
KARYA INI HANYA FIKSI. NAMA, TOKOH, PERISTIWA, TEMPAT, HANYALAH KHAYALAN SEMATA. HARAP PEMBACA BIJAK DALAM MENANGGAPI.
"Bagaimana perasaanmu setelah melewati perang yang panjang ini?" tanyaku seraya mengusap lembut rambut pirangnya.
Aku tengah duduk pinggiran kolam dengan dia di depanku yang tengah dalam posisi berlutut.
Kepalanya ia jatuhkan dan wajahnya ia benamkan di pahaku, sehingga aku dengan mudah dapat memainkan rambut pirangnya yang lembut dan berkilau.
"Lelah," jawabnya singkat dan pelan. Sepertinya dia memang kelelahan.
Ya bayangkan saja, setiap hari mengeluarkan tenaga untuk menebas dan menghindari serangan musuh.
Siapa yang tidak lelah melakukan itu tiap harinya dalam waktu setengah tahun?
Aku tersenyum dan kembali menyisipkan jari-jemariku di setiap helai rambutnya.
"Aku merindukanmu," ucapnya.
"Aku juga," balasku.
"Kenapa kau tidak pernah lagi mengirimi surat? Aku selalu menunggu suratmu setiap hari."
Aku terdiam. Kukira dia tidak membalas suratku karena suratku tak sampai padanya.
"Aku lupa. Lagipula kau juga tidak membalas suratku, jadi kukira kau tidak menerimanya."
"Jeruk busuk. Apa kau ingat?"
Sebuah kekehan terlayang dari bibirku. Tentu saja aku mengingat itu. Jeruk busuk adalah panggilanku untuknya karena kesal dia tidak kunjung membalas suratku waktu itu.
"Sekarang aku percaya bahwa kau menerimanya," kataku sembari tertawa ringan. "Jika kau menerimanya, lalu kenapa kau tak pernah membalasnya sekalipun?"
Dia mendongak menatapku intens. "Aku sangat ingin membalasnya, tapi selalu tak ada waktu."
"Kalau begitu, selamat atas kerja kerasmu. Kau sudah berusaha sebaik mungkin."
"Kau juga, selamat atas kerja kerasmu," ujarnya membuatku sedikit bingung.
"Apa maksudmu?"
"Sebenarnya aku sudah pulang dari kemarin. Dan aku mendengar dari Elise bahwa kau sudah banyak membantu para rakyat, dan kau juga menggantikan tugasku dengan tekun," paparnya membuatku sedikit tersanjung.
"Itu bukanlah apa-apa dibandingkan kau yang berjuang keras mempertaruhkan nyawa di luar sana."
"Meskipun begitu aku tetap ingin berterima kasih padamu. Karena telah membantuku selama ini, Cintaku."
Dia tersenyum membuat pipiku menghangat, dengan cepat aku memalingkan wajahku.
Bagaimana dia bisa setampan itu ketika tersenyum?
"Kenapa?"
"Eh-uhm... tidak apa-apa," kilahku. Karena sedikit canggung, aku pun mencoba mencari topik lain.
Namun sebelum tiba-tiba saja dia berdiri dan menarik tanganku hingga aku langsung berdiri karena tarikannya.
Mataku membelalak ketika dia merengkuh tubuhku untuk semakin dekat dengannya.
"A... pa...?" tanyaku pelan karena dia menatapku begitu dalam. Seakan tidak membiarkan irisku berpaling begitu saja.
Tangannya yang tadi menggengam pergelangan tanganku kini beralih ke rahang dan pipiku.
Wajahnya memiring kemudian netranya beralih menatap bibirku. Bibirnya mulai mendekatiku, sehingga aku secara tanpa sadar menutup mataku.
"Nyonya!"
Bugh!
Seketika aku mendorongnya untuk menjauh dariku, kemudian mengalihkan pandanganku ke sumber suara.
"M-maafkan saya, Tuan, Nyonya. Namun ada hal mendesak!" ucap Elise tak sabaran seraya menunduk. Terlihat peluh membanjiri dahinya.
"Ada apa?" tanyaku pada Elise. Namun pandangan mataku terarah ke pria di sampingku ini.
Raut dingin kembali terpasang di wajahnya.
"Nyonya Anastasia...!"
Mataku kembali terbelalak ketika mendengar kalimat selanjutnya yang terjatuh dari bibir Elise.
Bahkan Arlen pun membelalakkan matanya, namun tidak sebesar diriku.
Secara cepat, kami pun bergegas pergi ke tempat Anastasia berada.
...🥀...
Kami menunggu di luar ruangan, Anastasia tengah berada di dalam kamarnya bersama dengan orang-orang yang membantunya melakukan persalinan.
Aku merasa tak tenang, sedangkan Arlen tampak santai. Apa dia tidak merasa gugup atau cemas sama sekali?
Ini sungguh aneh, biasanya seorang pria pasti akan gugup ketika istrinya akan melahirkan.
Sebenarnya seberapa tebal topeng ketenangan yang ia pakai saat ini?
Tak lama dari itu, kini pintu kamar terbuka. Menampilkan seorang wanita yang sempat membantu Anastasia di dalam.
Dia mempersilakan kami berdua masuk, dengan segera kami masuk.
Aku sedikit heran dengan Anastasia. Raut wajah wanita itu terlihat... cemas?
Bahkan semua wanita yang berada di dalam ruangan ini juga tampak bingung dan gugup, sebenarnya apa yang terjadi?
Setelah aku melihat ada sesosok bayi mungil yang terbungkus kain di sebelah Anastasia, mataku membola besar.
Seperti yang aku perkirakan. Dan seperti yang aku harapkan.
Bayi tersebut tidak memiliki surai yang pirang seperti Anastasia maupun seperti Arlen. Bayi itu memiliki surai hitam yang pekat.
Aku mengarahkan pandanganku pada Arlen, dan benar saja. Terlihat matanya menyalang tajam dan rahangnya mengeras.
"Kalian semua, keluar."
Tiga kata itu mampu membuat seluruh ruangan mendingin sekaligus membuat bulu kuduk semua manusia di ruangan ini berdiri.
Para wanita tersebut keluar, begitupun aku yang melangkah secara perlahan-lahan.
"Tidak kau, Cassandra."
Sontak kaki ku berhenti melangkah, dan secara hati-hati aku kembali memutar badanku dan berdiri diam.
Tanpa mengeluarkan sepatah kata pun seperti manekin yang kaku.
Dengan raut wajah kaku, aku hanya menatap lurus ke depan. Berusaha untuk tidak bertindak aneh.
"Aku tak peduli siapa ayah dari anak itu. Tapi aku hanya akan mengatakan satu hal."
Pria itu terlihat sangat marah, namun dia masih berusaha menahannya. Aku tak tahu aku harus bagaimana jika aku berada di posisi Anastasia.
"Pergi dari rumahku."
Tampak Anastasia terpelotot dengan tangannya yang meremas kuat selimut yang menutupi kaki hingga pinggangnya.
Wanita itu melotot dengan matanya yang mulai berair. Aku hanya bisa menonton dan mengamati seluruh drama ini.
"Arlen--"
"Pergi," potong Arlen dengan cepat.
"Arlen, ini anakmu. Aku melahirkan anakmu, kau seharusnya bahagia," ujar Anastasia.
"Sekali lagi, pergi. Sebelum aku menyakitimu," peringat Arlen dengan penekanan.
Entah kenapa aku menjadi takut sekarang. Kenapa dia bisa sangat berbeda dari beberapa saat yang lalu ketika bersamaku?
"Tidak, aku tidak akan pergi! Aku tidak akan pergi sampai kapanpun! Kau dengar itu?! KARENA AKU ADALAH ISTRIMU!!"
PLAK!
Lagi-lagi, aku hanya bisa diam dengan beberapa ekspresi yang secara tidak sadar terbuat di wajahku.
Suara keras itu tercipta ketika telapak tangan Arlen dalam sekejap menampar Anastasia.
Anastasia tampak terdiam, tampak tak percaya bahwa Arlen akan melakukan hal tersebut padanya.
"Aku sudah muak denganmu. Saat kau memaksa ayahku untuk menyuruhku menikahimu, aku masih bisa menerimamu. Karena aku masih menghargaimu sebagai sahabatku," papar Arlen namun Anastasia bergeming.
"Aku tahu, itu salahku karena tidak menyadari perasaanmu dan secara tiba-tiba membatalkan pertunangan kita. Tapi, apa kau tidak berpikir tentang kebahagiaanku?"
"Sudah berapa kali kubilang bahwa aku hanya menganggapmu sebagai adikku, dan aku hanya menyukai dia," tunjuknya padaku masih setia menatap Anastasia.
"Tidakkah kau pikir bahwa kau egois? Kau hanya memikirkan perasaanmu dan kau tidak memikirkan perasaan kami. Sekali saja, apa hal itu pernah terlintas di otakmu?"
"Dan sekarang, kau mengandung anak pria lain dan membohongiku. Apa kau pikir aku akan mencintaimu karena hal itu?"
Anastasia benar-benar tak bisa berkata apa-apa. Begitupun denganku, aku tak pernah melihatnya mencurahkan hatinya sepanjang itu.
"Kau beruntung karena aku hanya menamparmu. Dan apa kau tahu apa yang dialami olehnya?" tanya Arlen kembali menunjukku.
"Dia merasa sakit hati ketika aku menikahimu. Tapi, apa dia pernah berbuat jahat kepadamu? Apa dia pernah membalas semua perbuatanmu?"
"Dia terlahir dari keluarga yang sama sekali tidak memperdulikannya, sedangkan kau. Kau mempunyai keluarga yang sangat memperhatikanmu dan memperdulikanmu."
"Tapi, apa dia pernah mengeluh? Apa dia pernah melampiaskan rasa sakitnya padamu?"
"Dan perlu kau camkan, aku hanya akan mencintai dirinya sampai kapanpun. Jika kau menyakitinya, maka aku tak akan segan membalas perbuatanmu."
Anastasia mengalirkan airmata yang deras dengan matanya yang masih terpelotot.
Sedangkan aku hanya bisa diam menyaksikan semua. Menjadi pengamat.
"Angkatlah kaki dari rumahku secepatnya. Sebelum aku yang akan mengusirmu secara langsung," perintah Arlen lalu dia berjalan kearahku dan menarik tanganku keluar dari ruangan.
Seketika aku tertarik begitu saja mengikuti kemana dirinya pergi.
Sempat aku lihat Anastasia tertunduk dengan tangannya yang semkin erat mencengkram selimut yang ada di dekatnya.
Aku bingung ingin bicara atau tidak, karena aku takut hal itu akan mengganggunya.
Jadi aku hanya diam, mengikuti segala kehendaknya. Tak lama dari itu, dia tiba-tiba berhenti, dan berkata.
"Apa aku melakukan hal yang benar?" ucapnya parau seraya membelakangiku.
Dapat kurasakan dia meremat telapak tanganku yang berada di genggamannya, dan aku bingung untuk menjawab apa.
Semuanya sudah terselesaikan. Anastasia telah kalah. Dan hubungan kami semakin lama semakin dekat.
Lalu mulai sekarang apa yang harus kulakukan? Bukankah dengan begini tugasku telah selesai?
Bukankah dengan begini sudah tidak ada lagi tujuanku di dunia ini?
Dalam sekejap aku langsung tersadar dari lamunanku, ketika dia dengan erat mendekapku.
"Apa dengan begini semua sudah selesai? Apa kita bisa memulai hidup baru bersama?" lirihnya membuatku bungkam.
Aku tak bisa berkata-kata, sehingga aku hanya bisa membalas pelukannya dengan menaruh kedua tanganku di punggungnya yang lebar.
Kehangatan yang kembali menerpa, kenyaman yang kembali mengepung, rasa meluap-luap kembali muncul.
"Ya... jika kau berkinginan seperti itu. Aku siap mengabulkannya kapan saja."
...🥀...
Seperti yang pria itu katakan, Anastasia telah angkat kaki dari rumah ini. Dengan bayinya tentu saja.
Bisa dibilang aku lega karena akhirnya wanita itu pergi di rumah ini. Sehingga aku tak perlu cemas ketika dia ingin berbuat sesuatu padaku.
Namun tetap saja aku harus berhati-hati. Karena bisa saja ancaman sudah berada tak jauh dari hadapanku.
Dapat kudengar saat aku berjalan-jalan di rumah ini, para pelayan berbisik-bisik karena kepergian Anastasia.
Aku hanya menghiraukannya, karena jika Arlen terganggu, pasti pria itu akan langsung memecatnya.
Karena dia telah kembali, jadi aku tidak lagi menggantikan tugasnya. Saat ini, aku hanya berbaring dengan tenang mencerna semua kejadian yang telah terjadi.
Tapi tetap saja aku harus tetap memantau Duchy dan membantu rakyat yang kesusahan.
Rencanaku beberapa bulan lalu membuahkan hasil yang amat memuaskan.
Tak hanya jumlah rakyat yang mati kelaparan menurun, tapi hasil dari para wanita yang menjahit pakaian lalu dikirim ke wilayah tetangga menghasilkan banyak pendapatan.
Mau pria ataupun wanita, mempunyai pekerjaan masing-masing sehingga mereka tak perlu lagi memikirkan bagaimana ekonomi mereka.
Aku berbaring dan berguling ke kanan dan ke kiri menatap langit-langit kamarku.
Tak tahu harus berbuat apa. Pria itu saat ini tengah ada urusan di istana, jadi dia tidak sedang di rumah.
Saat aku ingin membuka pintu untuk turun ke bawah mengambil beberapa makanan, tiba-tiba saja kau menubruk sesuatu yang keras hingga aku hampir terhuyung.
Entah kenapa aku merasa hal ini pernah terjadi sebelumnya.
"Kau sudah pulang?" tanyaku ketika mendapati sosok yang sangat kukenali.
"Ya. Kau mau kemana?"
"Aku hanya ingin mengambil beberapa makanan dari dapur."
"Bagus. Kalau begitu ikutlah denganku," ajaknya.
"Kemana?"
"Kau ikut saja."
Aku sedikit penasaran, namun aku tetap mengangguk. Karena kebetulan aku juga sedang bosan.
.
.
.
.
"Sebuah danau?" tanyaku ketika kami telah sampai pada tempat tujuan.
"Ya."
Aku celingukan memandang sekitar. Ya tempatnya memang bagus. Banyak pohon yang daunnya berwarna coklat dan berguguran jatuh ke atas air danau.
Membuat tempat ini tampak menenangkan untuk dilihat.
"Duduklah di sini," titahnya seraya menepuk tanah di sebelahnya.
Aku mengangguk kemudian duduk di sebelahnya, kami sekarang tengah duduk berdampingan di pinggir danau.
"Anginnya sejuk sekali," ucapku memecah keheningan di antara kami.
"Ya," jawabnya singkat.
Kuputar kepalaku memandangnya, tampak wajahnya terlihat sangat damai dengan senyuman nyaris tak terlihat.
"Sebegitu senangnya kau berada di sini?" tanyaku.
"Ya. Aku harap waktu dapat beristirahat supaya kita bisa lebih lama di sini," balasnya.
Waktu, kah?
"Hei, boleh aku tanya sesuatu?"
"Silakan."
Kutarik nafasku pelan seraya menatap danau yang terbentang luas. "Bagaimana... jika sebenarnya diriku bukanlah diriku yang dulu?" tanyaku pelan.
"Apa maksudmu?"
"Maksudku... bagaimana jika aku bukanlah sosok yang kau kenal selama ini?" tanyaku hampir tenggelam.
Sekejap, tubuhku berputar menghadapnya karena dia menangkup kedua bahuku dan memutar tubuhku.
"Kau adalah kau. Kau adalah Cassandra, wanita yang kucintai. Dan jiwaku tetap akan menjadi milikmu sampai kapanpun," cecarnya menatapku dalam.
Senyum simpul terlukis di wajahku. Sudah kuduga dia pasti akan berkata seperti itu.
"Terima kasih, telah mencintaiku. Aku tak tahu bagaimana aku harus berterima kasih."
"Tak perlu. Karena kau juga telah membalas cintaku," balasnya.
"Lalu, apa yang akan kau lakukan jika aku tiba-tiba saja menghilang dari hidupmu?"
"Kenapa kau berkata seperti itu?"
Terdengar nada tak suka di kalimatnya yang ia layangkan.
"Aku hanya ingin bertanya dan ingin tahu saja," ucapku.
Dia tampak terdiam dan tampak tenggelam dalam pandangan yang ia kunci padaku.
"Maka aku akan mencarimu sampai aku bisa menemui lagi."
"Bahkan jika ke dunia lain sekalipun?"
"Ya, asalkan aku bisa kembali di sisimu."
Dia berkata seperti itu dengan wajah yang semakin dekat.
Netra biru langitnya yang meneduh menatapku dalam, seakan ingin mengobrak-abrik sesuatu yang tengah aku sembunyikan.
Matanya bahkan lebih indah dari permata yang paling indah yang pernah aku temui.
Bibirnya kini menyapu bibirku dengan telapak tangannya yang mulai menekan tengkuk ku.
Bahkan bibirnya lebih manis dari buah persik.
Dapat aku rasakan jari-jemari nya menyisip di helai rambutku.
Dengan seperti ini aku percaya bahwa janji yang ia ucapkan bukanlah bukan semata.
Karena terlihat dari dia yang menyalurkan perasannya padaku melewati tautan lembut ini.
Aku... akan selalu mengingat janjimu. Dan aku berharap... kau dapat menepatinya.
I Become Wife of the Atrocious Duke
29 Desember 2020