The Atrocious Duke'S Wife

The Atrocious Duke'S Wife
{Season 2} Kesal?



Previously....


"Tentu kasurnya ada dua bukan?" tanya Cassandra tersenyum. Semoga saja yang ada di pikirannya tidak benar.


Dia harus membuang-buang jauh pikiran negatif dan tak benar itu.


"Itu... hanya satu kamar dengan kasur untuk pasangan yang tersisa," imbuh resepsionis itu.


Masih setia dengan senyuman manis yang merekah dan kelopak mata yang tertutup, gadis itu pun berkata.


"F*ck."


...~•The Atrocious Duke's Wife•~...


...Chapter...


...(21) ...


Cassandra Pov


Pintu terbuka. Segera kami langsung masuk ke dalamnya tanpa aba-aba. Karena sudah malam, tentu ruangan sangat gelap.


Satu tangkai lilin menjadi penerangan di ruangan yang diisi dan dilingkupi oleh kegelapan ini.


Aku akui, daritadi aku tak bisa tenang meskipun di luarnya tidak demikian. Bagaimana caranya aku harus melewati malam ini? Berbagi ranjang dengannya? Atau tidur di lantai?


Kedua pilihan itu sama-sama tidak menguntungkan, dan tentu tidak membuat nyaman.


"Kau akan mandi atau langsung beristirahat?" tanyanya secara tiba-tiba membuatku langsung tersadar dari dunia lamunan.


"Uhm, aku akan langsung istirahat saja," kataku sedikit terbata. Entah kenapa saat ini aku tak bisa memandangnya.


"Aku akan keluar mencari udara sebentar,"  balasnya.


Kuanggukkan kepalaku mengiyakan perkataannya. Tak lama, suara pintu yang tertutup tertangkap di telingaku.


Lantas, aku langsung menjatuhkan tubuhku di atas permukaan kasur. Otomatis, pandanganku terarah ke langit-langit yang kamar yang gelap.


Hari besok pasti akan sangat melelahkan dan panjang. Kuharap aku bisa melewatinya semampu yang aku bisa.


Kini kelopak mataku tak bisa kutahan untuk terbuka lebar, sehingga seperkian detik terkadang mataku terpejam.


Jika aku tidur terlebih dahulu, aku pasti tidak akan malu kalau dia tidur di sampingku bukan? Lebih baik aku menuju ke alam mimpi sekarang daripada aku tidak bisa tidur karena rasa gugup yang merundungi, bukan?


Banyak sudah berbagai pikiran yang bercabang di akar-akar otakku, sehingga tak bisa kuingat kapan terakhir kali aku merasakan cahaya lilin yang hangat dan redup masih setia menemaniku hingga aku terbangun.


.


.


.


.


Angin dingin yang menelusup masuk dan menerpa serta menusuk kulit, menjadi penyapaku hari ini. Sekaligus alarm yang menyuruhku untuk berhenti berkelana di alma mimpi.


Kuusap kedua lenganku yang terasa membeku seperti es, kemudian menguap sehingga tercipta kabut dingin yang mengepul di udara.


Aku pun meregangkan badanku sejenak untuk melemaskan otot ku yang kaku kemudian langsung duduk.


Kuputar kepalaku mengitari seluruh penjuru ruangan, hanya aku sendiri di kamar ini. Apa dia telah bangun terlebih dahulu?


Apa tidurku selama itu?


Namun langit masih mendung karena sekarang musim dingin, bahkan matahari pun tidak terlalu terlihat. Itu berarti sekarang belum terlalu siang.


Sebaiknya aku segera bersiap-siap, karena aku harus banyak bekerja hari ini. Sepertinya berendam di bak yang berisi air hangat merupakan pilihan yang sangat tepat untuk saat ini.


...~•~...


"Wah, kau cepat sekali sudah berada di sini. Apa kau se-lapar itu?" tanyaku dibumbui candaan ringan di dalamnya.


Segera aku duduk di hadapan lelaki bersurai pirang di depanku, kemudian menunggu makanan yang aku pesan datang.


Dia tampak tenang sembari menyeruput secangkir teh hangat yang berada di genggamannya.


"Oh iya, kau tidur di mana semalam? Karena aku merasa semalam aku tidur sendirian," celetukku.


"Aku tidur di sampingmu, kau saja yang terlalu nyenyak sehingga tak sadar dengan kehadiranku," paparnya.


Mungkin perkataannya ada benarnya juga. Namun yang membuatku terusik adalah kantung matanya yang cukup besar dan menghitam, apa akhir-akhir ini dia tidak cukup tidur?


Tak lama, sarapanku yang hangat pun sampai dan tanpa ragu aku menyantapnya.


Saat aku tengah sibuk mengunyah, tiba-tiba saja aku teringat akan sesuatu. "Oh ya, apa semua batubara di sungai sudah diangkat semua?" tanyaku.


"Ya, pekerja Marquess Thrones sudah menyelesaikan segalanya kemarin," jawabnya seperlunya.


"Apa mereka juga sudah menutup seluruh aliran sungai yang menyalurkan air sungai mereka ke wilayah lain?"


"Ya, mereka juga telah menyelesaikannya."


"Begitu. Berarti yang tersisa sekarang hanyalah masalah penjernihan air sungainya," kataku.


"Sehabis kau makan, sebaiknya kita langsung pergi," usulnya.


"Ya, karena semakin cepat maka akan semakin baik."


...~•~...


Kami pun telah sampai di sekitar tempat hidup penduduk wilayah Marquess. Aku dan Arlen tengah berdiri di pinggiran sungai sembari mengamati sungainya.


Pakaian biasa khas penduduk lokal menempel di tubuh kami. Karena kami juga ingin membantu dan tidak hanya bisa memberi perintah.


Lelaki di hadapanku ini memakai sebuah kemeja tipis berlengan panjang bewarna seamist dengan celana panjang coklat tua disertai sepatu boots yang berwarna seirama.


Sedangkan aku memakai gaun panjang dengan sehelai kain yang menutupi tempurung kepalaku dan diikat di bawah tulang dagu yang sering dipakai oleh penduduk wanita biasa berwarna putih.


"Jadi, cara apa yang akan kau pakai untuk menyaringnya?"


Aku sudah memikirkannya kemarin. Sebenarnya aku cukup banyak tahu cara penjernihan air, namun penjernihan air banyak dilakukan menggunakan bahan kimia.


Contohnya saja tawas, bahan itu sangat bagus untuk menjernihkan air. Namun masalahnya di zaman ini benda itu belum ada. Jadi yang tersisa hanyalah dua pilihan lain yang menggunakan cara tradisional.


"Aku ada dua cara." ujarku mengundang kernyitan di alisnya. "Cara pertama adalah menjernihkan air menggunakan sebuah bahan tembaga dan seng untuk merebus air menggunakan bantuan dari sinar matahari yang sangat menyengat."


Ketika aku menjelaskan, dia hanya diam sembari menyerapi seluruh makna dari perkataanku.


"Tapi masalahnya, sekarang adalah musim dingin. Bagaimana caranya kita merebus air dengan cuaca yang dingin? Yang ada justru airnya akan membeku," cecarku.


"Lalu cara yang kedua?"


"Cara kedua adalah cara yang cukup rumit. Cara ini membutuhkan banyak bahan, kalau tidak salah seperti pasir, batu, batu kali, kerikil, ijuk, arang dari tempurung kelapa, dan banyak drum, serta bak air," jelasku semudah mungkin agar dia paham.


Semoga saja penjelasanku tidak terdengar berbelit agar mudah dipahami olehnya.


"Lalu bagaimana cara penjernihannya?"


"Terutama kita harus memerlukan satu drum dan dua bak besar yang tidak terlalu tinggi untuk satu proses penyaringan. Bak pertama kita isi dengan batu kali yang berguna sebagai pengendap. Kau mengerti seluruh penjelasanku, bukan?" tanyaku memastikan.


"Kau pikir lelaki bangsawan manja yang hanya tahu cara menghabiskan uang?" balasnya.


Ya, benar juga. Dia bukan tipe seperti itu.


"Baiklah kita lanjutkan," perintahku. Lalu drumnya kita isi bahan-bahan lainnya. Yang paling bawah kita isi dengan batu, kemudian kerikil, arang tempurung kelapa, pasir halus, ijuk, pasir halus lagi, ijuk. Dan bak terakhir menjadi penampung air yang telah disaring."


Kuambil sebuah buku catatan kecil dari sakuku yang selalu ku bawa kemana-mana kemudian menggambarkan urutannya.


"Nah kira-kira seperti ini," kataku sembari menunjukkan gambar yang telah kuselesaikan padanya.



(Sumber : Google)


Dia pun langsung mendekat agar bisa melihat lebih dekat buku yang ada di tanganku. Dapat kurasakan darahku berdesir pelan ketika pundaknya tak sengaja menyentuh pundakku.


Jika dilihat dari samping dan secara dekat, ternyata bulu matanya sangatlah tebal dan panjang. Bahkan bentuknya pun melengkung lentik.


Hidungnya mancung dan terlihat sangat menggoda untuk menariknya. Tak lupa dengan tulang rahangnya yang tercetak jelas dan tegas.


Dan bibirnya....


"Hei," panggilnya menghentikan pikiran yang semakin lama berkelana semakin jauh.


"Y-ya?" Sontak aku berbicara tergagap. Astaga apa yang barusan saja aku pikirkan?!


"Apa yang kau pikirkan?"


"Kau."


"Bukan apa-apa," jawabku secara cepat. "Aku hanya berpikir cara ini cukup memkaan waktu lama. Dan cara ini juga tidak langsung menjernihkan seluruh air sungai ini. Jadi kupikir, semuanya akan sulit," imbuhku.


"Semua butuh proses. Lagipula, jika terus diterapkan secara teratur semuanya pasti akan kembali seperti semula," balasnya entah kenapa membuatku sedikit tenang.


Ternyata dalam diam, dia juga sangat menghargai dan mendukung segala usahaku.


"Ya... mungkin kau ada benarnya juga," ucapku kemudian menghembuskan napas. 


Aku akan membuang seluruh perasaan negatif yang melingkupi ini kemudian membangun semangat dalam diriku. "Baiklah! Sebaiknya kita harus memberitahu cara-cara ini pada penduduk, agar mereka bisa menjalani gaya kehidupan baru dan mengobati sungai yang telah tercemar!" seruku melepaskan segala keresahan.


"Kalau begitu, My Lady. Bisakah saya memiliki kehormatan untuk mengundang anda berkuda bersama saya?" godanya.


Tiba-tiba dia menundukkan kepala dan mengulurkan tangannya menunggu izinku dan menjabat tangannya.


Bagaimana bisa aku tidak tertawa dibuatnya. Dengan kekehan yang tak kutahan, aku pun menerima uluran tangannya yang terlapis sarung tangan berwarna hitam.


"Dengan senang hati, My Lord."


...~•~...


Satu hari yang lalu....


"My Lord, ada sebuah surat yang terkirim untuk anda," ujar seorang pelayan yang tergopoh-gopoh datang memberikan sebuah surat yang ditujukan untuk majikannya.


"Dari siapa?"


"Dari Lady Cassandra, My Lord."


Lantas pria itu langsung mengambil surat itu dan membukanya. Matanya berlari mengikuti huruf-huruf yang tertulis di atas permukaan secarcik kertas yang tipis.


Teruntuk ayah.


Maaf jika tidak mengabarimu lebih cepat, Ayah. Untuk sekarang, sepertinya aku tidak bisa kembali. Karena aku harus menyelesaikan permasalahan yang terjadi di wilayah Marquess tentang air sungai mereka yang keruh.


Akan memakan waktu beberapa hari, namun aku akan segera menyelesaikannya. Mohon pengertiannya, Ayah.


^^^Tertanda,^^^


^^^Cassandra la Devoline.^^^


Pria itu lantas langsung meletakkan kertas itu ke permukaan meja kerjanya, dia memaklumi bahwa putrinya tersebut pasti saat ini tengah berusaha untuk menyelesaikan tugasnya.


Namun yang selalu menjadi hal janggal di pikirannya adalah tentang lelaki bersurai pirang yang akhir-akhir ini selalu berada di dekat putrinya.


Entah apa yang dipikirkannya tentang lekaki itu, saat ini wajahnya memperlihatkan ekspresi dingin dan datar.


Tak lama dari itu pandangannya kembali tertuju pada sebuah bingkai kecil berisi lukisan yang selalu ingin dia buang dan bakar hingga musnah. Namun anehnya, dia sama sekali tidak bisa melakukannya.


Terdapat seorang wanita di dalam lukisan itu. Rambut panjang coklatnya bergelombang, wajah lembutnya yang tengah tersenyum, membuatnya muak dan selalu membuat dirinya kehilangan kendali akibat dilingkari emosi yang menggunung.


Satu hal yang paling ia benci, dia selalu melihat bayangan wanita itu di dalam diri putrinya.


...~•~...


"Semua bahannya telah didapat?" tanya seorang gadis yang tengah sibuk mendorong sebuah drum yang digulingkan dan diputar menuju tempat yang telah diinginkan.


"Ya, seluruhnya sudah didapat. Sepertinya jumlahnya cukup untuk sementara," jawab lelaki yang menjadi lawan bicaranya.


Gadis tadi tersenyum dan mengangguk. Tak lama dari itu pun dia kembali mendorong drum yang lainnya.


"Kau tidak perlu melakukan semua ini, kau cukup duduk santai saja," celetuk sang lelaki melipat kedua tangannya di depan dada.


"Apa yang menyenangkan dari itu? Bekerja bersama-sama adalah hal yang paling menyenangkan, apa kau tahu?" balas gadis bersurai coklat itu.


Mereka telah memberitahukan kepada seluruh penduduk untuk membersihkan air yang kotor.


Saat ini mereka baru saja melakukan persiapan, seperti mencari bahan-bahan yang digunakan untuk proses penyaringan, lalu meletakkan drum beserta bak untuk dirapikan, dan banyak lagi.


Lelaki itu sempat membuat lengkungan tipis di bibirnya ketika melihat gadis yang tengah dipandangnya tersebut tertawa ringan dan tersenyum ketika berinteraksi dengan penduduk-penduduk di wilayah lain.


Namun tak lama dari itu, lengkungan di bibirnya memudar ketika pria lain mendekati gadis itu dan sok akrab dengannya.


Sontak dia langsung berdiri, dan menghampiri gadis itu. "Biar aku saja yang memindahkan drum itu," ujarnya pada pria yang ingin membantu gadis berhelai coklat itu.


"Tidak perlu. Kau bisa membantu mengangkat karung yang berisi kerikil di sana," tunjuk gadis itu ke arah sekumpulan pria yang tengah mengangkat karung-karung yang berisi kerikil, batu, pasir, dan banyak lainnya. "Sepertinya mereka membutuhkan bantuan."


Seakan ditolak mentah-mentah ketika tengah menyatakan perasaan, lelaki itu merasakan kesal yang amat dan rasa malu menusuk dalam dirinya.


Tatapan menyalang dan menusuk terlempar ketika wajah tenangnya berubah menjadi dingin. Karena kesal namun tak bisa tersampaikan, dia pun langsung pergi begitu saja secara cepat.


Bahkan ketika dia mendekati para kumpulan penduduk yang tengah mengangkat karung-karung itu, para penduduk dibuat terkejut dan kagum dibuatnya.


Walaupun masih dalam umur remaja, lelaki itu dapat mengangkat enam karung di pundaknya.


Ketika telah menaruh benda tersebut ke tempat yang semestinya, dia secara kasar membantingnya membuat seluruh pandangan menuju ke arahnya karena terkejut dan heran.


Namun lelaki beriris biru itu tidak menghiraukan, dan terus melakukan hal yang sama secara berulang.


Sontak gadis bernetra coklat yang sedari tadi menatap seluruh pergerakan lelaki bersurai pirang itu mengernyit bingung. "Ada apa dengannya?" gumamnya menaikkan alis sebelah.


Namun dia tak ingin berpikir terlalu panjang karena sekarang dia tengah sibuk.


Akhirnya setelah cukup lama melakukan persiapan, semuanya telah selesai. Gadis itu kemudian menunjukkan bagaimana caranya menyaring air yang kotor itu.


Pertama, gadis itu menuangkan air kotor itu ke dalam bak berisi batu kali yang bertugas sebagai pengendap. Kedua, dia pun menuangkan air yang sebelumnya telah dimasukkan bak pertama ke dalam sebuah drum yang telah diisi ijuk, pasir halus, arang tempurung kelapa, kerikil, dan batu.


Dalam sekejap para penduduk terkagum ketika air yang telah disaring tersebut menjadi jernih seperti semula sebelum sungai mereka tercemar.


Mereka pun mengikuti cara yang sama seperti yang telah diajarkan dan dipraktekkan oleh gadis itu.


Gadis itu tersenyum ketika melihat seluruh usahanya berhasil. Banyak penduduk yang beramai-ramai melakukan pekerjaan secara bersama-sama.


Namun tak lama dari itu, dia pun terperangah ketika sebuah pakaian terlempar padanya. Sontak dia menangkap pakaian itu dan melihat sang pelaku.


Lelaki bersurai pirang yang menjadi pelaku tersebut melipat kedua tangannya di depan dada dengan dagunya yang terangkat angkuh.


"Cuci pakaianku."


...08.02.2021...