
KARYA INI HANYA FIKSI. NAMA, TOKOH, PERISTIWA, TEMPAT, HANYALAH KHAYALAN SEMATA. HARAP PEMBACA BIJAK DALAM MENANGGAPI.
"Kau mengirim pahlawan mu itu untuk menembus pertahanan utama kami? Apa kau berniat membunuh kartu As kerajaan kalian, Pangeran?"
Terdapat dua pria yang kembali berbincang tentang kesepakatan dan rencana yang telah mereka susun dengan berhati-hati.
Pria bersurai hitam yang tengah melipat tangannya itu pun mengangguk pelan. "Karena dia bisa saja mengacaukan rencanaku, dan aku tak ingin mengambil resiko."
"Namun, bukankah dengan begitu kau malah menyia-nyiakan sosok yang sangat berharga di kerajaanmu?"
Pria itu tersenyum remeh seraya menyesap teh yang ada di genggamannya. "Sosok yang sangat berharga? Dia tidaklah lebih hanyalah sebuah pion yang kapan saja bisa dibuang saat tidak berguna lagi," ucap pria itu meremehkan.
"Pfft! Kalau memang seperti itu, maka kami tidak akan ragu lagi untuk melenyapkannya," jawab pria bersurai coklat muda tak bisa menahan kekehan yang terlayang dari bibirnya.
"Namun, tetaplah pada rencana awal kita. Seusai kau menghabisinya, maka suruhlah pasukanmu untuk menyerang dua wilayah tak terlindung kami," titah pria bersurai hitam itu. Tatapannya mulai serius dan menyeramkan.
Pria bersurai coklat yang menjadi lawan bicaranya tetap tenang dengan kekehan kecil yang masih setia menemaninya. "Kau tenang saja, aku adalah orang penepat janji. Aku akan merelakan pasukan tidak bergunaku itu untuk menjadi batu loncatanmu."
"Heh. Ternyata kau adalah orang berhati dingin, Pangeran Naelson," sindirnya secara halus.
Pria bersurai coklat yang kerap bernama Pangeran Naelson itu melempar senyum. "Ini demi kebaikan kerajaanku sendiri. Rakyat tidak berguna yang bisanya hanya memakan tempat itu lebih baik kulenyapkan saja semua," jawabnya dengan enteng.
"Kalau begitu kuharap kau menepati janjimu, Pangeran."
"Kau juga, Pangeran terhormat."
...🥀...
Terdapat dua manusia yang tengah melakukan pertimbangan di ruangan ini saat ini.
Lebih tepatnya, pihak pria yang terus meragukan pihak wanita yang tengah nekat melakukan sesuatu yang hendak dilakukannya.
Padahal rencana yang mereka berdua ciptakan ini telah disetujui oleh kedua belah pihak, namun pihak pria tetap tak bisa menghilangkan rasa khawatirnya dan tak terimanya.
"Apa kau yakin melakukan ini?" tanya Arlen melihat Cassandra yang tengah siap-siap melakukan misi rahasia yang hanya mereka berdua yang tahu.
Sebuah tudung yang menutupi pucuk kepala dan menjuntai di punggung hingga ujung kakinya pun telah terpasang sempurna di tubuh rampingnya.
Cadar yang telah tergantung di atas daun telinganya bertugas untuk menutupi setengah wajah cantiknya hingga orang lain tak bisa mengetahui dan mengenalinya.
Rambut panjangnya pun kini ia ikat agar tidak menganggu aktivitasnya.
"Aku sangat yakin. Kau tenang saja, sudah keberapa kalinya kau menanyakan hal itu?" jawab Cassandra tersenyum manis agar pria yang ada di hadapannya ini dapat mempercayainya sepenuhnya.
"Bagaimana jika kau berada dalam bahaya? Bagaimana cara aku mengetahuinya? Dan bagaimana aku akan menyelamatkanmu?" tanya Arlen bertubi-tubi.
Cassandra tersenyum. "Aku pasti bisa melakukannya. Kau cukup lakukan bagianmu saja. Apa kau tak mempercayaiku?"
Pria bersurai pirang itu tampak menghembuskan nafas. "Tentu saja aku percaya padamu, tapi ini terlalu berbahaya. Kau sebenarnya tak perlu melakukan ini, kau cukup duduk sambil menungguku. Kumohon, biarkan aku saja yang menyelesaikan semua ini. Biarkan aku melindungimu," paparnya tapi tak cukup untuk membuat Cassandra mengurungkan niatnya.
"Kau bilang kau ingin melindungiku, kalau begitu aku juga ingin melindungimu. Lagipula, aku juga tidak bisa diam di sini dan hanya bisa menunggumu begitu saja, aku bukanlah tipe orang seperti itu," balasnya sambil menatap intens pria itu.
"Aku juga ingin berjuang, aku ingin melindungimu, aku ingin menyelamatkanmu, meskipun aku harus membahayakan diriku. Oleh karena itu, kau juga harus melakukan hal yang sama sepertiku."
"Bukankah setiap manusia harus saling membantu dan saling melengkapi?" ujarnya menampilkan senyumnya.
Pria bersurai pirang itu bergeming, yang dia lakukan hanyalah menatap wanita yang tengah berada di hadapannya.
Sebuah kekehan kecil kini mulai terdengar sedikit berhasil meringankan suasana di antara mereka.
"Bukankah aku yang kemarin sangat khawatir terhadap perang kali ini? Namun, kenapa sekarang malah kau yang sangat khawatir tentang hal ini?" ujar wanita itu dengan kekehan yang setia menemani untuk meringankan suasana.
"Itu karena kau keras kepala. Di saat wanita lain berusaha menghindari bahaya, kau justru mendekatinya," celetuk pria itu dan Cassandra mulai memanyunkan bibirnya.
"Itu karena aku adalah wanita petualang. Jika aku harus memilih antara hidup biasa yang selalu tenang dengan hidup penuh tantangan dan penuh resiko, maka aku akan memilih pilihan yang kedua," paparnya berbangga diri dengan melipat kedua tangannya di depan dada.
"Apa kau tengah memuji dirimu sendiri?"
"Aku tidak memuji diriku sendiri, aku hanya mengatakan fakta," ujar wanita itu menutup kedua kelopak matanya dan masih setia dengan senyum bangganya.
Arlen hanya bisa diam dan menghembuskan nafas pelan di kala ia mendapati wanita yang berada di hadapannya ini ternyata memiliki tingkat kenarsisan yang lumayan tinggi.
Cassandra tersenyum. "Jadi, karena aku adalah wanita petualang, aku tak ingin dikekang. Aku tak ingin dipaksa hanya untuk diam seperti burung di dalam sangkar emas. Aku ingin menjadi burung yang terbang bebas di luasnya langit biru."
"Ternyata kau juga pintar dalam membuat kata-kata," puji Arlen.
"Benarkah? Padahal itu hanyalah sebuah kata yang terbuat secara sontak karena kata itu cocok untuk mewakilkan apa yang kurasakan."
"Namun--"
Ucapan pria itu terputus di kala Cassandra menempelkan jari telunjuknya di bibir pria itu.
"Percayalah padaku," ucap wanita itu meyakinkan.
Arlen menggenggam telapak tangan Cassandra sambil mengeluskan telapak tangan yang halus itu pada pipi nya dan rahangnya yang tegas.
"Sejak kapan kau menjadi sangat pemberani seperti ini?" bisiknya.
Seketika rona merah merambat di area tulang pipi wanita bersurai coklat itu, ia kemudian menarik pelan telapak tangannya. "K-kau juga. Sejak kapan kau mendadak bersikap lembut seperti ini?" gagapnya seraya memalingkan wajahnya.
Entah kenapa, dia jadi malu sendiri.
"Bukankah aku sudah bersikap seperti ini sejak dulu?"
Wanita itu masih memalingkan wajahnya berusaha untuk menghilangkan rona wajah nya.
"Aku jadi tidak sabar memilikimu sepenuhnya," ujar Arlen santai namun sangat cukup membuat rona wajah yang hampir hilang kini makin menjadi-jadi.
"Dasar mesum! Aku pergi dulu!" sebal Cassandra memukul dada bidang yang keras itu lalu melangkah pergi dengan cepat.
Tentu saja pukulan tersebut sama sekali tidak menyakitkan bagi pria yang memiliki kulit kebal itu.
Namun langkah wanita itu mesti terhenti karena pergelangan tangannya yang dicekal.
Arlen menarik wanita itu untuk menghadapnya, menyingkirkan helaian rambut yang menutupi dahi wanita itu lalu tanpa ragu mengecupnya singkat.
Senyum tipis ia lukis dan ia layangkan pada wanita di hadapannya itu.
"Berhati-hatilah."
Cassandra sempat terperangah sejenak seraya mendongakkan wajahnya karena pria itu lebih tinggi darinya. Namun selang beberapa detik, dia menyadari tatapan itu.
Air mukanya meneduh di kala ia mendapati seseorang yang dengan tulus khawatir tentang keselamatannya.
Senyum penuh keyakinan terulas di wajah cantiknya yang sayu.
"Pasti."
...🥀...
Hening, ditambah dengan dinginnya udara yang sangat mendukung suasana mencekam ini.
Semua orang yang tengah berada di ruangan ini telah mempersiapkan diri masing-masing untuk menjalankan dan menyelesaikan tugas yang diberikan kepada mereka.
Tampak seorang pria bersurai pirang berkilau, mata tajam yang ber iriskan biru langit yang jernih, badan yang tegap dan tinggi, serta armor yang telah membaluti seluruh tubuhnya dengan pedang panjang yang masih berada di dalam sarungnya bertengger di pinggang bagian kanannya.
Sebuah jubah merah yang menjuntai dari bahu hingga menyeret lantai itu membuat tampilannya tampak lebih berwibawa dan gagah.
Dengan keyakinan teguh yang telah ia mantapkan di dalam dirinya, kini pria tersebut telah bersiap untuk menghadapi apa yang harus di hadapi oleh dirinya sendiri.
"Kau sudah bersiap, Duke Floniouse?" tanya sang Pangeran yang menjadi komando dari perang kali ini, Pangeran Yari.
"Ya, Yang Mulia," ujarnya singkat dan tegas. Setia dengan tatapan dinginnya yang seakan menelisik pikiran siapa saja yang menjadi lawan bicaranya.
"Baiklah, kami serahkan semua ini padamu. Nasib kerajaan Erosphire berada di tanganmu. Kami menaruh seluruh harapan kami padamu, Duke."
"Baiklah, Yang Mulia. Hamba akan segera membawa kemenangan untuk Kerajaan Erosphire, walau harus mempetaruhkan nyawa saya," tegasnya sambil bersimpuh dengan kaki kanan yang ditekuk seraya tangan kanan yang ia posisikan di dada kirinya.
Semua ucapan yang ia layangkan dan lontarkan, bukanlah sebuah formalitas dan bualan semata.
Semua itu adalah keyakinan yang berasal dari lubuk hatinya yang dalam. Ia akan berusaha memenangkan peperangan kali ini.
Ia akan berusaha dengan sepenuh jiwa dan raganya untuk mendapatkan kemenangan.
Ia harus melindungi kerajaan tempat ia lahir dan bertumbuh, ia akan melindungi orang yang ingin ia lindungi.
Ia harus memastikan orang yang ia cintai selamat walau luka dan perjuangan besar akan menghambat dan menghalangi jalan yang ia pilih.
Walaupun kemenangan itu mustahil, ia akan terus menggapainya hingga kemustahilan itu berubah menjadi kemungkinan.
...🥀...
"Semuanya bersiaplah dalam posisi, kita akan segera berangkat ke tujuan. Ingat, tetaplah pada formasi awal kita," titahnya dan dengan patuh prajurit yang menjadi pengikutnya di perang kali ini mengangguk setuju.
Terdapat seekor kuda berkulit hitam yang akan menjadi kendaraan nya pada pertarungan kali ini telah berdiri setia menunggu sang penunggang untuk mengendalikannya.
Saat sang pemimpin yang menjadi tuan dari kuda itu ingin menaiki punggungnya, tiba-tiba gerakannya terhenti di kala ia mendengar seseorang yang memanggil namanya dari arah belakang.
Lantas, pria bersurai yang sudah dilengkapi armor di tubuhnya itu menaikkan alisnya lalu menoleh ke arah yang menjadi tujuannya.
"Duke!" panggil Marquess Houbatten seraya mendekat ke arahnya.
"Ada apa, Marquess?" tanya Arlen secara sopan.
"Saya hanya ingin mengucapkan, semoga anda bisa memenangkan pertarungan kali ini, karena hanya andalah satu-satunya harapan kami saat ini." Marquess Houbatten mengulas senyum lemah di wajahnya.
Terdapat sebuah harapan yang ia tujukan pada Arlen melalui raut wajahnya yang penuh keyakinan.
"Ya, aku akan berusaha sebaik mungkin. Aku akan berjuang untuk memenangkan peperangan kali ini, demi negeri kita."
"Baiklah. Kuharap kau dapat menjaga dirimu, agar kau bisa kembali ke pelukan orang yang ingin kau lindungi," ungkap Marquess Houbatten seraya menepuk pelan pundak Arlen berupaya memberikan semangat.
Senyum tipis terlukis mulus di wajah pria bersurai pirang itu. "Terimakasih, Marquess."
"Oh iya, dimana pengawal yang selalu menemanimu beberapa hari ini? Kalau tidak salah, Carla? Benarkah?" tanya Marquess Houbatten ketika pria berumur itu tidak mendapati sosok yang selama ini sering ia lihat.
"Dia saat ini tengah menjalankan sebuah tugas. Dia tidak ikut denganku."
"Benarkah? Baiklah kalau begitu." Marquess Houbatten mengangguk-anggukan kepalanya.
Tak lama dari itu, kini Marquess Houbatten menolehkan kepalanya kekanan dan kekiri tampak bingung akan sesuatu yang menurutnya agak ganjal.
Kebingungan pun kini menghampirinya dan tanpa ragu, ia pun bertanya kepada sosok yang berada di hadapannya.
"Duke. Bukankah anda diberikan 20.000 prajurit oleh Yang Mulia Pangeran? Tapi kenapa saya lihat, prajurit anda saat ini sangat sedikit?" tanyanya bingung dengan matanya yang sibuk berkelana kesana-kemari melihat jumlah Prajurit yang ada di sekitarnya.
"Itu karena saya telah menyusun strategi saya sendiri. Sisa prajurit yang tidak ada di sini, sudah saya atur sesuai dengan rencana saya," jelas Arlen.
"Kalau begitu, berhati-hati lah, Duke. Karena selain mengharapkan kemenangan, kamu juga mengharapkan kehadiranmu yang membawa kabar gembira ini nanti."
Arlen hanya mengangguk menanggapi kata-kata Marquess Houbatten yang tengah memberikan semangat kepadanya.
Marquess Houbatten lalu melangkah menjauh meninggalkan Arlen yang tengah berdiri didampingi kuda yang berada tepat di sampingnya.
Arlen mengelus singkat rambut kasar kudanya tersebut lalu melebarkan kakinya dan langsung melompat ke atas punggung kuda itu.
Wajahnya berubah menjadi serius, tatapan tajam kini menyalang ke depan. Dengan cepat, kudanya pun menapakkan kaki kecil namun kuatnya ke tanah yang dipenuhi kristal halus lalu berlari membawa sang penunggang menuju ke tempat tujuan.
Helaan nafas terhembus dari mulutnya sehingga terdapat uap yang melayang pertanda bahwa cuaca sangat dingin dan sejuk.
Dengan menembus arus angin kencang yang berlawan arah dengan tujuannya, pria itu seperti kilat yang melaju cepat dengan kuda yang tengah membawa bobot tubuhnya.
Butiran dingin yang halus dan indah itu selalu menyertai setiap langkah yang ia lewati menuju pertarungan yang tidaklah mudah.
Hawa yang dapat membekukan apa saja sedari tadi tak berhenti berusaha untuk menggapai dan menusuk-nusuk kulitnya yang terbalut armor yang keras dan kokoh.
Seraya menuju ke tempat yang telah ditimbun dan diselimuti oleh putihnya es halus yang sebentar lagi akan dihiasi dengan noda merah yang tergenang, pria itu tak bisa melepaskan sesosok wanita dari pikirannya.
Sosok wanita dengan surai coklat tuanya yang panjang dan bergelombang, netra teduh yang seirama dengan surainya, dan bibir semerah apel menggoda yang mengulas sebuah senyuman penuh keyakinan.
Pria itu bergumam mencurahkan sesuatu yang telah lama hinggap dan terpendam di dalam lubuk hatinya.
"Aku mencintaimu."
^^^I Become Wife of the Atrocious Duke^^^
^^^03 Desember 2020^^^