The Atrocious Duke'S Wife

The Atrocious Duke'S Wife
{Season 2} Selamat Ulang Tahun



Previously....


Saat ia ingin membuka suara, secara cepat lelaki itu langsung memotongnya dan tak membiarkannya mengeluarkan separah kata.


"Festival tahun baru," ujar lelaki itu.


Sontak gadis itu tambah bingung, karena tidak ada petir maupun badai lelaki di hadapannya membahas tentang festival itu.


"Ikutlah ke festival itu denganku."


...~•The Atrocious Duke's Wife•~...


...Chapter...


...(23)...


Cassandra Pov


Sontak aku tercengang, dia barusan mengajakku? Ada angin apa dia tiba-tiba ingin pergi ke sebuah festival yang tidak dia sukai bersamaku?


"Aku sudah berkali-kali mengajak kakak, namun dia selalu menolak. Katanya 'aku tidak ingin pergi ke acara merepotkan seperti itu'."


Perkataan Daisy terngiang-ngiang di otakku, ini sungguh aneh. Tapi... tidak dapat kupungkiri bahwa aku ingin pergi dengannya.


Dia masih diam di tempatnya, menatapku menunggu jawaban yang ia inginkan.


Jika lelaki lain menatapku intens seperti ini, sudah pasti aku akan merasa risih. Namun jika dengannya, yang ada justru malah jantungku berdebar-debar.


Tanpa sadar jariku terangkat menyelipkan beberapa helai rambutku ke belakang daun telinga, kemudian aku pun berkata.


"Baiklah," jawabku.


"Kau setuju?" tanyanya kembali.


"Y-ya," balasku sedikit gagu.


"Benarkah?"


Entah kenapa sekarang aku malah sedikit kesal, dia tuli apa bodoh, sih?


"Tentu saja."


"Kau tidak bohong?"


Oke, ini menyebalkan dan menjengkelkan. Rasanya aku ingin meledak sekarang.


"Ya."


"Kau yakin?"


"Ugh! Ya, ya! Aku akan ikut denganmu, dan aku sama sekali tidak berbohong!" teriakku kesal.


Tak lama, suara kikihan kecil terdengar dari bibirnya. Sepertinya dia sangat suka mempermainkanku.


"Sepertinya anda sangat senang menjahili saya, Lord Arlen," sinisku.


Namun dia masih setia dengan raut wajah menyebalkannya. Dan yang paling lebih menyebalkan, raut menyebalkannya tersebut tetaplah tampan.


"Kau sangat imut, Lady la Devoline," ucapnya.


"Jangan memanggilku imut!" selaku secara cepat. Atau pipiku akan kembali memanas.


"Baiklah. Kalau begitu sampai jumpa, Jeruk," ujarnya kemudian memutar badannya meninggalkanku.


Dia melambaikan tangan kanannya santai dan akhirnya menghilang dari pandanganku.


Saat itu juga tubuhku membeku, mataku seperti bola salju yang besar, dan bibirku tak bisa terkatup karena rasa ketidakpercayaan yang melanda.


Tidak, aku bukan tersipu atau tercengang karena sifat manisnya. Ataupun tercengang karena senyum yang sempat ia layangkan sejenak padaku.


Tapi... aku hanya bingung dengan satu hal.


Barusan dia memanggilku apa?


...~•~...


Setelah beberapa hari kami sangat sibuk, akhirnya hari di mana frstival diadakan pun telah tiba. Sebenarnya kami tidak tahu pasti apakah kami jadi pergi atau tidak, karena dari beberapa hari yang lalu, kami tak henti-hentinya bekerja.


Berkat ide pembatas yang diusulkan oleh Arlen, prosesnya ternyata berjalan lebih cepat. Tidak, bahkan sangat cepat.


Kami membuat lima pembatas, sehingga air sungai terbagi menjadi lima kotak. Air yang kami jernihkan telah sampai di kotak keempat, yang mana sedikit lagi akan selesai.


Untungnya, penduduk yang membantu proses penjernihan semakin hari semakin banyak. Hingga proses ini tergolong sangat cepat daripada proses penjernihan air pada umumnya di zaman ini.


Para wanita membantu mencari bahan-bahan untuk proses penjernihan. Sedangkan para pria bertugas untuk mengangkat bak berisi air, drum, karung penuh dengan bahan-bahan, dan banyak barang yang mempunyai massa yang berat lainnya.


Namun, jika ingin menjernihkan air hingga ke kotak kelima, sudah pasti kami tidak akan bisa ke festival karena waktunya tidak cukup.


Oleh karena itu, aku tidak terlalu berharap. Karena aku juga tidak bisa mengabaikan tugasku.


Bahkan hari pun sudah mulai sangat gelap, pertanda malam akan kembali menyapa. Festival pun akan dimulai dalam waktu tak lama lagi.


Huft... sepertinya aku akan melewatkan festival yang diadakan satu sekali itu.


"Nona Cassandra?"


Tiba-tiba saja aku tersadar dari lamunanku ketika ada panggilan yang tertuju padaku.


"Ya?" tanyaku mendapati seorang perempuan yang akhir-akhir ini cukup dekat dan sering membantuku.


Margaret, namanya.


"Malam ini akan diadakan festival tahun baru, apa anda tahu?"


Tentu saja aku tahu, bahkan aku sangat ingin pergi ke sana.


"Ya, aku tahu," jawabku.


"Apa anda ingin pergi ke sana? Katanya festival itu sangat meriah, akan banyak kembang api yang menghiasi langit. Pasti sangat menyenangkan," papar Margaret berantusias.


"Aku ingin pergi, tapi aku masih punya banyak pekerjaan. Dan aku tidak akan sempat ke sana karena aku sangat lelah setelah pulang bekerja," kataku kemudian memasukkan bahan demi bahan ke dalam drum.


"Kalau begitu, anda pergi saja, kenapa tidak? Anda bisa pergi mengajak Tuan Theo, hohoho~"


Theo adalah nama panggilan yang dibuat oleh Arlen untuk dirinya. Dia bilang dia tidak ingin namanya diketahui penduduk, karena sudah pasti penduduk akan tahu nama Arlen.


Ya, siapa lagi orang yang bernama Arlen selain dia? Dan memang pada dasarnya, lelaki itu memang orang yang sok misterius.


"Margaret, apa maksud 'hohoho' mu itu?" tanyaku. Karena nada bicaranya terdengar seperti menggoda di pendengaranku.


"Haih, jangan berpura-pura tidak tahu, Nona Cassandra. Anda ada sesuatu hubungan khusus dengan Tuan Theo, bukan?" tebaknya.


Sontak aku menghembuskan nafas. "Hubungan apa lebih tepatnya? Jika hubungan pertemanan, maka ya."


"Tidak mungkin hanya hubungan pertemanan!" sergahnya. "Semua penduduk pun sudah pasti bisa melihat, ada 'chemistry' di antara kalian."


"Apanya yang 'chemistry'? Kami hanya teman biasa," kataku. "Setidaknya untuk sekarang."


"Ya sudahlah, tidak saya sangka ternyata anda adalah orang yang kaku," kata Margaret menghembuskan nafas pasrah.


Aku hanya tersenyum tipis melihat tingkahnya. Secara cepat, aku kembali pada aktivitasku dan menjatuhkan kerikil ke dalam drum yang lumayan tinggi ini.


"Cassandra."


Lagi-lagi, ada yang memanggil namaku. Namun kali ini bukan orang yang sama, bukan Margaret, melainkan suara lelaki yang sangat kukenal.


Sontak aku berbalik untuk menghadapnya. "Ada apa?" tanyaku tenang.


Bahkan Margaret pun tampak kegirangan sendiri dengan matanya yang berbinar-binar dan kedua telapak tangannya yang menutup kedua mulutnya ketika melihat kami, mungkin perempuan itu punya jiwa fangirl.


"Ayo pergi," titahnya.


"Ke mana?" tanyaku.


"Festival."


Aku melipat kedua bibirku. Aku harus jawab apa? Aku merasa tidak enak jika tiba-tiba saja meninggalkan pekerjaanku.


"Masih ada pekerjaan yang harus kulakukan," jawabku mengalihkan pandangan.


Dia menatapku intens, membuatku tertunduk dibuatnya.


"Sudahlah, Nona Cassandra. Anda tak perlu khawatir tentang pekerjaan. Lagipula, anda dan Tuan Theo sudah banyak sekali membantu kami. Jadi bersenang-senanglah di festival. Semuanya setuju denganku bukan?!" teriak Margaret pada penduduk lain.


Suara demi suara terdengar memenuhi telinga. Pendengaranku terisi dengan kebahagiaan yang kini menyalur ke seluruh sarafku.


"Itu benar, kalian pergi saja!"


"Bersenang-senanglah!"


"Jangan lupa bawakan kami makanan yang banyak!"


"Terima kasih banyak telah membantu kami selama ini!"


Rasa terima kasih yang kita dapatkan dari membantu orang, adalah perasaan yang paling menenangkan. Seolah-olah hati kita sangat ringan seperti permen kapas yang manis.


Jujur, aku melipat bibirku karena rasa haru yang kini melingkupiku. Dan tentu saja aku berusaha menutupinya, walaupun sangat sulit.


"Jadi, apa tawaranku masih berlaku?" tanya lekaki di hadapanku ini padaku.


Telapak tangannya yang lebar kini terulur dan tertuju hanya padaku. Ukiran senyum tipis kini kembali tertera di bibir persiknya.


Lengkungan senyum lebar yang merekah ini tak dapat kutahan untuk muncul sebagai balasan atas senyumnya. "Tentu saja."


...~•~...


Wah, tidak kusangka ternyata sangat ramai. Bahkan kami pun berdempetan dan berdesakkan dengan para pengunjung yang lain.


Banyak stan makanan dan aksesoris yang terpatri serta tersusun rapi, dan lampu-lampu jalanan menerangi. Bahkan banyak obor yang berdiri kokoh, meramaikan suasana.


Kembang api akan diluncurkan pada tengah malam, saat tahun telah berganti. Sebagai penyambut dan penyapa awal tahun baru yang akan menemani hidup.


Kami hanya berjalan berdampingan menyusuri jalanan yang dipenuhi oleh orang. Karena merasa canggung, aku pun mencoba mencari topik  pembicaraan sebagai senjata pembunuh kecanggungan.


"Apa ada sesuatu yang ingin kau beli?" tanyaku sedikit mencondongkan badanku memandangnya dari samping.


"Entahlah, aku belum memikirkannya," jawabnya seadanya sembari mengalihkan pandangan.


Apa ini? Kenapa dia mengalihkan pandangan seperti itu? Hah! Apa bajuku berdada rendah lagi?!


Sontak aku langsung melihat ke bawah, dan ternyata bajuku sangat tertutup. Aku menghela nafas lega, lalu apa alasan dia mengalihkan pandangannya seperti itu?


Dan kembali seperti awal, keheningan menyertai kami. Walaupun suasana ramai, entah kenapa aku malah merasa di sini sangat sunyi.


Saat aku sibuk berpikir, tiba-tiba saja ada seseorang yang menabrakku hingga aku hampir terhuyung ke belakang dan ternggelam oleh arus orang yang sangat ramai.


Ketika itu juga, tanganku ditarik dengan sangat kuat hingga aku kembali berdiri seperti awal.


Mataku terbelalak ketika aku pikir aku hampir saja terpisah dengannya. Namun dia dengan sangat cepat menarik dan menggenggam tanganku.


"Berpeganganlah denganku. Atau kau akan tersesat," ujarnya.


Sebuah anggukan kujadikan jawaban, lantas aku pun menatap tautan tangan kami.


Ternyata dari awal memang telapak tangannya memanglah lebar... dan kuat. Seakan tidak akan membiarkanku terlepas lagi.


Entah kenapa dapat kurasakan lagi-lagi detak jantungku kian laju, aku merasa seperti kembali ke masa remaja sekarang.


"Cassandra."


"Ah, y-ya?" tanyaku menatapnya.


"Ingin bermain itu?" tunjuknya pada sebuah stan yang menyediakan alat pemanah seperti busur, anak panah, dan papan bidikan.


Sepertinya menyenangkan, lantas aku tersenyum. "Tentu," jawabku.


Kami pun berjalan menuju stan tersebut, dan penyewa yang menyewakan perlatan memanahnya itu pun berkata.


"Jika kalian bisa mengenai lingkaran sepuluh secara berturut-turut, maka kalian akan mendapatkan hadiah yang ada di sini!" paparnya sembari menujukkan berbagai macam hadiah.


Lingkaran sepuluh adalah lingkaran terkecil di papan bidikan itu.


Setelah kulihat-lihat, entah kenapa hadiahnya seperti untuk anak kecil, ada banyak boneka.


Tanpa basa-basi, Arlen pun segera mengukur dan membidik lingkaran sepuluh itu dengan sebelah kelopak mata yang tertutup. Wajahnya tampak tenang dan serius, sekaligus menelisik.


Kenapa wajahnya harus setampan itu?! Hal itu terkadang selalu mengganggu pikiranku.


Tak butuh waktu lama, lelaki itu melayangkan lima anak panahnya dan seluruh anak panah itu pun tertancap sempurna di lingkaran sepuluh.


Penyewa itu ternganga membuatku tertawa. Bahkan Arlen pun tersenyum kemenangan walaupun tidak terlalu terlihat.


Banyak perempuan-perempuan yang mulai berkumpul mengagumi lelaki itu. Aku menjadi sedikit kesal. Ternyata mau di mana-mana saja, dia selalu menjadi pusat perhatian.


Arlen pun tampak berpikir sembari melihat-lihat hadiah yang tertera. Tak butuh waktu lama, akhirnya dia mengambil sesuatu. Aku tidak terlalu bisa melihat secara persis, karena terhalang oleh para perempuan yang berkerumun ini.


Tiba-tiba saja, sebuah karangan bunga Camelia terpatri tepat di hadapan wajahku. Sontak aku membulatkan mataku, sedikit terkejut akan pelaku yang menyodorkan bunga ini padaku.


"Untukmu," ujarnya singkat. Sedikit kikuk, aku pun mulai mengulurkan tanganku dan mengambil karangan bunga indah tersebut.


Sebuah warna merah muda yang menenangkan pandangan menyambut, dan harum yang menyerbak menyerbu penciumanku.


Dapat kudengar pada perempuan lain berteriak, namun aku berusaha mengabaikannya dan fokus dengan satu hal.


"T-terima kasih," ucapku.


Dia pun kembali meraih tanganku dan menarikku, mengikuti setiap langkahnya.


Kami berjalan menyusuri festival ini, dan stan buah-buahan menjadi tempat ketertarikanku tersalur.


"Ayo ke sana," ajakku menunjuk tempat yang aku inginkan. Dia pun hanya menurut ketika aku menariknya dan menyeretnya.


Astaga banyak sekali buah, ini adalah surgaku!


Mataku berlari ke sana kemari mencari buah kesukaanku, tapi tiba-tiba saja ada telapak tangan dengan sebuah jeruk di atasnya tersodor di depanku.


"Mencari ini?" lontarnya membuatku sedikit terperangah.


Tak lama dari itu pun aku tersenyum. "Ya, terima kasih," kataku.


Bahkan ada sebuah tangkai permen jeruk gula yang terjual. Tanpa ragu aku mengambilnya dan membelinya.


Tidak kusangka ternyata permen ini sudah ada di zaman ini. Ya, memang cara membuatnya tergolong mudah. Hanya perlu air dan gula, kemudian dimasak hingga mengental. Dan lapisi di buah jeruknya.


Setelah puas mengambil buah yang aku inginkan, kami kembali berjalan. Dan lagi-lagi, aku yang banyak berbelanja. Sedangkan Arlen hanya mengikutiku tanpa protes.


"Kau ingin satu?" tawarku menyodorkan satu permen jeruk.


Dia diam dan tak bergerak sedikitpun menatap permen yang aku tawarkan, sepertinya dia tidak mau.


"Jika kau tidak mau--"


Belum sempat aku menyelesaikan perkataanku, dia sudah merebutnya duluan.


Setelah beberapa saat dia mengunyah, tiba-tiba saja lelaki ini berhenti sembari meringis dan memegangi pipi kirinya.


Tentu aku terkejut dibuatnya, tiba-tiba saja dia seperti itu. "Ada apa? Kau sakit?" tanyaku berusaha tenang.


Namun dia hanya diam, kemudian dia pun menutupi mulutnya dengan telapak tangannya. Seketika bercak darah tertempel di telapak tangannya membuatku tak bisa lagi bersikap tenang.


"Astaga kau berdarah!" Kuraih telapak tangannya kemudian menatapnya khawatir.


"Kau sakit? Kenapa kau tidak bilang apa-apa?"


"Ini hanya--"


"Kita harus segera membawamu ke tabib!" lugasku kemudian berusaha menariknya.


"Cassan--"


"Ayo cepat, atau sakitmu akan bertambah par--"


"Cassandra!" panggilnya sedikit kuat akhirnya membuatku tersadar dan terdiam menatapnya.


"Tidak perlu tabib, aku baik-baik saja," katanya.


"Tapi kau berdarah!"


"Bukankah aneh jika tidak berdarah ketika patah gigi?"


"Tentu saja aneh! Ketika patah gigi--"


Mendadak, aku terdiam ketika dia berkata seperti itu. Dia bilang patah gigi?


"Gigimu... patah?" beo ku. Lelaki ini pun hanya mengangguk.


"Itu bahkan lebih parah! Cepat muntahkan gigimu atau kau akan tersedak dan mati konyol sepertiku!"


"Ya, ya. Kau tenanglah dulu," ujarnya kemudian beranjak berdiri.


Dia berjalan cukup jauh kemudian membuang sesuatu dari mulutnya yang kuyakini sebagai giginya yang patah.


"Apa kau perlu air?" tawarku sambil mendekatinya. Tanganku pun menyodorkan sebotol air padanya.


"Terima kasih," ucapnya kemudian berkumur dengan air yang telah aku berikan.


Tak perlu waktu lama, dia pun telah selesai dengan kegiatannya.


"Apa masih sakit?" tanyaku dengan alis yang berkerut.


"Kau pikir aku anak kecil?" jawabnya yang sudah pasti aku tahu artinya.


Aku menghembuskan nafas. "Lagipula bagaimana bisa tiba-tiba gigimu patah?"


"Sebenarnya gigiku telah sakit sejak tadi. Karena permenmu yang keras itu, tiba-tiba saja gigiku patah," jelasnya.


Sekarang aku mengerti alasan dia tidak banyak berbicara sedari tadi. Ya, walaupun dia memang sering demikian.


"Jadi itu alasanmu diam saja dari tadi?" gelakku menertawakannya.


"Sekarang kau tertawa, padahal tadi khawatir setengah mati," sindirnya tak mau kalah.


Aku hanya tergelak mendengarnya, hingga tanpa sadar sekarang waktu telah berlalu sebanyak itu.


Sebuah kembang api meluncur ke atas dan meledak menghamburkan banyak kelopak-kelopak api yang cantik dan bertaburan membaur dengan bintang.


Ah... cantiknya.


Rasanya aku tidak bisa mengalihkan pandangan, namun aku harus melakukan satu hal. Karena sekarang sudah memasuki waktunya.


Kulihat dia juga tampak terpana dengan pemandangan indah di langit. Mata biru langitnya yang menggelap tampak berkilau ketika cahaya api memantul di antaranya.


Wajah tampannya tampak menghanyutkan dan menghilangkan akal sehatku, seluruh sarafku berdesir dan menggila dibuatnya.


Kenapa dia bisa se-sempurna itu?


Aku jadi tidak rela memanggilnya dan menghamburkan seluruh pemandangan yang tengah aku amati sekarang.


Sedikit lagi saja... aku ingin menatapnya sedikit lebih lama lagi.


Hingga akhirnya dia pun menoleh dan mengarahkan pandangannya padaku. Netranya menatap dalam padaku, menenggelamkan segala kesadaranku.


Setelah kukumpulkan seluruh keberanianku, akhirnya aku bisa mengucapkan kata-kata yang ingin aku sampaikan padanya.


"Semoga kau bisa menjadi pribadi yang lebih baik. Semoga kebahagiaan selalu menyertaimu, semoga segala keinginanmu terkabul," cecarku kemudian mengambil sesuatu dari sakuku.


Dia tampak bingung, dapat kulihat alisnya yang menukik sebelah dengan mata yang sedikit membesar.


Kusodorkan suatu benda yang ada di atas telapak tanganku, dan pandangannya pun beralih ke telapak tanganku.


"Arlen de Floniouse."


Aku pun menatapnya dengan senyuman terbaikku, dan aku berusaha menyalurkan seluruh perasaanku saat ini.


"Selamat ulang tahun."


Suara kembang api yang menggema, tak bisa kudengar. Seluruh perhatianku telah terenggut olehnya.


Dia terkejut. Sangat terkejut, bolamatanya membola sempurna. Dengan kedua alisnya yang menukik ke atas.


Secara perlahan, pandangannya kembali pada sebuah liontin matahari di atas permukaan telapak tanganku. Jarinya kemudian mengambil benda itu dan menatapnya lembut.


Hal yang tak kuduga adalah senyum lebar yang sangat susah untuk kudapatkan darinya. Kini dia pun memberinya padaku secara percuma.


Jantungku seakan berhenti berdetak saat itu juga, dan kedua telapak tanganku tanpa sadar membungkam mulutku.


Seperkian detik, tubuhku telah berada di dalam kungkungannya yang mencairkan hati. Dadanya begitu lapang... dan hangat.


Seolah-olah aku terhindar dari seluruh bahaya yang ada di dunia ketika berada di pelukannya. Irama jantung kami beradu dengan kehangatan yang melingkupi dan menyebar ke seluruh saraf.


Aku ingin waktu berhenti saat ini juga, aku ingin waktu memahami diriku saat ini juga.


Tanpa celah, dia terus mendekapku makin erat. Namun tak lama dari itu, sebuah kalimat yang ia lontarkan seakan merenggut seluruh nafasku.


"Bagaimana jika sekarang aku mengatakan, bahwa aku mencintaimu?"


...12.02.2021...


.


.


.


.


.


.


{Author Note's}


Whoa, the longest chapter ever wkwkwk. Perlu diingat ya men-temen, ini hanya cerita fiksi :)


Baiklah, karena tak ingin terlalu panjang, aku bakal pamit sekarang. Jangan lupa menberikan apresiasinya pada karya ini ya, agar aku merasa sangat dihargai dan lebih semangat-semangat lagi dalam menulis kisah Cassandra dan Arlen.


Semoga hari kalian menyenangkan.


^^^Sincerely,^^^


^^^Ms. Violin^^^