
Previously....
Tak lama dari itu, pangeran Yari berdiri dan mulai menghadap ke samping kanannya. Telunjuknya kini mengarah ke arah gadis berhelai coklat mencapai paha dengan iris yang seirama dengan surainya.
"Penyihir yang menyamar... adalah Countess la Devoline, Yang Mulia."
...~•The Atrocious Duke's Wife•~...
...Chapter...
...(46)...
Cassandra membelalakkan matanya ketika kata itu baru saja terucapkan. Tubuh gadis itu bergetar, dan tatapan matanya tak bisa tenang. Namun, tentu itu hanyalah sebuah kepalsuan.
Ternyata, rencananya selama ini berjalan sesuai perkiraan. Gadis berhelai coklat itu memang berencana membuat pangeran Yari menuduhnya.
Karena apa?
Cassandra telah mengetahui sifat mutlak dari manusia sampah, yaitu membawa kesalahan musuh ketika orang tersebut telah diakui bersalah.
Atau, manusia sampah juga akan balas dendam dengan memanfaatkan aib atau rahasia musuhnya ketika dirinya telah kalah telak.
Beberapa hari lalu, tidakkah kalian penasaran bagaimana bisa Cassandra membuat dirinya terlihat seperti penyihir sungguhan di mata pangeran Yari?
Marilah kita kembali ke masa itu.
Flashback on
Ketika hendak melangkah pergi dari ruangan itu, Cassandra telah siap dengan cairan kental berwarna hitam yang terdapat di dalam sebuah pil berbentuk bulat.
Cairan kental itu hanyalah pewarna semata yang terkandung di sebuah pil yang mudah pecah ketika digenggam dengan sangat erat.
Di saat pisau pangeran Yari melayang, Cassandra langsung mengelak karena gadis itu memiliki reflek yang bagus berkat usahanya empat tahun lepas dan berakhirlah pisau itu menyayat lengan kanannya.
Gadis bernetra coklat itu terpikir akan sesuatu, sehingga dia langsung menggenggam pil berisi pewarna hitam tersebut hingga hancur dan warnanya menyebar kemana-mana.
Cassandra menempelkan pewarna itu dari telapak tangan kirinya menuju lengan kanannya yang terluka sehingga darahnya yang berwarna merah tidak terlihat lagi.
"Apa maksudnya ini, Yang Mulia?" Cassandra menggeram dengan nada kesal sembari menatap nyalang pangeran Yari.
"Tidak ada. Aku hanya ingin menguji kemampuanmu untuk menjadi bawahan ku," jawab pangeran Yari santai.
"Baiklah, sepertinya Anda telah mendapatkan jawabannya." Cassandra pun mendesis kemudian keluar dari ruangan pangeran Yari.
Gadis itu memelankan langkah kakinya, karena ia bisa merasakan kehadiran seseorang di belakangnya. Cassandra pun berpura-pura menoleh ke kanan dan ke kiri.
Tapi hanya kepalanya saja yang bergerak ke kanan dan ke kiri, tidak dengan pandangan matanya.
Iris beserta pupilnya justru melihat dalam diam keberadaan pangeran Yari di belakangnya yang tengah menguntitnya secara diam-diam.
Gadis itu justru terpikir akan sesuatu, sehingga dia langsung berlari secara kencang.
Tak lama, Cassandra pun akhirnya keluar dari markas pangeran Yari. Namun, gadis itu mengetahui bahwa pangeran Yari masih mengikutinya hingga dia terhenti sembari berdiri menyerong ke kanan.
Gadis bersurai panjang itu sengaja memperlihatkan lengan kanannya yang berlumuran cairan kental hitam untuk mengelabui pangeran tersebut.
Tanah yang Cassandra pijak berbentuk tidak rata. Sehingga ia pun mulai mengambil bom asap dari kantongnya dan langsung menghasilkan asap yang tebal dari benda tersebut.
Dengan cepat, gadis itu pun melompat ke bawah karena tanah yang ia pijak tidaklah rata. Hingga dirinya pun melompat dari daratan tinggi ke dataran rendah dengan laju dan berakhir berlari secepat mungkin agar tidak ketahuan.
Flashback off
Cassandra langsung berlari ke depan raja Hamilton dan bersujud. "Semua itu fitnah, Yang Mulia!! Saya hanya manusia!! Ampuni saya, Yang Mulia!!"
"Omong kosong macam apa ini?! Tidak mungkin Countess adalah penyihir. Ini suatu fitnah, Yang Mulia!!" teriak Arlen mulai ikut memainkan perannya.
Suasana menjadi sangat mencekam, tidak ada yang berani bersuara ketika kecemasan menghampiri semua orang itu kecuali pangeran Yari dan kedua orang yang tengah bersandiwara tersebut.
"Karena ini adalah perkataan dari seorang pangeran, maka aku akan mempertimbangkannya. Aku tentu tak bisa mengabaikan keselamatan penduduk-pendudukku," ujar raja Hamilton tegas.
"Tidak mungkin... saya tidak bersalah, Yang Mulia! Ini semua adalah fitnah!" sergah Cassandra. "Saya tidak tahu bagaimana Yang Mulia Pangeran berkata seperti itu, namun saya bukan penyihir!"
Hingga akhirnya, para bangsawan pun kini menatap tak percaya Cassandra. Mereka memberikan tatapan menghina dan jijik terhadap gadis itu.
Para bangsawan tidak menyangka ternyata Countess itu adalah mahluk hina yang selama ini menyamar di antara mereka.
"Kalau begitu, bisakah kau menjelaskan kenapa kau sangat nekat meyakinkan Erosphire untuk berperang dengan Nephorine? Kenapa... tiba-tiba kau bisa berpikir seperti itu? Apa alasan di balik semuanya?" Pangeran Yari menekan sembari menatap tajam Cassandra.
Gadis itu pun terpelotot dan tertunduk menghadap ke lantai yang beralaskan karpet merah elegan panjang di bawahnya. "I-itu...."
"Mungkinkah tujuan sebenarmu adalah, untuk menghancurkan dan memusnahkan seluruh prajurit kerajaan Erosphire di tangan kerajaan Nephorine agar kau dengan mudah bisa menyerang kerajaaan ini saat lengah?" ujar pangeran Yari menyudutkan.
Semua orang semakin tidak percaya pada gadis itu karena perkataan pangeran Yari yang cukup meyakinkan.
Raja Hamilton pun semakin ragu dibuatnya, sehingga pria berumur itu pun ingin mengambil keputusan yang paling bijak.
"Yang Mulia. Saya ragu akan semuanya, haruskah kita juga menginterogasi Countess beserta Viscount la Devoline untuk menyelidiki masalah ini?" saran pangeran Yari.
Raja Hamilton kembali berpikir. Untuk berjaga-jaga, keputusan itu cukup layak untuk dipertimbangkan.
"Baiklah, kita akan menginterogasi Countess dan Viscount untuk mencari kebenaran dari masalah ini. Kirim prajurit ke kediaman Viscount la Devoline. Dan penjaga, bawa dia ke ruang bawah tanah," titah raja.
Kedua penjaga yang awalnya berdiri di samping raja, kini langsung berjalan dan menahan kedua lengan Cassandra kemudian hendak menyeretnya.
"Tidak! Saya dan ayah tidak bersalah...! Ini adalah fitnah, mohon kebijakan Anda, Yang Mulia...!! Saya hanyalah manusia! Percayalah pada saya...! Yang Mulia!!!"
Gadis bersurai panjang coklat tua itu berteriak putus asa, dengan air mata uang telah membanjirinya ketika para penjaga dengan kasar berusaha menyeretnya keluar dari ruangan yang dipenuhi hawa mencekam.
Ada yang menatap iba, namun ada yang melayangkan tatapan jijik.
Arlen pun kembali menyergah sehingga perhatian semua orang berlabuh di lelaki bersurai pirang itu.
"Pembuktian! Saya meminta pembuktian!" Lelaki beriris biru itu menunduk di hadapan raja Hamilton dengan alis berkerut.
"Bukankah penyihir memiliki darah berwarna hitam? Untuk itu, kita bisa melakukan pembuktian apa Countess benar penyihir atau tidak," ucap Arlen lantang.
Raja Hamilton lantas menghentikan kedua penjaga yang awalnya ingin menyeret Cassandra keluar menggunakan isyarat tangan.
Tak lama dari itu, kedua penjaga tersebut berhenti menarik kedua lengan putih milik gadis itu.
Pangeran Yari sempat berdecak, namun tak lama pangeran itu kembali tersenyum kemenangan. Percuma saja, karena dirinya telah mengetahui apa warna darah Countess itu sehingga ia tak perlu khawatir.
"Kalau begitu, kita buktikan sekarang juga. Agar tidak ada lagi keraguan bagi yang hadir di ruangan ini," perintah raja Hamilton kemudian memberi aba-aba pada salah satu penjaga di sebelah Cassandra untuk melakukan pembuktian.
Cassandra melipat bibir sembari menutup kelopak matanya, dirinya sudah mempersiapkan ini. Rasa sakit tidak akan mengganggunya lagi.
Pedang itu pun seakan terlihat tidak sabaran lagi untuk melaksanakan tugasnya, hingga akhirnya penjaga itu pun menyayat tangan kiri Cassandra cukup dalam.
Suasana sangat hening dan mencekik sejenak. Hingga dalam sekejap, penjaga tersebut melototkan matanya dan langsung berdiri kemudian menunduk.
"Darahnya berwarna merah, Countess adalah manusia!"
"APA?!!" Pangeran Yari tak percaya dan berteriak lantang. Membuat semua orang pun tak percaya dan tatapan tajam terlayang pada pangeran itu.
"INI TIDAK MUNGKIN!! JIKA DIA BUKAN PENYIHIR, LALU DARIMANA DIA MENGETAHUI SEGALA RENCANAKU?!"
"Rencana? Rencana apa yang kau maksud, Pangeran Yari?"
Seketika perhatian langsung tertuju pada sosok yang mendadak muncul di pintu masuk aula istana. Ialah pangeran Darren. Bersama dengan seseorang di sebelahnya yang tentu sangat dikenali oleh pangeran Yari.
Dalam seketika, pangeran Yari tertegun ketika mendapati kehadiran sosok lelaki di samping adiknya tersebut. Itu adalah pangeran Naelson!
Di balik tangis palsunya, Cassandra tersenyum puas ketika melihat raut wajah tertegun milik pangeran Yari secara diam-diam.
Bahkan dapat gadis itu lihat kekasihnya yang berada cukup jauh dari hadapannya, melukis senyum yang sama.
Cassandra telah menunggu kehadiran pangeran Darren sedari tadi, untuk mengungkapkan segala kelicikan pangeran Yari dengan membawa pangeran Naelson dari Kerajaan Nephorine ke sini.
Ya, sejak saat di mana pasukan Nephorine dimakan habis oleh pasukan Erosphire, pangeran Naelson murka pada pangeran Yari hingga memutuskan kesepakatan mereka.
Kemarin, pangeran Darren telah memberitahu rencananya pada Cassandra dan Arlen untuk membujuk pangeran Naelson untuk bekerja sama dengan mereka dan mengungkap segala keburukan pangeran Yari.
"Pangean Darren?! Apa tujuanmu dengan membawa pangeran Naelson kemari?!" tanya raja Hamilton sedikit murka.
"Sebelumnya maaf atas kehadiran tak diundang saya yang secara mendadak. Namun tujuan saya di sini, hanyalah ingin mengungkapkan kebenaran di antara saya dan Pangeran Yari," cecar pangeran Naelson.
Pangeran Yari mengigit bibirnya dengan sangat keras hingga darah hampir menetes dari bibirnya. Tangannya terkepal sangat kuat.
Kenapa semuanya menjadi seperti ini?! Dia ingat persis bahwa Countess itu memiliki darah berwarna hitam. Lalu kenapa sekarang semuanya berbeda?!
Jika pangeran Naelson memberitahu segala kesepakatan di antara mereka yang sempat tercipta, maka dirinya mana hancur saat ini juga.
"Kebenaran antara kau dan Pangeran Yari? Apa maksudmu Pangeran Naelson?" Raja Hamilton bertanya dengan nada sarkas.
Pangeran Yari melototkan matanya, seakan tahu bahwa dirinya akan berakhir di sini.
"Sebelumnya. Saya pernah mebuat kesepakatan dengan Pangeran Yari. Pangeran Yari akan memberikan sebagian harta kerajaan Erosphire, jika saya membunuh segala prajurit kerajaan Erosphire kemudian berpura-pura menyerah di saat akhir sehingga pangeran Yari bisa bertindak menjadi pahlawan yang akan menjadi pemimpin negeri ini," papar pangeran Naelson.
Raja Hamilton tertegun ketika mendengar semua itu. Namun belum hanya itu, karena masih ada kebenaran lain yang harus disampaikan oleh pangeran Naelson.
"Tidak hanya itu. Untuk melancarkan rencana kami, Pangeran Yari memberitahu segala strategi kerajaan kalian kepadaku agar aku bisa dengan mudah membunuh pasukan-pasukan kalian," imbuh pangeran Naelson.
"Suatu tindakan fitnah dan usaha pemberontakan, ini semua sangat memalukan dan tak dapat diterima! Mohon Yang Mulia mengambil keputusan yang tepat!" Arlen berlutut dengan kaki kanannya yang ditekuk.
Tak lama, para bangsawan lain pun ikut berlutut. "Mohon kebijakan anda dalam menghadapi tindakan kejahatan ini, Yang Mulia!!"
"BERANI-BERANINYA KAU, PANGERAN!!!" murka Raja Hamilton membuat pangeran Yari bersujud.
"Aku tidak bersalah, Yang Mulia! Ini semua adalah fitnah! Aku tidak pernah melakukan itu! Percayalah padaku!!" Pangeran itu memohon sembari meraih kaki ayahnya. Seluruh harga dirinya seakan jatuh dari langit dan hancur berkeping-keping.
"Penjaga! Tangkap peng--"
"Yang Mulia!!"
Suatu suara menyela perintah sang raja, membuat semua orang berbondong-bondong mencari keberadaan asal volume itu terpancar.
Tak perlu dicari, sosok yang sebelumnya berteriak melengking itu langsung berjalan menuju ke hadapan raja dengan sendirinya.
"Veronica?!" Raja Hamilton terkejut ketika mendapati putrinya tersebut.
Veronica melipat bibirnya kemudian berusaha berani menatap tatapan yang dilemparkan ayahnya padanya.
Cassandra pun menatap misterius Veronica. Tidak disangka ternyata putri bungsu kerajaan Erosphire itu akan menunjukkan dirinya.
Apa semuanya akan kembali berjalan sesuai perkiraannya?
Gadis bersurai hitam legam itu sempat menatap nanar kakaknya yang tengah bersujud memohon ampun itu.
"Saya... ingin membuat pengakuan, saya memohon izin dari Anda, Yang Mulia." Veronica membungkuk sembari melebarkan rok gaunnya.
"Apa yang ingin kau katakan, Putriku?" tanya raja Hamilton.
Veronica pun menghembuskan napas panjangnya dengan tubuh yang bergetar, kemudian ia pun mendongakkan kepalanya dan berkata dengan lantang.
"Saya juga, ikut terlibat dalam tindakan Pangeran Yari!" tegasnya.
Raja Hamilton benar-benar terkejut akan seluruh peristiwa yang terjadi di hari ini, bagaimana bisa ternyata kedua anaknya berkhianat pada dirinya secara bersamaan seperti ini?
"Oleh karena itu, hukumlah saya juga. Saya juga bersalah dalam hal ini. Saya berdosa! Dan tak pantas dimaafkan!"
Veronica tertunduk di hadapan ayahnya itu. Dirinya tak sanggup lagi menahan segala dosa yang ia lakukan selama ini. Gadis tersebut ingin menerima hukuman yang setimpal dengan perbuatan buruknya.
"Tidak itu saja. Ada orang lain di sini yang sebenarnya telibat dalam aksi pemberontakan ini! Dialah yang menyusun segala rencana yang membuat kakak memberontak!"
Cassandra tersentak, sudah dia duga. Memang ada dalang lain di balik ini, gadis bernetra coklat itu hanya bisa berharap bahwa Veronica akan mengungkap identitasnya.
"Siapa dia, Veronica?!" teriak raja Hamilton.
Veronica menjatuhkan air matanya dengan isak tangis. Dirinya harus mengungkap segala kejahatan ini sampai akar-akarnya.
"Dia...."
Gadis itu tersendat-sendat dengan tangisnya yang semakin kencang. Semua orang semakin ingin tahu nama yang akan tersebut dari bibir kecil putri bungsu kerajaan Erosphire tersebut.
"Dia...!"
Veronica berusaha mengumpulkan segala napasnya yang terasa sesak. Gadis itu langsung terjatuh ke tanah karena tak kuat menahan massa tubuhnya lagi.
Dengan telapak tangan yang menutup wajahnya dan tangisnya yang semakin kencang karena frustasi.
Telunjuk jari kanan gadis itu terarah pada seorang lelaki yang tengah berdiri di ruangan itu membaur bersama bangsawan-bangsawan lain.
"Dia adalah... Count Frostend Beronald."
...03.04.2021...