
Previously...
Tak lama dari itu, tiba-tiba saja, ada seseorang yang melempar dirinya terhadapku kemudian seseuatu yang melesat laju menembus kulit hingga daging punggungnya.
Mataku terbelalak besar, dengan tubuhku yang terpaku seperti patung. Hal yang bisa kurasakan adalah berat tubuhnya yang menimpaku, dan suara melengking menusuk ke telingaku.
"Kakak!!"
"Arlen!!"
...~•The Atrocious Duke's Wife•~...
...Chapter ...
...(13) ...
Brukh!!
Tubuhku terjatuh ke tanah dengan sangat keras karena tidak cukup kuat untuk mengajar bobot badannya.
Punggung serasa ingin patah di kala ia berbenturan dengan kerasnya tanah di bawahku. Tapi aku tidak peduli akan hal itu, yang kupedulikan adalah sosok yang telah menyelamatkanku ini.
Sempat kulihat ada tiga anak panah melaju ke arahnya dan berhasil menusuk kulit dan tembus hingga dagingnya.
Bahkan mataku pun menangkap sesosok berjubah yang langsung kabur begitu lelaki di hadapanku ini terjatuh tepat di atasku.
Aku tak ingin langsung mengejarnya, karena aku tak bisa meninggalkan dan menelantarkan orang yang menyelamatkanku begitu saja.
"Panggil tabib!" teriakku sangat keras.
Banyak sudah bangsawan yang menatap kami dengan pandangan terkejut dan hanya bisa berbisik-bisik. Sungguh tak itu membuatku merasa muak!
Dapat kulihat Daisy dan Anastasia yang sangat shock dengan kelopak mata mereka yang terbuka lebar.
Bahkan Daisy sudah menurunkan airmatanya, sudah dipastikan perempuan itu sangat sedih atas kejadian ini.
"Tuan...!"
Seorang Ksatria langsung menghampiri kami dan mengangkat tubuh lelaki yang menimpaku ini dan mendudukkannya secara perlahan-lahan.
Anak panah yang tertancap sempurna di punggungnya membuatku meringis, dan jujur membuatku sangat takut.
Tapi aku harus menahannya untuk saat ini, aku harus tenang dan berusaha berpikir secara rasional.
Alisnya mengernyit dengan peluh yang membanjiri pelipisnya. Kelopak matanya tertutup beserta dengan bibirnya yang terlipat menahan sakit.
"Apa tidak ada tabib di sini?" tanyaku pada Ksatria yang tengah menahan tubuh Arlen agar tidak berbaring.
"Para tabib baru saja pulang tadi, Lady. Karena hari sudah mulai petang," terang Ksatria tersebut membuatku berdecak kesal.
"Bagaimana bisa mereka pergi?! Bagaimana jika ada orang yang membutuhkan mereka?! Bukankah tugas mereka adalah menyembuhkan orang yang tengah terluka?!" jeritku dan seketika aku baru sadar.
Semua orang tengah menatapku, kupejamkan mataku sejenak meredam emosi. Aku menarik nafas dalam kemudian menghembuskannya kembali.
"Maaf." Satu kata itu terlontar dari bibirku. Hingga tak lama dari itu, aku mendengar suara Anastasia.
"Maafkan saya jika menginterupsi, Tuan dan Nona. Tapi sepertinya saat ini salah satu dari teman kami sedikit terluka, dan kami memerlukan sedikit ruang. Bisakah kalian berbaik hati membiarkan teman saya mengobati lukanya?" paparnya tertunduk dan membungkuk kepada semua bangsawan-bangsawan yang tengah berdiri diam dan tak berbuat apa-apa.
Bangsawan-bangsawan menyebalkan itu berbisik-bisik, namun tak lama dari itu mulai membubarkan kerumunannya.
Saat aku kembali melihat keadaan Arlen, jantungku hampir saja berhenti. Wajahnya berubah menjadi sangat pucat dengan nafasnya yang terburu-buru. Bahkan peluhnya pun sudah tak terkendali lagi.
Kita sudah tak bisa membuang-buang waktu lagi. Kita harus menolongnya secepat mungkin.
"Kita harus segera melepaskan panahnya terlebih dahulu, kemudian kita akan segera membawanya ke rumahnya dan memanggil tabib," usulku kemudian Ksatria itu mengangguk.
Kami pun bertukar posisi, aku menyandarkan kepala Arlen pada pundakku. Dan Ksatria itu menyentuh punggungnya dan mulai berusaha mencabut anak panah yang tertancap.
"Tahanlah," bisikku entah dia mendengarkan atau tidak. Tapi aku tetap ingin mengatakannya.
Saat Ksatria itu mulai menarik keluar secara cepat anak panah yang menyangkut, dapat kurasakan dia mencengkram lenganku kuat.
Lenganku sakit ketika dia melakukan itu, namun aku tak mempermasalahkan. Karena sakit yang aku rasakan tidak sebanding dengan yang ia alami.
Akhirnya anak panah itu tercabut juga, dan tetesan darah mulai mengalir secara mulus. Dapat kulihat raut wajah Ksatria itu sedikit kebingungan, sehingga aku tak bisa menahan untuk bertanya karena ingin tahu.
"Ada apa?"
"Itu... Lady. Coba anda lihat sendiri," katanya ragu sembari menyerahkan panah itu padaku.
Seketika aku langsung tertegun, selain darah segar bewarna merah yang menempel di ujung tajam panah itu, ada hal lain yang ternyata berbaur di antaranya.
Sesuatu berwarna hitam, dan aku tahu pasti itu. Karena aku pernah membacanya di sebuah buku yang terletak di rak buku kamarku.
Itu adalah racun yang dapat merusak seluruh organ dalam manusia. Racun itu akan menyebar seiring waktu dengan perlahan dan korban yang terkena racun itu akan merasa seperti terbakar di dalam diri mereka.
Racun yang menghancurkan tubuh manusia secara kejam dan perlahan-lahan.
Ya, racun yang sangat menyiksa.
...~•~...
Di sebuah kamar yang cukup luas dan hening, terdapat seorang lelaki tengah terbaring di atas permukaan dan ranjangnya yang luas dan sudah pasti empuk.
Seluruh tanaman herbal, terpatri di sekitar lelaki itu. Seluruh tubuhnya senantiasa berkeringat, dan kernyitan di dahinya tak menghilang sejenak pun sejak semalam.
Pintu terbuka, dan menghadirkan seorang gadis yang memiliki surai emas dan netra emerald. Dengan hati-hati, gadis itu berjalan perlahan-lahan mendekati lelaki yang ingin dijenguk nya.
Saat dia berpapasan dengan tabib tadi, ia tidak boleh terlalu berdekatan dengan lelaki itu, agar tidak terkena racun yang saat ini tengah bereaksi dan menyebar ke seluruh tubuh pria itu dan menggerogoti sekaligus membakar organ dalamnya.
Jadi ia hanya berdiri dalam diam dan jauh dari lelaki itu, sembari memasang raut menyakitkan di wajahnya.
Sebelum dia sampai ke sini, dia sempat mendengar keributan di keluarga Floniouse, dan dia akhirnya bisa menenangkan keadaan yang tengah kacau saat ini.
Flashback on
"Sebenarnya apa yang terjadi semalam sampai dia bisa terkena racun mematikan seperti itu?!" murka Duke Floniouse, pada seorang tabib yang menatapnya takut.
Tabib itu hanya diam, memilih untuk tidak menyahut agar nyawanya tidak terancam akibat kemarahan dari sang Duke yang terhormat.
"Sial! Anak itu benar-benar gegabah! Apa dia tidak tahu bahwa dia harus menjaga dirinya dan meneruskan tahtaku?!"
Seorang gadis tak sengaja hadir di ruang tamu yang penuh dengan hawa mencekam itu. Karena sudah terlanjur, dia pun hanya bisa menerima dan bertingkah sopan.
"S-saya sempat mendengar bahwa Lord Arlen terkena anak panah karena melindungi seorang Lady," sela kepala pelayan di kediaman mewah itu.
"Melindungi seorang Lady? Dia membahayakan hidupnya hanya demi seorang Lady? Sepenting dan setinggi apa status Lady itu sehingga nyawanya pantas menjadi taruhan?" sarkas Duke itu.
Suasana hening, namun tak lama dari itu suara feminim menjadi pendatang kebisingan.
"Maaf jika saya menyela, Tuan Duke. Tapi semua itu tidak benar," selanya dengan tegas.
Netranya sempat melirik tajam kepala pelayan tadi, sehingga membuat korban menunduk takut dan tersentak.
"Saya ada di lokasi kejadian. Dan tidak ada Lady yang dimaksud ataupun dilindungi. Arlen memang murni tertembak oleh sebuah anak panah yang melesat dengan sangat cepat," paparnya secara jelas.
"Andai saja... andai saja jika saya bisa menyelamatkan Arlen waktu itu. Saya benar-benar minta maaf... karena tidak bisa menyelamatkan Arlen. Saya sungguh menyesal...," lirihnya dengan wajah tertunduk.
Bahkan setitik air mata mulai mengguyur pipinya, hingga bisa membuat siapa saja merasa tidak enak dan merasa bersalah.
Sebuah tarikan nafas lelah terdengar dari sang Duke yang terhormat, dan tak lama dari itu dia pun berkata.
"Sudahlah. Kau tidak perlu merasa bersalah, lagipula memang anak itu yang tak bisa menjaga dirinya. Hapuslah air matamu," perintah Duke itu.
Gadis itu pun menghapus airmatanya, kemudian mengambil sapu tangan dari saku gaunnya dan menutup bibirnya dengan benda itu.
"Apa kau ingin menjenguk Arlen, Ana?" tanya sang Duke disusul dengan anggukan dari Anastasia.
"Baiklah, kalau begitu pergilah. Dia ada di kamarnya."
"Terimakasih banyak," ujar gadis itu kemudian berlalu. Saat dia tengah berjalan di lorong, dia kembali bertemu dengan tabib yang lain.
"Ya, itu benar," jawab sang gadis.
"Jika begitu, usahakan lah untuk tidak terlalu dekat dengan Lord Arlen, My Lady. Karena racun di tubuh Lord sangat berbahaya," peringat tabib tersebut.
Anastasia tersenyum simpul. "Baiklah, terimakasih. Semoga harimu menyenangkan."
"Anda juga, My Lady. Saya pamit undur diri."
Gadis itu kembali menarik nafas pelan, dan tak lama dia pun memasuki kamar yang menjadi tujuannya.
Flashback off
Memang awalnya dia ingin menjenguk, tapi sekarang dia tak tahu harus bagaimana.
Anastasia meletakkan sekeranjang buah-buahan di meja yang terletak sedikit jauh dari lelaki itu.
Dia ingin mendekati dan melihat secara seksama bagaimana keadaan lelaki itu, namun dia tak bisa dan tidak diperbolehkan.
Oleh karena itu, dia hanya bisa berdoa dan mengkhawatirkan dalam diam. Gadis itu pun melangkah keluar, melirik sejenak kembali ke dalam.
Hingga akhirnya suara pintu menjadi penutup.
...~•~...
Sial. Mau bagaimanapun juga aku harus mendapatkan penawar dari racun mematikan itu. Karena secara tidak langsung akulah penyebab dia menjadi seperti sekarang.
Aku sempat membaca kembali seluruh lembar demi lembar yang berisi tulisan informasi di atasnya.
Dan untung saja, ternyata racun mematikan itu ada penawarnya. Aku harus mendapatkannya secara cepat sebum semuanya terlambat.
Namun yang menjadi masalah adalah, aku tak tahu bagaimana aku bisa mendapat bahan-bahan dari penawar itu.
Aku juga harus menguak siapa pelaku yang telah melakukan ini. Yang pasti, pelaku itu membenciku dan mempunyai dendam terselubung terhadapku.
Tunggu, seseorang yang mempunyai dendam terhadapku?
Seketika aku langsung bergegas mengambil secarik kertas dan sebotol tinta serta pena bulu.
Dengan hati-hati aku menulis beberapa kata agar tulisanku bisa terbaca. Karena sangat susah menulis dengan pena ini.
Ketika selesai, aku pun memanggil Reina.
Dia telah sembuh sepenuhnya beberapa waktu lalu, dan hanya dia pelayan yang aku percayai.
"Reina!" panggilku sedikit keras. Sehingga beberapa saat menunggu, surat ketukan pun terdengar di pintuku.
Secara cepat aku membukanya dan langsung menyerahkan surat yang aku tulis barusan.
"Apa ini, Nona?" tanyanya bingung.
"Bisakah kau mengantar surat ini ke kediaman Count Emerald?"
"Untuk siapa, Nona?"
"Putrinya. Anastasia Emerald."
"Count Emerald? Tapi untuk apa--"
"Sudahlah kau antar saja. Sekarang. Dan jangan sampai ada seorang pun yang melihatnya," potongku tegas.
Dapat kulihat Reina sedikit terkejut, namun tak lama dari itu dia langsung membungkuk hormat.
"Baiklah, Nona. Saya akan segera melaksanakan perintah anda."
Setelah dia pergi, akupun segera memanggil pelayan lain untuk membantuku mengganti pakaianku.
Selepas cukup lama waktu berlalu, akhirnya aku pun telah siap. Karena ayah sudah tidak menghukumku lagi, aku bebas keluar ke mana saja. Ke mana pun yang aku mau.
Ayah juga sepertinya dalam suasana hati yang baik ketika menerima kemenangan dariku.
Terdapat kereta kuda terpatri di halaman rumahku. Dan saat aku ingin masuk, orang yang menjadi kusir itu membantuku naik ke kereta kuda yang cukup tinggi ini kemudian bertanya denganku.
"Anda ingin kemana, Nona?"
Kubenarkan sejenak posisi dudukku sejenak hingga akhirnya aku menjawab.
"Kediaman Count Emerald."
...~•~...
"Selamat siang, Ayah, Ibu," sapa sesosok gadis yang tengah berdiri di ambang pintu ruang makan.
"Selamat siang, Sayang. Ayo, kita makan bersama," ajak sang ibu.
Anastasia pun tersenyum dan mulai berjalan dan duduk di kursi yang telah disiapkan. Dengan sopan, dia pun mengambil sepasang alat makan kemudian memotong daging yang telah dimasak secara sempurna.
"Ana, kami dengar Arlen tertembak anak panah. Apa itu benar? Bagaimana keadaannya?" tanya ayah gadis itu membuka percakapan.
"Keadaannya cukup parah. Ada racun di ujung panahnya, dan racun itu kini mulai menyebar di tubuhnya, Ayah," jelas Anastasia.
"Astaga, kasihan sekali. Semoga Arlen baik-baik saja," ujar ibunya merasa iba.
Percakapan kembali berlangsung, Anastasia sibuk dengan makanannya. Hingga akhirnya seperti biasa, keluarga itu sangat harmonis.
Mereka terlihat sangat bahagia ketika senyum hadir di wajah mereka. Seolah-olah matahari ikut terhipnotis akan kehangatannya.
.
.
.
.
"Nona, apa anda ingin minum teh? Saya bisa membawakannya untuk anda," tawar seorang pelayan dengan gadis muda itu.
Sedari tadi gadis itu tampak tak bersemangat, wajahnya selalu tertekuk. Walaupun kadang senyum simpulnya bisa menyembunyikan itu semua.
Yang dia lakukan hanyalah merenung, tak tahu masalah apa yang tengah dipikirkan.
"Tidak perlu. Aku ingin sendiri," titahnya membuat pelayan itu patuh.
"Baiklah, Nona."
Suara pintu yang tertutup, mengundang helaan nafas dari gadis itu. Langit siang begitu cerah dan biru, menerangi dunia dengan keindahannya. Cahaya matahari menembus kaca jendela rumahnya, membuatnya kembali merenung.
Dia kembali teringat dengan sosok berjubah yang mengunjunginya beberapa waktu lalu.
Ia selalu penasaran, sebenarnya siapa sosok itu dan apa maunya. Dan ia juga penasaran akan perkataan sosok itu beberapa waktu silam.
Hingga tak sadar bahwa sedari tadi ada ketukan yang menghampiri pintunya.
"Nona, ada surat untuk anda."
Gadis itu mengernyit bingung, siapa yang mengirim surat? Tidak biasanya. Tapi dia tak peduli, gadis itu membuka pintu dan mengambil surat yang tertuju padanya itu.
Tulisannya terlihat rapi, dan asing di matanya. Sehingga dia membuka bungkus surat itu dan melihat isinya.
Gadis itu sontak terkejut, tentu dia tahu siapa itu. Yang membuat heran adalah, kenapa secara tiba-tiba?
Apa ada sesuatu yang mendesak?
Tak ingin berlama-lama, gadis itu sedikit merapikan penampilannya dan bercermin sejenak.
Ketika telah selesai, dia pun melangkahkan kakinya menuruni tangga kemudian menuju ke tempat tujuan yang berada di dalam surat itu.
Sebenarnya gadis itu tak tahu apa tujuan penulis surat tersebut, namun setidaknya dia harus menurutinya dulu barulah dia akan mengetahui segalanya.
...25.01.2021...