The Atrocious Duke'S Wife

The Atrocious Duke'S Wife
Chapter 17 : Segelas Wine



KARYA INI HANYA FIKSI. NAMA, TOKOH, PERISTIWA, TEMPAT, HANYALAH KHAYALAN SEMATA. HARAP PEMBACA BIJAK DALAM MENANGGAPI.


Seusai kejadian mencekam itu berakhir, para pelayan pun bergegas kembali untuk membuat kue yang baru.


Dan sekarang, waktu telah memasuki pesta tersebut.


Hari telah berganti menjadi malam. Sang matahari telah tenggelam dan sekarang tugasnya untuk menerangi bumi telah di gantikan oleh sang bulan.


Saat ini aku tengah berdiri di dekat meja panjang yang telah terpatri banyak kudapan di permukaan nya.


Dengan gaun berwarna coklat susu yang mengembang dan tebal, di lengkapi dengan sepatu ber hak tinggi berwarna senada, aku berdiri sendirian.


Elise bilang sepatu ini adalah hadiah pemberian dari Arlen beberapa tahun yang lalu, tapi Cassandra la Devoline jarang memakainya karena ukurannya kurang pas di kaki nya karena kebesaran.


Tapi aku tak peduli mau ini pemberian Arlen atau bukan, karena aku memakainya hanya karena sepatu ini bagus menurutku.


Tak jarang, aku secara diam-diam mengambil kudapan manis yang aku sukai lalu memasukkannya ke dalam mulutku.


Di sebelah kanan sana, terdapat Anastasia bersama dengan nona-nona bangsawan lainnya yang tengah bergosip.


Sambil mengayunkan kipas bermotif yang berada di genggaman mereka dengan pelan, mereka pun terkikik dan tak jarang mereka menutupi bibir mereka dengan kipas mereka.


Melihat mereka seperti itu membuatku teringat dengan aktris-aktris terkenal yang menganggap diri mereka sudah hebat sehingga tak perlu lagi latihan untuk syuting dulu.


Di saat aku sibuk latihan sembari menghafal dialog ku, mereka hanya sibuk bergosip satu sama lain.


Dan di saat aku mendapat pujian dari sutradara karena hasil kerja keras ku, mereka mulai iri dan dendam padaku.


Dengan teganya mereka menjebak ku sehingga aku hampir kehilangan kehormatan ku dengan orang asing yang tak aku kenal.


Bahkan aku masih ingat bagaimana silau nya cahaya flash kamera wartawan yang waktu itu memergoki ku, seolah-olah aku adalah pelaku, padahal aku adalah korban.


Hal miris itu lah yang membuatku kehilangan pekerjaan ku, dan yang aku dapatkan sejak itu hanyalah makian, hinaan, dan cibiran sehingga aku memutuskan untuk tidak keluar lagi dari rumahku.


Puk!


Lamunan ku terbuyar di kala aku merasakan tepukan pelan di bahu kanan ku.


Ku putarkan kepala ku untuk melihat siapa pelaku yang menepuk bahuku.


Senyum sumringah langsung terlukis di wajahku saat aku melihat gadis bersurai hitam legam yang status nya adalah sahabatku.


"Veronica!" pekik ku.


"Cassandra!"


"Ternyata kau datang!"


"Tentu saja, kalau tidak siapa yang akan menemanimu di sini," ucap Veronica sambil melipat kedua tangannya.


"Aku bisa saja mencari teman lain untuk di ajak bicara," canda ku.


"Hei! Tidak boleh! Pokoknya sahabatmu hanyalah aku! Titik!" rajuk nya membuatku terkekeh.


Tak lama dari itu, Veronica tiba-tiba memanggil seseorang sambil melambai-lambai tangannya ke arah belakangku.


"Kakak!"


Karena penasaran, aku pun membalikkan badanku dan sosok tinggi menjulang dengan surai hitam nya membuatku sedikit terpelongo.


Aura pangeran nya menyilaukan sekali!


Sosok itu pun melangkah ke arah kami saat Veronica memanggilnya.


"Kakak, kenalkan, ini Duchess Cassandra de Floniouse! Cassandra, kenalkan kakak pertamaku, Pangeran Yari Erosphire," ujar Veronica memperkenalkan sosok itu padaku.


"Salam, Yang Mulia," sapa ku hormat sambil membungkukkan badanku.


"Senang bertemu denganmu, Duchess," balasnya datar.


Sepertinya Pangeran ini agak sedikit dingin, berbeda dengan Pangeran yang kutemui kemarin saat Veronica mengajakku minum teh di istana.


"Kak Yari, dimana kak Darren? Bukankah dia juga datang kemari?" tanya Veronica pada pangeran Yari.


Darren? Apa itu pangeran yang aku temui kemarin?


"Kalau begitu, kalian berdua bersenang-senang lah. Aku akan mencari Duke Floniouse," sambungnya lalu pria itu pun pergi.


Tak lama dari itu, kini Anastasia bersama teman-teman se geng nya pun menghampiri ku dan Veronica yang tengah sibuk berbincang-bincang.


"Halo, Cassandra! Dan salam, Yang Mulia," sapa Anastasia yang membuatku malas.


Baru saja aku ingin membuka mulut untuk membalas sapaan nya, tapi Veronica langsung memotong perkataan ku.


"Salam, Duchess Floniouse. Senang bertemu denganmu, dan selamat ulang tahun kepada mu," balas Veronica dengan raut datar.


Apa dia benar-benar membenci Anastasia?


"Salam juga untukmu, Duchess Floniouse," sapa nona bangsawan bersurai coklat kemerahan yang berada di samping Anastasia.


Aku menampilkan senyum manisku. "Cukup panggil saya Cassandra, karena yang mempunyai panggilan Duchess Floniouse tidak hanya satu di sini," sindir ku.


Anastasia, wanita ular itu tetap menampilkan senyum manisnya.


"Baiklah, Cassandra. Saya dengar anda baru saja mengalami cidera parah karena terjatuh ke jurang. Apa anda baik-baik saja? Anda tidak melompat ke jurang karena merasa tidak di cintai oleh Duke Floniouse, kan? Hohoho~"


Apa dia barusan menyindirku? Kalau begitu, aku tidak akan diam saja.


"Entahlah, karena saya telah kehilangan ingatan, saya tidak ingat. Tapi saya rasa hal itu tidak benar, terbukti dari suami saya, Duke Floniouse sangat khawatir terhadap saya saat saya waktu itu mengalami cedera punggung yang lumayan parah," balas ku.


"Di saat kaki saya terkilir, Duke Floniouse rela berlutut di hadapan saya. Bahkan saat ada seorang wanita yang membentak saya, Duke Floniouse langsung memarahinya," lanjutku.


Dapat aku lihat nona bangsawan itu berdecih balik kipas bermotif yang ia gunakan untuk menutup setengah wajahnya.


"Sudahlah, bagaimana kalau kita bersulang? Untuk merayakan hari ulang tahun ku," ujar Anastasia sambil menyodorkan segelas Wine.


Entah kenapa aku menjadi curiga, pasti ada sesuatu di dalamnya.


Dengan ragu aku pun menerima sodorkan itu, dan kami pun bersulang.


Tapi sebelum aku menegak minuman itu,  aku dengan sengaja menjatuhkannya sehingga kepingan kaca itu berserakan di mana-mana di sertai dengan Wine yang berceceran.


"Astaga, maafkan saya, saya sangat ceroboh!" bohong ku sambil berpura-pura membersihkan pecahan kaca itu.


"Kau tidak perlu melakukan itu, Cassandra. Biarkan para pelayan yang membersihkan nya. Lagipula, aku masih mempunyai satu gelas lagi," ujar Anastasia sambil mengambil segelas Wine lagi di meja yang berada di dekatnya.


Sudah kuduga, pasti ada sesuatu di dalamnya! Tapi, kalau begini aku tidak bisa menolak!


Karena jika aku menolak, maka akan sangat jelas bahwa aku tidak ingin menerima Wine itu darinya.


"Baiklah," pasrah ku kemudian mengambil Wine itu lalu menegak nya.


Semoga aku baik-baik saja.


...🥀...


Argh sialan! Ada sesuatu yang aneh di Wine itu!


Kepalaku terasa berputar, dapat kulihat wajahku memerah di cermin wastafel.


Jika tangan kanan ku tidak menahan di wastafel, mungkin aku sudah kehilangan keseimbangan ku untuk berdiri.


Saat ini aku tengah sendirian di sebuah kamar mandi, karena aku berkata pada Veronica bahwa aku perlu menggunakan kamar mandi.


Dapat kurasakan sebagian dari tubuhku mulai mati rasa, sebenarnya apa yang wanita ular itu masuk kan di Wine itu?!


Seluruh pandangan ku pun mulai terasa kabur, dan tak lama dari itu, aku rasakan ada sebuah tangan yang membekap mulutku lalu menarik paksa diriku untuk mengikutinya.


Aku tak bisa melawan karena mati rasa ini telah menjalar ke seluruh tubuhku.


Aku mencoba berteriak, suaraku tertahan oleh telapak tangan yang tengah membekap mulutku.


Kumohon siapa saja, tolong aku!


^^^I Become Wife of the Atrocious Duke^^^


^^^12 November 2020^^^