The Atrocious Duke'S Wife

The Atrocious Duke'S Wife
{Season 2} Jebakan Akhir



Previously....


Ketika terlarut dalam lamunannya, tiba-tiba saja pintu berderit. Menandakan seseorang masuk.


Dalam sekejap, mata hijau terang milik Anastasia terbelalak dengan rasa tak percaya yang tak terbendung di hatinya.


Jantung Anastasia seakan berhenti berdetak, ketika melihat sosok yang masuk dan mulai mendekatinya.


...~•The Atrocious Duke's Wife•~...


...Chapter...


...(45)...


Pangeran Yari kembali mengepalkan telapak tangannya sembari berpikir keras akan hal yang barusan terjadi. Rahangnya mengeras sehingga tulangnya terpahat dengan jelas.


Kaki kanannya tak bisa berhenti bergerak karena gelisah. Dan tatapan matanya kosong namun menyalang.


Sial! Ternyata Countess itu selama ini sudah mengetahui rencananya untuk menculik wanita menyebalkan itu. Apa ini berarti bahwa Countess itu juga mengetahui segala rencananya karena wanita itu adalah penyihir?


Jika memang seperti itu, maka semuanya akan kacau balau! Tapi... dia tetap bisa mengatasinya dengan berbalik mengancam Countess itu.


Ya, dia bisa mengancam Countess itu dengan mengungkapkan identitasnya. Karena di kerajaan Erosphire, penyihir sekarang dianggap sebagai mahluk hina dan penuh dosa.


Hingga, jikalau ada penyihir yang ketahuan bersemayam di kerajaan Erosphire, maka penyihir tersebut akan langsung dibakar menjadi abu di depan seluruh masyarakat Erosphire.


Saat terlarut dalam benaknya, tiba-tiba saja terdengar suara pintu terbanting secara keras disusul dengan kehadiran dua sosok yang tiba-tiba muncul.


Ketika mengetahui siapa sosok itu, Pangeran Yari pun langsung berdiri dan berteriak kesal. "Kenapa kalian ada di sini?! Bukankah sudah kubilang untuk pergi melenyapkannya?!" 


Merasa murka karena diteriaki oleh hal yang bukan salahnya, sosok lelaki berambut coklat di dalam ruangan itu langsung membalas pangeran Yari.


"Melenyapkan? Bagaimana kami bisa melenyapkannya jika pangeran itu saja tidak ada pada tempat yang kau katakan sebelumnya?!"


Pangeran Yari ternganga, kenapa semuanya langsung melenceng dari segala perkiraannya?


Pertama, mereka salah menangkap seseorang. Dan kedua, mereka telah kehilangan kesempatan untuk membunuh adiknya tersebut dan tak tahu di mana letak posisi persisnya sekarang.


"Sialan!!!"


Brak!!


Pangeran Yari menerjang meja kayu yang ada di hadapannya karena murka sembari menggeram kesal. Apa ini artinya dia tengah dipermainkan oleh Countess itu?!


"Berani-beraninya wanita jal*ng itu!!" kesalnya dalam hati.


"Kalau begitu, jika kau tidak keberatan. Di mana kau meletakkan Countess itu?" tanya lelaki berambut coklat tadi.


Sedangkan gadis berambut hitam di sebelahnya hanya diam.


Pangeran Yari kembali berdecak. "Countess itu, melarikan diri."


"Apa?! Bagaimana bisa dia melarikan diri?!" Lelaki berambut coklat itu bertambah murka. Padahal, semua yang dia inginkan hanyalah untuk melenyapkan Countess itu dari dunia ini.


"Ternyata, Countess itu berbohong. Dia tidak memimpin pasukan pemanah, dia menyuruh orang lain menggantikannya dan dia melarikan diri," jelas pangeran Yari.


Lelaki berambut coklat tadi berusaha mengendalikan emosinya, dan saat itu juga dia menyadari sesuatu. "Di mana kau meletakkan tawanan palsumu itu?"


Pangeran Yari bersedekap. "Dia ada di ruang bawah tanah."


Sontak, lelaki berambut coklat tadi langsung berlari ke ruang bawah tanah. Gadis berambut hitam yang berada di samping lelaki itu tadi langsung mengikuti sang lelaki.


Pangeran Yari merasa aneh melihat rekannya yang satu itu karena terlihat sangat buru-buru. Apa ada sesuatu?


Setelah cukup lama berpikir, seketika ia menyadari sesuatu. Akhirnya ia mengetahui kenapa rekannya tersebut sangat terburu-buru.


Jika pangeran Darren tidak ada di posisi awalnya, maka bisa saja lelaki itu pergi untuk menyelamatkan tawanan yang sempat ia tangkap beberapa jam yang lalu, bukan?


Sial!


Dalam sekejap, Pangeran Yari pun langsung berlari mengejar kedua rekannya tersebut menuju ruang bawah tanah di mana dia menyekap tawanannya.


Tak butuh waktu lama, lelaki bergelar putra mahkota itu telah sampai di ruangan di mana ia mengurung gadis yang mereka culik tadi.


Mata lelaki itu membelalak menunjukan iris hitamnya yang pekat, ketika tidak lagi melihat kehadiran gadis yang ia sekap beberapa saat lalu.


Prok! Prok!


"Lihatlah, betapa mengagumkannya cara bekerjamu, Yang Mulia," ujar lelaki berambut coklat yang menjadi rekan pangeran Yari tersebut menyindir.


Pangeran Yari hanya bisa mengertakkan giginya karena semuanya sangat melenceng dari rencana mereka selama ini.


Lelaki berambut coklat tadi menatap nyalang pangeran di hadapannya. "Seorang tawanan, justru kau biarkan begitu saja tanpa pengawasan ketat. Bagaimana bisa kau begitu bodoh?!"


Dalam sekejap, kerah pakaian milik lekaki berambut coklat itu ditarik dengan sangat kuat oleh pangeran Yari.


"Diam kau!! Apa kau tidak tahu siapa aku?! Kau beruntung aku tidak membunuhmu sekarang juga setelah mengatakan hal itu!!"


Lelaki berambut coklat itu langsung melepas kasar cekalan pangeran Yari di kerah lehernya. Dan sedetik kemudian, lelaki itu langsung menonjok pangeran Yari hingga pangeran itu tersungkur di tanah.


"Kakak!!"


Gadis berambut hitam yang awalnya ada di sebelah lelaki berambut coklat tersebut langsung menghampiri kakaknya yang begitu saja terjatuh dan menimpa lantai.


"Sudah hentikan! Bagaimana kita bisa menyelesaikan masalah jika kalian bersikap seperti ini?!" teriak gadis itu.


Veronica, dia telah lelah diam menanggapi segala kelakuan kakaknya dan lelaki yang ia sukai tersebut.


"Heh, menyelesaikan masalah? Aku tidak sudi. Aku sudah tidak peduli lagi dengan semuanya." Lelaki berambut coklat itu berdecih dan menatap remeh.


"Apa maksudmu?" tanya Veronica. Gadis itu berharap lelaki itu tidak mengatakan apa yang baru saja di pikirkan.


"Terserahmu ingin berpihak pada siapa. Namun, aku sekarang tidak ingin bekerja sama lagi dengan kakakmu yang dungu itu. Sekarang ini keputusanmu. Kau akan berpihak pada siapa," ujar lelaki itu.


Veronica tersentak. Ada apa ini? Kenapa semuanya menjadi seperti ini? Padahal awalnya, sudah dipastikan bahwa mereka akan menang.


Tapi... kenapa situasinya malah berbalik? Jika sudah seperti ini, siapa yang akan ia pilih? Dirinya sama sekali tak tahu.


"Siapa... yang akan kau pilih, Veronica?" tanya lelaki itu dengan tatapan menyeramkan.


Gadis berambut hitam itu mengepalkan tangannya frustasi. Di satu sisi, ia tentu saja harus menjadi adik yang berbakti kepada kakaknya, dan terpaksa harus melepaskan lelaki yang ia sukai.


Tapi... jika dirinya memilih hal itu, maka semua usahanya selama ini akan sia-sia. Karena alasan dia melakukan hal ini adalah untuk membuat lelaki yang ia sukai juga membalas perasaannya.


Jika dia memilih kakaknya, maka dia akan kehilangan lelaki yang ia sukai selama ini.


Dari saat itu juga, Veronica bangkit berdiri dan melepaskan genggamannya pada lengan kakaknya.


Pangeran Yari menatap tidak percaya. Apa baru saja adiknya sendiri mengkhianatinya?


"Veronica... apa yang kau lakukan? Kau tidak mungkin mengkhianati kakakmu sendiri, bukan?"


Veronika melipat bibirnya dengan alisnya berkerut. Gadis itu telah memutuskan, sisi mana yang akan ia pilih.


Pangeran Yari melotokan matanya ketika mendengar kata-kata itu dari mulut adiknya sendiri. Ini... tak seperti yang ia pikirkan bukan? Tidak mungkin adiknya mengkhianati dirinya begitu saja, bukan?


"Sayangnya... adikmu ini adalah perempuan yang egois dan bodoh."


Setelah mengatakan hal itu, Veronica berbalik dan berjalan melangkah menjauh dari kakaknya dengan tangisan yang hampir saja retak.


Lelaki berambut coklat itu kini ikut membalikkan badannya. Sebelum itu, dia sempat menoleh ke arah pangeran Yari sekilas kemudian berdecih.


Hingga akhirnya, kedua sosok itu menghilang dari hadapan pangeran Yari.


Dinginnya lantai dan sejuknya angin yang bergulir, menjadi saksi atas kejadian tak mengenakkan itu.


Pangeran Yari kini mengepalkan tangannya dengan rahangnya yang mengeras. Lelaki itu menggeram kesal atas semuanya.


Dia ingin membunuh semua orang yang mengesalkan dirinya, dan tidak akan melepaskan siapapun kali ini.


"Aku akan membunuh kalian semua, sialan!!"


...~•~...


Beberapa saat yang lalu....


Pangeran Darren langsung pergi melesat menggunakan kudanya menuju tempat di mana kekasihnya mungkin dalam bahaya.


Dia mengetahui gadis itu di mana, karena Jeanne menyuruh salah satu dari anak buahnya untuk terus mengikuti pergerakan Anastasia.


Saat hampir sampai di tujuan, lelaki itu menghentikan kudanya sedikit jauh dari tempat yang kemungkinan besar kekasihnya tengah berada.


Ini, adalah tempat markas pangeran Yari. Tempat pangeran itu bersiap-siap untuk menghadapi bahaya yang mungkin mengunjungi. Meskipun yang lelaki itu lakukan justru kebalikannya.


Ketika telah berhasil menyelinap masuk, pangeran Darren pun mengeratkan syal yang menutupi setengah wajahnya dan langsung melesat mencari keberadaan Anastasia.


Dirinya telah sampai di sebuah ruang bawah tanah, di mana kemungkinan besar segala tawanan ditahan di tempat ini.


Hanya ada satu penjaga yang memantau seluruh pergerakan di ruang bawah tanah yang gelap ini. Saat pangeran Darren amati, ternyata penjaga tersebut membawa banyak kunci yang tersangkut di ikat pinggangnya.


Karena tak ingin mengundang banyak keributan, pangeran Darren langsung melesat ke belakang penjaga itu dan membekap mulutnya. Tangan milik pangeran itu langsung menarik beberapa kunci yang tersangkut.


"Ambil ini dan pergi dari sini," ujar pangeran Darren memberikan sekantung emas dan memasukkannya ke dalam saku penjaga itu.


Penjaga tersebut langsung mengangguk kencang kemudian melarikan diri dengan cepat tanpa suara sedikitpun.


Pangeran Darren bergerak laju mencari keberadaan kekasihnya, hingga akhirnya ada sebuah ruangan di mana ia melihat Anastasia.


Tanpa aba-aba, pangeran Darren langsung mencoba semua kunci dari berbagai bentuk kunci yang ia dapatkan tadi untuk membuka pintu ruangan di mana gadisnya disekap.


Cukup lama, hingga akhirnya pintu itu pun terbuka. Pangeran Darren langsung merangsek masuk dan mendekati sang gadis yang tengah diikat oleh tali yang amat tebal.


Anastasia masih tidak percaya jika sosok yang ada di hadapannya ini benar-benar datang menyelamatkannya. "Darren... apa itu kau...?"


"Ya, ini aku." Pangeran Darren pun akhirnya benar-benar melepaskan lilitan tali yang menaungi tubuh Anastasia.


Tak lama dari itu, lelaki itu pun langsung merangkul gadis itu dan menjatuhkannya pada dekapan dalamnya.


"Bagaimana bisa... kau tahu aku ada di sini?" tanya Anastasia lemas. Entah kenapa, tiba-tiba gadis itu merasakan bahwa tidak ada satu pun kekuatan yang hinggap di tubuhnya.


"Kita akan bahas itu nanti, untuk sekarang kita harus pergi," ucap pangeran Darren lugas.


Anastasia mengangguk, hingga tak lama gadis itu sedikit terkejut ketika tubuhnya terangkat begitu saja dan telah berada di genggaman tangan kekasihnya yang menggendongnya.


Lantas, gadis berkata hijau terang itu mengalungkan kedua tangannya di leher kekasihnya agar merasa seimbang.


Tak lama, mereka pun akhirnya pergi dari tempat itu dan menggunakan kuda sang lelaki untuk benar-benar menjauh dari tempat itu untuk sebelum mereka tertangkap.


...~•~...


Tidak terasa, ternyata perang sudah berlangsung cukup lama. Musim gugur kini telah menyapa. Banyak daun berguguran... begitupun dengan nyawa yang terampas oleh perang yang mengerikan.


Angin yang berhembus menyapu segala keringat dan darah hasil dari perjuangan tak terhingga dari para prajurit yang telah berjuang keras mempertahankan tanah air mereka.


Setelah sekian lama, akhirnya kemenangan menghampiri kerajaan Erosphire. Awalnya kerajaan Nephorine masih bersikeras melawan, namun dikarenakan pasukan Nephorine semakin sedikit per harinya, kerajaan tersebut memutuskan untuk menyerah.


Pangeran Yari sangat murka karena semuanya tidak berjalan sesuai rencananya, dia tidak sempat bertindak seperti pahlawan karena pangeran Naelson sudah tak ingin lagi bekerja sama dengannya.


Dan, di perang kali ini pangeran Darren benar-benar menganggap serius semuanya. Lelaki itu disebut sebagai penyelamat bagi seluruh nyawa di Erosphire karena pangeran itulah yang banyak mengambil peran di perang kali ini.


Pangeran kedua itu mendapat banyak pujian dan apresiasi. Pangeran Yari benci mengakuinya, namun sepertinya takhta akan diserahkan kepada adiknya tersebut.


Namun kini pangeran Yari tidak peduli lagi akan hal itu. Karena sekarang dia hanya ingin membalas segala perbuatan Countess itu karena telah mengacaukan seluruh rencananya.


Pangeran Yari akan membuktikan pada seluruh negeri Erosphire bahwa Countess itu adalah penyihir, agar Countess itu mati menjadi abu tepat di depan matanya.


Selama beberapa hari di perjalanan, akhirnya semua orang yang mengambil peran dalam perang telah kembali ke kerajaan Erosphire. Negeri mereka.


Para bangsawan dan beberapa prajurit yang ikut dalam perang kini berada di aula istana.


Terdapat singgasana sang raja tepat di hadapan mereka sehingga mereka semua menunduk dan membungkuk hormat menyapa sang raja setelah melakukan banyak usaha keras.


"Aku benar-benar menghargai seluruh usaha keras kalian atas perang kali ini. Kemenangan kini milik kita, oleh karena itu aku ingin memberi hadiah kepada seluruh orang yang mengambil peran dalam perang kali ini!" ucap sang raja menghadirkan tepukan tangan meriah.


Pangeran Yari terus menunggu yang tepat sembari mendengar celotehan ayahnya yang mengundang banyak senyum ketika lepas dari penderitaan yang sempat menjerat mereka semua.


Cukup lama raja berbicara hingga akhirnya pangeran Yari tak bisa menahan kesabarannya lagi.


"Maaf, jika saya sangat lantang memotong pembicaraan Anda, Yang Mulia. Namun ada sesuatu yang harus saya sampaikan," ujarnya sembari berjalan mendekati raja dan berlutut di depannya.


"Hal penting apa yang membuatmu sampai harus memotong perkataanku?" tanya sang raja.


Semua mata kini memandang pangeran itu, hingga akhirnya pangeran Yari berbicara membuat suasana hening.


"Di ruangan ini, ada seorang penyihir yang tengah menyamar di antara kita," kata pangeran Yari.


Bisikan kini terdengar membuat raja langsung mengangkat tangannya ke udara untuk menghapus segala kebisingan.


"Apa maksudmu itu, Pangeran?!" tanya raja sedikit terkejut.


"Di antara kita semua, ada satu penyihir yang menyelinap," imbuh pangeran Yari sembari melirik seorang gadis yang berada jauh di samping kanannya.


Terdapat lelaki bersurai pirang di sebelah gadis itu yang selalu menemani kehadirannya.


"Apa kau tahu siapa yang kau maksud itu?!" Raja Hamilton terdengar tergesa-gesa. Wajar saja, karena ancaman berada di antara mereka.


"Ya, Yang Mulia. Saya mengetahuinya."


Tak lama dari itu, pangeran Yari berdiri dan mulai menghadap ke samping kanannya. Telunjuknya kini mengarah ke arah gadis berhelai coklat mencapai paha dengan iris yang seirama dengan surainya.


"Penyihir yang menyamar... adalah Countess la Devoline, Yang Mulia."


...01.04.2021...