
Previously....
Suara pintu yang berderit, menjadi menutup. Gadis itu melepas kaitan rambutnya yang membentuk kepangan, kemudian dia pun kembali menatap ke arah luar jendela.
Langit yang berwarna kemerahan, cahaya matahari petang yang hangat. Gadis itu pun terduduk di kursi yang menempel di jendela itu.
Ia menyandarkan dan menempelkan kepalanya pada kaca jendela, kemudian tertunduk sehingga helai rambutnya terjuntai menutupi setelah wajahnya sembari berbisik.
"Aku merindukanmu."
...~•The Atrocious Duke's Wife•~...
...Chapter ...
...(29) ...
Beberapa hari kemudian, terdengar ada sebuah kelompok penyerbu yang mengancam ketenangan penduduk wilayah Countess Cassandra la Devoline.
Mereka tak segan-segan mengambil harta, makanan, dan barang-barang lainnya yang memiliki nilai jual.
Tentu saja kabar itu telah sampai ke telinga Cassandra, yang mana membuat gadis itu langsung bertindak cepat.
Saat kelompok penyerbu itu tengah berpisah menjadi dua bagian dan mulai merampok seluruh kota, dengan cepat para pasukan Cassandra langsung menyerbu.
Gadis itu juga turun tangan dibuatnya, dia menangkap pimpinan mereka dan membawanya ke sidang pengadilan yang berada di wilayahnya.
Di sinilah mereka, di sebuah ruangan yang terdapat sepasang meja dan kursi penghakiman yang diduduki oleh seorang Countess muda berbalut banyak prestasi akhir-akhir ini.
Pemimpin kelompok penyerbu itu bersimpuh kedua kaki dengan lilitan tali yang membekap tangan beserta badannya hingga dia tak bisa bergerak.
Gadis berhenti coklat itu bertopang dagu di tangan kursi sembari menatap pendosa di hadapannya. "Katakanlah, apa yang membuatmu harus mencuri dan menyakiti wargaku?"
Seorang wanita yang menjadi pemimpin di kelompok itu hanya diam tak membalas, membuat Cassandra berdecak kesal.
Brak!
"Sebaiknya cepat kau buka mulutmu atau para anak itik yang selalu mengikutimu itu akan aku kuliti satu per satu," hardik gadis itu menghentakkan kepalan tangannya di atas permukaan meja.
Wanita tadi langsung mendongak dan menatap nyalang Cassandra, namun gadis itu tampak biasa sembari menunggu balasan dari sang lawan bicara yang sedari tadi membisu.
"Jangan berani-beraninya kau menyentuh mereka," ketus wanita itu menekankan perkataannya.
"Oleh karena itu cepatlah jawab pertanyaanku," balas Cassandra dingin.
Pemimpin kelompok itu tampak berpikir sejenak, kemudian menjawab secara terpaksa. "Kami adalah penduduk desa Cermony, desa yang telah lama menghilang. Pendudukku tak memiliki lahan untuk menanam bahan pokok, juga tidak memiliki peternakan untuk menernak hewan," terangnya menggantung.
Dia pun tertunduk, sedangkan Cassandra masih diam mendengarkan secara seksama.
"Pendudukku kelaparan dan tak memiliki sepeser pun uang, sehingga kami memutuskan untuk merampok warga anda," lanjut wanita itu dengan nada bergetar. "Dan semua ini karena putra mahkota brengsek itu...," gumam wanita itu penuh kebencian.
Cassandra masih bisa mendengarnya, dan dapat dia lihat raut wajah pemimpin kelompok penyerbu itu tampak dipenuhi oleh bara api kebencian yang mendalam.
"Di mana kalian tinggal sekarang?" tanya gadis bergelar Countess itu.
"Kami tinggal di pesisir pantai yang cukup jauh dari sini."
"Lalu bagaimana jika ada ombak besar yang menerjang?"
"Kami terpaksa harus berpindah ke hutan agar tidak seorang pun yang menyadari kehadiran kami."
Lagi-lagi, Cassandra hanya diam sembari berpikir. Tak tahu apa saja hal yang tertimbun di dalam benak gadis itu.
Tak lama, gadis itu pun berkata tentang sesuatu dengan sangat pelan pada pengawal yang berada di dekat dan di sampingnya.
"Kumohon... kau bisa menyakitiku, tapi jangan sakiti mereka. Mereka hanyalah penduduk malang yang selalu hidup dengan kekurangan. Aku tidak sanggup melihat mereka terus tersakiti...," lirih wanita itu dengan tangisan yang mulai turun mengalir.
Gadis berhelai coklat yang masih dalam setelan rapi seorang bangsawan itu pun mulai mendekati wanita yang ada di hadapannya, kemudian memegang pundak wanita itu secara pelan.
Sontak, wanita yang menjadi ketua kelompok penyerbu itu terperangah dan mendongak memandang gadis bangsawan yang tengah berdiri sedikit membungkuk di hadapannya.
"Siapa namamu, jika aku boleh tahu?" tanya Cassandra dengan tangannya yang mulai menjelajahi kerah baju leher pemimpin kelompok tadi.
Wanita tadi seakan terhipnotis akan pandangan lembut namun dingin Cassandra. Lantas, dia pun menjawab dengan jujur tanpa sadar.
"J-jeanne... My Lady...," jawabnya terbata tanpa sadar.
"Begitu." Cassandra pun kembali berdiri tegak dan berjalan mendekati pengawal yang sejak tadi telah berdiri di sebelah kursinya.
"France," panggilnya. Pengawal gadis itu yang sedari tadi kini menunduk dan menjawab panggilan majikannya.
"Ya, My Lady Countess?"
"Bawa wanita ini ke tempat di mana biasanya kita mengurung tahanan. Setelah itu pindahkan anak buahnya yang lain ke tempat di mana aku tak bisa lagi melihat wajah mereka. Jangan biarkan mereka kembali mengancam ketenangan pendudukku," titah gadis itu kemudian meninggalkan ruangan itu.
Jeanne langsung berteriak tak terima dan terus berusaha memberontak ketika para pengawal lain mulai menyeretnya keluar dari ruangan itu.
"Kau tak bisa melakukan itu pada mereka...! Ku camkan padamu, kau tak bisa melakukan ini pada mereka!!"
Tak peduli seberapa besar teriakan yang terlontar dari bibir wanita itu, Cassandra hanya berjalan keluar dengan tenang tampak tak menggubris satu pun jeritan histeris yang menggema.
Dari kejauhan dan tak terlihat, terdapat sosok yang diam-diam tersenyum menyeringai. Sosok itu kemudian langsung pergi dari sana tanpa disadari oleh siapapun.
Kecuali satu orang.
...~•~...
Pada malam hari yang tenang, diiringi dengan suara jangkrik yang mengisi kehampaan langit malam, seperti biasa seorang gadis tengah duduk di bawah terpaan sinar bulan yang memukau.
Gadis itu memang gemar duduk di taman belakang kediamannya menikmati angin malam yang menghembuskan nafas mereka dan menerpa kulit putihnya.
Selama empat tahun ini, keraguannya tak pernah berubah terhadap sahabatnya yang satu itu. Di satu sisi, dia berusaha sangat keras untuk percaya pada sahabatnya. Sedangkan di sisi lain, ia selalu takut bahwa sahabatnya itu kelak akan mengkhianatinya.
Karena merasa letih akibat rasa keraguan yang berkepanjangan, gadis berhelai emas itu pun mendorong nafas lelah keluar dan berusaha untuk tenang.
Namun ternyata tidak seperti dugaan, tiba-tiba kehadiran sesosok berjubah kembali datang mengunjungi gadis itu.
"Kali ini apalagi? Apa kau tidak lelah mengunjungiku terus menerus? Lagipula, sebenarnya siapa kau?" tanya gadis itu bertubi-tubi pada sosok yang mulai duduk di sebelahnya.
"Kau selalu saja berpikiran negatif padaku. Tidak bisakah kau menganggapku sebagai orang yang baik?" balas sosok itu.
"Bagaimana bisa di saat kau selalu menutupi wajahmu dan bertindak seperti sosok aneh yang selalu mengusikku setiap malam," sinis Anastasia.
"Baiklah. Jika kau tidak nyaman, aku tidak akan mengganggumu lagi."
Gadis itu menolah ke samping menatap sosok yang berbalutkan jubah hitam itu. "Maksudmu?"
"Seperti yang kubilang. Aku tidak akan mengunjungimu lagi mulai sekarang."
"Baguslah kalau begitu," kata Anastasia bersedekap.
"Tapi, aku akan memberitahumu satu hal terakhir." Sosok itu menggantungkan perkataannya membuat Anastasia ingin tahu.
"Apa?" tanya gadis itu tak bisa membendung rasa penasarannya.
Sosok berjubah itu sontak berdiri sehingga jubahnya melayang tertiup angin malam yang menyejukkan tulang.
Kemudian dia pun mendekatkan bibirnya ke telinga Anastasia. Seketika, gadis itu membulatkan mata saat mendengar perkataan sosok itu untuk yang terakhir kalinya.
"Calon tunanganmu dan sahabatmu... diam-diam saling memadu kasih sejak lama."
...~•~...
Gadis itu tampak menunggu kehadiran seseorang sedari tadi, dan dia sudah mulai mengantuk.
Namun penantiannya tak berujung sia-sia, karena sosok yang ia nantikan telah berada tepat di hadapannya.
"Kau habis pulang dari kediaman Lady Anastasia lagi?" tanya gadis itu.
Seorang lelaki yang tadinya memakai selembar jubah hitam kini melepaskan benda itu dari tubuhnya hingga surai coklat mudanya terpampang indah.
Wajah tampannya yang membuat para nona-nona mabuk asmara kini terlihat di hadapan gadis yang diam-diam menyimpan sebuah rasa terpendam pada lelaki itu.
"Begitulah. Tapi pada akhirnya, perempuan bodoh itu masih saja ragu. Dia seperti anak kecil yang masih labil untuk membuat keputusan. Membuatku sangat kesal," papar lelaki itu kemudian menyisir helai coklat mudanya dengan kasar menggunakan jari.
"Kenapa kau berbuat senekat ini? Sebenarnya apa yang membuatmu memiliki dendam seperti ini padanya?" tanya gadis berhelai hitam itu.
"Bukankah aku sudah memberitahukannya padamu? Tak usah berlagak tidak tahu," sinis lelaki itu.
"Tapi kenapa? Tidak bisakah kau membiarkan semuanya berlalu dan melangkah menuju kehidupan yang lebih baik? Kau tahu bukan? Bahwa aku selalu ada untuk mendukungmu di setiap kondisi," papar gadis itu memegang tangan lelaki yang ada di hadapannya dengan wajah memelas.
Dia tidak ingin lelaki yang ia sukai kembali terjerumus terlalu dalam ke jurang kebencian.
"Jadi maksudmu aku harus merelakan perempuan jal*ng itu berbahagia sementara aku menderita dalam diam? Omong kosong apa yang berusaha kau bicarakan sedari tadi?" ketus lelaki itu langsung melepaskan cekalan gadis di hadapannya.
Gadis itu terdiam, kemudian tertunduk. Dia tidak tahu harus bagaimana lagi sekarang, ia hanya ingin orang yang disukainya menjadi pribadi yang lebih baik.
Tidak terus berputar di lingkaran kemarahan yang menyesatkan seumur hidup.
"Perempuan jal*ng itu sangat bodoh. Dia bahkan tidak menyadari bahwa selama ini surat yang ia kirimkan pada kekasih tercintanya itu telah kubaca tanpa sepengetahuannya," imbuh lelaki itu.
Gadis itu masih saja diam, mendengarkan seluruh perkataan lelaki yang ia sukai itu.
"Kau teruskan saja bujukanmu terhadap kakak pertamamu itu. Dengan begitu kita bisa membunuh Duke Floniouse yang menyebalkan itu dengan menggunakannya sebagai raja Erosphire yang selanjutnya," perintah lelaki itu menatap langit bertaburan bintang yang ada di atasnya.
Gadis itu tetap terdiam, sekarang lautan kebimbangan menerjangnya dengan sangat kuat.
Alat timbang antara keegoisan dan rasa realistisnya kini berbobot seimbang. Sehingga jika sedikit saja dari dua rasa itu berlebih, maka salah satu sisi dari keduanya akan menang.
"Lalu teruslah menggali informasi sebanyak mungkin dari perempuan itu, agar kita bisa mengalahkannya dengan mudah." Lelaki itu berkata kemudian menjadi dekat ke arah sangat gadis.
Diraihnya sejumput helai hitam legam yang mengkilap itu kemudian menciumnya penuh kelembutan.
Telapak tangannya kemudian meraih pipi sang gadis lalu ibu jarinya mengelus tulang wajahnya penuh kelembutan yang mampu membuat hati siapa saja meleleh.
"Setelah kita memenangkan segalanya, aku akan berusaha menerimamu dalam hatiku. Aku masih memiliki tempat di hatimu, bukan?" tanya lelaki itu menatap lembut sang gadis yang terdiam.
Tak lama, gadis itu pun menghela nafas berat. Kemudian dia pun mendekap sang lelaki sembari menatap langit dengan tatapan penuh keyakinan.
"Baiklah, jika itu bisa membuatmu jatuh ke dalam pelukanku, maka aku akan melakukan apapun," ujar sang gadis penuh keyakinan.
Lelaki itu pun membalas pelukan gadis yang tengah mendekapnya erat tersebut kemudian mengelus pucuk kepalanya dengan sangat pelan.
Tanpa sepengetahuan gadis itu, diam-diam lelaki itu tersenyum menyeringai di balik dekapan penuh palsu di antara mereka.
...~•~...
"Lepaskan aku!"
Sebuah teriakan tak terima menggema di penjara bawah tanah yang minim akan cahaya matahari itu.
Bahkan udara di dalamnya terasa menyesakkan, dan mencekik tenggorokan seperti pertanda yang mengantar rasa penderitaan.
"Kau tidak dengar?! Lepaskan aku! Di mana kalian menaruh rakyat-rakyatku?!"
Jeanne tak henti-henti memberontak dan berusaha melepaskan dirinya dari lilitan tapi tebal yang mengekang tubuhnya.
"Tenanglah dulu, Nona. Kami tidak akan menyakitimu!" ujar France sedikit kesal karena Jeanne tak bisa diam sedari tadi.
"Di mana mereka?! Kalian tak bisa menyakitinya, atau aku akan membunuh kalian semua!"
Tak lama, akhirnya mereka pun sampai di sebuah sel. France pun langsung menjebloskan wanita itu ke dalamnya.
Dia pun mulai memotong dan melepaskan tali itu melepaskannya. Ketika tali itu terlepas, Jeanne hendak langsung melarikan diri namun dengan cekatan France langsung menahannya.
"Astaga, Nona! Tenanglah dulu, kamu tidak akan menyakitimu begitupun rakyat-rakyatmu!" sergah lelaki itu mulai kesal.
Ketika mendengar itu, Jeanne langsung terdiam dan mulai tenang. Dia pun kembali terduduk di lantai yang dingin.
"Kalian tidak akan menyakitinya...?" ulangnya memastikan.
"Tentu saja. Lagipula, My Lady tidak se-jahat yang kau kira. Beliau adalah perempuan yang sangat baik dan perhatian." France menghela nafas kemudian merogoh sakunya.
Dalam sekejap, sebuah kantung kecil berisi koin emas yang cukup banyak terlempar tepat di depan Jeanne.
"Lady Countess bahkan memberikan ini untukmu, dia bilang bahwa dia berduka cita atas bencana yang menimpa desa kalian," papar France membuat Jeanne terperangah.
Wanita itu tak bisa menyembunyikan ekspresi terkejutnya, matanya membola besar dengan mulut yang menganga.
"Setelah itu pindahkan anak buahnya yang lain ke tempat di mana aku tak bisa lagi melihat wajah mereka. Jangan biarkan mereka kembali mengancam ketenangan pendudukku."
"Countess bermaksud untuk memindahkan rakyatmu ke tempat yang lebih layak. Sehingga kalian tak perlu lagi melakukan kejahatan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari kalian," terang France.
Tanpa sadar, air bening mengalir dari pelupuk mata Jeanne. Dia tidak menyangka, bahwa Countess itu ternyata orang yang sangat baik hati.
"Tapi... kenapa gaya berbicaranya seolah-olah bahwa dia adalah orang jahat?" tanya wanita itu masih kebingungan.
"Itu adalah hal yang menjadi milik Lady Countess, tidak ada yang tahu hal itu. Awalnya aku juga mengirim bahwa beliau adalah perempuan yang egois. Namun setelah aku bekerja dengannya cukup lama, aku menyadari bahwa Countess adalah perempuan yang sangat baik," cecar France kembali mengingat masa lalu.
Jeanne terdiam, menatap lelaki di hadapannya itu. France pun merasa tidak nyaman ketika ditatap seperti itu, sehingga dia pun berdehem.
"Coba kau periksa dirimu. Apakah ada sesuatu?" ujar lelaki itu membuat Jeanne bingung.
"Sesuatu apa?" tanya wanita itu.
"Sudahlah periksa saja," kata France membuat Jeanne mengangguk.
Lantas wanita itu memeriksa dirinya dan mulai mencari sesuatu yang aneh. Setelah ia mendapat sesuatu yang lancip di kerah bajunya, dia pun langsung menariknya.
Jeanne pun mulai membaca tulisannya dengan rasa kebingungan. Untung saja dia bisa membaca, sehingga dia pun bisa mengetahui apa yang ingin disampaikan oleh Countess itu.
...--π--...
Kudengar desamu dihancurkan oleh Putra Mahkota. Yang kau maksud adalah Pangeran Yari, bukan? Kebetulan sekali, aku ingin meminta bantuanmu kali ini.
Aku ingin bekerja sama denganmu, apa kau bisa? Tentu saja sebagai imbalan, aku akan membuat hidupmu dan rakyat-rakyatmu tercukupi.
Beberapa hari lagi, akan ada seorang pria berambut pirang dan matanya berwarna biru seperti langit. Dia adalah Duke Arlen de Floniouse, dia akan membahas tentang kerjasama yang akan terjalin di antara kita.
Jangan sampai surat ini diketahui oleh orang lain, karena nyawa rakyat-rakyatmu ada di tanganku.
Kuharap kau bisa bekerja sama dengan kami.
^^^-C.^^^
...--π--...
Jeanne lantas sangat kebingungan dibuatnya, kenapa Countess itu harus memberinya surat secara sembunyi-sembunyi seperti ini jika ingin bekerja sama?
Sebenarnya apa yang akan dilakukan oleh Countess itu?
...23.02.2021...