The Atrocious Duke'S Wife

The Atrocious Duke'S Wife
Chapter 51: Sepucuk Surat



KARYA INI HANYA FIKSI. NAMA, TOKOH, PERISTIWA, TEMPAT, HANYALAH KHAYALAN SEMATA. HARAP PEMBACA BIJAK DALAM MENANGGAPI.


Terdapat banyak bangsawan dan rakyat-rakyat yang berkerumun hingga dapat membentuk suatu populasi.


Suasana yang awalnya lumayan ricuh, kini hening seketika di kala Baron George mengeluarkan suaranya untuk tetap tenang agar proses penobatan berjalan dengan lancar.


Di atas podium sana, tampaklah Raja Hamilton bersama kedua Pangeran. Yaitu Pangeran Yari dan Pangeran Darren.


Ada dua bangsawan lain juga yang menjadi pelengkap di antara mereka.


Suara bisik-bisik yang samar menusuk telinga secara halus, berbeda dengan sepasang suami-istri ini yang tampak diam dan serius.


"Salam pada Yang Mulia Raja Hamilton, semoga beliau selalu berada dalam perlindungan Dewi!" sapa Baron George.


Diikuti dengan sapaan menggelegar dan hormat dari seluruh manusia yang berada di tempat itu.


Raja Hamilton yang tadinya tengah duduk di kursi mewahnya, kini berdiri sehingga jubah mengembang yang dipakainya ikut bergerak.


Dengan suara lantang dan mata yang sibuk berkelana, dia pun berkata secara tegas.


"Aku, Raja Hamilton Erosphire, dengan ini menyatakan, bahwa yang akan menjadi penerusku dan mendapatkan tahtaku adalah...."


Semua orang tampak penasaran dan ingin tahu, nama siapa yang akan terjatuh dari bibir Raja.


Suasana hening, membiarkan dan mempersilakan Raja untuk berbicara.


"Pangeran pertama, Yari."


Tak lama dari itu kini terdengar ribuan suara yang bergabung dan terlontar secara bersamaan memuja-muja Raja baru yang telah terlahir dan tercipta.


Kini mahkota yang menjadi lambang khas seorang pemimpin kerajaan telah berpindah tempat.


Ada seorang wanita juga yang ternyata dipanggil ke atas podium, wanita itu kelak akan menjadi pendamping Raja yang baru.


Cassandra sedikit terkejut, sejauh yang dia lihat, Pangeran Yari tak pernah sekalipun dekat dengan seorang wanita.


Sehingga wanita bersurai coklat ini bertanya pada pria yang ada di sebelahnya.


"Setahuku Pangeran Yari tak pernah dekat dengan wanita manapun, apa kau mengetahui sesuatu?" tanyanya.


"Raja. Mulai sekarang dia adalah Raja, jangan sampai kau salah menyebut gelarnya," peringat Arlen.


Cassandra memutar bola mata malas. "Apa kau pernah melihat Raja dekat dengan seorang wanita?"


"Ketika seorang Pangeran akan menjadi Raja, sudah semestinya ada seorang Ratu yang harus mendampinginya. Raja adalah orang yang sangat kaku, sudah pasti ini hanyalah pernikahan politik."


Wanita bersurai coklat ini mengangguk-anggukan kepala mengerti.


Ternyata benar apa yang dikatakan oleh suaminya, bahwa Pangeran Yari lah yang akan menjadi Raja.


.


.


.


.


"Apa kau setuju bahwa Pangeran Yari lah yang menjadi Raja?"


"Daritadi kau terus menanyakan itu, sebenarnya ada apa denganmu?" Arlen merasa gemas karena Cassandra sedari tak henti-hentinya menanyakan tentang penobatan yang diadakan beberapa saat yang lalu.


Tampak wanita itu sedikit tertunduk. "T-tidak apa, hanya penasaran saja," jawabnya.


Arlen menghela nafas sejenak. "Ada apa denganmu? Kau selalu banyak melamun sejak tadi."


Wanita itu menggeleng. "Tidak apa-apa. Aku hanya sedikit mengantuk saja."


"Apa kau kepikiran tentang perang waktu itu? Tentang Raja Yari yang menjadi pengkhianat?" terka Arlen mendapat perhatian wanita itu.


Cassandra mendongak memandang pria yang tengah duduk di sampingnya ini. "Ya, aku terus kepikiran tentang hal itu. Aku hanya takut, aku gelisah, jika Pangeran Yari adalah orang yang memiliki tujuan yang buruk...."


"Tenanglah, kau punya diriku di sampingmu. Kau adalah orang yang paling beruntung di dunia," ucap Arlen terlihat berbangga diri.


Cassandra terkekeh kecil dibuatnya. "Ya, terimakasih telah membuatku menjadi orang yang paling beruntung di dunia."


"Tentu, Cintaku."


...🥀...


Beberapa hari kemudian....


Cassandra Pov


Ketika dia telah sibuk dengan pekerjaan hari-harinya, aku pun secara diam-diam pergi ke pasar sendirian.


Aku tak membawa Elise, karena aku sudah mengetahui jalan menuju pasar tersebut setelah Elise memaksaku untuk mengingatnya.


Setelah beberapa meter perjalanan yang aku tempuh, akhirnya kereta kuda yang aku naikki sampai.


Dengan segera aku turun, lalu celingukan mencari sosok yang memanggilku kemari.


Ya, kemarin malam sempat ada burung merpati yang terbang kekamarku dengan sebuah surat yang dibawanya.


Untung saja Arlen tidak ada, jika tidak bisa runyam ketika dia menerima surat itu.


Saat aku lihat siapa pengirimnya dan isi surat itu, ternyata dua mata-mataku lah yang mengiriminya untuk pergi ke pasar besok.


Katanya mereka ingin menemuiku karena ada hal yang penting.


Sekarang aku telah sampai, tapi di mana lebih tepatnya mereka?!


Saat aku ingin mencari mereka dengan mengelilingi pasar, tiba-tiba saja suara teriakan yang sangat tidak asing menghampiriku.


"BOS!!"


Kuputar badanku ke arah belakang, dan dua lekaki itu tengah menghampiriku dengan tergesa-gesa.


"Bos! Kamu punya berita yang sangat menggemparkan!!"


"Ya, itu benar! Anda pasti akan sangat terkejut mendengarnya!"


"Anda mungkin bisa saja pingsan--!"


"Sudahlah, tidak perlu berlebihan dan dramatis seperti itu. Katakan saja ada apa," potongku dan mereka mengangguk patuh.


"Anda ingin mendengar versi pendek atau panjang? Jika ingin lebih detail, maka saya sarankan mendengar versi pan--"


"Versi panjang. Cepat ceritakan," ucapku tak sabaran.


"Jadi begini, Bos...."


Flashback on


Dengan bersembunyi, sepasang kakak-beradik ini mengintip dari jendela dua manusia yang tengah membicarakan dan mendiskusikan sesuatu.


Mereka bergerak tanpa suara, agar tidak ketahuan oleh sang kedua empu yang tengah dalam percakapan tersebut.


"Kenapa kau tidak memberitahuku, Anastasia?" tanya pria bersurai hitam yang berada di ruangan itu tampak tengah menahan emosi.


Sang wanita yang mempunyai surai pirang lurus itu menaikkan alisnya sebelah. "Apa maksudmu? Kau tiba-tiba saja menyuruhku datang kemari dan menanyakan pertanyaan ambigu," sela wanita itu.


Pangeran Darren tampak mengepalkan kedua telapak tangannya dengan garis-garis urat yang mulai tercetak di lehernya.


"Kenapa kau tidak memberitahuku bahwa kau tengah hamil?!" teriak sang pria tak dapat lagi menahan emosinya.


"Hei, beraninya kau membentak wanita cantik sepertinya?!" protes Peter tak terima sambil berbisik agar suaranya tak terdengar.


"Hoi! Bukankah kau membenci wanita itu? Kenapa kau membelanya?" sahut Patrick.


"Ya aku memang membencinya, tapi aku tak suka jika pria membentak seorang wanita. Dia bukanlah pria sejati!"


Patrick menghela nafas jengah. "Terserahmulah."


Mereka kembali sibuk memperhatikan percakapan yang terus berlanjut.


"Itu bukan urusanmu. Mau aku hamil atau tidak, kau tidak ada hubungannya," jawab Anastasia.


"Tidak ada hubungan? Tentu saja ada, ketika kau tengah mengandung anakku!"


"Tidak, ini bukan anakmu! Ini adalah anak Arlen! Aku hamil tepat setelah aku melakukannya dengan Arlen malam itu!" sergah wanita itu.


"Apa kau mau kuberitahukan sebuah rahasia, Sayang?"


Anastasia mengernyitkan alis. "Rahasia apa maksudmu?"


"Malam itu, aku membohongimu. Kau tidak melakukan apa-apa dengan pria itu."


Anastasia membelalak kaget. Namun wanita itu tidak percaya dengan apa yang dikatakan sangat pria.


"Tidak mungkin! Aku melakukannya dengan Arlen! Aku bisa merasakannya! Kau pasti berbohong!" sergah Anastasia histeris.


"Aku tidak berbohong. Malam itu aku memberimu obat halusinasi, sehingga kau berpikir bahwa kau tengah melakukannya dengan Arlen. Namun sebenarnya, kau melakukannya denganku waktu itu. Duke Arlen hanya tertidur tenang di kamarnya," ungkap Pangeran Darren membuat Anastasia tak henti-hentinya terkejut.


"Tidak! Tidak mungkin! Aku terbangun dengan tubuh polos, dan Arlen berada di sampingku, paginya!"


"Itu semua aku yang melakukannya. Aku membawamu ke kamar Duke Floniouse dan membuka baju atasan pria itu. Agar kau percaya padaku," ujarnya.


Lalu kemudian dia kembali mengeluarkan senyum licik. "Kau benar-benar berpikir bahwa aku akan rela memberikan wanita yang aku cintai bermalam dengan pria lain, Sayang?"


"Jadi... obat apa yang kau berikan di gelas Arlen waktu itu?" tanya Anastasia lirih dengan wajah tertunduk.


"Itu hanyalah obat tidur, Sayang. Setelah kau memberikannya, apa kau tak ingat bahwa kau meminum wine pemberianku?"


Anastasia mendongak dan diam. Mendengar seluruh perkataan pria yang ada di depannya ini.


"Aku telah memberimu obat yang dapat membuatmu berhalusinasi. Sama seperti obat yang kuberikan padamu dan kau gunakan untuk menjebak Duchess waktu itu."


Bagaikan terkena tusukan pedang kenyataan, Anastasia tak dapat berbuat apa-apa.


Wanita itu terdiam mencerna seluruh penjelasan yang dikeluarkan oleh Pangeran Darren.


Dia tertunduk dalam diam menatap lantai yang dingin. Namun tak lama dari itu, terdengar gelak tawa yang menyeramkan.


"Ahahaha! Lalu, kau mau apa jika ini adalah anakmu? Kau ingin memberitahu semua orang? Tapi apa orang-orang akan percaya padamu?" ucapnya terdengar mengancam.


"Apa maksudmu? Apa kau ingin berpura-pura dan bersikap seolah-olah itu bukan anakku?"


"Selama aku tidak ketahuan, kenapa aku tidak mencoba saja?"


"Kau gila, Anastasia! Itu adalah anakku!"


"Bukan! Ini adalah anakku! Dan aku yang akan menjaganya dan memiliki hak atasnya!" sergah Anastasia. "Kau, sama sekali tidak berhak atasnya!"


"Kau pikir aku akan diam saja?"


"Jika kau mengucapkan sepatah kata pun tentang ini, maka aku akan membunuh diriku sendiri, beserta anak ini!" ancam wanita itu.


Pangeran Darren terdiam. Tak menyangka bahwa Anastasia akan berkata seperti itu.


"Bagaimana? Apa kau ingin anak ini mati, beserta ibunya?" tanya Anastasia dengan senyum licik.


Wajah cantiknya pun kini dihiasi dengan cekungan yang tercipta di kantung matanya. Senyum seringai yang mengerikan terpatri setia.


Pangeran Darren berdecak dengan kepalan tangan yang semakin menguat hingga kuku-kuku jarinya memutih.


"Kau sudah kelewatan, Anastasia."


Flashback off


Aku benar-benar terkejut ketika mendengar dua lelaki ini berbicara. Jadi benar ternyata dugaanku?


Anak yang dikandung Anastasia bukanlah anak Arlen? Dan ternyata mereka tidak melakukannya waktu itu.


Tanpa sadar, pipiku terasa basah. Dan mereka berdua langsung kalang kabut melihatku wajahku.


"Bos?! Kenapa anda menangis?! Apa Peter menyakiti hati anda?! Biar saya kasih pelajaran dia!" ujar Patrick.


Peter mengaduh kesakitan ketika Patrick memukul bahunya. "Hei, kenapa aku yang salah?! Aku tidak melakukan apa pun! Dasar kakak bodoh!"


"Hah?! Dasar adik kurang ajar!"


"Sudah, sudah," leraiku memisahkan mereka berdua. Secara cepat, aku pun menyapu bersih airmata yang mengalir di pipiku.


"Anda kenapa, Bos?"


"Aku tidak apa-apa, hanya saja mataku kelilipan," bohongku dan mereka berteriak histeris.


"Heh?! Kalau begitu biar saya tiup, Bos! Biar rasa pedihnya hilang!" tawar Patrick.


"Tidak! Tidak! Nafasmu bau, Bos nanti pasti akan langsung pingsan menciumnya. Oleh karena itu biar aku saja yang meniup mata Bos!"


"Sudahlah tidak perlu, lagipula mataku tidak terlalu sakit lagi," ujarku seraya terkekeh.


"Patrick, Peter. Kalian telah melakukan pekerjaan dengan baik. Terimakasih, aku sangat senang," imbuhku.


Entah kenapa kebahagiaan langsung menyerang dan menguasai, bahkan senyum lebar tak dapat lagi kutahan.


Dengan sisa-sia airmata yang membasuh bulu mataku dan bertengger, gigiku pun terlihat karena senyum bahagia yang aku lukis.


Mereka tampak terpelongo melihatku, sehingga membuatku sedikit bingung.


"Ada apa?" tanyaku.


"Bos...," kata mereka bersamaan sambil menggantung perkataannya.


"Anda sangat cantik ketika tersenyum seperti tadi. Persis, seperti Dewi," ucap Peter.


"Bidadari," sela Patrick dengan cepat sehingga mereka kembali berdebat.


Hal itu membuatku tertawa, suasana hatiku sangat baik-baik sekali. Entah kenapa, segala hal kecil bisa membuatku tertawa lepas.


"Bos, bolehkah saya menjadi suami kedua anda?" tanya Peter dengan nada polosnya sehingga aku langsung menoyornya.


Mereka berdua tergelak, sehingga aku pun ikut-ikutan.


Tawa lepas lalu menyertai kami hingga beberapa menit ke depan.


...🥀...


Anak yang dikandung Anastasia adalah andak Pangeran Darren. Apa aku harus memberitahu Arlen tentang hal ini?


Tapi apa dia akan percaya padaku? Hal itu selalu menggangguku sejak tadi. Namun jika aku tidak memberitahunya lalu tiba-tiba saja anak yang dikandung Anastasia mengikuti gen ibunya, bagaimana caranya aku akan membongkar hal ini?


Semua orang pasti akan percaya bahwa itu adalah anak Arlen.


Jika begitu, lebih baik aku memberitahu Arlen saja. Lagipula, dia juga bilang bahwa dia mempercayaiku bukan?


Lalu apa yang kutakutkan?


Pikiranku terus bergelut hingga tak sadar bahwa kereta yang membawaku pulang telah sampai.


Aku pun turun dan berniat masuk, kuketuk terlebih dahulu pintu berwarna coklat tua yang berada di hadapanku, hingga akhirnya seorang pelayan membukakannya untukku.


"Ah, selamat datang, Nyonya. Apa anda butuh sesuatu?" tawarnya.


"Tidak perlu, aku hanya akan langsung naik ke kamarku," jawabku.


"Baiklah. Kalau begitu, saya pamit undur diri, Nyonya," pamit pelayan itu lalu pergi berlalu.


Karena tak ingin membuang waktu, aku pun naik ke atas menuju kamar kami. Saat aku masuk, ternyata dia tidak ada di dalam.


Apa dia ada di ruang kerjanya?


Ketika aku ingin pergi ke ruang kerjanya, netraku secara tak sengaja menangkap sepucuk surat yang tergeletak di atas permukaan kasur.


Di sebelahnya terdapat sebuah buah jeruk yang menghiasi, sehingga membuatku bingung dan penasaran.


Kubuka surat itu dan melihat isi yang ada di dalamnya.


...Karena sangat mendesak, aku tak bisa lagi menunggumu pulang....


...Aku ditugaskan untuk mengikuti perang oleh Raja, sekarang juga. Sementara aku tidak ada, jagalah dirimu, jaga kesehatan, dan jangan lupa untuk merindukanku....


...Aku tidak tahu kapan aku bisa pulang, tapi aku pasti akan kembali padamu secepat yang aku bisa....


...Tenang saja, kau tak perlu mengkhawatirkan diriku. Aku akan baik-baik saja....


...Buah jeruk yang ada di sebelah surat ini, kau makanlah. Agar setiap kali kau memakan jeruk, kau akan selalu mengingatku....


...Aku mencintaimu....


...Sampai jumpa, Cintaku....


^^^I Become Wife of the Atrocious Duke^^^


^^^27 Desember 2020^^^