The Atrocious Duke'S Wife

The Atrocious Duke'S Wife
Chapter 25 : Armor



KARYA INI HANYA FIKSI. NAMA, TOKOH, PERISTIWA, TEMPAT, HANYALAH KHAYALAN SEMATA. HARAP PEMBACA BIJAK DALAM MENANGGAPI.


Dua hari kemudian....


Aku menatap jengkel pantulan diriku di cermin. Bagaimana tidak? Aku dipaksa memakai armor yang sering dipakai oleh prajurit yang hendak pergi ke perang.


Armor ini sangat berat dan menyesakkan. Jika aku tercebur di air, mungkin aku akan langsung tenggelam ke dasar nya.


"Asal kau tahu, aku ini bertugas sebagai mata-mata, bukan sebagai prajurit," ketus ku sambil menatap tajam pria menyebalkan yang berdiri di sebelahku.


"Kau pikir siapa yang memaksa ingin ikut denganku dalam perang kali ini?"


Kuputar bola mataku malas sambil menggerutu tanpa suara.


"Aku tak bisa begitu saja mengajak mu begitu saja tanpa persetujuan Yang Mulia."


"Ya, ya. Aku tahu," jawabku malas.


Saat ini kami tengah dalam persiapan untuk perjalanan kami ke markas kerajaan Erosphire yang berada di utara.


Dan tugasku-- lebih tepatnya penyamaranku kali ini adalah sebagai pengawal yang akan menemaninya setiap saat.


"Apa lagi yang kau tunggu? Cepatlah, semuanya akan berangkat sebentar lagi."


Dengan langkah gontai, aku pun berjalan mengikutinya untuk memulai perjalanan kami ke markas. 


Entah kenapa sekarang, aku merasa sedikit menyesali keputusanku.


...🥀...


"Dingin!"


Rasa dingin langsung menusuk-nusuk kulitku, walaupun aku telah menggunakan armor dan pakaian yang cukup tebal, tapi rasa dingin tetap kekeuh untuk menusuk kulitku.


Memang sekarang telah mulai memasuki musim dingin. Salju turun dengan deras disertai dengan kencangnya angin berhembus.


Di tambah dengan wilayah bagian utara kerajaan Erosphire memang sedikit dingin dari wilayah-wilayah lainnya.


Tanah pun kini tertimbun oleh ribuan butiran es berwarna putih yang tak lama lagi akan kunjung menjadi berwarna merah akibat darah yang akan berceceran.


Aku mengusap-usap kedua lenganku agar kehangatan lekas menghampiri ku dan melawan kedinginan ini.


Kurasakan ada sebuah kain tebal yang membalut tubuhku, sontak aku langsung menoleh kearah pelaku yang memberikan kain tebal tersebut padaku.


"Cuaca sangat dingin di sekitar sini, hangatkan lah tubuhmu dengan itu," ujarnya.


"Bukankah aneh jika seorang Duke memberikan jubah yang hangat kepada pengawal nya sedangkan dirinya sendiri juga kedinginan? Jadi ambil saja jubah ini untukmu, aku tidak terlalu kedinginan," alibi ku seraya melepas jubah yang ia pakaikan kemudian mengembalikannya.


"Kau ambil saja untukmu," tolak nya kemudian kembali membalutkan jubah tebal itu padaku.


Namun, aku juga melepaskannya kembali lalu mengembalikannya. "Tidak, kau saja yang pakai," ucapku kekeuh.


"Kau saja yang pakai." Dia kembali memaksaku untuk memakai jubah itu.


"Tidak, kau saja yang pakai!" Aku mulai geram, dan kami pun kini berakhir dengan saling mendorong jubah itu karena tak ada dari kami berdua yang ingin menerimanya.


"Kau keras kepala sekali!" teriakku kesal karena dia tidak menyerah memberi jubah hangat itu.


"Jika aku keras kepala, lalu kau apa?"


"Pokoknya kau saja yang pakai!"


"Tidak, kau."


"Kau yang pakai!!"


"Uhm, Tuan Duke?" Tiba-tiba muncul seorang prajurit yang menghampiri kami sekaligus memanggil pria menyebalkan dan keras kepala ini.


"Ada apa?" Dia bertanya dan akhirnya dia pun menerima jubah itu.


"Kita sebentar lagi sampai ke markas, apa anda butuh sesuatu? Saya bisa menemani anda," ujar prajurit itu dengan lantang dan tegas.


Memang khas dari seorang prajurit.


"Tidak perlu, aku sudah memiliki pengawal, lebih baik kau bergabung saja dengan yang lain." jawab Arlen.


"Tapi, apa Duke yakin dia benar-benar bisa melindungi Duke?"


Pertanyaannya entah kenapa membuatku sedikit jengkel. Untung saja dia tidak bisa melihat wajahku secara jelas karena setengah dari wajahku tertutup besi yang membungkus kepalaku.


"Apa yang membuatku berpikir seperti itu?" tanya Arlen.


"Saya tidak bermaksud apa-apa, Tuan. Hanya saja saya mengkhawatirkan anda karena pengawal anda sepertinya tidak sanggup melindungi anda dengan tubuh kecilnya."


"Pfft!" Pria bersurai pirang menyebalkan ini sontak membungkam mulutnya yang hendak mengeluarkan tawa.


Apa sangat menyenangkan menurutnya di saat ia mendengar orang lain mengejekku?


Sayangnya, aku hanya bisa diam sambil menggerutu tanpa suara di balik besi yang menutupi setengah wajahku.


"Tentu saja dia bisa melindungiku."


"Kalau memang begitu, saya akan pergi terlebih dahulu, semoga Tuan Duke selalu dihindari dalam bahaya di perang ini," ujar prajurit menyebalkan itu lalu berlalu meninggalkan kami.


"Sepertinya anda sangat percaya kepada pengawal yang tak dapat melindungi anda ini, Tuan Duke," sindirku.


"Kau beruntung, mempunyai Tuan yang baik hati sepertiku," ujarnya membanggakan diri sendiri.


"Ya, ya. Saya beruntung, sangat-sangat beruntung."


...🥀...


Satu hari yang lalu....


"Kuharap kau menepati janjimu, Pangeran yang terhormat," ucap pria bersurai coklat sambil menatap tajam pria bersurai hitam yang menjadi lawan bicaranya.


"Aku tidak akan pernah mengingkari janjiku. Dan seperti rencana kita, kau harus menuruti kata-kataku jika kau masih menginginkan sebagian dari kekayaan Erosphire."


"Kau tenang saja Pangeran, asalkan kau menepati janjimu, maka aku juga akan menepati janjiku. Kau tenang saja, setelah ini kau pasti akan menjadi Raja yang selanjutnya."


Pria bersurai pirang itu tersenyum licik. "Kau benar. Karena hanya aku lah yang pantas menjadi Raja Kerajaan Erosphire, dan bukan orang lain."


Mereka kemudian saling melempar senyum jahat, karena rencana mereka kali ini benar-benar saling menguntungkan dua pihak.


Dan sebentar lagi, rencana mereka berdua akan tercapai dan mereka pun dapat saling menikmati keuntungan yang telah mereka sepakati.


...🥀...


"Walaupun di tengah peperangan seperti ini, bangsawan sepeti kalian tetaplah mendapat fasilitas yang lebih dari kata memadai," ujarku dengan bola mata yang sibuk mondar-mandir mengamati setiap sudut ruangan ini.


"Kau berbicara seolah-olah kau bukan bangsawan," jawabnya membuatku sedikit terkejut.


Astaga, aku hampir keceplosan lagi! Dasar mulut yang tak memiliki rem!


"Jika ini kamarmu, lalu dimana kamarku? Apa aku harus tidur satu atap bersama prajurit-prajurit lain?" tanyaku padanya yang tengah sibuk membuka pakaiannya.


Tunggu dulu, pakaian?


Mataku langsung terpelotot di kala dia dengan tidak tahu malunya mulai melepaskan satu persatu pakaian yang membalut tubuhnya.


Dengan sigap, aku langsung membelakangi nya seraya menutup mataku yang sempat terpelotot beberapa detik yang lalu.


"Apa yang kau lakukan?! Apa kau tak bisa mengganti pakaian di kamar mandi?!" teriakku mengeluarkan seluruh kekesalanku.


"Kenapa aku harus menggantinya di kamar mandi jika aku bisa menggantinya di sini?"


Dia bertanya balik membuatku tak bisa berkata apa-apa lagi karena saking kesalnya.


Kutarik nafasku dalam-dalam guna menetralkan kekesalan ku. Kemudian kembali bertanya padanya masih setia dengan tubuhku yang membelakangi nya.


"Jadi, tentang pertanyaanku tadi. Jika ini kamarmu, lalu di mana kamarku?"


"Tentu saja kau akan tidur di sini."


HAH?!?!


"Hah?! Apa kau gila?! Tidak mungkin aku tidur sekamar denganmu!" tolakku benar-benar tak habis pikir.


"Kenapa? Bukankah wajar jika suami istri tidur di dalam kamar yang sama?"


"T-tapi--"


"Jika kau ingin tidur seatap dengan prajurit-prajurit lain, aku juga tidak akan melarang. Tapi coba kau pikirkan apa yang akan dilakukan prajurit-prajurit itu jika mereka tahu bahwa kau adalah wanita."


Tidak mungkin juga jika aku harus tidur dengan prajurit-prajurit lainnya, bukan? Namun, tidak mungkin juga untukku tidur di ranjang yang sama dengannya.


Karena perlu kalian camkan, bahwa aku adalah wanita lajang selama dua puluh tiga tahun aku hidup di dunia.


Aku tidak pernah berpacaran, aku tidak pernah berciuman, apalagi tidur seranjang dengan seorang pria!


Hah... apa salahku hingga aku harus dihadapkan dengan pria sepertinya.


"Baiklah, aku akan tidur di sini," ucapku. "Dan aku akan tidur di sofa itu," tunjuk ku pada sofa panjang yang terletak di dekat jendela.


"Apa?" Dapat aku dengar nada tidak terima di kalimat yang ia lontarkan.


Aku tersenyum kemenangan. "Karena tugasku di sini hanya sebagai pengawal, jadi tidak mungkin aku akan tidur seranjang dengan Tuanku sendiri bukan?"


"Tidak, kau tidur di sampingku," titahnya.


"Kenapa kau sangat bersikeras membuatku untuk tidur di sebelahmu? Atau jangan-jangan, ada sesuatu yang kau rencanakan?" tanyaku menyudutkan nya.


Dan tak lama dari itu, aku merasakan sosok yang besar di belakangku.


Lantas, aku pun memutarbalikkan badanku untuk melihat sosok tersebut. Ternyata oh ternyata.


Dia berdiri tepat di hadapanku sekarang tanpa sehelai benang pun menutupi tubuh bagian atasnya.


"Mata suciku!" Dengan cepat aku menutup kedua mataku dengan kedua telapak tanganku.


Astaga, apa yang saat ini tengah dipikirkannya?!


"A-apa yang kau pikirkan?! Kau sinting?! Dengan tidak tahu malunya bertelanjang dada di hadapanku!" rutukku tak bisa mengendalikan rasa malu yang menghampiriku.


Padahal yang bertelanjang dada adalah dirinya, tapi kenapa malah aku yang malu?!


"Jika aku memang ingin membuatmu tidur seranjang denganku, maka apa yang akan kau lakukan? Asal kau tahu, kau tak memiliki siapa-siapa di sini selain aku."


Seperti orang yang kalah main catur, aku tak bisa berkata apa-apa. Aku tak bisa menjawab, karena semua yang dikatakannya itu benar.


Aku tak mempunyai siapa-siapa lagi di sini selain dirinya. Argh! Kadang aku kesal di saat perkataannya benar!


Dan aku juga sangat kesal karena dia tak kunjung pergi dari hadapanku!


Hah... sepertinya dia tidak akan pergi dari hadapanku jika aku tidak menuruti perkataannya.


"Baiklah... aku akan tidur di sampingmu," ujarku sambil membuka mataku dan langsung menghadap wajahnya.


Berusaha untuk tidak menatap dada bidang dan perut berototnya yang tidak ditutupi oleh sehelai benang pun.


Dapat aku lihat dia mengulas senyum kemenangan di wajah tampan menyebalkan nya.


Seketika, tangannya mulai melingkar dengan erat di pinggangku dan menarikku untuk semakin dekat dan bertabrakan dengan dirinya.


Sontak, aku langsung memposisikan kedua tanganku di dadanya sebagai pemberi jarak di antara kami.


Apa yang dilakukannya secara tiba-tiba?


"Lepaskan aku," ujarku seraya memalingkan wajahku darinya.


Rasa panas mulai menjalar di area tulang pipiku, dan tangan kekarnya yang melingkar erat di pinggangku memberikan rasa nyaman yang tak dapat dideskripsikan.


"Ada apa? Apa kau malu padaku?"


Tanyanya dengan nada tenang membuatku seakan ingin mencakar-cakar dada bidangnya karena kesal.


Bagaiamana bisa dia berbicara dengan nada tenang seperti itu di kala aku merasakan panas dingin yang tidak beraturan saling berbenturan di tubuhku?!


Namun tak lama dari itu, dia akhirnya melepaskan kalungan tangannya di pinggangku kemudian secara perlahan-lahan menjauhkan dirinya dariku.


Apa dia merasa bahwa aku tidak nyaman?


Dia pun mulai berjalan ke ranjangnya kemudian membaringkan tubuhnya dengan tenang tanpa sepatah kata pun.


Aku mengernyit bingung, ada apa dengannya tiba-tiba?


Tidak biasanya dia melepaskanku tanpa menggodaku habis-habisan terlebih dahulu.


Aneh.


...🥀...


Heng!


Kubuka kedua kelopak matamu yang awalnya tertutup sempurna perlahan-lahan.


Aku hampir lupa kalau sekarang aku telah berada di tengah-tengah medan perang.


Kuregangkan tubuhku yang awalnya terasa lumayan kaku kemudian mengeluarkan angin yang berasal dari mulutku seraya menutupnya.


Dengan cepat, aku celingukan kekanan dan kekiri. Dimana dia?


Apa hari sudah se siang itu? Tapi aku merasa bahwa aku tidur tidak terlalu lama.


Terdapat sebuah gorden berwarna merah tua yang masih dalam posisi tertutup.


Karena suhu ruangan ini dingin, aku pun menarik selimut yang sebelumnya aku pakai saat tidur.


Kuturunkan kaki ku dari atas permukaan kasur empuk ini kemudian melangkah mendekati gorden tersebut.


Bagian tengah kain tebal itu yang terbelah menjadi dua bagian, kutarik dengan tenaga secukupnya dan terpampanglah pemandangan yang menyejukkan hati.


Warna putih mendominasi ditambah dengan uap-uap yang menempel di permukaan jendela kaca di balik gorden ini.


Butiran-butiran halus yang jatuh dengan indah dan anggun turun menghiasi bumi dan mampu membuat suasana menjadi sangat dingin dan sejuk.


Aku tidak tahu tepatnya jam berapa sekarang, karena di luar masih bisa di bilang gelap karena butiran salju yang terus turun secara lebat dan kencang.


Karena jiwa penasaran ku telah meronta-ronta sejak tadi, aku pun mencoba melangkah keluar.


Sebelum kita asal melangkah, alangkah baiknya kita memastikan keadaan terlebih dahulu.


Pertama, buka pintu secara perlahan-lahan.


Kedua, selipkan kepalamu di celah pintu yang telah kita buka.


Ketiga, gerakkan kepalamu untuk menoleh kekanan dan kekiri untuk memastikan tidak ada orang di sekitar.


Baiklah, sepertinya tidak ada.


Kulangkahkan kaki ku keluar lalu aku berjalan-jalan di lorong sambil mengedarkan pandanganku.


Tak lama, aku pun mendengar suara orang yang tengah berbicara dalam suatu ruangan.


Apa mereka tak bisa mengkondisikan volume suara mereka saat berbicara?


Jika tidak, maka jangan salahkan diriku yang akan menguping percakapan kalian.


Kutempeli daun telingaku di pintu kayu yang menjadi perantara antara ruangan itu dan lorong panjang yang dingin ini.


"Jujur, aku tidak yakin dengan strategi kali ini. Sebenarnya apa yang membuat Pangeran menyetujui strategi yang gegabah ini?"


"Entahlah, mau membantah pun kita tidak bisa. Pilihan terakhir kita adalah mengikuti apa yang mereka katakan."


"Tapi, bagaimana bisa kau hanya mempimpin 20.000 prajurit di barisan depan, itu terlalu berbahaya!"


"Aku hanya bisa menerimanya, karena ini sudah menjadi tugasku."


Sepertinya aku mengenal suara ini, pikirku.


Karena saking asiknya menguping, aku tak sadar bahwa ada suara langkah kaki yang semakin mendekat kearahku.


Tak lama dari itu, kini aku tersungkur ke depan karena pintu yang menjadi penahan berat badanku di buka.


Brukh!


Ah, sialan.


Aku baru ingat kalau Dewi Fortuna tidak terlalu menyukaiku.


^^^I Become Wife of the Atrocious Duke^^^


^^^01 Desember 2020^^^