
Previously....
"Kalau begitu bagaimana denganmu? Bukankah kau juga ikut pertandingan ini?"
"Kau tidak usah peduli denganku. Lagipula, aku juga tidak berniat mengikuti pertandingan ini dari awal," jelasnya dengan cengiran.
"Ya sudah jika kau berkata seperti itu. Kalau begitu ayo kita kembali."
...~•The Atrocious Duke's Wife•~...
...Chapter...
...(12)...
Jujur saja, aku bosan, dan kesal. Bosan karena sedari tadi pengumuman pemenangnya tak kunjung datang.
Kesal, karena sedari tadi nona Charlina tidak jelas itu selalu menatapku tajam dan sinis. Sebenarnya apa masalahnya?
Apa karena aku sempat menyinggungnya tadi? Tapi bukankah dia terlebih dahulu yang membuatku risih?
Ah, peduli amatlah. Toh kalau dia ingin berbuat aneh-aneh, di sini ramai. Dia tidak mungkin akan menyakitiku atau semacamnya di keramaian seperti ini.
Atau mungkin?
Pikiran negatif kini mulai bermunculan di kepalaku, sehingga aku tak sadar bahwa sedari tadi ada seseorang yang memanggil namaku.
"Cassandra!"
Aku mengerjapkan mataku kemudian mengalihkan pandanganku pada sosok yang memanggilku tadi. "Ya?"
"Pemenangnya akan segera diumumkan. Ayo kita ke depan agar bisa mendengar lebih jelas," ajak Anastasia sembari menarik pergelangan tanganku.
Kulayangkan senyum untuknya. "Baiklah."
Cukup jauh kami maju dan mencari tempat yang sedikit dekat dengan tempat duduk panitia, kemudian kami pun berhenti dan bersiap-siap mendengar pengumumannya.
"Para Lady pasti sudah sangat berusaha, oleh karena itu usahanya harus dibalas dengan sesuatu yang setimpal," ucap seorang Ksatria.
Suasana sudah sangat hening, ber siap-siap mendengar siapa yang akan menjadi nona bangsawan terhormat.
Bahkan aku bisa melihat dia tengah duduk santai di depan sana. Iris birunya selalu membuatku terpana, entah sudah berapa kalinya aku menatap bolamata seperti langit itu.
Tiba-tiba saja dia memindahkan pupilnya dan menangkapku yang tengah menatapnya, aku pun segera memalingkan wajahku untuk memutus tatapan yang tercipta di antara kami.
Seperti ada sengatan di dadaku, namun anehnya sengatan itu terasa nyaman dan tidak melukai sama sekali.
Karena tak ingin berlama-lama dengan reaksi seperti ini, aku pun memutuskan untuk fokus pada Ksatria yang tengah sibuk berbicara tersebut.
"Baiklah kalau begitu. Tidak perlu waktu lama, kita akan mengumumkan siapa Lady yang pantas mendapat gelar nona bangsawan terhormat kali ini," katanya terdengar menggantung membuatku penasaran.
Jantungku mulai berdegup kencang dengan perasaan gugup yang menyerang tak henti-henti.
Kau harus menang, kau harus!
Kulihat banyak perempuan yang sudah tak sabaran mendengar siapa pemenangnya.
"Karena usahanya dengan menangkap hewan langka yang hanya tersisa ratusan di muka bumi, Lady tersebut pantas mendapat hasil atas usahanya."
Lagi-lagi Ksatria tersebut menggantung perkataannya membuatku gemas sendiri.
"Gelar nona bangsawan terhormat, dan hadiah koin emas sebanyak dua ratus keping diserahkan kepada Lady...."
Deg! Deg!
Ayo cepatlah!
"Lady Cassandra la Devoline!"
Rasanya lututku langsung lemas begitu saja. Jujur aku sempat ragu karena banyak sainganku yang cukup kuat. Tapi tidak kusangka aku akan menang seperti ini.
Aku tak peduli dengan suara tepuk tangan yang meriah ini. Aku tak terlalu fokus dengan teriakan Anastasia dan Daisy yang melengking melontarkan namaku.
Aku hanya terpaku pada senyum bangga di wajahnya. Walaupun aku tak tahu apa aku salah lihat atau tidak, namun aku bisa lihat senyum di wajahnya.
Sudah lama aku tidak memandang senyum itu.
"Silahkan, Lady," ujar Ksatria tersebut mepersilakan diriku untuk maju ke depan.
Kutarik nafasku sedikit dalam kemudian mendorongnya keluar. Dengan sedikit gugup, kuangkat kakiku melangkah ke depan.
Aku membungkuk seraya menunduk hormat. Karena aku tidak tengah memakai gaun, aku tidak menarik kedua ujung roknya.
"Aku mempersilakan pedang ini khusus untuk Lady yang telah berusaha keras. Pedang yang telah ditempa dan diukir secara teliti, dan pedang yang menampung kehormatan Lady sebagai nona bangsawan terhormat kali ini," lontar Ksatria ini dan menyerahkan pedang ini padaku.
Dengan senang hati aku menerimanya kemudian aku mengamatinya sebentar. Ternyata pedang ini sangat tipis, tidak terlalu berat.
Permata biru aquamarine yang terukir dan menempel dengan indah, membuat pedang ini begitu memukau disertai dengan ukiran yang begitu teliti.
"Aku tidak mendengar akan ada hadiah pedang dalam pertandingan kali ini. Ah, aku sungguh menyesal menganggapnya sepele!"
"Aku juga! Jika begitu, aku akan berlatih terlebih dahulu kemudian memburu hewan yang paling langka supaya aku menang!"
"Beruntung sekali...."
Dapat kudengar bisikan demi bisikan menusuk telingaku, namun aku tak peduli. Karena aku telah sangat terbiasa dengan bisikan-bisikan semacam itu.
"Dan hal yang lebih istimewa, pedang ini ditempa dan dibuat oleh Tuan Arlen de Floniouse sendiri!" seru Ksatria ini membuatku sedikit terbelalak.
Pedang tempaan sendiri? Aku tidak menyangka ternyata dia seniat itu. Dia yang kuketahui adalah orang yang tidak ingin repot.
"Benarkah?! Aku benar-benar iri sekarang!"
"Tempaan Tuan Arlen, putra Tuan Duke Floniouse yang tampan itu?! Astaga aku benar-benar menginginkannya!"
"Wajah tampannya, benar-benar seperti mimpi bisa melihatnya dari dekat!"
Ya sudah pasti para perempuan itu akan bergosip dan heboh sendiri, membuatku malas. Apa dia melakukan ini untuk menjadi terkenal di kalangan para nona-nona bangsawan itu?
Entah kenapa aku jadi sedikit kesal.
Secara tak sengaja aku melirik ke arah kanan, ternyata ada Pangeran Darren dan Veronica di sana!
Bahkan keluarga Kerajaan sampai datang kemari, sepenting itukah acara ini?
Tiba-tiba saja aku tersadar ketika ada sebuah kantung berisi koin emas yang telah dijanjikan. Dengan pelan dan sok anggun, aku pun menerima emas tersebut dan kembali menundukkan kepalaku.
"Terimakasih atas kebaikan hati anda," ucapku sopan. Ksatria tersebut hanya tersenyum.
"Baiklah kalau begitu sekali lagi. Aku akan mengumumkan, bahwa gelar nona bangsawan terhormat jatuh kepada Lady Cassandra la Devoline! Marilah kita berikan tepuk tangan padanya!" teriak Ksatria tersebut melengking disusul dengan tepuk tangan yang meriah.
Aku hanya tersenyum tipis untuk menjaga penampilanku yang sudah pasti acak-acakan karena berburu tadi.
Dalam sekejap, tiba-tiba aku dikagetkan oleh sebuah cekalan di pergelangan tanganku. Tubuhku tiba-tiba ditarik dan menghadap ke sosok lelaki yang menjadi pelaku.
Aku sedikit melebarkan kelopak mataku karena kaget, kemudian mendongak menatapnya yang sedikit lebih tinggi dariku.
Cukup lama manik birunya menatap diriku, dapat kurasakan suasana hening. Tidak ada lagi suara tepuk tangan dan bisikan, semuanya benar-benar hening.
Bahkan suara Ksatria yang berseru sedari tadi langsung menghilang seketika.
Sebuah kecupan berlabuh sempurna di dahiku, membuat kelopak mataku kian melebar terangkat ke atas.
Secara sontak aku mendongak, dan sebuah senyum tipis aku dapatkan. Selang beberapa detik, suara teriakan terdengar memekakkan telinga.
"Astaga!!"
"Romantis sekali!!"
"Aku juga ingin dicium seperti itu!!"
"Ah, irinya!!"
Bibirku terkatup tak bisa berkata apa-apa, ini terlalu mendadak sekaligus mengejutkan bagiku.
Bahkan nafas hangatnya mulai merambat di permukaan kulit leherku secara perlahan-lahan.
Satu kata yang dapat membuatku merasa sangat bahagia dan bangga akan diriku. Aku benar-benar beruntung bisa mendengar kata itu dari bibirnya.
"Selamat."
...~•~...
Beberapa pohon tinggi yang rindang seakan ikut murung ketika melihat seorang gadis dengan wajah yang tertekuk.
Gadis itu menatap kosong ke tanah sembari berdiri, tak tahu hal apa yang tengah hinggap di dalam pikirannya.
Bibirnya mengerucut disertai dengan sorot matanya yang terkesan sedih dan hampa.
Namun tiba-tiba saja gadis itu mendengus kemudian netra hijaunya kembali berbinar. Gadis itu seakan baru menyadari sesuatu, dan berusaha untuk menghilangkan pikiran negatif yang menyeruak masuk dan seenaknya menguasai pikirannya.
Ia menggeleng-gelengkan kepalanya untuk mengusir hal-hal negatif yang menghinggap, kemudian menarik nafas pelan.
Tak lama, gadis itu pun berjalan untuk kembali ke tempat ia sebelumnya berada. Namun sebelum itu, pendengarannya sempat menangkap suara pukulan.
"Apa itu?" batinnya.
Dia pun mendekati asal suara tersebut dengan langkah hati-hati, hingga akhirnya dia bersembunyi di balik batang pohon yang lebar dan tinggi.
Maniknya menangkap sesosok lelaki yang tengah meninju dahan pohon secara kuat hingga pohon itu bergetar dan menjatuhkan beberapa helai daunnya.
Gadis itu terkejut dengan jari-jari lelaki itu yang membiru dan mengeluarkan darah segar. Entah apa yang mendorongnya, gadis itu langsung menghampiri lelaki tersebut dan menghentikan pergerakkan tangannya.
"Apa yang kau lakukan?! Tanganmu terluka!" tutur gadis seraya berusaha menghentikan aksi lelaki itu.
Namun lelaki tersebut tak menggubris dan terus melayangkan aksinya, hingga akhirnya dia kesal sendiri karena gadis tersebut tak kunjung meninggalkannya.
"Pergilah!" sarkasnya kemudian melayangkan tatapan tajam.
"Tidak akan!" sergah gadis itu keras kepala. "Sampai kau menghentikan aksi gilamu ini!" tegasnya.
"Jangan membuatku melakukan hal yang tidak kuinginkan padamu, Nona," tekan lelaki itu mengancam.
Tetapi gadis tersebut tak gentar sama sekali. Dia justu menatap intens sosok di hadapannya tersebut.
"Lakukan apa yang kau inginkan. Tapi hentikanlah perbuatanmu ini dulu," pintanya lirih.
Entah sesuatu apa yang membuat lelaki itu sedikit berbeda. Lelaki itu pun menghentikan aksinya ketika melihat raut wajah menyakitkan gadis itu.
Seolah-olah dia merasakan hal yang sama.
"Aku sudah berhenti, lalu kau mau apa?" tanya lelaki tersebut menatap gadis itu.
Secara cepat, gadis berhelai pirang itu merobek lengan bajunya kemudian menyiraminya dengan air minum yang ia bawa dan ia gantungkan di kaitan celananya.
"Tunggu sebentar," ucapnya. Dengan telaten, ia menarik lembut telapak tangan milik lelaki tadi dan mulai menyapu jari-jarinya yang terluka dengan kain basah yang ia buat.
Lelaki tersebut seperti terhipnotis. Dia hanya diam mengamati seluruh perubahan ekspresi sosok yang lebih pendek darinya itu. Dan perasaan aneh mulai menggelitik dadanya.
"Sudah." Gadis itu tersenyum menyudahi kegiatan melilit kain pada jari-jemari lelaki itu. "Ini memang tidak seberapa, tapi setidaknya bisa untuk melindungi lukamu," terangnya.
"Ingat. Jika kau ada masalah, kau harus berbagi dan berusaha memecah masalah tersebut. Bukannya malah menyakiti dirimu sendiri seperti ini," nasihatnya menatap kain yang terlingkup di jari lelaki itu.
"Apa kau tidak tahu siapa aku?" tanya lelaki itu.
"Tentu saja aku tahu. Kau adalah pangeran kedua, Yang Mulia Pangeran Darren."
"Untuk apa kau membantuku?"
"Apa ketika ingin membantu seseorang harus memiliki sebuah tujuan? Lagipula, membantu itu merupakan kewajiban seluruh manusia."
"Dan kau tidak takut padaku?"
"Kenapa aku harus takut? Memang benar aku harus hormat kepadamu, tapi aku tidak harus takut padamu. Karena kau manusia biasa, sama sepertiku," cecar gadis itu.
Lelaki itu tersentak. Sejak dahulu, ketika ada seseorang yang melihatnya, orang tersebut akan menghormatinya dan akan selalu menuruti perintahnya.
Ketika berhubungan dengan status, semua orang akan selalu tunduk. Orang yang lebih rendah akan tunduk pada orang yang lebih tinggi.
Dan dia sangat muak akan hal itu. Namun, gadis di hadapannya ini tiba-tiba saja muncul kemudian memerintahkannya untuk berhenti melakukan hal yang ia perbuat.
Tanpa peduli akan status, gadis itu mengehentikannya melakukan perbuatan buruk dan mengobatinya tanpa ada maksud tertentu.
Tidak seorangpun yang pernah memperlakukannya seperti itu, kecuali adik kandungnya sendiri.
"Siapa namamu?" Lelaki itu berucap, sembari menatap gadis itu. Tiba-tiba saja gadis itu tersenyum, kemudian mengulurkan tangannya.
"Anastasia."
...~•~...
"Cassandra, selamat atas kemenangannya!"
"Kak Cassie! Selamat ya!"
Senyum kulukis atas imbalan dari ucapan selamat mereka yang terdengar menyenangkan bagiku. "Terimakasih," jawabku.
"Kau pantas mendapatkannya, Cass. Karena kau membahayakan dirimu sendiri saat menangkap dirimu tadi, jujur aku sangat kesal waktu itu," cecar Anastasia membuatku terkekeh.
"Aih, jangan marah Anastasia. Lagipula, sekarang aku tidak terluka, kan?"
Dia mengerucutkan bibirnya. "Ya, kau memang tidak terluka. Tapi tetap saja kau membuatku khawatir!" pekiknya kemudian memeluk manja diriku.
"Oh iya, Kak Cassie. Bukankah tadi kakak sempat mencium dahimu?" ujar Daisy secara tiba-tiba. "Apa Kak Cassie ada hubungan khusus dengan kakak?" goda Daisy.
Astaga kenapa dia malah membahas hal itu?! Baiklah, waktunya mengalihkan topik.
"Ah, tentu saja tidak. Mungkin kakakmu memang telah merencakan hal itu dari awal. Mungkin dia memang akan mencium dahi perempuan yang menang pertandingan ini, dan kebetulan aku yang menang," paparku dengan kekehan hambar.
"Oh iya! Anastasia, bukankah kau ingin diajari berburu? Aku bisa mengajariku kapan saja," seruku berusaha mencairkan suasana.
"Benarkah?! Kalau begitu, bisakah aku datang ke rumahmu besok?" Anastasia melepaskan lilitan tangannya padaku kemudian berseru dengan senyuman merekah.
"Tentu saja. Oh, apa Daisy juga mau ikut? Kita bisa minum teh bersama," usulku mengundang senyuman di wajah Daisy.
"Wah benarkah?! Kalau begitu, besok aku akan datang ke rumah Kakak!"
Senyum kembali kuukir di wajahku. Dapat kulihat Anastasia seperti tengah menahan sesuatu, sehingga aku pun bertanya. "Ada apa, Anastasia?"
"Itu... aku ingin buang air. Tapi aku tidak tahu tempatnya," akunya.
"Daisy bisa mengantar Kak Ana."
"Benarkah? Terimakasih Daisy, aku benar-benar tertolong."
"Kalau begitu, ayo. Kak Cassie, kami akan segera kembali!"
"Baiklah, hati-hati!" teriakku sedikit keras pada mereka yang mulai menjauh.
Baiklah, sembari menunggu mereka apa yang harus kulakukan?
Hari sudah mulai sore, sebentar lagi bulan akan melaksanakan tugasnya menggantikan matahari.
Bahkan angin pun sudah mulai kencang dan dingin, karena sekarang telah memasuki musim gugur.
Tak lama dari itu, tiba-tiba saja, ada seseorang yang melempar dirinya terhadapku kemudian seseuatu yang melesat laju menembus kulit hingga daging punggungnya.
Mataku terbelalak besar, dengan tubuhku yang terpaku seperti patung. Hal yang bisa kurasakan adalah berat tubuhnya yang menimpaku, dan suara melengking menusuk ke telingaku.
"Kakak!!"
"Arlen!!"
...24.01.2021...