The Atrocious Duke'S Wife

The Atrocious Duke'S Wife
{Season 2} Festival



Previously....


"Itu terlalu merepotkan."


"Haha...," tawaku hambar. Ternyata dia tidak sebaik yang kukira. Entah kenapa selanjutnya aku tiba-tiba mengatakan hal ini. "Jika aku yang memberimu hadiah, apa kau akan menerimanya?"


Iris biru langitnya yang menggelap dan dihiasi dengan pantulan cahaya bintang kini menatapku. Tiga kata yang ia ucapkan selanjutnya membuat nafasku seakan terhenti.


"Dengan senang hati."


...~•The Atrocious Duke's Wife•~...


...Chapter...


...(18)...


"Festival tahun baru?" tanya seorang gadis berambut coklat gelap dengan pandangannya yang teralihkan dari sehelai kertas yang ada di genggamannya.


"Ya! Apa Kak Cassie ingin ikut?" seru Daisy meletakkan kedua tangannya di atas meja.


Pandangan gadis bernetra biru itu tampak berbinar, menandakan bahwa dia sangat mengharapkan jawaban yang memuaskan dari sang lawan bicara.


Sang gadis yang tengah sibuk itu kini menjatuhkan kertasnya ke atas permukaan meja, kemudian terlihat berpikir-pikir.


"Festival tahun baru, kah?" batinnya.


Festival tahun baru. Itu adalah tradisi turun-temurun kerajaan Erosphire sejak lama. Di festival itu, akan ada berbagai macam stan makanan maupun aksesoris,  sehingga banyak bangsawan-bangsawan yang gesit menghadirinya.


Hal yang paling ditunggu-tunggu dan menjadi bintang di festival tersebut adalah puluhan kembang api yang akan diluncurkan ketika tahun telah berganti. Dan tak sedikit bangsawan yang menemukan pasangan hidup mereka di festival itu.


Tentu gadis yang bernama Cassandra itu tahu tentang festival itu, walaupun dia tidak pernah ke sana karena selalu dilarang oleh ayahnya. Yang mana membuatnya selalu menghela nafas ketika banyak orang-orang yang bersemangat akan festival itu.


"Sepertinya aku tidak ikut," jawabnya kembali fokus pada selembar kertas yang menjadi santapan sehari-harinya akhir-akhir ini.


Perempuan itu terlalu sibuk dengan misi-misinya, dan dia juga selalu sibuk dengan urusan kewilayahan yang dimiliki ayahnya.


Dia berharap dengan bisa membantu ayahnya mengenai urusan ekonomi dan politik, ayahnya dapat meringankan dirinya atas perintah yang menyuruh ia harus mendapatkan lelaki bangsawan yang bisa dijadikan suaminya kelak.


Tentu gadis itu menolak mematuhi perintah itu, karena dia juga memiliki hak untuk memilih kekasihnya sendiri. Walaupun dia menolak hal tersebut dengan cara halus.


"Eh?! Tapi kenapa?! Festival itu menyenangkan, kenapa kak Cassie tidak pergi?" murung Daisy memanyunkan bibirnya. "Lagipula bukankah kak Cassie akhir-akhir ini selalu sibuk dengan urusan politik atau apalah itu? Kenapa kak Cassie tidak beristirahat sejenak?"


Usulan Daisy mampu membuat Cassandra terusik. Dia bukannya tidak ingin, hanya saja dia tidak mau terlibat masalah. Karena membangun kepercayaan ayahnya sama seperti membangun sebuah dinasti, butuh waktu lama dan harus berusaha sesulit mungkin.


Sebagai gadis yang bijak, tentu Cassandra tidak ingin mengambil risiko sebesar itu hanya karena sebuah festival.


"Tidak perlu. Aku masih punya banyak urusan. Kau bisa mengajak Anastasia saja," balas gadis bernetra coklat itu menyesap secangkir teh yang telah tersedia di depannya.


Raut wajah Daisy seketika berubah, mendengar sebuah nama yang terucap dari bibir perempuan di hadapannya tersebut. "Kak Ana sekarang berbeda," celetuknya.


"Apa maksudnya?" tanya Cassandra dengan pandangan tak lepas dari deretan kata demi kata yang terpampang di bola matanya.


"Kak Ana terlihat tengah menyembunyikan sesuatu. Bahkan dia sekarang terlihat seperti orang yang berbeda. Dia tidak sama seperti kak Ana yang kukenal," papar Daisy kemudian memotong kue keju dengan garpunya.


"Mungkin hanya imajinasimu saja," kata Cassandra akhirnya melepaskan pandangannya dari secarcik kertas yang sempat menyita fokus dan waktunya.


"Tidak, aku benar-benar bisa melihatnya! Bahkan aku yakin, kakak pun bisa menyadarinya," kekeuhnya tak menerima bantahan yang terlontar.


"Oleh karena itu, Kak Cassie ayo ikut ke festival itu dan temani aku! Tidak mungkin aku sendirian ke sana," rengek Daisy.


"Kau bisa mengajak kakakmu, bukan?" usul Cassandra bertopang dagu.


Tampak gadis bernetra biru itu menghela nafas. "Aku sudah berkali-kali mengajak kakak, namun dia selalu menolak. Katanya 'aku tidak ingin pergi ke acara merepotkan seperti itu'," kesal Daisy meniru gaya bicara kakaknya.


Bahkan ekpresinya pun bisa dia tiru dengan sangat sempurna.


Sontak Cassandra terkekeh melihat tingkah gadis kecil di hadapannya itu. "Kau sepertinya berbakat menjadi pelawak, Daisy."


"Ayolah itu tidak lucu, Kak Cassie!" gerutunya.


Melihat Daisy seperti itu sedikit membuat Cassandra tak tega, sesungguhnya dia juga ingin pergi. Namun selalu terhalang dengan alasan yang sama. Apa dia harus coba terlebih dahulu untuk membujuk ayahnya?


Setelah dipikir-pikir, sepertinya festival itu sangat menyenangkan. Ditambah dengan berpuluh-puluh kembang api yang akan menyertai festival itu. Sudah dipastikan suasana pasti akan sangat meriah.


Tak bisa Cassandra pungkiri, dia menyukai bunga yang bisa meledak di angkasa itu.


"Baiklah, aku akan mempertimbangkannya," ucapnya membuat Daisy sedikit bingung karena tidak menangkap maksud dari gadis benetra coklat itu.


"Mempertimbangkan apa?" beo Daisy mengerutkan dahi.


"Aku akan mempertimbangkan untuk menemanimu ke festival itu atau tidak," kata Cassandra.


Dalam sekejap, kilauan binar kembali menghiasi iris biru gadis bersurai pirang itu. "Benarkah? Kak Cassie akan ikut denganku?!" serunya.


"Mempertimbangkan. Tidak pasti aku akan ikut denganmu," imbuh Cassandra namun tak cukup membuat Daisy kembali tenggelam dalam kejengkelan.


"Tidak masalah! Asalkan masih ada kemungkinan, aku akan tetap percaya bahwa Kak Cassie pasti akan ikut denganku!" seru gadis itu.


Cassandra hanya bisa menghembuskan nafas dengan senyum tipis, selalu heran kenapa bisa ada gadis seceria Daisy.


Seketika gadis berhelai gelombang itu teringat akan sesuatu. Dia ingin tahu, apa lelaki itu akan ikut jika ia mengajaknya?


Bibirnya terlipat dan terkatup sejenak, tak lama dan itu gelombang volume terdengar dari dalam mulutnya. "Hei, Daisy. Apa ka--"


Saat sadar, gadis itu langsung terdiam dan tak niat untuk kembali melanjutkan perkataannya.


"Ah, bukan apa-apa," lanjutnya kembali tersenyum. Jari telunjuknya kini kembali terulur untuk menggaruk pelan tulang rahangnya.


Daisy kebingungan dibuatnya, namun gadis itu tidak ingin memperpanjang nya.


"Oh iya, aku ingin memberitahu sesuatu padamu, Kak," ujar Daisy.


"Apa itu?"


Senyum mengembang terlukis sempurna di bibir gadis beriris hijau itu, kemudian dia pun hendak mengucapkankan beberapa patah kata.


"Pada saat tahun baru--"


"Nona." Sebuah panggilan mampu mencuri perhatian dua gadis yang tengah menikmati pesta teh kecil-kecilan mereka. Bahkan ucapan Daisy pun terpotong dibuatnya.


"Nona. Tuan Viscount menyuruh saya untuk memanggil anda ke ruangan kerja beliau sekarang," ujar Reina.


"Ah, maaf Daisy. Aku ada urusan, bisakah kita lanjutkan percakapan ini lain waktu?" ucap Cassandra tidak enak.


"Tapi...." Daisy hendak menolak, namun dia tidak ingin egois di sini. Helaan nafas pun terhembus dari pernafasannya. "Baiklah," pasrahnya.


Cassandra tersenyum. "Kalau begitu, sampai jumpa nanti. Semoga harimu menyenangkan," pamitnya kemudian menghilang dari pandangan Daisy.


Gadis bersurai pirang tadi hanya bisa bertopang dagu dengan wajah yang tertekuk. Hendaknya dia tadi ingin memberitahukan sesuatu pada perempuan yang baru saja berlalu dari pandangannya.


Lagi-lagi, hembusan nafas terdengar dari sang empu. "Padahal aku ingin mengatakan, bahwa ulang tahun kakak bertepatan dengan tahun baru," gumamnya.


...~•~...


"Salam, Ayah. Ada gerangan apa Ayah memanggilku kemari?" sapaku membungkukkan badanku.


Air yang keruh? Itu sudah pasti tidak mungkin. Wilayah ayah terkenal sebagai pemasok air yang paling jernih. Sudah banyak bangsawan yang menjalin bisnis ini dengan kami, dan tak satu pun yang mengeluh.


"Air yang keruh? Bagaimana bisa, Ayah? Bukankah wilayah kita adalah pemasok air yang paling jernih?"


"Entahlah. Mereka bilang, banyak penduduk mereka yang mengeluh tentang air yang tak layak dikonsumsi. Ayah meminta bantuanmu. Ayah masih disibukkan oleh urusan lain. Oleh karena itu gantikan Ayah. Apa kau bisa melakukannya?"


Tentu saja aku tidak bisa menolak ayah. Dengan begini, aku bisa semakin membangun kepercayaannya.


Lalu, kemungkinan... ayah juga akan akan memperbolehkanku pergi ke festival yang diadakan setahun sekali itu.


"Baiklah, Ayah. Aku akan segera menyelesaikannya," jawabku lugas. Kembali aku menunduk formal.


Dapatku lihat ayah menatapku dengan intens sejenak, namun tak lama dari itu dia kembali melontarkan perkataannya.


"Ayah percayakan padamu." 


...~•~...


Cukup lama kereta kuda yang tengah kutumpangi menempuh perjalanan, akhirnya aku sampai di wilayah Marquess Thrones.


Sepanjang perjalanan, ternyata wilayah Marquess Thrones kaya akan pertambangan. Banyak pekerja yang menggali hasil tambang yang cukup lumayan menghidupi dan memakmurkan wilayah ini.


Bahkan tanahnya pun sedikit gersang dan tandus, dikarenakan pertambangan yang dilakukan secara besar-besaran.


Sudah pasti, karena ini adalah wilayah Marquess. Gelar bangsawan yang setingkat di bawah Duke.


Dalam sekejap, aku langsung menggigit kuku jariku. Ini tidak akan mudah. Karena bangsawan lebih tinggi akan lebih mudah menuntut bangsawan lebih rendah sepertiku. Jika jawabanku dan solusiku tidak tepat, maka wilayah ayah yang akan terkena imbasnya.


Tidak, bukan hanya wilayah, namun juga penduduk. Oleh karena itu, semuanya bergantung padaku sekarang. Aku harus mengerahkan semuanya dalam naskah kali ini.


Apa maksudmu dengan memberikan tugas seberat ini padaku, Ayah? Apa kau benar-benar telah mempercayai kemampuanku?


Apa kau benar-benar tidak ragu lagi padaku yang selalu dianggap sebagai putri yang tidak bisa apa-apa dan hanya bisa menunggu seorang lelaki yang akan menaikkan statusku?


Tanpa kusadari, ternyata aku telah sampai di depan kediaman megah Marquess Thrones. Dengan jantung yang sedikit berdebar, aku pun menarik nafas dalam dan mulai melangkahkan kaki ku turun dari kereta yang cukup tinggi ini.


Kurapikan topi lebarku yang berwarna seirama dengan pakaianku. Warna coklat muda yang halus. Kutarik sedikit sarung tangan panjangku yang sempat menyusut, kemudian dengan anggun menapakkan kaki beralaskan high heels pada tanah wilayah Marquess Thrones.


Banyak penjaga yang berdiri di depannya, dan langsung membukakan gerbang untukku masuk.


"Apa anda Lady la Devoline?" tanya seorang yang kuyakini kepala pelayan di kediaman ini.


"Ya, itu benar," jawabku lugas dan formal. Mau bagaimanapun, citra adalah yang nomor satu.


"Kalau begitu, silahkan ikuti saya, Lady. Saya akan mengantar anda bertemu dengan Tuan Marquess. Beliau sudah menunggu," cecarnya.


Kubalas dengan anggukan, kemudian dengan patuh aku pun langsung mengikutinya.


.


.


.


.


Suasana sempat mencekam. Saat ini aku tengah berhadapan langsung dengan konsumen yang mengeluh dan mempunyai protes. Tenang Cassandra, anggap saja dia seperti ibu-ibu rumah tangga yang sering mengeluh karena harga sayuran yang naik.


"Saya sudah menunggu anda sedari tadi, Lady," ujarnya sedikit ketus.


"Maafkan atas kelalaian saya dalam mengatur waktu, My Lord. Saya dengar dari ayah saya, bahwa anda mempunyai keluhan. Bisakah anda meluangkan waktu untuk memberitahukan hal tersebut pada saya? Saya akan membantu anda semampu saya," cecar ku tersenyum secukupnya.


"Saya sudah lama menjalin bisnis dengan keluarga Viscount la Devoline selama ini.  Dan akhir-akhir ini, saya mendapati rakyat saya mengeluh akan air yang keruh dan tak layak dikonsumsi. Bagaimana anda menjelaskan kondisi tersebut?"


Baiklah, sepertinya peranku di sini baru dimulai.


"Untuk terutama, jika anda tidak keberatan, bisakah saya lihat secara langsung kondisi yang anda sebutkan?"


"Tidak cukup kalian menyusahkan rakyat-rakyatku, sekarang anda malah dengan seenaknya meminta saya untuk mengantar anda ke lokasi? Apa saya terlihat sebagai lelucon di mata anda?"


Aku tersentak sejenak. Ayolah, bagaimana bisa aku membantu jika pokok masalahnya tidak kumengerti dan kuamati secara baik?! Huh...


"Maafkan atas kelancangan saya. Namun saya di sini bermaksud membantu anda, dan tidak bermaksud untuk merepotkan anda. Saya ke sini agar masalah ini segera bisa terselesaikan, dan semuanya aman. Tidak bisakah anda memberikan pengertian dan menjalin kerjasama dengan baik bersama saya?"


Dapat kudengar dia berdecak kesal. Dia pikir hanya dia yang kesal di sini?


"Baiklah. Tapi jika anda tidak bisa menyelesaikan masalah ini dan tidak dapat memberikan solusi, jangan heran jika bisnis kalian sebentar lagi akan gulung tikar," ucapnya mengancam.


"Anda bisa mempercayakan hal ini kepada saya," balasku meyakinkan.


"Pengawal saya akan menemani anda. Untuk sekarang, sebaiknya anda pergi mengamati wilayah saya dan temukan solusi atas permasalahan ini. Jika sampai matahari terbenam dan anda belum menemukan solusi, maka seluruh jalinan bisnis kita selama ini akan berakhir saat itu juga," paparnya panjang lebar.


Tak lama dari itu, dia pun berdiri dan mulai melangkah menjauh sembari membelakangiku.


Lantas aku pun berdiri dan membungkuk serta menunduk hormat padanya. "Tentu. Saya akan berusaha sebaik mungkin untuk menyelesaikan masalah ini, My Lord."


...~•~...


"Ayah ingin aku bernegosiasi dengan Marquess Thrones?" tanya seorang lelaki memastikan.


"Ya, itu benar. Hasil pertambangan mereka sangat banyak. Mereka bahkan berkontribusi besar dalam pembuatan perhiasan yang mengandung permata-permata mahal di dalamnya," terang seorang Duke yang tengah duduk di kursi meja kerjanya. 


Ruangan yang bernuansa kental akan Romawi itu menjadi saksi perbincangan di antara keduanya.


"Meskipun pertambangan mereka banyak, namun mereka selalu kekurangan hasil pangan. Oleh karena itu, tawarkanlah mereka hasil pangan kita yang melimpah. Dan sebagai gantinya mereka harus menyerahkan sebagian hasil pertambangan mereka pada wilayah kita," jelas sang ayah kembali mengisi keheningan.


"Kekurangan bahan pangan?" beo lelaki beriris biru langit itu.


"Ya. Dikarenakan tanah mereka yang sedikit tandus karena pertambangan besar-besaran mereka, sulit bagi tanaman untuk hidup di sana."


Lelaki bersurai pirang lurus itu hanya diam menyerap dan memahami segala penjelasan yang diberikan ayahnya.


"Bahkan kualitas air mereka pun sangat rendah, sehingga mereka menjalin bisnis besar-besaran dengan Viscount la Devoline yang terkenal akan wilayahnya yang mempunyai kualitas air yang sangat bagus dan jernih," imbuh ayahnya.


Diam sempat menyergap dan menghinggapi mereka, namun tak lama dari itu sebagai balasan atas penjelasan tadi menjadi pembuyar segala keheningan.


"Baiklah, Ayah."


...03.02.2021...


.


.


.


.


[Author Note's]


Jangan lupa dukungannya ya temen-temen. Tekan like itu gak sakit dan gak makan waktu kok :)