The Atrocious Duke'S Wife

The Atrocious Duke'S Wife
Chapter 31 : Harapan



KARYA INI HANYA FIKSI. NAMA, TOKOH, PERISTIWA, TEMPAT, HANYALAH KHAYALAN SEMATA. HARAP PEMBACA BIJAK DALAM MENANGGAPI.


"Si... siapa kau...?" tanyaku bingung seraya menatapnya.


Dia pun mulai menurunkan syal yang menutupi setengah wajahnya sama sepertiku. Dan di kala itu, aku langsung membelalakkan kelopak mataku saking terkejutnya.


Sosok itu menampilkan senyumnya.


Aku sangat tidak menyangka bahwa dia akan berada di sini.


"P-pangeran... Darren?" tanyaku terbata-bata dan tak percaya. Lantas, aku pun membungkuk hormat padanya. "A-apa yang anda lakukan di sini, Yang Mulia?"


"Sebelum saya menjawab, saya juga ingin mengatakan hal yang sama. Apa yang anda lakukan di sini, Duchess?"


"A-uhm, itu...."


Sial, aku harus jawab apa?!


"S-saya... ehm... saya tersesat, Yang Mulia," kilahku yang sudah pasti bohong.


"Jika anda tersesat, lalu kenapa anda sampai berpakaian seperti ini, Duchess?" tanyanya semakin menyudutkanku.


"Uh... s-saya...." Aku benar-benar tak bisa membuat alasan lagi. "Ah... sialan," gumamku tanpa sadar.


"Anda bilang sesuatu, Duchess?"


"Eh! B-bukan apa-apa, Yang Mulia. Saya bilang, beruntungnya saya bisa bertemu dengan anda di sini, terimakasih telah menyelamatkan saya, Yang Mulia," bohongku sambil memujinya.


Jari telunjukku pun tak bisa berhenti untuk menggaruk tulang rahangku yang tak gatal.


"Sama-sama, Duchess."


Setelah dia mengatakan itu, suasana pun menjadi hening. Tak ada lagi hal yang bisa kami bicarakan.


Aku pun mencoba mencari topik untuk mencairkan suasana.


"Oh iya, soal pertanyaan saya tadi. Apa yang anda lakukan di sini, Yang Mulia?"


"Saya kesini bertugas sebagai mata-mata," ucapnya terdengar sedikit... bangga?


"Aha... begitu," tawaku hambar. Habis, aku tak tahu bagaimana meresponnya jika dia berbangga diri seperti itu.


"Duchess, sebaiknya kita lekas pergi dari tempat ini. Karena cepat atau lambat, kita pasti akan ketahuan," sarannya padaku.


Dengan patuh, aku pun mengangguk. Dia pun mulai menggenggam telapak tanganmu untuk mengikutinya.


Sebenarnya aku cukup tak nyaman, tapi tak apalah. Kapan lagi bisa genggaman tangan dengan Pangeran?


Kami pun mulai berlari dengan tangan yang saling bertautan untuk keluar dari tempat ini.


Di tengah perjalanan, sialnya kami malah sempat berpapasan sehingga kami langsung memutar balik dan berakhirlah berkejar-kejaran dengan segerombolan prajurit.


Lagi.


"Yang Mulia, apa anda tahu jalan keluar selain tempat tadi?" tanyaku dengan nafas yang mulai terengah-engah.


"Ya, aku tahu. Kau tenang saja," jawabnya dan aku mengangguk-anggukkan kepalaku.


Kami kembali berlari sekencang yang kami bisa. Namun mau bagaimanapun tenaga kami tetap terbatas.


Cukup jauh kami berkejar-kejaran dengan segerombolan prajurit tersebut, sehingga pangeran pun akhirnya menyadari bahwa aku telah mulai kehabisan tenagaku.


Pangeran mengajakku bersembunyi di balik tong-tong yang berisi air anggur yang biasanya diminum oleh para prajurit di sini.


"Untuk sekarang, lebih baik kita bersembunyi dan beristirahat terlebih dahulu, Duchess," ujarnya.


"Baiklah, Yang Mulia. Maaf telah merepotkan anda," ucapku seraya menghirup nafas sebanyak-banyaknya untuk menetralkan detak jantungku yang kalang kabut memompa darah ke seluruh aliran tubuhku.


Bibirnya hanya mengulas senyum, sedangkan iris beserta pupil matanya berlarian kesana kemari mengawasi keadaan di sekitar kami.


"Yang Mulia, apa anda yang diteriakki sebagai penyusup?" tanyaku masih penasaran dengan penyusup yang diteriakki oleh prajurit tadi di saat aku masih berada di bawah naungan karung gandum.


"Ya, itu aku," jawabnya masih setia dengan matanya yang sibuk menelusuri setiap sudut di sekitar kami.


Namun sebuah senyuman disertai kekehan mulai tertarik dari sudut bibirnya. "Untung saja aku sempat berlari, jika tidak mungkin aku sudah menjadi sebuah kasur yang dipukuli tadi."


Aku pun mulai mengeluarkan kekehan kecil agar tidak terlalu canggung.


"Oh iya, tadi aku sempat mendengar sebuah percakapan yang sepertinya berasal dari pengkhianat di antara kita."


Mataku sedikit terbelalak, hampir saja aku melupakan hal itu.


"Apa yang mereka katakan, Yang Mulia?" tanyaku terburu-buru dan tak bisa membendung rasa penasaranku.


Pangeran Darren tampak mengingat-ingat. "Kalau tidak salah, mereka akan menempatkan lebih dari seratus ribu prajurit di pertahanan utama mereka."


"Seratus ribu prajurit?!" pekikku tertahankan mendengar perkataan yang terlayang dari bibirnya.


"Ya. Oleh karena itu, kita harus cepat menyelamatkan Duke Floniouse. Dia tidak akan mungkin bisa mengalahkan lebih dari seratus ribu hanya dengan dua puluh ribu prajurit," perintahnya membuatku semakin berkeringat dingin.


Degup jantungku kini tak dapat kukendalikan, rasa takut dan cemas menghampiriku secara mendadak dan seketika langsung mengendalikanku.


Keringat dingin mulai membanjiri, dengan bibir yang mulai bergemetar.


"Aku mengerti kekhawatiranmu Duchess, oleh karena itu kita harus--"


"Tidak, bukan itu," potongku dengan cepat. Dengan bibir yang masih setia bergetar, aku pun berkata.


"A-aku tidak menyangka, bahwa mereka memiliki pasukannya sebanyak itu di pertahanan utama mereka," paparku dengan nada yang mulai melemah.


"Aku... ternyata aku sangat naif... seharusnya aku tidak membiarkannya pergi dengan pasukan sedikit itu...! Seharusnya...." racauku lirih masih dengan nada bergetarku membuat Pangeran Darren sedikit khawatir.


"Duchess? Ada apa? Tenanglah, Duchess," bujuk Pangeran Darren berusaha menenangkanku.


"Bodoh... aku sangat bodoh! Sekarang bagaimana sekarang, ini semua salahku...!"


"Duchess!" ucap Pangeran Darren dengan nada suara yang mulai meninggi, namun berhasil membuatku seakan tersadar dari pikiran negatif yang mulai berkecamuk.


"Tenanglah, Duchess. Sebenarnya apa yang dari kau katakan?! Apa maksudmu Duchess?!"


Pangeran Darren sedikit mengguncang pundakku sehingga aku akhirnya menatapnya dengan bolamata yang mulai berlinangan airmata.


"Arlen... dia pergi menembus pertahanan utama Nephorine, hanya dengan empat ribu pasukan...." lirihku dengan nada seperti hampir tenggelam oleh arus  ombak yang tinggi.


"Empat ribu pasukan?! Itu gila!" Pangeran Darren hampir saja teriak lepas, untung saja pria itu masih mengingat status kami yang saat ini masih tengah bersembunyi.


"Aku harus cepat menolongnya, intinya aku harus bergegas pergi untuk menghentikannya," tegasku seraya mengusap airmata yang sempat mengalir tanpa permisi.


Aku harus menyelamatkannya! Aku tidak boleh lemah dan hanya bisa menangis di posisi ini!


Menangis tidak ada gunanya! Sebuah usahalah yang diperlukan saat ini!


"Tunggu, Duchess. Jangan terburu-buru, aku tahu kau tengah khawatir, tapi sekarang sudah terlambat untuk hal itu," cegah Pangeran Darren seraya kembali menggenggam tanganku.


Ingin aku menepis kasar genggamannya, namun sangat tidak sopan bagiku untuk melakukannya karena dia adalah seorang pangeran.


"Apa maksudmu, Yang Mulia?" tanyaku tak sabaran dengan emosi yang mulai menyulut pikiranku.


Apalagi ini? Kenapa waktu begitu cepat berlalu?


Kekesalan dan keputusasaan rasanya saat ini tengah menyatu menjadi satu sehingga ingin meledak kapan saja.


"Kalau begitu, mau bagaimanapun kami harus tetap pada rencana awal kami," ujar ku penuh yakin.


Mau sebanyak apapun musuh, aku harus tetap yakin. Agar keyakinan itu terus menyertaiku agar aku tidak kehilangan semangatku.


"Aku harus menemuinya dan memimpin pasukan yang tersisa," ucapku.


"Baiklah, Duchess. Aku akan ikut denganmu, dan aku akan membantu kalian."


Kalimat pangeran membuatku terkejut. "Namun bukankah anda harus melindungi seratus ribu pasukan di salah satu tiga wilayah yang dilindungi? Lagipula aku juga sempat mendengar pembicaraan seseorang Pangeran," ungkapku.


"Pembicaraan? Pembicaraan tentang apa, Duchess?" tanya Pangeran Darren seraya menaikkan sebelah alisnya yang berwarna hitam legam.


"Saya sempat mendengar, bahwa musuh akan menyerang dua wilayah tak terlindung kita."


"Dua wilayah terlindung? Memangnya musuh tahu wilayah yang mana?"


Aku tersenyum kecut mendengarnya. "Tentu saja ada pengkhianat yang memberitahukannya kepada musuh, Yang Mulia," balasku. "Mereka ingin membunuh dia terlebih dahulu, setelah itu mereka akan menyerang dua wilayah tak terlindung kita," lanjutku panjang lebar.


"Dia? Dia siapa?" tanya Pangeran. Astaga, apa Pangeran ini mencoba membuatku malu?


"Mak-maksud saya, suami saya. Duke Floniouse." Entah kenapa rasa panas mulai merambat di area tulang pipiku.


"Kalau begitu, aku akan membantu kalian terlebih dahulu kemudian baru aku akan memberitahukan kepada yang lain untuk melindungi dua wilayah tidak terlindung kita."


"Maaf jika aku lancang, Yang Mulia. Tapi bagaimana cara anda untuk membantu kami? Walaupun memang anda sangat kuat, namun jika mengingat pasukan yang hanya berjumlah kan dua puluh ribu juga tidak mungkin untuk mengalahkan mereka," selaku dan Pangeran tampak menunjukkan senyum miring.


"Kau tenang saja, karena aku akan membawa pasukanku sendiri untuk membantu kalian," ujarnya membuatku membelalakkan mataku.


"Anda mempunyai pasukan?!"


"Ya, pasukanku sendiri. Berjumlahkan tiga puluh lima ribu pasukan," lanjutnya.


Kebahagiaan langsung menyelimuti hatiku, dan secara sontak aku langsung menundukkan kepalaku padanya.


"Terimakasih. Terimakasih banyak, Yang Mulia!"


Dapat aku lihat senyum manis menghiasi wajah Pangeran. "Tidak perlu berterimakasih, Duchess. Itu sudah menjadi tugasku untuk membantu memenangkan perang ini."


"Kalau begitu, kita jangan membuang banyak waktu, kita harus pergi sekarang juga."


Aku mengangguk pertanda setuju. Semangat kembali membara di hatiku, keyakinan di dalam diriku seakan mulai bangkit kembali.


"Tunggu aku. Aku pasti akan membantumu!"


...🥀...


Angin berhembus kencang sehingga mampu membuat siapa saja kedinginan seakan tubuh mereka ingin membeku.


Butiran es halus yang turun dari langit yang mendung semakin lebat, hingga membuat seluruh armor yang berada di tempat itu diselimuti olehnya.


Tanah yang mereka pihak kini tidak lagi berwarna coklat maupun hijau karena rumput yang tumbuh di atasnya.


Semuanya telah berubah menjadi putih karena butiran es yang menimbunnya, disertai dengan percikan noda merah yang membuat siapa saja bergidik.


Bahkan banyak pedang yang telah tertancap di tanah yang tertimbun butiran putih itu, karena pemiliknya sudah tak lagi mempunyai sebuah tenaga maupun nyawa untuk menggunakannya dan menggerakkannya.


"Tuan, musuh semakin banyak! Kita semakin terdesak! Jika tetap seperti ini, tidak peduli sekuat apa kita, ujung-ujungnya pasti akan kalah jumlah! Kita harus mundur!" teriak salah satu prajurit pada pimpinan mereka.


Tampak pemimpin yang memiliki surai pirang itu bimbang. Bimbang antara harus mendengarkan prajuritnya atau seseorang yang belum pasti kedatangannya.


Ia ingin mempercayai seseorang yang belum pasti kedatangannya itu, namun ia juga tidak boleh egois dengan membiarkan seluruh prajuritnya kesusahan dan akhirnya kekalahan menjadi milik mereka.


Perasaannya berkecamuk, batinnya tak terkendali. Harapan dan desakan terpaksa menjadi satu dan saling bertolak belakang.


Tidak bisa menerima keduanya, dengan berarti pria itu harus memilih salah satu di antara keduanya.


"Tuan! Kumohon berilah perintah pada kami!"


Desakan demi desakan kembali memaksanya untuk memilih. Ia tidak boleh terlalu cepat mengambil keputusan, karena bisa saja keputusan tersebut dapat berakhir secara gegabah.


Jika terlalu lama mengambil keputusan, maka bisa saja semuanya akan terlalu terlambat.


Telapak tangan yang mengepal kuat, rahang yang mulai tercetak jelas, menjadi tanda bahwa pria itu sedang dalam kondisi emosi yang tak baik.


Daripada berlama-lama dengan kebimbangan dan keraguan ini, lebih baik ia mengambil resiko atas pilihan yang dibuatnya sekarang ini.


"Tahan mereka untuk beberapa saat lagi! Habisi mereka setidaknya untuk dua ribu prajurit lagi! Aku akan memimpin kalian dari depan, kalian cukup ikuti aku dari belakang! Jangan menyerah, kemakmuran Erosphire saat ini bergantung pada kita!" teriaknya lantang dan tegas sehingga prajurit yang mendengarnya pun langsung mematuhi perintahnya.


"BAIK!" balas prajurit-prajurit yang menjadi bawahan pria yang berjulukan sebagai pemimpin pasukan itu.


Ting! Klang!


Suara pedang yang saling beradu, suara pedang yang mengenai sebuah perisai, serta mata pedang yang menembus dan menusuk bagian tubuh manusia yang ada di medan perang itu, seakan memekakkan telinga siapa saja yang mendengarnya.


Percikan noda darah kembali menghiasi putihnya es salju yang semakin lama semakin lebat turunnya.


Pria bersurai pirang dengan kata biru langitnya yang menyala tajam itu tak henti-hentinya menebas sosok yang menghalangi dan berniat melukainya.


Bahkan armor yang awalnya bersih dan mengkilap pun kini telah dipenuhi dengan banyaknya noda merah  dikarenakan bagian kulit yang terbuka sehingga cairan merah yang berada dibaliknya terlayang.


Di antara banyaknya prajurit daging yang teronggok tak bernyawa, di antara banyaknya pedang yang telah terjatuh, pria itu masih setia mengoyakkan kulit musuh dengan sebilah pedang di tangan kanannya.


Walaupun dia sangat kuat, namun tidak semua prajuritnya memiliki hak yang sama dengannya.


Semakin lama, semakin banyak prajuritnya yang gugur. Semakin banyak nyawa yang terlayang, semakin banyak perjuangan yang harus berakhir, sehingga prajurit yang awalnya berjumlah empat ribu, kini tak lebih dari angka seribu.


Sedangkan musuh seperti tidak ada habisnya.


"Aku percaya padamu, jadi percayalah padaku."


Kata-kata itu mulai terngiang di pikirannya, dan seakan bertugas untuk membuat semangatnya agar tidak pupus.


"Tunggulah aku, aku pasti akan datang. Di saat yang telah kita perkirakan telah datang, maka suruhlah prajuritmu berkumpul. Angkatlah perisai kalian, dan lindungilah diri kalian sendiri."


Ting! Srek!


Setelah beratus-ratus kali tebasan ia layangkan, kini waktu perkiraan telah datang.


Dengan cepat pria itu berteriak lantang. "Semua prajurit, berkumpul dan angkatlah perisai kalian untuk melindungi kita semua!"


Tanpa basa-basi, semua prajurit yang tersisa mengikuti apa yang diperintahkan kepada mereka.


Mereka semua mengangkat semua perisai mereka sehingga membentuk sebuah rumah salju bulat yang akan melindungi mereka.


Pria itu hanya bisa berharap, bahwa sosok itu akan menepati janjinya. Sosok itu akan datang menyelamatkannya.


Walaupun dirinya pun tak begitu yakin.


^^^I Become Wife of the Atrocious Duke^^^


^^^07 Desember 2020^^^