
Previously....
"Kak! Pertandingannya sebentar lagi akan dimulai, lebih baik kakak bersiap-siap!"
Perkataan Daisy membuatku terbuyar dari lamunanku. Senyum kulayangkan untuk Daisy, kemudian mengikutinya yang saat ini tengah menarik-narik lenganku.
Aku harus memenangkan pertandingan ini.
...~•The Atrocious Duke's Wife•~...
...Chapter...
...(11)...
Pertandingan sudah dimulai sejak beberapa saat yang lalu, seluruh perempuan yang ikut serta kini ditugaskan untuk mencari sebuah hewan yang akan diburu.
Seperti yang aku katakan, semakin besar dan langka hewan tersebut, semakin banyak peluang untuk menang.
Berbekal dengan sebilah pedang di genggaman telapak tanganku, dengan kehati-hatian ekstra aku menyusuri hutan yang sunyi dan amat luas ini.
Tiba-tiba saja di depanku ada seekor rusa yang tengah asyik memakan makanannya.
Jika aku memburu rusa itu, sudah dipastikan aku akan kalah, karena rusa adalah hewan yang sudah biasa untuk diburu.
Lebih baik aku mencari hewan yang lain saja.
Grrr...!
Bunyi apa itu?
Sontak aku memutar tubuhku dan memasang bolamataku untuk menangkap sumber suara mengerikan.
Mulutku ternganga begitu saja di kala aku melihat ada sebuah harimau yang tengah membidik rusa itu kemudian dengan cepat segera menyergapnya kapan saja.
Kenapa mereka memilih hutan yang ada banyak binatang buasnya?! Apa mereka ingin bertanggung jawab jika ada nyawa yang melayang?!
Ini adalah pertandingan berburu perempuan, setidaknya mereka memilih hutan yang sedikit atau tidak ada binatang buasnya.
Tapi bukan itu saja yang aku khawatirkan, seorang perempuan juga berada di sana.
Astaga orang bodoh mana yang mendekati seekor harimau?! Apa dia mau mati?!
Ini gawat, jika aku tidak maju menyelamatkannya, perempuan itu sudah dipastikan tamat. Tapi, jika kau maju, maka nyawaku pun juga akan melayang.
Haish! Bagaimana ini?! Apa aku harus melarikan diri dan pura-pura tidak melihat?!
Argh, sialan! Bodo amat! Terobos ajalah!
"Kya!"
"Menyingkir!"
Slash!
"Groar!!!"
"Lari!"
Dengan cepat aku menarik pergelangan tangan perempuan tadi dan segera menariknya melesat menjauhi harimau yang tengah terluka karena tebasan pedangku tadi.
Untung saja aku mengenai salah satu kaki harimau itu, sehingga hewan tersebut tidak langsung mengejar kami.
Aku menyempatkan untuk melirik ke belakangku setiap saat, mengawasi jika harimau itu mengikuti kami atau tidak.
Selepas berpuluh jejak kaki kami ciptakan, kurasa kami sudah cukup jauh dari binatang buas itu. Bahkan pompaan jantungku pun telah menggila, sehingga aku memutuskan berhenti.
"Hah... hah...." Paru-paruku dengan serakah menghirup seluruh udara di sekitarku, upaya menenangkan detak jantungku
Hingga setelah sedikit tenang, aku mulai berpaling untuk menatap perempuan yang aku selamatkan tadi. Bahkan aku pun belum sempat melepas cekalan tanganku padanya.
"Apa yang kau lakukan sehingga bisa berada di dekat bintang buas seperti itu?! Kau ingin menjadi santapannya?!"
Entah kenapa emosiku tiba-tiba melonjak ke atas. Bibir ini tak bisa kutahan untuk meneriakkinya. Aku kesal, ketika orang dengan bodohnya hanya diam ketika bahaya telah berada di depan mereka.
Hal itu... mengingatkanku pada diriku yang dulu. Dan aku sangat kesal ketika kembali mengingatnya!
Saat aku menatap dengan seksama perempuan yang ada di hadapanku ini, aku terpelotot tak percaya. Tidak, lebih tepatnya sangat sangat tak percaya.
"Anastasia...?" gumamku tanpa sadar. Seketika aku langsung membungkam bibirku dengan melipatnya.
Ini aneh! Bukankah kamu pertama kali bertemu saat pesta yang diselenggarakan di kediaman Arlen?
Kenapa pula kami bisa bertemu di sini?! Apa semuanya benar-benar telah berubah?
"Eh... bagaimana anda tahu nama saya?" Dia bertanya dengan tampang polosnya.
"Ah, uhm... anda mirip dengan dengan kenalan saya," kilahku sedikit gagu. Untung saja alasan tersebut langsung terlintas di otakku.
"Begitu...."
Sekejap, kami terdiam. Tidak ada lagi percakapan setelah itu. Namun tak lama, sebuah permintaan maaf terlontar dari bibirnya.
"Maafkan saya, karena telah merepotkan. Jika anda tidak menyelamatkan saya, saya sudah pasti tak tertolong lagi," ujarnya dengan air mata yang mulai meluncur.
Sial... kenapa dia sangat berbeda? Dia sangat imut sekarang, sangat berbeda dengan dirinya ketika telah dewasa.
"Tidak apa. Lagipula saya juga sudah membentak anda tadi, jadi anggap saja kita impas," balasku.
Anastasia tersenyum sehingga deretan giginya yang tertata rapi dan putih terpampang dengan sangat jelas.
Tatapannya, sama persis seperti ketika kami masih bersahabat dahulu. Aku tidak ingin munafik, aku sedikit merindukan masa itu.
"Anu...."
Tiba-tiba aku tersadar dari lamunanku. "Ah maaf, apa anda bilang sesuatu?"
"Itu...." Dia tampak gelisah seraya mengalihkan pandangan dariku. Bahkan jari-jarinya pun tak bisa diam.
"Jika anda tidak keberatan... apa anda ingin menjadi teman saya?"
Bagaikan ada anak panah keimutan menyerangku tepat di dahi, aku merasa sangat kalah telak saat ini. Kalau dia memasang tampang seperti itu, bagaimana aku bisa menolak?
Berteman dengannya tidak akan mengacaukan rencanaku, bukan? Lagipula, aku juga sudah menyusun rencana jika ada sesuatu yang tidak mengenakkan terjadi.
"Baiklah," jawabku pasrah. Semoga aku tidak menyesali keputusan ini.
"Benarkah?! Kalau begitu, anda boleh memanggil saya Ana! Karena kita berteman, bolehkah saya tahu nama anda--"
"Tidak usah terlalu formal. Bukankah kita telah menjadi teman?" potongku. "Namaku Cassandra," imbuhku.
Dia meringiskan senyum dengan tawa kecil. "Ah ya tentu saja! Kau boleh memanggilku Ana. Kalau begitu, apa aku boleh memanggilmu Cass?"
Cass, kah? Ternyata banyak sekali nama panggilan yang bisa dibuat dari namaku.
"Tentu saja, karena kita telah berteman," jawabku dengan senyuman.
Anastasia pun kembali menyengir kemudian mengulurkan tangannya ke arahku, bermaksud untuk berjabat tangan.
Dengan senyuman, aku menerima jabatannya. Sehingga mulai dari hari ini, kami pun akhirnya resmi menjadi teman.
"Oh iya, sebaiknya kita tidak membuang waktu. Lebih baik kita mencari binatang untuk diburu sekarang!" peringat Anastasia membuatku teringat akan hal itu.
Hampir saja aku melupakan hal itu, sebaiknya aku harus bergegas untuk mencarinya. Karena aku harus memenangkan pertandingan ini, dan meraih posisi nona bangsawan terhormat tahun ini.
...~•~...
"Cassandra, apa yang akan kau buru?" Ternyata selain lugu, Anastasia yang dulu juga sangat cerewet. Aku sempat lupa akan hal itu.
Kutarik nafasku lelah, berharap dia berhenti bertanya dan tidak mengganggu konsentrasiku. "Entahlah," jawabku asal.
"Oh iya, karena aku tidak ahli berburu, maukah kau mengajariku?"
"Hah?" bingungku. "Jika kau tidak bisa berburu, lalu kenapa kau ikut pertandingan ini?"
Dia hanya menyengir dengan kekehannya. "Hehe. Sebenarnya, aku ikut hanya karena aku ingin melihat lelaki yang kusukai," jawabnya seraya tersipu.
Senyum malu-malunya timbul dengan rona merah yang mulai merambat di pipi mulusnya. Bahkan bola matanya pun tak bisa diam, benar-benar ciri-ciri orang yang sedang mabuk asmara.
"Oh... begitu." Ya, tanpa dibilangpun aku sudah tahu. Tidak perlu lagi repot bertanya.
Kuarahkan pandanganku kembali ke depan, tak lama iris dan pupilku menangkap sesuatu.
Itu adalah seekor rusa. Lagi.
Tapi tunggu dulu, sepertinya rusa itu sedikit berbeda. Sekali lagi kuperhatikan sekaligus kuamati rusa itu dan mencoba mencari perbedaannya.
Dan benar saja! Rusa itu memiliki tanduk emas! Bagaimana ini bisa? Ini bukanlah dongeng!
"Wah, lihat Cassandra! Itu adalah rusa bertanduk emas!" seru Anastasia. Sepertinya penglihatanku benar.
"Rusa bertanduk emas?"
"Ya. Aku pernah baca di buku bahwa rusa bertanduk emas adalah hewan langka yang hanya memiliki ratusan ekor di dunia. Kita sangat beruntung bisa melihatnya!"
Itu berarti jika aku mendapatkannya, aku memiliki peluang menang yang besar?
Hehe. Entah kenapa senyum menyeringai tiba-tiba muncul di wajahmu dan tak bisa kuhapus.
"Tapi katanya mereka sangat ganas. Jika rusa biasa akan lari jika melihat musuh, maka rusa bertanduk emas akan mengejar mereka dengan cara mengejarnya dan menyundulnya dengan tanduk mereka yang tajam," terang Anastasia.
Sekarang bagaimana aku harus menangkapnya? Aku harus cepat menangkapnya dengan cara menyergap.
Karena jika aku terlalu lambat, bisa-bisa aku telah diseruduk oleh tanduknya yang kuat itu hingga terpental sebelum bisa menebasnya.
Ah! Ya, sepertinya aku harus pakai cara itu. Mumpung aku tadi sempat membawa jaring.
...~•~...
"Kira-kira siapa menurut anda yang akan memenangkan pertandingan ini?" tanya seorang Ksatria yang dekat dengan calon Tuan Duke di sebelahnya.
Lelaki yang memiliki helai rambut pirang dan lurus itu hanya diam ketika ditanyai. Tangannya terlipat di depan dada dan wajahnya menunjukkan senyum miring setipis mungkin.
Dia tampak memikirkan sesuatu dengan iris biru langit jernihnya yang lurus ke depan, tidak menggubris hal yang di sekitarnya.
Ksatria yang berada di sebelahnya sempat terperangah, jarang sekali lelaki di sebelahnya tersenyum.
Namun dia tidak terlalu memusingkan, mungkin memang lelaki tersebut sedang dalam suasana hati yang bagus.
"Tapi aneh juga, anda tiba-tiba sangat bersikeras mengadakan pertandingan ini. Bahkan para pangeran dan putri jadi tertarik," kekeh Ksatria tersebut. "Apa yang membuat anda nekat seperti ini? Tidak biasanya."
Lelaki itu masih setia dengan senyumannya. Ia pun melepas lipatan tangannya dan mulai berdiri sehingga bayangan dirinya yang tercipta oleh sinar matahari yang menerpa terbentuk.
"Hanya ingin saja," jawabnya singkat kemudian pergi meninggalkan Ksatria itu yang masih kebingungan di tempat.
Sungguh aneh, pikir Ksatria tersebut.
...~•~...
"Hei, Cassandra. Apa kau benar-benar yakin? Bukankah ini terlalu berbahaya?" ragu Anastasia padaku yang tengah memasang jaring untuk menjebak mangsanya.
"Kau tidak usah khawatir, aku sudah memperhitungkan segalanya," jawabku meyakinkannya.
Setelah selesai, kutepuk kedua telapak tanganku guna untuk menghilangkan debu di telapak tanganku.
Aku telah mengisi beberapa bongkahan batu yang cukup berat kemudian membungkusnya dengan jaring yang aku bawa. Kemudian tali panjangnya aku lilitkan di ranting pohon yang cukup tinggi dan mengikatnya di batang kayu pohon tumbang yang sangat besar tepat di samping pohon itu.
Jadi, aku hanya perlu memancing rusa itu mengejarku. Setelah waktunya tepat, aku akan menebas tali yang terikat di batang pohon tumbang yang besar dan berat tadi agar bungkusan batu di atas ranting pohonnya jatuh menimpa rusa tadi.
Semoga aku beruntung.
"Hei, Cassandra! Apa ini benar-benar aman? Bagaimana jika kau terluka? Bagaimana jika kau terluka dan rusa itu lepas?!" seru Anastasia sedari tadi berteriak.
"Sudahlah, kau percaya saja padaku," ucapku kemudian menarik pedangku dari sampulnya.
"Tapi...!"
"Ana," ujarku kemudian menepuk bahunya pelan dan tersenyum yakin. "Aku akan baik-baik saja."
Aku pun berbalik untuk memulai aksiku. Rusa itu sedari tadi tidak bergerak dari tempatnya, karena dia sibuk memakan makanannya.
Kutarik nafasku cukup dalam kemudian menghembuskannya pelan upaya menenangkan dan merilekskan tubuhku.
Setelah kubulatkan tekadku, aku pun berjalan mendekati rusa itu. Kuusik dia yang tengah asyik menikmati acara makannya, hingga akhirnya dia menyadari keberadaanku.
Secara cepat dia langsung mengejarku membuatku sempat kaget. Tapi, aku tidak akan menyerah begitu saja. Sekuat tenaga aku berlari, menuju pohon yang telah kupersiapkan jebakan.
Sedikit lagi....
Aku harus tetap berlari. Kuputar kepalaku untuk melihat kebelakang dan mengukur jarak rusa yang tengah mengejar di belakangku.
Ini saatnya! Waktunya memotong!
Kuarahkan pedang itu pada tali yang terikat ke batang pohon tumbang yang penahan bobot bungkusan batu yang tergantung di ranting pohon tepat berada di atasku.
Dengan cekatan, aku langsung menebasnya tanpa ragu hingga bebatuan itu jatuh ke tanah.
Brukh!!
Suaranya cukup besar menusuk telinga, masih setia berlari aku melihat ke belakang, semoga berhasil!
Aku pun memutar kepalaku untuk melihat ke arah belakang.
Be...
berhasil!
Rusa itu tertimpa batu yang telah kupersiapkan dan terbaring di tanah tak bernyawa.
"Hah... hah...." Kuhentikan langkahku untuk mengistirahatkan kaki ku dan memberi pasokan nafas yang lebih untuk paru-paruku yang terasa kering.
Detak jantungku bekejar-kejaran tak karuan, sehingga dadaku seperti tengah dipukul dari dalam. Aku sangat beruntung bisa melakukannya dalam satu kali cobaan.
"Cassandra!" teriak Anastasia seraya berlari menghampiriku. Dia pun memasang raut wajah khawatir dengan mulutnya yang tak berhenti mengomel.
"Astaga kau baik-baik saja kan?! Apa kau terluka?! Apa kau tergores?! Apa rusa itu menyakitimu?!" tanyanya bertubi-tubi sembari mengecek tubuhku.
Senyum tak bisa kutahan melihat tingkah manisnya. "Aku tidak apa. Sudah kubilang aku akan baik-baik saja," ujarku.
Mataku kemudian menangkap rusa yang tergeletak tadi, kemudian menghampirinya dan memeriksanya.
Benar ternyata rusa ini tidak bernyawa lagi. Kalau begitu aku akan segera membawanya.
Syut!
Namun sebelum itu, tiba-tiba saja ada anak panah yang terbang dan melesat tepat di depan hidungku.
Itu tadi sangat nyaris!
"Cassandra!" pekik Anastasia.
Aku pun segera mengedarkan pandanganku untuk melihat ke sekitar untuk mencari siapa pelaku yang melakukan hal tersebut.
Ternyata ada sesosok perempuan di ujung kanan sana, dan tak lama dari itu dia berjalan menghampiri kami.
"Apa yang kau pikirkan?! Bagaimana jika panahmu itu mengenai Cassandra?!" bentak Anastasia pada sosok tersebut.
Dapat kulihat raut wajahnya seketika berubah, sepertinya dia benar-benar sangat marah.
Tunggu... sepertinya aku mengenal wajah itu.
"M-maafkan saya, Nona Anastasia," ucapnya kemudian mengangkat kepalanya.
Ya, aku mengenal wajahnya! Dia adalah Charlina Krystilian, perempuan yang sempat menatapku dengan pandangan tak biasa tadi pagi.
"Dia yang seharusnya menerima permintaan maafmu, bukan aku," sinis Anastasia bersidekap.
"Maafkan saya," katanya. Entah kenapa aku merasa dia tidak ikhlas mengatakan itu.
"Ah, tidak apa-apa," jawabku dengan senyum dan melambaikan kedua telapak tanganku.
"Apa yang membuatmu menembak panah ke arah Cassandra?" selidik Anastasia.
"Itu... sebenarnya saya ingin menembak kelinci yang berada di belakang Nona Cassandra, namun bidikan saya meleset dan kelinci itu pun kabur," terangnya.
Sepertinya dia tidak berbohong. Panahnya meleset, ya?
"Ya sudahlah. Lain kali hati-hati saja," balas Anastasia.
Charlina pun pergi dengan terburu-buru, namun sebelum itu dia sempat kembali menatapku sinis. Sebenarnya apa masalahnya?
"Cassandra!" panggil Anastasia membuyarkan lamunanku.
"Apa?" tanyaku.
"Ish, daritadi kau selalu saja melamun. Aku bilang, bukankah kira sudah seharusnya kembali? Kau sudah mendapatkan hewan buruanmu bukan?"
"Kalau begitu bagaimana denganmu? Bukankah kau juga ikut pertandingan ini?"
"Kau tidak usah peduli denganku. Lagipula, aku juga tidak berniat mengikuti pertandingan ini dari awal," jelasnya dengan cengiran.
"Ya sudah jika kau berkata seperti itu. Kalau begitu ayo kita kembali."
...22.01.2021...