The Atrocious Duke'S Wife

The Atrocious Duke'S Wife
{Season 2} Pesta Pertunangan



Previously....


"Ya. Tidak ada maksud lain, dan tolong. Berhentilah menatapku dengan wajah menjengkelkanmu itu."


Dia kembali tergelak. Namun tak lama dari itu, tiba-riba saja terdengar suara yang memanggilku.


"Nona, anda diperintahkan Tuan Viscount untuk segera menemui beliau."


...~•The Atrocious Duke's Wife•~...


...Chapter ...


...(3) ...


"Apa anda telah selesai berlatih, Tuan?"


tanya seorang ksatria yang tengah mengasah pedangnya pada lelaki yang statusnya lebih tinggi darinya.


"Tidak, aku belum lelah," jawab lelaki yang menjadi lawan bicara ksatria tersebut.


"Begitukah? Tenyata anda orang yang sangat rajin," sanjung ksatria itu. Ia sibuk memandangi lelaki di sebelahnya yang tampak serius menghancurkan boneka kayu yang berada di depan mereka.


Saat ini mereka bedua tengah mengasah kemampuan berpedang mereka di taman belakang kediaman lelaki di samping ksatria tersebut.


Sudah hampir dua jam terlewatkan sejak mereka mengayunkan pedang mereka, namun tampaknya lelaki yang berstatus lebih tinggi dari ksatria itu tidak pernah lelah walaupun peluh telah membanjiri pelipisnya.


Lelaki yang akan menjabat menjadi seorang Duke, lelaki yang pendiam, sekaligus tak tertebak pikirannya.


Surai pirangnya yang lurus dan lengas karena dibasahi peluh, berkilau ketika sinar matahari mengelus setiap helainya.


Bolamatanya yang berwarna biru langitnya, bagaikan terjatuhi tetesan air dari langit, begitu jernih dan seakan menjadi bagian dari langit itu sendiri yang memukau.


Lelaki itu sempat memandangi langit yang terbentang luas entah apa yang ia sembunyikan melalui tatapan misterius yang selalu ia layangkan.


Seakan membuat orang yang melihatnya gatal untuk mencari tahu apa yang ia tutupi dari iris yang indah tersebut.


"Tuan... sebenarnya saya penasaran tentang hal ini sejak dulu, boleh saya bertanya?" Ksatria itu bertanya.


"Apa?"


"Apa anda... telah mempunyai kekasih?"


"Hah?" Lelaki bernetra biru itu sedikit tidak percaya. Barusan orang di sebelahnya ini bilang apa? Kekasih? Dia bahkan tidak pernah dekat dengan gadis manapun kecuali teman masa kecilnya.


"Habisnya, lihatlah diri anda. Anda kaya, anda tampan, bahkan anda pun mempunyai fisik yang sangat didambakan para kaum perempuan. Oleh karena itu saya penasaran, apakah lelaki tampan seperti anda telah mempunyai kekasih atau belum," cecar Ksatria itu panjang lebar membuat lawan bicaranya sedikit pusing mendengar celotehannya.


"Tidak. Aku tidak memiliki kekasih," jawab lelaki itu enteng.


"Be... benarkah? Satu pun tidak ada?"


"Yang namanya kekasih itu cuma satu, tidak lebih," selanya kembali menaikkan sebelah alisnya.


"Ter... ternyata anda adalah tipe lelaki yang setia!" seru Ksatria itu.


"Ha?"


"Habisnya, bukankah lelaki bangsawan itu selalu memiliki kekasih lebih dari satu? Tapi anda... anda bahkan berpikir bahwa kekasih itu hanya satu! Saya sangat salut kepada anda!"


Lelaki bersurai pirang itu menghela nafas pelan. "Terserah kau lah."


Ksatria itu hanya menyengir. "Oh iya, Tuan. Saya sempat mendengar, bahwa Earl Yersey akan mengadakan pesta pertunangan anaknya malam ini di kediamannya. Dan anda diundang ke sana, apa anda akan pergi?"


"Pesta pertunangan? Anak Earl yang gemar mengotori banyak gadis-gadis bangsawan itu?" Lelaki bernetra biru itu tergelak mengejek. "Wanita tidak beruntung mana yang akan menjadi istri lelaki sampah itu?"


Ksatria itu meringiskan senyuman. Walaupun lelaki yang menjadi lawan bicaranya ini lebih suka diam, namun lelaki itu juga tidak berpikir panjang terhadap perkataan pedas dan hinaan yang ia lontarkan.


"K-kalau tidak salah... yang akan menjadi tunangannya adalah seorang gadis dari keluarga Viscount."


"Viscount?" Lelaki bersurai pirang itu menaikkan sebelah alisnya seraya menaruh pedangnya dan melipat kedua tangannya.


"Ya, kalau tidak salah Viscount la Devoline. Nama gadis itu kalau tidak salah Cassa... Cassa...." Ksatria tersebut mencoba mengingat-ingat disertai dengan bolamatanya yang tergerak ke atas.


"Cassandra la Devoline?"


"Ya! Cassandra! Gadis itu yang akan menjadi tunangannya."


Terdapat gerak-gerik aneh di wajah tampan lelaki bersurai pirang itu, dia tampak tengah memikirkan sesuatu. Namun tak lama dari itu dia bersuara.


"Sepertinya, aku akan pergi ke sana malam ini."


...~•~...


"Nona, anda diperintahkan Tuan Viscount untuk segera menemui beliau."


Kebetulan sekali, aku juga ingin segera menemui ayah dan menolak seluruh pertunangan tidak diinginkan ini.


Tak peduli ayah akan mengamuk atau marah padaku, aku tetap akan menemuinya.


Karena aku benar-benar tak menginginkan pertunangan, aku hanya ingin hidup dalam ketenangan!


.


.


.


.


"Ada urusan apa sehingga memanggilku kembali ke sini, Ayah?" tanyaku membungkuk hormat.


Suasana mencekam di ruangan ini terasa mencekikku, sehingga membuatku tak ingin berlama-lama di dalamnya.


Aku mengingat hal ini. Di saat Ayah melemparkanku pada lelaki bangsawan yang brengsek, karena lelaki itu bisa bergonta-ganti pasangan yang akan menemaninya bergelut di atas ranjang.


Tentu saja, aku sangat membenci tipe lelaki seperti itu. Masih aku ingat, ketika ayah memukul kakiku hingga banyak memar yang tercipta.


Tapi aku tetap tak ingin memikirkan hal itu dulu, karena aku tidak ingin menjadi diriku yang dulu lagi.


Putri yang hanya bisa menerima seluruh keputusan tidak adil yang diberikan ayahnya dan bisa menangis dalam diam.


Dapat kulihat ayah tengah melipat kedua tangannya di belakang pinggang, sembari membelakangiku.


"Duduklah terlebih dahulu," titahnya menunjuk ke arah sofa yang terletak tak jauh dari meja kerjanya.


Karena tak bisa menolak, aku pun langsung duduk dengan sopan dan menunggu alasan apa yang membuatnya memanggilku kemari.


"Malam nanti kau berpakaianlah dengan rapi, kita akan pergi ke pesta pertunanganmu," ucap ayah langsung ke intinya membuatku langsung terkejut.


Pesta pertunangan? Malam ini?!


"Ayah jangan mengada-ada. Kenapa secara mendadak? Kenapa Ayah tidak memberitahuku terlebih dahulu?!" pacarku tak percaya.


Ini terlalu mendadak! Aku bahkan belum sepenuhnya sembuh dari lukaku!


"Kalau Ayah memberitahumu terlebih dahulu, sudah pasti kau akan menolak."


"Jika Ayah sudah tahu hal itu lalu kenapa Ayah masih nekat ingin menikahkanku? Apa Ayah tak pernah memikirkanku sekali saja?"


"Ayah tak ingin berdebat denganmu. Cukup turuti perintah Ayah. Lagipula, calon tunanganmu itu adalah anak dari Earl," sela Ayah secara cepat tanpa melihat ke arahku.


"Kehidupanmu sudah pasti terjamin karena harta mereka yang melimpah, dan kau juga akan mendapat status yang lebih tinggi, kau akan lebih dihormati. Apa yang salah dari itu?"


Aku menggigit bibir bawahku kuat, apa yang salah dari itu... katanya?


"Bagaimana jika aku tidak ingin menuruti perintah Ayah? Bagaimana jika aku tidak mau bertunangan dengannya?" tanyaku seraya tertunduk.


Bibir ini sudah tidak kuat untuk tidak bergetar disertai dengan emosi yang mulai memuncak.


"Maka jangan harap bisa menjadi bagian dari keluarga ini lagi. Karena Ayah tidak membutuhkan putri yang tidak menurut kepada Ayah. Ayah sudah lama menanggung malu karena ulahmu, Ayah tak akan memberikanmu keringanan lagi kali ini," jelas Ayah membuat tenagaku hilang begitu saja.


Sebegitu tidak berharganya kah aku di mata Ayah? Apa aku benar-benar tidak menyanyangiku sedikit saja?


Ayah... apa yang harus kulakukan agar kau bisa mengerti perasaanku sekali saja...? 


Apa yang harus kulakukan agar kau bisa tersenyum padaku? Apa yang harus kulakukan agar kau bisa menghargaiku sebagai putrimu sekali saja?


"Aku tidak akan menerima pertunangan ini, Ayah," tegasku.


Ayah kemudian berbalik menatapku tajam dengan tatapan dinginnya. Aku... akan berusaha untuk tidak lagi menunduk di kala dia menatapku dengan cara seperti itu.


Tingkat kayu berwarna coklat yang sering Ayah gunakan untuk menjaga penampilannya di tempat umum, kini terlayang dan menyebabkanku terhuyung di lantai.


Beberapa pukulan terhempas di kaki ku, sehingga membuatku mati-matian menahan isakan tangis karena rasa sakit.


Tak lama dari itu, Ayah menghentikan aksinya. Dia sedikit membungkuk untuk menatap tajam wajahku lalu berkata.


"Kuharap kau bisa mengerti, apa yang bisa Ayah lakukan selanjutnya jika kau tidak menuruti kehendak Ayah."


Suara langkah kaki yang kian menjauh kini tertangkap di pendengaranku, disusul suara pintu yang terbanting keras.


Semua niatku yang mengatakan bahwa aku akan berubah, aku akan menjadi kuat, seakan menamparku karena tak bisa menepatinya.


"Nona!"


Kusingkirkan airmata yang sempat mengalir, agar tak ada melihatnya. Kututupi kaki ku yang sempat memar agar tak ada yang menyadarinya.


"Nona...! Apa anda baik-baik saja?!"


Oh, ternyata itu Reina. Ya, dia memang pelayan yang perhatian sama seperti Elise.


Dia kemudian memapahku dan membantuku berdiri.


"Apa anda bisa berdiri, Nona?" tanyanya penuh kekhawatiran.


"Ya, aku baik-baik saja, Reina. Kau tak perlu sampai panik seperti itu," balasku seraya tersenyum.


Maaf, Reina. Aku memang sangat menghargai dirimu yang telah repot-repot mengkhawatirkanku.


Tapi, yang kuinginkan saat ini untuk mengkhawatirkanku bukanlah kau, melainkan Ayahku.


Yah... walaupun itu tidak mungkin terjadi sih, haha.


...~•~...


"Wah, anda sangat cantik, Nona!" puji Reina melihat hasil dandanannya pada diriku.


"Terimakasih, Reina. Sudah repot-repot membantuku."


"Ya ampun! Itu sudah tugas saya, Nona! Saya tidak kerepotan sama sekali. Justru saya senang mendandani gadis cantik seperti Nona," seru Reina kembali merapikan helai rambutku.


Tak lama dari itu, aku pun turun ke lantai bawah dan terdapat Ayah yang tengah menungguku dengan pakaian rapinya.


Karena tak ingin berlama-lama, kami pun pergi ke tempat tujuan kami. Lebih tepatnya pesta pertunanganku.


.


.


.


.


Sebuah sapaan sudah berulang-ulang kali aku dan ayah lontarkan pada setiap bangsawan yang berbeda.


Hinggga cukup lama, seorang Earl beserta putranya yang akan menjadi calon tunanganku muncul di hadapan kami.


Mau tak mau, kami harus memberikan mereka sapaan hormat.


"Salam, Tuan Earl. Senang bertemu dengan anda," sapaku sehormat mungkin. Diikuti dengan ayah.


"Ah, Lady Cassandra. Anda sangat cantik malam ini, Thomas pasti akan terpikat melalui kecantikan anda," puji Earl Yersey.


"Terimakasih, saya sangat tersanjung mendengar pujian itu dari anda." Aku membungkuk hormat.


"Oh iya, kalian para anak muda sepertinya perlu waktu untuk sendirian. Pergilah, nikmati pestanya," tawar Earl dan putra yang bernama Thomas itu mengulurkan tangannya padaku.


Dengan tidak senang hati aku menerima uluran tangannya. Karena walaupun tidak terlalu ingat secara sempurna apa yang akan dia katakan, namun aku bisa mengingat sedikit, karena waktu itu aku merasa sangat jengkel karena perkataannya.


.


.


.


.


"Anda sangat cantik seperti bulan malam ini, Lady," pujinya membuatku ingin memutar bolamataku malas.


Namun sayangnya, aku tak bisa melakukannya. "Terimakasih atas pujian anda, Tuan. Anda juga terlihat menakjubkan malam ini," balasku palsu sembari tersenyum.


"Ya, bahkan kau pun terlihat seksi. Lihatlah lekukan itu," gumamnya namun aku masih bisa mendengarnya.


Apa yang ada di pikirannya hanyalah hal semacam itu?!


"Maaf?" ujarku.


"Ah, bukan apa-apa. Hanya saja pakaian itu terlihat sangat cocok dengan anda," kilahnya.


Ya, dengan itu kau bisa memandangku seenaknya dengan tatapan mesummu itu? Menjijikan! Kenapa masih saja ada manusia sepertimu!


"Sepertinya anda sangat sering memuji saya, saya sedikit merasa kurang nyaman. Karena saya tidak pernah dipandang dengan tatapan tidak sopan sebelumnya" sindirku secara halus.


"Tatapan tidak sopan? Apa maksudmu, Lady?"


Dia tersinggung. Itu berarti perkataanku benar. "Saya tidak bermaksud apa-apa. Maaf jika saya telah berbicara tanpa berpikir terlebih dahulu," lontarku secara tertunduk.


Saat aku mendongak, tiba-tiba saja dia telah berada tepat di hadapanku. Dan dia semakin mendekat sehingga aku mundur.


"Jika anda telah menyadarinya, itu berarti anda menginginkannya, bukan?"


HAH?! INI ORANG GILA YA?!


"Apa yang anda maksud, lebih tepatnya?"  ucapku berusaha untuk tidak menendang barang pribadinya.


"Tak usah sok lugu, Lady. Saya tahu anda mengerti maksud saya."


Lelaki brengsek ini semakin mendekat dan mulai mencekal tanganku, membuatku semakin waspada.


Yang kuingat di adegan ini, Frost akan datang dan menyelamatkanku. Tapi, apa pasti Frost akan datang?


Bagaimana jika dia tidak datang? Aku bisa menamparnya dan menendang barang pribadinya. Tapi bagaimana pandangan orang terhadap aku dan ayah?


Karena gelar kami lebih rendah darinya, sudah pasti kami yang akan menerima hinaan dan ejekan.


"Menjauh dari saya, Tuan. Mohon jaga sikap anda," tegasku namun dia malah menyeringai.


Membuatku merinding akan betapa menjijikannya dia.


"Perempuan seperti anda, bersikap seperti tidak tahu di luar. Namun di dalamnya tahu mengenai segala hal kotor. Hah... anda semakin menarik, haruskah saya melucuti pakaian anda?"


Dia mulai mendekat dan menangkup pipiku dengan telapak tangannya yang berkeringat dan menjijikan.


Jika saja ini film, mungkin akan ada tanda darurat dan lampu merah di sekitarku.


Sudah cukup... aku sudah mati-matian menahan amarahku sejak terlempar di dunia.


Kesal karena mati hanya karena sebuah cincin, kesal karena mendapat tamparan, kesal karena mendapat pukulan di kaki ku yang sekarang masih terasa sakit, kesal karena harus menikahimu, dan kesal karena kau merendahkanku!


Dasar $#**&$#!!


"Sudah cukup...!"


Tep!


Hah? Apa yang baru saja terjadi?


Grep!


Aku sangat terkejut karena lelaki brengsek itu tersungkur ke lantai, dan tubuhku ditarik ke dalam sebuah kalungan tangan yang merangkul.


Apa Frost yang berada di belakangku? Jika begitu syukurlah, setidaknya hal ini sedikit melegakan bagiku.


Tapi, kenapa lelaki brengsek itu terlihat ketakutan seperti itu? Apa raut wajah Frost benar-benar se-menyeramkan itu?


Tunggu!


Kenapa, pelukan ini terasa sangat tidak asing? Mataku menghadap ke belakang?


Tidak! Frost tidak setinggi ini!! Lalu siapa yang ada di belakangku?!


Secara terbata-bata lelaki brengsek dan pengecut itu membelalakkan matanya dengan bibirnya yang bergetar hebat.


"Floniouse...?"


Kini giliran aku yang menyusul untuk membelalakkan mataku. Dia tadi bilang apa?


Aku tidak salah dengar bukan? Apa dia baru saja benar-benar mengatakan nama itu?


Floniouse...


Seketika aku kembali memutar kepalaku seraya mendongak. Sinar bulan yang menerangi helai rambutnya yang berkilau.


Mata biru langit yang tajam itu.. tidak salah lagi.


Itu adalah dia.


...08.01.2021...