
KARYA INI HANYA FIKSI. NAMA, TOKOH, PERISTIWA, TEMPAT, HANYALAH KHAYALAN SEMATA. HARAP PEMBACA BIJAK DALAM MENANGGAPI.
"Percaya lah, bukan aku yang melakukan semua itu. Aku tidak mungkin membunuhnya...!" ujar wanita yang tengah sesegukan ini membela dirinya sendiri.
Sungguh miris hidup wanita itu, di kala ia di tuduh oleh orang yang selama ini di percayai nya. Ia di tuduh telah membunuh seseorang yang tak berdosa, padahal bukan dia lah pelakunya.
Sekalipun memikirkan hal keji seperti itu pun dia tidak pernah, apalagi melakukan nya?
Namun, walaupun wanita ini telah berusaha mengatakan bahwa diri nya tidak bersalah, tetap saja suami yang ada di hadapannya ini tak percaya.
Tak peduli seberapa banyak rintihan di kala suaminya itu mencambuknya, tak peduli seberapa banyak genangan airmata yang jatuh di pipinya karena rasa perih yang menusuk sekujur tubuhnya, pria itu tak akan mendengarkannya.
Tak peduli seberapa banyak kalimat pembelaan yang terlontar dari bibirnya yang kian memucat, pria itu tetap tak akan mendengarkannya.
"Semua bukti mengarah padamu, kau pikir aku bisa mempercayai semua omong kosongmu itu? Kau sungguh membuatku muak!"
Bagaikan di setrum aliran listrik yang konslet, badan wanita itu bergetar, seluruh tenaga nya di dalam tubuhnya seakan menghilang.
Dipandangnya wajah datar nan dingin suaminya, yang menatapnya dengan penuh kebencian di netra biru langit nya.
Sifat yang biasanya dingin namun perhatian, senyum tipis yang biasanya terpatri di wajah tampannya, kini menghilang.
Yang tersisa hanyalah tatapan kebencian yang begitu mendalam.
Sebenarnya apa salah dirinya? Padahal dia sama sekali tidak melakukannya, dan juga kenapa sahabat yang telah lama ia percayai tiba-tiba menuduhnya seperti ini?
Ia benar-benar tidak mengerti, sebenarnya apa kesalahannya sampai ia harus menerima semua ini?
...🥀...
Cassandra Pov
Hal yang pertama kali ku lihat adalah langit-langit yang terdapat ukiran-ukiran ala Romawi kuno kamar ku. Rasa pusing tak dapat menunggu lagi untuk menyerang kepalaku. Tapi anehnya, bisa aku rasakan tubuhku tidak panas lagi.
Apa demamku sudah turun? Dan sepertinya, punggung ku tidak se sakit dan se pedih kemarin.
Aku mencoba menduduk kan tubuhku dan mengumpulkan seluruh tenaga ku. Baju piyama yang nyaman kini telah tersemat di tubuhku. Sunyi, jarang sekali kamar ini tidak ramai. Biasanya suara Elise selalu memenuhi seluruh kamar ku.
Dimana pelayan setia ku itu?
Kuturunkan kaki perlahan-lahan dari ranjang, kemudian aku melangkah untuk keluar.
Pertama-tama, aku berusaha menjaga keseimbangan ku agar aku tidak jatuh dan berakhir mencium lantai lagi. Tanganku pun meraih gagang pintu kamarku lalu membukanya.
Sepi. Kemana semua orang? Aku pun celingukan. Tidak ada seorang pun di lantai dua.
Tapi sepertinya aku mendengar, ada suara pria yang menggelegar dari bawah. Dan suara itu, sepertinya aku mengenalinya. Karena penasaran, aku pun langsung menuruni tangga dan sampai di lantai bawah.
Banyak pelayan-pelayan yang berkerumun sehingga aku tak bisa melihat apa yang sebenarnya terjadi di sini. Dengan tak sabaran aku pun bertanya pada satu pelayan yang terlihat ketakutan seraya dengan tubuhnya gemetaran.
"Apa yang terjadi di sini?" tanyaku, dan pelayan itu pun sedikit terkejut drngan kehadiranku.
Dengan tergagap, ia pun langsung menjawab. "S-saya tidak tahu, Nyonya. Tu-tuan Duke tiba-tiba saja mengamuk dan mencambuk Pak Edward."
Mencambuk?! Aku mengernyitkan alis ku, Pak Edward? Siapa itu?
Daripada di landa oleh rasa penasaran terus-menerus, ku langkahkan kaki ku lebih dekat untuk melihat siapa itu sebenarnya.
Saat aku dapat melihatnya, bolamataku seketika membelalak. Bukankah itu adalah kusir yang mengantar kami pulang kemarin?
Kenapa Arlen menyiksa pak tua itu?!
"Bukan kah sudah ku bilang untuk tidak membiarkan dia terluka sedikit pun? Kau telah melalai kan tugasmu."
Ujarnya santai dengan raut datar dan dingin nya yang seperti biasa. Bagaimana bisa dia bersikap biasa seperti itu saat dia baru saja menyiksa seseorang?
Aku benar-benar tak percaya ini.
"M-maafkan saya, Tuan... saya mohon ampuni saya...," mohon pak tua itu sambil bersujud dengan darah yang menghiasi seluruh pakaiannya akibat luka cambukan yang mengerikan.
Tapi Arlen, pria kejam tidak menggubris sama sekali terhadap permohonan pak tua itu.
Pedang tajam yang ada di tangan kanannya, ia ayunkan ke atas, lalu ia berkata. "Sesuai perkataanku, jika dia terluka sedikit saja, maka kepala mu itu akan putus dari badanmu."
Para pelayan yang ada di ruangan ini pun langsung menutup kelopak mata mereka dengan rapat, tapi berbeda denganku.
Aku tak bisa membiarkan orang tak bersalah di perlakukan secara keji seperti itu. Dengan cepat, aku menyelip di kerumunan yang menyesakkan ini, kemudian melesat dan berdiri di hadapan pak tua itu sambil membentangkan kepalaku.
"Berhenti!"
Satu inchi. Satu inchi lagi saja, aku bisa kehilangan kepalaku. Mata pedang itu tepat di sebelah leherku, tapi aku tak gentar untuk melindungi apa yang menurutku benar.
"Nyonya!"
Mata pria itu menyalang bertepatan dia menghentikan pergerakannya. Dapat aku dengar, suara dari pelayan-pelayan di rumah ini meneriaki namaku.
"Apa yang kau lakukan?! Kau mau mati, hah?!" bentaknya padaku. Tapi aku tak akan diam saja di saat dia ingin merenggut nyawa orang yang tak bersalah.
"Justru aku yang seharusnya bertanya seperti itu, apa yang kau lakukan?! Mengapa kau menyiksa dan mau membunuh orang yang tak bersalah?!" teriak ku.
"Orang yang tak bersalah? Dia tidak bisa melaksanakan tugasnya, jadi dia pantas di hukum."
Tidak bisa melaksanakan tugas? Maksudnya tentang luka di punggungku?
"Apa ini hanya karena luka di punggung ku sehingga kau menyiksanya seperti ini?"
"Bukan hanya karena luka mu saja. Orang sepertinya yang tak bertanggung jawab dan tidak bisa menjalankan tugas dengan baik, memang harus musnah dari dunia ini."
Bagaimana kau bisa mengatakan hal itu dengan raut wajah datar seakan tak berdosa sedikitpun?
"Dunia ini bukan tempat untuk orang sepertinya."
Dia kembali berkata membuatku mengepalkan kedua telapak tanganku. Jadi maksudmu, tak peduli siapapun yang tak bisa menjalankan tugasnya dengan baik, dia harus mati, tidak peduli dia bersalah atau tidak bersalah. Seperti itu?
Pemikiran macam apa itu?!
Plak!
Telapak tanganku melayang dan menampar pipinya dengan keras, sehingga wajahnya terpaling seraya dengan bola mata nya yang membelalak tak percaya. Begitupun dengan semua orang yang ada di sini.
"Ternyata kau memang kejam!!" jeritku.
Semua pemikiranku tentangnya seratus persen salah. Semua yang di tulis di novel itu, semua nya benar.
Ternyata, aku memang masih terlalu naif. Aku pikir aku telah banyak belajar bagaimana sifat-sifat orang yang berada di sekitarku.
Namun, nyatanya tidak.
^^^I Become Wife of the Atrocious Duke^^^
^^^6 November 2020^^^