
KARYA INI HANYA FIKSI. NAMA, TOKOH, PERISTIWA, TEMPAT, HANYALAH KHAYALAN SEMATA. HARAP PEMBACA BIJAK DALAM MENANGGAPI.
Su-sudah selesai.
Kutatap dengan tajam sebuah sapu tangan buatanku sendiri yang berada di hadapanku ini.
Dengan motif buah jeruk kesukaanku, di setiap jahitannya terdapat banyak usaha yang terkandung di dalamnya.
Karena akhir-akhir ini aku cukup stress memikirkan ini dan itu. Lembar demi lembar data, dan hal-hal lainnya yang bisa membuat kepalaku meledak.
Jadi untuk melepas dan meredakan stress ku, aku meminta Elise mengajariku menjahit, sebab aku sangat buruk dalam hal itu..
Agh... akhirnya selesai juga. Hasil usahaku membuat ini hampir sebulan benar-benar terbayarkan.
Yah... walaupun ada sedikit kesalahan teknis ketika ada sebuah jahitan yang tidak rapi dan tidak beraturan.
Saat aku ingin merebahkan tubuhku, tiba-tiba saja suara ketukan kembali terdengar.
Segera aku buka pintu kamarku dan melihat siapa pelaku yang mengetuknya.
"Elise? Ada apa?" tanyaku.
"Ah, Nyonya. Di bawah ada Tuan Count Beronald. Beliau ingin bertemu dengan anda," ujar Elise.
Count Beronald? Ada apa dia mencariku malam-malam begini?
"Baiklah, kau bilang padanya untuk menungguku sebentar. Aku akan segera turun," perintahku.
"Baik, Nyonya."
Selepas itu Elise pun segera turun untuk menunaikan perintahku. Count Beronald, kah?
Kenapa dia tiba-tiba ingin bertemu denganku? Apa ada hal penting?
Lebih baik aku segera menemuinya sekarang.
.
.
.
.
"Silahkan diminum terlebih dahulu, Count," ucapku dengan senyuman.
"Terimakasih, Duchess."
Saat ini kami tengah di ruang tamu, duduk di sofa yang berhadapan. Dengan sabar, aku punya menunggu apa yang hendak Count Beronald sampaikan padaku.
"Maaf karena telah menganggu waktu anda malam-malam begini, Duchess. Sebenarnya saya ingin membicarakan hal ini tadi siang, namun saya cukup sibuk."
"Tidak perlu, lagipula anda pasti ada hal penting yang ingin disampaikan hingga ingin menemui saya malam-malam begini."
"Ya, anda benar Duchess. Sebenarnya saya kesini ingin membahas tentang ekonomi kerajaan kita," jelasnya.
"Ekonomi? Apa ada yang salah dengan ekonomi kita?" tanyaku menaikkan sebelah alisku.
"Ya. Belakangan ini, saya melihat jumlah rakyat yang mati kelaparan semakin meningkat."
"Mati kelaparan? Bukankah kita sudah mengatasi hal tersebut? Dan juga, bukankah kita telah mendapat banyak bahan makanan dari wilayah tetangga beberapa pekan lalu?"
Aku sungguh bingung, karena aku kemarin sempat membeli banyak bahan makanan yang harganya bisa dibilang murah.
Bahkan aku kemarin sempat membagikan bahan makanan pada rakyat yang membutuhkannya, lalu bagaimana bisa angka kematian akibat mati kelaparan semakin meningkat?
"Kita juga sempat memberi pekerjaan pada pengangguran yang memiliki keluarga, jadi apa penyebabnya?" cecarku.
"Itu karena... mungkin karena kebijakan baru dari Yang Mulia Raja, Duchess," sela Count ragu.
"Kebijakan baru? Apa isinya?"
"Para kaum pria diharuskan untuk mengikuti perang besar kali ini, Duchess
Seketika aku langsung terkejut mendengarnya. "Perang?! Maksudmu, seluruh pria? Tidak dibatasi umur berapa pun?"
"Tidak seluruh umur Duchess, hanya dari umur enam belas tahun sampai empat puluh tahunan saja. Saya dengar-dengar, tujuan Yang Mulia Raja adalah untuk menguasai seluruh kerajaan yang ada di sekitar kita. Oleh karena itu, perang kali ini kekurangan prajurit maupun pasukan, sehingga Yang Mulia Raja memaksa seluruh pria ikut serta dalam perang ini," jelas Count Beronald panjang lebar.
"Mungkin, ini juga alasan kenapa perang kali ini berlangsung sangat lama," imbuhnya.
Tanpa sadar, aku mengepalkan kedua tanganku dengan kuat.
"Apa karena sumber pencaharian dari kepala keluarga tidak ada sehingga banyak rakyat yang mati kelaparan?" terka ku.
"Ya, itu benar Duchess. Seluruh kota maupun desa kini diduduki oleh banyak kaum wanita. Kaum pria yang tersisa hanyalah kaum pria lansia."
"Apa rakyat tidak protes tentang hal ini? Apa mereka menerima begitu saja kebijakan seperti ini?" tanyaku.
"Sebenarnya rakyat juga banyak yang memprotes tentang hal ini, Duchess. Namun, Yang Mulia Raja mengancam jika ada orang menentang perintahnya, maka orang tersebut akan dipenggal saat itu juga."
Raja macam itu?! Menelantarkan rakyat demi kepuasan dan keegoisan pribadi, itu adalah Raja pengecut! Sekarang aku tambah yakin, bahwa dia memang benar-benar menjadi pengkhianat di perang waktu itu!
"Lalu kenapa anda tidak ikut perang itu, Count?" tanyaku.
"Karena Raja membuat pengecualian pada bangsawan-bangsawan pria yang dibutuhkan untuk menjalankan urusan kerajaan," jelasnya membuatku mengangguk.
"Kita juga tidak bisa menentang, karena para bangsawan seperti kita sudah berkewajiban untuk mengabdi pada keluarga Kerajaan," kata Count.
"Oleh karena itu, Duchess. Saya kesini ingin mencari solusi dan pendapat anda. Karena saya hanya dapat mempercayai anda. Dan saya juga tidak tahan lagi melihat rakyat menderita terus menerus," mohonnya.
Tidak kusangka ternyata masih ada bangsawan yang sangat peduli terhadap rakyat seperti Count Beronald.
Aku juga tidak ingin melihat rakyat jelata yang terus menerus menderita, karena itu juga bukan salah mereka terlahir di keluarga yang tidak berkecukupan.
"Saya akan membantu sebisa saya, Count," jawabku dengan senyuman manis.
"Terimakasih, Duchess."
"Jadi, apa anda ada sesuatu yang mungkin bisa menyelesaikan masalah ini, Count?"
Count rampak berpikir-pikir seraya mengelus dagunya. "Sebenarnya saya sudah memikirkan ini sejak lama.... Saya rasa mungkin kita harus memohon pada Yang Mulia Raja untuk mengubah kebijakan ini," paparnya membuatku terkejut.
"Memohon? Bukankah anda bilang bahwa Yang Mulia Raja tidak akan mengampuni siapapun yang tidak menerima keputusannya? Lalu apa yang membuat anda berpikir bahwa Yang Mulia Raja mungkin akan mempertimbangkan permohonan kita?"
"Tapi apa ada cara lain selain itu, Duchess? Semua rakyat tersisa hanyalah kaum wanita dan para pria yang sudah tua. Jika kita memberi pekerjaan, apa mereka bisa melakukannya?"
Aku terdiam sejenak.
"Kita juga tidak bisa memberi bahan makanan gratis secara terus menerus, karena jumlah rakyat yang kelaparan tidak sedikit."
"Bahkan sekarang pun bahan makanan seperti roti, gandum, dan lainnya semakin sedikit karena tidak ada pekerja yang menghasilkannya. Kita hanya bisa mengandalkan bahan makanan kiriman dari Kerajaan tetangga yang belum menjadi musuh kita."
Apa yang sebenarnya terjadi sekarang? Bagaimana bisa keadaan menjadi rumit seperti ini?
Apa kau tidak bisa melihat apa yang telah kau perbuat pada kerajaan ini wahai Raja egois dan tak berguna?
Tunggu dulu, bukankah Count tadi bilang bahwa rakyat yang tersisa adalah kaum wanita dan para pria lansia?
Bukankah di sini kita masih mempunyai pekerja?
"Oh iya, Count. Apa ada wilayah tetangga yang mungkin tengah membutuhkan pakaian dan semacamnya?"
"Pakaian? Mungkin ada, Duchess. Kalau tidak salah wilayah di timur itu sangat susah mencari pakaian," ucap Count mengingat-ingat.
"Lalu, apa biasanya para wanita di desa bisa menanam gandum dan menanam tanaman lainnya seperti sayuran dan buah-buahan?" tanyaku berantusias.
"Sepertinya bisa, karena hal tersebut sangatlah mudah bukan?" timang Count.
Sebuah ulasan senyum tercetak di wajahku. "Kalau begitu, kita mungkin saja bisa menyelesaikan masalah kali ini."
...🥀...
"Nyonya, anda mau kemana terburu-buru di saat pagi-pagi seperti ini?" tanya Elise ketika melihatku yang tengah bersiap-siap.
Pakaian kalangan biasa yang sederhana terpasang di tubuhku, karena hari ini aku akan melakukan pekerjaan yang cukup melelahkan.
"Oh iya, Elise. Hari ini aku tidak ada pertemuan dengan siapapun, bukan?" tanyaku memastikan.
Tanganku tak bisa berhenti memakaikan dan memasang kain putih di kepalaku.
"Ya untuk hari ini tidak ada, karena para bangsawan lainnya tengah sibuk menghadapi dan menyikapi kebijakan baru dari Yang Mulia Raja sekarang," papar Elise seraya mengingat-ingat.
"Bagus. Kalau begitu kau mau ikut denganku tidak?" tawarku.
Aku pun menoleh ke arahnya dengan tangan yang masih sibuk mengikat rambut panjangku.
"Aku akan pergi ke satu desa dan desa lainnya, karena aku akan menjalankan misi penting," ucapku seraya mengerlingkan mataku.
"Misi penting apa? Anda selalu saja bersikap misterius," gerutu Elise mngundang kekehan kecil dari bibirku.
Flashback on
"Kalau begitu, kita mungkin saja bisa menyelesaikan masalah kali ini."
"Bagaimana, Duchess?"
"Begini, Count. Kita akan menyuruh kaum wanita untuk menjadi kepala keluarga sementara suami mereka tengah berperang di luar sana," jelasku.
"Wanita sebagai kepala keluarga? Bagaimana bisa, Duchess?" tanya Count sedikit kaget.
"Ya, wanita yang akan mencari uang dan bekerja untuk memenuhi kebutuhan anak-anak mereka. Mereka akan bercocok tanam untuk menghasilkan bahan makanan dan mereka akan menjahit dan menyulam atau semacamnya lalu hasil kerajinan mereka kita jual ke wilayah yang memerlukan."
"Tapi bagaimana dengan anak-anak mereka, Duchess? Sudah menjadi tugas wanita untuk menjaga dan mendampingi anak-anak mereka. Jika kaum wanita yang akan bekerja, lalu siapa yang akan menjaga anak-anak mereka?" sela Count dengan raut wajah terkejutnya.
Sudah kuduga dia pasti akan menanyakan hal itu. Namun tentu saja aku sudah mempunyai solusi untuk masalah tersebut.
"Kita akan membawa anak-anak mereka ke tempat seperti panti asuhan. Biarkan pengurus tersebut yang akan menjaga mereka, dan pengurus itu akan dibayar. Bagaimana?"
Count tampak ragu.
"Bagaimana, Count? Itu adalah solusiku. Dan menurutku, itulah solusi yang terbaik."
"Tapi apa para wanita benar-benar bisa melakukannya? Jujur saja, saya sedikit meragukan solusi anda."
"Apa anda pikir wanita adalah mahluk yang tak bisa apa-apa?" tanyaku membuatnya terdiam.
"Apa anda pikir wanita hanya berfungsi sebagai pelahir anak dan pengurus anak?" lanjutku dan dia lagi-lagi masih diam.
"Wanita dapat melakukan banyak hal, dan wanita bukanlah sebagai pajangan yang hanya dipuji kecantikannya."
"Jika pria bisa melakukannya, lalu kenapa wanita tidak? Wanita dan pria adalah manusia, mereka juga hidup dan bernafas di dunia yang sama. Lalu apa yang membuatmu berpikir bahwa wanita tidak bisa melakukan pekerjaan seperti ini?"
Celotehku panjang lebar seraya tersenyum. Lalu tak lama dari itu Count Beronald pun membuka suara.
"Duchess...." Dia menggantungkan perkataannya seraya menatapku dalam.
"Anda memang hebat," puji nya seraya mengacungkan jempol.
Aku pun terkekeh melihatnya, tidak kusangka Count Beronald adalah bangsawan yang tidak kaku dan gila hormat.
"Anda berlebihan, Count," kekehku.
Dia tampak tersenyum. "Anda sangat berbeda sekarang, Duchess. Anda sekarang terlihat lebih percaya diri."
"Apa Count mengenal saya?" tanyaku penasaran. Karena dia berkata seolah-olah dia telah mengenalku sejak lama.
"Ya, ayah kita berdua dulu merupakan sahabat. Sehingga saya sering bermain bersama anda ketika kecil. Anda adalah sahabat saya dulu," katanya membuatku sedikit terkejut.
"Lalu kenapa anda bersikap formal seperti ini?"
"Ya, karena anda sempat kehilangan ingatan anda, saya pikir anda tidak mengenal saya lagi. Dan ternyata saya benar, anda benar-benar tidak mengingat saya," ungkapnya membuatku tak enak.
"Kalau begitu, begini saja. Anggap kita baru saja bertemu, dan kita akan menjadi teman," saranku.
"Baiklah, kalau begitu. Namaku Frostend Beronald, salam kenal. Kelak, kita akan menjadi sahabat karib," ujarnya memperkenalkan dirinya seraya mengulurkan tangan.
"Namaku Cassandra de Floniouse, salam kenal." Kami pun berjabat tangan sembari melontarkan senyum.
"Panggil saja saya Frost. Karena sangat tidak enak mendengar panggilan Count dari bibir anda."
"Baiklah. Dan juga jangan terlalu kaku, cukup panggil namaku saja."
"Cassie. Apa aku boleh memanggilmu itu? Karena aku dulu sering memanggilmu seperti itu."
Cassie, ya? Baru kali ini orang memanggilku dengan nama panggilan imut seperti itu.
Entah bagaimana sepertinya aku pernah mendengar panggilan Cassie dalam sebuah kartun.
Biasanya orang akan memanggilku Cassandra, sama seperti dia yang selalu memanggilku seperti itu.
Dan panggilan Cintaku, entah kenapa aku jadi ingin mendengar panggilan itu lagi.
"Cassie? Kau baik-baik saja?"
Frost melambai-lambaikan tangannya untuk menyadarkanku.
"Ah, ya aku baik-baik saja," jawabku.
"Apa ada yang menganggu pikiranmu?"
"Tidak ada. A-aku hanya mengantuk saja." Memang benar, aku merasa mengantuk sekarang.
"Baiklah, kalau begitu aku pamit pulang terlebih dahulu. Sekali lagi, maaf telah menganggumu malam-malam begini."
"Ah tidak perlu, kau tidak mengangguk sama sekali."
"Kalau begitu, kapan kita akan melancarkan rencana kita, Cassie?"
"Besok saja, apa kau ada waktu?"
"Baiklah, kalau begitu aku akan kembali ke sini."
Aku mengangguk dan Frost pun akhirnya pulang dan menghilang dari hadapanku.
Flashback off
"Jadi anda ingin membuat revolusi baru?" tanya Elise.
Aku tergelak. "Revolusi apanya? Kau terlalu berlebihan, Elise. Aku hanya membantu rakyat yang kesusahan saja," jelasku membuatnya mengangguk-angguk mengerti.
"Oh iya, saya tidak menyangka ternyata anda dulunya bersahabat dengan Tuan Count Beronald, Nyonya," celetuk Elise.
"Memangnya kenapa?" tanyaku menaikkan sebelah alisku.
"Ah, saya baru ingat ternyata anda sempat kehilangan ingatan. Jadi, Tuan Count Beronald itu adalah lelaki lajang yang menjadi incaran seluruh nona bangsawan di Kerajaan ini, Nyonya."
"Benarkah?" Aku sedikit kaget. Tapi tidak heran juga, karena dia memang sedikit tampan.
Tapi tidak setampan Arlen. Lah, kenapa aku jadi membandingkan dia dengan Frost?!
Astaga aku segitu merindukan dirinya?!
"Nyonya?" panggil Elise menyadarkanku.
"Ya?"
"Anda sering melamun," ujar Elise. Namun tak lama dari itu kini kedua alisnya terangkat ke atas. "Apa anda merindukan Tuan Duke, Nyonya? Hohoho~"
"Tidak, aku hanya sedikit memikirkan keadaannya, itu saja," kilahku.
"Aih tidak perlu malu-malu seperti itu, Nyonya. Saya tahu, anda pasti sangat-sangat merindukan Tuan Duke bukan?"
"Sudahlah, daripada kau terus bersikap seperti itu dan tidak ada pekerjaan, lebih baik kau ikut denganku," titahku.
"Eh tapi, Nyonya! Saya masih banyak pekerjaan yang harus dilakukan! Saya harus memasak, mengepel lantai, membersihkan jendela rumah, membersihkan gudang, menyiram tanaman, dan--"
"Baiklah, baiklah. Kalau begitu kau selesaikanlah pekerjaanmu, aku akan pergi sekarang," potong ku seraya membekap mulutnya agar dia berhenti berbicara.
"Hati-hati di jalan, Nyonya. Dan tenang saja, Nyonya. Tuan Duke juga pasti akan merindukan anda. Saya pamit undur diri!!"
Dengan suara cemprengnya, Elise langsung melarikan diri menuruni tangga membuatku gemas dibuatnya.
"Hei, kembali dasar bibi tua menjengkelkan!" teriakku dan dapat kudengar gelak tawa Elise dari bawah.
Astaga, bagaimana dia bisa tahu kalau aku merindukan pria itu?
Rasa panas mulai merambat di wajahku, namun dengan segera aku menepisnya. Aku turun dan pergi ke tempat tujuanku.
Jika dia berjuang mengakhiri perang, maka aku juga harus berjuang demi mengembalikan keadaan menjadi normal seperti dulu.
Kami berdua harus menyelesaikan masalah yang dibuat oleh Raja tol*l itu.
^^^I Become Wife of the Atrocious Duke^^^
^^^27 Desember 2020^^^