alisnya sembari berpikir-pikir. "Itu masuk akal juga."
"Lalu, aku mengambil panahnya yang hampir mengenaiku. Dan untung saja waktu itu, aku sempat melihat sebenarnya ada tiga anak panah yang melesat ke arah Lord Arlen."
"Benarkah? Aku bahkan tidak menyadarinya. Kau jeli sekali," puji gadis berhelai pirang itu.
"Begitulah. Lalu aku pun mengambil dua anak panah tadi. Dan apa kau tahu? Aku mendapat sesuatu yang tak terduga tersembunyi di anak panah itu."
"Apa itu?"
"Ternyata kedua anak panah yang menembak Lord Arlen memiliki bentuk dan ukiran yang sama dengan anak panah yang ditembakkan Nona Charlina yang hampir mengenaiku," sambung Cassandra.
Anastasia tak henti-hentinya dikejutkan oleh kebenaran yang membentur dirinya. Tidak dia sangka ternyata sahabatnya yang satu ini bisa menemukan pelaku yang sampai saat ini masih dilacak keberadaannya. Bahkan hanya membutuhkan satu hari.
"Aku sempat membaca ternyata ada penawar untuk racun itu. Dan aku juga mendengar bahwa Nona Charlina sangat ahli dalam mengelola obat-obatan asing. Oleh karena itu aku berharap aku bisa mendapat penawar racun tersebut darinya," papar Cassandra dengan pandangan yang lurus ke depan.
"Tapi... Cassandra. Jika kau sudah memperkirakan semuanya, mengapa kau malah ingin membawaku untuk membantumu? Bukankah aku hanya akan merepotkanmu?" lontar Anastasia dengan nada pelan.
Ia merasa bahwa dirinya hanya akan menjadi beban saja. Bahkan dirinya yang telah lama bersahabat dengan Arlen tidak bisa berbuat apa-apa saat ini. Namun Cassandra yang baru beberapa hari kenal dengan lelaki itu telah berbuat sampai sejauh ini.
Dia merasa tidak berguna.
"Apa yang kau katakan? Justru alasanku membawamu karena aku sangat membutuhkanmu," balas Cassandra.
"Jika aku hanya datang kemudian menyudutkan Nona Charlina, apa manfaat dari semua itu? Walaupun aku mempunyai panah itu, tapi aku tetap bisa membuktikan bahwa panah itu milik nona Charlina, bukan?" terang gadis yang memiliki bibir apel itu menatap dalam Anastasia.
Anastasia masih diam. Gadis itu masih merasa ragu akan dirinya sendiri.
"Oleh karena itu aku membutuhkanmu. Kau adalah buktiku. Kita berdua bisa membuktikan bahwa nona Charlina adalah orang yang bersalah. Dan juga, jika ada sesuatu yang terjadi padaku, kau bisa melindungiku."
"Percayalah pada dirimu sendiri, Anastasia. Kau lebih berguna dari yang kau kira," imbuh Cassandra membuat lengkungan manis di bibirnya. "Lagipula bukanlah sebagai sahabat harus berbagi dan saling membantu?"
Setelah cukup lama dirundungi rasa ragu, gadis berwajah boneka itu menghembuskan nafas yang amat panjang dengan kelopak mata yang terpejam.
Ia melipat bibirnya, kemudian senyum keyakinan terukir. Dengan manik yang dipenuhi semangat membara yang sempat tertahan, dia pun berkata.
"Baiklah."
Cassandra pun ikut tersenyum dibuatnya.
"Tapi bagaimana caranya agar kita bisa mendapatkan penawarnya? Dan kenapa juga kau membawa banyak pria yang mengerikan ini?"
Tiba-tiba saja senyum tulus Cassandra berubah dengan senyum miring yang menyeringai. Disertai tatapan yang mengerikan.
"Semuanya sudah kurencanakan."
...~•~...
Cassandra Pov
"Nona Charlina, anda telah kalah," ucapku lugas sembari menaikkan dagunya dengan jari telunjukku.
Dia tampak masih tidak percaya dengan kekesalan yang mendominasi. Anastasia masih diam pada posisinya, menjaga gadis di hadapanku ini untuk tidak bergerak dari tempatnya.
"Bagaimana bisa... bagaimana bisa Lady Emerald berada di sini? Padahal kediamanku dipenuhi dengan penjaga. Kamarku juga dikunci dan tinggi, bagaimana bisa dia masuk?!" jeritnya putus asa.
Lantas, aku pun kembali berdiri sambil berjalan pelan mengitari setiap sudut kamarnya.
"Nona Charlina, kau pikir aku datang ke sini tanpa persiapan dan cadangan? Kau pikir aku sebodoh itu mengungkap kejahatanmu langsung di hadapanmu?" ketusku.
Kemudian tawa gelak kembali terlontar dari mulutku. "Oh iya, kau ingin tahu bagaimana Lady Emerald masuk ke sini? Baiklah aku akan menjelaskannya."
Dia terdiam seolah-olah membiarkanku berbicara. Baiklah jika dia berkeinginan demikian.
"Apa kau tidak merasa aneh kenapa aku sangat memaksa ingin berbicara di kamarmu? Itu karena aku telah mengetahui bahwa kau tidak berada di kamarmu. Dan kau ingin tahu bagaimana? Itu karena aku telah menyewa mata-mata untuk menyusup ke dalam kediamanmu."
"Apa maksudmu? Tidak mungkin ada mata-mata yang berhasil masuk ke dalam rumahku," hardiknya.
"Seorang bangsawan? Apa maksud--"
Seketika dia tidak sanggup melanjutkan kalimatnya lagi. Sepertinya dia sudah menyadari siapa yang kumaksud.
"Ya. Itu benar. Sebelum aku, ada bangsawan lain yang mengunjungimu, bukan?"
"Sialan kau...! Ternyata kau lah yang menyuruh Lady Floniouse mengunjungiku!"
Aku hanya bisa menatapnya seolah-olah aku tidak tahu apa-apa. "Itu salahmu karena kurang berjaga-jaga," ujarku mengedikkan bahu.
"Kau tadi ingin mengetahui bagaimana cara Lady Emerald masuk?" tanyaku dengan jari telunjuk yang kuletakkan di daguku.
"Ketika penjagamu itu mengantarku masuk, di saat itulah Lady Emerald dan para pria suruhanku menyerbu kediamanmu secara diam-diam. Semua penjagamu dihabisi secara tak bersisa dalam diam," jelasku.
Dia berdecak, sudah pasti kekesalannya telah mencapai ubun-ubun.
"Melalui jendela, Lady Emerald memanjat dan memasuki kamarmu dibantu oleh para orang suruhanku."
"Aku sengaja membahas ukiran di pintu kamarmu ini," ucapku kemudian mendekati pintu kamar ini. "Karena aku ingin memastikan apa kau sadar atau tidak kalau ada Lady Emerald ada di baliknya."
Kaki ku pun kembali melangkah dengan bibirku yang tak henti-hentinya mengeluarkan kata demi kata. "Dan aku sengaja membiarkanmu duduk di kursi yang membelakangi arah pintu, agar kau tidak sadar bahwa di saat yang tepat Lady Emerald akan menutupnya."
"Wanita jalang!!!"
Aku hanya bisa memutar bolamataku malas. Wanita jalang katanya?
"Padahal kau hanya setingkat lebih tinggi dariku, namun hidupmu sangat jauh berbeda dengan diriku!" jeritnya.
"Kau memiliki dukungan dari putra seorang Duke, kau memiliki dukungan dari putri dari seorang Count, dan kau bahkan selalu dengan Frostend!! Kenapa hidupmu sangat enak?! Kenapa?!"
Aku dan Anastasia hanya bisa diam sembari melempar pandangan. Tapi tunggu dulu, barusan dia bilang Frostend? Sejak kapan dia seakrab itu dengan Frost hingga langsung memanggil nama depannya?
"Kau selalu dekat dengan Frost tanpa berusaha. Sedangkan aku, yang selalu membantunya diam-diam tak pernah sedikitpun bisa berbicara dengannya!"
Ternyata begitu. Semuanya lagi-lagi karena cinta.
"Kenapa hidup selalu tidak adil?! Kenapa aku dilahirkan hanya dari keluarga bangsawan terendah?! Jika saja aku memiliki gelar tinggi, maka Frostend pasti akan menyukaiku!"
Kenapa hidup tidak adil?! Kau pikir cinta pantas dibandingkan hanya dengan status dan gelar yang tinggi?
Aku paling benci dengan orang-orang yang hanya bisa merengek ketika takdir tidak adil kepada mereka.
Seketika aku langsung berjalan cepat menuju ke arahnya. Kutarik kerah bajunya dengan keras dan langsung menampar pipinya.
"Kau pikir hanya kau yang mengalami takdir yang tidak adil?! Kau pikir hanya kau manusia paling menderita karena takdir?! Kau benar-benar membuatku muak!!!"
Dia terhuyung lalu jatuh ke lantai dengan telapak tangannya yang setia memegangi pipinya yang memerah akibat ulahku.
Dapat kulihat Anastasia terkejut dan sedikit ketakutan melihatku. Namun aku tak menghiraukannya, karena emosi ini telah menguasai dan mengendalikan diriku.
"Kau pikir takdir akan memihakmu setiap saat?! Kau pikir hanya dengan merengek takdirmu akan langsung berubah?!"
Sial...! Tenangkanlah dirimu, Cassandra. Sedikit lagi kau akan mencapai tujuanmu melakukan semua ini.
Cukup pikirkan dia saja yang tengah menderita, kau tidak boleh membuatnya terlalu lama menunggu.
Kutarik nafasku dalam-dalam dengan telapak tanganku yang kukepal kuat-kuat guna memadamkan emosiku. Setelah beberapa saat, aku pun akhirnya bisa kembali tenang.
"Aku tidak ingin berlama-lama, Nona Charlina. Karena kebodohanmu, nyawa seseorang dalam bahaya," ucapku. "Aku tahu sebenarnya kau berniat menembakku hari itu bukan? Oleh karena itu, bertanggung jawablah atas perbuatanmu. Berikan penawarnya padaku," perintahku.
Dia tampak bimbang membuatku menghela nafas. "Kau tenang saja. Aku tidak akan memberitahukan hal ini kepada siapapun, oleh karena itu berikan penawarnya padaku."
Gadis ini mendongakkan kepalanya ketika mendengar kalimatku.
"Apa yang kau katakan, Cassandra?! Tentu kita harus melaporkannya atas perbuatan jahatnya!" protes Anastasia tak terima dengan usulan ku.
"Anastasia," panggilku sembari menatapnya. "Tujuan kita ke sini adalah untuk menyelamatkan Arlen, bukan?" tanyaku dan dia tampak tersentak.
Anastasia pun mengalihkan pandangannya dengan bibir yang terlipat.
"Lagipula, bukankah setiap orang pantas mendapatkan kesempatan kedua?" imbuhku dan dia hanya diam.
"Kau bahkan menyesal sekarang bukan, Nona Charlina?" Aku pun menatap gadis yang tengah terduduk di lantai ini.
Tak lama, dia pun langsung meneteskan airmata dan menangis tersedu-sedu disusul oleh isakan pilu.
Dapat kulihat Anastasia menghela nafas pelan kemudian tersenyum lembut padaku.
Aku kembali pada gadis yang tengah dilanda kesedihan ini. Kemudian berjongkok menyamai tinggiku dengannya.
"Tidak salah mencintai orang lain. Namun, kau tidak harus menyakiti orang lain demi rasa cintamu."
...~•~...
Hah... akhirnya selesai juga. Suaraku menjadi serak akibat banyak berbicara tadi.
Nona Charlina telah memberikan penawarnya pada kami, dan dia pun bahkan telah meminta maaf kepada kami.
Saat ini, kami dalam perjalanan menuju kediaman Arlen. Karena kami tak ingin membuang waktu dan segera memberikan penawar ini padanya agar lelaki itu terlepas dari penderitaan yang mencekik.
"Kau terlalu baik, Cassandra," celetuk Anastasia menatapku jengkel.
Aku hanya bisa tersenyum mendapati dia tengah merajuk padaku. "Apanya?"
"Memang semua orang pantas mendapatkan kesempatan kedua. Namun setiap orang juga harus mendapatkan balasan yang setimpal atas perbuatan mereka," terangnya.
"Sudahlah. Lagipula semuanya sudah selesai sekarang, bahkan Nona Charlina telah meminta maaf, bukan?"
"Ya aku tahu itu, tapi.... Aish, kau terlalu baik!" sebalnya memelukku dari samping membuatku terkekeh.
Dia sangat imut.
"Hei, Cassandra. Apa kau ada masalah?" tanyanya membuatku bingung.
"Maksudnya?"
"Kau terlihat sangat marah saat nona Charlina berkata tentang takdir yang kejam. Tatapan matamu, seolah-olah menunjukkan bahwa kau telah melewati itu semua," paparnya sedikit ragu.
Apa sejelas itu?
"Itu karena aku hanya sedang kesal saja. Bukan sesuatu yang serius," kilahku.
"Benarkah? Tapi jika kau ada masalah, kau bisa memberitahuku. Aku akan berusaha membantumu sebisaku," imbuhnya tulus.
Lengkungan senyum tercetak begitu saja di wajahku. "Terimakasih."
Selepas itu, kamu berbicara tentang banyak hal, hingga tak sadar bahwa ternyata kami telah sampai.
Aku pun menyodorkan penawar itu pada Anastasia yang hendak turun. Sontak, dia menatapku bingung.
"Apa ini, Cassandra?"
"Lebih baik kau saja yang memberikannya pada Lord Arlen," kataku sembari tersenyum.
"Tapi kenapa? Bukankah kau yang sudah berusaha mendapatkannya? Seharusnya kau yang memberikannya agar Arlen bisa berterimakasih padamu," protesnya.
"Sudahlah, kau saja yang memberikannya. Lagipula, bukankah kau adalah sahabat masa kecil Lord Arlen? Jika aku yang memberikan, sudah pasti akan canggung. Oleh karena itu, berikan saja padanya, ya?" pintaku.
Anastasia tampak tak setuju. Namun melihatku yang kekeuh, membuat perempuan itu pasrah.
"Baiklah. Kalau begitu aku akan ke dalam. Kau harus berhati-hati saat pulang!" peringatnya.
"Baiklah, baiklah." Aku terkekeh kemudian melambaikan tanganku dan kuda ini mulai berjalan menuju ke kediamanku.
Seketika saat aku sendirian, airmataku tumpah begitu saja. Aku sudah menahannya sejak tadi, karena aku tak ingin ada orang lain lagi yang melihat sisi lemahku.
Untung saja... untung saja aku bisa menyelamatkannya. Jika tidak... aku tak tahu lagi harus berbuat apa-apa.
Memikirkan dia yang terus menderita dan berkemungkinan kehilangan nyawanya, membuat hatiku seperti diremas dengan kuat.
Syukurlah... aku bisa menyelamatkan dirinya.
...29.01.2021...