
KARYA INI HANYA FIKSI. NAMA, TOKOH, PERISTIWA, TEMPAT, HANYALAH KHAYALAN SEMATA. HARAP PEMBACA BIJAK DALAM MENANGGAPI.
Hangat.
Rasa ini belum pernah kurasakan selama seumur hidupku. Rasa yang mengepung dan membelai hatiku.
Kubuka secara perlahan kedua kelopak mataku lalu kuusap sejenak untuk menghilangkan pandangan yang buram.
Pikiranku pun perlahan-lahan mulai bekerja, mengingat hal yang terjadi sebelum aku terlelap dalam tidurku yang amat nyaman.
Bayangan itu seketika membuat seluruh tubuhku memanas, bahkan telapak tanganku pun tak tertahankan menutupi setengah wajahku karena malu yang melanda.
"Kau sudah bangun, Cintaku?"
Sebuah suara sontak membuatku mengarahkan pandangan ke asalnya.
Entah kenapa aku menjadi sedikit gugup karena hal yang telah kami berdua lancarkan tadi malam.
Dia seakan tak membuatku istirahat, sehingga aku sangat kewalahan menghadapinya.
Dan hal itu membuat pipiku sangat-sangat panas di dinginnya musim salju ini.
Namun satu hal membuatku jengkel, aku kira aku akan bangun terlebih dahulu untuk mengamati wajah tampanny-- m-maksudku mengamati wajahnya jeleknya ketika tidur.
Beraninya dia tidak menungguku bangun terlebih dahulu. Bahkan dia telah rapi dengan pakaian yang biasa ia pakai.
"Ya. Sayang sekali ada seseorang yang tidak mau menungguku hingga bangun," kesalku seraya hendak duduk.
Namun rasa perih langsung menyengat bagian bawahku sehingga ringisan langsung terlontar dari bibirku.
Ternyata benar kata orang, seorang wanita yang baru pertama kali melakukan itu akan merasakan sakit yang menusuk.
Dan aku mengakui hal itu.
"Kau tak apa?" tanyanya sembari mulai mendekatiku dan menahan punggungku yang kesusahan untuk berganti posisi menjadi duduk.
"Tidak, tidak apa. Aku baik-baik saja," bohongku seraya menarik selimut yang menutupi tubuh atasku yang ternyata tak dibalut sehelai pakaian.
Tidak mungkin juga kan aku bilang ke padanya tentang hal memalukan ini?
"Aku dengar, seorang wanita akan kesakitan selepas melakukan hal itu untuk pertama kali, sepertinya hal itu benar," jelasnya membuatku terpelotot tak percaya.
"D-darimana kau mengetahui hal itu? Apa kau pernah melakukannya dengan wanita lain?" selidikku seraya menatap nyalang kearahnya.
"Tentu saja tidak. Aku banyak mendengar dari bangsawan-bangsawan yang telah melakukan hal itu dengan istri mereka," jawabnya membuatku merasa bersalah.
Dan juga, apa Cassandra la Devoline benar-benar membenci pria ini sehingga melakukan itu dengan suaminya sendiri pun dia enggan?
Padahal dia adalah pria yang baik, dia sama sekali tidak pernah menyakitiku, malah aku yang banyak menyakitinya.
Sebenarnya apa yang telah terjadi antara dia dan Cassandra la Devoline?
"M-maafkan aku," sesalku. Ini aneh, padahal yang melakukan semua itu adalah Cassandra la Devoline, tapi rasa bersalah malah menyerangku.
"Atas apa?" tanyanya.
"M-maaf, karena telah membuatku menunggu begitu lama. Aku tahu menunggu selama itu adalah hal yang sangat tidak enak," paparku seraya dengan rasa bersalah yang memaksaku untuk menundukkan kepalaku.
"Tidak perlu. Lagipula aku sangat tak berminat melakukannya atas dasar paksaan."
Aku tak tahu bagaimana lagi harus menjawabnya, sehingga aku pun mengalihkan topik pembicaraan.
"Oh iya kenapa kau tak menungguku untuk bangun? Kau bahkan belum mengucapkan selamat pagi padaku," ujarku berusaha menghangatkan suasana.
"Awalnya aku berniat seperti itu, namun gagal karena wanita yang tidur disampingku tak bisa diam saat tidur sehingga aku pun mencium dinginnya lantai karena tendangannya yang kuat," jawabnya seraya dengan alis yang terangkat sebelah menyindirku.
Astaga, apa aku se ekstrem itu ketika tidur? Sungguh hal itu membuat rasa malu kembali menimpaku.
Sebuah ringisan tawa menjadi jalan satu-satunya untuk keluar dari rasa malu ini.
"A-ahaha," tawaku hambar seraya menggaruk tulang rahangku yang tak gatal.
"Apa bagian bawahmu masih sakit?" tanyanya polos dan tak henti-hentinya membuat panas di pipiku menjalar.
Namun raut wajahnya terlihat khawatir sehingga tak bisa membuatku memarahinya dan hanya bisa mengangguk pertanda benar.
"Apa perlu kuperiksa?"
"Hah?! Kau gila?!" pekikku mendengar ketenangan nada bicaranya.
Apa dia tahu bahwa hal itu sangat membuat kaum wanita sepertiku malu?!
"Kenapa? Lagipula aku sudah melihat setiap bagian dari tubuhmu, kau juga bahkan sudah melihat semua bagian tubuh--"
"Agh! Sudah! Hentikan!" Aku secara cepat membungkam bibirnya yang terus bergerak menghasilkan kalimat yang membuat telingaku tak sanggup mendengarnya lebih jauh karena rasa malu yang berkoar-koar.
Dapat kurasakan dia mengulas senyum di balik telapak tanganku, lalu dia pun menyingkirkan telapak tanganmu yang menutupi paksa bibirnya yang menggoda.
"Aku bercanda," ujarnya membuatku bingung harus lega atau kesal.
"Kalau begitu, Cintaku. Kau ingin sarapan apa? Aku akan membawakannya, sebagai balasan karena telah membuatmu kesakitan seperti ini," tawarnya membuatku melipat bibirku.
Panggilan 'Cintaku' itu membuat hatiku seakan melayang.
Namun aku berusaha menutupinya agar dia tidak besar kepala. Dan aku pun mencoba membalas godaannya dengan bakat sandiwaraku.
Kutarik sedikit kain bajunya dengan pelan dan mengubah raut wajahku seperti anak kecil yang tengah memohon. "Cintaku, aku ingin memakan masakanmu, apa boleh?"
Bibirku mengerucut, mataku membulat besar serta tangan yang masih setia menarik selimut untuk menutupi tubuh atasku.
Dapat kulihat rona merah tipis yang samar-samar menghiasi wajah tampannya.
Astaga, ini momen langka!
Seorang Duke yang seperti seorang monster di peperangan, kini merona karena sandiwara imutku.
"Jika kau seperti itu, aku tak akan segan untuk menyerangmu lagi, Cintaku." Suaranya terdengar serak, astaga apa dia terpancing?
Namun itu hal bagus, aku akan semakin gencar untuk menjahilinya.
"Apa kau tega menyakitiku yang tengah kesakitan seperti ini, Cintaku?" Sebuah air mata buaya mulai membanjiri netra coklatku, membuatnya semakin frustasi.
Astaga aku rasanya ingin tertawa sekarang!
Dia terlihat sangat frustasi, bahkan netra birunya pun seperti tengah mati-matian menahan hasrat.
"Kau bilang ingin memakan masakanku, bukan? Aku akan segera membuatkannya untukmu," ujarnya kemudian berlalu meninggalkanku.
Saat sosok tegapnya menghilang melalui pintu kamarku, sebuah gelak tawa tak dapat lagi kutahan.
"Ahaha! T-tidak kusangka dia akan se frustasi itu! S-sungguh ini sangat menyenangkan hahaha!"
Ya, untuk sekarang lebih baik aku nikmati saja seluruhnya. Jika saatnya tiba, aku akan mengembalikan pria itu dengan pemiliknya yang sesungguhnya.
Aku yang hanyalah sebuah jiwa yang tiba-tiba datang kemudian meminjam tubuh ini tanpa izin, tidak pantas untuk mendapatkan pria itu untuk diriku sendiri.
Tugasku di sini hanyalah memperbaiki hubungan mereka. Setelah itu, hak sepenuhnya pria itu akan jatuh ke seseorang yang sesungguhnya.
Cassandra la Devoline.
...🥀...
Author Pov
Seorang pria bersurai pirang baru saja keluar dari sebuah kamar dengan langkah tergesa-gesa.
Semburat merah samar-samar menghiasi wajah tampannya yang tengah ia usap-usap dengan lengannya berusaha menghilangkan rasa panas itu.
Rasa panas yang sama persis seperti yang ia rasakan tadi malam, kini mulai menyerangnya.
"Aku tahu dia hanya bersandiwara, namun kenapa aku tak bisa mengendalikan diriku?"
Pria itu bertekad, jika istrinya itu telah bebas dari rasa sakitnya, maka dirinya tidak akan mengampuninya begitu saja karena telah berani membuat dirinya seakan gila seperti ini.
.
.
.
.
.
.
Sesuai dengan permintaan istrinya yang akhir-akhir ini dapat menerima cintanya, pria itu pun rela memasak sarapan untuknya.
Bahkan pelayan di dapur pun tak bisa berkata-kata dan hanya bisa terpelotot melihat Tuan mereka yang sama sekali tidak pernah menyentuh peralatan masakan namun bisa ahli menggunakan alat itu.
Dengan telaten, pria itu melayangkan dan membalikkan sebuah piringan pancake yang tercetak dengan sangat rapi.
"A-anu, Tuan. Anda tidak perlu melakukannya, biar kami saja yang melakukannya, itu sudah menjadi tugas kami," sela Elise di tengah-tengah keheningan yang menenggelamkan.
Pria itu tampak menoleh sejenak, setetes peluh telah membanjiri pelipisnya.
"Tidak perlu, kalian cukup ambilkan aku madu," titahnya dan dengan segera pelayan di situ pun bergegas mencari objek yang menjadi tujuan mereka.
Dengan tergopoh-gopoh, para pelayan pun mulai pergi mencari setoples madu.
Hal itu berhasil menarik perhatian sesosok wanita yang tengah berjalan melewati pintu dapur yang sedikit terbuka.
Dia pun menelusupkan kepala cantiknya untuk mengintip apa yang tengah ada di dalam dapur.
Wanita itu sangat terkejut, melihat sosok tegap seorang pria yang memiliki surai pirang berkilau tengah dihiasi oleh peluh di sekitar dahinya karena tengah sibuk melayangkan sebuah pancake yang berbentuk pipih.
Sontak, wanita itu langsung melangkahkan kakinya masuk dan mendekati pria itu.
"Seumur hidupku, aku belum pernah melihatmu memasak," ujar wanita itu namun bukan jawaban yang ia dapatkan, justru sebuah pertanyaan baru yang terlayang.
"Ada apa kau kesini, Anastasia?" tanya Arlen langsung pada intinya.
"Aku hanya kebetulan tengah berjalan-jalan di sekitar sini."
Pria itu tidak menghiarukan dan kini telah selesai memanggang masakan buatannya, dia pun meletakkan masakannya tersebut ke atas piring yang telah pelayannya siapkan.
"Bagaimana bisa kau membuat hingga cantik dan sempurna seperti ini?" tanya Anastasia terkagum-kagum memperhatikan sepiring pancake yang telah tersaji.
"Mudah. Membuatnya cukup kira-kira saja, jika kau membuat adonan nya terlalu tipis, maka itu akan hancur. Namun jika tebal maka hasilnya akan sedikit hambar," jelas Arlen mulai merapikan peralatan masak yang sempat tak teratur.
Anastasia mengulas senyum manis di wajahnya. "Sudah lama kita tidak berbicara secara santai seperti ini. Aku jadi ingat masa lalu saat kita masih kecil," ungkap wanita itu. "Hei, apa aku boleh mencicipinya?" pinta wanita itu namun Arlen hanya diam.
"Ah, ternyata kau membuatnya untuk Cassandra. Tidak apa, aku mengerti." Wanita itu baru tersadar dan langsung mengurungkan niatnya.
"Oh iya, Arlen. Maafkan perbuatanku waktu itu, aku saat itu tidak bisa berpikiran jernih. Sungguh aku minta maaf," cecar wanita itu seraya menundukkan kepalanya.
Tampak air muka sesal di wajah cantiknya, yang tengah mengernyitkan kedua alisnya.
"Tidak perlu. Aku mengerti, kalau begitu aku akan ke atas terlebih dahulu," jawab Arlen singkat berbuat pergi namun ditahan oleh Anastasia.
"T-tunggu, Arlen. Aku sebenarnya telah lama ingin berbicara denganmu tentang kita. Aku--"
"Apa masih ada hal penting lain?" Pria itu bertanya dengan raut wajah dinginnya.
Sangat berbeda dengan tampangnya beberapa saat lalu.
"Kumohon dengarkan aku, Arlen! Aku benar-benar minta maaf telah memaksamu selama ini, namun aku benar-benar menyesal sekarang!"
Nada suara tinggi terlontar dari bibir Anastasia, bahkan bibir wanita itu bergetar sembari dengan airmata yang mulai mengalir dari pelupuk matanya.
"Aku baru menyadari, bahwa kau memang benar-benar tidak mencintaiku. Kumohon maafkan aku yang bodoh dan egois telah memaksamu selama ini. Namun sekarang...." Tangis Anastasia pecah, bahkan wanita itu pun telah terduduk di lantai dapur.
"Aku ingin kita seperti dulu, aku merindukan sosokmu yang dulu sangat peduli dan perhatian padaku. Aku ingin kita kembali bersahabat seperti dulu. Kumohon... maafkan aku...," lirihnya dengan nada bak tenggelam oleh tingginya arus ombak.
Wanita itu pun terperangah dan mendongakkan kepalanya di kala Arlen menarik lengannya untuk membantu dirinya berdiri.
"Berdirilah, atau aku akan disangka menjadi orang jahat di sini. Lagipula, kau tidak perlu minta maaf," balas pria itu tetap datar dan tenang.
Namun hal itu cukup membuat Anastasia merekahkan senyum cantiknya.
"Jadi, kita kembali bersahabat?" Anastasia berantusias dibalas oleh anggukan pelan oleh Arlen.
"Oh iya, Cassandra pasti telah menunggumu sangat lama. Kasihan dia, lebih baik kau segera bergegas menemuinya!" peringat Anastasia seraya mendorong-dorong tubuh tegap pria itu.
Arlen hanya bisa menghelas nafas. Sepertinya sahabat kecilnya yang kekanak-kanakan ini telah kembali lagi.
...🥀...
Apa ini, ternyata dia benar-benar mengikuti permintaanku?
Padahal tadi aku hanya bercanda, tidak kusangka dia benar-benar membuatkanku sarapan.
Aku sempat kaget awalnya, namun akhirnya aku pun merasa senang. Baru kali ini aku merasa sangat diperhatikan dan dimanjakan.
Karena aku dulu kecilnya hanyalah seorang anak yatim piatu, aku pun tinggal di sebuah panti asuhan.
Dan karena aku yang paling tua di panti itu, aku lah yang harus berperan sebagai kakak perempuan bagi anak-anak yang berada di panti asuhan itu.
Aku sudah mandiri sejak kecil, apa-apa aku selalu melakukannya sendiri. Dan aku sangat jarang meminta pertolongan pada orang.
Hal sederhana seperti ini, sudah cukup membuatku sangat senang.
"Terimakasih," ucapku tulus kemudian mulai mengambil sesendok pancake yang telah ia buatkan padaku.
Dapat kurasakan dia menatapku sepanjang masa aku makan, namun anehnya aku tak merasa risih sedikitpun.
"Kau terlihat senang sekali. Apa masakanku sebegitu enaknya?" tanyanya.
"Daripada rasa, aku lebih menghargai usaha orang yang telah membuatkan ini padaku."
"Maksudmu berarti makanan buatanku tidak enak?"
"Astaga bukan begitu!" sergahku. Padahal aku berniat puitis, tapi dia malah salah mengartikan.
"Yang Mulia Raja mengatakan bahwa tiga hari lagi akan diadakan pesta perayaan di istana."
Pesta di istana?!
"Pesta?! Lalu, apa kau akan pergi?!" tanyaku berantusias.
"Tentu saja, karena aku adalah seorang Duke. Tidak mungkin di acara semacam ini aku tidak pergi."
"Boleh aku ikut denganmu?"
Dia tampak mengulas senyum. "Tentu, tapi ada syaratnya."
Aku menaikkan sebelah alisku. "Apa?"
Jari telunjuknya mulai tergerak dan mengarah ke pipinya sendiri, lalu dia pun berkata. "Asalkan aku mendapat kecupan di sin--"
Kecupan singkat mendarat di pipinya sebelum dia sempat menyelesaikan kalimatnya.
"Aku sudah boleh ikut denganmu kan?" tanyaku penuh dengan senyum kemenangan.
Pria ini tampak menutupi setengah wajahnya, lalu dia pun melontarkan sebuah kalimat dari bibirnya yang bagaikan bunga persik.
"Aku bisa gila jika terus berada di dekatmu."
^^^I Become Wife of the Atrocious Duke^^^
^^^12 Desember 2020^^^