The Atrocious Duke'S Wife

The Atrocious Duke'S Wife
Special Episode 2 : Gadis yang Terkekang (2)



KARYA INI HANYALAH FIKSI. NAMA, TOKOH, TEMPAT, MERUPAKAN KHAYALAN SEMATA. HARAP BIJAK DALAM MENANGGAPI.


"Cassandra ... la Devoline," ujarku tergagu. "Itulah namaku."


Untuk beberapa saat kami terdiam sejenak. Keheningan melanda kami, sehingga membuatku sadar akan apa yang baru saja terjadi.


Secara cepat kuturunkan tubuhku dari gendongannya, tetapi ternyata tubuhku sedikit sempoyongan sehingga aku hampir terjatuh kembali jika lelaki di sampingku ini tak menahanku.


"Jangan membuat pergerakan secara tiba-tiba, Lady," peringatnya dengan ekspresi tenang.


Siapa dia ini? Apakah dia juga seorang bangsawan?


Jika dilihat dari penampilannya, sepertinya dia memang benar-benar bangsawan. Tapi, aku tak pernah melihatnya sebelumnya.


Yah, mungkin itu juga karena aku sangat jarang keluar dari kamarku.


"Maaf telah merepotkan Anda, My Lord. Sungguh saya tak menyangka bahwa Anda akan berada tepat di bawah saya," tundukku hormat.


"Tidak, itu bukan masalah. Terlebih, sebenarnya apa yang terjadi? Tidak ada yang tahu kapan nyawa Anda akan meregang jika keberuntungan tak membawa saya kesini, My Lady."


Sebenarnya, aku ingin menceritakan hal yang telah kualami padanya. Hitung-hitung sebagai balasan karena dia telah menyelamatkan nyawaku.


Karena aku tahu, dahaga penasaran itu sangat sulit untuk dihilangkan.


Tapi entah kenapa, beberapa detik ke depan kepalaku tiba-tiba terasa berputar dan pandanganku kabur.


Tak butuh waktu lama, tubuhku ambruk begitu saja.


Hal terakhir yang kuingat adalah, suara yang memanggilku dengan sedikit nada kekhawatiran dalam kalimatnya.


"Lady? Bangunlah Lady!"


🥀


Sejak hari itu, entah kenapa ayah tidak lagi bersikeras untuk menunangkan aku dengan bangsawan pilihannya.


Aku tidak tahu apa yang terjadi sebenarnya pada hari itu, karena aku sempat pingsan. Saat terbangun, tiba-tiba saja hari sudah siang dan pesta sudah berakhir.


Bahkan Earl Yersey pun tak pernah lagi menampakkan batang hidung bengkoknya di hadapanku.


Tentu aku merasa lega karena hal itu, tetapi tak menutup fakta bahwa aku masih saja gelisah dan was-was jikalau ayah ingin menikahkanku dengan bangsawan lainnya.


Ketika aku bertanya pada Reina dan pelayan lainnya pun, tidak ada yang mau menceritakan apa yang telah terjadi malam itu.


Mungkin, lelaki yang menyelamatkanku waktu itu sempat membawaku ke ayah, dan menceritakan situasi yang menimpaku.


Sedikit saja, mungkin ayah prihatin padaku yang sangat tidak menginginkan pernikahan ini sehingga nekat lompat dari lantai tiga.


Tak dapat kupungkiri bahwa aku penasaran dengan lelaki itu. Tentu saja, gadis lajang mana yang tidak tertarik dengan lelaki tampan sepertinya?


Fisiknya juga bagus, walaupun sepertinya dia masih dalam fase pertumbuhan.


Sepertinya dia juga masih terlihat layaknya lelaki remaja.


Tapi, aku mungkin tak bisa bertemu dengannya lagi karena aku tidak mengetahui namanya.


Agh, sial! Jika saja waktu itu aku tidak pingsan, aku akan menanyakan namanya. Karena jika tidak ada dia, aku mungkin sudah mati.


Ya, memang sih, secara tidak langsung dia menghancurkan semua rencanaku.


Namun, tetap saja aku harus berterima kasih padanya karena telah menyelamatkanku.


"Lady, saya boleh masuk?" Terdengar ketukan pintu yang menarikku dari kubangan lamunanku.


"Masuklah," kataku kemudian melirik ke arah jendela.


Ternyata hari sudah sore, matahari hampir terbenam. Langit pun mulai menggelap berwarna kelabu.


"Lady, sudah saatnya bersiap-siap," kata Reina.


Ah, benar juga.


Malam ini ayah menyuruhku untuk hadir di sebuah pesta perayaan kedewasaan putri dari Marquess Swort.


Merepotkan sih sebenarnya, tapi setidaknya pergi ke pesta lebih baik daripada menetap di bangunan hampa yang kusebut sebagai rumah ini.


🥀


Ramai sekali.


Terlebih bagi kaum lelaki, banyak sekali dari mereka yang hadir di sini.


Sepertinya rumor bahwa putri Marquess Swort yang tampangnya bak dewi itu benar.


Tapi, aku tak peduli.


Kecantikan gadis itu tak akan sebanding dengan kecantikan kue-kue dengan hiasan jeruk yang tengah menunggu untuk dimakan di atas meja sana.


Inilah yang aku suka dari pesta. Terlebih jika aku pergi sendirian tanpa didampingi oleh ayah menyebalkan itu.


Aku bisa memakan makanan manis dengan sesuka hati.


Kuangkat sedikit rokku yang berbahan satin jatuh agar tidak terinjak ketika aku melangkah.


Tak perlu waktu lama, kuraih berbagai macam kue kemudian melahapnya sampai aku puas.


Tetapi di tengah-tengah ombak kebahagiaan yang melandaku, mendadak ada saja ikan hiu bermulut tajam yang merusak kesenanganku.


"Oh! Bukankah ini Lady la Devoline?" seru salah satu nona bangsawan tidak ada kerjaan menghampiriku dengan rombongannya.


Lantas aku berbalik ketika telah menelan kunyahan terakhir. Aku sangat malas meladeninya, namun apa boleh buat.


"Ah, Lady Marse. Suatu kehormatan bisa melihat Anda di sini," sanjungku dengan senyuman anggun.


Mata yang sangat sinis itu melirik seluruh tubuhku, dan sejenak terdiam ke arah wajahku untuk waktu yang tidak sejenak.


"Lady la Devoline, kelihatannya Anda lebih menikmati makanan daripada lelaki-lelaki bangsawan yang ada di sini."


Baiklah, permainan otak dimulai.


"Ya, itu benar, Lady Marse yang terhormat. Makanan di sini sangat enak, jadi saya tak dapat menahan diri."


"Begitukah? Kini hal itu menjelaskan kenapa gaun Anda sangat ketat dan terlihat akan robek," ejeknya kemudian tertawa bersama dua gadis bangsawan lain yang berada di sampingnya.


"Tak heran kenapa pertunangan Anda dengan Earl Yersey dibatalkan. Karena Earl Yersey, tak suka gadis yang bentuk badan berlebihan dan tak elok," sambungnya semakin tertawa terbahak-bahak.


Ternyata begitu. Dia hanya ingin mengolok-olokku tentang pertunanganku dengan Earl Yersey beberapa hari lalu.


Soal bentuk badanku, dia hanya mengarang. Aku tahu betul bagaimana bentuk badanku.


Kini kuberitahu, proporsi tubuhku sangatlah indah.


"Haha. Anda sangat cerdik dalam bercerita, Lady Marse," jawabku dengan senyuman.


Perempuan di hadapanku ini mulai memasang raut masam mendengarkan balasanku.


Aku bersedekap. "Apa uang yang diberikan oleh keluarga Anda untuk memberi gizi untuk tubuh Anda hanya Anda gunakan untuk membeli peralatan hias wajah dan perhiasan berat Anda yang kuno itu?" kataku dengan senyum manis.


"Apa katamu?!" hardiknya mulai terpancing.


"Tidak heran kenapa gaun indah yang sudah dipahat secantik mungkin itu terlihat tidak sempurna. Bagian dadanya sangat longgar, begitupun dengan bagian pangkal pahanya. Hal itu tentu saja karena ... badan Anda berbentuk datar seperti kayu yang tengah berjalan, bukan?" balasku.


Wajahnya kini memerah yang merupakan perpaduan antara marah dan malu.


Ia berniat berteriak marah, namun aku langsung memotongnya.


"Yaampun, aku hanya bercanda, Lady. Kenapa Anda memasang wajah seperti itu? Saya takut hiasan wajah Anda yang sangat ekstra itu mungkin akan luntur nantinya," ucapku semakin memanas-manasinya.


"Beraninya kau...!"


"Ah, sepertinya Anda benar Lady," kataku membulatkan mulutku seolah-olah baru menyadari sesuatu.


Dia kini terdiam terperangah dengan kedua temannya yang bereaksi demikian.


"Gaun saya memang terasa sesak. Terlebih lagi di bagian dada saya yang terasa sangat sempit, sehingga saya sulit untuk bernapas."


"Sialan kau," gumamnya terlihat mencapai puncak amarahnya.


"Anda sangat beruntung, ya, Lady Marse. Karena Anda bisa bernapas dengan bebas menggunakan gaun longgar di bagian dada seperti itu," ujarku masih setia dengan senyumanku.


"Kau wanita rendahan," bisiknya tak berkutik. "Ayo, kita pergi dari sini," perintahnya pada anak buahnya yang mengintilinya sejak tadi.


"Sebelum Anda pergi, Lady Marse," panggilku membuat pergerakan kaki mereka terhenti.


"Bukan hanya Earl Yersey, tapi semua lelaki tak suka dengan tubuh yang kekurangan lekuk dan tak elok," sindirku membuatnya mengerutkan alis benci.


Aku tersenyum miring. "Dan tentu saja, perhiasan berlebihan tak akan bisa menggantikan kecantikan alami tubuh seorang wanita."


"Dasar ular!" desisnya kemudian melangkah dengan penuh amarah yang mencapai puncak.


Ha. Siapa suruh menganggu acara kebahagiaanku?


Perempuan-perempuan berotak keledai. Mereka pikir aku akan menangis tersedu-sedu karena hinaan mereka?


Sungguh pemikiran yang dangkal.


Sekedar informasi saja, seluruh perkataanku tidak sepenuhnya benar.


Tidak semua lelaki menyukai perempuan dengan tubuh yang ... ya kau tahulah.


Itu semua tergantung dari selera masing-masing orang.


Baiklah, baiklah. Sudah cukup basa-basinya. Untuk saat ini, aku akan kembali melanjutkan acara makanku.


Persetan dengan semua lelaki bangsawan yang melirikku dengan ketertarikan.


Aku tak tertarik dengan mereka.


Karena mereka tak semenarik lelaki bermata biru langit itu.


🥀


Sekian cukup lama akhirnya bintang dari pesta ini telah muncul.


Melalui tangga yang terhubung dengan dua sisi, seorang gadis dengan pakaian merah muda tengah berjalan pelan menuruni tangga.


Langkahnya terlihat kikuk, tapi senyumannya bisa menutupi hal itu.


Para tamu kini saling berbisik-bisik dan menimbulkan keributan yang kentara.


Terlebih lagi para lelaki yang menghadiri pesta ini. Banyak dari mereka terpesona dengan kecantikan seorang gadis belia yang baru saja menapakkan kaki di pesta miliknya.


Tapi aku sama sekali tidak terkagum.


Kecantikannya terlalu biasa. Oleh karena itu, aku segera memalingkan mata untuk menemukan hal lain yang lebih menarik.


Ah!


Itu dia. Di sebelah kanan agak jauh dariku, terlihat seorang gadis dengan rambut pirang panjang yang berkilau.


Matanya berwarna hijau terang, layaknya batu zamrud yang baru saja ditemukan di kedalaman bumi.


Kecantikan seperti itu yang patut dipuji. Tanpa sadar aku semakin memperhatikan gerak-geriknya.


Kini, tingkah lakunya semakin aneh. Dia seakan baru saja menyadari sesuatu.


Rautnya kini berubah menjadi panik dan ... takut?


Entahlah. Karena penasaran, aku sontak mendekatinya.


"Lady," kataku menghampirinya dengan senyuman. "Saya perhatikan, sepertinya Anda tengah kesusahan. Ada masalah apa?" tanyaku dengan lembut.


Kenapa pula aku ini? Kenapa aku malah repot-repot ikut campur urusan orang lain?


Oh, mungkin karena tampang lugunya. Tatapan matanya yang indah seakan tak ternoda oleh dosa sedikitpun.


Benar-benar gadis yang belia.


"Uh," ucapnya ragu. "Anda janji tak akan memberitahukannya pada siapapun?" tanyanya cemas.


Kuukir senyum manis di wajahku. "Ya."


"Sebenarnya...." Dia kini mulai mendekat ke arahku dan membisikkan sesuatu padaku.


Ah, begitu.


Hal merepotkan yang datang setiap bulan. Kelihatannya nona satu ini baru kedatangan tamu secara mendadak.


"Baiklah, Lady...," kataku menggantung karena tak tahu namanya.


"Uhm, Anastasia Emerald, itu namaku," jawabnya cepat.


"Lady Emerald. Mari ikuti saya, saya baru saja menemukan ada kamar mandi di sana. Saya akan mengantar dan membantu Anda," tawarku.


"Benarkah?! Maaf telah merepotkan Anda. Saya benar-benar berterima kasih atas kebaikan Anda, Lady!" serunya polos.


Imutnya.


Kalau begini terus, aku tidak akan bisa berhenti menatapnya.


"Kalau begitu, ayo pergi."


🥀


Dia selalu berkunjung ke rumahku, tak lupa dengan senyuman yang tak pernah pupus dari wajah cantiknya.


Hari-hariku kian sedikit berubah. Memiliki teman yang periang dan ceria seperti Lady Anastasia membuatku sedikit bersemangat.


Setidaknya, aku tak merasa sehampa dulu. Tanpa kusadari, tiap hari aku selalu menantikan suara Lady Anastasia yang dengan bersemangat memanggil namaku.


Karena aku adalah anak tunggal, aku merasa bahwa Lady Anastasia sudah seperti adikku sendiri.


Seorang adik ... yang harus kusirami dengan perhatian dan kasih sayang.


"My Lady. Di ruang tamu, ada Lady Emerald yang ingin bertemu dengan Anda," kata Reina yang baru saja masuk ke dalam kamarku.


"Kalau begitu aku akan turun ke bawah sekarang," jawabku.


"Ah, Lady. Sebelum itu. Sebaiknya Anda mulai sekarang harus waspada," peringat pelayanku itu.


Kutajamkan pandanganku. "Apa maksudmu, Reina?"


Reina terlihat sedikit cemas. "Itu ... Tuan Viscount saat ini, tengah mengobrol dengan Lady Emerald," paparnya membuatku tersentak.


Dalam sekejap, aku langsung keluar kamar dan berjalan menuruni tangga dengan langkah cepat.


🥀


"Ah, Cassandra!" seru Lady Anastasia ketika melihat kedatanganku dengan napas terburu-buru.


Pandangan Lady Anastasia kembali pada ayah. "Cerita Anda sangat menyenangkan, Tuan Viscount. Lain kali, aku ingin mendengarnya lagi. Apa sekarang aku boleh meminjam Cassandra sebentar, Tuan Viscount?"


"Ya, tentu saja Lady Emerald. Kalau begitu bersenang-senanglah, dan sampaikan salam hormatku pada Count dan Countess Emerald," ujar ayahku dengan senyuman palsu.


Tentu saja aku mengetahui jenis senyuman macam apa itu. Karena aku juga sering menggunakannya.


"Sebelum itu, aku ingin berbicara dengan putriku sejenak, Lady Emerald. Apa kau bisa menunggu di luar?" pintanya.


Lady Anastasia mengangguk dengan senyuman. "Tentu saja! Kalau begitu aku tidak akan menggangu! Permisi, Tuan Viscount," hormatnya sejenak membungkukkan badan dan melebarkan roknya.


Ketika gadis itu keluar, ayah tiba-tiba saja mendekatiku yang sedari tadi mematung.


Kemudian dia berbicara beberapa patah kata. "Teruslah berteman dengan Lady Emerald, dengan begitu kita bisa saja melakukan kerja sama besar dengan orang tuanya melaluinya." 


Seperti biasa, dia hanya memedulikan tentang pekerjaan. Tapi aku tak peduli, saat ini aku hanya ingin menghabiskan waktu dengan temanku.


"Aku mengerti, Ayah," tundukku.


Sampai ia menghilang dari pandanganku, barulah aku menaikkan kepalaku.


Untung saja tidak terjadi apa-apa. Aku tidak akan memaafkan pria tua bangka itu jika dia berani berbuat sesuatu terhadap Lady Anastasia.


🥀


"Wah! Kau cantik sekali, Cassandra!" puji Lady Anastasia berseru riang ketika ia meletakkan karangan bunga buatannya di pucuk kepalaku.


"Benarkah?" kataku sontak menyentuh karangan bunga yang ia buat.


"Tentu saja! Cobalah lihat!"


Lantas aku melihat refleksiku di cermin. Ya, aku memang cantik. Aku mengakuinya.


"Karangan yang kau buat justru lebih cantik, Lady Anastasia."


Lady Anastasia kini tersipu malu. Dia benar-benar menggemaskan. "Hehe, kau bisa saja, Cassandra."


Aku tanpa sadar tersenyum dengan tulus. Sudah lama aku tak tersenyum seperti ini.


"Wah, Cassandra. Aku belum pernah melihatmu tersenyum seperti itu!" girangnya dengan mata berbinar.


"Memangnya aku tersenyum bagaimana?" kataku tertawa kecil.


"Senyummu benar-benar berbeda. Kau terlihat sangat cantik tadi!"


"Kalau begitu sekarang aku tidak cantik?" godaku.


"Eh, bukan begitu! Ah, bagaimana ya menjelaskannya. Pokoknya, aku ingin kau selalu tersenyum seperti tadi!" serunya.


"Baiklah, baiklah," jawabku.


Lady Anastasia kini tertunduk. Terlihat keraguan yang kental di wajahnya. "Hei, Cassandra. Besok, apa kau bisa bermain denganku lagi?" pintanya.


Aku kini mengusap pucuk kepalanya. "Tentu saja."


🥀


Keesokan harinya, seperti biasa aku berdiam diri dalam kamarku. Rutinitasku membosankan yang berulang-ulang selalu kukerjakan.


Saat aku tengah menyesap secangkir teh yang berada di samping tanganku sekaligus menikmati aromanya, suara ketukan terdengar halus.


Pasti Reina.


"Masuklah," ujarku tak mengalihkan pandangan dari dokumen pengeluaran dana wilayah ini dalam kurun waktu sebulan.


Aku disuruh ayah untuk memangkas pengeluaran yang sekiranya tidak perlu, dan meminimalisir pengeluaran sebanyak mungkin.


"Permisi, Lady. Tuan Viscount meminta Anda untuk segera ke ruang tamu," ucapnya.


"Apa dia mengatakan sesuatu, Reina?" tanyaku tak bisa fokus lagi ketika mendengar kata 'ayah'.


"Saya tidak tahu, Lady. Tuan tidak mengatakan apapun selain menyuruh Anda untuk segera menemuinya."


Aku menghela napas. "Baiklah."


.


.


.


.


"Ada keperluan apa sehingga Ayah memanggilku?" tanyaku seraya tertunduk kemudian duduk di bersebrangan dengannya.


Reina yang sedari tadi mengikutiku kini masih berada di sampingku untuk mendampingiku.


Ayah yang tengah fokus pada teh di hadapannya kini menatap ke arahku seraya menegapkan tubuhnya.


"Kau dan putra Count Beronald berteman baik, kan?" tanyanya tanpa basa-basi dan secara tiba-tiba.


Apa ini? Kenapa perasaanku jadi tak enak?


"Ya, kami cukup dekat," kataku.


Ayah sempat terdiam menatapku dengan pandangan menelisik. "Keluarga Beronald memiliki reputasi yang bagus di kalangan bangsawan. Wilayah mereka juga memiliki sumber daya yang bagus sehingga sangat menguntungkan untuk bekerja sama dengan mereka," terangnya panjang lebar.


"Ya, Ayah. Mereka terkenal karena telah berhasil menemukan sumber tambang di wilayah mereka dan mendapatkan keuntungan yang besar dari hal itu," jawabku.


"Oleh karenanya, kita harus mendekatkan diri dengan mereka melalui sebuah hubungan keluarga agar bisa lebih mudah bekerja sama dengan mereka."


Ucapan itu membuatku tersentak. Meskipun aku tahu pasti apa yang ia maksudkan, tetap saja aku ingin memastikan sesuatu agar tak jadi kesalahpahaman.


"Maksud Ayah?" tanyaku memastikan.


"Kau akan menikah dengan putra Count Beronald, Frostend Beronald," lugas Ayah.


Saat aku hendak berbicara, dia langsung memotongku.


"Ayah juga sudah membicarakan ini dengan Frostend Beronald. Dan dia setuju dengan usulan pernikahan di antara kalian," sambungnya membuatku tak tahan lagi mendengarnya.


Lagipula, kenapa Frost setuju dengan hal ini? Apa dia juga dipaksa oleh orangtuanya?


Sampai kapanpun, aku tak akan menikahi Frost. Dia sudah seperti seorang kakak bagiku.


Lagipula, meskipun Frost itu baik dan cerdas, dia juga manipulatif dan sering berbohong padaku, meskipun aku tak mempedulikan dan mempermasalahkan hal itu.


Aku sama sekali tak berniat untuk menikah dengan lelaki seperti itu.


"Aku menolak," tegasku dengan nada bergetar.


Apapun resikonya, aku tak ingin menikahi Frost. Dia bukan lelaki yang tepat untukku.


"Jika Ayah memang ingin bekerja sama dengan Count Beronald, aku bisa bicarakan hal itu dengan Frost agar dia bisa membujuk Ayahnya untuk bekerja sama dengan kita," paparku tak berani menatapnya.


Kulirik Reina yang menghampiri pintu. Kelihatannya ada tamu di luar, lebih baik aku segera pergi dari sini.


Kini aku berdiri. "Aku masih ada urusan lain, Ayah. Kalau begitu, aku permisi," pamitku berniat pergi.


Namun sebelum itu, Ayah mencekal tanganku dan secara paksa dengan cepat membalikkan tubuhku untuk menghadapi ke arahnya.


"Apa kau tak bisa menjaga sikapmu?!"


Plak!


Layangan tamparan kini berlabuh dengan keras di pipiku, membuat wajahku sontak menghadap ke samping karena pukulan itu. 


"Jika aku mendapati kau tak bisa diam dan menerima pernikahan ini dengan baik dan patuh, maka jangan harap kau akan menjadi bagian dari keluarga Devoline lagi!!"


Terdengar suara Reina yang bergetar tengah berbicara dengan seseorang di luar.


"N-nona... l-lebih baik Anda pulang terlebih dahulu. Lady Cassandra hari ini sedang tidak enak badan...."


Dengan begitu saja, ayah meninggalkanku dan lekas pergi menuju ke lantai atas. Mungkin dia juga menyadari bahwa ada orang di luar sana.


Maka dari itu, pria tua tersebut langsung pergi tanpa memakiku lebih lama lagi.


Persetan dengan itu.


Pokoknya, aku tak ingin menikahi Frost. Nanti aku akan bicara pada sahabatku itu untuk membatalkan ide bodoh ini.


Dariawal, bagaimana pula bisa situasi ini bisa terjadi?


Diriku menikahi lelaki seperti Frost, aku tak bisa membayangkannya.


Terdengar suara feminin dari luar. Kelihatannya itu adalah Lady Anastasia. Apa dia mendengar pertengkaran barusan? Kuharap tidak.


Sontak aku berjalan ke arah pintu dan keluar dari rumah untuk menetralkan situasi.


"Baiklah, jika Cassandra telah sembuh, tolong kabari ak--"


"Ada apa, Reina?" potongku begitu melihat pelayanku yang ketakutan dan Lady Anastasia yang kebingungan dan khawatir.


"N-nona!" lirih Reina begitu melihatku.


"Lady Anastasia, ada gerangan apa Anda kemari?  tanyaku dengan senyum manis yang terulas dari kedua sudut yang terangkat.


Ia tampak kaget ketika melihat bekas tamparan di pipiku. Tapi, aku berusaha untuk pura-pura tidak tahu agar dia tidak menanyakannya.


"Anu... begini, Cassandra. Aku ingin mengajakmu untuk berkenalan dengan sahabatku, apa kau mau ikut denganku?" tanyanya.


Ah, merepotkan sekali. Aku saat ini benar-benar ingin beristirahat. Tapi entah kenapa ... ketika berhadapan dengan permintaan Lady Anastasia, aku tak bisa menolak.


"Baiklah, aku akan ikut denganmu, Nona Anastasia," jawabku membuatnya tersenyum lebar.


"Terimakasih Cassandra. Oh iya, karena kau telah kuanggap sebagai sahabatku, kau boleh memanggilku Anastasia atau Ana saja!" serunya antusias.


Sungguh gadis yang periang.


"Baiklah, Anastasia. Kalau begitu, kau juga jangan sungkan-sungkan untuk memanggil nama depanku," balasku.


"Reina. Aku akan ikut dengan Anastasia, bisakah kau menyampaikannya kepada ayahku?" pintaku.


Reina menangguk. Meskipun dia tahu aku tak serius. "Baiklah, Nona. Saya akan menyampaikannya kepada Tuan."


"Ayo Cassandra. Ikutlah bersamaku menaikkan kereta kudaku!" ujar Lady Anastasia seraya menarik-narik pergelangan tanganku tak sabaran.


"Uhm ... apa aku tidak perlu berganti pakaian terlebih dahulu, Anastasia?" tanyaku.


Ia lantas langsung menolaknya. "Aih, kau tak perlu berganti pakaian lagi. Kau bahkan sudah sangat cantik saat ini," pujinya membuatku kembali terkekeh kecil.


Dia benar-benar imut.


🥀


"Arlen! Arlen!" teriak Lady Anastasia meneriakki sahabatnya yang membelakanginya.


Tunggu, sepertinya aku mengenali sosok itu walaupun dari belakang. Terlebih lagi warna rambut itu.


Selang beberapa saat, kini sahabatnya yang memiliki rambut pirang lurus berkilau yang sama dengannya itu pun akhirnya menoleh.


Lantas aku langsung terkejut melihat wajah itu. Raut yang tenang dan dingin. Perawakan mata biru langit yang tak pernah hilang dari ingatanku.


Lady Anastasia kini menarikku dengan cepat mendekati lelaki tersebut.


Pada akhirnya, sosok itu melihat wajahku dan dia juga memasang tampang keterkejutan yang sama persis sepertiku.


Jika dia bereaksi demikian, maka itu berarti dia masih mengingatku.


Lantas, kami berdua bersamaan mengekspresikan keterkejutan kami.


"Kau?!"


...26.04.2022...