
KARYA INI HANYA FIKSI. NAMA, TOKOH, PERISTIWA, TEMPAT, HANYALAH KHAYALAN SEMATA. HARAP PEMBACA BIJAK DALAM MENANGGAPI.
Apa ini? Apa maksud dari semua ini? Apa yang terjadi sebenarnya?
Kenapa hati ini sangat sakit?
Sepasang pria dan wanita terletak di atas permukaan ranjang itu dengan tubuh polos mereka yang hanya sehelai selimut yang melapisi.
Dan sosok pria itu, adalah sosok yang daritadi tengah aku cari keberadaannya.
Kaki ku menyuruhku untuk segera pergi dari tempat ini, namun mataku memberontak dan terus tertuju pada hal itu.
Aku tak tahu harus berkata apa-apa lagi untuk mendeskripsikan rasa sakit ini.
Di saat hatiku menjerit untuk segera pergi dari sana, mataku pun akhirnya menyerah dan kaki ku pun bergegas membawaku lari dari sana.
Secepat mungkin aku bergegas lari, hingga akhirnya pintu kamarku tepat berada di hadapanku.
Kubuka lalu kututup pintu itu dan bersandar. Tanpa sadar, tubuhku merosot begitu saja seolah-olah tenagaku berhenti mengalir di seluruh bagian tubuhku.
Rasa sesak kembali menyiksa, rasa nyeri kembali menusuk.
Bagaimana caraku menghadapinya besok? Apa aku lebih baik tidak keluar dari kamar ini?
Apa aku harus marah dan memukulnya? Atau lebih baik aku bersikap seolah-olah semuanya baik-baik saja?
Dan, bagaimana bisa dia berada di posisi itu? Aku percaya padanya, aku percaya.
Tapi perasaan ini sangat sakit dibuatnya, bahkan tenggorokan ini seakan tercekik dibuatnya.
Kenapa, tubuhku harus bereaksi seperti ini...?
...🥀...
Author Pov
Dua mahluk hidup yang memiliki perasaan kini terbaring di atas permukaan ranjang yang empuk dan luas.
Bagaikan tidur di atas lembutnya timbunan bulu angsa dan awan.
Tampak seorang pria dengan surai pirangnya yang berkilau layaknya sinar matahari siang yang menusuk sekaligus selalu menyertai.
Kelopak matanya terbuka menunjukkan sebuah bola jernih bagaikan langit yang terhampar luas dan memukau.
Pria itu mengubah posisinya menjadi duduk, seraya memegang kepalanya untuk membantu pikirannya kembali mengingat kejadian sebelum ia terjun ke alam mimpi.
Ia tersadar dan terkejut mendapati seorang wanita tepat di sebelahnya dalam keadaan polos hanya dilapisi sehelai selimut.
Seakan ada sesuatu yang keras menggumpal di dadanya lalu menampar nya keras dengan kenyataan yang tak dapat dihindari.
Bahkan dia baru menyadari bahwa saat itu dia tengah bertelanjang dada, tubuh bagian atasnya terbuka, menampakkan keelokan otot-otot nya.
Ia mengingat kejadian saat dia meminum sebuah wine pemberian wanita di sebelahnya, lalu dia merasa pusing dan akhirnya dia sama sekali tidak mengingat apa yang terjadi setelah itu.
"Apa yang telah kulakukan?" lirihnya parau sembari menutup setengah wajahnya dan menjambak keras surainya yang menutupi sebelah dahinya.
Dia berniat beranjak dari ranjangnya kemudian hendak berjalan keluar dari kamar itu, namun suara feminim menghentikan aksinya.
"Arlen...?" bisiknya membuat pria itu dapat merasakan gejolak yang memberontak di dalam dirinya.
"Sebenarnya apa yang telah kau lakukan, Anastasia? Kau menjebakku?" tukasnya menajamkan pandangannya.
Seolah-olah pandangan itu telah diasah sejak lama dan bersiap kapan saja untuk melukai dan menikam tatapan yang bertemu dengannya.
"Apa maksudmu, Arlen? Apa apa kau mengira aku yang telah melakukan semua ini? Aku sungguh tidak tahu apa-apa.... percayalah padaku...." mohon wanita itu seraya menundukkan wajahnya.
Pria itu mendengus kasar, apa-apaan ini? Dia sama saja seperti pria brengsek yang tidak bisa menahan nafsu.
Ia tak tahu siapa yang harus disalahkan, karena semuanya masih tersembunyi, enggan untuk menampakkan diri.
Flashback on
Di sebuah balkon yang luas dan dingin, terdapatlah sepasang sahabat yang baru saja berbaikan kembali tengah berbincang-bincang.
Arlen dan Anastasia namanya.
Dengan segelas wine di tangan mereka, sepasang sahabat itu berbincang karena ada sesuatu yang harus disampaikan oleh sang wanita.
"Kenapa kau mengajakku kemari, Anastasia?" tanya Arlen.
"Ana," koreksi Anastasia seraya dengan senyuman membuat Arlen mau tidak mau mengikuti kemauannya.
"Kenapa kau mengajakku kemari, Ana?"
Tampaklah guratan senyum di wajah bak boneka wanita itu, disertai dengan kekehan kecil yang menjadi pelengkap.
"Apakah salah jika seorang sahabat ingin berbincang-bincang dengan sahabatnya?" tanyanya balik seraya memiringkan kepala.
Tampak guratan sedikit kesal di wajah pria itu, membuat Anastasia kembali tergelak.
"Aku hanya bercanda, kau selalu saja kaku terhadap candaanku," kelakarnya. "Aku hanya ingin bilang, sepertinya kau dengan Cassandra lebih dekat sekarang? Apa kalian sudah melakukan itu?" godanya seraya menaikkan kedua alisnya dan mendekatkan wajahnya pada Arlen.
"Bukan urusanmu. Dan, menjauhlah dariku," sela pria itu seraya mendorong wajah Anastasia menjauh dengan telapak tangannya.
Tampak Anastasia mencebik. "Cih, kau tak seru sekali. Kenapa aku pula aku bisa punya sahabat tidak menyenangkan sepertimu?" sindirnya.
"Seharusnya aku yang bilang seperti itu," sergah Alren. Sudah biasa bagi dua manusia itu untuk bertentangan dan saling menyindir.
Arlen pun menegak wine yang ada di dalam gelasnya lalu diikuti oleh Anastasia.
Tak lama dari itu, ada gerak-gerik aneh yang dilayangkan pria itu.
Anastasia tersadar ada yang aneh dengan sahabatnya tersebut, sehingga alisnya pun mulai berkerut.
"Arlen, kau baik-baik saja?" tanya wanita mulai terlihat khawatir dan panik perlahan-lahan mendekat ke arah sahabatnya itu.
"Ya, aku hanya sedikit mengantuk," jawab Arlen membuat Anastasia tambah bingung.
"Hah? Bagaimana bisa kau tiba-tiba mengantuk seperti ini?" herannya dan tak ada jawaban.
Pria itu tampak linglung sejenak. Selang beberapa saat, terdengar suara gelas yang terjatuh dan hancur berkeping-keping.
"Arlen! Arlen!"
Flashback off
"Kau pingsan, dan aku pun membawamu pulang. Para pelayan memapahmu ke kamar dan aku khawatir jadi aku menunggumu. Namun tiba-tiba...," Anastasia menggantungkan perkataannya seraya dengan air mata yang mulai mengalir.
"Katakanlah," titah pria itu dengan tegas.
"Tiba-tiba kau... menarikku dan kau tidak melepaskanku dan memaksaku melakukannya denganmu...." Tangis wanita itu pecah, nada suaranya pun bergetar disusul oleh isak pilu.
Anastasia menutup wajahnya yang menyedihkan dengan kedua telapak tangannya, dan Arlen tak bisa berkata-kata dibuatnya.
"Sungguh aku benar-benar menyesal, namun aku tak bisa berbuat apa-apa, karena aku lemah... kumohon maafkan aku, Arlen...."
Pria itu tampak menyembunyikan seluruh perasaannya saat ini di balik topeng datarnya.
Dia kemudian melangkah mengambil pakaian baru yang tertata rapi di dalam pakaiannya, kemudian memakainya secara cepat dan berlalu keluar.
Tanpa sepatah katapun yang terlontar dari bibirnya, membuat Anastasia semakin bingung dan dadanya terasa sesak.
...🥀...
Di sebelah kasurnya terdapat sebuah meja kecil yang mana di atas permukaannya terdapat beberapa buah jeruk kesukaannya.
Wanita itu tampak biasa, tampak tenang, seolah tak terjadi apa-apa dan seolah-olah tak ada halangan dalam hidupnya.
Namun siapa sangka, masker ketenangan ternyata melapisi seluruh bagian wajah cantiknya yang sayu.
Ia mencari kesibukan untuk mengubur dalam-dalam perasaannya saat ini agar tidak kembali kepermukaan.
Iris beserta pupil coklatnya sedari tadi berlari kesana kemari mengikuti huruf-huruf indah yang tengah ia baca. Begitupun dengan pikirannya yang saat ini tengah berkelana.
Dia hanya sekedar membaca, namun tidak memerhatikan ataupun meresapi setiap huruf-huruf yang mempunyai arti indah itu.
Sebanyak apapun usaha yang ia lakukan untuk tidak kembali memutar rekaman kejadian yang menyesakkan itu, pikirannya tetap kekeuh memutar itu.
Sehingga rasanya dia ingin hibernasi seperti beruang di sejuknya musim dingin yang melanda ini.
Suara ketukan menjadi pengganggu dan pembuyar keheningan yang mengisi di kamar itu.
Karena keengganan, wanita itu tak membuka pintu dan hanya mengeluarkan sedikit keras.
"Masuk!"
Pintu pun terbuka, menampilkan sosok yang tidak diinginkan muncul. Membuat wanita itu sedikit terlonjak dan membolakan matanya.
Dia merutuki dirinya sendiri karena tidak bertanya terlebih dahulu siapa sosok yang mengetuk.
Lantas, dia tetap pada posisi awal menunggu sosok itu menghampirinya.
Sosok itu berdiri seraya menatap sang wanita, lalu menatapnya dalam.
Dia tidak ingin mengucapkan satu kata pun, sampai pria itu yang duluan berkata.
Sebuah dekapan pria itu hamburkan dan menyembunyikan perubahan ekspresi dari wajahnya.
Jujur, wanita itu kembali merasakan sakit amat dalam yang sempat menusuk hatinya dan membuat dadanya seakan dipukul oleh detakan jantung yang kian kuat.
Apa ini adalah hukuman dengan seenaknya menaruh perasaan pada seseorang dan membohonginya?
Apa dia telah merusak jalan ceritanya? Dengan memberi kesempatan pada sang antagonis yang masih tidak diketahui sifat yang sebenarnya.
"Aku telah mengkhianatimu," bisik pria itu halus namun seperti sebuah kunai yang tertuju dan menembak lurus tepat ke hati sang wanita.
"Ada apa denganmu? Mengkhianati? Apa yang kau maksud?" tanya wanita itu memilih berpura-pura tidak tahu dan bersandiwara seperti layaknya orang bodoh.
Wanita itu mungkin bisa membohongi bibirnya dengan berkata seperti itu, namun dia tidak bisa membohongi perasaannya.
Ia merasa sakit, ia kecewa, dan ia tahu persis apa yang dimaksud oleh pria yang tengah mendekapnya erat ini.
Sehingga pelukan hangat itu, tidaklah ia balas sama sekali, dia hanya diam, berkalut dalam perasaannya yang sangat ia sembunyikan rapat-rapat dari orang lain.
"Kau pasti membenciku setelah mengetahuinya," ucap pria itu mengangkat wajahnya.
"Tanpa kau bilang aku pun sudah tahu."
"Apa yang kau katakan, aku mana mungkin membencimu. Jika aku membencimu, maka tidak mungkin aku menerima cintamu, bukan?" Cassandra menunjukkan senyumnya disertai kekehan.
Wajah cerianya yang palsu bisa diketahui oleh Arlen, karena pria itu tahu setiap maksud dari gerak-gerik wanita itu.
"Aku bermalam dengan Anastasia," terangnya lagi-lagi membuat suatu hati seakan remuk dan hancur.
Namun sebuah senyuman palsu mampu menutupi sekaligus menjadi jawaban. "Jadi kalian telah melakukannya? Bukankah itu bagus? Anastasia pasti sudah lama menunggu hal itu," balas wanita itu membuat Arlen tak percaya.
Pria itu terperangah, dengan ketidakdugaan yang menyerang. Apa-apaan ekspresi seolah tak ada yang aneh tercetak di wajah wanita ini?
"Kenapa kau tak merasa kecewa ataupun marah padaku? Apa kau rela aku bermalam dengan wanita lain?" tukasnya sungguh tak percaya.
Mata yang sedikit membola, dengan sedikit kerutan di dahinya menjadi simbol dari ketidakpercayaannya.
"Mau bagaimana pun, Anastasia tetaplah istrimu. Bukankah hal yang wajar untuk bermalam dengannya?"
Lagi-lagi, seluruh perkataan yang terjatuh dari bibir merah bak apel merah yang menggoda itu memberikan serangan heran kepada sang pria.
Dan, Arlen sangat benci ketika wanita itu tidak terlihat kecewa ataupun marah atas perbuatannya.
Seolah-olah dirinya ini tidak begitu berarti sehingga dengan mudahnya dicicipi oleh wanita lain.
"Ada apa denganmu? Apa kau sebegitu tak perdulinya dengan diriku bermalam dengan wanita lain? Apa kau--"
"Sudahlah, Arlen. Itu adalah hal biasa, kau tak perlu memperpanjang--"
"Itu bukan hal biasa!" sergahnya seraya dengan nada suaranya yang mulai meninggi.
Cassandra sedikit tersentak ketika pria itu meninggikan nada suaranya kepadanya.
Baru kali ini pria itu berteriak padanya, dan rasanya matanya mulai memanas karena ada sesuatu yang hendak turun.
"Apa kau pikir menyerahkan tubuhku kepada orang lain adalah hal biasa?! Apa kau pikir aku adalah pria br*ngsek yang hanya mementingkan nafsu?!" murkanya dengan raut yang belum Cassandra lihat selama ini.
"Dengarkan aku--"
"Kenapa kau bersikap seolah-olah tidak terjadi apa-apa?! Apa aku tidak berarti untukmu?! Apa cintaku tak berarti padamu?!"
"Arlen--"
"Marahlah padaku, Cassandra! Tampar aku Cassandra! Tapi kumohon jangan bertindak seolah-olah ini adalah masalah kecil! Pukul aku, Cassandra! Tampar aku!"
Plak!
Sebuah tamparan terlontar, keheningan mulai menyergap, bekas kemerahan mulai terlukis.
"Ini yang kau minta bukan? Puas kau? Lalu apa yang harus kuperbuat? Marah dan memukulmu sepuasku?"
"Tapi apa manfaat dari semua itu? Apa hal itu bisa mengubah fakta bahwa kau telah bermalam dengan Anastasia, hah?! Apa dengan sebuah pukulan kau bisa memutar waktu?! Apa dengan sebuah tamparan kau bisa mengubah segalanya?! Apa bisa?!"
Wanita itu mulai mengeluarkan airmatanya yang sedari tadi ia tahan. Emosi yang ia tahan seakan meledak begitu saja. Teriakan tak dapat ditahan di tenggorokan.
"Hei, apa yang harus kulakukan? Aku merasakan sakit yang sangat pedih di hatiku, namun aku tak bisa berbuat apa-apa tentang hal itu. Apa kau bisa mengembalikan suasana hatiku seperti semula?"
Nada suara kini kian melemah, ditambah dengan derai air mata yang tak henti-hentinya mengucur.
Cassandra, wanita itu merasakan sakit amat dalam hanya karena satu kata yang mendeskripsikan perasaan yang menghinggap dan membuncah di hatinya.
Cinta.
"Hanya karena perasaan ini, sakit yang kurasakan sangat perih, sehingga aku mau mati rasanya. Sebenarnya apa yang telah kau perbuat padaku? Kenapa kau terus menyiksaku seperti ini?" racaunya tak terkendali.
"Aku telah berusaha untuk mengubur rasa sakit ini, aku telah berusaha melupakannya. Aku berusaha melupakan bayangan dirimu dengan tubuh polos tidur bersama wanita lain di atas ranjangmu! Kenapa hal itu dapat membuat diriku seakan gila?! Kenapa?!"
Sebuah kecupan menjadi cara untuk membungkam racauan tak terkendali dari bibir wanita itu.
Kecupan itu kian mendalam disertai dengan pagutan yang seakan tak ingin terlepas.
Namun selepas itu, Cassandra langsung melepas pagutan sekaligus rangkulan pria di hadapannya itu hingga terlepas.
Wanita itu kemudian berdiri, lalu berjalan menjauh. Sebelum itu wanita itu sempat melayangkan beberapa kata.
"Aku ingin sendiri."
^^^I Become Wife of the Atrocious Duke^^^
^^^16 Desember 2020^^^