
Previously....
Apa ada sesuatu yang mendesak?
Tak ingin berlama-lama, gadis itu sedikit merapikan penampilannya dan bercermin sejenak.
Ketika telah selesai, dia pun melangkahkan kakinya menuruni tangga kemudian menuju ke tempat tujuan yang berada di dalam surat itu.
Sebenarnya gadis itu tak tahu apa tujuan penulis surat tersebut, namun setidaknya dia harus menurutinya dulu barulah dia akan mengetahui segalanya.
...~•The Atrocious Duke's Wife •~...
...Chapter ...
...(14)...
Di sinilah dia, di depan sebuah kediaman mewah namun tidak terlalu sebanding dengan kediamannya.
Berjalan dengan pelan, gadis itupun menuju ke gerbang yang menjadi pembatas kawasan rumah itu dan luar. Terdapat penjaga yang berdiri di sekitarnya, menjadi pengawas setiap ada hal-hal yang mencurigakan.
Secara sopan, gadis berhelai coklat gelap itupun bertutur kata dengan lembut. "Permisi, apa ini benar kediaman Baron Krystilian? House of Krystillian?" tanyaku.
Penjaga itu sempat tercengang sejenak, tak tahu apa yang ada di balik pikirannya. Namun gadis tadi bisa melihat pipinya sedikit bersemu.
Dia pun berdehem membersihkan tenggorokannya. "Ya, itu benar. Apa anda benar Lady la Devoline? Atas gerangan apa Lady kemari?"
Sudah tidak heran lelaki itu mengenali sang gadis. Karena sejak dan berkat pertandingan itu, nama dan rupanya sudah menjadi pembicaraan di banyak perkotaan bahkan pedesaan.
"Ah. Saya kemari ingin bertemu dengan Lady Krystillian, apa dia ada di dalam?"
Penjaga itu tampak ragu. "Itu... My Lady tidak suka jika ada seseorang yang ingin bertemu dengannya tanpa izin, oleh karena itu--"
"Saya mohon. Saya benar-benar ingn berjumpa dengan Lady Krystillian, ada hal penting yang harus saya sampaikan. Tolonglah...."
Perempuan tersebut merogoh sapu tangannya dari saku gaunnya yang panjang kemudian menaruhnya tepat di depan bibir merah apelnya untuk menutupinya dengan bolamata yang berkaca-kaca.
Lelaki itu tampak mengusap-usap kepala bagian belakangnya dengan raut wajah bersalah. Tak lama dari itu, dia pun tampak menarik nafas lelah. "Baiklah, silakan ikut saya, Lady."
"Terimakasih banyak! Saya benar-benar tertolong!" seru gadis itu dengan senyuman dan kedua telapak tangan yang mengatup di depan dada.
Tak lama, penjaga itu membukakan gerbang dan mengantar gadis itu memasuki kawasan House of Krystillian.
Senyum yang awalnya sangat merekah dan manis dilihat, luntur begitu saja ketika penjaga itu membalikkan badan.
Wajahnya diganti dengan tatapan sinis dan misterius. Dia sempat terusik dengan sebuah hamparan tanaman yang terpatri indah di bagian kiri halaman kediaman itu.
Lengkungan di bibirnya kini kembali dengan bolamata yang membesar. "Tanaman itu sangat cantik. Tanaman apa itu?" tanyanya sontak membuat penjaga tadi memutar tubuhnya kemudian menatap ke arah yang ditunjuk sang empu.
"Oh. Itu adalah koleksi tanaman herbal milik My Lady. My Lady sangat gemar membuat obat-obatan herbal dan hal-hal sejenis itu," jelasnya dengan senyuman.
"Hm... begitu," gumam gadis bangsawan itu dengan tatapan yang kembali tak dikenal. Entah apa yang tengah ia lakukan di dalam pikirannya.
Cukup lama mereka berjalan, hingga akhirnya mereka pun sampai di pintu masuk kediaman Krystillian. Penjaga tadi mengetuk pintu hingga tak lama seorang kepala pelayan membukakannya.
"Harry, sedang apa kau? Untuk apa mengetuk--"
Kepala tersebut menggantung kalimatnya ketika melihat sosok perempuan yang memiliki surai panjang mencapai paha dengan warna coklat gelap.
"Salam. Saya ingin bertemu dengan Nona Krystilian," sapa perempuan itu sopan dengan membungkukkan badannya.
Kepala pelayan dan penjaga itu sempat melempar berbagai mimik wajah tanpa suara. Penjaga itu tampak memelas dengan kepala pelayan yang terlihat pasrah akan kelakuan si penjaga.
"Baiklah, Lady. Saya akan mengantar anda," ujar kepala pelayan itu dihadiahi anggukan dari sang gadis.
Hingga akhirnya, gadis itu pun sampai di depan ruang tamu yang mana tengah berada seseorang yang ingin ditemuinya.
Kepala pelayan tadi mengetuk pintu majikannya, dan tak lama dari itu sosok yang ditunggu-tunggu akhirnya muncul di ambang pintu.
"Siapa? Bukankah kubilang aku tak ingin diganggu--" Kalimatnya terpotong melihat kehadiran gadis yang berada di sebelah pelayannya.
"Untuk apa anda kemari?" ketusnya mengalihkan pandangan.
Berbeda dengan sang lawan bicara yang malah tersenyum manis. "Maaf jika saya menganggu anda. Tapi saya benar-benar ingin membicarakan sesuatu dengan Lady Krystillian," terang gadis berhelai coklat itu.
"Membicarakan apa? Kita bahkan tidak saling kenal. Saya--"
"Anda bisa meluangkan waktu untuk saya? Wah, terimakasih banyak!" potong gadis yang menjadi tamu di kediaman itu.
"Hah? Apa yang kau bicara--"
"Kalau begitu, Lady Krystilian. Bisakah kita berbicara di tempat yang mempunyai sedikit privasi? Karena aku benar-benar harus mengatakan hal yang penting pada anda."
"Jangan seenak--"
"Bagaimana kalau di kamar anda saja? Karena sepertinya kamar adalah tempat yang mempunyai banyak privasi."
"Diam!" sergah perempuan yang memiliki surai kemerahan tersebut.
Gadis bernetra coklat kehitaman itu tersentak. Namun tak lama dari itu, raut wajah sedih terpampang. "Ah, maaf. Anda tidak terlalu menyukai saya. Maaf jika saya lancang, sepertinya saya harus pergi saja karena telah mengganggu anda."
Dengan berlinang airmata, ia menunduk sedih dan helai rambutnya terjatuh menutupi wajahnya.
Lady Krystilian mendengus kesal. Hari ini benar-benar hari yang sangat sial baginya. Perempuan menyebalkan yang ada di hadapannya ini membuat dirinya seolah-olah menjadi orang jahat.
Secara terpaksa, dia pun akhirnya menuruti keinginan si lawan bicara agar nona bangsawan terhormat menyebalkan itu lekas pergi.
"Baiklah. Ikutlah denganku," pasrahnya membuat perempuan berhidung kecil dan mancung di hadapannya mendongak ceria.
"Benarkah? Terimakasih, Nona Charlina!" serunya. Seketika dia langsung membungkam mulutnya. "Ah, maaf! Saya benar-benar tidak sopan," tunduknya.
Gadis berkata hijau itu memilih untuk tak menghiraukan. Karena dia benar-benar ingin segala kerepotan ini segera berakhir.
...~•~...
Cassandra Pov
"Kamar anda benar-benar rapi. Anda pasti merupakan gadis yang sangat rajin!" seruku mengamati seluruh penjuru kamar perempuan di hadapanku ini.
Aku tengah duduk di sebuah kursi yang berhadapan dengan Nona Krystilian di dalam kamarnya. Dia tampak diam, sehingga aku kembali membuka suara.
"Ukuran di pintu anda sangat cantik. Apa anda yang mendekorasinya?"
"Apa yang anda ingin bicarakan. Langsung intinya saja, saya tak suka berbasa-basi."
Ah, sepertinya dia sudah tak sabaran.
"Anda sudah mendengar bukan? Kabar bahwa Lord Arlen de Floniouse terkena kecelakaan? Dia tertembak oleh sebuah anak panah," ujarku meletakkan kedua telapak tanganku yang saling bertindihan di atas paha.
"Ya. Saya sudah mendengarnya. Lalu?" Dia menjawab. Sedari tadi dia sangat ketus.
Aku berdiri kemudian melangkah mengitari kursi yang dia duduki sembari menjelaskan.
"Dengar, Lady la Devoline yang terhormat. Saya tidak mempunyai waktu untuk mendengarkan dongeng anda--"
"Lady Krystilian. Kemarin saat pertandingan berburu, saya tidak lihat kehadiran anda sejak anda hampir menembak saya dengan anak panah yang meleset. Kira-kira... anda pergi ke mana, ya?"
"Itu... aku telah pulang terlebih dahulu karena aku merasa tidak enak badan," jawabnya.
"Begitu," balasku tersenyum kemudian kembali ke tempat dudukku. "Jadi, Lady Krystillian. Saya dengar anda ahli dalam mengelola obat-obatan herbal. Jika anda ahli dengan obat-obatan herbal, itu berarti... anda juga ahli dalam mengelola racun, bukan?"
Dia tampak tersentak dengan wajahnya yang mulai rampak gugup. "L-lalu? Apa anda sekarang ingin menuduh bahwa sayalah yang menembak Lord Arlen?"
"Astaga, tidak mungkin saya bermaksud seperti itu!"
Kena kau!
"Tapi Lady... saya merasa aneh. Bukankah saya tidak bilang bahwa ada racun di anak panah yang menembak Lord Arlen? Lalu bagaimana bisa anda mengetahuinya?"
Perempuan ini kemudian melototkan matanya. Tidak kusangka dia termakan pancinganku.
"Saya juga merasa ganjil sejak kemarin. Karena anak panah yang melesat ke arah Lord tidak hanya satu, namun tiga anak panah."
"Sebenarnya apa yang ingin anda katakan sejak tadi, Lady la Devoline?"
"Karena terdapat racun di anak panah itu, sudah pasti satu anak panah saja cukup untuk melumpuhkan Lord Arlen," ucapku menggantungkan kalimatku.
"Tapi kemarin, saya sempat mendapatkan dua anak panah lain yang meleset. Dan apa anda tahu? Anak panah itu ternyata memiliki racun yang sama seperti anak panah yang berhasil menembak Lord Arlen," jelasku panjang lebar.
"Oleh karena itu, saya selalu merasa sangat aneh. Apa yang menyebabkan sang pelaku harus menembak tiga anak panah?" imbuhku sedangkan dia hanya diam.
Kakiku gatal sehingga aku pun kembali berdiri dan berjalan mendekati perempuan itu. Aku mendekat ke arahnya, kemudian bertutur kata sembari tersenyum menyeringai dan pupilku yang menatap seksama lehernya.
"Kemudian saya baru sadar bahwa saya melewatkan satu hal sepele namun bisa menjelaskan semuanya," cecarku. "Itu semua masuk akal, jika pelaku yang menembak anak panah itu adalah seorang amatiran. Apa aku benar... Nona Charlina?"
Aku kembali ke tempat dudukku, dan menunggu reaksi apa yang akan dia tampakkan?
Cukup lama dia menunduk, namun tak lama dari itu sebuah kekehan kecil namun menghina terdengar.
"Jadi... sebenarnya apa maksud Lady memberitahukan semua ini kepadaku? Jika memang benar saya pelakunya, anda tidak memiliki bukti apapun. Bahkan jika anda beropini sepanjang apapun, orang-orang tidak akan percaya jika tidak ada bukti," balasnya.
Apa dia berusaha melawanku? Namun aku datang ke sini telah membawa banyak persiapan. Sudah kuduga dia akan bilang seperti itu.
Secara perlahan kuambil wadah yang biasa digunakan pemanah untuk menaruh anak panah mereka di punggungku.
Alasan aku menggerai rambut panjangku adalah untuk menutupi wadah ini, agar orang-orang tidak akan bisa menyadari ataupun melihatnya.
Kuletakkan di atas meja yang menjadi perantara di antara kami kemudian mengambil dua anak panah dari dalamnya.
"Ini, adalah anak panah yang meleset ketika ingin menembak Lord Arlen," ujarku sembari mengusap pelan batangnya.
Kemudian aku meletakkan dua anak panah itu dan mengambil satu lagi yang tersisa.
"Dan ini adalah anak panah yang melesat yang anda gunakan untuk menembak kelinci di belakang saya," imbuhku.
"Lalu, apa maksud anda membawa semua anak panah itu dan memperlihatkannya pada saya?" hardiknya kemudian dengan kaki bersila.
Aku kembali tersenyum kemudian mengambil satu anak panah yang sempat diberi racun. Tentu saja aku telah membasuh dan membuang racun yang menempel.
"Memang benar jika dilihat sekilas dan tidak diperhatikan, anak panah ini seperti anak panah pada umumnya. Tapi saya menemukan hal yang menakjubkan di dalamnya...." Aku menggantung perkataanku.
Kuambil sebuah belati yang telah kubawa dan kutaruh di wadah anak panah tadi, kemudian mengerik bagian batangnya.
Perempuan di hadapanku ini terbelalak kaget. Dia sudah tak bisa lagi menyembunyikan ekspresinya.
"Ba... bagaimana bisa...," ucapnya tercekat dan tak percaya.
Ya. Batang anak panah ini tidak terbuat dari kayu, melainkan dari besi. Karena cat berwarna coklatlah yang membuat batangnya seperti terbuat dari kayu.
Aku menyadari hal ini ketika aku tengah berbincang semalam bersama Reina. Kuceritakan segala hal yang menimpa Arlen, kemudian aku menunjukkan panah ini.
Karena terlewat kesal, Reina pun langsung berniat mematahkannya meskipun aku telah melarangnya.
Namun anehnya, panah itu tidak patah. Sejak saat itu aku menyadari bahwa batang panah ini tidak terbuat dari kayu, melainkan besi.
Bagaimana cara aku mengetahui ada cat yang melapisinya? Itu secara tidak sengaja ketika aku mengelus batangnya sembari berusaha mencari sesuatu yang tersembunyi, kuku jariku yang panjang tak sengaja mengerik catnya sehingga catnya menyangkut di kuku bagian dalamku.
"Tidak kusangka anak panah ini ternyata terbuat dari besi. Dan yang paling mengejutkannya... ada sebuah ukiran yang bentuknya sama persis seperti tato di lehermu," jelasku menyudutkannya.
Sebenarnya semalam aku telah mengerik semua cat di panah itu dan mendapati bentuk dan ukuran yang sama. Oleh karena itu, aku mengatahui bahwa pelaku semuanya adalah nona Charlina Krystilian. Dan selepas itu, aku kembali mengecatnya.
"Anda seharusnya tidak meninggalkan anak panah yang menjadi bukti seperti ini, Nona Charlina," sindirku meremehkan.
Dia sempat terdiam, namun tak lama dari itu gelak tawa terlayang dari mulutnya. Di saat-saat seperti ini kau masih bisa tertawa? Hebat.
"Lalu... apa yang akan anda lakukan sekarang? Melaporkan saya?"
Dalam seketika dia mengambil belatiku yang berada di atas meja kemudian menodongkannya tepat di leherku.
Aku sangat terkejut ketika dia melakukan hal itu. Aku tidak menyangka dia akan benar-benar senekat ini. Kukira dia akan langsung berlutut dan memohon padaku untuk tidak membocorkan segala kejahatannya.
Tapi... tidak masalah. Aku sudah memperkirakannya, oleh karena itu aku sudah menyiapkan cadangan.
"Lady Cassandra la Devoline, hidupmu berada di tanganku sekarang."
Dia berkata sembari tersenyum mengerikan. Namun tentu tak cukup membuatku takut. Karena senjata terakhir beserta mematikan-ku telah berdiri tepat di belakangnya.
"Maka hidupmu sekarang juga berada di tanganku."
Nona Charlina kembali terkejut. Katanya membelalak dengan tubuhnya yang membeku bagaikan es. Dengan gemetar dan hati-hati, dia pun memutar kepalanya menghadap ke belakang.
Jika di leherku tertodong belati, maka di lehernya tertodong sebuah pedang yang mengkilap dan tajam.
"Lady... Emerald...."
Ya, sosok berhelai pirang yang berada di belakang nona Charlina, adalah senjata terakhirku. Serta rencana cadanganku.
Pfuhu! Senyum merendahkan ini tak bisa lagi kutahan dengan mata yang menyalang tajam. Aku pun kembali memanggil namanya.
"Charlina Krystilian..."
Dia pun kembali menghadapku ketika aku memanggilnya dan menggantungkan kalimatku
Aku mendekatkan bibirku yang tengah membuat lengkungan licik ke telinganya, dan membisikkan satu kata yang menjadi akhir dari segalanya baginya.
"...checkmate."
...27.01.2021...