The Atrocious Duke'S Wife

The Atrocious Duke'S Wife
Chapter 24 : Aku akan menjadi milikmu



KARYA INI HANYA FIKSI. NAMA, TOKOH, PERISTIWA, TEMPAT, HANYALAH KHAYALAN SEMATA. HARAP PEMBACA BIJAK DALAM MENANGGAPI.


"Hei, apa kau bisa mengajak aku untuk ikut perang ini?"


Kepala pria itu langsung tertoleh menghadap Cassandra.


Satu detik.


Dua detik.


Tiga detik.


"Apa isi otakmu itu kosong?" ujar Arlen berhasil menampilkan senyum jengkel di wajah Cassandra.


Enteng sekali pria itu menyindirnya.


"Kau pikir medan perang adalah taman bermain? Salah satu langkah saja, kau bisa kehilangan nyawa saja," ketusnya.


"Lagipula, aku tidak bisa seenaknya saja membawa mu tanpa persetujuan dari Yang Mulia," cecarnya dengan nada tidak suka.


"Tapi aku bisa menjadi umpan!" sergah Cassandra dengan cepat.


Arlen menaikkan alis tebalnya sebelah. "Umpan?"


"Ya. Misal saja, kau perlu mata-mata untuk mengetahui rahasia musuh, aku bisa melakukannya," jelas Cassandra berantusias.


"Mata-mata? Apa kau bisa? Jangan terlalu memandang tinggi dirimu sendiri," ejek Arlen.


"Hmph! Kau terlalu memandang rendah diriku! Asal kau tahu, aku ini pernah menjadi aktris yang tengah naik daun!" paparnya bangga.


"Aktris? Apa itu?"


"Astaga, keceplosan!" rutuk nya dalam hati. "Uhm, intinya kau bisa mengandalkan ku!" kilahnya.


"Tetap saja aku tak bisa membiarkanmu berada di wilayah yang berbahaya. Kau cukup duduk manis menunggu aku kembali membawa kembali kemenangan," ucapnya.


"Jika aku mampu."


Namun, bukan Cassandra jika tidak bisa mendapatkan keinginan nya tanpa perjuangan.


Dia akan terus berusaha, sampai dia benar-benar tidak mampu untuk berusaha lagi.


"Aku akan mengabulkan semua permintaanmu, apa saja," bujuknya.


"Apa saja?" Terlukis senyum miring di sudut bibir pria bersurai pirang itu.


"Ya. Contohnya, aku bisa memasak setiap hari untukmu, aku bisa membersihkan kamarmu setiap hari, aku bisa--"


"Jika menjadi milikku sepenuhnya di saat aku berhasil membawa kemenangan?"


"Oh, tentu saja. Itu hal yang sangat mudah. Menjadi milik mu sepenuhnya--" Wanita itu seakan tersadar atas apa yang di lakukannya.


Mata nya terpelotot dan dia langsung gelagapan. "U-uh, u-untuk hal itu tidak bole--"


"Eits, kesepakatan adalah kesepakatan. Kau sudah menyetujuinya. Jadi, aku akan membawa mu ikut denganku," potong Arlen membuat wanita itu ternganga seakan ingin mengatakan sesuatu tapi tertahan.


Ingin rasanya dirinya merasakan bibir  yang tergerak bagaikan apel merah yang mampu menggoda siapa saja itu.


Di tambah dengan posisi mereka yang mampu membuat hasrat pria nya muncul, berkemungkinan untuk membuat dia tidak dapat mengendalikan diri.


Namun dengan cepat, ia menepis pikirannya yang mulai tak terkendali.


"Jadi, persiapkanlah dirimu untuk pergi ke medan perang."


Cassandra tampak menggigit bibir bawahnya, ragu akan dua hal yang membuat dirinya bimbang.


"Tidak mau? Maka, jangan berpikir untuk ikut lagi," kata Arlen terdengar ketus.


Sebenarnya, dirinya sengaja menggunakan hal yang di takuti wanita itu agar dia tak berani meminta hal yang nekat seperti tadi.


Jika di bandingkan dengan hasrat nafsunya, dirinya lebih memilih tentang keselamatan wanita bersurai coklat yang berada di pangkuannya ini.


Karena ia tahu, peperangan kali ini tidaklah mudah. Dirinya mungkin akan kehilangan nyawa kali ini.


Dan tentu saja dia tidak bisa memberitahukan hal itu pada Cassandra, karena dia tidak ingin membuat wanita itu khawatir.


Itu juga kalau wanita itu benar-benar perduli tentang keselamatannya.


Seusai bergelut dengan pikirannya, Arlen kembali fokus terhadap peta wilayah yang berada di hadapannya.


Dia harus berwaspada, karena jika ia salah perhitungan, maka ratusan nyawa prajurit mungkin akan melayang karena kecerobohannya.


Netranya asik berlari kesana-kemari sembari dengan pikirannya yang tengah sibuk untuk mencari suatu strategi yang mungkin bisa di jadikan sebagai cadangan, juga untuk menghindari nyawa yang melayang sedikitpun.


"Oh ya, jika aku mendengar strategi kalian tadi, menurutku strategi itu kurang tepat," celetuk Cassandra sambil menaruh jari telunjuknya di bawah dagu.


"Soalnya, jika membagi rata 300.000 ribu prajurit di setiap tiga wilayah, bukankah itu terlalu beresiko dengan dua wilayah yang tidak di lindungi itu?" tanya wanita itu.


Arlen kembali menghadap wanita itu, bagaimana bisa wanita itu mempunyai pemikiran yang sama dengannya?


"Kau bilang kalau kau akan memimpin 20.000 prajurit yang tersisa di barisan depan, bukankah itu agak sedikit tidak menguntungkan mu?"


"Meskipun kau adalah sosok pahlawan di peperangan lalu, bukankah tindakan membawa pasukan yang hanya berjumlah kan 20.000 itu terdengar sedikit sombong?" papar wanita itu berhasil membuat Arlen terkejut.


Bagimana wanita itu bisa memahami hal semacam ini? Bahkan pemikirannya pun hampir sama dengannya.


"Dan juga, strategi kali ini kelihatannya sedikit terlalu positive thinking," ucapnya. "Memang tidak masalah jika ber positive thinking. Namun jika terlalu berlebihan--"


"Maka itu menunjukkan bahwa kau terlalu meremehkan sesuatu," ujar mereka bersamaan.


Cassandra langsung mengalihkan pandangannya yang awalnya tertuju ke depan menuju ke Arlen.


"Bagaimana kau bisa sangat pintar dalam hal ini?" tanya pria itu dengan rasa penasaran yang tak dapat di bendung.


"Eh?" Cassandra sedikit terkejut sekaligus kikuk di kala wanita itu mendapat pujian yang sangat jarang dari pria yang ada di hadapannya ini.


"Ehm... yah, aku hanya banyak belajar saja," kilahnya seraya menggaruk rahangnya dengan jari telunjuknya.


"Aku juga tidak mungkin bilang bahwa aku adalah maniak game peperangan dalam dua tahun silam," batinnya berkata.


"Aku juga berpikir seperti itu," ujar Arlen. "Strategi kali ini cukup tidak meyakinkan menurutku."


"Kalau menurutmu tidak meyakinkan, lalu kenapa kau setuju dengan itu?" tanya Cassandra bingung.


"Yang Mulia Raja telah menyetujui hal itu, jadi aku juga tak bisa berkutik."


Cassandra mengangguk-angguk mengerti. "Jadi, bagaimana caranya kau akan memenangkan peperangan ini? Apa kau bisa memastikan bahwa dirimu akan baik-baik saja?"


"Apa kau mengkhawatirkanku?"


"Tentu saja aku mengkhawatirkan mu," jawab Cassandra tanpa ragu. "Jika kau kehilangan nyawamu, kemungkinan aku tidak akan bisa kembali ke dunia asal ku. Juga, jika sampai kau menghilang, entah kenapa aku tak bisa membayangkannya."


"Entah kenapa mendengarmu mengatakan hal itu, aku jadi takut kehilangan nyawaku," jujur Arlen sambil menampilkan senyum... getir...?


Cassandra sedikit terkejut melihat senyum yang menurutnya asing untuk pria itu tunjukkan.


Wanita itu tenggelam dalam netra teduh yang di layangkan oleh pria itu padanya.


Dan dirinya merasakan gejolak perasaan yang tak dapat di artikan yang meronta-ronta di dalam dirinya.


Tok! Tok! Tok!


Pandangan mereka berdua sontak langsung tertuju ke arah pintu yang berada di depan mereka.


Cassandra baru sadar bahwa posisi mereka duduk yang tergolong memalukan ini telah berlangsung cukup lama.


Jujur, dia sedikit nyaman. Namun, wanita itu langsung menepis kejujurannya.


"Masuk," ujar Arlen lantang. Hingga tak lama dari itu, pintu itu berderit menandakan ada seseorang yang membukanya.


"Arlen, apa kau sibuk?" Suara lembut yang menjadi ciri khas seorang wanita bersurai pirang itu membuat Cassandra langsung memutar bola mata malas ketika mendengarnya.


"Ada urusan apa?"


"Aku ingin minta sedikit bantuan darimu, jika kau tidak keberatan," ucapnya dengan nada melemah.


Arlen langsung mengalihkan pandangan nya menuju kertas-kertas yang berada di atas permukaan mejanya. "Aku sibuk," tolaknya.


Anastasia hanya bisa menampilkan senyum lemah dengan raut menyedihkan di wajah nya. "Sebentar saja... kumohon...."


Cassandra yang muak dengan raut wajah palsu yang di tampilkan oleh wanita ular itu pun langsung menyahut. "Tidak bisakah kau meluangkan waktumu sedikit saja, Arlen? Aku yakin, Anastasia pasti ada sesuatu yang sangat penting sehingga memaksanya untuk mengganggu mu di saat kau sibuk," alibi nya.


Arlen tampak menghembuskan nafas berat. "Baiklah," ucapnya pasrah kemudian bangkit dari duduknya dan mengikuti kemana Anastasia membawanya.


...🥀...


"Ada urusan apa, Anastasia?" tanya Arlen langsung menuju inti, tidak ingin berbasa-basi.


"Terutama duduklah terlebih dahulu," ujar wanita itu mengajak Arlen duduk di sebelahnya.


Arlen hanya bisa menuruti permintaan wanita bersurai pirang itu. Ia mendaratkan pangkal pahanya di pinggir permukaan ranjang Anastasia.


"Katakanlah, apa yang kau butuhkan dariku?"


Anastasia mulai menarik resleting gaun yang di kenakannya hingga punggung nya terpampang. "Aku sedikit terluka, tapi karena luka ini berada di punggungku, aku agak sedikit susah mengobatinya."


"Apa kau tidak bisa menyuruh pelayan saja yang melakukannya untukmu?"


"Apa kau sangat tidak ingin membantuku, Arlen? Jika iya, maka aku bisa melakukannya sendiri," ucap Anastasia dengan raut wajah sedih sehingga membuat Arlen menjadi sedikit bersalah.


Ia menarik nafas pelan. "Baiklah, di mana obatnya?"


Anastasia pun memberikan obat salep yang telah berada di genggamannya pada Arlen.


Jari pria itu pun terulur untuk mengoleskan salep itu pada punggung Anastasia yang terluka.


Terdengar suara ringisan yang terlontar dari bibir wanita itu.


"Tahanlah sedikit," ujar Arlen dan di balas anggukan oleh Anastasia.


Tidak memakan waktu yang lama, Arlen pun telah siap dengan kegiatannya mengoles salep di luka Anastasia.


Saat ia beranjak, ia merasakan cekalan di tangannya hingga otomatis membuatnya terhenti dan memandang sang pelaku.


"Apa ada hal lain?" Arlen tampak mulai menunjukkan raut kesal di wajah datarnya.


"Arlen...." panggil Anastasia seraya mulai menurunkan pakaian atasnya secara perlahan sehingga belahan dadanya mulai terlihat.


"Apa yang kau lakukan, Anastasia?" ucap Arlen penuh penekanan.


"Arlen... selama ini kau tak pernah menyentuh ku, kita bahkan belum pernah bermalam sekali pun. Apa kau benar-benar membenciku?" tanya Anastasia sambil menarik manja pergelangan tangan Arlen.


"Bukankah kita sudah membahas ini, Anastasia. Aku terpaksa menikahimu, tapi aku sama sekali tidak mencintaimu."


"Namun, kenapa? Apa ada yang kurang dariku?! Apa aku sama sekali tidak cantik di matamu?! Kenapa kau bersikap seperti ini sekarang, Arlen?!"


Wanita itu mulai menjerit histeris mengeluarkan seluruh isi hatinya. Genangan air mata pun kini telah menghiasi tulang pipinya.


"Bukankah kau sendiri yang membuatku bersikap seperti ini padamu?" Tulang rahang pria itu mulai tercetak dengan jelas, sorot mata nya pun mulai menajam, menandakan bahwa dia mulai tersulut emosi.


"Kau sendiri lah yang membuat persahabatan kita selama ini hancur, Ana," ujar Arlen seraya mengucapkan nama yang sering ia ucapkan untuk memanggil sahabat masa kecilnya.


"Apa kau tak pernah mencintaiku sedikit saja? Apa kau tak bisa memberikan cinta mu sedikit saja padaku?" lirih Anastasia dengan kepala yang ia tundukkan.


"Aku mencintai mu, Anastasia. Aku sangat mencintai mu seperti adik kandungku sendiri," ungkap Arlen tak membuat Anastasia senang sama sekali.


Wanita itu tampak meremas rok gaun yang tengah ia pakai, bibir bawahnya pun ia gigit dengan sangat keras karena nyeri yang menusuk-nusuk hatinya tanpa ampun.


"Kuharap dengan ini kau mengerti, bahwa aku hanya mencintaimu sebagai adik, bukan sebagai wanita," ujarnya kemudian mengguncang tangannya agar cekalan Anastasia pada tangannya terlepas secara paksa.


Pria bersurai pirang itu mulai melangkah demi langkah, menjauhi sang wanita yang tengah di kendalikan oleh emosinya.


"ARGH!!!"


Pyar!


Barang-barang yang ada di dalam kamar tidur yang mewah itu menjadi sasaran dari emosi Anastasia yang memuncak.


Ia tidak terima. Dirinya tidak terima dengan hanya di anggap sebagai seorang adik. Dirinya tidak terima di cintai sebagai seorang adik.


Dia ingin di cintai sebagai wanita. Dia ingin menjadi satu-satunya wanita yang mendapat cinta dari pria itu.


Dan siapapun yang akan menghalanginya, maka dia tidak akan segan untuk menyingkirkan penghalang nya.


...🥀...


Cassandra Pov


Senyum nya itu membuatku terus kepikiran. Senyum nya itu tampak seperti senyum yang tengah menunjukkan bahwa ada sesuatu yang membuatnya menyerah.


Namun aku tak tahu apa itu. Dan, dari informasi yang ia katakan kepadaku tadi seolah-olah dia tidak mendapatkan kemenangan kali ini.


Seolah-olah, kemenangan itu suatu hal mustahil untuk di dapatkan.


Kenapa dia menunjukkan senyum seperti itu? Apa yang di sembunyikannya di balik senyum itu?


Dan, ke bimbanganku terhadap keputusannya membuat hati ku ragu.


Sebenarnya aku ingin ikut dengannya dalam perang kali ini. Karena siapa tahu saja aku bisa menjadi mata-mata musuh berbekal dengan ilmu sandiwara ku.


Dan dengan itu, mungkin di dalam keadaan terdesak, semua informasi yang aku dapatkan hasil dari menjadi mata-mata dapat berguna.


Namun di sisi lain, aku bingung sekaligus... takut.


Dia bilang jika aku ikut dengannya, maka aku harus menjadi miliknya seutuhnya.


Aku takut... dan aku ragu. Aku tak bisa merelakan kehormatan ku begitu saja pada pria asing. Walaupun saat ini dia berstatus sebagai suamiku.


Apa dia sengaja membuat kesepakatan ini agar aku tak bisa ikut dengannya?


Jika benar, tapi apa alasannya? Apa dia benar-benar tulus mengkhawatirkan ku-- lebih tepatnya mengkhawatirkan Cassandra la Devoline?


Tentu aku tidak bisa diam duduk manis saja di kala dia mati-matian membawa kemenangan demi menyelamatkan negeri ini.


Aku tak bisa membiarkan orang yang pernah membantu ku berjuang sendirian begitu saja.


Sepertinya, keputusan ini memang tepat. Aku harus segera menemuinya.


Aku berlari secepat yang aku bisa, dan tak lama dari itu, tubuhku telah sampai di depan ruang kerja nya yang tertutup.


Dengan tak sabaran dan tidak tahu sopan santun, dengan keras aku membuka pintu itu sehingga menimbulkan suara yang cukup keras.


Ku lihat dia mulai mengarahkan  pandangan padaku dengan raut wajah nya yang datar seperti biasa.


Dia diam saja, menungguku untuk melontarkan sebuah kalimat dari bibirku.


"Aku akan ikut denganmu dalam perang ini, dan aku akan menjadi milikmu setelah kau bisa membawa kemenangan pada perang ini."


^^^I Become Wife of the Atrocious Duke^^^


^^^27 November 2020^^^