The Atrocious Duke'S Wife

The Atrocious Duke'S Wife
{Season 2} Perjalanan... baru dimulai!



Previously....


"Floniouse...?"


Kini giliran aku yang menyusul untuk membelalakkan mataku. Dia tadi bilang apa?


Aku tidak salah dengar bukan? Apa dia baru saja benar-benar mengatakan nama itu?


Floniouse...


Seketika aku kembali memutar kepalaku seraya mendongak. Sinar bulan yang menerangi helai rambutnya yang berkilau.


Mata biru langit yang tajam itu.. tidak salah lagi.


Itu adalah dia.


...~•The Atrocious Duke's Wife•~...


...Chapter...


...(4) ...


Badanku begitu kaku layaknya porselen, benturan dalam diriku berkecamuk mengakibatkan tubuhku bergemetaran.


Aku harus bagaimana? Aku belum mempersiapkan diriku untuk menghadapinya.


Lebih baik, aku diam saja terlebih dahulu. Meskipun tubuh ini sangat berharap dapat mendekapnya erat untuk menghamburkan rindu yang telah lama menggumpal.


"Apa anda tidak belajar mengenai tata krama terhadap wanita, Tuan Yersey?" Nada dingin mengintimidasinya masih saja sama.


Dapat kurasakan lengannya semakin mengeratkan pelukannya pada bahuku, dan tubuhku semakin berdekatan dan berakhir bertabrakan dengannya.


Aku menggigit bibir bawahku untuk menahan tangisku, tangis yang menjadi lambang dari rasa rindu yang telah lepas.


"A-apa maksud anda... Tuan Floniouse? Saya dan Lady hanya berbincang saja," kilah lelaki mengesalkan itu mencoba menciptakan alasan.


"Hanya berbincang saja? Apa itu benar, Lady?" Dia tiba-tiba saja bertanya padaku.


Haruskah aku berbohong untuk menjaga citraku? Lagipula kami juga bukan siapa-siapa, sebaiknya permasalahan ini tidak diperpanjang. Dan reputasi ayah mungkin saja akan tercemar.


Sepertinya ini cara terbaik.


"Y-ya itu benar. Kami hanya berbincang saja."


Atau tidak.


"Tapi lama-kelamaan, Tuan Yersey semakin mendekat dan mulai berkata tidak senonoh padaku," imbuhku dengan tertunduk.


Mengapa aku harus menyia-nyiakan kesempatan ini? Sekarang, aku mempunyai dukungan dari seorang calon Duke untuk melawan seorang calon Earl.


Persetan dengan reputasi ayah. Ayah saja selama ini tidak memikirkanku, lalu kenapa aku harus memikirkannya?


Aku bukannya egois, tapi hanya saja... situasi sekarang bukanlah situasi yang tepat bagiku untuk berbuat baik dan mengalah.


Mungkin saja ini adalah kesempatan terakhir untukku hidup, dan jika itu benar, aku benar-benar tak ingin ada lagi penyesalan di dalam hidupku.


Aku ingin bahagia!


Lalu... jika ditambah bumbu sandiwara, walaupun aku hanya seorang putri dari Viscount, aku bisa dipercaya di sini jika pendukungku melihatku dalam keadaan susah.


Meskipun seorang Earl itu akan mengadu dan menuduh korban atau lebih tepatnya aku yang memiliki status di bawahnya. Namun semua orang pasti tidak akan mempercayainya jika seorang Duke, bangsawan tertinggi, memihak sang korban.


Bukankah ini... situasi sangat beruntung untuk menjatuhkan bajingan bodoh yang telah lancang kepada diriku?


"Kau...! Dasar wanita sialan!" Dia berniat menamparku, namun tentu saja ditangkis.


Pfft! Bodoh sekali! Jika kau terus bertindak seperti orang berpikiran dangkal yang hanya bisa dikendalikan emosi, korban sepertiku mendapatkan keuntungan yang sangat besar.


Tapi tak apalah... hal seperti ini sangat menyenangkan. Untuk meringankan kekesalanku yang telah menumpuk dalam waktu dua tahun silam.


Arlen menangkap tangannya yang hendak memukulku, lalu dia menghempaskan tubuh lelaki br*ngsek itu hingga terjatuh ke tanah.


"Dasar b*bi hina." Aku sedikit terkejut ketika dia berkata seperti itu. Seingatku, dirinya yang masih muda terlihat sangat tenang dan tidak peduli terhadap apapun.


Lalu apa yang membuatnya sampai sekesal itu?


"Kau tahu apa yang akan terjadi padamu jika aku memberitahukan hal ini ke publik?" ancam Arlen menatap tajam lelaki br*ngsek itu sehingga dia bergermataran hebat.


"M-maafkan saya. Saya benar-benar tidak bermaksud melecehkan Lady, saya hanya bercanda! Ya bercanda! Oleh karena itu, maafkanlah saya!" mohonnya seraya bersujud.


Ingin rasanya aku meludahi wajahnya yang sangat menyedihkan itu.


Arlen bergeming, terus menatap lelaki itu seakan ingin membunuhnya saat ini juga.


"S-saya juga akan membatalkan pertunangan saya dengan Lady! Ya, saya akan memberitahukannya pada ayah saya. Oleh karena itu, tolong ampunilah saya."


Lelaki itu berderai airmata. Namun entah kenapa hatiku tidak bereaksi sama sekali.


Tidak ada empati sedikitpun di hatiku ketika melihat manusia hina sepertinya yang hanya takut ketika nyawa mereka akan melayang.


Aku hanya bisa diam, karena peranku sudah selesai sejak daritadi.


"Pergilah," titah Arlen singkat kemudian lelaki itu menempelkan dahinya pada lantai.


"Terimakasih, Tuan Floniouse! Atas kebaikan anda!" pujinya membuatku memutarkan bola mata jengah.


"Pergilah sebelum aku memotong lidahmu!" tegas Arlen membuatku sedikit tersentak akibat terkejut.


Secara cepat, lelaki pengecut itu berlari terbirit-birit meninggalkan kami.


Sekarang tinggal kami berdua saja, apa yang harus kulakukan dan kukatakan?


"Apa kau baik-baik saja?"


Kulipat bibirku seraya meremas gaunku kuat, sebenarnya apa yang terjadi padaku? Kenapa aku bertingkah seperti ini?


Suaraku tak bisa keluar, sehingga aku hanya bisa mengangguk.


Tak lama dari itu, dapat kudengar helaan nafas berat keluar dari bibirnya.


"Lagipula kenapa kau diam saja ketika dia berniat melecehkanmu?"


Dia kembali bertanya. Kali ini meskipun  suaraku mungkin terdengar sangat kecil, namun setidaknya aku tetap bisa berbicara.


"Itu karena saya harus menjaga kehormatan keluarga saya. Karena status saya lebih rendah," bisikku berusaha menahan sesuatu yang akan turun dari salah satu inderaku.


"Apa wajahku ada di lantai?" katanya. "Biasakanlah untuk menatap lawan bicaramu," lugasnya.


"Tak peduli bahwa statusmu berada di bawah atau tidak, kau juga punya hak atas dirimu. Kau tak sepantasnya dilecehkan," paparnya.


Tapi aku tetap diam. Aku benar-benar tak ingin mengangkat kepalaku sekarang.


"Angkat kepalamu."


Sial...!


Tes... tes...


Dia tampak sedikit terkejut dengan kedua matanya yang sedikit membuka dan mulutnya yang sedikit terbuka.


Karena inilah aku tidak ingin mengangkat kepalaku sekarang.... Aku... tidak ingin terlihat menyedihkan di hadapanmu...!


"Cassandra."


Itu adalah suara ayah!


Dengan cepat aku mengusap airmataku  kemudian membenarkan posisi berdiri ku dan menatap ayah.


"Ada apa, Ayah?" tanyaku seformal mungkin. Tidak lupa dengan sikap sok anggun ini.


"Ayah mendengar ada ribut-ribut di sini, apa yang terjadi?" Suara ayah terdengar rendah, sepertinya dia curiga padaku.


"Tidak ada yang terjadi, Ayah. Ayah tenang saja," bohongku dengan senyuman.


Suasana cukup hening sejenak, namun tak lama dari itu sebuah suara membuatku tersentak.


"Yang Lady katakan tidak benar," ujarnya pada Ayah.


"Apa maksudmu, Tuan Floniouse?"


"Apa anda tidak bisa mengenali mana lelaki yang pantas untuk Lady? Lady baru saja diperlakukan tidak senonoh tadi. Jika saya tidak datang, anda pasti tahu bukan apa yang akan terjadi pada Lady?" pungkas lelaki itu pada Ayah.


Dapat kulihat ayah terbawa emosi, namun harga dirinya mampu menahan itu semua.


"Maafkan saya, Tuan Floniouse. Tapi saya benar-benar tidak tahu bahwa putri saya akan diperlakukan seperti itu. Sekali lagi, maafkan saya," tunduk ayah hormat.


"Minta maaflah pada putrimu bukan padaku," balas Arlen.


Kenapa dia tiba-tiba peduli padaku? Bukankah kami hanya orang asing? Apa inilah sikap aslinya? Tidak menerima segala perlakuan tidak adil.


"Terimakasih, Tuan. Saya tidak akan pernah melupakan kebaikan dan pertolongan anda," ujarku hormat padanya.


Dia hanya membalas dengan anggukan. Kemudian dia pun beranjak, tapi sebelum itu dia sempat berhenti dan menepuk pundakku pelan.


"Kejujuranmu tadi, adalah hal yang tepat," bisiknya.


Lututku serasa lemas, dengan mata yang kembali memanas. Tak lama dari itu, suara ayah dapat kembali kudengar menghamburkan keheningan.


"Apa yang telah kau perbuat kali ini? Ayah camkan, kau jangan membuat Ayah malu lagi, Cassandra."


"Aku tidak melakukan apa-apa, Ayah. Tuan Yersey lah yang lancang padaku, kemudian Tuan Floniouse tiba-tiba saja datang. Aku benar-benar tidak tahu apa-apa, Ayah," terangku.


"Ayah tak peduli."


Mendengar jawaban ayah yang tidak acuh, tidak membuatku heran sama sekali.


Karena ayah dari awal memang tidak memperdulikan tentang diriku. Menerima kenyataan seperti itu membuatku kesal dan ingin membuat ayah menyesal karena tidak menghargaiku.


Aku akan membuat dirimu menyesal, Ayah!


...~•~...


Selepas pesta melelahkan semalam, badanku pagi ini seperti terasa remuk semua.


Cahaya matahari yang masuk melalui celah gorden pun memaksa diriku untuk segera bangun dan beranjak dari tempat tidur, memulai hari baru yang tidak tertebak dan sudah pasti tak terkira.


Terdengar pintu ketukan di kamarku, dengan segera aku mempersilakan orang yang mengetuk pintu tersebut masuk ke dalam kamarku.


"Masuk."


Tak butuh waktu yang lama, pintu terbuka dan menampakkan Reina yang telah siap untuk melayaniku.


"Nona, Tuan Viscount mengajak anda untuk sarapan bersama. Beliau tengah menunggu di ruang makan," kata Reina.


Sepertinya ingin membahas tentang perihal semalam, lebih baik aku bersiap sekarang juga sebelum dia mengamuk.


"Baiklah, tolong siapkan air mandi untukku, Reina," pintaku dan Reina mengangguk patuh.


"Baiklah, Nona."


.


.


.


.


"Selamat pagi, Ayah," sapaku sembari menarik ujung rokku hingga mengambang dan membungkuk.


"Duduklah."


Bahkan dia pun tidak membalas sapaanku.


"Baiklah, Ayah."


Dengan segera, aku menjatuhkan pangkal pahaku dan duduk secara sopan.  Kugenggam garpu dan pisau di sebelah tanganku dan mulai memotong roti yang sudah dipanggang sempurna yang menjadi menu sarapanku pagi ini.


"Ayah sangat terkejut ketika Thomas membatalkan pertunangan kalian dan meminta maaf padamu," celetuk Ayah membuka kebisingan.


"Aku juga terkejut, Ayah. Aku tidak menyangka Tuan Thomas akan berlaku seperti itu," balasku tenang dan berusaha terus untuk menatap hidanganku dan tidak memindahkan bola mataku memandang ayah.


"Karena hal itu, Earl memberikan uang yang banyak pada Ayah, agar masalah itu tidak diperpanjang," paparnya membuatku berhenti mengunyah dan menggenggam erat pisau dan garpu yang berada di telapak tanganku.


Jadi maksudnya, kehormatanku sebagai perempuan yang hampir saja dipertaruhkan merupakan hal yang bagus? Ini sudah sangat keterlaluan.


"Baguslah jika begitu, Ayah. Setidaknya Ayah mendapatkan kompensasi yang cukup untuk kita."


"Bagus?! Apanya yang bagus?!"


Prang!


Aku tersentak ketika sebuah piring terhempas dan terlempar ke lantai. Suaranya memekakkan telinga dan kembali membuat suasana yang awalnya tenang langsung runyam.


"Jika kau tetap diam, maka harta kekayaan keluarga Earl akan menjadi milik kita! Status Ayah dan juga dirimu akan lebih tinggi dari yang sekarang! Kenapa kau tidak henti-hentinya membuat Ayah kecewa?!" bentak Ayah.


Astaga, sudah berapa banyak perbuatanku yang selalu salah menurut ayah?


"Kita akan dipandang tinggi, kita akan lebih dihormati, kita kana hidup enak! Kenapa kau selalu saja menyia-nyiakan kesempatan yang sudah Ayah cari dengan susah payah?!!"


Lagi-lagi perbuatanku salah, lagi-lagi perbuatanku tidak benar, lagi-lagi masalah status dan kekayaan diperpanjang.


Lagi-lagi... bentakan kembali terlempar. Apa hidupku benar-benar harus sesial ini?


Brak!


Karena kekesalan yang tidak tertahankan, aku menggebrak meja dan menjatuhkan pisau beserta garpu ditanganku.


Tak peduli dengan ayah yang terus berteriak memanggil namaku, aku hanya terus berlari keluar dari ruangan itu menuju ke kamarku.


Jika saja aku punya uang, sudah lama aku akan pergi dari rumah ini.


Aku sudah muak dengan semuanya, aku benar-benar harus mengubah hidupku sekarang.


...~•~...


Untuk membuat ayah menyesal karena telah berpikir bahwa aku tidak bisa apa-apa, terutama aku harus membuat diriku lebih dipandang tinggi oleh bangsawan lain maupun masyarakat.


Oleh karena itu, aku harus mengasah kemampuan berpikirku dan memperkuat daya tahan tubuhku.


Setelah itu, aku juga harus membuat Arlen menjauhiku dalam waktu dekat ini. Karena bisa saja tiba-tiba dia jatuh cinta padaku, kemudian berniat menikahiku seperti dulu.


Pada akhirnya, Anastasia akan kembali membenciku dan bersekongkol pada Pangeran Darren untuk mengalahkanku.


Jangan sampai itu terjadi, untuk saat ini, aku benar-benar harus membuat diriku menjadi Lady yang berbakat dan baik hati, serta kuat.


...Tujuan hidup kali ini: ...


...1. Membuat ayah menyesal. ...


...2. Melatih tubuh dan menambah wawasanku, serta meningkatkan daya tangkapku untuk segera mengetahui gerak-gerik musuh. ...


...3. Membuat diriku dipandang tinggi oleh bangsawan lain maupun rakyat jelata. ...


...4. Membuat ayah tidak seenaknya menikahkanku pada lelaki bangsawan yang brengsek. ...


...5. Berusaha untuk menggagalkan pernikahan dengan Arlen ketika aku beranjak umur 18 tahun. ...


...6. Membuat Anastasia untuk tidak membenciku. ...


...7. Yang terakhir, membuat ayah menyesal! ...


Sepertinya sudah, kalau begitu untuk sekarang. Sebaiknya aku mengirim Frost surat untuk segera menemuiku.


Kutulis sebuah pesan pada Frost, kemudian mengirimkannya melalui merpati yang seperti biasa selalu hinggap di jendelaku.


...~•~...


"Jarang-jarang sekali kau mengirim surat padaku," celetuk Frost. "Apa jangan-jangan... kau diam-diam merindukanku?" goda Frost membuatku menoyor kepalanya.


"Jangan berharap kau, dasar perjaka tak laku," ejekku seraya tergelak membuatnya kesal.


"Asal kau tahu, banyak sekali para Lady yang mengantri untuk menjadi istriku. Bahkan banyak Lady yang rela diduakan oleh diriku yang tampan ini," bangganya membuatku memutar bola mata jengah.


"Terserah kau saja. Teruslah kau hidup di dalam imajinasi liarmu itu."


Frost seketika tergelak mendengar perkataanku.


"Jadi, sebenarnya untuk apa kau memanggilku ke sini?" tanya Frost.


"Sebenarnya... aku ingin memintamu mengajariku sesuatu," ucapku sedikit ragu.


Frost mengangkat sebelah alisnya. "Meminta apa?"


"Apa kau bisa mengajariku berpedang?" pintaku dan Frost tampan terdiam.


Sejujurnya aku sedikit bingung dengan dirinya yang tiba-tiba diam. Namun tak lama dari itu, gelak tawa menggelegar sehingga membuatku sedikit kesal.


"Kau... ingin belajar berpedang?! Hahaha!"


"Memangnya kenapa, ada yang salah dari itu?" tanyaku sebal.


"Tidak, hanya saja aku terkejut! Kau seorang wanita yang dulunya pemalu dan langsung menangis ketika mendapatkan luka, ingin belajar berpedang. Sebenarnya apa yang salah padamu?"


"Ya... aku hanya ingin belajar saja. Karena aku sebagai perempuan pun harus kuat agar bisa menjaga diriku."


Lelaki ini tampak berpikir. Tapi tak lama dari itu, hembusan nafas terhempas dari paru-parunya.


"Sebenarnya aku bukan tidak ingin mengajari, tapi aku tidak bisa. Aku ini tidak ahli dalam berpedang, aku lebih ahli dalam memanah," terang Frost membuatku sedikit kecewa.


Jika aku tidak bisa meminta bantuan dari Frost, lalu dari mana aku bisa meminta bantuan?


"Tapi! Tenang saja. Aku punya teman yang ahli pedang dan bisa mengajarimu," lanjut Frost.


Rasa kecewa langsung terangkat dari hatiku. "Benarkah, terimakasih banyak, Frost, kau memang sahabat terbaik!" pujiku.


"Ya, ya," jawab Frost malas. "Jika seperti ini saja kau baru memujiku," gumam Frost kesal tapi aku masih bisa mendengarnya dan kembali tertawa.


"Kalau begitu, kapan temanmu itu bisa mengajariku?"


"Kebetulan dia juga ingin bertemu denganmu, dan tak lama lagi dia akan sampai ke sini," ungkapnya.


"Benarkah?" tanyaku sedikit terkejut.


Kira-kira siapa dia? Kenapa dia ingin bertemu denganku?


...09.01.2021...