
KARYA INI HANYA FIKSI. NAMA, TOKOH, PERISTIWA, TEMPAT, HANYALAH KHAYALAN SEMATA. HARAP PEMBACA BIJAK DALAM MENANGGAPI.
"Bos, apa anda adalah Nyonya kaya? Bahkan punya kereta kuda pribadi seperti ini," celetuk Peter.
"Wah benarkah, Bos? Anda kaya tapi tetap saja murah hati, saya sangat salut. Apa anda tidak ada niatan untuk mencari suami baru? Jika anda mau, saya bersedia kapan saja," sahut Patrick yang mana membuatku langsung menoyornya.
"Tidak terimakasih," sarkasku memutar bolamata jengah dengan kelakuan dua bocah petakilan ini.
"Haha, rasakan! Dasar kakak bodoh!" gelak Peter menggelegar di dalam kereta sempit ini.
"Padahal aku hanya bercanda...," cicit Patrick seraya mengusap dahinya.
Hah... jika bukan karena terpaksa, mungkin aku tidak akan menyuruh mereka untuk menjadi mata-mataku.
Dan, aku juga tidak akan mengajak mereka pulang. Bukan karena apa, aku mengajak mereka pulang untuk melihat bagaimana rupa wajah Anastasia.
Karena, bagaimana mereka akan memata-matainya kalau wajahnya saja tidak tahu bagaimana bentuknya?
Oleh karena itu aku membawa mereka agar mereka mengetahui bagaimana rupa Anastasia.
Bahkan aku pun telah menyuruh Elise pulang terlebih dahulu agar dia tidak curiga padaku.
"Dengar. Sebentar lagi kita akan sampai, kalian pakailah karung itu, untuk menutupi seluruh tubuh kalian, agar tidak ketahuan," perintahku dan mereka mengangguk secara cepat.
"Uh, menjadi mata-mata sangatlah keren, tidakkah menurutmu begitu, Pat?" tanya Peter dengan mata berbinar-binar.
"Sudah kubilang panggil aku kakak! Dasar adik durhaka!" Patrick berseru, membuatku menghela nafas di kala kedua bersaudara ini mulai bertengkar layaknya anak kecil yang tengah berebut mainan.
"Lalu kalian nanti berbaringlah, berlagak sebagai hewan yang ditarik olehku," ujarku.
"Memang anda sanggup menarik kami berdua, Bos?"
"Tentu tidak. Oleh karena itu, walaupun kalian berbaring, tapi tetaplah gunakan tenaga kalian untuk bergeser."
"Baiklah, Bos!"
Tap! Tap! Tap!
Suara kaki kuda terus menapak ke tanah hingga akhirnya selepas cukup lama kami menempuh perjalanan, kami pun sampai.
"Pakailah karung itu," titahku.
"Baik, Bos!"
Setelah mereka bagaikan hewan buruanĀ yang dikarungi, kami bertiga pun turun dari kuda.
Aku pun menarik mereka berdua yang telah terbungkus karung, kemudian menuju ke taman belakang berniat menyuruh mereka sembunyi.
Tapi keberuntungan tetap tidak berpihak padaku, sehingga muncullah sesosok pria yang menjadi tuan rumah di sini.
"Apa yang kau lakukan?"
Aku berjingkrak kaget di saat dia tiba-tiba mengeluarkan suara di belakangku.
Dengan pelan, kuputar badanku menghadapnya kemudian menunjukkan senyum.
"J-jarang-jarang sekali kau senggang di w-waktu seperti ini. Ada apa?" tanyaku berusaha mengalihkan perhatian.
"Ya, begitulah," jawabnya singkat. Netranya lalu melirik ke arah belakangku. "Apa yang kau bawa?"
Dengan gerakan kaku, leherku bergerak mengarah kebelakangku, dimana terletak dua manusia di dalam karung yang terikat dan terlentang di tanah.
"A-ah! I-ini adalah rusa!" seru ku.
"Rusa?"
"Ya, rusa! Aku sempat memburunya tadi, dan aku mendapatkannya dua! Aku baru saja akan membuangnya," bohongku.
"Kenapa dibuang? Bukankah itu adalah hasil buruanmu?"
Aish, aku harus jawab apa?!
"Y-ya... aku memang ingin membuangnya. Karena rusa ini ternyata sempat terluka sebelum aku buru, sehingga ada bagian dari tubuhnya yang sedikit membusuk."
Kumohon percaya saja, aku bingung harus menjawab apa lagi!
Dia tampak menaikkan alis sebelahnya, seraya menatapku. Apa aku terlihat sangat mencurigakan?
Jangan sampai ketahuan, atau akan akan dalam bahaya! Bayangkan saja bagaimana ekspresinya nanti ketika tahu bahwa aku tengah menyelundupkan dua pria asing.
Bisa-bisa aku langsung dipenggal di tempat.
"Tunjukan padaku, aku akan membuang bagiannya yang busuk," tawarnya membuatku membelalakkan mataku.
Saat dia ingin meraihnya, dengan cepat aku menahan tangannya dengan seluruh tenagaku.
"J-jangan!" sergahku dan dia tampak bingung.
"Apa?"
"U-uh... itu.... Itu tidak perlu. Aku memang sudah tidak menginginkannya, jadi aku akan membuangnya," kataku.
Dia tampak menghela nafas. "Baiklah," balasnya.
Fyuh~ Akhirnya aku bisa bernafas lega.
"Kalau begitu aku akan ke dalam. Mulai sekarang, kemaslah barang-barangmu, karena kau akan tidur di kamarku."
Aku mengangguk cepat, dan raut wajahnya mulai melembut menatapku. Setelah itu dia pun mulai berjalan menjauh.
"Hah... huh...." Aku menarik nafas dan menghembuskannya. Kukira aku akan ketahuan, tapi untunglah tidak.
"Bos?"
"Hei! Bukankah sudah kubilang jangan berbicara?!" marahku sambil berbisik.
"Tidak, bukan, Bos. Saya hanya ingin mengatakan suatu hal yang penting," bisik Patrick.
"Apa?"
"Apa pria barusan itu adalah suami anda? Dia sangat tampan, sangat cocok dengan Bos yang cantik seperti Bidadari," terang Patrick.
Ingin sekali kuinjak kepalanya saat ini dengan kakiku.
"Sudah kubilang bos itu seperti Dewi!"
"Apa kalian ingin kutenggelamkan di laut saat ini juga?" ketusku mengancam.
"A... ampun Bos...," cicit mereka membuatku mendengus.
Bagaimana cara adik-adik mereka menghadapi kakak tipe seperti ini setiap hari?
...š„...
Sebuah taman belakang yang dipenuhi oleh salju, dan tanaman yang hanya tumbuh di musim dingin.
Semak-semak yang lumayan tinggiĀ menjadi tempat persembunyian kami. Setelah lama menunggu, akhirnya Anastasia pun melewati taman belakang ini bersama pelayannya.
Entah apa yang dilakukannya, aku juga tidak tahu. Dengan dua lelaki petakilan yang berada di kanan dan kiriku, kami pun dengan super diam mengamati Anastasia.
"Bagaimana? Apa kalian kelihatan bagaimana rupa wajahnya?" tanyaku berbisik.
"Apa itu adalah orang yang anda ingin kami mata-matai, Bos?" tanya Patrick.
"Dia cantik sekali," sahut Peter.
Sudah kuduga para kaum pria pasti akan memuji kecantikan wanita ular berkaki dua itu.
"Tapi entah kenapa sepertinya dia adalah wanita jahat," lanjut Peter membuatku langsung mengarahkan kepalaku padanya.
"Ya, kau benar. Lihatlah tatapannya, seperti palsu. Aku tidak suka," celetuk Patrick.
Apa sejelas itu bahwa Anastasia adalah wanita jahat? Apa hanya mereka saja yang memiliki penglihatan yang sedikit berbeda dari yang lain?
"Jadi kalian tahu bahwa dia adalah wanita jahat. Oleh karena itu kalian harus berhati-hati, otak wanita itu sangat licik," peringatku.
"Baik, Bos!"
"Kalian terlalu berisik!" Aku pun dengan cepat membungkam mulut mereka berdua.
Mereka hanya tertawa kecil, dan aku pun jadi ikut terbawa suasana hangat ini.
Aku jadi merasa seperti punya dua adik laki-laki.
"Ini, pakai ini. Untuk menutupi wajah dan rambut kalian," ucapku memberikan dua tudung berwarna hitam dan syal yang dapat menutupi setengah wajah.
"Wah! Kita seperti ninja Peter!" seru Patrick berbisik seperti bocah yang mendapat mainan baru.
"Keren sekali! Dengan begini semua gadis pasti akan terpikat denganku!" puji Peter terhadap dirinya sendiri membuatku terkikik.
"Heh! Semua gadis pasti akan terpikat denganku, karena aku lebih tampan darimu!" sela Patrick.
Sepertinya pertengkaran tentang siapa yang lebih tampan ini akan berlangsung lama.
...š„...
Sebuah buku dan pena bulu setia menemaniku untuk menghabiskan waktu dengan membuat rencana kehidupan dan tujuanku selanjutnya.
Mengutus mata-mata untuk mengawasi Anastasia sudah. Lalu selanjutnya, aku hanya tinggal menunggu mereka menyampaikan informasi padaku.
Ya, untuk sekarang. Aku hanya harus berpura-pura dan bersikap seperti biasa. Dan, semoga saja mereka berdua tidak ketahuan.
Agar aku dapat memancingnya dan mengetahui apa benar Arlen dan Anastasia melakukannya malam itu.
Lidahku terasa sangat pahit, bahkan perutku ingin menyemil. Sepertinya buah jeruk akan sangat cocok untuk aku makan saat ini.
Aku pun menutup buku dan menaruh pena bulu ini dengan rapi, kemudian beranjak menuju pintu kamarku.
Ketika aku membukanya dan ingin pergi ke lantai bawah, tiba-tiba saja aku menubruk sesuatu yang keras dan lebar sehingga aku hampir terjatuh ke belakang jika tidak ada tangan yang melingkar di pinggangku.
"Tidak bisakah kau mengetuk terlebih dahulu?" tanyaku mendongak menatapnya.
"Aku baru saja ingin mengetuk, tapi tiba-tiba saja kau membuka pintu," jawabnya.
"Kalau begitu, lepaskan. Aku ada urusan."
"Urusan apa?"
"Mengambil jeruk dan memakannya."
"Kau pikir itu adalah urusan?"
"Makan adalah suatu kegiatan, oleh karena itu makan bisa juga disebut urusan."
"Tererahmu." Dia akhirnya pasrah membuatku terkekeh kecil.
"Kalau begitu, lepaskan?" ulangku karena dia tak kunjung melepaskan lilitan tangannya.
Tak lama dari itu, dia menjauhkan dirinya dariku dan aku pun mulai melangkah ke lantai bawah.
Namun sedetik kemudian aku dibuat bingung ketika dia berjalan ke arah belakangku masuk ke dalam kamarku.
"Kenapa kau malah masuk ke kamarku?" tanyaku tak henti-hentinya heran. Tapi dia sama sekali tidak menghiraukan dan malah terus berjalan menuju ke lemari pakaianku dan berniat membukanya.
Sontak aku langsung melesat ke arahnya dan menyergahnya membuka pintu itu dengan menyembunyikannya di belakang punggungku.
Apa dia gila?! Tiba-tiba saja masuk ke kamarku dan berniat membuka pintu lemariku! Di situ terdapat banyak barang pribadiku asal kau tahu!
"Apa yang kau lakukan, Cintaku?" tanyaku penuh penekanan. Namun raut wajahnya masih saja tenang.
"Mengemas pakaianmu," jawabnya enteng.
Mengemas pakaian? Untuk apa?
"Untuk apa kau mengemas pakaianku?"
Dia pun melipat kedua tangannya di depan dada. "Bukankah sudah kubilang bahwa kau akan pindah dan tidur di kamarku?"
"Mulai sekarang, kemaslah barang-barangmu, karena kau akan tidur di kamarku."
Dalam sekejap aku pun menepuk jidatku dan menutup kedua mataku. Kenapa aku sampai lupa hal itu?
"Kau tak perlu mengemasnya. Aku bisa menyuruh Elise," kataku.
"Kau bilang ingin jeruk bukan? Aku akan mengambilkannya untukmu," tawarnya.
"Terimakasih."
"Kau tahu bukan kalau aku tidak akan puas hanya dengan rasa terimakasih?"
Entah dalam detik keberapa, tangannya sudah berhasil meraih pinggangku dan merengkuh tubuhku mendekat padanya.
Jadi tawarannya tadi itu hanyalah modusĀ belakang? Astaga benar-benar.
Telapak tangannya yang besar berjalan dari pipiku hingga menuju ke tengkuk belakangku. Jari-jemarinya kini menyelipkan beberapa helai rambutku di sela-selanya.
Seraya menekan tengkukku, dia mulai memiringkan wajahnya kemudian terus menatap sayu bibirku.
Seakan mengerti gerak-gerik yang ia tampilkan, aku pun menutup kedua mataku menunggu bibirnya berlabuh.
"Tuan?"
Lantas, kami pun berhenti dari aksi kami dan menoleh ke arah sumber suara. Dengan cepat aku mendorong tubuhnya menjauh dan kembali pada posisi awalku.
"Maaf telah menganggu anda, Tuan," ucap pelayan itu dengan kepala tertunduk.
"Ada apa?"
"Nyonya Anastasia ingin bertemu denganĀ anda, Tuan," ujar pelayan itu.
"Bilang padanya bahwa aku tengah sibuk," selanya.
Raut wajahnya terlihat berubah sedikit... dingin?
Ini aneh, walaupun dia membenci Anastasia, tapi bukankah jika pria lain agak menjadi sedikit menghangat terhadap wanita yang mengandung anaknya?
Apa Arlen adalah tipe orang yang tidak terlalu suka pada anak kecil?
Atau hanya imajinasiku saja?
"Nyonya Anastasia sedang dalam kondisi tidak baik, Tuan. Dia ingin bertemu dengan anda."
"Sudahlah, temui saja. Lagipula Anastasia juga tengah mengandung anakmu, mau bagaimanapun kau sebagai ayah setidaknya menemani ibu dari anakmu," bujukku agar perdebatan ini segera berakhir.
Tampak dia terlihat mendengus kasar. "Baiklah, tapi kau ikut denganku."
Aku mengangguk dengan senyuman.
...š„...
"Ada apa, Anastasia?" tanya Arlen tanpa basa-basi. Sorot matanya tambah dingin, sebenarnya apa yang terjadi padanya?
Padahal sebelumnya dia kelihatan baik-baik saja.
"Aku hanya ingin melihatmu....," lirih Anastasia. "Aku tiba-tiba saja ingin memakan masakanmu waktu itu... apa kau bisa membuatkannya untukku, Arlen?" pintanya dengan nada hati-hati.
Aku pun menoleh ke arah pria di sebelahku ini, dia hanya diam. Namun tak lama dari itu dia akhirnya berkata.
"Baiklah."
Selepas itu dia langsung pergi keluar kamar dengan langkah dari kaki jenjangnya. Meninggalkanku berdua di kamar ini bersama Anastasia.
Kulangkahkan kaki ku mendekati Anastasia yang berada di atas permukaan kasurnya kemudian duduk di pinggiran ranjang gadis itu seraya menggenggam kedua tangannya.
Sungguh citra istri pertama yang sangat baik.
"Anastasia, apa kau merasa baikan? Aku dengar dari pelayan bahwa kau tengah tidak enak badan," ucapku penuh kelembutan.
"Aku hanya sedikit mual dan pusing saja, tapi sekarang aku sudah mulai merasa baikan," jawabnya tersenyum lemah.
"Syukurlah. Kalau begitu, kau beristirahatlah, jangan terlalu memaksakan dirimu untuk bekerja yang berat-berat."
Wanita ini tampak menunduk, dan takut wajahnya mulai meneduh. Ada apa dengannya? Sandiwara apa lagi ini?
"Hei, Cassandra. Tidakkah kau berpikir bahwa Arlen membenciku?"
Mana aku tahu.
"Apa maksudmu, Anastasia? Arlen tidak mungkin membencimu. Kalian adalah sahabat bukan? Lalu kenapa dia harus membencimu?"
"Justru karena itu! Aku berpikir bahwa Arlen membenciku karena aku tengah mengandung anaknya. Dia mungkin... tidak menginginkan anak yang ada di perutku ini!"
Dia mulai menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangannya dengan suara isakan yang mulai terdengar.
"Arlen pasti membenciku karena anak ini tercipta dari kesalahan malam itu...! Kau lihat kan dia sangat dingin terhadapku tadi? Namun... aku juga tidak bisa berbuat apa-apa malam itu... aku benar-benar tak berdaya...."
"Apa kau pikir Arlen se-br*ngsek itu?" kataku membuat wanita ini mendongak.
"Arlen tidak mungkin sejahat itu untuk membencimu yang tengah mengandung anaknya. Mungkin saja dia tengah dalam suasana hati yang buruk, oleh karena itu dia bersikap dingin terhadapmu," lanjutku.
"Benarkah...?"
Aku mengangguk. "Lagipula kau juga sedang hamil muda, tidak baik untuk terlalu banyak pikiran. Jadi jangan terlalu berpikir berlebihan, ya?"
Anastasia tersenyum.
Aku jadi terlarut dalam pikiran, wanita ini tampaknya terlihat sangat senang ketika aku mengatakan hal itu.
Apa benar anak yang dikandungnya adalah anak Arlen? Entah kenapa aku jadi merasa gelisah.
"Terimakasih." Suara Anastasia menghamburkan lamunanku, dan tanpaĀ sadar pria itu sekarang telah berada di belakangku.
"Aku ada urusan dengan Cassandra, apa tidak apa jika aku tinggal?" tanya Arlen pada Anastasia yang menyuapkan sesendok demi sesendok makanan yang telah dibuat pria ini.
Wanita itu lantas mengangguk, dan saat itu juga aku merasa pergelanganku ditarik begitu saja.
Arlen membawaku pergi dari kamar Anastasia, masih setia dengan genggamannya di pergelangan tanganku.
"Hei, kau mau membawaku kemana?" tanyaku tak dapat membendung rasa penasaranku.
Dia tampak melukis senyum tipis. "Bukankah kita sekarang akan menjadi teman sekamar?"
Setelah dia berkata seperti itu aku jadi tersenyum lirih. Walaupun Anastasia tengah mengandung anaknya.
Ternyata kasih sayang dan perhatikan yang ia tujukan padaku tidak berkurang dan pudar sedikitpun.
^^^I Become Wife of the Atrocious Duke^^^
^^^25 Desember 2020 ^^^