
Previously....
Senyum menawan yang selalu lelaki itu layangkan, membuat jantungnya seakan ingin lepas dari tempatnya. Napasnya tercekat, seakan perasaan asing yang menekan perutnya kini naik dan menahan napasnya yang ingin keluar.
"Anastasia Emerald... menikahlah denganku."
...~•The Atrocious Duke's Wife•~...
...Chapter ...
...(41) ...
Beberapa hari kemudian setelah itu, pasangan Count dan Countess Emerald telah sedikit tenang ketika mendengar penjelasan dari sang putri mereka tentang lamaran yang disampaikan kepada putri mereka.
Anastasia sempat kewalahan menjelaskan semuanya kepada orang tua nya yang sangat heboh ketika lamaran dari seorang bagian dari keluarga kerajaan tertuju kepadanya.
Saat ini, keluarga Emerald tengah berada di ruang makan untuk menjalankan kewajiban makan siang mereka.
Anastasia tampak fokus dengan makanannya, saat ia mendongak, gadis itu sedikit bingung dengan tatapan tak biasa dari kedua orang tuanya.
"Ayah, Ibu. Apa kalian ingin mengatakan sesuatu? Berhentilah menatapku seperti itu." Gadis bersurai emas itu menghela nafas.
"Tidak, kami hanya bingung, Ana. Kenapa kau malah menggantungkan kepastian terhadap pangeran Darren? Apa kau tak takut dia tersinggung?" tanya sang Ibu.
Itu benar, setelah pangeran Darren melamar Anastasia, gadis itu bingung harus menjawab apa. Sehingga dia ingin meminta waktu menjawab pertanyaan --atau lebih tepatnya pernyataan-- dari pangeran Darren.
Tentu saja dirinya bingung. Meskipun Anastasia sadar bahwa dia memiliki sedikit rasa suka terhadap pangeran. Tapi... apa rasa suka yang sedikit itu cukup untuk meyakinkannya menikahi seorang pangeran?
"Lalu aku harus bagaimana, Ibu? Tidak mungkin aku harus menjawab ya begitu saja. Aku harus memikirkan dan mempertimbangkan seorang lelaki yang akan menemaniku untuk seumur hidup," balas Anastasia masih bingung.
Count dan Countess Emerald saling melempar pandangan, sebenarnya mereka sangat senang jika putri mereka menerima lamaran dari seorang pangeran.
Karena jika putri mereka menikahi pangeran, keluarga mereka juga yang akan dibawa tinggi namanya. Namun, mereka juga tidak ingin memaksa jika putri mereka tidak menginginkan pernikahan ini.
"Baiklah, jika itu yang kau mau. Ayah dan Ibu akan menghargai dan mendukung segala keputusanmu," ucap sang ayah pengertian.
Anastasia tersenyum ketika orang tuanya sangat memahami keputusannya. Gadis itu merasa seakan dirinya adalah anak yang paling beruntung karena memiliki orang tua seperti ayah dan ibunya.
"Terima kasih, Ayah, Ibu."
...~•~...
Terdengar suara ketukan di pintu ruang kerja seorang gadis yang tengah berkutat dengan kertas berisikan strategi yang ia buat secara bersama-sama selama ini. Dia ingin memeriksa kembali, dan berusaha menemukan sebuah kesalahan yang mungkin terlewatkan dalam rencana mereka.
Namun ketika irisnya bergerak fokus mengikuti huruf dan gambar, suara ketukan barusan membuat semua perhatiannya terbuyar.
Ia sedikit mendengus kesal, namun tak lama dari itu dirinya mempersilakan seseorang yang mengetuk masuk.
"Masuk," perintahnya dengan mata yang kembali fokus ke peta yang ada di bawahnya. Tangannya pun mulai menambahi beberapa coretan di atas kertas berisi informasi tata letak wilayah tersebut.
Pintu berderit, menandakan bahwa ada seseorang yang mendorongnya. "Maaf menganggu waktu anda, My Lady. Namun, Viscount la Devoline telah menunggu di ruang tamu dan ingin berbicara dengan anda."
Cassandra mendongak, dan pergerakan tangannya terhenti begitu mendengar nama itu. Tak lama, gadis berhelai coklat itu mengepalkan tangannya kuat.
"Suruh dia masuk ke sini untuk menemuiku," titah gadis itu tak terbantahkan.
Pelayan tadi menunduk hormat, kemudian kembali menjalankan tugasnya. "Baiklah, My Lady."
Cassandra mengemas berbagai barang yang berserakan di atas permukaan mejanya, lalu gadis itu pun duduk di sofa yang ada di ruangannya.
Untuk apa ayahnya kemari? Memang beberapa waktu lepas, ayahnya sempat mengunjunginya dan mengatakan bahwa pria itu merasa bangga kepada dirinya yang berhasil mendapatkan gelar Countess atas usahanya sendiri.
Tak bisa dipungkiri, waktu itu Cassandra memang bahagia dibuatnya. Dan tatapan yang ayahnya layangkan benar-benar asli, tidak ada kebohongan. Ayahnya benar-benar mengapresiasi kerja kerasnya.
Namun tentu hal itu belum bisa mengobati segala sayatan yang ayahnya ciptakan di hatinya dikarenakan perbuatan ayahnya waktu itu.
Di mana dirinya selalu dipaksa untuk menjadi putri yang penurut, putri yang selalu patuh, dan putri yang akan selalu diam mengikuti segala keinginan ayahnya.
Cassandra tetap tak bisa menghilangkan kenangan buruk itu semua. Bahkan bekas luka akibat perkataan dan perlakuan kasar ayahnya masih menjerat hatinya seperti duri yang lancip.
"Selamat siang, Countess."
Sapaan itu membuatnya tertarik dari genangan lamunan yang melarutkan Cassandra dalam benaknya, sehingga gadis itu langsung menarik nafas.
"Tak perlu formal seperti itu, Ayah."
Gadis bernetra garnet itu mencoba tersenyum manis, posisi duduknya yang sopan. Tangannya pun menunjuk ke arah kursi sofa di hadapannya mempersilakan ayahnya untuk duduk.
"Kudengar, Ayah ingin bicara denganku? Bagaimana jika Ayah duduk terlebih dahulu?"
Christone menatap putrinya yang tengah berbicara dengan nada lembut, kemudian duduk di sofa yang telah disediakan oleh putrinya.
"Oh iya! Aku lupa! Aku akan membawakan beberapa kudapan untuk Ayah--"
"Tidak perlu, Cassandra. Tidak perlu," potong Viscount itu menahan putrinya yang ingin beranjak berdiri.
Cassandra terhenyak, namun tak lama dari itu dia kembali pada posisi awalnya. Dirinya tak tahu kenapa tiba-tiba menjadi gugup dalam seketika seperti ini.
"Apa ini alasan kenapa kau selalu menolak lelaki bangsawan yang Ayah pilihkan padamu? Karena kau menyukai Duke Floniouse?"
Gadis itu tersentak sejenak, apa ayahnya akan melarang segala tindakannya lagi seperti dulu?
"Ya, Ayah." Cassandra mencoba untuk tenang.
Cukup lama mereka terdiam. Christone menatap putrinya dalam cukup lama, hingga akhirnya pria berumur itu menunduk sembari saling menggengam kedua tangannya. "Dengar, Cassandra.... Ayah, ingin minta maaf padamu."
Cassandra menatap kosong. Cahaya di dalam bola matanya meredup, dan senyum manis yang sebelumnya terbentuk kini memudar.
"Kenapa Ayah meminta maaf--"
"Ayah...! Ingin meminta maaf atas segala perbuatan ayah kepadamu. Ayah tahu kau tidak akan memaafkan Ayah atas semua perbuatan Ayah selama ini. Tapi, Ayah tetap ingin meminta maaf kepadamu."
Pria bergelar Viscount hampir saja menjatuhkan sebulir air dari matanya, tapi dia tetap tangguh untuk menahannya mengingat harga dirinya sebagai seorang pria.
"Ayah... selama ini takut, bahwa kau akan bernasib sama seperti Ayah," ujar Christone menatap sendu putri semata wayangnya itu.
Cassandra masih diam, dia ingin mendengar segala yang ingin dikatakan ayahnya.
"Ayah ingin bercerita akan sesuatu denganmu, kuharap kau tidak bosan mendengarnya," imbuh pria itu.
"Dulu sekali... ada seorang pria bangsawan yang mendapat cinta dari seorang wanita bangsawan yang statusnya lebih tinggi darinya."
"Namun pria itu menolak lamaran dari wanita bangsawan itu, karena ada orang lain di hatinya. Pria itu ternyata mencintai wanita dari kalangan rakyat jelata, dan bertekad ingin menikahi wanita itu."
"Keluarganya, tentu saja menolak keputusan bodoh yang dibuat pria itu. Orang bodoh mana yang menolak seorang wanita bangsawan demi seorang wanita dari kalangan rakyat jelata?"
"Tapi cinta membutakan pria itu. Pria itu menentang keluarganya, dan menikahi sang wanita dengan rasa cinta yang menggebu di hatinya."
"Awalnya, semuanya membahagiakan. Mereka hidup bahagia. Walaupun sang wanita tak bisa melakukan apapun untuk membantu sang pria dalam pekerjaannya, tetap saja pria itu merasa puas akan kehadiran sang wanita yang ia cintai di sisinya."
"Tak lama dari itu, dinyatakan bahwa wanita itu hamil. Kabar itu tentu sangat membahagiakan sang pria karena wanita itu mengandung anaknya. Hari demi hari, pria itu selalu menemani sang wanita yang tengah mengandung anaknya dan berusaha menuruti seluruh keinginannya."
"Anak pertama mereka pun lahir, dan ternyata anak pertama mereka adalah perempuan. Dan anak tersebut sangat mirip dengan ibunya."
"Pria itu mulai menyayangi istri dan anaknya segenap hatinya, dia memberikan segala yang diinginkan dan dibutuhkan oleh keluarga kecilnya. Sampai ada hal yang membuat pria itu hancur terjadi."
Cassandra dapat melihat berbagai ekspresi yang ayahnya tunjukkan sembari menceritakan segala kisah itu. Sedari tadi, gadis itu hanya diam mendengarkan secara seksama.
Tapi siapa sangka... ternyata gadis itu merasakan berbagai perasaan yang diombang-ambing dalam hatinya.
Christone mengerutkan alisnya berusaha untuk melanjutkan cerita yang tengah ia sampaikan. Pria itu ingin menyampaikan semuanya hingga tak ada lagi yang tersisa.
"Saat itu, putrinya baru berusia dua tahun. Gadis itu masih sangat polos, suci, dan membahagiakan. Dengan senyum manisnya yang selalu menyertainya... pria itu merasa senyum yang dilayangkan putrinya dapat menghilangkan kelelahannya sehabis bekerja."
"Pria itu... mendapati istrinya tengah bercumbu dan bercinta dengan pria lain yang bekerja sebagai tukang kuda di kediamannya."
Cassandra merasa aneh, kenapa cerita ini sangat menusuk hatinya? Padahal sebelumnya, dia sudah banyak membaca kisah cinta yang lebih tragis dari ini.
Bahkan pahatan wajah ayahnya saat ini menyatakan hal yang sangat menyakitkan.
"Lantas, pria itu langsung memergoki mereka dan menampar sang istri. Seluruh pengorbanannya untuk istrinya tersebut, seolah-olah seperti bongkahan sampah di mata istrinya. Tak berharga sama sekali."
"Malam itu juga, sang pria langsung memerintahkan bawahannya untuk membunuh tukang kuda itu. Istrinya marah besar, dan memaki-maki pria itu karena telah bertindak kejam menurut istrinya."
"Pria itu merasakan seolah-olah hatinya dipotong berkeping-keping, ketika tatapan kebencian yang terlayang dari istrinya tertuju jelas kepadanya."
"Istrinya berkata, bahwa dia menikahi pria bangsawan itu karena terpaksa. Istrinya mengatakan bahwa pria itu hanyalah alat, agar istrinya tersebut bisa hidup bahagia dengan memakan seluruh hartanya."
"Karena mendapatkan pengkhianatan besar setelah melakukan usaha keras, pria itu tidak bisa berpikir jernih dan langsung mengusir sang istri dari rumahnya. Wanita itu akhirnya pergi, setelah puas memaki-maki suaminya dan pergi begitu saja tanpa peduli akan keadaan putrinya."
Setelah beberapa saat, akhirnya Cassandra seperti tersadar akan sesuatu. Oleh karena itu, dia berniat memotong perkataan ayahnya. "Ayah... jangan bilang...."
Gadis berhelai coklat itu langsung membungkam mulutnya dengan airmata yang mulai terjun menyusuri pipinya ketika melihat senyum getir yang ayahnya tampakkan.
"Itu benar, Putriku. Pria itu... adalah Ayah," aku Christone berusaha tersenyum.
Cassandra tak bisa menahan tangisnya lagi, jadi selama ini ayahnya benar-benar mengalami kisah tragis itu? Ayahnya benar-benar mengalami pengkhianatan yang sangat dalam seperti itu?
Bagaimana bisa... ada seseorang yang membalas pengorbanan seseorang dengan pengkhianatan? Manusia macam apa mereka itu...?
"Oleh karena itu, Cassandra. Ayah selalu mendidikmu secara keras, dan selalu ingin kau menikahi seseorang yang pantas bersanding denganmu. Ayah... tidak ingin kau menyia-nyiakan hidupmu demi cinta yang siap menikammu kapan saja," jelas Christone mengusap kepala putrinya.
Tangis Cassandra retak, dan tak lama dari itu gadis itu langsung berlutut di lantai dan memeluk sang ayah yang tengah duduk di atas sofa.
"Kenapa...? Hiks.... Kenapa Ayah tidak memberitahukannya dari awal...?! Kenapa Ayah, kenapa?!!"
"Maaf... maafkan Ayah. Dulu Ayah berpikir, bahwa kau tidak perlu tahu cerita menyedihkan itu. Namun... pada akhirnya, Ayah tetap harus mengatakannya."
"Ji.. jika saja Ayah memberitahuku dari awal, aku mungkin... hiks... tidak akan membenci Ayah! Aku mungkin...tidak akan menderita karena perlakuan kasar Ayah! Karena jika Ayah memberitahuku dari awal, aku akan mengerti kekhawatiran Ayah terhadapku...!" teriak Cassandra tersendat-sendat.
Namun walaupun begitu, gadis itu tetap ingin mengungkapkan segalanya.
"Maaf... Ayah salah. Tolong maafkan Ayah... namun ketahuilah, Cassandra. Ayah... sangat menyayangimu lebih dari apapun di dunia ini. Karena kau... adalah putri Ayah...."
Gadis berhelai coklat itu semakin mendekap erat sosok pria yang telah menyakiti sekaligus menyayanginya di dekapannya itu, dan tanpa sadar dia merasa sangat bahagia ketika mendengar semuanya.
Saat ini dia tidak peduli... meskipun ayahnya mungkin membohonginya, dia tidak peduli. Namun... jika ayahnya memang benar-benar jujur, maka dirinya tentu bahagia.
Yang terpenting saat ini... Cassandra tidak akan melakukan sesuatu yang mungkin akan menghancurkan rencananya menuju akhir bahagia.
Maaf... satu kata itu cukup mencabut duri tajam yang melilit hatinya selama ini.
"Cassandra juga... menyayangi Ayah."
...~•~ ...
"Karena tiga hari lagi kita sudah memulai aksi kita, alangkah baiknya kita mengulang kembali segala rencana yang kita susun."
Sebuah rumah yang terletak di desa Cermony, menjadi tempat perkumpulan ketiga manusia itu.
"Itu benar, terutama tugas Duke Floniouse adalah memimpin pasukannya menerobos pertahanan utama Nephorine, bukan?" tanya Pangeran Darren memastikan.
"Ya, itu benar, Yang Mulia. Dan tugas anda adalah berusaha semaksimal mungkin untuk tidak terbunuh dan membunuh musuh sebanyak mungkin," jawab Cassandra.
"Apa kau meremehkanku, Countess?" Pangeran Darren menukikkan alis sembari bersedekap.
Cassandra terkekeh. "Jangan terlalu serius, Yang Mulia. Saya hanya bercanda."
"Itu benar. Jangan terlalu serius atau anda akan cepat mendapat kerutan, Yang Mulia." Arlen menambahi sembari merangkul kekasihnya yang duduk di sampingnya.
Pangeran Darren hanya mendengus memaklumi pasangan kekanakan di hadapannya ini.
Padahal di pembicaraan orang-orang di Erosphire, Countess la Devoline dan Duke Floniouse adalah orang yang sangat serius dan hampir tak pernah tersenyum.
Namun siapa sangka, ternyata rumor memanglah rumor. Pangeran Darren mengalami hal itu.
"Baiklah, baiklah. Sudah cukup bercandanya," lontar Cassandra kemudian membuka gulungan peta di atas permukaan meja kayu di hadapan mereka.
"Ini adalah peta di sekitar pertahanan utama Nephorine. Di sebelah kiri, akan ada dataran tinggi yang mana akan kita isi dengan pemanah seperti yang aku bilang," tunjuk gadis itu pada bagian yang telah ia lingkaran.
Pangeran Darren dan Arlen menatap seksama kemana jari telunjuk yang lentik itu mengarah.
"Sementara di tengah, diisi oleh Arlen dan pasukannya. Dan di sekitar wilayah Erosphire, kita akan menempati pasukan Pangeran Darren beserta pasukan dan Yang Mulia Raja untuk melindungi kerajaan."
Saat kembali ingin menjelaskan, tiba-tiba saja kehadiran Jeanne menjadi pemotong perkataan gadis itu.
"Maaf mengganggu, tapi karena merasa tidak enak, aku jadi membuatkan beberapa kudapan untuk kalian," ujar wanita itu menaruh senampan minuman dan makanan.
"Terima kasih, kebetulan sekali kau di sini. Kau harus mendengarkan karena kau juga bagian dari rencana ini," kata Cassandra.
"Baiklah, Countess," jawab Jeanne.
Tak butuh waktu lama lagi, gadis berhelai coklat itu kembali menjelaskan seluruh langkah-langkah yang akan mereka tempuh.
"Setelah waktunya tepat, kita akan melemparkan bom asap sebanyak mungkin ke arah pasukan musuh yang ada di pertahanan utama, setelah itu pasukan penduduk Cermony datang menyergap dan membantu pasukan Arlen mengalahkan musuh yang memiliki jumlah banyak di pertahanan utama."
"Jadi kau menggunakan pemanah itu hanya sebagai pengalih Pangeran Yari?" terka Pangeran Darren.
Cassandra mengangguk. "Ya, seperti yang saya bilang sebelumnya, Pangeran."
"Di rapat kemarin, kau bilang akan memimpin pasukan pemanah? Bukankah kau bilang bahwa kau harus menyamar untuk mengelabui Pangeran Yari?" potong Arlen.
Cassandra tersenyum tipis, sudah pasti Arlen akan menanyakan itu. "Sebenarnya, aku ingin menambahkan sedikit bumbu pedas."
"Bumbu pedas?" Pangeran Darren dan Jeanne mengucapkannya bersamaan karena bingung.
"Tapi untuk itu, aku perlu seseorang untuk menggantikanku sebagai pemimpin pasukan pemanah," terang Cassandra menghela nafas. "Aku sudah mencari berbagai bantuan dari orang yang kukenal, tetapi tidak ada yang ingin membahayakan nyawanya dalam perang."
"Namun untuk apa, Countess? Jika kau memang tidak bisa menjadi pemimpin pemanah karena kau harus menyamar di saat yang sama, kenapa kau malah menawarkan diri?" tanya Pangeran Darren.
"Dengan begitu, Pangeran Yari akan benar-benar percaya bahwa saya adalah penyihir yang asli, Yang Mulia, " jawab Cassandra.
"Sudah pasti Pangeran Yari akan menculik saya sebagai pemimpin dari pasukan pemanah, oleh karena itu saya harus mencari pengganti. Jika Pangeran Yari menangkap orang yang salah, otomatis dia akan mengira bahwa saya memang benar-benar penyihir bawahan anda yang menyamar untuk menghasutnya di waktu yang sama," imbuh gadis itu.
Ya, sejak awal mereka telah mendiskusikanya. Mereka akan sengaja membuat Arlen sebagai penyihir palsu yang berpura-pura membantu kerajaan Nephorine.
Sementara mereka sengaja akan membuat Cassandra sebagai penyihir yang asli.
Karena di dalam rapat sebelumnya Cassandra sangat terlihat membela pangeran Darren, sudah pasti Pangeran Yari akan mengira bahwa Cassandra adalah bawahan Pangeran Darren.
Mereka sengaja ingin membuat pangeran Yari percaya bahwa Cassandra adalah penyihir untuk rencana terakhir mereka.
"Oleh karena itu Arlen, kau tetap jalani rencana kita. Besok, kau harus menyamar dan pergi ke kerajaan Nephorine," ujar Cassandra.
"Ya. Tapi, di mana kita harus mencari penggantimu?" tanya Arlen tampak berpikir.
Cassandra pun melakukan hal yang sama, namun tak lama dari itu kehadiran seorang gadis membuat perhatian langsung tertuju olehnya.
"Kalau begitu, aku yang akan menjadi penggantimu."
Cassandra terkejut mendapati kehadiran sesosok gadis bersurai emas yang tiba-tiba muncul di ambang pintu sembari berkata dengan lantang.
"Ana?!"
...23.03.2021...