
Previously...
Jeanne lantas sangat kebingungan dibuatnya, kenapa Countess itu harus memberinya surat secara sembunyi-sembunyi seperti ini jika ingin bekerja sama.
Sebenarnya apa yang akan dilakukan oleh Countess itu?
...~•The Atrocious Duke's Wife•~...
...Chapter...
...(30)...
Beberapa hari kemudian....
"Yang Mulia Pangeran Darren telah tiba!!" teriak seorang pengawal yang ada di kediaman pasangan Count dan Countess itu.
Sontak gadis berhelai emas yang menjadi nona muda di kediaman itu langsung terperangah kaget ketika melihat kehadiran sosok pangeran yang hadir di kediamannya.
Dia pun langsung menyuruh pelayannya membantu dirinya berpakaian rapi secara cepat. Hingga tak butuh waktu lama, gadis itu pun turun ke bawah untuk menemui sang tamu istimewa.
Di sebuah halaman rumah yang luas, terdapat pengawal istana yang berbaris rapi beserta dengan seorang lelaki yang mempunyai surai hitamnya.
"Saya, Anastasia Emerald, putri dari keluarga Emerald menyapa Yang Mulia Pangeran. Suatu kehormatan bagi saya bisa menerima kehadiran Yang Mulia," sapa gadis itu hormat membungkukkan badannya.
Anastasia masih bingung, kenapa Pangeran Darren tiba-tiba mengunjunginya dengan cara resmi seperti ini?
"Aku ke sini ingin mengajak Lady untuk berkeliling dan jalan-jalan menikmati cuaca petang yang menenangkan. Apa Lady berkenan mengabulkan permintaan saya?"
Pangeran Darren menunduk sembari mengulurkan tangannya, tak lupa dengan senyum menawan khas seorang pangeran.
Anastasia berpikir, sudah pasti kedua orangtuanya tengah melihat saat ini. Dan juga, banyak pengawal istana di sini. Sudah pasti akan sangat tidak sopan untuk tidak menerima tawaran dari seorang pangeran.
Lagipula, entah kenapa dia juga tidak ingin menolak.
"Dengan senang hati, Yang Mulia," jawab gadis itu kemudian menerima uluran tangan pangeran Darren.
Pangeran Darren pun menarik tangan Anastasia dan mencium punggungnya singkat. Entah kenapa, Anastasia merasakan sebuah kehangatan melingkupi wajahnya.
"Kalian tidak usah mengawalku lagi, kalian bisa tunggu di sini," titah lelaki itu pada sekelompok pengawal yang ia bawa.
"Baiklah, Yang Mulia Pangeran."
Lantas, Pangeran Darren pun menarik Anastasia untuk mengikutinya. Mereka pun berjalan beriringan menikmati suasana petang yang menghanyutkan.
Ketika telah berada cukup jauh dari kediaman keluarga Emerald, lelaki itu pun mulai membuka suara.
"Kudengar ulang tahunmu yang ke -19 hanya tinggal beberapa hari lagi," celetuk lelaki itu.
Ya, ulang tahun gadis bernetra hijau itu hanya tinggal beberapa hari saja. Oleh karena itu, keluarga Emerald akan mengadakan pesta perayaan ulang tahun untuk putri semata wayangnya.
"Ya, itu benar, Yang Mulia," jawabnya memainkan kuku jarinya. Entah kenapa, gadis itu sedikit merasa gugup.
"Kalau begitu, selamat ulang tahun, Anastasia Emerald," ujar Pangeran Darren mengundang tawa dari bibir sang gadis.
"Ulang tahun saya masih beberapa hari lagi, dan anda telah mengucapkannya terlebih dahulu?" kekeh gadis itu.
"Bukankah sudah kubilang untuk tidak formal ketika kita hanya berdua?" peringat Pangeran Darren.
Anastasia menghela nafas. "Saya masih tidak terbiasa. Lagipula anda adalah seorang pangeran, sangat tidak sopan bagi saya untuk memanggil anda dengan tidak formal," terangnya.
"Baiklah jika begitu," jawab lelaki bersurai hitam tersebut singkat.
Suasana menjadi senyap seketika, dan Anastasia merasa sangat tidak nyaman dibuatnya. Oleh karena itu gadis tersebut ingin memecahkan kaca keheningan.
"Uhm, saat pesta ulang tahun saya ... maukah anda hadir?" tanyanya dengan nada tenggelam.
Tidak tahu karena alasan apa hatinya tiba-tiba berdegup kencang dan kegugupan membenturnya. Perasaan asing ini selalu membenturnya ketika dia dekat dengan Pangeran Darren.
"Tentu saja aku datang," ujar lelaki itu membuat bunga seakan bermekaran di hati Anastasia.
"Benarkah?! Terima kasih banyak, Yang Mulia!"
Bagaikan dihujani air kebahagiaan, gadis itu merasa hatinya dibanjiri oleh kebahagiaan yang tak jelas asal usulnya.
"Tapi sebagai gantinya, bisakah aku mengatakan sesuatu padamu?" tanya Pangeran Darren.
"Tentu saja, Yang Mulia. Anda bisa mengatakan apa saja," jawab Anastasia.
Seperkian detik, tiba-tiba saja Anastasia merasakan cekalan di pergelangan tangannya dan sontak dia berhenti.
Dia pun menatap sang pelaku yang berada di sampingnya, kemudian dia pun membeku ketika bibir hangat lelaki itu berlabuh di dahinya.
Sarafnya langsung bereaksi ketika dia merasakan aliran darahnya berdesir, wajahnya pun penuh dengan hawa panas yang membaur.
Empat kata yang terlontar beberapa saat kemudian, mampu membuat pikiran gadis itu kosong.
"Aku menyukaimu, Anastasia Emerald."
...~•~...
Cahaya lilin yang redup dan remang, menjadi satu-satunya pencahayaan bagi gadis berhelai panjang mencapai lutut yang tengah menulis sebuah laporan berisikan keadaan wilayahnya yang akan ia berikan kepada Yang Mulia Raja.
Waktu telah mencapai malam, di mana para bintang menari dan meninggalkan jejak pijarnya di langit. Cahaya bulan yang berpadu dengan angin malam menjadi irama yang amat menenangkan.
Di saat ia telah selesai menulis tanda tangan yang menjadi penutup pekerjaannya hari ini, dia pun menghempaskan pena bulunya di atas permukaan mejanya.
Gadis itu pun bersedekap dan melihat sekitar, tak lama dia pun bersuara. "Keluarlah, berhentilah terus mengawasiku," ujarnya di antara keheningan yang berhembus.
Dia telah lelah berpura-pura tidak tahu ketika dia tengah diawasi. Tentu saja selama ini gadis itu tahu, bahwa dalam setiap pergerakannya, selalu ada sosok yang menonton segala kegiatannya.
Oleh karena itu, dia selalu mengirim surat palsu karena gadis itu tahu bahwa pelayan yang selama ini mengirimkan suratnya telah berkhianat pada dirinya.
Flashback on
Gadis itu pun terduduk di kursi yang menempel di jendela itu. Ia menyandarkan dan menempelkan kepalanya pada kaca jendela, kemudian tertunduk sehingga helai rambutnya terjuntai menutupi setelah wajahnya sembari berbisik.
"Aku merindukanmu."
Tak tahu kepada siapa bisikan itu tertuju, gadis itu hanya menatap kosong ke arah luar jendela.
Beberapa saat kemudian, manik garnetnya pun menangkap pergerakan aneh dari pelayan yang sempat ia perintahkan untuk mengirim suratnya.
Cassandra tahu, bahwa selama ini pelayannya itu selalu menemui sosok asing dan memberikan surat miliknya pada sosok asing tersebut.
Mereka bukannya bodoh karena memilih tempat bertemu yang bisa gadis itu lihat melalui jendela, hanya saja mereka tidak menyadari.
Jendela kamar gadis itu mengarah ke seluruh penjuru yang berada di rumahnya, dan tidak ada satu pun yang mengetahuinya.
Itu karena Cassandra tak pernah membiarkan pelayan pria memasuki kamarnya satu langkah pun lewat dari batas pintu.
Oleh karena itu dia selalu mengirim surat palsu yang berisikan kata-kata kiasan dan puisi penuh cinta melalui pelayan yang berkhianat itu.
Untuk surat yang asli, Cassandra selalu mengirimkannya melalui burung merpati yang selama ini menjadi peliharaan sejatinya setelah berhasil mengelabui mata-mata dan pelayan itu.
Flashback off
Karena sekarang adalah saat yang telah tepat untuk melancarkan rencana yang telah ia susun dan tunggu selama beberapa tahun, ia tidak ingin mata-mata tersebut mengetahui rencananya dan memberitahukannya pada musuh yang sampai sekarang belum diketahui identitasnya.
Akibat tidak ada jawaban ataupun sahutan yang terdengar, gadis itu pun berdecak kesal kemudian mendengus kasar.
"Trisia Green dan Chloe Green di desa Shore, tinggal di pemukiman desa yang terpencil dengan kediaman kecil dan peternakan sapi," cecar Cassandra menggantungkan kalimatnya.
"Tinggal di atas lahan wilayahku tanpa seizinku dan membayar biayanya. Bagaimana nasibnya jika aku menggusur rumah mereka dan membiarkannya luntang-lantung di jalanan?" imbuhnya.
Seketika angin kencang menyertai sebuah sosok berjubah yang melesat laju tepat ke hadapan gadis berhelai coklat tadi.
Cassandra pun tersenyum remeh sekilas kemudian menatap sinis sosok yang tengah berlutut di hadapannya ini.
"Keputusan yang bijak. Ternyata kau juga peduli dengan keluargamu," kata gadis itu merendahkan.
Ya, tentu saja selama ini dia telah mencari seluk-beluk informasi tentang mata-mata yang sering mengawasinya tersebut.
Cassandra tentu telah mengetahui bagaimana rupanya karena dia adalah perempuan jeli yang selalu pintar mencari kelemahan musuh yang tengah lengah.
"Saya mohon jangan lakukan itu," jawab pria yang menjadi mata-mata itu.
Dapat Cassandra lihat pria itu tengah mengepalkan tangannya kuat. Dia pun berjalan berputar mengitari pria yang tengah berlutut itu secara pelan. Tak lupa dengan jari telunjuknya yang ia letakkan di dagu seolah-olah tengah berpikir akan sesuatu.
"Mengingat akan perbuatan menjengkelkanmu yang selalu melapor segala kegiatanku pada atasanmu, tentu saja aku harus mempertimbangkannya," balas gadis itu halus namun mengancam.
Kemungkinan besar orang yang menjadi atasan dari mata-mata tersebut merupakan orang yang memiliki dendam mendalam terhadapnya. Seperti yang nona Charlina sampaikan beberapa tahun lepas.
Pria yang ada di hadapannya ini hanya diam mendengar kalimat pernyataannya. Lantas, Cassandra pun kembali melanjutkan aksinya.
"Kecuali jika kau bisa melakukan sesuatu untukku," ujar gadis itu berhenti tepat di hadapan pria tadi.
"Apa saja...! Saya akan melakukannya," jawab mata-mata itu terpaksa.
Cassandra melirik sejenak wajah pria tersebut dengan wajah arogannya, kemudian kembali melangkahkan kakinya menuju ke arah jendela kaca besar yang ada di ruangan itu sembari bersedekap.
"Aku hanya ingin kau bersikap netral," ucap gadis itu mengundang kebingungan pada pria yang sekarang ini menjadi tawanannya.
"Netral...?"
"Ya. Aku akan memberikanmu uang, namun sebagai gantinya kau tetap bersikap biasa dan tidak melaporkan tentang apa yang aku kerjakan," papar Cassandra menggantung.
Pria itu kembali membisu, ia masih kurang menangkap jelas apa yang dikatakan Countess di hadapannya.
"Dengan begitu, kau bisa mendapat uang dari atasanmu dengan terus memata-mataiku. Dan aku juga akan memberikanmu uang denganmu jika kau tidak memberitahukan segala kegiatanku pada atasanmu. Bagaimana?" tawar gadis itu menatap lurus ke arah pria itu.
Lantas, pria yang menjadi mata-mata itu bingung. Jika seperti itu, bukankah situasi ini sangat menguntungkan dirinya?
Dirinya akan mendapat uang dengan menjadi mata-mata tuannya, dan dia juga akan mendapat uang dengan berkhianat dengan tuannya. Sama saja bahwa dirinya akan mendapat uang dua kali lipat lebih banyak.
Lalu... dia juga tidak perlu khawatir tentang keadaan istri beserta anaknya, asalkan dia tidak berkhianat pada Countess yang ada di hadapannya ini.
Kesempatan langka seperti ini... bagaimana bisa pria itu menolak dan menyia-nyiakannya begitu saja?
"Terima kasih banyak atas kebaikan anda. Saya bersumpah tidak akan pernah melupakan jasa anda," ujar pria itu berlutut sembari meletakkan tangan kanannya di atas dada kiri.
Di dalam kegelapan malam yang hanya disinari oleh cahaya bulan redup dan menghanyutkan, gadis itu lantas tersenyum menyeringai.
Kali ini, dia telah memiliki banyak persiapan yang matang. Dia tidak akan kalah begitu saja.
Saatnya telah tepat. Gadis itu akan mengubah garis takdir hidupnya.
...~•~...
Hari yang ditunggu-tunggu telah tiba. Ulang tahun Anastasia yang ke-19 telah sampai pada tujuan harinya, dan keluarga Emerald akan mengadakan pesta perayaan untuk putri semata wayang mereka.
Di senja yang dalam perjalanan menuju malam, kediaman Count dan Countess itu terang benderang seolah-olah menjadi bintang yang berkilau di suatu wilayah Kerajaan Erosphire.
Banyak sudah bangsawan-bangsawan yang berbondong-bondong mengenakan pakaian pesta dan mulai berjalan masuk menuju aula kediaman megah tersebut.
Tak terkecuali Cassandra, gadis bergelar Countess itu pun mengenakan gaun biru sapphirenya dengan banyak permata kecil yang menghiasi.
Terdapat banyak macam aksesoris yang berbentuk bunga tersangkut di surai coklatnya yang tertata rapi membentuk sebuah sanggul. Tak lupa dengan sarung tangan putih yang selalu melapisi tangannya.
Selepas turun dari kereta pribadi yang mengantar kehadirannya, gadis itu pun mulai menjatuhkan tapak kaki beralaskan sepatu hak tinggi itu melangkah ke tempat di mana pesta diadakan.
Ketika telah sampai, kemewahan dan keramaian langsung datang menyergapnya. Desain interior yang mewah dan sudah pasti berharga tinggi, menjadi pelengkap pesta perayaan ini.
Saat dia tengah berdiri tegap sembari mengitari tempat ini melalui netranya, tiba-tiba sebuh tepukan pelan mendarat di pundaknya dari belakang.
Lantas Cassandra menoleh, dan seseorang yang menjadi pelaku tersebut membuatnya tersenyum seketika.
Matanya berbinar dan bibir apelnya membentuk sebuah senyuman yang mendeskripsikan bagaimana suasana hatinya saat ini.
"Frost! Ternyata kau juga datang kemari!" seru Cassandra membalikkan tubuhnya untuk menghadap lelaki yang menjadi sahabat masa kecilnya itu.
"Apa kau merindukanku, My Sister?" kelakar Frost dihadiahi pukulan kecil di lengannya.
"Cih, dari dulu kau selalu saja berlagak," kekeh Cassandra. "Bagaimana kabarmu? Apa kau telah selesai mengatasi kekeringan yang melanda wilayahmu tahun ini?"
"Tentu saja. Semua hal akan selalu beres jika aku yang menanganinya!" balas lelaki bergelar Count itu dengan tingkat kenarsisan yang cukup tinggi.
"Terserah kau saja. Aku lelah dengan semua kenarsisanmu," ucap Cassandra menghela nafas pelan.
Cassandra sempat terdiam sejenak sembari menelusuri setiap penjuru aula yang luas dan besar ini. Namun tak lamar dari itu, perkataan Frost menghentikan investigasinya.
"Yah... aku masih saja tidak menyangka bahwa sahabatku ini telah memiliki gelar sendiri tahun lalu. Aku bangga denganmu," cecar Frost membuat Cassandra sedikit malu.
"Haha, apa yang kau katakan? Kau bertingkah melebihi ayahku saja," gelak gadis itu.
"Lalu, apa kau tidak ada niatan untuk mencari kekasih?" goda lelaki itu.
"Kekasih apa? Aku saja selalu sibuk dengan urusan wilayah dan istana, tentu saja aku tidak ada waktu untuk berkencan," jawab gadis berhelai coklat panjang itu.
"Jadi kau selamanya ingin menjadi seorang Countess yang melajang?"
"Bukan itu maksudku, bodoh. Aku hanya tidak menemukan lelaki yang cocok."
Frost terdiam sejenak sembari menatap Cassandra. Tak lama dari itu dia kembali berkata. "Kalau begitu, bagaimana jika aku yang menjadi kekasihmu?"
...25.02.2021...