
KARYA INI HANYA FIKSI. NAMA, TOKOH, PERISTIWA, TEMPAT, HANYALAH KHAYALAN SEMATA. HARAP PEMBACA BIJAK DALAM MENANGGAPI.
Beberapa saat berlalu setelah kejadian mengerikan yang menimpa Cassandra. Wanita itu seperti seseorang yang baru saja keluar dari rumah sakit jiwa.
Setelah berbagai bujukan yang sangat jarang terlontar dari bibir Arlen, pria itu akhirnya berhasil juga untuk menenangkan wanita itu walaupun tidak hanya sedikit.
Saat ini, pria bersurai pirang itu tengah mengangkat wanita itu dan menggendongnya sepanjang jalan.
Cassandra tampak tertidur di gendongannya. Kepalanya ia senderkan pada dada bidang Arlen.
Bahkan sisa airmata yang mengering terlukis di pipinya.
Surai coklat panjang gadis itu yang bergelombang tampak acak-acakan tak karuan.
Bibirnya pucat, dan wajahnya tampak sangat menyedihkan dan memilukan.
Arlen tampak menggemeretakkan giginya di kala ia kembali menatap wajah wanita itu.
Tampang yang ia pasang saat ini mampu membuat siapa saja bergidik ngeri.
Pria itu telah bertekad dalam hatinya. Dirinya tidak akan membiarkan dalang di balik semua ini lolos begitu saja.
...🥀...
Beberapa hari berlalu sejak kejadian mengenaskan itu terjadi, kondisi Cassandra bisa di bilang belum berada dalam kondisi yang baik.
Wanita itu masih terlalu takut untuk dekat dengan siapa saja, bahkan dengan pelayan setia nya sekali pun.
Kejadian itu mengguncang jiwa nya dengan hebat, hingga tak jarang wanita itu bertindak berbahaya karena pikirannya yang belum mampu berpikir secara rasional.
Arlen saat ini tengah mengintip wanita itu yang tengah duduk sambil memeluk kedua lututnya di atas permukaan ranjang milik wanita itu.
Cassandra tampak lebih kurus karena wanita itu sering menolak untuk mengisi perutnya, pandangan netra nya tampak kosong, dan wajah wanita itu lebih pucat dari sebelumnya.
Dia seakan berubah menjadi wanita lain. Biasanya tingkah kikuk nya akan
selalu menemaninya, dan senyum yang selalu terpatri di wajahnya hilang seketika dan tak kunjung muncul dari sudut bibirnya.
"Tuan," panggil kepala pelayan Charles, suami dari Elise.
Arlen menoleh di kala kepala pelayan Charles memanggilnya, dan menaikkan sebelah alisnya.
"Orang kemarin yang sempat menyakiti Nyonya sekarang ada di penjara ruang bawah tanah, apa anda ingin menemuinya?"
"Ya, bawa aku ke sana," titah Arlen dan kepala pelayan Charles langsung mematuhinya.
"Baiklah, Tuan."
.
.
.
.
Suara rendah dan dingin mengisi keheningan di penjara yang di selimuti kegelapan tersebut.
"Saya tidak akan membocorkannya," ujar pria yang telah banyak di hiasi luka cambukan di tubuhnya.
"Heh... jadi kau tipe anak buah yang setia? Menarik,"seringaian mematikan muncul dari sudut bibir Arlen. "Coba kita lihat, apa rasa sakit bisa mengalahkan kesetiaanmu itu."
Pria itu lalu menciptakan beberapa luka lagi hingga sang korban pun tak berdaya.
"Bagaimana, masih tidak mau mengaku?" tanya Arlen sambil melipat kedua tangannya.
"Rasa sakit ini bukan apa-apa di bandingkan dengan kesetiaanku pada Tuanku," cetus pria membuat Arlen berdecak kesal.
Sungguh membuang-buang waktu!
"Aku telah berbaik hati memberimu kesempatan untuk memberitahuku, tapi sepertinya otakmu itu terlalu bodoh untuk mengambil keputusan yang benar," ketusnya.
Tiba-tiba pria yang menjadi korban siksaan Arlen itu bergidik ngeri, tapi dia masih menunjukkan senyum remeh. "Lalu kenapa? Apa kau mau membunuhku?"
"Membunuhmu?"
Seketika gelak tawa keluar dari mulut Arlen, pria itu menutup setengah wajahnya dengan telapak tangannya. Namun tak lama dari itu, mata nya menyalang dan wajahnnya pun kembali menyeramkan.
Pria bersurai pirang itu berjongkok kemudian menarik kasar dagu pria yang menjadi korbannya itu untuk menatapnya. "Hanya sebuah kematian tidak cukup untukmu, atas apa yang telah kau lakukan pada wanita ku," ancamnya.
Dan pria itu kembali gencar melancarkan aksinya lagi dan lagi.
Dan beberapa menit kemudian, pria itu yang menjadi korbannya itu tampak tidak bergerak lagi. Arlen kemudian menaruh jari telunjuknya di bawah lubang hidung pria itu.
Tak ada lagi hembusan nafas yang keluar. Arlen berdecih sembari menjauhkan jarinya.
"Cih, dasar b*bi lemah yang bodoh."
^^^I Become Wife of the Atrocious Duke ^^^
^^^13 November 2020^^^
[Author Note's]
Halo readers, mungkin ada yang nanya kenapa chap kali ini sangat sangat pendek? Sebenarnya chap ini tidak terlalu pendek, tapi karena kebijakan novel toon yang melarang adegan kekerasan yang berlebihan, jadi scene bang Arlen yang kejam lagi nyiksa korbannya dipotong, hehe ':)
Maaf kalau menganggu pengalaman pembaca kalian, semoga kalian tetap menikmati membaca cerita ini yah!
Terimakasih ~