The Atrocious Duke'S Wife

The Atrocious Duke'S Wife
{Season 2} Masalah Air



Previously....


Lelaki bersurai pirang lurus itu hanya diam menyerap dan memahami segala penjelasan yang diberikan ayahnya.


"Bahkan kualitas air mereka pun sangat rendah, sehingga mereka menjalin bisnis besar-besaran dengan Viscount la Devoline yang terkenal akan wilayahnya yang mempunyai kualitas air yang sangat bagus dan jernih," imbuh ayahnya.


Diam sempat menyergap dan menghinggapi mereka, namun tak lama dari itu sebagai balasan atas penjelasan tadi menjadi pembayaran segala keheningan.


"Baiklah, Ayah."


...~•The Atrocious Duke's Wife•~...


...Chapter ...


...(19) ...


Sedari tadi, kereta ini tak henti-hentinya berjalan dan bergerak. Begitupun dengan pandanganku yang terus berlari mengikuti aliran sungai yang tidaklah jernih.


Ini benar-benar aneh. Di wilayah ayah, air kami masih sangat jernih dan tidak kotor sedikitpun. Apa karena ini adalah wilayah pertambangan jadi air tersebut terpengaruh akan kualitas tanah di sini?


Tapi Marquess Thrones itu bilang bahwa mereka telah lama menjalin bisnis dengan ayah, itu berarti selama ini airnya dalam keadaan baik-baik saja.


Lagi-lagi, pandanganku tak bisa lepas dan kelopak mataku tak mengizinkan untuk berkedip.


Dalam seketika, aku pun memutuskan untuk turun dari kereta itu sehingga aku menginstruksinya untuk berhenti dan menurunkanku.


Kujatuhkan telapak kakiku yang beralaskan high heels mencium tanah yang menjadi pijakanku.


"Lady, apa anda ingin melihat sungainya lebih dekat?" tanya seorang pelayan yang memang diperintahkan untuk menemaniku sepanjang aku berusaha menemukan solusi atas masalah ini.


"Ya," jawabku kemudian dia pun mempersilakan diriku mendekati sungainya.


Ini benar-benar buruk. Ternyata pak tua (Marquess Thrones) itu tidak berbohong, airnya sangat keruh. Warnanya kecoklatan dan tak layak dikonsumsi kecuali disaring terlebih dahulu.


Tapi apa di zaman ini sudah ada alat atau teknik untuk menyaring air?


Aku tidak seahli dan sejenius itu untuk menciptakan alat tersebut dalam waktu yang sangat singkat.


Jika aku menjelaskannya secara rinci pun, tentu mereka tidak akan percaya dengan perkataan seorang gadis bangsawan yang manja menurut mereka.


Kuulurkan tanganku untuk menadah setumpuk air yang berwarna kecoklatan itu sembari mengamati tekstur, warna, dan baunya.


Ketika selesai, netraku kembali berkelana ke kanan dan ke kiri. Tidak ada satu pun tanda benda aneh yang berkemungkinan menyebabkan semua masalah ini.


"Apa aliran sungai ini juga mengalir di area pertambangan?" tanyaku.


Aku yakin, semua ini berawal dari pertambangan itu. Pertambangan tersebutlah yang menyebabkan air menjadi keruh seperti ini.


Walaupun aku tidak tahu pasti apa penyebabnya.


"Ya, Lady. Sungai ini mengalir hampir di seluruh wilayah Marquess, sehingga penduduk selalu menggunakan air dari sungai ini untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka," paparnya membuatku mengangguk.


Jika begitu, hanya satu tempat lagi yang harus aku kunjungi. Sepertinya aku harus bergerak ke tempat lain.


"Bisakah kau antarkan aku ke tempat pertambangan di wilayah ini?" pintaku terdengar lebih seperti perintah.


Pelayan tadi pun memposisikan tangannya di dada kiri sembari menunduk hormat padaku.


"Baiklah, Lady."


...~•~...


Seorang lelaki yang tengah melaksanakan sebuah perintah pun kini meloncat ke luar dari kereta yang telah mengantarnya sepanjang jalanan dari wilayahnya menuju lokasi ini.


Setelan pakaian yang kaku tertempel di tubuhnya. Kemeja putih berlengan panjang yang dibalut oleh rompi, kemudian dilapisi dengan jubah yang mencapai betis berwarna merah tua membuatnya terlihat semakin ber karisma.


Celana hitam panjang yang membalut seluruh permukaan kakinya, dan sepatu pantofel menjadi pelengkap.


Dia menyingkap helai rambut lurusnya yang menutupi dahi dan menghalangi penglihatannya kemudian mengedarkan tatapan menelisiknya ke seluruh penjuru tempat.


Sebuah kediaman yang besar menjadi pemandangan awal bagi dirinya yang memasuki wilayah itu.


Tak lama, dia langsung berjalan dengan penuh aura seorang bangsawan kelas atas menuju masuk ke halaman kediaman itu.


Para pelayan wanita beserta pria  menyambutnya masuk, tak lupa dengan sanjungan hormat.


"My Lord, biarkan saya melayani anda dengan seluruh tujuan anda kemari. Apa anda ingin bertemu dengan Tuan Marquess?"


Lelaki itu memang sempat mengirim surat pada orang yang akan dia ajak untuk bernegosiasi bahwa dirinya akan berkunjung kemari.


Sebuah anggukan pelan menjadi jawaban. Karena mengerti, pelayan itu pun kembali menunduk kemudian membuka jalan lelaki berhelai pirang tersebut untuk mengikutinya.


Selepas kepergian lelaki yang sempat merampas kebisingan tersebut, para pelayan wanita kini akhirnya berkumpul dan mengeluarkan pujian dan bisikan dari bibir mereka.


"Kukira rumor itu hanya omong kosong belaka, namun siapa sangka bahwa putra dari Duke Floniouse sangatlah tampan!"


"Benar kan? Aku saja tidak menyangka. Dia bahkan lebih tampan dari yang dirumorkan."


"Ah irinya. Kira-kira siapa yang akan menjadi istrinya dan menyandang status sebagai Duchess Floniouse?"


"Sudah pasti nona bangsawan yang memiliki status seonatar dengannya. Atau mungkin saja seorang putri dari kerajaan lain."


Sehingga sudah hampir ratusan kata yang ditujukan untuk lelaki beriris biru langit itu. Entah apa saja yang dideskripsikan untuknya, yang pasti lelaki itu tidak akan peduli.


...~•~...


Di sebuah hutan yang cukup jauh dari kediamannya, seorang gadis tengah berduduk diam di bawah tingginya pohon yang rindang.


Sudah menjadi kebiasaan bagi gadis itu untuk pergi ke tempat yang sunyi dan tenang upaya menenangkan pikirannya.


Langit sedikit mendung, yang mana membuat suhu semakin sejuk dan dingin. Lantas, gadis itu mengusap-usap kedua lengannya guna menghangatkan tubuhnya.


Ia tidak menyangka bahwa cuaca akan berubah secepat ini. Padahal saat dirinya keluar dari rumah beberapa jam yang lalu, sinar matahari masih senantiasa menyengat kulit.


Tanpa ia kira, ternyata ada sebuah kain yang terlempar ke arahnya secara mendadak membuat gadis itu membelalak lebar.


Sontak dia langsung memutar kepalanya dan melihat pelaku yang melempar kain hangat itu.


Ketika mengetahui siapa sosoknya, dia langsung berdiri dan membungkuk hormat. "Salam, Yang Mulia. Apa yang anda lakukan di sini?" sapanya melebarkan rok gaunnya.


Lelaki yang disapa oleh gadis itu hanya duduk kemudian bersandar di batang pohon yang lebar dan kuat.


"Duduklah," titahnya membuat gadis itu langsung menurutinya. "Bukankah sudah kubilang untuk memanggil namaku saja?" ujarnya sedikit kesal.


"Maaf, saya sudah terbiasa memanggil anda seperti ini, Yang Mulia." Gadis itu sontak membungkam mulutnya saat dia kembali mengucapkan panggilan itu.


"Sudahlah, tidak ada habisnya jika seperti ini terus," pasrah lelaki itu membuat sang gadis terkekeh.


"Maafkan saya, Yang--"


Lelaki itu langsung membungkam bibir gadis di sebelahnya tersebut  menggunakan punggung tangannya.


Lagi-lagi, kekehan terdengar dari bibir perempuan bernetra hijau itu. Namun, lelaki tersebut tidak tersenyum ataupun merasa senang. Karena ia tahu, kekehan gadis itu dikeluarkan dengan paksa.


Dia pun mengalungi tubuh gadis itu dengan kain yang sempat ia lemparkan dan berkata. "Kau ada masalah, bukan?" terkanya.


Gadis itu semoa tertegun sejenak, namun tak lama dari itu kekehan hambar terlayang dari bibirnya. "Apa yang anda katakan? Saya sama seperti biasa--"


"Jangan berbohong padaku, Anastasia. Aku benci pembohong," sinis lelaki bersurai hitam itu.


Sontak gadis itu mengalihkan pandangannya dengan alis yang mengerut. Bibirnya ia lipat, menandakan bahwa ia tengah gelisah.


"S-saya benar-benar t-tidak apa-apa," gagapnya berusaha memutus kontak mata dengan sosok di sampingnya.


Tangannya terulur mendekati wajah gadis itu, dan jarinya kini menyelipkan sejumput surai lurus ke belakang daun telinga gadis tersebut.


Perempuan berhidung kecil itu sedikit terkaget akan perlakuan tiba-tiba dari sosok di sampingnya. Entah kenapa, tiba-tiba degup jantungnya sedikit melaju.


Ada apa ini? Tidak biasanya dia bersikap aneh seperti ini. Bahkan wajahnya pun sedikit memanas.


"Ada apa?" Akhirnya sebuah suara bisa menyadarkannya dari larutan pikirannya.


"Ah, bukan apa-apa!" balas gadis itu secara cepat sembari melambai-lambaikan kedua tangannya di depan dada.


Sebuah tarikan mengangkat alis lelaki itu ke atas, pertanda bingung dengan tindakan perempuan di sebelah tersebut.


Saat tersadar, gadis itu pun akhirnya kembali tertunduk sehingga rambutnya yang tergerai terjatuh menutupi wajahnya.


"S-sebenarnya... saya sedikit merasa bingung dan aneh belakangan ini," ungkapnya setengah berbisik.


Namun lelaki itu masih bisa mendengar jelas apa yang dikatakan oleh sosok yang berada tepat di sampingnya itu. Dia hanya diam, mempersilakan gadis itu untuk berbicara lebih banyak mengungkapkan hal yang dia sempat sembunyikan.


"Saya selalu merasa kesal ketika melihat kedua sahabat saya dekat. Saya merasa terasingkan dan dianggap seperti pengganggu interaksi mereka berdua," paparnya.


"Mereka berdua terlihat sangat mesra, sehingga saya merasa emosi saya melonjak tinggi begitu saja melihat mereka."


"Apa kau menyukai salah satu dari sahabatmu itu?" tanya lelaki itu.


"Ya, saya sudah menyukainya sejak lama.  Karena dia adalah lelaki yang menjadi teman masa kecil saya."


"Lalu, sahabatmu yang satu lagi bukan sahabat masa kecilmu?"


"Dia adalah perempuan yang baru-baru ini bersikap baik pada saya. Saya menyukainya karena dia seperti kakak perempuan bagi saya."


"Lalu apa bagimu mereka terlihat saling menyukai?"


Gadis itu membisu. Dia sedikit bingung, apa kedua sahabatnya benar-benar terlihat seperti itu?


"Entahlah. Saya rasa... sepertinya begitu," jawabnya ragu.


Lelaki itu tampak menatap dengan sesama sosok di sampingnya ini. Tak lama dari itu, dia pun kembali berucap.


"Apa kau merasakan bahwa detak jantungmu berdetak lebih cepat dari biasanya ketika kau berada di dekat sahabat yang kau sukai itu? Apa kau juga ikut bahagia jika dia bahagia? Apa kau merasa bahwa kau rela melakukan apa saja demi dirinya?"


Pertanyaan bertubi-tubi itu hanya bisa membuat gadis itu diam membisu. Dia tidak bisa menjawab tak tahu karena apa.


Mungkin karena tidak ada jawaban atas pertanyaan itu.


"Andai saja jika sahabat yang kau sukai itu menyukai perempuan lain, apa yang akan kau lakukan?" imbuh lelaki itu kembali bertanya.


Gadis itu sontak tertegun. Matanya terpelotot, dengan alisnya yang senantiasa mengerut.


"S-saya...."


Kesunyian seakan menunggu jawaban gadis yang tengah dilanda keraguan itu. Pikirannya benar-benar berkecamuk, seakan tak ada celah lagi untuk berpikir.


"Tentu aku akan membuat dia kembali menyukaiku, apapun caranya," lontarnya.


Lelaki itu hanya mengamati dalam diam.


"Aku akan membuatnya menyukaiku bagaimanapun caranya," imbuhnya. Dia terus menatap lurus ke depan, tak peduli dengan lelaki di sebelahnya yang terus menatapnya.


"Anastasia," panggil lelaki itu.


Sontak gadis itu langsung menghadap sosok di sampingnya itu ketika namanya terpanggil.


Tatapan mendalam dilayangkan oleh lelaki itu, dan perkataan yang dia lontarkan selanjutnya membuat gadis itu seakan tertusuk sebuah tombak.


"Rasa sukamu itu... bukan cinta, melainkan obsesi."


...~•~...


"Matahari telah terbenam, Lady. Apa anda telah menemukan solusi atas masalah ini?"


Sebuah ruangan yang diisi oleh suasana mencekam, menjadi tempat untuk Cassandra duduk dan mengutarakan jawabannya.


Marquess Thrones telah duduk dengan kakinya yang bersilang dan tangannya yang terlipat di depan dada.


Cassandra menarik nafas sejenak kemudian mencari posisi duduk yang nyaman. Tak lama, beberapa katapun terdengar dari bibirnya.


"Untuk pertama, saya ingin bertanya, My Lord. Apa pertambangan anda memiliki banyak macam bebatuan dan permata di dalamnya?" tanyanya.


"Tentu saja," jawab Marquess Thrones lugas.


"Lalu, apa kalian pernah mendapat sebuah bebatuan yang anda anggap tidak berharga?"


Terdapat raut kekesalan di wajah Marquess Thrones, sehingga pria itu pun langsung menjawab. "Saya tidak punya waktu untuk menjawab seluruh pertanyaan omong kosongmu itu, Lady," sergahnya.


Cassandra tersenyum simpul. "Bisakah anda jawab saja pertanyaan saya, My Lord?"


Marquess Thrones menghembuskan nafas kasar. "Ya, kami sering mendapatkan bebatuan tidak berharga itu. Lalu?"


"Apa anda membuang bebatuan yang menurut anda tak berharga itu ke sungai?" terka Cassandra membuat Marquess Thrones sedikit terkejut.


Namun pria itu berusaha menyembunyikannya dan bersikap tenang dan mengintimidasi seperti biasa.


"Ya. Kenapa jika demikian? Bebatuan biasa tidak akan mencemari sebuah sungai, bukan?" sinisnya.


"Memang bebatuan biasa tidak akan mencemari sebuah sungai. Namun berbeda jika itu adalah batu bara," papar Cassandra.


"Marquess. Akhir-akhir ini anda mendapatkan bebatuan berwarna hitam dari kegiatan penambangan anda bukan? Lalu anda membuang bebatuan itu seluruhnya ke dalam sungai?" tanya gadis itu tepat sasaran.


Marquess Thrones tersentak, bagaimana bisa gadis itu tahu? Apa orang-orang di tambang yang memberitahunya?


Namun itu tidak mungkin, karena dirinya telah memerintahkan untuk tidak memberitahu apapun tentang penambangan yang ia lakukan di wilayahnya.


"Sepertinya saya benar. Itu berarti, bahwa seluruh masalah ini adalah hasil dari perbuatan anda sendiri. Anda sendiri yang mencemari perairan di wilayah anda," tegas Cassandra tenang.


Tentu Marquess Thrones merasa murka dibuatnya, karena tiba-tiba saja gadis kecil di hadapannya ini menuduhnya.


"Apa maksudmu? Tidak cukup kalian tidak bertanggung jawab dengan bisnis kalian, sekarang malah menuduhku?! Penghinaan macam apa ini?!" sergahnya tak setuju.


"Batubara? Omong kosong apa yang kau bicarakan, Lady?! Itu hanyalah bebatuan biasa. Saya memanggil anda ke sini adalah memberikan solusi, bukannya malah memberikan omong kosong belaka," hardik pria berumur itu.


Cassandra tampak menghembuskan nafas lelah.  "Untuk itu, sebaiknya anda harus mengangkat seluruh batubara yang anda buang ke sungai, kemudian saya akan berusaha sebaik mungkin untuk menjernihkan kembali air yang telah keruh," terangnya panjang lebar.


"Kenapa saya harus repot melakukan hal tersebut?"


"Astaga apa orang ini benar-benar gila?! Jika dia tidak mau, siapa yang akan melakukannya?! Kau pikir aku bisa mengangkut seluruh batubara yang ada di sungai itu?!" kesalnya dalam hati.


Bagaimana tidak? Dariawal yang salah di sini adalah Marquess itu sendiri dan dirinya berusaha membantu. Dan sekarang, Marquess itu bersikap sok berkuasa!


Emosi gadis berhelai coklat itu sudah mencapai ubun-ubun, namun dengan cepat dia berusaha menurunkannya dan bersikap tenang.


"My Lord, saya mohon tolong kerjasama--"


"Sepertinya, ada masalah besar di sini."


Tiba-tiba saja ucapannya terpotong ketika gadis itu mendengar suara lelaki yang sangat tidak asing di pendengarannya. Tidak, bahkan sangat ia kenal.


Sontak dia menghadap ke belakang, dan Marquess Thrones terlihat sangat terkejut dengan kehadiran sesosok di ambang pintu.


"Lord Arlen?!"


...05.02.2021...