
KARYA INI HANYA FIKSI. NAMA, TOKOH, PERISTIWA, TEMPAT, HANYALAH KHAYALAN SEMATA. HARAP PEMBACA BIJAK DALAM MENANGGAPI.
Author Pov
Tampak pria bersurai pirang ini tengah berbincang-bincang dengan seorang pangeran membahas tentang politik, rakyat, dan semacamnya.
Namun, ada perasaan sedikit gelisah yang datang dan mengendap di dalam dirinya, dia bahkan tak tahu apa penyebab dari rasa gelisah tersebut.
Memang dia tengah berbincang tentang politik dan semacamnya, tapi yang ada di pikirannya hanyalah seorang wanita bersurai coklat.
Segelas Wine yang ada di genggaman nya ia telan dalam sekali tenggak hingga habis tak tersisa.
Karena bayang-bayang wanita itu terus menghantui pikirannya, ia pun berniat mencari keberadaannya.
Ia berpamitan pada pangeran itu kemudian melesat pergi untuk mengelilingi pesta ini untuk mencari wanita bersurai coklat itu.
Hampir seluruh penjuru sudut ruangan ia telusuri tapi netra biru langitnya tak kunjung menangkap sosok yang ia cari.
Pria itu menjambak rambut pirang nya frustasi, entah kenapa rasa gelisah dan resah ini semakin menjadi-jadi dan semakin tak karuan.
Tak lama dari itu, ia melihat ada sosok wanita bersurai hitam panjang.
"Bukankah itu Putri Veronica?" batinnya.
"Salam, Yang Mulia Putri. Maaf jika saya menganggu waktu anda. Tapi apakah anda tahu di mana keberadaan Cassandra?" sapa nya formal sekaligus bertanya pada Veronica.
"Salam, Duke Floniouse. Justru sejak sedari tadi aku mencari keberadaannya, tapi sampai sekarang Cassandra belum menunjukkan bartang hidungnya. Aku jadi khawatir...." ungkap Veronica risau.
"Apa anda tahu kemana terakhir kali dia pergi?" tanya Arlen tenang.
Tapi percayalah, hati pria itu tidak setenang dengan nada bicaranya.
"Dia izin padaku, katanya dia perlu ke kamar mandi. Tapi ini sudah lebih dari setengah jam, sebenarnya kemana dia?"
Ada yang aneh di sini, apa wanita itu tiba-tiba pingsan di kamar mandi? Atau ada sesuatu yang membuatnya tiba-tiba menghilang?
"Baiklah, kalau begitu terimakasih atas informasi anda, Yang Mulia. Saya pamit undur diri," pamit nya kemudian pergi untuk mengecek satu persatu kamar mandi yang ada di kediamannya untuk mencari keberadaan wanita itu.
Namun, seusai dia mengecek satu persatu kamar mandi yang ada di kediamannya, dia sama sekali tidak menemukan wanita itu.
Entah kenapa ia mendapat firasat buruk.
Hanya tersisa satu kamar mandi yang belum dia periksa, yaitu kamar mandi yang biasanya di gunakan para tamu.
Tetap wanita itu tidak bisa ia temukan. "Sebenarnya dimana kau?!" batinnya frustasi.
Di saat ia menatap ke bawah, netranya menangkap sebuah benda yang biasanya di pakai oleh para wanita.
Sepatu.
Sebuah sepatu ber hak berwarna coklat susu tergeletak di lantai kamar mandi.
Tentu ia tahu siapa pemilik sepatu itu karena dia sendiri lah yang memberikan sepatu itu sebagai hadiah untuk pemiliknya.
Sudah pasti ada yang tidak beres di sini, dirinya sangat yakin hal itu.
Jika tidak kenapa wanita meninggalkan sebelah sepatunya di kamar mandi seperti ini?
Ia harus mencari wanita itu sebelum sesuatu yang tidak menyenangkan terjadi.
...🥀...
"Kau sudah menyuruh anak buahmu untuk menculik wanita itu, bukan?" tanya wanita dengan surai pirang nya yang lurus.
"Tentu saja, Sayang. Hal-hal seperti ini sangat mudah untuk ku," jawab pria yang menjadi lawan bicara nya tersebut dengan santai.
"Bagus. Sekarang kita hanya perlu menunggu anak buahmu itu menyelesaikan tugasnya, setelah itu aku akan memfitnah nya agar Arlen kembali membencinya," ucap wanita itu dengan seringaian licik di wajahnya yang imut bak boneka.
Sayangnya, rupa imut nya itu tidak selaras dengan rupa hati nya.
Rencana yang telah ia susun matang-matang, demi kebencian yang mendalam di hati nya.
Dendam itu bukanlah dendam tanpa alasan, namun ada sesuatu yang memicu dendam itu semakin bertumbuh besar di hati kecilnya, yang wanita itu kubur dalam-dalam di lubuk hatinya.
Pria bersurai hitam itu langsung memeluk wanita itu dari belakang, mendekap tubuh mungil wanita itu.
"Bagaimana, apa kau senang?" tanya pria itu.
"Ya, aku sangat senang! Dengan begini aku merasa puas setelah dia membuat Arlen membentak ku petang tadi," jawab wanita itu.
Pandangan wanita itu langsung menggelap, raut kebencian terpancar jelas dari netra hijau nya yang menyalang.
"Aku tak ingin membicarakannya," cetusnya. Wanita itu benar-benar muak mengingat hal yang memicu dendam nya.
Sang pria menyadari perasaan sang wanita, sehingga dia memilih diam daripada membuat suasana hati wanita nya kembali memburuk.
...🥀...
Cassandra Pov
Apa yang terjadi padaku?
Aku mencoba membuka kedua mata ku, kegelapan menyambutmu, tapi pandangan ku sangat kabur.
Dan kenapa aku tidak bisa merasakan dan menggerakan seluruh bagian tubuhku?
Samar-samar, dapat ku dengar ada suara seseorang, tapi aku tak bisa melihat siapa itu.
Tenaga ku menghilang seutuhnya, dan kenapa tiba-tiba seluruh ruangan ini berubah secara perlahan-lahan?
Tak lama dari itu, kini ada seseorang yang melangkahkan kakinya untuk mendekat padaku.
Bola mataku membelalak sembari dengan mulutku yang ternganga tak percaya.
Tenggorokan ku tercekat seperti ada sesuatu yang mencekiknya.
Kenapa?! Kenapa dia yang ada di hadapan ku?!
Apa aku berhalusinasi?! Sebenarnya apa yang terjadi padaku?!
Kenapa, pria yang hampir merebut kehormatan ku ada di atasku?!
Apa aku bermimpi?!
Walaupun aku tak bisa merasakan rangsangan atau sakit pada tubuhku, tapi aku dapat melihat dengan pandangan ku yang kabur bahwa dia mulai mengulurkan tangan nista nya untuk mengambil beberapa helai rambutku.
"Rambutmu sangat wangi..." bisik nya sambil mengendus beberapa helai rambutku.
"Sangat menyenangkan melakukan pekerjaan seperti ini, dapat wanita yang cantik, bahkan uang pun dapat hahaha!" gelaknya, kemudian telapak tangannya mulai mengelus wajahku.
Tidak...! Tidak...! Jangan mendekat...!
Aku ingin berteriak, aku ingin berteriak! Tapi suaraku tak kunjung keluar, kumohon jika ini hanyalah mimpi, siapa saja tolong bangunkan aku...!
Kumohon jangan mendekat....
Cukup, aku tak ingin merasakan ketakutan itu lagi... sudah cukup...!
Kenapa kalian selalu menyiksa ku? Kenapa kalian selalu iri terhadap ku?
Sebenarnya apa salah ku hingga aku menerima semua ini?
Telapak tangannya kini turun ke leherku lalu tanpa henti-henti nya menelusuri kulitku.
Kumohon hentikan...!Â
Jika kalian ingin menyiksa ku, Kumohon jangan dengan cara seperti ini, kumohon!
Siapa saja... ku mohon keluarkan aku dari kubangan siksaan ini...!
Airmata ku mengalir begitu saja, dan pria itu kembali tersenyum miring.
"Hm... kau sangat manis... aku jadi tidak sabar untuk segera mencicipimu... " bisiknya sambil mengusap air mataku dengan jari menjijikan nya.
Tolong... aku benar-benar tidak tahan dengan semua ini. Malaikat kematian, kumohon cabutlah nyawa ku sekarang....!
Tangan nya kembali terulur, kali ini tangannya berusaha menggapai gumpalan dada ku yang masih terbungkus pakaian.
"Ja...ngan...!" lirih ku saat suara ku kembali.
Dan saat itu juga, aku mendengar sesuatu seperti daging yang terpotong dan jeritan kesakitan yang menusuk pendengaran ku.
"ARGHHH!!!"
^^^I Become Wife of the Atrocious Duke^^^
^^^12 November 2020^^^