
KARYA INI HANYA FIKSI. NAMA, TOKOH, PERISTIWA, TEMPAT, HANYALAH KHAYALAN SEMATA. HARAP PEMBACA BIJAK DALAM MENANGGAPI.
Cassandra Pov
Para pelayan yang sibuk mondar-mandir membuat jamuan. Sedangkan aku sekarang tengah sibuk berjalan santai sambil melihat-lihat.
Ku langkahkan kaki ku ke dapur yang sudah sangat berantakan, banyak tepung berserakan di mana-mana.
Alat-alat memasak pun tidak berada di tempat semestinya.
Netra ku tertuju ke sebuah kue yang lumayan besar, dan aku pun mendekatinya seraya mencermati nya.
"Nyonya, apa yang anda lakukan di sini?"
Kepala ku menoleh di kala aku mendengar suara Elise memanggilku.
"Oh Elise, apa ini kue ulang tahun Anastasia?" tunjuk ku pada kue yang di oleskan krim berwarna putih dan di hiasi berbagai macam buah di atasnya.
"Ya, itu benar, Nyonya. Pelayan-pelayan lain baru saja selesai membuatnya," jawab Elise dengan banyak peralatan masak di gendongannya.
"Sepertinya itu berat, biar aku bantu," tawar ku dan Elise langsung menolaknya.
"Tidak perlu, Nyonya. Ini sudah menjadi tugas saya," ucapnya sambil menjauhkan peralatan itu dari tanganku yang terulur hendak mengambilnya.
Aku pun mengembangkan pipi ku, sungguh aku sangat bosan.
"Oh iya, Elise. Apa kau tahu hal yang tidak di sukai Anastasia?" tanya ku.
"Hal yang tidak di sukai Nyonya Anastasia? Saya tidak terlalu tahu, tapi pernah sekali Nyonya Anastasia begitu ketakutan saat melihat kecoa."
"Kecoa? Dia takut kepada binatang kecil yang imut itu?"
"Kecoa tidak lah imut sama sekali, Nyonya! Mereka menjijikan!" pekik Elise histeris.
Berarti dia takut pada kecoa, hm?
"Apa kau tahu apa yang menyebabkan Anastasia takut terhadap kecoa?" tanya ku mencoba menggali lebih dalam.
"Ya. Nyonya Anastasia takut kepada kecoa karena waktu itu sempat ada kecoa di dalam makanan Nyonya Anastasia," papar Elise membuatku tersenyum licik.
Ini dia!
"Dan anda tahu apa yang lebih menyeramkan, Nyonya?" tanya Elise sambil menampilkan raut jijik di wajah nya.
"Apa?"
"Kecoa itu sempat terbang tepat di wajah Nyonya Anastasia!"
"Pfft!" Aku membungkam mulutku di kala aku membayangkan raut wajah Anastasia.
"Kalau begitu, Elise. Apa di sekitar sini ada kecoa?"
"Tidak mungkin, Nyonya. Jika ada kecoa di rumah ini, sudah pasti kami langsung di pecat," ujar Elise.
"Apa tidak ada di tempat lain?"
"Hm, kalau tidak salah, di gudang belakang ada banyak sekali kecoa, Nyonya. Memang nya kenapa anda menanyakan hal itu?" tanya Elise mengernyit bingung.
"Tidak ada apa-apa. Aku hanya penasaran, kalau begitu aku pergi dulu, Elise!" ucapku lalu pergi dengan terburu-buru.
"Tunggu, anda mau kemana, Nyonya?! Nyonya!"
...🥀...
"Dimana kau para kecoa-kecoa imut??" tanya ku sambil mencari-cari keberadaan serangga-serangga berwarna coklat ber antena itu.
Ah, bingo!
Ada dua kecoa di dekat tumpukan kayu itu, aku pun bersiap sedia dengan alat penangkap serangga yang ada di genggamanku.
Akhirnya dapat juga. Kecoa-kecoa yang aku dapatkan pun ku masukkan ke dalam toples yang sudah ku sediakan.
Ketika aku sudah mendapatkan apa yang kubutuhkan, aku pun segera bergegas ke dapur untuk menaruh serangga imut ini sebagai topping kue ulang tahun Anastasia.
.
.
.
.
.
Sesampainya aku di dapur, aku pun sedikit mengendap-endap. Beruntungnya aku, tidak ada siapa pun di dalamnya.
Secara cepat aku pun membuka tutup toples yang ku bawa, kemudian membuka tudung logam yang menutupi kue ulang tahun itu.
Ku taruh serangga imut bernama kecoa itu di atas kue nya, kemudian kembali menutup kue itu.
Aku pun celingukan untuk memastikan tidak ada seorang pun yang melihat aksi ku.
Baiklah, tidak ada siapa pun di sini. Sebelum aku ketahuan, sebaiknya aku segera keluar dari tempat ini.
...🥀...
Hari telah menjelang sore, matahari telah di ujung ufuk barat, tapi belum sepenuhnya tenggelam.
Saat ini adalah saat yang paling aku benci. Yaitu memasang korset.
"Ayolah, Nyonya. Kempiskan sedikit perut anda, agar korset ini terpasang dengan sempurna!"Â
"Aku tahu, Elise. Tapi korset ini sangat menyesakkan! Lagipula aku juga sudah ramping, tidak perlu memakai korset!" protes ku.
Namun, Elise sama sekali tidak menggubris ku. Jadi aku pun hanya pasrah.
Tak lama dari itu, aku pun telah selesai bersiap untuk menghadiri pesta ulang tahun Anastasia malam ini.
Dan seketika, terdengar suara teriakan yang memekak kan telinga dari lantai bawah.
"KYAA!!"
Oh, apa dia telah membuka kue ulang tahunnya? Hihi. Lebih baik aku segera bergegas ke bawah.
Di saat langkah kaki ku telah sampai di lantai satu, dapat kulihat suasana tengah heboh.
"Kya! Siapa saja cepat ambil serangga sialan ini dari wajahku!!!" jerit Anstasia histeris di kala kecoa itu menempel di antara kedua matanya.
"Nyonya, tenanglah dulu, kami berusaha untuk mengambilnya," ujar salah satu pelayan yang kesusahan berusaha mengambil kecoa itu karena Anastasia yang tak dapat tenang.
Hmph! Rasakan itu!
"Bagaimana aku bisa tenang?! Cepatlah ambil serangga ini dari wajahku, sialan!!!"
Oh lihat lah itu, kata-kata lembut yang selalu keluar dari bibirnya kini tak timbul.
Hanya kata-kata kasar yang muncul, sepertinya dia tak bisa bersandiwara saat panik.
Andaikan kalian bisa melihat bagaimana raut wajah jelek nya sekarang, kalian pasti akan terpingkal-pingkal.
Alisnya yang berkerut di sertai dengan bibir nya yang tak dapat berhenti mengomel.
Gawat! Bagaimana ini? Aku tak bisa menahan tawa ku!
Ternyata mengerjai orang memang sangat menyenangkan! Hahaha!
Aku berusaha mengulum senyum yang terus mendesak untuk terukir di wajahku.
Dengan begini kita impas, kan?
Makanya jangan coba-coba untuk main-main denganku. Sekarang bersenang-senang lah degan kecoa di wajahmu itu yah, fufufu~!
Baiklah, sekarang saat nya bagianku.
"Anastasia, apa kau baik-baik saja?" tanyaku penuh dengan kelembutan dengn kepalsuan seraya menghampirinya.
"Apa kau buta?! Tidak kau lihat bagaimana keadaanku?! Cepat singkirkan benda menjijikkan ini dariku!!" hardiknya.
Aku pun langsung mengeluarkan jurus andalan ku.
Jurus airmata buaya.
"A-aku hanya khawatir... kenapa kau membentak ku seperti itu, Anastasia?" lirih ku dengan raut wajah sedihku.
"Ada apa ini?" Aku pun langsung menolehkan kepalaku.
Nice timing!
"Arlen, Anastasia membentak ku. Padahal aku hanya ingin membantunya...." ujar ku sambil mendekati pria bersurai pirang itu.Â
Netra biru nya yang tajam pun langsung melirik ke arah Anastasia yang tengah seperti cacing kepanasan.
Dengan langkah besar, pria itu mendekati Anastasia, lalu dengan santai mengambil kecoa yang menetap di wajah Anastasia.
Kemudian dengan cepat menjatuhkannya dan memijak nya hingga terdengar suara perut serangga itu yang pecah.
Kecoa yang malang.
"Hanya karena ini kau heboh?" ketus Arlen pada Anastasia dan wanita itu langsung menunduk.
Entah kenapa, suasana yang awalnya heboh kini langsung hening dan mencekam dalam seketika.
"Hanya karena serangga kau jadi seenaknya membentak seseorang yang lebih tua darimu?"
Anastasia hanya diam sembari menundukkan kepalanya, entah kenapa aku jadi sedikit iba dengannya.
"Bagaimana jika ada tamu yang melihat kelakuanmu? Mau di taruh mana wajahku mempunyai istri yang tak bisa menjaga sikapnya?!" bentak Arlen dengan nada meninggi.
Oi, oi! Aku tak menduga akan menjadi seperti ini. Apa pria itu tengah dalam suasana hati yang buruk?
Dapat aku lihat Anastasia meremas rok gaunnya dengan kuat, sepertinya wanita ular berkaki dua itu sangat kesal.
Dengan sepeti ini aku baru puas! Hahaha!
Semua ini jauh dari perkiraan ku, tapi... ya sudahlah.
Setidaknya wanita itu telah mendapat ganjarannya.
^^^I Become Wife of the Atrocious Duke^^^
^^^12 November 2020^^^