The Atrocious Duke'S Wife

The Atrocious Duke'S Wife
Chapter 48: Trio Gila



KARYA INI HANYA FIKSI. NAMA, TOKOH, PERISTIWA, TEMPAT, HANYALAH KHAYALAN SEMATA. HARAP PEMBACA BIJAK DALAM MENANGGAPI.


Apa ini? Berat sekali. Aku berusaha menggeliat dan membuka kedua mataku secara perlahan-lahan.


Kuusap mataku agar pandanganku tidak lagi buram. Aku pun mengarahkan pandanganku pada perutku yang terasa berat dan ada sesuatu yang mengalunginya dengan erat.


Mataku sedikit terbelalak dengan telapak tanganku yang menutupi bibirku. Aku baru ingat.


Adegan panas itu... agh!! Jangan diingat lagi!! Kedua pipiku menjadi sasaran untuk menyadarkan diriku.


Bahkan tubuhku polos hanya dilapisi oleh sebuah selimut yang membalut tubuh kami.


Aku melihat ke samping, ternyata dia masih tertidur pulas. Itu berarti tidurku kali ini tidak se ekstrem waktu di mana pertama kali melakukannya.


Dia bilang aku menendangnya hingga jatuh saat aku masih dalam tidurku.


Aku ingin beranjak dan segera membasuh tubuhku, tapi tidak bisa karena ketika aku secara paksa melepaskan kalungan tangan kelarnya padaku, dia semakin mempereratnya.


Hal itu membuatku curiga apa dia benar-benar masih tidur atau berpura-pura masih tidur.


Kembali kutatap kelopak matanya yang setia tertutup. Sepertinya dia memang masih tidur.


Dengkuran halus pun masih menyertainya. Tanpa izin, senyuman pun terulas di wajahku.


Dia terlihat sangat polos dan imut saat tidur. Berbeda sekali ketika dia memegang pedang dan menebas musuh-musuh waktu itu.


Tanganku secara sadar terulur untuk mengusap pipinya yang sedikit lebih tirus dariku.


Saat ibu jariku tak sengaja menyentuh bulu matanya, aku pun sedikit terkejut dan sontak mendekatkan wajahku.


Bagaimana bisa bulu matanya sangat panjang dan lentik seperti ini?! Bahkan jauh lebih melengkung dari bulu mataku!


Benar-benar! Dunia memang tidak adil!


Dan juga, bahkan kulit wajahnya pun bertekstur halus! Bagaimana bisa seorang pria mempunyai kulit wajah yang halus seperti ini?!


Apa aku saja yang tidak tahu karena selama aku hidup aku selalu melajang?


Ukh, sial. Jiwa iriku meronta-ronta.


Setelah itu, entah bagaimana aku jadi keasikan meratapi dan mengamati setiap bagian di wajahnya.


Dan setiap bagian dari wajahnya benar-benar persis dengan bentuk dan warna yang kuinginkan.


Alisnya yang tebal, bulu matanya yang lentik dan panjang, hidungnya yang keras dan mancung, serta bibirnya yang yang berwarna persik itu.


"Sebenarnya apa yang kau lakukan daritadi?"


Seketika aku terlonjak kaget. Tiba-tiba saja dia membuka kelopak matanya hingga iris biru langit itu akhirnya terpampang.


Netraku jadi tak bisa diam. Sebagai perwakilan dari pikiranku yang tak bisa diam karena sibuk mencari alasan.


"Ehm, bukan apa-apa. Aku hanya mengambil sedikit kotoran di wajahmu," kilahku.


"Mengambil kotoran? Dengan menarik bulu mataku dan menekan-nekan bibirku? Kau ingin merontokkan bulu mataku dan membuat bibirku bengkak?"


Oke, dia ada benarnya juga. Aku pun hanya menghela nafas pelan. Inilah yang dinamakan tertangkap kering-- eh maksudnya tertangkap basah.


"Baiklah aku mengaku. Maafkan aku, Cintaku. Karena wajahmu menggemaskan, jadi aku ketagihan menatapnya," cengirku.


"Kau berpikir bahwa aku menggemaskan?" tanyanya dengan alis terangkat sebelah.


Sepertinya ada yang tidak beres bila dia telah mengangkat sebelah alisnya seperti itu.


"Y-ya. Begitulah," ringisku dengan senyum tak enak.


Dalam sekejap, dia telah berada di atasku sedangkan aku berada di bawahnya.


Aku sedikit terperanjat di buatnya. Saat dia mulai mendekatiku wajahku dan menatap bibirku, aku dengan cepat mengambil bantal di sebelahku lalu memposisikannya di tengah-tengah kedua wajah kami.


"Kenapa, Cintaku? Tidak ingin melanjutkan yang tadi malam?"


Ingin rasanya kutonjok wajahnya saat ini. Dia bilang apa? Melanjutkan yang tadi malam?


Badanku saja terasa remuk semua akibat ulahmu, asal kau tahu!


"Haha, lucu sekali. Apa kau ingin menghancurkan badanku, Cintaku?" tanyaku dengan manis ditemani senyum jengkel.


"Tentu saja tidak. Aku hanya ingin membuatmu senang, Cintaku," balasnya dengan nada menggoda.


Karena sebal, kuhempaskan bantal yang ada di genggamanku ini mengenai tepat wajahnya.


"Terserahmu saja, aku akan mandi!" ucapku sebal sambil mendorongnya menjauh dariku dan beranjak menuju kamar mandi.


Kutarik selimut ini untuk menutupi tubuhku, lalu berjalan. Namun sebelum itu, pergelangan tanganku dicekal.


"Baiklah-baiklah. Kalau begitu satu kecupan saja, tidak masalah, bukan?" tawarnya dan aku hanya diam tak berniat menjawab.


"Setelah hampir enam tahun aku menunggumu, bahkan satu kecupan pun kau enggan?"


Aku menutup kelopak mataku dan berusaha menahan emosiku. "Baiklah, satu kecupan saja," pasrahku.


Setidaknya satu kecupan tidak akan menggigit.


Kucondongkan badanku dan mendekatkan wajahku padanya dan hendak mengecup bibirnya.


Namun sebelum sempat bersentuhan--


Tok! Tok! Tok!


Kami berdua sontak menoleh ke arah pintu karena ada ketukan yang menginterupsi.


"Lepaskan aku dulu," ucapku padanya seraya menggeliatkan tanganku.


"Tidak, bibirmu dulu," bantahnya.


"Arlen!" sergahku dan dia tampak mendengus kasar.


"Baiklah," pasrahnya dan dia pun melepaskan cekalannya pada tanganku.


Dengan cepat aku memakai baju tidurku yang sempat aku pakai lalu berjalan menghampiri pintu dan membukanya.


"Anastasia? Ada apa?" tanyaku dengan senyum.


Pandangan wanita ini tampak mengarah ke arah leherku. Ada apa? Apa ada yang aneh dengan leherku?


"Ah, bukan apa-apa. Aku hanya tengah mencari Arlen, apa kau melihatnya?"


"Aku belum melihatnya. Karena aku baru saja bangun dari tidurku," bohongku.


"Oh... kalau begitu aku akan kembali mencarinya, maaf telah mengganggumu."


"Tidak apa, Anastasia."


Dia tersenyum kemudian berlalu. Aku pun kembali menutup pintu kamarku. Lalu setelah itu, sebuah cermin menjadi tujuanku.


Aku penasaran kenapa Anastasia tadi menatap leherku dengan begitu tajam. Saat aku bercermin, aku langsung tahu kenapa wanita itu bersikap seperti itu.


Banyak bercak merah di leherku dan di tulang selangkaku. Membuat aku menatap tajam sang pelaku.


"Kau pria menyebalkan! Bagaimana bisa kau membuat tanda sebanyak ini?! Bagaimana aku harus keluar dengan tanda sebanyak ini?!" cerocosku dan dia hanya menampilkan senyum.


Menjengkelkan sekali, bukan?


"Kau terlalu menggoda, Cintaku. Aku tak bisa menahan diri."


Sabar, Cassandra. Tenangkan dirimu... jangan marah atau kau akan cepat tua.


"Anastasia mencarimu, sebaiknya kau pergi menemuinya." Aku mengalihkan topik.


"Cassandra...."


"Kenapa? Temanilah Anastasia, karena bagaimanapun juga. Kau sebagai calon ayah harus menemaninya," tuturku.


"Kau tidak marah kan?" tanyanya terdengar memastikan.


Aku mengulas senyum. "Untuk apa aku marah? Kita juga sudah membahasnya, jadi aku tak perlu marah."


"Baiklah. Tapi sebelum itu." Dia pun mendekat ke arahku dengan cepat dan mengecup bibirku sekilas.


Aku sempat terbelalak dan tak bisa berkata-kata dibuatnya.


"Aku mencintaimu."


Dia menampilkan senyum, kemudian berjalan ke arah pintu dan pergi sepenuhnya.


Kuhembuskan nafasku pelan seraya tersenyum lirih. "Aku juga mencintaimu."


...🥀...


Untuk pertama-tama, sebaiknya aku mencari tahu terlebih dahulu lebih tepatnya bagaimana hubungan Pangeran Darren dan Anastasia.


Kedua, aku harus mencari tahu apa Arlen dan Anastasia benar-benar melakukannya di malam itu.


Ketiga, aku harus mencari tahu terlebih dahulu sebenarnya anak siapa yang dikandung oleh wanita itu.


Tapi bagaimana? Aku juga tidak mungkin akan selalu mengikuti Anastasia kemana-mana dan mengamati seluruh pergerakannya.


Lalu bagaimana caranya aku mengetahui apa benar Arlen dan Anastasia melakukan hal itu? Arlen saja sama sekali tidak ingat apa-apa.


Aku harus cepat-cepat memikirkan sesuatu untuk benar-benar menjatuhkan wanita itu.


Pena bulu kini bertengger di atas daun telingaku, dengan aku yang sibuk bertopang dagu.


Aku bisa bisa meminta yang kepadanya, namun apa yang harus kukatakan jika dia bertanya apa yang akan kulakukan dengan uangnya?


Tunggu dulu, bukankah aku ada dua anak buah yang setia padaku?


Hehe~


Sebuah senyum licik tercipta di wajahku. Aku harus mencari keberadaan dua anak buahku itu sekarang.


Lebih baik aku meminta Elise untuk menemaniku ke pasar.


.


.


.


.


"Jarang-jarang sekali anda minta ditemani ke pasar, Nyonya," ucap Elise di sebelahku.


"Yah, aku hanya takut tersesat," jawabku.


"Apa anda ingin membeli sesuatu, Nyonya? Jika seperti itu, sebaiknya anda tidak perlu sampai membeli sendiri seperti ini. Biar saya saja."


"Tidak apa. Lagipula aku memang ingin jalan-jalan keluar sebentar. Aku merasa bosan di rumah terus menerus."


Aku pun celingukan, aku baru saja tersadar akan sesuatu. Bagaimana aku harus mencari kedua orang itu di pasar seluas ini?


Memang aku tahu bahwa mereka akan selalu berada di pasar, namun aku tak tahu lokasi spesifiknya di mana.


"Anda mencari apa, Nyonya?" tanya Elise.


"Ah, bukan apa-apa," bohongku.


"Oh iya, Elise. Apa kau bisa membelikan buah jeruk untukku?"


"Buah jeruk? Baiklah, Nyonya, saya akan mencari tokonya terlebih dahulu." Elise pun berjalan menjauh membelikan buah jeruk untukku.


Sebenarnya aku memang sengaja untuk membuat Elise pergi terlebih dahulu, agar dia tidak mendengarkan rencanaku ini.


Tak lama dari itu, kini terdengar teriakan dari arah belakangku.


"Bos!"


Seketika aku langsung berbalik, dan benar saja. Dua lelaki itu muncul tiba-tiba dan bahkan mengenaliku dari belakang.


"Apa yang anda lakukan di sini, Bos? Apa anda merindukanku?" celetuk Patrick dengan gelak.


"Heh! Mana mungkin Bos merindukan lelaki sampah sepertimu! Bos pasti kesini karena merindukanku, benarkan?" ujar Peter dengan sombongnya.


"Apa kau bilang?! Heh, asal kau tahu. Aku lebih tampan darimu, kotoran merpati!"


"Banyak bicara sekali kau, dasar kau kumis kucing laut!"


"Hah?! Apa kau bilang?!"


"Sudah cukup!!"


"Aduduh! Ampun Bos!"


Kutarik telinga mereka dan mereka pun akhirnya berhenti berdebat.


"Masih ingin berdebat?" tanyaku dan mereka langsung menjawab.


"Tidak! Tidak! Aw aw sakit!"


Kulepaskan jeweranku di telinga mereka lalu mendengus. "Baguslah. Kalau begitu aku ingin bicara dengan kalian."


"Bicara tentang apa, Bos? Apa anda ingin menyatakan perasaan padaku?"


Pletak!


"Aw!" Patrick meringis karena aku menyentil dahinya.


"Masih ingin bercanda?"


"A-ampun, Bos...," cicitnya seraya mengusap dahinya yang terkena sentilan legendarisku.


Lain hal nya dengan Peter yang sibuk menahan tawa karena kelakuan kakaknya tersebut.


"Jadi aku ingin meminta bantuan pada kalian, apa kalian bisa melakukannya?" tanyaku dan mereka menjawab dengan sangat cepat.


"Tentu saja, Bos!"


"Kami selalu siaga membantu anda!"


"Apa yang Bos inginkan? Ingin kami menjadi pencuri? Atau pencuci kuda? Oh, oh! Atau menjadi petani?! Kamu bisa melakukan segala hal!"


"Tenang saja, kamu adalah lelaki sejati. Semua pekerjaan akan kami lakukan!"


"Baiklah, baiklah,"  balasku menenangkan mereka yang tak bisa mengerem.


"Aku ingin kalian menjadi mata-mata ku," imbuhku dan mereka tampak berhenti dari gerakan aneh mereka.


"Eh? M-mata-mata?" beo Patrick. Mereka pun kini saling bertatap mata.


"Ya, mata-mata. Mata-mata pribadiku, apa kalian bisa melakukannya?" tanyaku memastikan.


"Whoa! Apa kau dengar itu, Peter?! Kita akan menjadi mata-mata. Mata-mata yang memakai jubah keren dan bersembunyi diam-diam itu!"


"Dan yang lebih penting, mata-mata lebih keren daripada pencuri! Yuhu!"


Mereka berdua bersorak ria membuatku tertawa hambar. Apa mereka benar-benar bisa menjadi seorang mata-mata?


"Jadi, apa kalian bisa melakukannya?" ulangku sekali lagi.


"Tentu bisa, Bos! Kami akan melakukannya dengan senang hati! Lalu, kapan kami bisa mulai menjadi mata-mata untukmu?!"


"Ya, kalau kalian senggang, kalian bisa melakukannya sekarang," balasku.


"Baiklah kami akan melakukannya sekarang, Bos! Jadi siapa orang yang anda ingin kami ikuti dan mata-matai?"


"Tapi kalian harus ekstra hati-hati.  Karena jika ketahuan, maka kita bertiga pasti akan tamat," cecarku dan mereka mengangguk-angguk mengerti.


"Baik, Bos! Kami akan sangat hati-hati. Kami tidak akan membiarkan anda kesusahan, karena anda sudah pernah menyelamatkan hidup kami dan adik-adik kami," ungkap Patrick membuatku tersenyum.


"Baiklah. Kalau begitu--"


"Nyonya!"


Aku langsung menoleh ke arah suara tersebut. Ternyata itu adalah Elise, dan dengan sekeranjang buah jeruk.


"O-oh, Elise. Kau telah selesai membeli buah jeruk untukku?" ucapku sedikit gagap.


Aku baru ingat bahwa aku sempat membawa Elise.


"Ya, Nyonya," jawab Elise. Lalu matanya bergerak menatap dua sosok di belakangku. "Nyonya, mereka...."


"Ah, aku hanya bertemu dengan mereka tanpa sengaja. Dan kami tengah membicarakan tentangmu, benarkan?" ujarku dengan senyum mematikan menatap dua lelaki yang sedikit miring di belakangku ini.


"Eh? Bukankah tadi Bos bilang ingin kami menjadi ma--hump!"


Langsung kubekap mulut Peter agar tidak melanjutkan perkataannya dan menyengir ke Elise.


"Elise sangat baik dalam mengerjakan pekerjaannya, bukankah begitu?" tanyaku.


"Y-ya," cicit Peter.


Elise tampak diam sejenak menatap kami. Gawat, apa dia curiga dengan gerak-gerik anehku?


"Bahkan anda sampai memuji saya seperti itu, saya sangat terharu menjadi pelayan anda, Nyonya!" seru Elise dramatis.


Bahkan dia pun mengelap airmata yang turun di pelupuk matanya. Kenapa sepertinya orang-orang di sekitarku tidak beres?


"Hei, Nyonya. Apa anda adalah pelayan dari Bos? Tidaklah menurut anda Bos kita sangatlah cantik seperti Dewi?" tanya Patrick.


"Sudah kubilang Bos itu seperti bidadari bukan Dewi!" celetuk Peter tak terima.


"Bos itu seperti Dewi!"


"Tidak, Bos itu seperti Bidadari!"


"Kalian berdua salah! Nyonya adalah seorang malaikat, bukan Dewi maupun Bidadari!" sahut Elise.


Astaga Elise, bahkan kau pun ikut-ikutan?


"Tidak yang benar adalah Dewi! Bukan Bidadari maupun Malaikat!"


"Bidadari!"


"Malaikat!"


"Dewi!"


Aku pun mendengus kasar seraya menepuk jidatku. Mereka ini sudah gila ya?


Astaga siapapun tolong tarik aku dan sembunyikan aku di mana saja agar terhindar dari tiga orang gila ini!


^^^I Become Wife of the Atrocious Duke^^^


^^^24 Desember 2020^^^