
Previously....
Lelaki itu pun kembali membaringkan tubuhnya di atas ranjang dan menyandarkan punggungnya pada kepala dipan.
Ketika dirinya sibuk membaca surat itu, terlayanglah sebuah kekehan kecil yang langka dari bibir persiknya.
Bibirnya pun telah merekah oleh senyuman manis yang amat jarang ia tunjukkan.
Hanya karena sepotong surat itu, lelaki itu tampak seperti orang gila yang dilanda oleh rasa euphoria.
...~•The Atrocious Duke's Wife•~...
...Chapter...
...(28)...
Telah empat tahun sejak perang antara kerajaan Erosphire dan Uraby dimulai. Sampai saat ini, bahkan kabarnya pun peperangan tak segera kunjung berakhir. Aneh? Tentu aneh.
Karena pada cerita awal, perang antara dua kerajaan itu hanyalah berlangsung selama kurang dari satu tahun.
Semuanya sudah berubah sangat drastis, karena hidup berdasarkan dari pilihan yang kita ambil untuk kelangsungan hidup kita kedepannya.
Pertunangan antara putra dari keluarga Duke Floniouse dan putri dari keluarga Count Emerald mau tak mau harus terpaksa tertunda.
Sejak saat itu, meskipun banyak sudah beberapa ksatria dan bangsawan-bangsawan yang telah pulang, namun tidak untuk seorang lelaki yang akan mengambil gelar Duke nya di saat ia pulang.
Lelaki yang mempunyai surai pirang dan iris biru itu masih berjuang di luar sana, ia enggan untuk kembali untuk alasan tertentu.
Tentu saja semua orang sudah mendengar rumornya, rumor tentang calon Duke yang kejam dan tak kenal ampun ketika memijakkan kaki di tanah pertumpahan darah.
Rumor itu telah menyebar ke mana-mana, sehingga mustahil bagi penduduk kerajaan Erosphire yang tidak tahu akan rumor itu. Terlebih lagi di kalangan wanita lajang.
Musim panas, adalah musim yang saat ini tengah melanda dunia. Terik matahari yang menusuk kulit hingga tulang, angin yang membelai rambut, dan langit biru mempesona yang terbentang luas.
Saat ini, seorang gadis berusia dua puluh satu tahun tengah memakan kudapan manis penyegar mulut bersama dengan sahabatnya.
Gaun tebal dan panjang sudah menjadi ciri khasnya walaupun cuaca seakan tengah membunuhnya. Ia menggunakan topi lebar yang menangkis cahaya matahari menyengat yang ingin memanggang kulit wajahnya.
Helai rambut coklatnya terkepang rapi dan menjuntai hampir menyentuh lantai, dan sorot matanya yang lembut dan sayu mengundang pesona tersendiri bagi yang melihatnya.
"Lalu apa kau tahu? Lady Georgiana langsung menyeret tunangannya yang tengah selingkuh itu dan menamparnya di depan umum. Fyuh, itu sungguh melegakan," papar seorang gadis bersurai emas yang panjang dan lurus.
Gadis itu bernama Anastasia, dan usianya telah mencapai delapan belas tahun. Dia tampak semakin dewasa, meskipun terkadang bibirnya tak bisa terkontrol ketika tengah kesal dan bercerita akan sesuatu.
Rambutnya diikat berbentuk ekor kuda, dikarenakan cuaca panas semakin bertambah di tiap harinya.
"Cassandra, apa kau mendengarku?" tanya Anastasia sedikit sebal karena sedari tadi gadis bernetra garnet di hadapannya hanya diam sembari tenang menyuapi kue manis ke dalam mulutnya.
"Ya, Ana. Aku mendengarmu. Jadi, apa yang terjadi pada selingkuhan tunangan Lady Georgiana?" ujar gadis bernama Cassandra itu berbalik tanya.
"Tentu saja selingkuhannya berlari karena malu, namun aku tak bisa melihat wajahnya jelas karena banyak orang-orang yang menghalangi. Aku sungguh kesal!" cecar gadis berwajah boneka itu kemudian menyeruput teh dinginnya.
Cassandra terkekeh kecil. "Itu sudah pasti," ucapnya kemudian membersihkan bibirnya dengan sapu tangan bermotif secara sopan dan anggun.
Anastasia pun menatap sahabat di depannya sejenak, kemudian membungkukkan badannya dan menaruh kepalanya di atas meja.
"Hei, Cassandra," panggilnya.
"Hm? Ada apa?" Cassandra kemudian menatap Anastasia di hadapannya yang tengah memanggilnya. Gadis ini kembali menarik sarung tangannya dan memasangkannya di tangannya.
"Kau sudah banyak berubah empat tahun ini," celetuk Anastasia masih setia dengan posisi santainya.
Ia melipat tangannya di atas meja dan menjadikannya sebagai tumpuan untuk dagunya.
"Berubah apa maksudmu?" tanya Cassandra sedikit bingung dengan pernyataan ambigu sahabatnya.
"Lihatlah dirimu! Bahkan ketika tengah bersantai dengan sahabatmu, kau sangat kaku dan formal! Lalu, gelar nona bangsawan terhormat selalu menjadi milikmu tiap tahunnya. Kau juga selalu memenangkan kontes yang diadakan untuk menguji kemampuan para Lady. Kau--"
Mendadak, perkataan panjang lebar Anastasia terhenti ketika ada sebuah stroberi yang masuk dan membungkam mulutnya.
"Baiklah, tahan sampai di situ," kata Cassandra.
Anastasia pun mengerucutkan bibirnya sembari mengunyah stroberi berwarna merah menggoda itu secara pelan.
"Maaf jika aku seperti itu di pandanganmu, Ana. Namun, itulah diriku yang sekarang. Aku juga tak bisa mengubahnya dalam sekejap," jawab Cassandra membuat sahabatnya melipat bibir.
Anastasia pun mengalihkan pandangan, ia tahu Cassandra ingin menaikkan statusnya dan menjadi Lady yang bisa dihormati semua orang, namun sahabatnya itu terlalu memaksakan diri.
"Kau terlalu memaksakan diri, apa kau tidak lelah?" tanya gadis berhelai emas itu dengan wajah khawatir.
"Lelah adalah hal mutlak dari sebuah usaha, oleh karena itu aku sudah terbiasa," jawab Cassandra tenang sembari tersenyum.
Anastasia hanya bisa menghela nafas lelah dibuatnya. Apa sahabatnya ini tidak tahu bahwa dirinya selalu mengkhawatirkannya?
"Sebaiknya kau bersantai dan berlibur beberapa hari terlebih dahulu, atau kau akan tertekan nantinya," nasihatnya.
"Tentu tidak bisa, Ana. Aku harus mengurus wilayahku, dan aku juga harus memikirkan strategi untuk peperangan yang tak kunjung berakhir ini. Belum lagi, aku harus menarik pajak hari ini," jelas Cassandra merapikan letak topi lebarnya.
Ya, gadis itu benar-benar sibuk. Berkat usahanya yang telah memenangkan seluruh kontes yang diadakan untuk menguji kemampuan para Lady, baik itu menjahit, berburu, membuat kata-kata kiasan yang puitis, memecahkan suatu masalah politik maupun ekonomi dan semacamnya, Cassandra telah diberi gelar Countess oleh putri Veronica dan keluarga kerajaan.
Dia sekarang memiliki wilayahnya sendiri, meskipun dia memerintah masih di bawah nama raja, dan bahkan dia juga memiliki tabungan kekayaan yang dibilang sangat cukup memumpuni untuk menghidupi kehidupannya sendiri.
Ia mendapatkan sendok emas dan kehormatan berkat usahanya. Tak sedikit para Lady yang terkesan dan termotivasi olehnya.
Gadis itu telah berusaha sangat keras, dia selalu belajar dan berlatih tiap hari dan malam, dan tak kenal dengan kata mengeluh serta menyerah. Demi untuk menjadi nona bangsawan yang dipandang tinggi.
Bahkan terkadang, Cassandra tidak memikirkan tentang kesehatan tubuhnya. Dan hal itu tentu saja membuat sahabatnya, Anastasia, sangat khawatir akan kondisi gadis bernetra coklat itu.
"Tidak! Pokoknya hari ini kau harus libur, dan jalan-jalan ke kota bersamaku. Aku tidak menerima penolakan!" tegas Anastasia sontak berdiri dan bersedekap.
Gadis beriris hijau itu terlihat bulat akan keputusannya, sepertinya bujukan dan kata-kata manis pun tidak akan berfungsi terhadapnya untuk saat ini.
Cassandra akhirnya menghembuskan nafas pasrah, setidaknya satu hari libur tidak akan menimbulkan masalah.
"Baiklah, baiklah. Kali ini kau menang, aku akan ikut denganmu," pasrah gadis bergelar Countess itu.
Binar pijar tercetak jelas di netra emerald milik Anastasia, dengan cepat gadis itu menghampiri Cassandra dan menarik kedua tangan gadis itu yang berlapis sarung putih menariknya dan memaksanya untuk berdiri.
"Tunggu, Ana. Apa kita tidak mengajak Daisy?" tanya Cassandra menghentikan langkah Anastasia yang menarik dirinya.
Gadis berhelai emas itu terhenti dan memasang raut wajah sebal. "Dia saat ini selalu sibuk menghabiskan waktu dengan kekasihnya. Jadi, dia pasti tidak akan ikut."
Cassandra terkikih. "Benarkah? Ternyata Daisy lebih dewasa daripada kita berdua," katanya mengundang gelak dari bibir Anastasia.
"Kau benar juga."
...~•~...
Mereka berdua telah sampai di tujuan. Kota ternyata cukup ramai, banyak orang berlalu lalang, banyak orang yang berteriak mempromosikan barang dagangannya, dan sepasang kekasih yang tengah berkencan di sebuah restoran romantis.
Anastasia langsung menarik tangan sahabatnya ketika melihat sebuah toko pakaian yang menurutnya bagus. Minatnya seakan tertarik begitu saja ketika pesona elegan toko pakaian itu menguar.
"Cassandra. Ayo kita ke sana!" tunjuknya kemudian menarik gadis berhelai coklat itu untuk berbelanja.
"Baiklah, baiklah." Cassandra hanya bisa menuruti seluruh keinginan sahabatnya yang riang satu ini kemudian tersenyum.
Mereka memasuki toko itu sehingga bel yang terletak di atas pintu berdering. Anastasia melihat sekeliling, dekorasi tokonya cantik, memang cocok untuk para Lady.
"Selamat datang di toko kami! Apa yang anda butuhkan? Gaun? Kalung? Gelang? Aksesoris kepala? Sepatu? Kami memiliki segalanya!"
Tiba-tiba saja, seorang wanita dengan riasan yang tebal menghampiri mereka berdua membuat keduanya sontak kaget.
Wanita itu langsung berbicara secara cepat. Dari tampilannya, sepertinya dia adalah pemilik toko ini.
Saat wanita itu melihat sosok gadis dengan rambut yang dikepang rapi beserta topi lebar di atasnya, dia langsung membulatkan matanya.
"Astaga! My Lady Countess la Devoline! Suatu kehormatan besar bagi saya bisa melayani anda! Apa anda butuh sesuatu? Saya bisa mencarikannya hingga anda puas!" cerocosnya membuat Anastasia menyumbat lubang telinganya dengan kedua jari telunjuk miliknya.
"Terima kasih atas penawaranmu. Karena aku datang bersamanya, jadi aku akan mencari sesuatu yang kuinginkan dengannya," ujarnya tersenyum sembari menyentuh pundak Anastasia di sampingnya.
"Ah... baiklah. Kalau begitu kalian bisa mencari-cari terlebih dahulu! Selamat bersenang-senang. Saya pamit, salam, My Lady Countess, salam, Lady Emerald," hormatnya.
"Ayo, Ana," ajak Cassandra mengundang senyuman mengembang di bibir Anastasia.
Tak lama, mereka pun langsung beranjak mencari gaun yang menurut mereka bagus. Gelak tawa menyertai mereka ketika Anastasia mencoba gaya pakaian yang aneh. Tak lupa dengan wajah bonekanya yang sengaja dijelek-jelekkan seperti badut.
"Ah! Gaun ini sepertinya bagus untukmu, Cassandra. Cobalah!" kata gadis berhelai emas itu kemudian menyodorkan gaun berwarna merah muda pada sahabatnya.
Cassandra mengamati sejak gaun yang diberikan padanya, karena menurutnya cukup bagus, dia langsung mencobanya dan mengganti pakaian awalnya.
Ketika telah keluar dari kamar pas, Anastasia langsung menjerit kegirangan.
"Kya! Sudah kuduga kau sangat cantik mengenakannya!" seru gadis itu kemudian mendekat ke arah Cassandra.
Pupil beserta irisnya berlari kesana-kemari mengamati motif dan bentuk gaun yang tertempel di tubuh sahabatnya.
"Gaun itu terlihat sangat cocok dengan anda, Countess! Gaun itu adalah produk terbaru kami, dan stoknya terbatas. Lady Emerald benar-benar mempunyai selera yang bagus!" puji pemilik toko itu.
Anastasia berkacak pinggang sembari tersenyum bangga, seleranya di bidang fashion memang patut diacungi jari tenga-- m-maksudnya, patut diacungi jempol.
"Tapi, My Lady. Gaun itu tidak cocok jika memakai sarung tangan, oleh karena itu saya akan melepaskannya," ujar pemilik toko tersebut langsung menarik sarung tangan yang dikenakan Cassandra.
"Tung...!"
Cassandra belum sempat menyelesaikan perkataannya. Kedua tangannya kini terpampang jelas ketika sarung tangan itu dilepas secara tiba-tiba.
Pemilik toko tadi terperangah, matanya membulat sempurna dengan bibir yang sedikit terbuka menganga ketika melihat rupa tangan Cassandra.
"Bagaimana bisa kau begitu lancang dan kurang ajar terhadap Countess?!" hardik Anastasia langsung merebut sarung tangan berwarna putih itu dan kembali memasangkannya di tangan Cassandra secara cepat.
"M-maafkan saya, My Lady! Saya benar-benar tidak sengaja! Ampuni saya, My Lady!" mohon pemilik toko itu menunduk dan membungkuk.
"Sudahlah, tidak perlu. Lebih baik sekarang kau bungkus saja gaun ini, aku akan membelinya," jawab Cassandra merapikan sarung tangannya.
"Baiklah, My Lady. Terima kasih atas kebaikan anda, My Lady!" lontar pemilik toko tersebut kemudian segera mempersiapkan kemasan untuk membungkus gaun yang Cassandra beli.
"Huh! Orang zaman sekarang benar-benar tidak punya sopan santun!" ketus Anastasia bersedekap.
"Sudahlah, lagipula itu bukan masalah besar," balas Cassandra.
Lagi-lagi, Anastasia hanya mendengus melihat reaksi Cassandra. Sahabatnya ini terlalu baik.
"Kalau begitu, selanjutnya kita harus ke mana?"
Gadis berhelai coklat tersebut kemudian melangkah ke depan dan berbalik menghadap sahabatnya. "Kau bertugas untuk menghiburku hari ini bukan, sahabatku?" kelakarnya dengan kikihan kecil.
Anastasia pun tergelak dibuatnya. "Tentu, saja. Itu adalah tugasku, Countess la Devoline."
...~•~...
Selepas mengitari kota dan berbelanja, gadis bernetra coklat itu lantas meletakkan barang belanjaannya di atas ranjang besar miliknya.
Waktu telah mencapai petang, perbatasan antara siang dan malam. Di mana matahari akan tenggelam dan bulan akan melonjak naik.
Gadis itu pun menarik kedua sisi tirai yang sebelumnya tertutup. Sinar jingga menerpa kulitnya, ia terpejam sejenak.
Tak lama, pandangannya pun tertarik pada sebuah meja belajar yang berada di kamarnya. Dia pun langsung duduk di atas permukaan kursi dan menatap kedua tangannya yang berlapis sarung tangan putih.
Gadis itu menarik kedua sarung tangannya hingga terjatuh ke lantai, kemudian dia menatap kosong kedua tangannya.
Tangan yang awalnya halus dan mulus, kini berhiaskan bekas luka sayatan yang amat banyak akibat keinginannya untuk berlatih pedang dan alat bela diri lainnya.
Dia tak ingin tangan seperti ini terpampang dan dilihat orang lain, sehingga ia memutuskan untuk menutupinya. Bahkan di musim panas sekalipun.
Sahabatnya, Anastasia, sempat memarahinya karena telah membuat tangannya sampai seperti ini.
Irisnya pun terkunci dengan sebuah kertas dan pena bulu, tak butuh waktu lama dia meraih kedua benda itu untuk menulis sesuatu.
Beberapa patah kata tercipta di atas permukaan kertas kekuningan itu, kemudian dia pun mengambil sebuah amplop dan menaruh kertas berisikan surat itu di dalamnya.
Ia pun menyemprotkan sedikit parfum yang biasa dia pakai sehari-hari, setelah itu dia pun memanggil pelayannya.
Dengan segera, pelayannya masuk dan gadis itu langsung memberikan surat itu. Surat tanpa nama pengirim, namun tertera di sana kepada siapa surat itu dikirim.
"Kirimkan surat ini, jangan sampai ada seorang pun yang membacanya," titah gadis itu.
"Baiklah, My Lady."
Suara pintu yang berderit, menjadi menutup. Gadis itu melepas kaitan rambutnya yang membentuk kepangan, kemudian dia pun kembali menatap ke arah luar jendela.
Langit yang berwarna kemerahan, cahaya matahari petang yang hangat. Gadis itu pun terduduk di kursi yang menempel di jendela itu.
Ia menyandarkan dan menempelkan kepalanya pada kaca jendela, kemudian tertunduk sehingga helai rambutnya terjuntai menutupi setelah wajahnya sembari berbisik.
"Aku merindukanmu."
...20.02.2021...
.
.
.
.
.
.
[Author Note's]
Gelar Cassandra di sini merujuk ke gelar Earl dan Countess, bukan Count dan Countess.
Earl dan Countess memiliki wewenang mempimpin sebuah wilayah atas nama raja. Mereka juga mendapat hak untuk pengadilan pada Mahkamah provinsi sebagai duta raja. Mereka juga dapat menarik denda dan pajak.
Cassandra adalah Suo Jure Countess. Dia menyandang gelar Countessnya atas namanya sendiri, tidak menyandang gelar Countess berdasarkan pernikahan, maupun diwariskan oleh ibu atau ayahnya.
Lalu, kontes-kontes yang diadakan untuk para nona bangsawan, semua adalah fiksi. Murni imajinasi dari author. Mohon kebijakannya dalam membaca, terima kasih.
Semoga malam minggu kalian menyenangkan <3